Wednesday, January 24, 2024

Orang Baik

Orang baik. Itu selalu yang ada dalam benak orang sehingga ketika seseorang itu mati, ia akan banyak dikenang. Kebaikan itu tergantung dari sudut mana melihatnya. Bahkan kebaikan itu pun masih punya "jurusannya" masing-masing. Orang baik secara moral, soleh, pemurah, suka senyum, suka menyapa, belum tentu secara "jurusan kebaikan" yang lain itu baik. Maka dari itu, orang baik itu kiranya juga masih akan kita lihat lagi baik dari "jurusan mana"? Ibaratnya jurusan IPA berbeda dengan jurusan IPS dan sebagainya. Baik secara ideologi kiri berbeda dengan kebaikan dari ideologi kanan. Baik secara management keuangan, berbeda dengan baik dari sisi bahwa ia sudah banyak membantu banyak orang. Kebaikan itu ada "jurusannya".

Aku hanya bermenung dari sebuah peristiwa pemakaman seseorang. Aku melihat banyak orang datang berbondong-bondong ke sebuah acara pemakaman seseorang dan itu mengherankan. Ya, kalau upacara pemakaman tentu ada adat istiadat tertentu yang dibuat. Ada pengangkutan jenasah entah dengan peti atau keranda dan sebagainya. Ada tata cara mendoakan juga. Setelah itu terjadilah penguburan jenasah. Aku hanya memandang dari sudut ini: ada berbondong-bondong orang menghormati sosok yang telah menjadi mayat atau jenasah itu. Dan di sana ada sebuah kenangan tertentu pada sosok yang sudah membujur kaku. Salah satu yang dikenang adalah "kebaikannya". Tentu kalau sosok itu tidak baik dan meninggalkan sebuah memori baik, maka tidak akan ada pelayat. Memori dan kebaikan, dua kosa kata yang tentu dibawa oleh masing-masing orang yang berbondong-bondong datang ke penguburan itu. 

Ada sebuah kesan bahwa memori itu melekat pada sebuah peristiwa atau tindakan yang kemudian karena tertancap pada otak seseorang maka kesan selanjutnya adalah itu sukar dihapuskan. Ketika kesan dari memori yang dibawa adalah "aku pernah ditolong saat aku butuh duit", maka aku memberi kesan pada sosok itu, ia penyelamatku dari masalah finansial. Atau ketika "aku selalu dikunjungi, bersama dengan keluargaku", maka memori yang kubawa adalah sosok itu sungguh sangat dekat dengan keluarga dan diriku. Atau "ketika aku diajari sesuatu yang kemudian itu berguna bagi hidupku", maka aku membawa memaori dan kesan bahwa sosok itu adalah mentor kehidupanku. Banyak lagi yang bisa disebut. Bahkan kalau itu hanya sekian detik di saat aku sungguh membutuhkan makna dalam hidup, sosok itu bisa memberikan aku memori dan kesan yang dalam dan tak mudah terhapuskan. 

Memori kebaikan seseorang karena ia pernah membantu seorang yang membutuhkan tidak selalu berbanding lurus dengan kesan pada dirinya yang bergulat dengan hal lain yang harusnya ia jalani. Maksudku adalah begini: orang yang murah hati, suka membantu kesulitan keuangan dari sesamanya yang kekurangan atau kesulitan finansial belum tentu bahwa ia secara pengelolaan finansial transparan dan baik (proper). Banyak para orang baik yang kaya (secara finansial) ketika memberi bantuan itu tidak semua kebaikan moralnya itu  berbanding lurus dengan tata kelola keuangan baik pribadi maupun secara kelembagaan. Mungkin karena merasa bahwa "ini adalah kemampuanku bisa mengumpulkan duit secara pribadi", maka tidak perlulah aku mencatat, melaporkan, secara lebih terbuka pada siapapun. Problemnya adalah ketika sosok itu mati, dan efek ke depannya adalah merunut kembali sejarah kebaikan itu untuk disikapi oleh sosok pengganti atau pihak yang harus melanjutkan langkah selanjutnya itu tidak mudah. Bahkan orang di luar akan menghakimi secara tidak adil dan cenderung membanding-bandingkan: "Dulu jaman si A begini dan kita mudah mendapatkan fasilitas, sekarang ketika diganti si B, koq kita tidak dapat apa-apa". 

