Sunday, January 26, 2014

"Nitz": Cat Woman (Part 2)

Hari ini aku pergi ke Riverbank untuk menebus kesalahan mencetak foto. Secara tak disengaja, aku menjumpai "The Cat Woman". Awalnya aku hanya bertanya kepada satpam yang berjaga di pos jaga. Namun karena keingintahuanku, aku memberanikan diri untuk menyapa Sang "Cat Woman".


"Good afternoon, po", kusapa demikian. Dan segera dari wajahnya muncul senyum yang indah. Aku akhirnya berani bertanya ini dan itu. Awalnya aku membiarkan diri ditanyai oleh dia, siapa namaku, darimana asalku, dimana tinggalku dan sebagainya. Aku menjawab dan mencoba berkisah bersama dia walau akhirnya dia yang justru banyak berbicara. Inilah saatnya, saat di mana teka teki itu terkuak. Setidaknya teka-teki dalam diriku tentang "The Cat Woman".


Namanya Anita del Rosario. Biasa dipanggil "Nitz". Dia memang seorang asisten dosen di Universitas Ateneo de Manila. Sejak beberapa tahun ini dia pensiun dari tugasnya. Dia banyak mengenal para mantan mahasiswanya, termasuk orang Indonesia yang pernah dia bantu menyelesaikan tesis Magister Psikologi di Ateneo de Manila. Salah satunya seorang suster dari Indonesia. Asalnya dari Mindoro, Pulau di selatan Luzon yang mengarah ke Laut Cina Selatan. Semenjak kepergian orangtuanya dan saudara-saudaranya, ia tak bisa menikmati hidupnya di sana. Maka ia pindah ke Manila. Dia bekerja di Ateneo sejak 1973. Dari 11 saudaranya sekarang hanya tinggal 3 orang. Dan itu pun berjauhan tinggalnya. Ketika kutanya tentang keluarga, ia hampir menangis. Maka aku tak melanjutkan ke sana.



Sebelumnya ia tinggal di pinggir Jalan Katipunan, depan Universitas Ateneo de Manila. Sejak tahun 1997, ia mendapat kesempatan tinggal di kompleks De La Costa, di Barangka di bawah kompleks Ateneo. Sekarang ia sendiri, dan ia mengatakan, "Yes, I am alone here but with my cats." Demikian ia berkisah dengan senyumnya. Awalnya hanya 3 kucing yang ia rawat, namun menyusul sampai sekarang ada sekitar 14 kucing yang ada. Ternyata tiap pagi dan sore ia memberi makan kucing-kucingnya.


Dari senyumnya, aku sudah bisa menyapa dia akhirnya. Dan dengan senyum yang menyapa itu, aku dapat menyapa lagi dia kapan-kapan sewaktu dia ada di sana. Atau mungkin aku akan mengunjungi rumahnya yang di Barangka kalau ada waktu.


A story began with smile. A moment to know somebody was given to me. In this afternoon, in my rush, I was given opportunity to meet "The Cat Woman". Not only met her but also it was interesting to talk with her, to know each other. It was beautiful moment for me to know her although in short moment. Thanks "Nitz", thanks "Cat Woman." It is a beauty of encounter. 




#Afternoon from Riverbank# 

Saturday, January 18, 2014

Cat Woman

Secara spontan aku menyebut wanita tua, kurus, dan kecil tubuhnya itu "Cat Woman". Seorang wanita yang setiap hari memberi makan kepada kucing-kucing di jalan menuju ke Barangka atau biasa kami yang berada di kampus Ateneo turun ke bawah untuk ke SM Marikina (sebuah Mall yang populer di Philipina) atau ke Riverbanks (mall lain yang kelasnya di bawah SM di seberangnya) untuk membeli barang kebutuhan. Aku mengambil fotonya hari Minggu lalu ketika mau berangkat ke Cubao dengan jeepney dari Barangka, 12 Januari 2014. Dan aku belum bertanya siapa dia. Aku mulai tertarik dengan pribadi itu ketika hari Kamis sebelumnya, 9 Januari 2014 ketika kami bertiga ke SM Marikina untuk belanja barang bagi tamu-tamu dari Tabuk.

