Tuesday, December 22, 2020

Der, Skormu Isih Luwih Dhuwur

Namanya adalah Prihana. Namun orang banyak menambahkan kata "su" di depan nama itu, maka menjadi Suprihana. Padahal  orangtuanya pasti punya maksud menamakan dia Prihana.  Dia adalah seorang Bruder Minister di rumah yang kami tempati saat ini. Ya, "perih" itu "ana". Perih itu ada. Perih itu saat ini sedang kembali menyelimuti kami. Perih itu sedang kami alami kala dia meninggalkan kami. Perih itu memang ada. Pagi hari ini aku hanya menuliskan kesan perjumpaan yang baru saja sejak Agustus 2020 lalu. Dia sebagai ministerku di rumah. Usia hanya selisih setahun, lebih tua dari aku. Keseharian mengerjakan hal-hal rutin fisik, itulah kerjanya di rumah ini, melayani kami anggota rumah. Sampai pada saat kami bisa saling guyon, dan main pingpong yang sebenarnya dia menemaniku mengaktifkan kembali kemampuanku main pingpon. Dia dengan bangganya menyebut diri "tutor" saat main pingpong. Itu diceritakannya saat di meja makan bersama frater-frater. Kami semeja makan, maka sering bercerita dan bergurau.

Main pingpon di ruang atas menjadi kebiasaan beberapa kali saja. Waktu itu dia ingin berolahraga melihat aku selesai treadmill. Lalu aku mengiyakan ajakannya untuk pingpong. Sebenarnya ada undangan ke frater-frater juga. Namun belum kesampaian main bareng, dia sudah pergi duluan. Beberapa kali permainan pingpong memang aku belum pernah sampai mengalahkannya. Aku pun mengakui gerakanku sudah tidak lincah lagi. Kakiku yang cedera juga mempengaruhi gerakanku. Kami setiap bermain bisa 4-5 set. Biasanya bisa 4-0 atau 5-0 kedudukannya. Aku kalah. Namun dua kali pertemuan terakhir aku sudah tahu gaya mainnya dan trik-triknya. Aku pun mempelajari caranya bermain, menempatkan bola, pukulannya, dan sebagainya. Aku juga hapal sekarang bagaimana kalau bolanya diplintir, dia agak kesulitan menerima atau mengembalikan. Ya, dua kali pertemuan terakhir aku sudah bisa mengimbangi permainannya. Dari 4 atau 5 set, aku bisa memenangi 1 sampai 2 set. Artinya kedudukan bisa 3-1 atau 3-2. Tetap saja masih menang dia. Namun ketika aku sudah tahu gaya permainannya, aku menjadi sadar bahwa kita semua punya kelemahan dan kelebihan. 

Waktu itu tanggal 30 November 2020. Hari sebelumnya dia sudah menjanjikan ingin main pingpong lagi. Namun ketika sore itu ku-WA: "Nggu opera atau wis rampung?" (maksud saya mengajak dia menunggu dulu kerja sore hari atau kerjanya sudah selesai, lalu kita main pingpong?). Ternyata jawabannya: "Saya blm naik, saya izn dulu rada msk angin". Itu WA terakhir dan pesan terakhir. Hari berikutnya kami masih ketemu sebelum dia berangkat retret pribadi. Tanggal 1-9 Desember 2020 dia retret. Dalam retret itulah mungkin dia bergulat dengan sakitnya yang dia tak anggap serius. Bahkan menurut rekan yang bareng retret, dia sempat dikeroki. Tanggal 9 Desember 2020, akhirnya retret selesai dan dia sudah lemas dan batuk. Akhirnya diputuskan agar dia masuk RS Carolus. Sehari itu dicek oleh tim medis. Ada keluhan batuk, sesak nafas, dan gula tinggi. Yang lebih membuatku kaget adalah paru-parunya sudah terinfeksi. Itulah yang menjadikan kami sadar, covid telah menyerangnya. Saluran pernafasan sudah kena. Dokter juga mengatakan sudah kasep. 

Hari-hari berikutnya kami hanya bisa memantau dan mendoakan. Beberapa hari kadar oksigen dalam tubuh masih ada antara 85-90 %. Namun ada alat bantu pernafasan yang bukan ventilator. Kami masih optimis. Doa setiap hari buatnya masih kami panjatkan. Sampai hari Minggu malam, 20 Desember 2020, kami khusus memanjatkan doa bersama sebagai rekan-rekan senior yang ada di sini. Itulah tepat kami merayakan Fr Hermanus Bouwens dan Romo Sandjaja yang meninggal pada tanggal 20 Desember 1948. Dan aku membuat status dengan dua orang itu di WA sambil mohon doa kepada mereka berdua.

Pagi harinya, 21 Desember 2020, kami dikejutkan dengan kabar bahwa dia meninggal. Kami sibuk menyiapkan pakaian yang dibutuhkan dan apapun yang dia sukai dalam hidupnya. Dia seorang dalang yang emang studi mengenai dalang. Maka kendit, blangkon dan wayang kami sematkan untuk dibawa di petinya. Ketika kesulitan mencari wayang mana yang harus dibawa, ada berita lain yaitu Rm Herry Priyono meninggal dunia karena serangan jantung. Jederr!!! Semua kaget karena dalam sehari ada dua yang meninggal. 

Masih kesulitan mencari wayang itu, kami memang tidak tahu wayang purwa atau wayang wahyu. Kami putuskan wayang wahyu. Harusnya wayang Maria dan Yesus yang dibawa ternyata tidak ada. Di kotak wayangnya hanya ada wayang purwa dan wayang wahyu yang mengenai lakon-lakon Perjanjian Lama. Wayang purwa pun tidak tahu tokoh mana yang dia sukai. Akhirnya aku memutuskan membawa gunungan yang ada lukisan "IHS". Itulah yang akhirnya dibawa ke sana. Dia membawa kehidupan untuk menghadap Tuhannya. Itu saja yang kuingat dari memori sehari kemarin. Memang masih ada kisah lain menemani sampai kremasi, namun kiranya biarlah kisah itu hidup sendiri di lain waktu. 

Der, skormu isih luwih dhuwur. Awakmu isih menang pas main pingpong karo aku. Matur nuwun wis dikancani pingpong. Sak ora-orane aku wis ngerti gayamu main. Aku iso menang rong set wis lumayan. Nanging skormu isih luwih dhuwur. Awakmu isih menang. Aku ora iso ngalahke awakmu. Ojo lali gawanen gunungan sing tak gawake nggo awakmu. Gawanen urip (gunungan) lan ndhalanga ana ing swargaloka, katur Gusti piyambak. Ojo lali nyembahyangake aku lan kanca-kanca kabeh. (Der, skormu masih lebih tinggi. Dirimu masih menang main pingpong melawan aku. Terima kasih sudah ditemani main pingpong. Setidak-tidaknya aku sudah tahu gaya permainanmu. Aku bisa menang dua set itu sudah lumayan. Namun skormu masih lebih tinggi. Dirimu yang menang. Aku tidak bisa mengalahkanmu. Jangan lupa, bawalah hidup (wayang gunungan) yang kubawa untuk kamu. Bawalah hidup dan mendalanglah di surga, bersama Allah sendiri. Jangan lupa mendoakan aku dan teman-teman semua).



* In Memoriam Rm Herry, aku pun merasakan baru kali itu tanggal 4 Desember 2020 lalu diajak ngobrol begitu lama di telepon, 45 menit. Kami ngobrol tentang hal-hal terkait mendampingi para frater dan fenomena yang ada di antara kami. Dia memberi tips atau kunci yang harus diberikan yaitu "sense of realism". Banyak hal yang dia ceritakan sampai lama setelah aku olahraga. Dan itulah perjumpaan kami terakhir. Rm Herry, berbahagialah bersama Br Prihana. Semoga ada pertunjukan wayang wahyu di surgaloka.



#pagiharidikamarku#

Wednesday, December 16, 2020

Realita

Judul yang kubuat itu memang mengacu pada banyak hal. Tentu ini berdasarkan pengalamanku sendiri berhadapan dengan banyak hal yang terjadi dalam hidup. Orang menyebut hidup ini kadang realita. Mereka yang tidak mau hidup dalam realtia biasanya memakai kata "seandainya", "harusnya", "idealnya" dan semacamnya baik itu langsung atau tidak langsung. Orang bisa saja sudah paham akan realita ini, namun ketika dihadapkan bahkan kasarnya dibenturkan, tentu mereka akan bergejolak. Reaksinya bisa kecewa, marah, menyalahkan, mutung dan sebagainya. "Aku paham bahwa aku harus realitsis, namun aku tidak mau mengalami realita seperti ini." Banyak orang akan mengatakan hal yang sama. Banyak kejadian mengatakan itu. Ada contoh demikian: anak yang dalam keluarga dibentuk dan dididik oleh orangtuanya diharapkan menjadi pribadi yang baik (tentu menurut versi orangtuanya) dan sesuai dengan idealisme keluarga itu. Namun demikian ada hal yang tentu tidak ideal dalam pembentukan itu, entah datang dari lingkungan, relasi orangtua, pilihan-pilihan praktis dan sebagainya. Anak menjadi tidak bisa menerima bentukan dan harapan cita-cita orangtua. 

Realita mengatakan bahwa hidup tidak serta-merta bisa ditata dan dikontrol sedemikian rupa seperti rancangan awal dan harapan awal dari pihak tertentu. Idealnya memang ada komunikasi yang baik antara satu pihak dan pihak lain. Idealnya ada ketaatan dari satu pihak ke pihak yang lain. Idealnya ada kondisi bahwa yang melingkupi itu juga tidak tanpa kontaminasi. Semua lantas berada dalam keadaan krisis.

Nah, banyak hal dalam hidup ini seakan tidak adil. Ada yang sepertinya bagus dan mulus-mulus saja keluarganya, hidupnya, kariernya, relasinya, dan sebagainya. Krisis menyebabkan orang lantas membanding-bandingkan: "rumput tetangga kelihatan lebih hijau daripada rumput halamanku". Di saat krisis ini orang cenderung akan lari dari kenyataan yang tidak ideal. Itulah realita yang harus dihadapi. Ada juga kejadian yang mengungkapkan bahwa masuk dalam sebuah institusi tertentu itu harapannya bisa memperbaiki harapan, kehidupan dan kerinduan-kerinduan sebelumnya. Eh, ternyata ketika berada dalam institusi yang diharap-harapkan memperbaiki impian malah yang terjadi sebaliknya atau malah sama dengan yang dialaminya sebelum masuk. Ini bisa terjadi dalam instusi apapun, sekular maupun religius. 