Itulah dilema kebaikan atau sosok orang baik secara moral "santa klaus" dibanding dengan kebaikan dalam arti keterbukaan, transparansi, dan tata kelola administrasi atau finansial. Memang pada akhirnya yang selalu tergaungkan adalah "ya setiap orang punya kekuatan dan kelemahannya", namun dari situlah aku setidaknya tidak akan selalu melihat hanya dari satu kacamata bahwa kebaikan itu tunggal. Kebaikan itu bisa dilihat dari sudut pandang berbeda-beda. Orang baik itu pun bisa saja dari sudaut pandang yang lain bisa sebaliknya. Akhirnya narasi "kebaikan" perlu kita lihat secara lebih kritis. Aku tidak menyalahkan kesan dan memori khalayak tentang seseorang karena mereka punya narasi tertentu dengan sosok tertentu, sehingga fanatisme, menjadi "die hard-er" pun juga sah-sah saja. Bahkan orang itu sah memiliki ideologi tertentu karena pengalaman hidupnya. Kebaikan pun kalau tidak hati-hati bisa membuat seseorang sangat ideologis. 


#inmyroom#   

Tuesday, January 2, 2024

Common Sense

Di hari kedua yang katanya tahun baru ini aku hanya mau berceloteh sedikit sebagai pemanasan saja. Dua kejadian yang membuatku punya ide menulis. Pertama adalah kecelakaan di Jalan Gintungan Bandungan. Kedua adalah hampir tabrakannya dua mobil di perempatan Jl. Tentara Pelajar dan Jl. S. Parman Ungaran. Keduanya hanya berselang 3 hari. Yang pertama terjadi ketika aku pulang mengantar seorang teman menyusul untuk camping di Prantunan, base camp para pendaki Gunung Ungaran. Yang kedua saat aku mau beribadah di sebuah komunitas di Gedanganak. Kejadian itu menyadarkanku akan keterbatasan, ruang, dan waktu. Hal ini sempat kuungkapkan sebagai sebuah renungan bagi komunitas pagi kemarin.

Kejadian pertama, siang itu aku turun dari parkiran ke arah Prantunan. Aku menyopir mobil. Sesampai di dekat Hotel Griya Persada, aku berhenti karena ada bus yang akan keluar dari kompleks hotel. Beberapa kendaraan sempat membuat macet jalan karena memang jalan akses itu sempit. Tiba-tiba saat berhenti itu, di sebelah kiri mobil yang kukendarai ada dua pemuda berboncengan dengan motor matic melaju kencang sekali. Aku tidak habis pikir, dengan agak kaget aku hanya "mbatin" pasti akan nabrak. Eh, tidak lama kemudian memang mereka tidak bisa menghentikan laju motor kencang itu dan "ditabrakkanlah" kendaraannya ke tembok pagar samping hotel dan keduanya koprol melompati pagar yang hanya separuh (tidak tinggi), dan motor pun ringsek. "Brakk...!!!" Dalam kekagetan dan was-ws-ku, aku hanya mbatin, "semoga tidak mati". Satu orang yang koprol itu naik pagar dan masih pucat pasi. Yang lain masih di bawah, mungkin shocked dan masih belum bisa jalan atau malah terluka. Aku tidak turun karena sudah banyak orang membantu, termasuk security dari hotel dan banyak orang lain. Orang-orang yang lewat juga hanya bisa melongo saja mengapa di jalan turunan koq bisa kencang jalannya. Mungkin mereka selamat karena tertolong tas bagpack mereka dan helm yang dipakai.

