
Negara tidak berfungsi. Jika pun berfungsi, itu hanya sebatas formalitas dan tak efektif, apalagi efisien. Bagiku sejak mengenal seluk-beluk kekuasaan (politik) semuanya jadi tidak layak untuk diapresiasi. Negara bagiku adalah sebentuk perkumpulan "garong" yang tak sopan. Negara berseragam tentara pun pernah kualami sebagai penjahat kemanusiaan, mulai dari menghina penduduk sipil yang mencari Surat Keterangan Kelakuan Baik. Negara adalah sekumpulan tentara yang justru menyerang masyarakatnya. Negara juga yang hanya sekumpulan orang dalam kabinet atau yang dipimpin segelintir elit politik dan mencari keuntungan sendiri karena multi national corporation menyuap mereka agar produk-produknya dapat beroperasi di sini dengan memakai buruh murah upahnya. Negara ini sudah dibagi-bagi oleh sekumpulan garong dengan pakaian resmi berdasi ataupun yang di pasar-pasar meminta upah dari para bakul dan pedagang, bersenjatakan pentungan dan tampang sangar.
Wajah Durga-Umayi (jika mengambil judul novel alm. Mangunwijaya) selalu akan nampak di negeri ini, sebuah negeri yang sudah lama terjajah dan tertindas. Kemenangan pun bukan hasil dari kemenangan perang dari penjajahnya tetapi karena momentum ketika Perang Dunia II Sekutu mengalahkan kelompok Fasis Jepang dan Jerman pada waktu itu. Oleh karenanya, kesadaranku sekarang mengatakan bahwa kemerdekaan kita masihlah semu. Aku bukan berarti tak menghargai para pahlawan yang gugur selama perang, tetapi ketika menyadari bukan dari mereka sajalah kemerdekaan itu didapat, dan lebih banyak momentum sejarah, maka kemerdekaan sebenarnya sebuah "hadiah" dari momentum itu. Jika aku sinis mengatakan, "Ya, karena Jepang-Jerman kalah perang, maka kemerdekaan Hindia Belanda yang kemudian menjadi Indonesia itu diusahakan para pemuda. Caranya, awalnya "memaksa" Sukarno-Hatta untuk memproklamasikan kemerdekaan, sebuah deklarasi kemenangan. Pemaksaan ini pun dengan penculikan ke Rengas Dengklok. Mobil untuk menculik pun hasil rampasan dari Jepang, atau setidak-tidaknya zaman perang Jepanglah yang menguasai mobil-mobil dinas Belanda sebelumnya. Sejak lahirnya negeri ini, Durga-Umayi, kebatilan-kebaikan silih berganti bermunculan. Belum lagi, ketika kudeta berdarah yang memakan lebih dari 1 juta jiwa anak-anak negeri ini tahun 1965, wajah Durga itu sangatlah kentara, haus darah, tak melihat itu anak siapa. Tahunya yang dimusihi harus mati. Usia 32 tahun kemudian, darah itu kembali mengucur, merenggut anak-anak negeri karena kekacauan yang dibuat karena perebutan kekuasaan juga. Diktator, penguasa absolut, selalu menjadi masalah ketika sudah membelenggu dan korup. Tahun 1998, revolusi berdarah kembali terjadi. Jika dibandingkan dengan tahun 1965, kejadian itu berbunyi demikian bagiku: "Tahun 1965, karena ada konflik internal dalam tubuh tentara maka 7 Jendral dikorbankan. Namun sebagai balasan 1juta lebih manusia jadi balasan. Itu pun masih dibumbui dengan keangkaramurkaan Perang Dingin waktu itu. Tahun 1998, tragedi berdarah itu dibuat karena satu keluarga dirobohkan kekuasaannya, maka jutaan manusia dikorbankan dengan cara: dibakar di mall-mall, diperkosa, ditembaki, diculik dan dibunuh, dengan alasan subversif, anti-Cina dan semacamnya yang terkesan dibuat berbagai macam skenario supaya nampak kacau, rusuh, marah. Itu hanya sebuah wajah Durga yang memancar dan keluar kemarahannya sehingga memakan anak-anaknya sendiri.

Saat ini, aku hanya ingin berandai-andai. Aku membayangkan lagi bahwa seandainya tak ada perseteruan politik di negeri ini, seandainya persaingan politik tidak ada, seandainya usaha meraih kekuasaan tidak lagi ada, yang ada hanya pergantian pemimpin yang mau mengelola kehidupan, rasanya udara ini tak terasa panas. Tak ada kampanye. Tak ada corong berbunyi semu. Tak ada tindakan saling merugikan. Yang ada hanya rembugan bersama bagaimana mengelola dan menata negeri ini. Tetapi tetap saja bagiku muncul lagi Durga di tengah bayangan dan harapan wajah Umayi. Di dalam diri manusia selalu saja keduanya itu muncul. Ketika tengah berkampanye, tiba-tiba di tengah suasana doa dan bernyanyi, serangan kelompok berjubah putih mengaku beragama dengan pentung dan setrum menyerbu mereka yang berdoa. Pamong pengaman bicaranya juga lucu: "Ya nanti, jika ada acara bersama, silakan memberitahu kami." Pengaman itu adalah bunyi dan suara negara. Lha, kalau negara saja omongannya seperti itu, kita sudah tak punya harapan akan keamanan. Acara bersama apapun harus dilaporkan kepada pengaman itu. Apakah ini membuktikan bahwa negara sudah salah kaprah menjawab apa yang sedang terjadi? Seolah-olah negara harus mengurus semuanya, namun kenyataannya jika tanpa bayaran, negara juga tak bergerak. Sekali lagi "negara garong." Berdoa bersama harus lapor. Bahkan ketika doa itu sudah hampir sebulan ini biasa saja tetapi di akhir-akhir harus terjadi insiden. Kesiapan pengamanan tak ada. Preman-preman kriminal dibiarkan berkeliaran dan memangsa siapapun yang bagi mereka musuh.
Kuakhiri andai-andaiku ini dengan lirik lagunya The Beatles, "Imagine". Hanya dengan lyric itu, aku membahasakan kembali bayanganku, pengandai-andaian di atas tadi. Harapan dan iman itu masih ada. Tinggal bagaimana mewujudnyatakan cinta dalam hidup kita yang jauh dari kekerasan, konflik karena kepentingan tertentu. Wajah Umayi memang mahal untuk dimunculkan. Tetapi marilah kita selalu bernyanyi….memanjatkan mantra-mantra untuk merawat kehidupan bersama.
Imagine there's no heaven
It's easy if you try
No hell below us
Above us only sky
Imagine all the people living for today
Imagine there's no countries
It isn't hard to do
Nothing to kill or die for
And no religion too
Imagine all the people living life in peace
You, you may say
I'm a dreamer, but I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will be as one
Imagine no possessions
I wonder if you can
No need for greed or hunger
A brotherhood of man
Imagine all the people sharing all the world
You, you may say
I'm a dreamer, but I'm not the only one
I hope some day you'll join us
And the world will live as one
#Bumi Merto, Akhir Mei 2014#