Monday, October 30, 2017

Peziarah(an)

Mumpung masih Oktober, bagi orang Katolik ini adalah salah satu bulan favorit. Mengapa? Karena di bulan ini banyak kegiatan ziarah. Gua-gua Maria akan sangat banyak diminati untuk dikunjungi. Entah itu ziarek atau wisata rohani, ungkapan itu sekarang ini di "jaman now" ini menjadi rancu. Rancunya disebabkan oleh pemaknaan yang relatif sama. Orang tidak lagi mengenal yang namanya ziarah. Ziarah dimaknai dalam ungkapan Jawa yang khas dan mengena: "siji sing diarah". Ziarah adalah perjalanan dari satu tahap ke tahap yang lain dan membutuhkan usaha yang tidak sedikit dan harus berani konsekuen dengan segala hal yang ada di jalan. Bahkan orang hanya membawa bekal sedikit. "Siji sing diarah" yang dimaksud adalah Gusti Allah sendiri. Atau kalau tidak mau memakai istilah Gusti Allah ya bisa disebut Hyang Ilahi itu sendiri. Ziarah identik dengan mati raga. Ziarah sebenarnya adalah bagian dari usaha manusia untuk memurnikan diri. Itulah bentuk pertobatan diri.

Intinya memang perjalanan. Perjalanan itu perlu dipersiapkan. Perjalanan itu mengandung makna bergerak dari satu titik ke titik yang lain dan itu diusahakan dengan sengaja dengan intensi atau maksud tertentu. Tidak bisa berjiarah hanya sekedar iseng semata. Di samping itu, makna ziarah ini menjadi penting karena bagi orang jaman sekarang menjadi sangat asing. Orang menjadi sangat tidak paham karena roh jaman ini tidak lagi menghargai yang namanya matiraga. Tidak kenal lagi orang jaman ini dengan usaha pembaharuan diri atau pertobatan dengan berjalan kaki. Travelling atau advontur saat ini berbeda dengan berjiarah atau matiraga dengan berjalan kaki. Orang hanya mengenal itu semua untuk kesenangan jasmaniah belaka. Travelling menjadi kebutuhan rekreatif. Sedangkan berjiarah adalah bentuk hal yang sudah sangat langka. Sisi rekreatif, happy-happy-nya saja yang diutamakan. Entah mengapa roh jaman ini membuat orang itu sangat memuja kesenangan. Ibaratnya orang jaman ini penuh sesak dengan tekanan hidup, lalu semua membutuhkan penghiburan dan pelepasan dari kesuntukan diri.

Dari pengalamanku sampai dengan saat ini, aku suka jalan kaki. Aku juga suka travelling. Aku juga memaknai hidup ini adalah peziarahan. Bahkan aku akui juga peziarahan batinku. Tanpa pemaknaan itu mungkin aku hanya seonggok badan yang berjalan dari waktu ke waktu atau dari satu tempat ke tempat yang lain. Hal yang terjadi mungkin hanya pemenuhan hasrat kesenangan diri saja. Orang mudah mengeluh atau ingin ini dan itu namun kurang suka komitmen diri. Sejauh ini aku melihat dua kutub ekstrem, yaitu antara yang "mager" (malas gerak) dan yang "mobile"(inginnya pergi terus tanpa pernah duduk dan tinggal mengerjakan tugas utamanya). Aku bisa mengatakan ini karena kedua ekstremitas itu bisa dan berpotensi terjadi pada diriku pula. Malas gerak karena saat ini apa-apa bisa diraih dengan aplikasi. Dari "go-jek"sampai "go-food" semua bisa dioperasikan dengan sentuhan jari pada layar kecil smartphone. Itulah sebabnya orang jaman sekarang mendapat tantangan untuk tidak mau bergerak. Maka perlu berjalan kaki.

Ekstrem kedua adalah mereka yang suka berpindah dan beraktivitas. Kategori ekstrem yang kedua ini menjadikan orang tidak suka duduk, diam, hening mengerjakan tugas utamanya. Bahkan kalau dinilai, mereka ini seperti hidupnya maunya bergerak dan aktif. Jika tidak ada aktivitas, maka mereka ini badannya sakit. Orang tidak sadar bahwa tubuh perlu diseimbangkan. Hidup ini selalu akan membawa pada keseimbangan. Ketika tidak imbang maka hidup ini menjadi tidak selayaknya dihidupi. Ketika tidak imbang, maka tubuhpun membuat hukumnya sendiri sebagai ganti atas ketidakseimbangan ini.

Ketika melihat orang berjiarah, aku melihat hidup yang berjalan dan menuju pada tujuan akhir. Ketika melihat film dokumenter "Camino" (perjalanan), aku pun melihat adanya ekspresi manusia yang beragam. Dalam sharingnya, ada yang mengatakan bahwa ini suatu yang luar biasa. Ia merasakan bagaimana berhadapan dengan cuaca yang beragam. Ia berhadapan dengan rekan seperjalanan yang beragam latar belakangnya. Ia juga berhadapan dengan situasi tubuh di saat kelelahan, dan sebagainya. Dan yang tak kalah pentingnya di sini adalah bahwa dengan perjalanan yang jauh dan melelahkan ini, orang diajak melihat ke dalam dirinya, bahwa ada sesuatu yang sangat dalam maknanya. Ia menemukan diri yang mempunyai berbagai macam pergulatan, namun ada hasrat untuk mengubah diri. Itulah pertobatan terus-menerus dalam perjalanan hidup. Perubahan sekecil apapun itu perlu dilihat sebagai bentuk pertobatan yang serius.

Suatu yang luar biasa adalah bahwa dengan perjalanan atau peziarahan ini manusia dibawa pada sebuah perubahan diri, pamaknaan akan arti hidup, relasi, gaya hidup, pemikiran, perasaan dan sebagainya. Bagi saya sendiri, peziarahan lebih saya maknai (sampai saat ini) sebagai sebuah perjalanan terus-menerus yang membuat diri ini makin sadar akan ke arah mana hidup ini diarahkan. Jika arah hidup ini sesuai dengan orientasi diri yang benar, maka peziarahan ini walau berat sekalipun, maka akan membahagiakan. Jika orientasi diri melenceng dari proses hidup sebagai makhluk ciptaan, maka peziarahan akan lebih dibelokkan pada pemenuhan diri saja yang sifatnya egois.

Perjuangan orang yang berziarah adalah perjuangan tanpa banyak kata. Kasarnya "ga usah banyak bacot" dalam hidup. Jalani dan maknai hidup ini dengan laku yang pantas. Inspirasi ini bersambung karena aku terinspirasi oleh sebuah ungkapan bahwa hidup ini tidaklah butuh banyak kata yang terbuang percuma. Yang pasti adalah adanya konsistensi diri menjalankan yang baik dalam dan baik hidup. Yah, akhirnya peziarahan ini butuh konsistensi. Dan seluruh manusia ini butuh mengarahkan hidup dan perjuangannya untuk konsisten. Inkonsistensi membuat orang menjadi kelihatan bahwa dirinya tidak punya integritas diri. Itulah sebentuk kelemahan diri.


#in my office#