Malam kemarin, sehabis berkeliling di Kampus UP (University of Philippines) dan kami berempat memutuskan untuk hang out ke "Bonfire" tempat anak-anak muda dan orang-orang di sini nongkrong untuk sekedar ngobrol sambil minum San Miguel atau Red Horse yang biasa tersedia. Ketika berjalan dari kampus ke "Bonfire" itulah aku mendapatkan sedikit informasi tentang wanita tua, kurus dan tubuh kecil itu. Kata teman Pinoy itu mengatakan bahwa dulu dia memang pegawai di Ateneo, sebagai asisten dosen dan setelah pensiun, dia tidak mempunyai pekerjaan lagi. Keluarganya pun sepertinya tidak lagi mengurus dia. Kebanyakan orang memang menilai dirinya adalah wanita kesepian dan temanku itu mengatakan bahwa orang di sini menyebut dia "Cat Woman". Dia pun memberi nama dari setiap kucing yang ia beri makan di situ. Ada yang namanya "Mary", "Tony" etc. Ia beri kalung di setiap leher kucing itu dan di situlah tergantung nama-nama kucing itu. Lucu dan mengesankan.

Yah, itulah sepenggal kisah mengenai Cat Woman yang sempat aku upload di facebook beberapa waktu lalu. Tulisan ini aku buat karena juga karena ada inspirasi dari kesan itu, tetapi juga karena ada seorang yang memberi komentar atas foto itu dan langsung atau tidak langsung meminta untuk menuliskan tentang "Cat Woman" itu.

Selain komentar tentang kasihan dan  kesepian, komentar lain yang aku tangkap adalah kepekaan. Memang sebagai wanita yang kesepian, loneliness, manusia mengungkapkan dirinya dengan memberi makan kucing yang cenderung dekat dengan manusia yang memberi kenyamanan. Dia bukan secara mental sakit tetapi karena kesepian itulah mengungkapkan diri seperti itu. Dan aku hanya bisa menuliskan kesan dan komentar-komentar atas apa yang aku tangkap dari foto itu. Salah satu yang memberi komentar tentang foto itu menambahkan: "Saya ingat akan film 'Home Alone' di mana ada wanita tua yang memberi makan kepada merpati. Dia juga wanita kesepian."

Saat menguntai inspirasi ini pun aku ingat semalam ketika di Bonfire kami di antara keramaian orang-orang dan live music di sana. Ada keramaian, ada hiruk pikuk, ada nyanyian, tetapi di sisi lain tak jauh dari situ, di antara keramaian itu, ada sosok kesepian seorang "Cat Woman". Yah, itulah sisi demi sisi dunia kita. Ada yang hidup dalam keramaian, ada yang hidup dalam kesepian. Kontras. Tetapi orang pun dapat kesepian dalam hiruk pikuknya dunia ini.



living in the world, there is lonely one, there is who live in crowd….but people in the crowd sometimes feel lonely also….I remember a quote: "It is good to be alone but not lonely."



#Pagi hari#

Thursday, January 16, 2014

Makam

Entah kenapa, malam ini aku teringat satu hal yang masih menyangkut di kepalaku. Makam. Biasanya kalau kita membicarakan soal makam, hal pertama kali yang muncul adalah ketakutan. Takut karena di situlah orang meninggal berada. Takut karena orang meninggal identik dengan hantu, roh gentayangan dan sebaginya. Bicara makam, orang selalu mengatakan "wingit" (menakutkan, hati-hati, serem).

Aku masih punya satu ingatan yang harus kutuangkan untuk dibagikan. Aku ingat tulisan "RIP" di sebuah batu nisan atau bahkan batu-batu nisan yang biasa kulihat. Namun, yang kulihat beberapa waktu lalu, makam itu ada di dekat rumah, di jalan yang kulalui, di samping atau belakang rumah. Yah, tradisi itu masih kujumpai di pegunungan Cordilera Luzon Utara.

Sejanak kuperhatikan dan aku kaitkan dengan kisah dari Mgr. Jun Andaya CICM yang tlah memberi warna tersendiri dari pengalaman-pengalamanku salama di sana. Tanah Kalinga, tanah yang menurut beberapa orang di sana penduduknya berasal atau bernenek moyang dari nusantara, bahkan mereka mengatakan, "nenek moyang kami dari Indonesia. Itulah mengapa bahasa dan kebudayaan kami mirip dengan kalian." Itu yang terucap dari beberapa orang di sana.

