Aku lahir dari keluarga yang mana orangtuaku PNS (istilah ASN waktu itu) dan pegawai BUMN alias institusi "plat merah". Mendengar dan melihat Pak Jokowi marah-marah kepada para mentri dalam rapat di channel youtube.com, aku juga ingat akan kejadian beberapa waktu lalu. Pada hari Rabu Wage beberapa hari lalu, aku dan temanku mampir di warung sate kambing dekat sebuah pasar. Di saat itu jam menunjukkan baru jam 9.30 pagi hari. Pemandangan yang begitu menyesakkan dan itu sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun, dan menjadikan negeri ini tidak maju-maju, adalah banyaknya ASN yang berseragam Korpri dengan santainya makan di warung itu. Memang sih situasi masih dalam suasana pandemi. Dan banyak dari kalangan pegawai itu ada yang WFH ada yang tidak. Para ASN pun sudah diwajibkan kerja pada waktu ini. Begitu santai dan tidak berdosanya mereka kerja dengan santai tidak menjalankan tugas negara dengan serius.Dari sana aku melihat "Ooooooo, begitu itu cara mereka bertindak." Mereka ada yang laki, ada yang perempuan. Mereka bertemu dalam satu meja. Ada banyak meja yang kebanyakan kerumunan ASN karena hari itu seragam yang mereka kenakan adalah Korpri. Korps Pegawai Negeri yang tingkahnya "Ngeri-ngeri sedap" makan bersama. Mereka pesan sate, tongseng, krensengan, gule, dan sebagainya. Dengan nikmat dan nyamannya mereka tanpa malu lagi menikmati waktu kerja dengan makan-makan. Aku yang sadar diri sebagai warga negara yang bayar pajak jadi protes, "Edan, mereka yang digaji dari pajak rakyat, ternyata kerjanya hanya begitu." Belum lagi beberapa waktu lalu ada berita yang menjijikkan yaitu mereka pun di masa paceklik ini masih menuntut gaji ketigabelas. Sedangkan banyak perusahaan swasta merumahkan pegawainya, ada yang menggaji hanya separuhnya, ada yang bahkan mem-PHK karyawannya. Sedangkan ASN ini kelakuannya tidak habis pikir, mereka seenak jidatnya memakai waktu kerja.
Aku menjadi semakin hapal kelakuan mereka karena "pendidikan mereka atau proses formatio mereka" itu ya memang demikian. Artinya, senior mengajarkan bagaimana berperilaku sebagai ASN sejati jika sudah bisa memanfaatkan waktu kerja untuk "gabut", bisa memanipulasi apapun demi kepentingan diri dan golongannya, bisa mengulur-ulur waktu yang seharusnya kerjaan itu singkat, bisa menghasilkan duit dari yang seharusnya tidak perlu duit karena itu bagian dari kerjanya yang digaji negara, bisa korupsi berjamaah kalau itu menyenangkan, bisa membeli banyak barang tetapi tidak bisa merawat, bisa membuat jalur birokrasi menjadi panjang yang seharusnya pendek, bisa membuat kumuh kantor dan atau gedung yang seharusnya bersih, dan sebagainya. Sebenarnya masih banyak litani proses pendidikan ASN di unit kerja.
Kalau dibandingkan dengan PNS jaman dahulu, sepertinya ASN saat ini sudah lebih jauh sangat amat makmur. Dulu PNS atau pegawai negeri itu sebutannya "pegawai ngeri" karena memang gajinya tidak berlipat ganda seperti saat ini. Sedangkan saat ini gaji banyak. Memang jaminan hidup itu ada. Dan aku menikmati karena sebagai anak "negara" biaya pendidikan dan kesehatan masih terjamin karena oragtuaku PNS dan kerja di "plat merah". Yang buatku tidak terima adalah proses pentradisian mentalitas yang tidak benar dan kurang bermoral inilah yang bikin mangkel. ASN itu gabut alias gaji buta yang memang benar. Itu realitas. Bagaimana tidak jengkel karena mereka seharusnya melayani publik koq malah kerja seenaknya sendiri.