Oleh karena itu, pertama, menjadi penting melihat dan merasakan sendiri bahwa ada realitas yang harus dimasuki. Kesadaran untuk memasuki realitas itu ternyata membuat orang tidak hanya hidup dalam impian belaka. Hidup ini adalah real, bukan suatu yang ideal. Dunia dan realitanya ini bukanlah dunia idea saja. Memang mungkin orang ada yang hidup dalam dunia idea saja maka orang itu hanya bisa berwacana. Ketika dihadapkan pada kenyataan konkret, ia kelabakan mau berbuat apa. 

Kedua, membuka wawasan dan jendela kemungkinan-kemungkinan baru itu juga perlu. Dengan membuka jendela hidup, kita tidak picik dan hanya melihat dari dunia kita yang tertutup. Syukur bahwa Roncalli mencanangkan "argiornamento" bagi institusi Gereja universal sehingga tidak picik dan hidup dalam kegelapannya. Banyak orang membuat terobosan supaya hidup tidak mandeg. Banyak momentum bisa menjadi saat dimana menerobos batasan gelap itu membuat cerahnya hidup. Tentu itu semua bukannya tanpa sebuah harga yang harus dibayar. Perubahan tentu ada harganya. 

Ketiga, merasakan (sense) realita itu penting. Ada orang yang mengatakan padaku pentingnya sense of realism. Tanpa bisa merasakan realitas, orang cenderung menutup diri, kecewa, kaku, terlalu serius, apa-apa diharapkan menjadi ideal. Siapa yang akan tahan terhadap tuntutan idealisme seperti itu? Bahkan rasaku Sang Pencipta sendiri pun tidak mengharapkan hal-hal yang ideal dari ciptaanNya. Bahkan ciptaan pun tidak ada yang ideal. Bukan berarti aku lantas menganggap Pencipta itu tidak ideal. Itu semua masih misteri.  Idealisme karena ciptaan punya harapan yaitu kehidupan yang harmonis, tertata, terukur dan serba indah. Indah dalam hal ini adalah keadaan di mana orang menjadi nyaman dan aman. 

Keempat, kalau ada ketidakidealan lantas kita ngapain dengan hidup yang mengusahakan kebaikan? Apakah kita salah melakukan kebaikan walau kita tidak ideal? Ya, tentu itu baik dan sah-sah saja. Kita semua diciptakan menjadi baik adanya. Kita semua juga ingin yang baik. Justru karena kita tidak ideal dan tidak baik itulah kita sedang berjuang (entah sampai kapan) menjadi baik. Apakah menjadi baik itu salah? Tentu juga tidak. Menatap dan menerima ketidakidealan hidup bukan berarti lalu berhenti menjadi baik. Yang ideal tetap menjadi tatapan kita. Justru dari ketidakberesan, ketidakidealan, kejatuhan, kelemahan, kekurangan itulah kita dipanggil menjadi baik. Baik di sini bisa saja sebuah keadaan dari sebaliknya: yang buta menjadi melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan. 

Kelima, belajar dari realitas ini adalah belajar bagaimana hidup itu adalah ruang untuk (melakukan) kesalahan namun juga menjadi ruang untuk (belajar) memperbaiki. Ada kesalahan, ada pengampunan. Pengampunan tentu membawa konsekuensi perubahan sikap hidup. Orang sampai memeluk dan menerima kelemahan, kesalahan, kejatuhan kemudian mengakuinya lalu memperbaiki diri. Ketika sebuah kejatuhan belum diterima dan dipeluk sedemikian rupa menjadi bagian dan milik dirinya, maka perbaikan sikap hidup tentu tidak akan berjalan dengan baik. Orang merasa tidak ingin beresiko disalahkan karena kejatuhan sehingga malah memanipulasi diri. Atau orang cenderung tidak ingin karena kejatuhannya lalu akan membuat dirinya tidak dipercaya, maka dia mencoba memoles diri sedemikian rupa sehingga tidak ingin diketahui kekurangannya. Itu semua sering dialami kita semua. 

Hidup menjadi berat karena sering kita menatap terlalu tinggi dengan harapan kita. Hidup menjadi berat karena sering kita tidak ingin bersalah dan disalahkan. Hidup menjadi berat karena kita sering tidak ingin jatuh dalam kegagalan. Hidup menjadi berat karena kita ingin menguasai semua dan tidak paham kalau kita ini lemah dan terbatas. Kekuatan diri kita adalah sekaligus kelemahan kita.  Mari kita belajar dari yang Maha Besar itu mau menjadi yang terbatas. Keterbatasan akan membuat kita bergulat karena tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan menjadi nothingness. Welcome to reality.


#noon time#

Thursday, November 26, 2020

Adios, Diego

Waktu itu, umurku masih 10 tahun. Di rumahku mulai membeli TV berwarna dengan merk Sanyo. Itulah saat menyenangkan sebagai anak karena selama ini hanya bisa nonton TV hitam putih yang umurnya setahun lebih tua dari diriku. Di musin panas belahan bumi utara biasanya ada event 4 tahunan yang menjadi perayaan manusia seantero bumi, maka disebut sebagai "Piala Dunia". Pada hal itu hanya pagelaran salah satu cabang olahraga di dunia yang bernama sepak bola. Namun orang menyebutnya "World Cup", "Copa del Mundo", "Coupe du Monde".   Tidak fair memang. Tetapi apa boleh buat, itu sudah terjadi dan tidak ada yang protes. Tahun 1986, aku masih ingat betul, karena sebelum event muali TVRI selalu menyiarkan rekaman profil kesebelasan-kesebelasan di berbagai negara yang akan pentas di Piala Dunia ini. Dari persiapan sampai event-nya aku ikuti dengan seksama. Namun yang menjadi mengesan adalah akhirnya kesebelasan Argentina yang menjadi juara. Aku agak-agak lupa bagaimana itu bisa terjadi. Aku sendiri lupa peristiwa pertandingannya, namun sosok fenomenal itulah yang akhirnya membuatku jatuh cinta dengan sepak bola dan sampai saat ini baju lorek biru putih dengan celana hitam kesebelasan Argentina masih menjadi favoritku. Sosok bintang yang menjadi kapten kesebelasan juga menjadi penting dalam diriku, Diego Armando Maradona. 

Tanggal 25 November 2020 malam hari, sosok itu dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung. Aku pun langsung mengenang dan membangkitkan memoriku tentang dia dan perjalananku sampai jatuh cinta dengan sepak bola. Diego, bagiku fenomenal bukan karena "Tangan Tuhannya" atau "La Mano de Dios"-nya. Bagiku sosok Diego Armando Maradona akhirnya membuat aku tersengat dengan fenomena sepak bola. Mulai saat itu, aku mengikuti liga-liga di Eropa dengan menonton TV atau membaca berita olahraga, khususnya bola. Mulai dari Piala Dunia 1986 di Mexico itulah perjalananku mengikuti sepak bola makin menjadi. Sosok Maradona membuatku masuk dalam pusaran liga sepak bola dunia. Dia adalah sosok fenomenal yang setidaknya membawa Argentina juara dunia untuk yang kedua kali. Ia juga menjadi sosok penting di kota Napoli Italia karena membawa klub itu juara  Seri A pada tahun 1987, untuk pertama kalinya, kemudian juara lagi di tahun 1990, juara UEFA tahun 1989. Klub yang bermarkas di Napoli, daerah selatan Italia yang tidak dipandang karena kemiskinannya menjadi klub yang disegani di Seri A yang didominasi klub-klub bagian utara Italia seperti duo Milan, AC dan Inter, juga klub kota Torino yang kaya yaitu Juventus. 

Sontak, saat itu sosok Maradona menjadi dewa. Ada kabar pula yang disayangkan bahwa akhirnya ada pihak-pihak yang mempengaruhi gaya hidupnya yang akhirnya kecanduan obat. Ada teori konspirasi yang entah benar atau tidak katanya ada kaitannya dengan mafia Italia yang karena kekalahan Italia dari Argentina di babak semifinal Piala Dunia 1990 di Italia, Maradona dijerumuskan dalam kancah narkoba ini. Ah, bagiku itu memang selalu ada, entah terkait atau tidak. Setidaknya sosok Maradona yang gempal dan tidak tinggi itu telah membuatku sadar akan ketertarikanku pada sepak bola. Bintang-bintang lapangan dari Argentina yang menonjol bagiku akhirnya ikut mengesan. Suka atau tidak suka, para pemain bola dari Argentina membuatku menyorotnya. Argentina memang belum sebanyak Brazil sebagai juara dunia, namun bagiku akan lebih memilih pemain Argentina dibanding Brazil, termasuk kesebelasan negaranya juga. 

Akhir-akhir ini memang Argentina tidak shebat Argentina pada tahun 1990-an. Bahkan dengan bintang Lionel Mesi pun tidak berhasil menjadikan Argentina juara dunia. Nyaris pada tahun 2014 saat Piala Dunia di Brazil, Argentina saat bertemu musuh bebuyutan Jerman, akhirnya kalah di perpanjangan waktu. Hal yang terulang pada Piala Dunia 1990 di Italia, setelah menang dari Jerman, akhirnya Argentina kalah lewat gol pinalti Andreas Brehme. Sayang. Argentina kalah. Maradona menangis. Aku pun ikut terbawa kesedihan karena kesebelasan jagoanku kalah.

Maradona bagiku juga membuat pengetahuan akan sepak bola menjadi bertambah karena sering mengikuti berita liga di beberapa negara Eropa. Kesan pertama sebagai anak kecil umur 10 tahun membuat terpana dan akhirnya menyentuh sebagian dari pengalaman hidupku. Maradona seperti guru yang mengajarkan sebuah pertunjukan di lapangan dengan skill drible-nya, gaya main yang penuh ide dan sering jadi sasaran lawan karena harus mematikan dia. Setidaknya dia mengajarkanku sisi hidup yang lain. Memang dia tidaklah seorang yang suci seperti para santo, namun karena kemampuan sepak bola alamiah yang dimilikinya, dia menjadi fenomenal. Pele pun mengakui sebagai legenda. Dia mengucapkan di twitternya bahwa "semoga bisa bermain bola bersama ketika sudah meninggalnya nanti". 