Aku sendiri merasa tak kesepian di sana. Walau sekali lagi aku tertegun dengan salah satu "warisan" kultur di sana yaitu "makam yang berada di sekitar rumah mereka." Aku juga pernah melihat kebiasaan yang sama seperti ini di Palembang, ketika menyusur jalan raya Palembang ke Belitang. Tetapi mereka menempatkan makam keluarga ada di kebun mereka yang tidak jauh dari rumah mereka. Di Kalinga, khususnya di kampung-kampung di yang kutempati beberapa hari di sana, mereka mengubur mayat keluarga persis di depan dan samping rumah mereka. Bahkan untuk jalan dan diinjak-injak setiap hari, dipakai untuk menjemur kayu atau pakaian, atau dipakai anak-anak bermain. Nisan bukan sesuatu yang yang menakutkan karena dipandang setiap hari, berada di dekat rumah mereka.


Pada awalnya aku hanya mendengar dari Mgr. Jun Andaya di kediaman beliau. Namun ketika berjalan dan menyusur wilayah mereka, aku membuktikan sendiri, di Taloctoc, Mangali, Lubo, Gaang, dan Dacalan. Apa alasan mereka menempatkan seperti itu? Mgr. Jun mengatakan, "Demi praktisnya saja agar tidak membawa ke tempat yang lebih jauh. Dan itu sudah menjadi budaya kebiasaan penduduk di sini." Begitu penjelasan bagiku.

Aku mencoba memahami dari konteks lain. Pikirku: "Mungkin orang menempatkan keluarganya dekat dengan mereka karena bagi mereka keluarga hidup maupun yang sudah meninggal masih bersama dengan mereka. Keluarga tidak dibatasi oleh kematian, maka didekatkanlah mereka." Itu pikirku. Itu pemaknaanku. Aku memang tidak bertanya kepada mereka atau belum bertanya, tetapi bahwa hal yang tidak biasa itu pernah kujumpai. Beda dengan budaya peradaban bangsa-bangsa lain, termasuk bangsaku, Jawa, yang menguburkan saudara atau keluarganya di pekuburan umum atau kampung atau tempat khusus yang namanya makam.


Pemandangan itu membawaku kepada saling memahai budaya satu dengan yang lain. Ada perbedaan, ada kemiripan, ada pemaknaan dan tentunya pengalaman ini membawa berkah tersendiri: melihat saudaraku di tempat lain dan mencoba menghormatinya sebagai kemajemukan. Makam.

Merenungkan makam, aku ingat pengalamanku tahun 2002 ketika itu di Bandungan, di atas Sinewente, aku mencoba masuk ke makam pagi-pagi buta. Aku mencoba mengingat pesan nenek-kakek ketika melewati makam, "Sing ngurmati yen liwat makam." Kata-kata itu bukan mau menakut-nakuti tetapi kemudian aku coba renungkan lebih jauh. Aku mendapatkan sarinya pada waktu itu bahwa memang aku harus hormat kepada mereka yang sudah meninggal di sini. Di sinilah tempat disemayamkannya mereka yang sudah mencapai tujuan akhir peziarahan hidup, entah dengan cara apa kematiannya. Menghormati mereka yang sudah dimuliakan Tuhan sendiri dengan kematian itu. Kematian dalam bahasa kita adalah "berpulang ke rahmat Tuhan", "going home" orang Inggris bilang atau kita pun mempunyai istilah yang indah, "dipanggil Tuhan". Kematian adalah sebuah panggilan. Dan inilah yang bagiku menyentuh. Dari makam ke kematian kepada panggilan.

For my friends who want to read this, I just want to say about cemetery in Kalinga. It makes me impressed that they buried the dead body near by their home. The dead and the living is still together. Death is going home, to answer God's calling in our time limit.


#Sebuah malam di ruangku#

Monday, January 6, 2014

Para Peziarah


Aku menyebutnya "peziarah". Di tanah yang bergunung, berbukit-bukit itulah para peziarah menapaki hidupnya. Daerah Tabuk, Provinsi Kalinga, Luzon Utara, para peziarah itu berkarya. Aku menyebutnya peziarah, para Paderi, "Padi" dalam logat Ilocano, "Pare" dalam logat Tagalog. Tidak banyak paderi yang berkarya di tanah ini. Tanah yang masih peka dengan masalah konflik antar suku. Tanah yang membawa kurban darah beberapa paderi di masa lalu.



