Memasuki bulan Juli, seperti biasanya, walau libur mulai Juni pertengahan dan sebulan penuh, kepadatan pekerjaan mulai merayap. Pekerjaan tidak bisa ditunda. Pekerjaan selalu ada pada ku. Pekerjaan butuh diperlakukan sebagai pekerjaan dan selanjutnya diolah dengan baik. Banyak orang mendambakan pekerjaan. Pekerjaan menjadi hal yang pantas diraih dan diperebutkan. Pekerjaan menjadi sumber juga malapetakan kalau ada yang tidak puas. Seperti mesin menggelinding terus rodanya, demikian juga hari-hari ini pekerjaan mulai menggelinding. Rasanya jika kurang memanfaatkan dengan baik roda itu akan melaju kencang atau lambat atau tak beraturan. Oleh karena itu, di awal ini musti banyak hal yang tentu masih belum normal. Ada personalia baru. Ada tatanan baru. Ada tanggung jawab baru juga.
Pengalamanku saat harus mengerjakan sebuah pekerjaan, yang selalu menjadi perhatianku adalah apakah aku bisa menciptakan mekanisme yang membantu diriku dan orang lain? Itulah yang kemudian kuusahakan. Lebih dari itu biasanya juga aku harus lebih melihat dan mengecek dengan teliti dan berkesinambungan bahwa pada dasarnya setiap hal itu butuh dilakukan terus-menerus, ajeg, dan konsisten. Ketika menggarap sebuah pekerjaan yang memeriksa pekerjaan apapun itu, aku perlu melihat itu semua. Ada yang membahasakan apakah sangat "formatif", berkesinambungan, berdaya guna (apostolik), dan legal. Itu semua setidaknya sebuah karya itu perlu dilihat dengan lebih seksama. Pekerjaan yang tidak mudah memang karena itu menyangkut kesiapan seseorang atau beberapa pihak untuk sampai pada sebuah status karya itu, apakah akan ditutup, akan dilanjutkan, akan dialihkan atau diserahkan ke pihak lain. Mekanismenya pun bukan sekedar pada taraf managerial kerja fisik namun saya bersyukur bahwa dalam proses tersebut aku berproses (latihan) rohani juga.
Ketika melihat sebuah karya hanya sebagai karya, memang di sana tidak ada unsur kerohanian. Namun ketika melihat karya sebagai bagian dari "Missio Dei", perutusan Allah dalam menyelamatkan kehidupan, di sanalah aku dihadirkan dan dilibatkan di dalam proses rohani itu. Kerohanian bukan saja karena aku menyebut adanya Allah (dengan A besar) namun karena sebenarnya adalah adanya kesadaran diri bahwa orientasi diriku bukan saja pada karya yang nota bene sarana duniawi. Karya sebagai sarana itu mengarahkanku pada tujuan aku diciptakan atau tidak. Di sanalah Allah itu hadir. Kalau orientasi hidupku tidak sampai ke sana ya sebenarnya tidak ada proses rohani itu sendiri.
Pimpinan Umum kami sudah mengingatkan bahwa setiap dari kami harus sampai pada kesadaran di atas. Bahkan karya yang kujalani bukanlah karyaku, karya kami sebatas manusia namun kita menjadi kolaborator Allah dengan A besar tadi; alias co = bersama, laborare = bekerja. Manusia adalah kolaborator Allah. Manusia adalah rekan sekerja Allah. Ini semua bukan bualan suci atau omong suci belaka namun ini sedang kujalani sebagai proses memanusia. [Proses ini dan salama beberapa waktu ini butuh kuendapkan. Segala sesuatunya membutuhkan ruang renung hening yang kudamba di beberapa waktu ke depan ini supaya aku mengingat dan menyegarkan kembali arti panggilan hidupku di dunia ini sebagai peziarah].
Aku juga bersyukur atas segala macam pergulatan selama ini. Dan kutemukan selama 3 tahun berkarya di tempat pendidikan kawah condrodimuka ini aku merasa ada sesuatu yang harus berubah, namun perubahan bukan hanya dari diriku. Ada banyak pihak yang harus digerakkan bersama. Ada banyak alasan untuk menciptakan sebuah perubahan yang di sisi lain tegas dan jelas, namun di sisi lain perlulah sebuah pendekatan yang lebih bijaksana. Ada yang menanggapi bahwa aku terlalu serius dan terlalu kaku. Ada yang menanggapi bahwa aku harus membaur saat jam-jam istirahat dan bersenda gurau. Ada juga yang meminta aku lebih lunak. Semua itu biasa, tentu ada pro dan kontra. Aku juga menyesal bahwa selama ini belum bisa membaur dan mendekati karena selalu saja ada yang tidak memuaskanku. Aku sedang membuat sebuah terobosan. Ada juga yang intinya aku sedang menggali data dan fakta berdasarkan kebutuhan. Maksud tentu ada di sana, namun supaya ini membantu dalam mengambil keputusan tegas dan jelas.
Yah, inilah sementara yang ada dalam otakku. Tentu masih banyak hal yang bisa mutah dari dalamnya. Namun aku hanya mau mengungkapkan ini dulu. Selebihnya nanti tergantung eksekusi yang ada. Situasi dan kondisi juga akan berpengaruh. Segala kemungkinan akan terjadi dan harus siap menghadapinya. Oleh karena itu, aku hanya mohon rahmat supaya aku mau bergerak dan berani bekerja dengan berbagai resiko yang ada. Kerja adalah trabajo.....kerja keras, en travail.
#Pagi menjelang siang di ruanganku#