Aku pun tergerak membuat tulisan ini juga karena terkesannya diriku pada sosoknya. Sosok yang sudah membuatku suka dengan sepak bola. Kostum Argentina pun pernah kubeli walau itu jersey "KW". Melihat kostum Argentina, aku pun senang. Terima kasih, Diego. Setidaknya, engkau telah memperkenalkanku dengan sepak bola, mengenalkanku pada sosokmu, dan tentu Argentina. Umur 10 tahunku saat itu adalah usiaku belajar menyukai sepak bola yang sampai saat ini masih ada. Selamat jalan, Diego. Adios. Doakan kami yang masih berziarah di dunia ini. 


#in my room#
  

Monday, November 16, 2020

Di Warung Pak Syam

Hari Minggu kemarin, aku menyempatkan diri keluar untuk memanasi motor yang seminggu ini belum kupakai. Ya, tentu biar mesinnya panas karena dipakai dan juga menjaga bannya supaya tidak kempes karena lama ndongkrok aja. Aku mencoba berjalan memanasi mesin motor sambil melihat-lihat suasana sepanjang jalan. Berjalan mulai dari arah jalan protokol dari tengah ke timur melihat orang berlalu lalang di jalanan di hari Minggu yang biasanya sepi di kota. Dan benar, jalanan ramai tetapi seperti situasi saat ini di mana orang takut pada pandemi, maka aku bisa nyaman mengendarai motor. Pagi agak siang itu aku bisa melihat orang yang menawarkan jasa cat duko, ada yang berdagang di sekitar trotoar, ada juga yang bepergian dengan mobil dan motor. Setelah agak capai mengendarai dan mampir di toko buku melihat-lihat yang ada di sana, aku pun memutuskan mampir warung yang dulu pernah jadi semacam langganan saat kuliah. Ya, Warung Pak Syam, menunya sate kambing dan masakan kawan-kawannya. 

Aku nongkrong di situ sambil beristirahat. Warungya masih sama. Letaknya juag tidak berubah. Artinya, tidak tergusur atau pindah ke mana. Dan artinya juga masih dipandang oleh pelanggan. Ada pemasukan yang membuat dia bertahan di situ dengan menunya, khas Solo, katanya. Sambil menunggu pesanan menu utama, aku menikmati minuman. Sambil melihat beberapa orang yang sedang makan atau datang. Aku juga sadar bahwa tidak bisa bergerombol, tentu juga mengambil posisi menyendiri dan jauh dari orang lain. 

Nongkrong dan menikmati suasana panasnya kota, aku juga mengumpulkan ide ini. Panasnya udara di luar sana membuatku pesan tambahan air mineral. Pikiranku melayang-layang memikirkan suasana masyarakat saat ini. Ada keramaian karena satu kelompok yang dipimpin seorang H. Banyak orang tengah komplain tentang kedatangannya dari luar negeri dan mulai mengobok-obok suasana karena disiarkan secara viral ke seluruh penjuru dunia karena online. Dia seolah menikmati kebesaran namanya. Orang sudah banyak menunjuk kepada siapa lagi kalau bukan pemerintahan sah di negeri ini yang dinilai koq tidak berani mengambil tindakan pada satu orang ini dan kelompoknya. Kelompoknya sudah diancam namun belum dibubarkan. Satu orang ini pun tidak bisa ditangkap karena lari duluan ke luar negeri selama 3,5 tahun. Sedangkan waktu itu banyak tuduhan kasus dialamatkan ke dia. Namun keburu kabur maka tidak jadilah pemrosesan lapoan-laporannya. Bahkan dengan dengan kepulangannya ini salah satu media Aussie menyebutnya "Ex Porn Fugitive." 

Aku melihat semua ini dengan sedikit geli namun gusar, apa iya nanti orang seperti ini yang akan berkuasa dan menikmati segala kenyamanannya? Apa iya suasana seperti ini yang akan menjadi dominasi waktu selanjutnya di negeri ini? Jika iya, maka percumahlah apa yang menjadi perjuangan selama ini dan bahkan masa lalu sebuah negeri ini. Jika tidak ada tindakan tegas, maka kita mubazir sebagai bangsa dan negara. Memang semalem juga ada sebuah ungkapan alasan mengapa negara belum bertindak yaitu karena suasana pandemi ini belum bisa berbuat apa-apa. Jika ditindak langsung saat kedatangan yang sudah mengganggu kepentingan publik yaitu membatalkan banyak penerbangan dan jalan orang ke bandara, itu jelas sudah merupakan gangguan publik. Negara pun bisa melihat itu sebenarnya. Ketika ditindak tegas dan langsung ada perlawanan kemungkinan memang ada kerusuhan dan kerusuhan memang disukai orang-orang seperti mereka (radikalis intoleran) karena dengan kerusuhan itu ada medan perang untuk kepentingan ambil kekuasaan. Teroris bertepuk tangan. Bom akan meledak di mana-mana. Kekerasan horisontal dan vertikal juga akan terjadi.

Aku melihatnya dengan kacamataku yang lain. Aku melihat bahwa adanya kekuasaan mayoritas yang apapun bentuknya itu real terjadi. Itulah kenyataan bahwa mayoritas itu akan selalu berkuasa, lebih-lebih dalam struktur masyarakat feodal yang mencoba berdemokrasi seperti di sini.  Mayoritas sekorup apapun ya tetap akan berkuasa. Sejelek-jeleknya mereka dari kacamata kita, tetap saja mereka yang berkuasa. Atas nama apapun, dan mereka akan membawa jargon apapun bahkan "Revolusi Akhlak" pun yang kita nilai tidak berakhlak ya tetap saja diusung dan "laku". Sedangkan ada dua ormas besar di antara mayoritas yang lebih dahulu daripada mereka namun mereka koq berdiam diri. Mengapa itu? Sekali lagi ini adalah soal kue kekuasaan. Kedua ormas yang besar di negeri ini di antara mereka sudah terlanjur sakit hati dengan orang nomer satu, karena posisi di kementrian (eksekutif) tidak mereka dapat lagi di masa ini. Inilah sebabnya mereka berdua seolah berdiam diri, biar pemerintah yang menghadapi. 

Selalu saja kekuasaan adalah kepentingan ini dan itu. Kekuasaan selalu membawa orang untuk meminta ini dan itu. Tidak ada istilah humility, service, and love dalam kekuasaan (politik).  Itu semua adalah omong kosong bagi mereka walau di awal penuh janji tentang hal itu. Dan itu kebiasaan formal saja sebagai sebuah jargon supaya memoles cantik kekuasaan yang brutal dan angkuh. Terlebih lagi, sebuah aliran besar dunia yang dikritik oleh Macron dengan sebutan "ada dalam situasi krisis". Ini makin kelihatan sekali bahwa aliran itu tidak terima dan karenanya, orang menjadi bodoh karena penganutnya menjadi anti kritik. Jika sebuah aliran sudah anti kritik, di sana sebenarnya kebenaran dari kritikan itu menjadi nyata adanya. Ibaratnya seorang yang dikritik orang lain dan orang itu tidak terima namun tidak bisa memberi alasan yang sahih dan mendasar. Bisanya hanya protes dan tidak terima, kemudian menunjukkan kebencian yang ofensif, ya jelas bahwa orang itu tersengat karena dalam dirinya memang demikian. 

Dalam permenungan dan menikmati makanan di warung itu, akhirnya aku hanya bisa mengatakan "entahlah, apa yang akan terjadi nantinya." Orang bisa saja mengutak-atik ke arah mana seharusnya berjalan rel dan kereta negara ini akan menuju. Perlukah menghadapi dengan lebih militan dan ofensif dengan kegilaan yang sama atau lebih dari yang mereka miliki? Itu juga salah satu pikiran. Atau perlukah menghadapi dengan lebih taktis? Apakah kita mengandalkan covid-19 biar menyelesaikan semuanya? hehehe itu juga sempat terlontar dalam sebuah ide berkelakar. Jika covid yang menyelesaikan, sebenarnya habis perkara. Seperti pepatah "Roma locuta, finita est"....bisa jadi akan berubah "Corona locuta finita est". 

Yang terus mengusik publik adalah rasa keadilan. Di tengah pandemi covid-19, PSBB diberlakukan. Ada aturan atau kebijakan yang mengena ke semua orang. Ketika ada kerumunan dan pengumpulan massa saja dilarang, lha koq malah ada yang nekat. Bahkan kenekatan mereka dipertontonkan ke seantero dunia. Apakah ini tidak melukai rasa perasaan keadilan masyarakat dan bukan hanya netizen yang maha kuasa tetapi itulah dunia real kita saat ini. Efeknya....lihat saja perkembangan narasi yang belum selesai ini... Masih banyak hal yang terus berkembang tentunya. 

Yah, akhirnya manusia (aku) hanya bisa berkomentar dan memikirkan, ekseskusi masih ada pihak manusia lain yang lebih berhak dan berwenang mengeksekusi semuanya. Dan tentu perlu momentum (waktu) dalam sebuah aksi/eksekusi itu. Segala sesuatu ada konsekuensinya. Tindakan kita mempunyai sebuah konsekuensi. Keberanian memilih dan memutuskan yang berguna bagi bonum commune itu jauh lebih berharga walau ada konsekuensinya juga. Dan bonum commune kita sebagai bangsa sudah final. Membela kebenaran dari finalitas kita itu jauh lebih penting daripada membela gerombolan yang walaupun itu mengatasnamakan diri dari mayoritas.  Semoga perut tetap kenyang, badan tetap sehat, hati tetap hening, dan akal tetap bernalar sehat.

#in my room#

Friday, October 30, 2020

Banyak Hal

Melihat situasi saat ini memang serba melambat. Namun demikian kadang orang butuh cepat. Ketika percepatan tidak lagi menjadi hal yang bisa dengan leluasa berjalan, maka banyak hal terjadi. Ada yang komplain. Ada yang bosan. Ada yang mengeluh. Ada yang frustrasi bahkan. Semua itu gegara tidak adanya hal yang dengan leluasa dijalankan "seperti dulu lagi". Orang ingin semua kembali ke "dulu lagi". Namun ada pula yang tidak ingin ke "dulu lagi". Mereka menyebutnya dengan "new normal" atau "normal baru" atau sebutan lain lah yang terkesan keren atau memang menandakan sebuah perubahan. Perubahan ini ada dalam ruang dan waktu. Aku ini ada di dalam ruang dan waktu. Banyak hal ada dalam ruang dan waktu, walau tak semuanya. 