Ya, aku melihat para paderi yang telah berkarya sekian lama di tanah misi ini begitu mengagumkan. Tidak banyak hasil yang gemilang tetapi semangat luar biasa itulah yang aku kagumi. Pegunungan Cordeliera yang masih hijau, tanah masih alami. Kadang kulihat beberapa tempat masih terjadi longsor. Ketika berjalan 6 jam !!! di hari pertamaku, aku hampir saja jatuh dalam jurang….!!!! Untungnya ada akar pohon yang bisa kupegang, dan jalanku pelan-pelan. Menjalani hidup dalam peziarahan lahir dan batin. Itulah yang aku alami bukan hanya bayangkan. Sekian "Paderi" yang berkarya di daerah ini berkarya, mempersembahkan dirinya bagi sekian banyak orang yang tinggal di pegunungan. Masih ada bahaya mengancam. Masih ada perang antar suku. Masih ada jerih lelah yang harus dijalani. Jerih lelah bukannya menjadi hambatan tetapi tantangan dan anugerah hidup.

Mencoba merengkuh hidup orang-orang dari barrio ke barrio (dusun). Mencoba menyapa setiap wajah yang dijumpai di jalan terjal. Mencoba berbincang dengan orang di sawah saat menanam, memetik kopi, ngobrol dan minum kopi dengan mereka-mereka yang menawarkan tumpangan tidur saat hari sudah mulai senja. Itulah yang dilakukan para "Pad(er)i" di tanah Kalinga. Tak mudah tetapi juga tak sulit. Selagi masih ada hati yang mau berbicara dan memberi ruang, rasanya masih ada jalan untuk suatu kehidupan bersama.

******

Di pegunungan ini pula, sentimen perlawanan masih terasa. Perlawanan karena pusat hanya memakai mereka di pelosok sebagai ajang kampanye dan berjanji: "janji tinggal janji". Jalan hanya menjadi jalan "janji-janji" karena selama ini tidak ada realisasi cepat. Tanah mereka jauh dari akses kendaraan. Kendaraan khusus yang dapat sampai di barrio-barrio itu. Jalan lingkar ke ibukota provinsi hanya ada seminggu sekali kalau lancar dan cuaca baik. Itu pun harus ditempuh dalam waktu 3 jam sekali jalan!(one way). Ada yang mengatakan: "Kampanye sering masuk keluar daerah kami. Mereka hanya berkata dengan lantang, "kami akan buatkan jalan, walau tidak ada jembatan. Kami akan buatkan jembatan walau tidak ada sungai…!" " Itulah lucunya. Janji itu tak terealisasi karena yang terucap tak sesuai dengan realitas di lapangan. Tak mengherankan gerakan-gerakan perlawanan masih bergerilya dan bercampur dengan penduduk di pegunungan.

******

Sekali lagi, para Pad(er)i berkarya sebagai peziarah di tempat itu. Semangat luar biasa di daerah yang luar biasa sulitnya jika dibandingkan dengan daerah perkotaan yang mapan. Jika jalan saja belum ada, bagaimana dengan listrik? Air melimpah dan itulah syukurnya. Pertanian melimpah dengan sistem organik. Setahun hanya dua kali tanam. Dan itu yang menyehatkan kehidupan. Sekali lagi, Tuhan memberi keadilannya di tengah situasi serba sulit. Bahkan saat-saat sulit, kesepian pun rasanya tak ada yang bisa mengalahkan rahmat Tuhan dalam diri seseorang bahkan seorang Pad(er)i. Ya, kesepian hidup sering tak terelakkan ketika semua tak ada apa-apa. Semua serasa melelahkan dan sepi adanya. Tak ada hiruk pikuk puja-puji dalam kerja keras di daerah yang sulit.


Peziarah yang lain adalah para penduduk yang hidup di situ. Mereka adalah para peziarah yang tak kenal lelah naik turun gunung. Ke kota hanya seminggu sekali untuk cari barang-barang kebutuhan hidup karena mereka harus jalan selama 4 jam minimal dari daerah mereka terdekat ke kota. Yang lain bisa 9 jam ! Jalan kaki! Itulah mereka para peziarah yang hidup di pegunungan. Itulah mereka yang dengan situasi hidupnya menjalani perjalanan dari waktu ke waktu. Kaki mereka telah mengatakan bahwa hidup kami tak menyerah oleh kesulitan hidup. Kami masih bisa berjalan dari bukit ke sungai ke sawah dan ke kota bahkan! Itulah para peziarah hidup. Aku banyak belajar dari mereka.


