Setelah bulan Agustus adalah bulan Kemerdekaan, sebenarnya di bulan September aku punya usul sebagai bulan Rekonsiliasi. Bangsa ini bagaimanapun juga mempunyai luka lama yang belum bisa dihilangkan. Namanya luka pasti ada bekasnya. Namun di dalam diri bangsa ini, luka ini sepertinya belum sembuh setelah lebih dari setengah abad. Penyakit akbibat konflik politik ini berakibat pada konflik-konflik yang lain dalam budaya, ekonomi dan budaya. Luka itu seolah masih menganga walau secara lahiriah tidak kelihatan lagi. Bisa jadi luka itu lebih pada luka batin yang tak kunjung bisa disembuhkan karena belum ada kemauan menyembuhkan diri. Ketika akan ada inisiatif menyembuhkan, yang terjadi adalah saling tuduh dan serang. Akibatnya masih belum sembuh-sembuh. Luka lama itu hanya ingin dilupakan dan dihentikan pembahasannya. Jika membahas sedikit saja, sudah kesakitan reaksinya, itu artinya ada sesuatu yang salah dalam tubuh bangsa ini.Konflik berdarah tahun 1965 dan pasca tahun itu memang cukup lama dan panjang. Bahkan jika ditunjukkan mungkin sampai awal tahun 1970-an masih terus ada konflik secara psikis maupun fisik. Adanya kuburan massal bagi pihak-pihak yang dituduh sebagai lawan politik kekuasaan pada waktu itu, menunjukkan bahwa konflik itu mulai tahun 1965 sampai awal 1970-an. Pembasmian sesama manusia yang dituduh sebagai musuh dan lawan politik dengan segala macam cara dibuat. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa penyakit ideologi ini didisain sebagai penyakit genetis sampai anak-cucu mereka yang berideologi komunias atau dituduh komunis atau hanya karena tersangkut dalam sebuah organisasi di bawah PKI pun dianggap sebagai berpenyakit yang sama. Anak PKI itu sama buruknya dengan orangtuanya. Cucu PKI masih membawa gen PKI juga. Begitu ngawurnya sehingga stigmatisasi ini masih begitu sangat kuat di bangsa ini. Isu seperti PKI, Cina (karena negara komunis), buruh, buku-buku kiri, dan diskusi tentang tragedi kemanusiaan ini pun masih menjadi sesuatu yang agak tabu di negara ini. Tidak dengan mudah diterima untuk membicarakan hal yang terjadi di sekitar situasi tahun itu.
Ada dua kekuatan besar yang masih memaksa bangsa ini tidak dengan mudah berbicara dan menyentuh soal tahun 1965. Kekuatan itu adalah militer dan kaum agama mayoritas. Dua kekuatan besar itulah yang memang berperan besar untuk menentang disentuhnya persoalan tahun 1965. Ada suatu kepentingan dalam dua kekuatan itu yang bagi kita belum bisa kita pahami sehingga kedua kekuatan itu masih takut atau trauma atau apalah jika menyentuh peristiwa 1965. Aku tidak bisa menyalahkan dulu. Mungkin harus ada pendekatan yang lebih komprehensif dan mewadahi kekuatiran atau trauma dari dua kekuatan itu. Akibat perseteruan besar di dunia pada waktu itu memang tidak mudah menyadarkan bahwa kita itu termakan atau dipengaruhi oleh "jagad gede" pada waktu itu. Perang besar yang memakan nyawa anak negeri sendiri itu sudah membuat luka lama itu tetap tertutup dan belum tersembuhkan. Menyembuhkan itu proses yang menyakitkan. Entah sampai berapa lama bangsa ini mau sembuh. Kekuatan itu masih terlalu besar untuk memaksa kami tidak membuka dan mengutak-atik luka itu. Namun kekuatan itu juga tidak ingin luka itu disembuhkan. Aneh memang.
