Monday, January 26, 2026

Elysium

Fratres! Three weeks from now, I will be harvesting my crops. Imagine where you will be, and it will be so. Hold the line! Stay with me! If you find yourself alone, riding in green fileds with sun on your face, do not be troubled. For you are in Elysium, and you are already dead!  Brothers… what we do in life echoes in eternity. 

Itu adalah kata-kata Maximus Decimus Meridius dalam lakon film Gladiator (2000). Di bagian akhir ia mengatakan bahwa "jika kalian mendapati diri sendiri sendirian, berkuda di padang hijau dengan matahari di wajah, jangan cemas. Karena kalian berada di Elysium, dan kalian sudah mati!" Hal itu disertai dengan gelak tawa legiun tentaranya. Dan memang awal dari film itu adalah tentang peperangan legiun Romawi pinpinannya dengan suku utara yang disebut Germania. Dalam film itu, peperangan itu dimenangkan tentara Romawi dan menjadi penaklukan di Eropa bagian utara. Kalimat yang ikonik dalam film itu karena akhirnya dia yang pernah berjuang bagi negaranya, akhirnya harus mati karena perebutan kekuasaan setelahnya. Ia yang loyal pada kaisar Marcus Aurelius kemudian disingkirkan oleh penggantinya yaitu Commodus. Itulah tragedi dalam kehidupan di manapun dan kapanpun. Intrik-intrik dalam sebuah komunitas apapun pasti terjadi, entah telah, sedang dan akan. 

Dari kisah itu aku bisa belajar banyak. Pertama, bagaimana kekuasaan akhirnya adalah perebutan antara kekuatan yang mau menyejahterakan rakyat dan yang hanya demi kepentingan segelintir orang (kelompok/ kubu) tertentu. Kedua, sebaik-baiknya orang, jika sudah ada yang tidak suka, atau karena iri terhadap dirinya maka akhirnya juga akan mengalami disingkirkan. Apalagi jika sudah tersebar bahwa entah diplintir atau karena memang pernah ada tindakan yang mencoreng hidupnya, maka penghakiman itu akan seumur hidup bahkan akan sampai pada sebuah kematian itu sendiri. Ketiga, kemenangan dan penghargaan itu tidak berarti akan akan langgeng dari satu penguasa ke penguasa yang lain. Ketika terjadi pergantian rejim, maka kemenangan dan penghargaan itu bisa dinilai sebagai kegagalan dan cemoohan. Oleh karena itu, tidak baik jika kita merasa cepat puas dan merasa hidup ini demi kemenangan dan mencari penghargaan semata, karena itu semua ada karena konteks tertentu saja. Semua tak abadi. Yang abadi adalah kepentingan itu sendiri. Keempat, aku sangat terkesan dengan cara Maximus menertawakan hidup dan itu dipakai untuk menyemangati tentaranya dengan mengatakan hal di atas: "jika kalian mendapati diri sendiri sendirian, berkuda di padang hijau dengan matahari di wajah, jangan cemas. Karena kalian berada di Elysium, dan kalian sudah mati!" Kematian bukan sebuah hal menakutkan, kematian bukan sebuah hal yang gagal, kematian bukan harus dihindari.

Di hal yang keempat itu, aku selalu terkesan. Manusia selalu mencari kehidupan material, lewat kesuksesan, nama baik, prestasi, penghargaan, sanjungan, kehormatan dan sebagainya. Setelah hidup sekian waktu, aku menyadari bahwa semua itu tidak pernah terjadi, sehingga hidup ini adalah sebuah peperangan dan pergantian waktu, kesempatan, dan bukan mengejar idealisme yang mengawang. Ketika masih hidup pun kita bisa saja berada dalam kematian, karena memang tidak bisa memaknai hidup atau kita dibunuh karakter kita oleh situasi atau lebih tepatnya penilaian politis dari komunitas (masyarakat). Sudah banyak contoh adanya pembunuhan karakter atau stigmatisasi dalam sebuah komunitas. Saat Nazi berkuasa di Jerman, orang Yahudi distigma dan tidak dianggap sebagai manusia yang layak hidup maka dibantai. Pada rezim Orba, Indonesia (tepatnya diktator Soeharto dan antek-anteknya) menstigma dan membunuh karakter orang-orang yang dianggap (1) anggota PKI, (2) simpatisan atau anggota dari salah satu organisasi underbouw PKI, dan orang-orang yang dinilai "kiri" dan (3) mereka yang dianggap "Soekarnois". Ada yang dibunuh tanpa proses pengadilan, ada yang dipenjara di kamp konsentrasi, dan keturunannya bahkan ditandai dengan kebijakan tidak boleh menjadi ASN. Kesalahan yang dipolitisasi itu dilanggengkan dalam sebuah sistem politik dan sosial yang mengimbas ke budaya dan lainnya sehingga masyarakat itu mempunyai cara berpikir bahwa mereka adalah musuh negara yang layak dibunuh secara apapun caranya. 

Media sosial saat ini menjadi sarana stigmatisasi dan pembunuhan karakter dari pihak satu ke pihak lain dengan massif. Bahkan dengan pola yang sama, jika isu itu menghilang, bisa dibangkitkan lagi demi sentimen tertentu yang dihembuskan ke publik. Maka yang dulu dianggap sebagai "pelaku" (kekerasan, kejahatan, atau apapun) itu bisa menjadi "korban" ketika akhirnya kalah dan dikalahkan. Hidup ini adalah peperangan. Ada yang kalah dan ada yang menang. Kadang ada situasi seri (draw). Tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang. Kesadaran akan kesehatan mental memang baik, namun tanpa dibarengi dengan keberanian melatih diri untuk kuat dalam menghadapi tekanan, kita akan terombang-ambing pada aku menjadi "korban" terus atau aku dihakimi menjadi "pelaku" terus. Bagiku saat ini yang penting adalah menerima diri apa adanya, tanpa harus memendam kemarahan meledak-ledak. Jika aku pernah jadi penjahat bagi yang lain, ya ini adalah kesempatan untuk mengubah hidup walau stigma "penjahat" itu tidak akan pernah hilang. Di mata manusia, tidak ada pertobatan. Jika aku saat ini diadili oleh situasi dan khalayak, biarlah aku menerima dan mengatakan seperti Maximus, tidak usah cemas karena aku sudah berada di Elysium, aku sudah mati. Kematian yang masih diberi kesempatan berada dan bersanding dengan kehidupan, itulah yang perlu kuhayati. Saudara kematian berdampingan dengan saudara kehidupan, demikian kata Fransiskus Asisi. 

Yah, hidup selalu berdampingan dengan kematian. Itulah yang kulihat dalam film dokumenter tentang sebuah tempat di India yang bernama Varanasi, di mana kehidupan berdampingan dengan kematian. Banyak orang membawa keluarganya yang sakit parah dan tidak bisa diobati lagi untuk mati di Varanasi karena ketika mati di sana mereka berkeyakinan bahwa yang meninggal dilepaskan dari siklus reinkarnasi. Mereka akan langsung ke nirvana. Di tempat itu Sungai Gangga mengalir, dan dipakai untuk pemujaan serta melarung abu jenasah yang mati dikremasi. Namun, ini pertanyaanku: bukankah dunia ini adalah "Varanasi" juga? Tempat kehidupan berdampingan dengan kematian? Maka, dengan coretanku ini, aku hanya ingin mengingatkan diriku dan menertawakan kehidupan (entah sebagai penjahat atau orang baik) bahwa tidak perlu cemas, karena aku sudah berada di Elysium, aku sudah mati. 



#embracinglifeanddeath#