Kejadian kedua, pagi-pagi di hari pertama tahun ini, ketika di perempatan itu ada traffic light, aku menunggu lampu sampai hijau. Sebelum hijau, tiba-tiba ada mobil dari arah Jl. S. Parman jalan dan yang dari Jl. Tentara Pelajar juag jalan. Dengan kondisi jalan menyiku, mereka hampir tabrakan. Aku hanya membatin saja "salah satu pasti ngawur dan tidak mau sabar menunggu lampu sampai hijau." 

Dari kedua kejadian itu, aku hanya berpikir, hari baru di tahun baru sudah ada dua kejadian yang membuatku merenung dalam hati: "Apa gunanya sebuah momentum kebaharuan jika mentalitas hidup kita itu tidak dibaharui." Artinya, orang hanya memakai cara hidup berdasarkan keinginan sendiri saja. Kebaharuan itu tidak usah muluk-muluk. Kebaharuan itu hanya standar manusia normal: memakai common sense. Orang kehilangan daya common sense-nya saat ini karena orang hanya berperilaku berdasarkan ke-AKU-an saja. Egoisme diri diagungkan. Orang tidak pernah memahami bahwa aku hidup dengan rambu dan tata laku yang harus diperhatikan. 

Misalnya, di kejadian pertama, orang cenderung abai dengan pengecekan kendaraan: apakah aku sungguh tahu karakter motor matic, bagaimana cara mengendarainya, medan yang akan kulewati seperti apa, bagaimana gas dan rem dipadukan agar keselamatan terjamin, apakah ada mesin yang rusak dan sebagainya.  Lalu bagaimana aku harus mengendarai di jalan yang konturnya naik turun, berliku, sempit dan kondiri jalan yang tidak selalu mulus, itu semua soal common sense makhluk hidup yang namanya manusia alias homo sapiens

Dari kajadian kedua, aku hanya bermenung soal yang mirip: apakah manusia yang katanya bijaksana itu tidak bisa membaca rambu bahwa lampu itu mengatur jalan agar tidak saling tabrakan? Apakah hanya karena masih sepi lantas kita bisa menyelonong dan tidak memperhatikan keselamatan sesama lainnya? Itu juga soal common sense. Orangnya saja pakai mobil namun kelakuannya masih barbar dan tidak beradab. Itulah kontradiksi manusia yang katanya homo sapiens di zaman ini. Sapientia-nya kebanyakan sudah hilang. Kebijaksanaannya meluntur karena hanya hidup berdasarkan insting atau feeling dangkal tanpa ada sebuah proses pemahaman mengenai kebersamaan dan kepedulian. Apalagi itu didasari pada nafsu egoistik yang dimiliki oleh semua makhluk yang tidak butuh kebijaksanaan. Percuma kita merayakan kebaharuan sebuah waktu yang terus bergulir tetapi kebaharuan cara berpikir dan bertindak tetap saja sama. Waktu akan terus berjalan tetapi kalau makhluk manusia terus merosot cara bertindak dan berpikirnya, maka peradaban juga akan hancur. 

Itu semua hanya soal cara beripikir dan bertindak, yang hanya menyentuk sisi dasariah manusia sebagai manusia yang punya common sense. Keadaban mungkin akan lebih daripada itu. Peradaban yang maju bukan sekedar kemajuan yang nampak dari keadaan fisik material, namun peradaban akan disebut maju kalau mentalitas manusianya juga menampakkan sebuah kemajuan dalam perilaku, cara berpikir dan bertindak. 

Sebenarnya hanya itu yang aku renungkan dan pikirkan di awal tahun ini. Harapannya adalah semoga manusia di planet biru ini makin beradab dan merawat peradaban yang manusiawi menghargai semua makhluk. Kemuliaan Sang Pencipta adalah juga karena beradabnya makhluk (manusia)-nya.

#morningtime#