Berbicara soal penyembuhan alias berdamai alias rekonsiliasi maka itu adalah proses tak mudah. Proses itu perlu membuka luka dan melihat kembali situasi real yang terjadi. Itu perlu penelusuran sejarah dan analisis dari berbagai sudut pandang. Jika itu terjadi maka banyak pihak harus dengan terbuka memberi diri dan mau mengakui walau itu berat. Membuka luka lama itu menyakitkan. Namun kalau mau sembuh, hanya itu yang bisa dibuat. Selalu yang menjadi kenangan adalah bahwa tahun itu ada kemiskinan, bahan pangan mahal dan langka, ada situasi ekonomi yang mencekik, ada perebutan kekuasaan antar partai, dan serba menyeramkan. Dengan film propaganda dari kekuasaan Orde Baru pun selama belasan tahun film berdurasi hampir 4 jam itu sudah cukup memberi cuci otak bagi generasi yang pada saat itu sudah disuruh menonton secara wajib setiap tahunnya. Yang ingin diarah adalah semua orang mempunyai pandangan bahwa PKI itu jahat dan tidak boleh hidup lagi. PKI adalah organisasi terlarang. PKI itu kejam. PKI itu pembunuh dan bisa menjadi hantu di setiap saatnya, maka harus hati-hati dengan bahaya latennya. Kaum agamis bisa dimaklumi bahwa mengapa mereka membenci komunis karena mereka mengidentikan komunis dan ateis. Padahal itu cara berpikir yang salah.
Komunisme bukan melulu ateisme. Ateisme menjadi ideologi kalau memang negara atau komunitas tertentu itu melarang kemerdekaan beragama bagi yang lain. Sedangkan komunis itu asalnya dari kata commune (Latin) yang bertarti sebuah entitas komunitas yang merdeka dan umum. Maka ada common, yang berarti umum. Komunal itu selalu berkait dengan kebersamaan, komunitas, dan sesuatu yang bersama. Apakah yang berkumpul dan berserikat itu selalu ateis? Tidak. Komunisme menjadi pejoratif maknanya karena terafiliasi dengan ateisme. Dan ini berangkat dari sejarah yang dibuat oleh Lenin dan Stalin. Marx melahirkan ideologi perlawanan kelas proletar kepada kaum borjuis, Lenin mengembangkan dalam kerangka yang lebih politis yaitu untuk merebut kekuasaan. Maka perlu membentuk perserikatan yang lebih kuat dalam partai buruh yang bisa menghancurkan kaum borjuis. Setelah Lenin mati, Stalin yang otoriter dan bergaya militer karena latar belakang aktivitas politik sejak mudanya di Partai Komunis. Mulai pemerintahannyalah Uni Soviet berdiri dengan teror dan kekejaman ideologi komunis. Itu singkatnya. Kaum agamis akan selalu mencampurkan komunisme dan ateisme. Sosialis pun kemudian dianggap komunis. Itu salahnya.
Adanya kekuatan yang masih dominan dan tidak mau kompromi, adanya pemahaman yang salah mengenai ideologi, adanya ketidakmauan berusaha, dan ada kecurigaan antar kelompok ini masih menjadi hambatan dalam rekonsiliasi. Tentu hal itu sarat dengan kepentingan. Ketika masih ada kepentingan dalam diri masing-masing maka rekonsiliasi tidak pernah akan terwujud. Kemauan membuka diri, membiarkan diriku dikritik, dilucuti ideologi dan kepentinganku, mengakui ada motivasi ini dan itu itulah yang dibutuhkan untuk sebuah proses berdamai dalam komunitas bangsa ini.
Aku tidak bisa berpanjang lebar berkisah tentang hal yang belum bisa terwujud. Impianku suatu saat pada generasi tertentu bangsa ini semoga mewujudkan impian ini. Suatu saat bangsa ini harus berdamai dengan dirinya. Dengan berdamai, bangsa ini akan mampu berlari lebih cepat lagi dan berkembang dengan lebih baik. Tidak akan 100% sembuh namun katakanlah 75%-90% sembuh dari penyakit traumatik sejarah masa lalu itu sudah menyelesaikan beban sejarah tersendiri. Korban bisa dari siapa saja. Dan pelaku bisa dari siapa saja. Kita sama-sama salah namun kita harus berani mengakui di mana kesalahan itu dan menerima diri akan segala hal itu.
#morningtime#