Di saat yang tidak menentu ini, aku pun hanya berharap bahwa semua dalam keadaan selamat dan sehat. Banyak ucapan yang kadang kuterima tiap pagi atau tiap hari membosankan. "Selamat pagi" setiap hari, renungan tiap hari, ucapan itu entah ada di grup medsos atau japri. Aku pun mematikan secara temporary salah satu media sosialku karena tidak ingin terjerembab atau terjebak dalam penikmatan hal-hal yang mengacau atau mendistraksi fokusku. Selain itu aku mengantisipasi hal-hal lain yang bagiku mengganggu secara mental maupun hal-hal yang sifatnya personal. Orang saat ini bisa saja "bludusan" ke "rumah" milik kita hanya dengan "click" yang menandakan dengan jari itu "kepo" dengan berbagai hal yang kita punyai, entah di masa lalu, masa sekarang dan bahkan masa depan dalam impian-impian kita. Tak ada lagi yang tersembunyi saat ini. 

Di samping itu, kondisi yang diakibatkan virus ini (kadang aku masih percaya atau tidak) membuat orang makin takut, kuatir, curiga, dan serba menjaga diri. Aku pun pernah ditanyai orang serumah "Apa kamu kena virus itu, koq lama mengisolasi diri?" Jawabku: "Aku hanya ingin mengisolasi diri dan memastikan kesehatanku saja karena habis bepergian. Aku tidak tahu kemarin aku ketemu siapa dan bisa jadi aku pembawa (carrier) dari virus itu." Bagiku banyak hal mulai terpikirkan bahwa aku harus memastikan diri, aku harus memastikan diriku aman, aku harus memastikan diriku aman bagi orang lain juga. 

Di sisi lain, ada hal-hal yang kukerjakan juga mengurus orang-orang di sekitarku. Justru karena mengurus orang inilah aku harus lebih berhati-hati. Mengurus orang bukan seperti mengurus barang yang kalau tidak beres bisa ditendang. Orang tidak bisa dengan seenaknya kita tendang. Justru itulah kehati-hatian yang lain perlu dipahami. Sekali lagi, orang butuh kecepatan dan orang butuh kepastian bahkan sampai detil juga kadangitu dituntut. Aku menyadari bahwa tidak semua harus detil. Kadang common sense pun harus bicara dan berjalan. Tak semua harus dinyatakan dengan detil dan apa-apa harus ada informasi jelas. Hidup ini tidak semuanya dan tidak selamanya jelas. Kejelasan ada yang hadir di awal. Ada yang di tengah. Ada yang di akhir fase. Semua itu tergantung bagaimana aku melihat bahwa kejelasan itu bagian dari proses menghidupi banyak hal itu. 

Hanya waktu yang akan menjawab semua itu, baik itu kepastian dan kecepatan. Waktu punya ritmenya sendiri. Waktu punya jawabannya sendiri. Waktu adalah kunci. Tanpa kita sadari waktu pun kita benci karena kadang tak memberi kecepatan dan tak memberi kepastian. Apalagi dia tak memberi kita detil teknisnya. Namun demikian, Sang Chronos tetap akan memberikan tak kurang dan tak lebih. Dia akan memberikan tepat di saatnya dan seberapa jumlahnya. Banyak hal akhirnya kita berserah pada waktu.


#Pagi di ruangku#

Wednesday, September 9, 2020

"ABS" dan Ketidakjujuran

Selama pandemi ini, ada hal yang menarik bagiku untuk kuingat. Ada virus yang memang menyerang seluruh dunia terutama bagi manusia alias homo sapiens. Si Covid ini mengubah dunia manusia sehingga seperti tidak ada lagi Si Cupid. Pertama-tama, ada ketakutan dalam diri manusia karena virus ini mematikan dan belum ada obatnya. Kedua, dari ketakutan ini orang cenderung menyembunyikan sesuatu dalam dirinya untuk terbuka bahwa dirinya sakit atau terkena virus itu sehingga orang menyingkir dari dirinya atau takut orang lain menyingkiri. Ketiga, dari sini akibatnya adalah orang menjadi tidak jujur. Orang menjadi takut kena cap atau stigma. Mekanisme stigmatisasi inilah yang menyebabkan orang menjadi takut dan tidak jujur.

Dari fenomena itu, aku hanya menelisik secara spekulatif. Spekulasi yang ada di benakku adalah bahwa bangsa ini belum sembuh dari pergulatan dasariahnya yaitu soal ketidakmampuan diri untuk menerima sejarah hidupnya yang memang penuh ketakutan, kekuatiran dan akhirnya membuat diri tidak jujur. Ketidakjujuran ini membawa dampak pada orang lain yang akhirnya tidak bersalah menjadi terkena virus itu. Beberapa klaster yang karena kerumunan atau kasus di klinik atau puskesmas atau di tempat-tempat publik menandakan bahwa selain ada ketidaksadaran, di sana ada ketidakjujuran dari beberapa orang yang abai akan hal ini. Bahwa dirinya harus menjaga diri supaya membantu dirinya dan orang lain, itu yang perlu mendapat perhatian.

Ketakutan dan teror adalah sebuah suasana yang sudah ditebarkan sejak tragedi 55 tahun lalu. Setelah ada tragedi berdarah tahun '65, Indonesia selalu disuasanai dengan teror dan kekuatiran. Rezim ketakutan menjadikan bangsa ini menanamkan mental takut dan kuatir. Akibatnya adalah ketidakjujuran dan selalu ingin menyembunyikan identitas, rasa, ide, bahkan ekspresinya. Zaman menjadi zaman yang semu. Keteraturan, pembangunan, pemerintahan, pertumbuhan ekonomi dan apapun yang ada hanyalah sistem menekan supaya orang takut. Ketakutan dipakai sebagai ideologi supaya tidak lagi hiruk pikuk dengan debat, diskusi, berpolemik, dan beragam ekspresi sosial budaya yang ada. Dalam novel Lentera Batukaru dikatakan bahwa orang yang terciduk karena kelompok politik yang "dianggap" komunis disebut "kena garis". Artinya orang itu dicekal oleh penguasa atau aparat lalu dipenjara atau entah akhirnya dihabisi nyawanya.

Pasca tragedi itu, orang cenderung takut dan selalu bertingkah "sesuai aturan" atau "sesuai instruksi bapak". Lahirnya mentalitas "takut akan bapak" menjadi istilah "ABS" atau "Asal Bapak Senang". Itu sudah bukan rahasia lagi. Itu menjadi idiom yang mendarah daging sehingga dari para birokrat atas sampai bawahan, mental itu dijalankan. Ketika tidak sesuai Bapak, maka ketakutan yang ada adalah dimarahi, dihukum, didiskreditkan, disudutkan dan bahkan dihilangkan nama atau nyawanya. Itu semua adalah pola yang sudah umum dan menjadi "kurikulum" tersembunyi namun efektif dalam membentuk bangsa ini menjadi seperti sekarang ini. Reformasi tahun '98 kiranya belum menyembuhkan trauma dan mentalitas ini. Euforia Reformasi yang seharusnya memerdekakan itu tidak terjadi seperti harapan kita. Rezim ketakutan masih dibawa oleh sekian generasi yang saat ini menjadi orang-orangtua yang melahirkan generasi muda saat ini. Pewarisan mentalitas atau trauma ini juga masih terasa sampai sekarang. Satu generasi belum cukup menghilangkan bekas luka trauma ini. Tebaran ketakutan masih mewarnai atmosfer hidup bangsa ini.

Sistem tata kehidupan belum memberi ruang merdeka penuh percaya. Kemerdekaan sebatas kita "rayakan" pada tanggal 17 Agustus saja. Itu pun hanya lips service karena keharusan. Kemerdekaan dan memberi ruang penuh percaya kiranya perlu dilatihkan dalam setiap sisi kehidupan bangsa ini. Selama ini kita masih terkungkung dalam kekerdilan karena orang sering tidak diberi ruang kemerdekaan yang di sana tentu ada ruang tindakan bersalah. Namun demikian, di sana ada ruang pengampunan dan memberi sanksi tegas. Ketidakmampuan memberi dan menerima sanksi tegas menunjukkan bahwa pribadi itu tidak merdeka dan tidak bertanggung jawab. Orang yang demikian itu tidak pantas dipercaya. Tidak kredibel dalam tindakan menunjukkan orang yang tidak mempunyai kemerdekaan bertanggungjawab pada hidup.

Terlalu lama kita hidup dalam ketertutupan yang tidak memberi ruang tanggung jawab. Orang tidak diberi kemerdekaan berekspresi. Orang tidak diberi ruang merdeka memberi diri untuk berekspresi mengungkapkan kejujurannya. Oleh karena itu, sebagai pribadi manusia bangsa ini selayaknyalah terus dan tak jemu menanamkan dan melatih diri untuk berani mempercayai dan bertanggung jawab. Namun di sisi lain, mau dan berani konsekuen atas tindakan. Ada pihak yang dengan tegas memberi sanksi dan itu konsisten memberi sanksi tanpa pandang bulu (bahasa hukumnya adalah penegakan hukum). Dalam parenting pun baik jika orangtua berani dengan konsekuen melatih anak untuk jujur dengan berani berekspresi, bertindak bertanggungjawab, dan akalau itu salah, maka ada sanksi tegas. Tidak ada toleransi yang membuat dia nyaman. Menerima kesalahan dan kegagalan dengan merdeka memang tidak mudah, tetapi itulah yang perlu dilatihkan.




#morningtime#

Thursday, August 13, 2020

Emang enak, Merdeka itu?

