Berisik sering menjadi perilaku kita sehari-hari. Lebih banyak bicara daripada bertindak. Itulah yang sering terjadi. Orang yang sering berkata dan tidak bisa tenang rasanya seperti air yang terus beriak dan ada sesuatu yang terus mengguncangnya. Riakan itu adalah akibat guncangan dari wadahnya atau energi yang mempengaruhi dari luar air itu. Termasuk mendidihnya air sehingga suhu dan gerakan molekulnya menjadi lain. Jika air itu dingin dan tidak ada pergerakan energi, air itu tetap tenang. Namun jika ada pemanasan dari luar dirinya dan atau wadahnya, maka air itu bergejolak. Orang Jawa menyebutnya "mumpal-mumpal". Peribahasa lain mengatakan "air beriak tanda tak dalam." Nah, kalau air itu dipanasi terus sampai mendidih, maka ada bentuk lain yang kelihatan yaitu uap. Uap adalah bentuk lain dari air yang dipanaskan dan membentuk gas, massanya lebih ringan (bahasa dalam Fisika atau Kimia).
Entah mengapa orang suka gaduh. Orang suka langsung meluapkan apa yang dirasa, dipikirnya. Orang lebih suka mengobral rasa dan pikir daripada diendapkan dulu dan diungkapkan dengan lebih cerdas dan bijaksana. Di sinilah kualitas bangsa atau pribadi seseorang itu kelihatan. Entah mengapa orang mudah sekali mengumpat, menjelek-jelekkan orang lain, saudaranya, orang yang tidak disukai, orang yang tidak seide dengan dirinya, orang yang tidak seiman dikatakan kafir dengan nada kasar dan diobral di ruang-ruang publik. Ada energi negatif yang selalu memanaskan sentimen orang sehingga meluapkan kemarahan, kebencian, ketidaksukaan, dan sebagainya.
Di sisi lain pengungkapan kegaduhan itu demi ego dirinya. Semua ingin dikuasai sebagaimana suara keras adalah lambang penguasaan massa. Siapa yang lebih gaduh dengan suara keras dan lantang, sepertinya mereka atau ia yang berkuasa. Memang bahwa kegaduhan adalah bagian dari ingin nafsu berkuasa. Yang lain ditindas dengan membungkam suara dengan kekerasan suaranya. Dan memang ketika mendengar kegaduhan itu, telinga menjadi bising dan teriakan-teriakan itu menekan pihak lain yang sebenarnya ingin hidup bersama dan berdampingan. Pertanyaannya adalah apakah tidak ada cara lain untuk hidup berdampingan itu? Apakah hidup hanya demi kekuasaan belaka? Apakah jika tidak gaduh itu tidak hidup?
Orang yang bekerja mengandaikan sebuah fokus tertentu. Fokus tidak bisa hanya dilakukan kalau dirinya gaduh secara fisik maupun batin atau rohani. Hidup bukan hanya untuk gaduh. Hidup ini juga untuk hening dan kerja. Kerja itu harus fokus juga. Selain tidak mengganggu konsentrasi diri, juga dengan hening menjaga konsentrasi orang lain. Hidup saling menolong dan membantu adalah sebenarnya yang perlu kita ciptakan. Hidup yang saling mengganggu adalah hidup dalam kekacauan. Apakah hidup ini maunya kacau terus? Tentu kan tidak bagi yang normal alamiah. Aku tidak tahu kalau ada yang tidak normal di dunia ini. Kusadari bahwa di dunia ini juga banyak yang tidak normal dan aku pantas menghargai ketidaknormalan itu dalam batasan yang umum.
Air pun ada yang beriak namun tidak di semua aliran sungai. Air pun ada yang menjadi uap namun tidak semua menguap. Ada manusia yang "menep", ada yang masih "mubal". Ada yang hidupnya dalam dan bijaksana. Ada yang hidupnya masih supervisial dan gaduh. Kegaduhan yang memakai embel-embel Tuhan sekalipun adalah supervisialitas hidup itu sendiri. Dalam dirinya, ia tetap saja kedangkalan itu. Ia tidak fokus. Ia ingin berkuasa. Ia ingin menjajah yang lain. Ia ingin dianggap dirinya lebih dari yang lain. Dan tentunya ia mengganggu yang lain. Sedangkan hidup ini selayaknya menjadi dalam, tidak dangkal. Hidup yang dalam itu mampu mengendalikan luapan air sebesar apapun. Kedalaman itu tempat tumpahan air dari atas. Ia akan meresapkan ke bawah atau meluberkan dengan cara yang lebih tenang. Beda dengan penampang yang dangkal, maka ia akan memuntahkan segalanya dan memercikkan ke sekitarnya.
#morning in office#