And I just wanna say that life is a journey, pilgrimage. In this writing I reflect myself after walking up and down hills, in the mountainous area. I learn many things there. I learned from the people, from the difficulties. There are loneliness, suffering, inaccessible place by car, problems etc. But the spirit of mission conquered everything. 




Larut malam di 504#

Saturday, January 4, 2014

Anak-anak itu

Entah mengapa, ketika memasuki sebuah "barrio" (dusun) di pedesaan pegunungan Cordeliera, yang bernama Ullaga, aku begitu cepat akrab dengan anak-anak. Aku heran sendiri saat malam pertama di dusun itu. Koq bisa aku cepat akrab dengan anak-anak? Selama ini aku merasa asing dan kadang jauh dari anak-anak. Apakah aku tidak menakutkan lagi? Apakah selama ini aku "jaim" dan kurang bisa bergaul dengan anak-anak? Memang selama ini aku banyak berinteraksi dengan para remaja. Anak-anak kadang kurasakan jauh. Keponakanku sendiri saja baru bisa dekat akhir-akhir ini.

Aku merindukan suara mereka. Aku merasakan kedekatan hati dan emosi. Ketika mereka mencoba menyapaku dengan malu-malu, mereka melihatku dari kejauhan. Ada yang mencoba mendekat. Ada yang kadang mau difoto tetapi ada yang malu-malu. Gadis-gadis kecil Ullaga itu menggodaku sebagai orang asing, tamu bagi mereka tetapi koq kadang ada kesamaan dengan mereka. Yah, beberapa kata dalam dialek Kalinga dan Ilocano ada di bahasaku dan dialekku, Indonesia dan Jawa. Lucunya, ketika kujelaskan kata "weteng" (Jawa) yang artinya perut mereka tertawa terbahak-bahak, bahkan orangtua mereka ikut tertawa karena "weteng" bagi mereka berarti makan daging dengan menggigit seperti makan paha ayam yang dipegang tulangnya dan digigit dan ditarik ke samping dengan penuh nafsu. Itulah arti kata "weteng"  bagi mereka.

Dari belajar membandingkan kata demi kata, aku mendengar kata yang sama: "Udan"(hujan), "Lintah" (lintah), "Musang" (musang), "Isna" (nasi), "Asahan"(pengasah pisau), "Sabun" (sabun), "Pinggan"(piring), "Kasianakami" (kasihani kami), dan lain-lain. Namun ketika bercakap, kami memang harus memakai bahasa asing yaitu Inggris. Anak-anak senang membagikan dan membandingkan kata demi kata yang kita punyai masing-masing. Yang aku rindukan lainnya adalah ketika mereka menyanyi dan bersenandung bersama, aku merasakan kegembiraan dalam kebersamaan. Kebersamaan seperti ketika mereka bermain dengan rekan-rekan mereka.

Di daerah terpencil, mereka tumbuh. Di daerah yang sepi, mereka bersaudara. Di daerah pegunungan, hanya ada sawah, sungai, hutan, mereka menari, bernyanyi, berdendang. Itulah suasana pedesaan tradisional yang sungguh menyejukkan. Membuatku merasa rindu dengan mereka. Aku merindukan suasana dengan anak-anak kecil yang suka bernyanyi itu. Walaupun mereka sederhana, namun di sanalah kurasakan kedamaian. Walaupun mereka mungkin jauh dari keindahan alam kota yang hiruk pikuk dandanan, namun di sanalah kurasakan keindahan dan kecantikan dari dalam diri mereka.

"Gadis-gadis kecil Ullaga, aku merindukan kalian. Aku merindukan tawa kalian. Aku merindukan nyanyi kalian. Aku merindukan guaruan kalian. Aku merindukan suara-suara kecilmu di antara bukit-bukit dan aliran sungai di kejauhan. Aku merindukan senandungmu yang membawa damai di hati. Yang aku renungkan dari kalian adalah ketulusanmu, ceriamu, kepolosanmu, tarikan tanganmu yang menahanku untuk pergi. Rasa itu membawaku pada sebuah harapan, semoga kalian akin menjadi anak-anak zaman yang terus bersenandung, ceria dan bersuara di antara deru kehidupan."