Aku punya cerita. Cerita itu hanya kuendapkan saja selama ini. Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu aku merasakan bagaiama seorang teman itu selalu pergi dan berpindah tempat. Sedangkan dia warga negara yang dulu pernah “dijajah” oleh dua kekuatan negara lain. Memang negara itu miskin. Namun yang menarik bagiku adalah kepindahan dan tidak pernahnya dia menetap di negaranya yang sedang membangun dari puing-puing sejarah kemiskinan dan keterjajahan. Ada banyak alasan untuk tidak menetap dan tidak mau menetap dan berkarya di sebuah negara yang nota bene juga adalah tanah airnya sendiri. Kata orang, dia ingin “jadi orang internasional”. Ah, apakah benar? Aku hanya mengernyitkan dahi saja. Orang internasional itu apakah selalu melanglang buana dan tidak pernah hinggap di sebuah tanah yang menghidupinya sejak ia lahir? Koq malah ungkapan itu menyedihkan bagiku, lantaran keinternasionalan menjadi dalih untuk tidak mau pulang dan justru menyingkiri arti kemerdekaan itu? Apakah kemerdekaan itu menyenangkan? Apakah kemerdekaan yang dulu diidamkan dengan berbagai macam cara lantas diingkari begitu melihat ketidaknyamanan yang ada di hadapan mata? Kemiskinan, tidak ada sumber daya, banyak pekerjaan rumah, menata berbagai hal terkait kehidupan dan tata kelola sebuah komunitas, itu semua adalah realitas kemerdekaan.

Aku kemudian terkesan dengan video yang dikirim di sebuah grup whatsapp. Video jadul yang mendokumentasikan bagaimana negara Indonesia yang belum seumur sebulan harus menyusun kabinet alias pemerintah yang mengurusi berbagai kepentingan kemaslahatan rahayat pada awal Indonesia lahir. Bagaimana jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta  itu menjadi saksi prosesi dan seremoni kedatangan kepala dan wakil kepala negara beserta jajaran menterinya. Suasananya sangat sederhana dan semua serba masih darurat. Bisa dibayangkan bagaimana para pendiri bangsa ini dan pemerintah yang dibentuk pun juga dari para tokoh yang ada pada waktu itu. Intinya perjuangan itu akan selalu ada walau kita sudah merdeka.

Dari perjuangan di masa sederhana dan seba darurat kiranya penting untuk selalu dimasukkan dalam ingatan dan sanubari seluruh rakyat negeri ini. Bukan sebuah kemenangan yang perlu dilupakan dalam euforia berlama-lama namun dalam penghayatan bahwa kemenangan dalam arti merdeka itu adalah merdeka untuk membangun dan memperbaiki seluruh sendi kehidupan sebagai sebuah bangsa dan negara.

Dari pengalaman pertama dan kutatapkan dengan hal kedua tadi, aku hanya ingin mengatakan bahwa kemerdekaan itu tidak otomatis membawa pada kenyamanan yang seperti kaum hedonis. Artinya, kemerdekaan itu membawa konsekuensi ruang dan waktu yang harus diisi dengan kerja keras, bukan untuk konsumsi saja. Konsumsi hanya menghabiskan segala sesuatu. Oleh karena itu, tidak heran ketika Bani Israel itu marah-marah kepada Musa ketika di Masa dan Meriba, mereka merindukan daging, gandum, madu yang melimpah di Mesir. Sedangkan Musa membawa mereka untuk “berjalan mengisi kemerdekaan dari penindasan Mesir.” Konsumsitif adalah mentalitas siapapun. Bahkan komunitas yang terjajah pun bisa melakukannya. Namun komunitas yang merdeka, terbebaskan dari penindasan adalah mereka yang dengan kesadaran diri penuh mengisi ruang dan waktu mereka dengan perjuangan itu sendiri.

Jika teman yang kuceritakan di atas itu hanya bermotivasi “ingin jadi orang internasional” lantas tak pernah menetap dan hinggap di tanah airnya, apakah jangan-jangan hanya rasionalisasi diri saja karena ketika pulang ke rumah itu adalah perjuangan? Ketika berhadapan dengan rakyatnya yang miskin, infrastruktur belum terbangun, mata uang pun belum satu, sumber daya yang minim, konsekuensi membangun yang adalah perjuangan, semua itu adalah hidup yang “rekasa” (istilah Jawa: penuh perjuangan, kerja keras, tidak mudah). Kalau pulang dan hanya ingin menikmati suasana kemewahan, penuh fasilitas, kenyamanan fisik dan psikis, ya mana ada itu sudah terselenggara begitu saja. Keinternasionalan tidak akan menghasilkan kemerdekaan jika hanya sebagai ideologi menyingkiri kesulitan hidup. Beda dengan yang merasa dimusuhi di negerinya karena alasan politis tertentu. Banyak sekarang para petualang politik yang sebenarnya hanya cari sensasi, bahkan mungkin menjual bangsanya demi kenyamanan di luar negeri.

Dalam hatiku aku berkata, “Pulanglah ke negeri asalmu. Di sana rakyatmu menantimu, di sana mereka menunggu kerja keras dan perjuanganmu. Jangan hanya kembali ke negeri penjajah yang sudah hengkang. Mereka yang menjajah sudah mengeruk keuntungan dari rakyatmu yang masih jelata dan miskin. Bekerjalah dengan rakyatmu sebagai ungkapan terima kasih dan ngkapan kemerdekaan yang selama ini kamu rindukan. Jangan ragu untuk kembali. Jangan jijik untuk berbelepotan tanah, kotoran, dan suasana miskin dari rakyatmu. Jangan terlalu lama berada di luar negeri. Jangan jadi kaum borjuis atau kaum feodal yang justru malah menjajah rakyatmu sendiri. Merdeka itu memang tidak enak. Merdeka itu harus berjuang, sobat.” 



#Mardika iku rekasa#
#Salam kamardikan#
#Agustusan#

Friday, July 10, 2020

188

Tanggal 29 Oktober 2019, aku tidak mengangkat call dari nomer yang selalu menghubungiku. Aku pada mulanya tidak tahu itu nomer apa dan dari mana. Namun ketika pernah kuangkat, ternyata dari call itu, aku penasaran siapa yang menelpon saya. Nomer itu ternyata "nomer marketing telkomsel yang hendak memberi penawaran, baik itu paket data internet, promo menarik telkomsel atau penawaran untuk migrasi menjadi kartu halo". Itu setelah kucek di internet. Setidaknya aku pernah mengangkat dua kali. Sekali aku membiarkan diriku dan nomer prabayarku dipaketkan ke paket promo. Kedua kalinya aku pernah ditawari promo yang lain tetapi aku menolak. Alasan kedua adalah alasan yang sungguh menjengkelkan dari pihakku karena marketingnya bertanya dengan nada aneh dan pertanyaannya juga aneh. "Nomer bapak pulsanya koq banyak? Apakah bapak menjual pulsa lagi?" Memang aku selalu mengisi pulsaku saat itu selalu di atas Rp.100.000. Alasanku adalah ketika aku bepergian dan tidak mendapatkan tempat untuk isi pulsa, aku bisa langsung memaketkan data internet dengan mudah. Paket yang kupilih pun yang cukup tinggi biayanya. Setelah tahu nada marketing yang seperti itu, aku-tanya, "Telkom ini koq aneh, mengapa jumlah pulsaku diertanyakan? Bukankah itu hak konsumen mau isi berapa duit untuk pulsaku? Mengapa aku dituduh menjadi penjual pulsa?"

Dengan pengalaman saat itu, aku tidak lagi memilih paket internet yang mahal dan tidak mengisi pulsaku dengan isian yang lebih dari Rp. 50.000. Alasanku, ternyata pihak provider itu merekam semua data pribadiku, jumlah pulsaku, mau mengintervensi diriku dalam pemakaian pulsa dan sebagainya. Integritas dari sebuah provider menjadi penting di sini ketika konsumen berhak membeli dan berhak memakai untuk kepentingan dengan alasannya sendiri. Memang kuakui kalau untuk kepentingan kejahatan ya jelas harus dilarang. Jika untuk kepentingan pemakaian biasa, paling telepon, sms, internetan dengan media sosial lainnya ya bagiku itu biasa. Mau berapapun ya terserah pengguna alias konsumen. Mengapa marketingnya harus bertanya-tanya sedemikian tidak sopannya? Aku bernada agak marah dengan marketing itu dan menutup call itu.

Akhirnya, fakta membuktikan bahwa telkom bermasalah dengan integritasnya. Dia tidak mampu menyimpan kerahasiaan data milik pelanggan. Kasus DS yang data pribadinya dibuka di ruang publik menjadi jelas membuktikan bahwa ada ketidakberesan di internal provider plat merah ini. Kuakui bahwa karena plat merah maka jaringannya cukup luas. Karena jaringan cukup luas maka ini menentukan aksesibilitas pengguna provider ini. Sayangnya kepercayaan pelanggan alias publik tercederai dengan ketidakberesan di tubuh internal ini. Publikasi data pribadi yang bersumber dari staf internal ke pihak lain dan pihak lain ini memakai untuk kejahatan itulah problem kejahatan moral. Integritas provider ini tidak bisa dibanggakan dan tidak kredibel lagi. Publik berhak tidak percaya dan menarik kepercayaannya karena sudah dicederai.

Setelah aku menuliskan ketidakberesan soal ASN dan sekarang persoalan kredibilitas BUMN ini rasanya tidak bisa diandaikan lagi akan pentingnya kesadaran akan mana yang dipercaya dan mana yang tidak perlu dipercaya. Kita tidak bisa lagi mengandaikan bahwa yang dikelola negara ini bisa dipercaya. Justru ironisnya, segala lembaga yang dikelola negara ini penghasil sesuatu yang tidak kredibel. Mungkin dari pusat motivasinya baik, namun sampai di jenjang bawahnya motivasi dan mentalitas yang baik itu dibajak menjadi tidak baik. Sekali lagi ini soal quality control. Negara dengan punggawanya untuk mengelola BUMN kurang hadir dan setia mengontrol kualitas yang kredibel. Entah itu alasan disusupi kaum kadrun atau apalah, kehadiran negara dengan QC-nya itu tetap yang menjadi utama kalau mau mempertahankan keberadaan negara ini.

Di sisi lain, permainan yang serba "politicking" itu memang merusak apapun. Segala hal yang dibuat demi kepentingan tertentu yang mengabaikan kredibilitas kepentingan publik akhirnya akan jadi hancur. Di negeri ini, semua serba dipoliticking. Entah dari hal sepele sampai hal yang menentukan  orang banyak  semua serba "politicking". Kasus call dengan nomer 188 menjadi jelas, negara ini abai dalam mempertahankan kredibilitas di mata rakyatnya. Aku pun berhak tidak percaya lagi dengan 188 jika selalu mengontakku. Dan akhir-akhir ini, ketika pulsaku hanya kuisi Rp. 40.000 ke bawah, 188 tidak mengontakku. Apakah karena angka duit Rp.100.000 ke atas lantas aku dikira pesaing mereka dalam menjual pulsa? Aku tidak tahu politik provider ini....hahaha. Emang kita gak boleh ya beli pulsa banyak? Bukannya beli pulsa banyak itu keuntungan juga bagi mereka?