Aku hanya melihat satu hal yang kurang sejak dulu dalam diri institusi pemerintah/ASN. Yang selalu menjadi kekurangan adalah tidak adanya quality control/quality assurance yang kuat. Akibatnya mereka kerja tidak ada standarnya. Kalaupun ada standard, itu tidak dijalankan dan tidak dikontrol ketat dan rutin. Tidak ada pembiasaan hidup kerja dengan disiplin. Mentalitas disiplin sangatlah jauh dari harapan. Kedisiplinan itu sebenarnya menghindarkan orang dari kematian. Pagi ini tadi aku baru sadar mengapa orang di daerah dingin sangat disiplin, karena mereka harus menghitung waktu ke halte bus pada musim dingin supaya terhindar dari hawa dingin dan segera masuk bus. Di negara tropis, hal ini tidak ada. Ditambah lagi, tidak ada yang mengancam mereka untuk kena sanksi. Pengawasan kerja tidak ada sama sekali. Baru biasanya kalau ada pejabat yang "carmuk" ada gerakan disiplin, demi popularitas. Habis itu ya kembali ke habitus lama, molor, tidak pakai sepatu, datang dan pulang seenaknya, dan sebagainya.
Banyak orang berbondaong-bondong untuk jadi ASN karena melihat kenyamanan fasilitas untuk menggarong duit rakyat, duit negara. Aku cukup kerja seadanya dan seenaknya, dapat gaji, dapat tunjangan, ada kenaikan pangkat dan golongan, dapat jaminan kesehatan dan pensiun. Inilah pola mereka yang berbondong-bondong jadi ASN. Apalagi jika sudah masuk ke pusaran gurita mentalitas korup di dalamnya, maka makin terpuruklah negeri ini yang punya sekian juta ASN. Mungkin ada ASN yang berkualitas bagus, namun paling tidak sampai 10%. Yang lain bisa dipastikan kualitasnya KW atau bahkan menjadi parasit negara saja.
Bisa dimaklumi kalau Jokowi marah-marah pada asistennya yaitu menteri-menteri. Merekalah kepala dari sekian ASN di negeri ini. Jika kepalanya saja dimarahi oleh big boss, bagaimana kelakuan ASN yang di bawahnya. Pastilah itu menjadi tanda kebusukan yang tercium baunya sejak dulu tetapi tidak ada yang bisa menyelesaikan kecuali waktu. Seandainya ada gerakan anti ASN, mungkin aku akan ikut. Baik jika ada pembasmian ASN yang memang perlu dibasmi entah fisik atau mentalnya. Tanpa ada tindakan ekstrem dan tegas (bahkan kejam), tidak ada perubahannya kinerja kita semua. Pertobatan tidak ada tanpa sebuah tindakan kejam baik dari diri sendiri maupun pihak lain. Mungkin pengurangan gaji atau jumlah ASN di negeri ini perlu diterapkan. ASN tidak kerja efektif bisa jadi karena terlalu banyak jumlah orangnya sedangkan pekerjaannya sedikit. Kalau demikian, maka perlu dikurangi jumlah personelnya, kerja diberi yang proporsional dengan jumlah jam kerja. Kalau jumlah personel tidak bisa dipangkas, ya dipangkaslah jumlah gajinya supaya mengurangi beban anggaran negara. Pengurangan jumlah gaji diprotes, maka diseleksi kualitas kemampuan kerjanya. Namun ideku ini pasti mengusik kemapanan ASN yang mayoritas korup. Baju Korpri makin menjijikkan di mataku, apalagi baju coklat muda yang kaya wereng, dulu ada baji hijau kaya hansip juga. Semua serba menjijikan karena mereka tidak mampu bekerja melayani masyarakat tetapi digaji oleh pajak masyarakat.
Ingatlah bahwa ASN (Aparatur Sipil Negara) atau PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah Abdi Negara sesuai dengan motto di lambang Korpri itu. Abdi koq kerjaannya gabut, korup, mau enak sendiri?
#in my room#
