Orang baik. Itu selalu yang ada dalam benak orang sehingga ketika seseorang itu mati, ia akan banyak dikenang. Kebaikan itu tergantung dari sudut mana melihatnya. Bahkan kebaikan itu pun masih punya "jurusannya" masing-masing. Orang baik secara moral, soleh, pemurah, suka senyum, suka menyapa, belum tentu secara "jurusan kebaikan" yang lain itu baik. Maka dari itu, orang baik itu kiranya juga masih akan kita lihat lagi baik dari "jurusan mana"? Ibaratnya jurusan IPA berbeda dengan jurusan IPS dan sebagainya. Baik secara ideologi kiri berbeda dengan kebaikan dari ideologi kanan. Baik secara management keuangan, berbeda dengan baik dari sisi bahwa ia sudah banyak membantu banyak orang. Kebaikan itu ada "jurusannya".
Aku hanya bermenung dari sebuah peristiwa pemakaman seseorang. Aku melihat banyak orang datang berbondong-bondong ke sebuah acara pemakaman seseorang dan itu mengherankan. Ya, kalau upacara pemakaman tentu ada adat istiadat tertentu yang dibuat. Ada pengangkutan jenasah entah dengan peti atau keranda dan sebagainya. Ada tata cara mendoakan juga. Setelah itu terjadilah penguburan jenasah. Aku hanya memandang dari sudut ini: ada berbondong-bondong orang menghormati sosok yang telah menjadi mayat atau jenasah itu. Dan di sana ada sebuah kenangan tertentu pada sosok yang sudah membujur kaku. Salah satu yang dikenang adalah "kebaikannya". Tentu kalau sosok itu tidak baik dan meninggalkan sebuah memori baik, maka tidak akan ada pelayat. Memori dan kebaikan, dua kosa kata yang tentu dibawa oleh masing-masing orang yang berbondong-bondong datang ke penguburan itu.
Ada sebuah kesan bahwa memori itu melekat pada sebuah peristiwa atau tindakan yang kemudian karena tertancap pada otak seseorang maka kesan selanjutnya adalah itu sukar dihapuskan. Ketika kesan dari memori yang dibawa adalah "aku pernah ditolong saat aku butuh duit", maka aku memberi kesan pada sosok itu, ia penyelamatku dari masalah finansial. Atau ketika "aku selalu dikunjungi, bersama dengan keluargaku", maka memori yang kubawa adalah sosok itu sungguh sangat dekat dengan keluarga dan diriku. Atau "ketika aku diajari sesuatu yang kemudian itu berguna bagi hidupku", maka aku membawa memaori dan kesan bahwa sosok itu adalah mentor kehidupanku. Banyak lagi yang bisa disebut. Bahkan kalau itu hanya sekian detik di saat aku sungguh membutuhkan makna dalam hidup, sosok itu bisa memberikan aku memori dan kesan yang dalam dan tak mudah terhapuskan.
Memori kebaikan seseorang karena ia pernah membantu seorang yang membutuhkan tidak selalu berbanding lurus dengan kesan pada dirinya yang bergulat dengan hal lain yang harusnya ia jalani. Maksudku adalah begini: orang yang murah hati, suka membantu kesulitan keuangan dari sesamanya yang kekurangan atau kesulitan finansial belum tentu bahwa ia secara pengelolaan finansial transparan dan baik (proper). Banyak para orang baik yang kaya (secara finansial) ketika memberi bantuan itu tidak semua kebaikan moralnya itu berbanding lurus dengan tata kelola keuangan baik pribadi maupun secara kelembagaan. Mungkin karena merasa bahwa "ini adalah kemampuanku bisa mengumpulkan duit secara pribadi", maka tidak perlulah aku mencatat, melaporkan, secara lebih terbuka pada siapapun. Problemnya adalah ketika sosok itu mati, dan efek ke depannya adalah merunut kembali sejarah kebaikan itu untuk disikapi oleh sosok pengganti atau pihak yang harus melanjutkan langkah selanjutnya itu tidak mudah. Bahkan orang di luar akan menghakimi secara tidak adil dan cenderung membanding-bandingkan: "Dulu jaman si A begini dan kita mudah mendapatkan fasilitas, sekarang ketika diganti si B, koq kita tidak dapat apa-apa".Itulah dilema kebaikan atau sosok orang baik secara moral "santa klaus" dibanding dengan kebaikan dalam arti keterbukaan, transparansi, dan tata kelola administrasi atau finansial. Memang pada akhirnya yang selalu tergaungkan adalah "ya setiap orang punya kekuatan dan kelemahannya", namun dari situlah aku setidaknya tidak akan selalu melihat hanya dari satu kacamata bahwa kebaikan itu tunggal. Kebaikan itu bisa dilihat dari sudut pandang berbeda-beda. Orang baik itu pun bisa saja dari sudaut pandang yang lain bisa sebaliknya. Akhirnya narasi "kebaikan" perlu kita lihat secara lebih kritis. Aku tidak menyalahkan kesan dan memori khalayak tentang seseorang karena mereka punya narasi tertentu dengan sosok tertentu, sehingga fanatisme, menjadi "die hard-er" pun juga sah-sah saja. Bahkan orang itu sah memiliki ideologi tertentu karena pengalaman hidupnya. Kebaikan pun kalau tidak hati-hati bisa membuat seseorang sangat ideologis.
#inmyroom#