#noontime#

Monday, June 29, 2020

ASN = "Aku Sih Nyantai"

Aku lahir dari keluarga yang mana orangtuaku PNS (istilah ASN waktu itu) dan pegawai BUMN alias institusi "plat merah". Mendengar dan melihat Pak Jokowi marah-marah kepada para mentri dalam rapat di channel youtube.com, aku juga ingat akan kejadian beberapa waktu lalu. Pada hari Rabu Wage beberapa hari lalu, aku dan temanku mampir di warung sate kambing dekat sebuah pasar. Di saat itu jam menunjukkan baru jam 9.30 pagi hari. Pemandangan yang begitu menyesakkan dan itu sebenarnya sudah terjadi bertahun-tahun, dan menjadikan negeri ini tidak maju-maju, adalah banyaknya ASN yang berseragam Korpri dengan santainya makan di warung itu. Memang sih situasi masih dalam suasana pandemi. Dan banyak dari kalangan pegawai itu ada yang WFH ada yang tidak. Para ASN pun sudah diwajibkan kerja pada waktu ini. Begitu santai dan tidak berdosanya mereka kerja dengan santai tidak menjalankan tugas negara dengan serius.

Dari sana aku melihat "Ooooooo, begitu itu cara mereka bertindak." Mereka ada yang laki, ada yang perempuan. Mereka bertemu dalam satu meja. Ada banyak meja yang kebanyakan kerumunan ASN karena hari itu seragam yang mereka kenakan adalah Korpri. Korps Pegawai Negeri yang tingkahnya "Ngeri-ngeri sedap" makan bersama. Mereka pesan sate, tongseng, krensengan, gule, dan sebagainya. Dengan nikmat dan nyamannya mereka tanpa malu lagi menikmati waktu kerja dengan makan-makan. Aku yang sadar diri sebagai warga negara yang bayar pajak jadi protes, "Edan, mereka yang digaji dari pajak rakyat, ternyata kerjanya hanya begitu." Belum lagi beberapa waktu lalu ada berita yang menjijikkan yaitu mereka pun di masa paceklik ini masih menuntut gaji ketigabelas. Sedangkan banyak perusahaan swasta merumahkan pegawainya, ada yang menggaji hanya separuhnya, ada yang bahkan mem-PHK karyawannya. Sedangkan ASN ini kelakuannya tidak habis pikir, mereka seenak jidatnya memakai waktu kerja.

Aku menjadi semakin hapal kelakuan mereka karena "pendidikan mereka atau proses formatio mereka" itu ya memang demikian. Artinya, senior mengajarkan bagaimana berperilaku sebagai ASN sejati jika sudah bisa memanfaatkan waktu kerja untuk "gabut", bisa memanipulasi apapun demi kepentingan diri dan golongannya, bisa mengulur-ulur waktu yang seharusnya kerjaan itu singkat, bisa menghasilkan duit dari yang seharusnya tidak perlu duit karena itu bagian dari kerjanya yang digaji negara, bisa korupsi berjamaah kalau itu menyenangkan, bisa membeli banyak barang tetapi tidak bisa merawat, bisa membuat jalur birokrasi menjadi panjang yang seharusnya pendek, bisa membuat kumuh kantor dan atau gedung yang seharusnya bersih, dan sebagainya. Sebenarnya masih banyak litani proses pendidikan ASN di unit kerja.

Kalau dibandingkan dengan PNS jaman dahulu, sepertinya ASN saat ini sudah lebih jauh sangat amat makmur. Dulu PNS atau pegawai negeri itu sebutannya "pegawai ngeri" karena memang gajinya tidak berlipat ganda seperti saat ini. Sedangkan saat ini gaji banyak. Memang jaminan hidup itu ada. Dan aku menikmati karena sebagai anak "negara" biaya pendidikan dan kesehatan masih terjamin karena oragtuaku PNS dan kerja di "plat merah". Yang buatku tidak terima adalah proses pentradisian mentalitas yang tidak benar dan kurang bermoral inilah yang bikin mangkel. ASN itu gabut alias gaji buta yang memang benar. Itu realitas. Bagaimana tidak jengkel karena mereka seharusnya melayani publik koq malah kerja seenaknya sendiri.

Aku hanya melihat satu hal yang kurang sejak dulu dalam diri institusi pemerintah/ASN. Yang selalu menjadi kekurangan adalah tidak adanya quality control/quality assurance yang kuat. Akibatnya mereka kerja tidak ada standarnya. Kalaupun ada standard, itu tidak dijalankan dan tidak dikontrol ketat dan rutin. Tidak ada pembiasaan hidup kerja dengan disiplin. Mentalitas disiplin sangatlah jauh dari harapan. Kedisiplinan itu sebenarnya menghindarkan orang dari kematian. Pagi ini tadi aku baru sadar mengapa orang di daerah dingin sangat disiplin, karena mereka harus menghitung waktu ke halte bus pada musim dingin supaya terhindar dari hawa dingin dan segera masuk bus. Di negara tropis, hal ini tidak ada. Ditambah lagi, tidak ada yang mengancam mereka untuk kena sanksi. Pengawasan kerja tidak ada sama sekali. Baru biasanya kalau ada pejabat yang "carmuk" ada gerakan disiplin, demi popularitas. Habis itu ya kembali ke habitus lama, molor, tidak pakai sepatu, datang dan pulang seenaknya, dan sebagainya.

Banyak orang berbondaong-bondong untuk jadi ASN karena melihat kenyamanan fasilitas untuk menggarong duit rakyat, duit negara. Aku cukup kerja seadanya dan seenaknya, dapat gaji, dapat tunjangan, ada kenaikan pangkat dan golongan, dapat jaminan kesehatan dan pensiun. Inilah pola mereka yang berbondong-bondong jadi ASN. Apalagi jika sudah masuk ke pusaran gurita mentalitas korup di dalamnya, maka makin terpuruklah negeri ini yang punya sekian juta ASN. Mungkin ada ASN yang berkualitas bagus, namun paling tidak sampai 10%. Yang lain bisa dipastikan kualitasnya KW atau bahkan menjadi parasit negara saja.

Bisa dimaklumi kalau Jokowi marah-marah pada asistennya yaitu menteri-menteri. Merekalah kepala dari sekian ASN di negeri ini. Jika kepalanya saja dimarahi oleh big boss, bagaimana kelakuan ASN yang di bawahnya. Pastilah itu menjadi tanda kebusukan yang tercium baunya sejak dulu tetapi tidak ada yang bisa menyelesaikan kecuali waktu. Seandainya ada gerakan anti ASN, mungkin aku akan ikut. Baik jika ada pembasmian ASN yang memang perlu dibasmi entah fisik atau mentalnya. Tanpa ada tindakan ekstrem dan tegas (bahkan kejam), tidak ada perubahannya kinerja kita semua. Pertobatan tidak ada tanpa sebuah tindakan kejam baik dari diri sendiri maupun pihak lain. Mungkin pengurangan gaji atau jumlah ASN di negeri ini perlu diterapkan. ASN tidak kerja efektif bisa jadi karena terlalu banyak jumlah orangnya sedangkan pekerjaannya sedikit. Kalau demikian, maka perlu dikurangi jumlah personelnya, kerja diberi yang proporsional dengan jumlah jam kerja. Kalau jumlah personel tidak bisa dipangkas, ya dipangkaslah jumlah gajinya supaya mengurangi beban anggaran negara. Pengurangan jumlah gaji diprotes, maka diseleksi kualitas kemampuan kerjanya. Namun ideku ini pasti mengusik kemapanan ASN yang mayoritas korup. Baju Korpri makin menjijikkan di mataku, apalagi baju coklat muda yang kaya wereng, dulu ada baji hijau kaya hansip juga. Semua serba menjijikan karena mereka tidak mampu bekerja melayani masyarakat tetapi digaji oleh pajak masyarakat.

Ingatlah bahwa ASN (Aparatur Sipil Negara) atau PNS (Pegawai Negeri Sipil) adalah Abdi Negara sesuai dengan motto di lambang Korpri itu. Abdi koq kerjaannya gabut, korup, mau enak sendiri?


#in my room#

Monday, June 8, 2020

(Struktur yang) Melanggengkan Ketergantungan

"....Saya di dalam 3 hari ini belum mendengarkan prinsip itu,yaitu prinsip kesejahteraan, prinsip: tidak akan ada kemiskinan di dalam Indonesia Merdeka. Saya katakan tadi: prinsipnya San Min Chu I ialah Mintsu, Min Chuan, Min Sheng: nationalism, democracy, sosialism. Maka prinsip kita harus: Apakah kita mau Indonesia Merdeka, yang kaum kapitalnya merajalela, ataukah yang semua rakyat sejahtera, yang semua orang cukup makan, cukup pakaian, hidup dalam kesejahteraan, merasa dipangku oleh Ibu Pertiwi yang cukup memberi sandang-pangan kepadanya? Mana yang kita pilih, saudara- saudara? Jangan saudara kira, bahwa kalau Badan Perwakilan Rakyat sudah ada, kita dengan sendirinya sudah mencapai kesejahteraan ini. Kita sudah lihat, di negara-negara Eropah adalah Badan Perwakilan, adalah parlementaire democracy. Tetapi tidakkah di Eropah justru kaum kapitalis merajalela?"
...................................................
"Adakah keadaan yang demikian ini yang kita kehendaki? Saudara-saudara, saya usulkan: Kalau kita mencari demokrasi, hendaknya bukan demokrasi barat, tetapi permusyawaratan yang memberi hidup, yakni p o l i ti e k - e c o m i s c h e democratie yang mampu mendatangkan kesejahteraan sosial! Rakyat Indonesia sudah lama bicara tentang hal ini. Apakah yang dimaksud dengan Ratu Adil? Yang dimakksud dengan faham Ratu Adil, ialah sociale rechtvaardigheid. Rakyat ingin sejahtera. Rakyat yang tadinya merasa dirinya kurang makan kurang pakaian, menciptakan dunia-baru yang di dalamnya a d a keadilan di bawah pimpinan Ratu Adil. Maka oleh karena itu, jikalau kita memang betul-betul mengerti, mengingat mencinta rakyat Indonesia, marilah kita terima prinsip hal sociale rechtvaardigheid ini, yaitu bukan saja persamaan p o l i t i e k, saudara-saudara, tetapi pun di atas lapangan e k o n o m i kita harus mengadakan persamaan, artinya kesejahteraan bersama yang sebaik-baiknya. Saudara-saudara, badan permusyawaratan yang kita akan buat, hendaknya bukan badan permusyawaratan politieke democratie saja, tetapi badan yang b e r s a m a d e n g a n m a -s y a r a k a t dapat mewujudkan dua prinsip: politieke rechtvaardigheid dan sociale rechtvaardigheid."