#Hzikia dalam ingatan dan kenanganku#

Menjadi Satu

Hari-hariku di awal Desember tahun lalu sampai akhir merupakan sebuah perjalanan. Perjalanan yang bukan sekedar jalan tetapi naik-turun bukit, pegunungan, lembah, ngarai, sawah, hutan, menyusur sungai. Aku rupanya belajar berjalan kembali setelah tahun-tahun saat ku kecil aku mulai mencoba merangkak, berdiri, dan belajar berjalan. Kembali aku merasakan latihan itu.


Ya, perjalananku kali ini bukan hanya sekedar belajar berjalan dari satu tempat ke tempat lain tetapi aku membawa misi mencoba melayani banyak orang dengan bersama mereka dan mengajak berdoa. Aku ada di antara mereka karena mereka mempunyai tradisi sembahyang sebelum Natal, kalau di tempatku seperti novena, 9 hari berturut-turut. Namun di sini mereka menyebut "simbang gabi", sembilan hari doa, aguinaldo (kata Spanyol), sembahyang di pagi hari bersama dengan kokok ayam. Itulah tradisi mereka.

Aku bukan mau memfokuskan pada sembahyang itu. Yang ingin kubagikan adalah pengalaman "menjadi satu" dengan mereka dalam makan, tidur, masak, mandi, berternak dan sebagainya. Aku memang tidak lama di antara mereka namun cukup memberi gambaran bagiku bahwa pengalaman bersama mereka, menjadi satu dengan mereka adalah sebuah pengalaman incarnatoris yang tak terlupakan.

Ada kelelahan tak terkira. Ada luka di sebagian tubuh karena lecet. Ada rasa ngilu di kaki karena jalan lama. Namun ada suka di antara duka itu. Pernah suatu pagi di Gaang (sebuah desa), aku menulis demikian: "Mungkin ketika pertama kali melihat aktivitas sehari-hari orang desa Gaang, Lubo, Dacalan, akan merasa jijik karena aktivitas di luar rumah mereka bercampur dengan aktivitas babi, anjing, ayam, bebek yang berkeliaran. Seperti aktivitas pagi ini, beberapa perempuan mencuci perabot rumah tangga di salah satu pancuran di sekitar rumah mereka. Babi ikut minum air yang dipakai. Pakaian mereka cuci di situ. Babi besar, sedang dan kecil berkeliaran menemani mereka. Kotoran babi ada di mana-mana. Tetapi anehnya mereka tetap hidup dan survive seperti kebanyakan orang yang hidup. Mulut babi bisa masukdan minum dari panci yang mereka cuci…"

Sekalumit pemandangan dari kesan jijikku aku tuliskan di bukuku. Itulah yang aku sebut menjadi satu. Yah, karena situasi mereka sedikit polusi. Mereka masih hidup dalam alam organik (kalau orang sekarang menyebutnya), tradisional hidup mereka. Namun dari situlah, aku merasakan kedekatan dengan alam. Kekhawatiranku, rasa jijik menjadi hilang ketika hidangan hangat, kopi panas, nasi mengepul asap tersedia di meja. Aku tidak mau menjadi jijik lagi. Aku bersantap bersama mereka, makan dengan sendok alami yaitu tangan. Dengan jari-jari tangan, kurasakan nikmat alami bersama mereka. Itulah salah satu keindahan "menjadi satu".

Rasa capai dan kesakitan di badan menjadi hilang kala aku berserah dan menyatukan diri dengan mereka. Artinya, aku juga menyatukan diri dengan alam. Alam memberi kenikmatan. Alam memberi keindahan. Alam memberi makanan. Alam memberi penyembuhannya.




Terima kasih keluargaku dari Taloctoc, Mangali (Guilguila, Ullaga, dan Mantopman, juga Angacan dan Bail), Lubo, Gaang, dan Dacalan yang telah memberiku tumpangan, makan, dan hiburan dalam kesederhanaan, kesunyian namun mewah persahabatan, persaudaraan dan kemurahan hati bagi tamu yang berkunjung. Aku dihormati di antara mereka. Tidak ada sesuatu yang lebih indah daripada hidup yang berbagi dan menghormati satu sama lain.




# Quezon City, setelah perjalanan di Pegunungan Utara Luzon #