Itu adalah kutipan dari pidato Soekarno yang mengawali pembentukan dasar negara yaitu Pantjasila. Aku mendapatkannya ketika hari peringatan lahirnya Pancasila 1 Juni 2020 lalu. Dua bagian itulah yang menarik bagiku dan mendasari tulisan ini karena ada ideologi dan sekaligus realitas yang bertolak belakang dari apa yang dicita-citakan pendiri bangsa.

Realitas yang terjadi sering kali yang kulihat adalah bahwa cita-cita itu tak selalu mudah diwujudkan. Para pendiri bangsa menginginkan kemerdekaan yang memang ideal. Cita-cita itu ideal. Bangsa ini mengalami saat di mana pemimpin itu orator, ada yang pembangun, ada juga yang tidak berbuat apa-apa, dan sebagainya. Kerja untuk menyejahterakan rakyat sering tidak konsisten dan selalu saja ada tantangan. Tantangan dari berbagai pihak, tantangan dari berbagai situasi dan sebagainya itulah yang sering menjadi tidak mudahnya cita-cita itu terwujud.

Ketika bulan puasa lalu, aku hanya bisa memandangi "orang miskin" dadakan dan musiman. Mereka kuanggap tanda kutip karena dikondisikan. Mereka menunggu di pinggir jalan pada jam tertentu yang biasa dilewati banyak orang dan ada pembawa makanan bagi mereka di sepanjang bulan puasa itu. Pertanyaanku adalah apakah mereka itu diobjekkan sehingga mereka rela menjadi objek yang diberi terus? Apakah tidak ada cara lain memberi secara lebih bermartabat dari sekedar membuat orang lain itu tergantung dan menjadi "kere musiman" seperti itu? Alasan pandemi ini tidak berlaku bagi mereka yang tergantung. Memang di awal pandemi ada bantuan kepada mereka yang tidak bisa kerja atau putus hubungan kerja atau memang tidak bisa optimal kerjanya sehingga butuh bantuan dari pihak lain, termasuk negara dalam hal ini. Namun ketika melihat kaum miskin kota yang "terkondisi" itu akhirnya koq aku perlu bertanya kritis. Entah pertanyaanku ini sudah pernah kutulis, atau belum, aku merasa ada sesuatu yang salah dan perlu diperbaiki dalam hal ini.

Aku tidak tahu dan tidak mau menyalahkan siapa dan apa tetapi mau mengajak melihat lebih jernih kondisi dan situasi ini. Apakah kita hanya ingin membantu dan membantu orang lain tetapi tidak memikirkan efek lanjutannya? Artinya, apakah membantu hanya demi membantu saja? Tidak memikirkan bahwa sering ada mentalitas yang memanfaatkan hal ini yaitu ketergantungan? Atau malah justru kebalikannya, apakah bantuan itu memang mau membuat pihak lain menjadi tergantung? Ketika orang tergantung, pihak yang membantu itu bisa memanfaatkan dengan menguasai dan terus menanamkan mentalitas tergantung supaya bisa mengontrol dan menguasai. Itu sama saja dengan kooptasi dari yang kuat kepada yang lemah supaya yang lemah jadi tergantung dan tak berdaya terus.

Kecurigaanku adalah orang menjadi tak sadar ketika hanya menjadi pelaku dari sebuah rutinitas sistemik dan tanpa pemaknaan yang cukup yaitu membantu orang lain (motivasi baik) namun kurang disadari makna mengenai membantu itu sendiri. Membantu yang sehat adalah membantu tanpa pamrih, membantu dengan tujuan memerdekakan dan memberdayakan. Jika membantu itu ada pamrihnya, bahkan dengan pamrih pahala yang diajarkan oleh lembaga agama sekalipun, bagiku itu sebuah tindakan yang melanggengkan ketergantungan. Ketergantungan artinya keterbelengguan. Keterbelengguan artinya tidak memerdekakan. Bagaimana orang merdeka dikondisikan terjajah oleh mentaltas ketergantungan? Ini yang bagiku tidak bisa terima dengan situasi seperti ini. Aku hanya bisa mewacanakan dalam tulisanku ini, namun belum bisa membuat terobosan macam apa yang seharusnya dibuat oleh sekalian dari kita yang terlibat di dalamnya.

Hal itu sama sekali tidak sesuai yang dipidatokan alias dicita-citakan pendiri bangsa ini. Manakah keadilannya? Manakah sisi kemanusiaan yang semu itu membantu memerdekakan rakyat yang lapar? Manakah sisi tindakan yang baik jika efeknya malah membelenggu dan membuat tergantung? Cita-citaku juga sama seperti idealnya para pendiri bangsa yaitu tidak ada lagi kemiskinan bahkan mentalitas "kere" sekalipun. Jika ada pihak yang justru melanggengkan ketergantungan dengan kedok memberi bantuan, bahkan yang sifatnya karitatif sekalipun dan itu justru membuat orang tak berdaya, tergantung, terbelenggu dan dijajah, maka itu adalah pelanggaran serius terhadap cita-cita pendiri bangsa ini. Apakah kita hanya sekedar menerima slogan "orang miskin akan selalu ada padamu". Atau kita harus membantu mereka yang berkekurangan tanpa memberi daya bahwa mereka pun pada dasarnya berdaya.

Memang pada akhirnya atau ujung-ujungnya adalah struktur. Apakah struktur sosial kita itu berkeadilan? Apakah struktur relasi, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya itu sudah adil? Adil yang mengatakan bahwa ada kelas ini dan itu, ada kasta ini dan itu, ya akhirnya kita kembali pada tatanan yang perlu diberi kesadaran dari dalam bahwa manusia itu lahir merdeka. Setiap ciptaan ini merdeka sejak lahirnya. Oleh karenanya, struktur itu perlu memberi penghargaan pada kemerdekaan tiap pribadi agar tidak tergantung secara penuh, "njagake", mengkondisikan secara struktural bahwa ada orang yang harus dipertahankan mentalitasnya supaya kegiatan membantu itu tetap terjadi. Kadang orang menyebut orang miskin itu dengan sebutan "mereka yang kurang beruntung." Apakah ini soal keberuntungan? Apakah hidup di dunia ini soal untung dan rugi? Apakah hidup itu seperti permainan dadu, mana yang untung dan mana yang tidak? Mereka yang beruntung adalah mereka yang dekat dengan akses kekuasaan sehingga saluran fasilitas itu mudah. Bukankah ini adalah soal aksesibilitas terhadap fasilitas? Oke lah kalau itu soal struktur, lalu bagaimana dengan perlakuan kita? Apakah dengan membantu itu kita memperlakukan orang lain sebagai pribadi yang berdaya? Bukan pribadi yang diperdaya? Agama menciptakan ajaran supaya memberi bantuan kepada mereka yang miskin. Kultur budaya menciptakan kasta tinggi dan rendah. Sistem dalam lembaga ada bagian-bagian yang fungsinya tertentu dan saling melengkapi.

Pertanyaanku selanjutnya adalah apakah ada fungsi lembaga negara yang tidak berjalan dengan baik? Ada departemen sosial. Apakah mereka ini tidak bisa membuat sistem yang manusiawi dan bermartabat untuk menata, mengelola, dan mewujudkan bantuan sosial yang lebih baik sehingga tidak terjadi kemiskinan struktural? Jangan-jangan departemen hanya sebatas departemen namun tidak ada kerja dan gerak fungsi yang selayaknya dikerjakan.

Kalau itu semua adalah soal saling melengkapi dan memberi dukungan, perlakuan masih bisa jadi jalan keluar untuk itu. Selain itu adalah kesadaran dan penghargaan terhadap daya dan memberi ruang pada yang lain itu yang kutemukan supaya tidak ada penyalahgunaan otoritas yang bisa menyebabkan penjajahan, ketergantungan, dan ketidakberdayaan. Banyak tokoh sudah membuktikan itu dan biasanya pemberdayaan mulai dari penyadaran akan banyak dilawan oleh kekuasaan yang tidak suka terhadap daya hidup dari setiap makhluk. Contohnya banyak. Ada Paulo Freire, Mangunwijaya, Dorothy Day, Uskup Romero, dan para pejuang pemberdayaan. Dom Helder Cammara, seorang uskup di Racife, Brazil pernah mengatakan “When I feed the poor, they call me a saint, but when I ask why the poor are hungry, they call me a communist." Sungguh tragis dunia dan strukturnya jika masih seperti yang dikatakan oleh Dom Helder Camara itu.


#at noon time#
















Friday, May 22, 2020

Kontrol, Kekuasaan dan Kepastian

Siapa sih yang tidak suka bisa mengontrol semuanya? Bahkan aku bisa merasakan kenyamanan jika diriku bisa menguasai dan mengontrol hidupku. Aku suka dengan diriku yang bisa begini dan begitu dengan kemerdekaan dan keleluasaan karena aku bisa memastikan semua, mengontrol semua, dan akhirnya aku bisa menguasai semua. Tetapi apa daya "tidak semua hal bisa kita kontrol. Tidak semua bisa kuasai. Tidak semua hal itu juga tidak bisa kita pastikan." Begitu merananya jika ketidakpastian itu yang harus kuhadapi, kualami, dan yang harus kuterima. Apalagi kalau ketidakpastian itu durasinya lumayan lama. Durasi ketidakmampuan memastikan itu lama, dan itu menjadikan diriku tidak nyaman karena tidak bisa mengontrol semuanya.

Memang, berkuasa itu tidak harus jadi raja diraja seperti yang ada dalam kisah dongeng tentang kerajaan di buku-buku atau film. Berkuasa itu bisa mulai dari hal-hal kecil yang ada dalam diriku. Berkuasa itu bisa muncul dari pengalaman dikuasai, dikontrol dan dari dalam kodrat manusia, kita ini tercipta untuk berkuasa. Sayangnya, kita lupa dari mana datangnya kekuasaanku? Itu problemnya. Seorang ibu harus mendidik anaknya. Ketika anaknya mulai besar dan bisa "mbalelo", memberontak, maka di sana ada relasi yang mulai tidak harmonis. Ada keretakan relasi. Ibu maunya anaknya menurut, tapi anaknya mau main sendiri, tidak lagi ingin terkekang oleh "kekuasaan" ibunya. Benar bahwa anak tetap anak dan ibu tetap ibu. Anak tetap mempunyai hak dididik dan didampingi ibunya. Ibu tetap punya kewajiban mendidik, mendampingi anaknya. Yang kemudian menjadi tegangan adalah adanya obsesi bahwa anak harus menurut sesuai frame orangtua, itulah yang harus diperhatikan. Sebelumnya, aku juga pernah menulis bahwa "obsesi (orangtua) bisa menjadi bully bagi anaknya."

Dari contoh di atas aku hanya ingin melihat bahwa seorang ibu punya kekuasaan untuk mengontrol anaknya. Namun di sisi lain, ternyata anak tidak ingin "dikuasai" dalam kesehariannya. Si ibu akhirnya tidak bisa memastikan bagaimana nasib anaknya, atau tidak bisa membuat frame sesuai dengan design pada diri anaknya. Keterpecahan sering terjadi karena ada tiga hal itu: kontrol, kekuasaan, dan kepastian. Semua orang ingin memastikan hidupnya bahkan bagian kecil dari hidupnya sekalipun. Kontrol dan kekuasaan itu bagaikan dua sisi mata uang. Dan itulah yang perlu kita waspadai karena di sana terdapat godaan untuk dijerumuskan pada abuse of power itu sendiri. Pelecehan dimulai dari orang terdekat dalam keluarga. Abuse itu tidak jauh dari diriku, dan itu mulainya dari orang terdekat. Pelecehan itu tidak murni karena ada kelainan psikologis dan bukan dari orang lain di luar rumah, justru karena kita sering tidak sadar akan nafsu berkuasa dan kehendak dalam diriku untuk mengontrol inilah abuse itu terjadi.

Saat-saat ini orang juga diombang-ambingkan oleh pandemi yang tak kunjung henti. Orang makin merasa bahwa tidak ada kepastian lagi sepertinya. Orang ingin segera memastikan dengan bisa bekerja, jalan-jalan, sekolah, beribadah dan sebagainya. Namun demikian ada situasi di mana manusia tidak mampu mengontrol. Manusia tidak mampu menguasai keadaan di mana pandemi ini kapan akan berakhir. Ternyata ada kerapuhan yang harus kita terima. Ada kelemahan yang pada diri kita ini perlu kita akui. Berdamai dengan ketidakpastian ini perlu kita sadari dan kembangkan lebih dalam. Kebijakan ini dan itu sudah dicoba. Hasilnya ada korban. Ada yang meninggal. Ada yang terdampak. Ada yang menularkan. Sedangkan kalau tidak ada kerjaan, bagaimana dapat makan? Kalau tidak bekerja, bagaimana akan memastikan penghasilanku ada atau tidak? Kebutuhan pokok pun saat ini mengerucut pada makanan karena pakaian dan rumah setidaknya sudah ada. Jaminan sosial diusahakan oleh pemerintah. Bahkan itu pun kadang ada ketidakpastian dan tidak bisa kita kontrol adannya kesalahan data atau tidak tepatnya siapa penerima bantuan.

Dalam hal ini aku hanya mau bicara soal ketika tidak bisa memastikan, orang tidak nyaman. Ketidakpastian butuh ketahanan tertentu. Ketika daya kuasa kita tidak lagi sepenuhnya maka kita tidak mampu mengontrol hal-hal yang terkait dengan diriku dan pihak-pihak yang terkait di luar diriku. Obsesi seseorang adalah mampu mengontrol segala sesuatu, bisa menguasai segala sesuatu dan akhirnya memastikan segalanya. Itulah kenikmatan yang semua orang inginkan. Alangkah memberontaknya diriku ketika mendoakan dan mendengarkan ungkapan ini sebenarnya: "Ambilah, ya Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaan, ingatan, pikiran, dan segenap kehendakku, segala kepunyaanku dan segala milikku. Engkaulah yang memberikan, padaMu aku kembalikan. Semua milikMu. Berilah aku cinta dan rahmatMu, cukup itu bagiku." Ungkapan doa itu hanya manis dan indah dinyanyikan, tetapi ketika mendalami dan memasukinya, aku jadi sadar bahwa kekuasaanku dihapus. Orang Jawa mengatakan aku "dilolosi". Aku perlu makin sadar bahwa hidup itu ada hal-hal yang tidak semua bisa kukontrol, tidak semua bisa kukuasai, dan tidak semuanya pasti. Seorang ibu pun tidak selamanya bisa mengontrol nasib anaknya kelak karena si anak punya jalan yang ia pilih. Pandemi ini tidak bisa kita kontrol sepenuhnya, hanya bisa kita terima dengan berdamai.

Memberi ruang pada ketidakpastian dan ketidaknyamanan akhirnya yang perlu kita sadari. Itu penting dalam hidupku supaya aku tidak terlalu capai dan terkuras energinya hanya ingin memastikan segala sesuatu, mengontrol semua, dan menguasai semua keadaan. Memberi ruang merdeka pada kehendak bebas seorang anak memilih dengan arahan secukupnya itu baik adanya. Memberi ruang pada diriku untuk mencoba mengalami ketidaknyamanan dan cukup memastikan yang bisa kupastikan juga langkah bijak untuk menghadapi pandemi.  Semoga kita tetap bijak dan waras dalam masa sekarang ini.


#morning time#

Saturday, April 11, 2020

Ketika (Sapiens) Harus Memperlambat Diri

Saat ini adalah saat-saat yang bagi kebanyakan orang yang nota bene adalah spesies homo sapiens (selanjutnya ditulis sapiens) tidak mudah dialami. Sapiens ini dipaksa untuk berhenti. Memang tidak semua lantas berhenti total. Ada yang mempunyai kebijakan lock down total alias semua tidak beraktivitas normal. Ada yang memberlakukan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Ada banyak kemungkinan untuk tidak beraktivitas normal seperti biasa spesies ini lakukan dengan kemajuan yang dicapainya. Intinya saat ini sapiens hanya berfokus pada tiga kebutuhan pokok saja. Kalaupun ada tambahan paling kebutuhan untuk komunikasi: maka kebutuhan pulsa dan wifi adalah penting.
Kebutuhan lain "sementara" ditiadakan dulu. Ini gara-gara si virus corona alias covid-19. Serentak seluruh sapiens di muka planet bumi ini sedang "berhenti", tidak banyak bergerak sebagaimana biasanya.

Banyak hal bisa kita kupas tentangnya. Entah itu tentang kemunculan virus ini. Entah tentang efeknya. Entah tentang karakternya walau si sapiens juga belum bisa menanggulanginya secara total atau setidaknya 90% bisa melawan si virus ini. Namun demikian angka tahun 2019 tepatnya di akhir tahun menjadi angka kemunculannya. Efeknya ke angka tahun 2020. Orang bisa melihat banyak hal akhirnya. Namun ada juga yang masih melihat wabah ini sebagai bencana semata. Setidaknya yang kualami, orang tidak diperkenankan berkumpul dalam kermunan, orang mulai menjadi kuatir dengan sesamanya apakah atau jangan-jangan orang ini adalah pembawa virus, jangan-jangan orang itu pernah bepergian ke luar kota atau ke luar negeri sehingga membawa penyakit. Sapiens ada dalam alam kecurigaan satu dengan yang lain. Bahkan ada beberapa kelompok yang menstigmatisasi sesamanya bahwa mereka yang meninggal gara-gara covid-19 ini adalah pantas ditolak. Ada berita berkumpulnya orang-orang kaya setelah ada pengumuman dari pemerintah untuk tidak mengadakan acara yang melibatkan banyak orang lalu ada 4 orang yang mati dari mereka yang mengadakan acara itu lalu dijadikan alasan untuk membuat stigmatisasi sesamanya.

Persoalan ini akhirnya persoalan sapiens seluruh dunia. Ada yang saling menyalahkan gara-gara banyak yang makan kelelawar karena kelelawar itu pembawa virus maka ketika banyak dimakan sapiens maka virus itu hidup di inang yang lain yaitu sapiens. Ada yang juga menyalahkan bahwa virus ini muncul karena ada percobaan senjata biologis antar kelompok tertentu. Entah mana yang benar, aku juga belum tahu kepastiannya. Bisa jadi karena ulah sapiens, maka suhu tertentu di planet bumi ini memungkinkan hidupnya virus baru.

Di antara sekian masalah yang dialami oleh sapiens, akhirnya berujung pada hal-hal yang kaitannya pada kelompok hidup sapiens sendiri, di antara keluarga mereka. Tentu, sapiens yang mempunyai akal dan nurani ini mengalami berbagai hal, antara lain cemas dengan keluarganya yang berada di jauh dan tidak bisa bersama, cemas karena tidak bisa membantu pangan atau tempat berteduh ketika ingat saudaranya yang lain, sedangkan situasi serba tidak normal. Kecemasan akan terjadi dan membentuk pola perilaku di antara para sapiens. Berbagai pola kerja dan lembaga yang didirikan sapiens pun akan mengalami perubahan. Lembaga agama harus mengoreksi diri dan harus bisa memberi pelayanan di masa pandemi ini. Tata laksana berdoa pun berubah. Gereja, mesjid, pura, vihara tidak akan dikunjungi kerumunan sapiens lagi. Sekolah tempat negerasi mudah sapiens belajar sepi karena semua harus di rumah. Belajarnya dengan cara daring atau online. Tempat-tempat kerja perkantoran yang administratif bisa dengan cara online.

Institusi keluarga sapiens diuji di dalam situasi ini karena di sana tempat berkumpul sebagai ganti tempat berdoa, bekerja, dan sekolah. Di sisi lain keluarga sebagai kumpulan pribadi-pribadi yang mencurahkan dirinya bagi yang lain pun juga diuji. Bagaimana keluarga sebagai institusi yang meneruskan generasi sapiens diuji, bagaimana keluarga sebagai kelompok sapiens yang punya tetangga harus berelasi dan tidak menolak mereka sebagai musuh juga diuji, apalagi ketika mereka terkena pandemi ini. Bagaimana solidaritas lahir dari keluarga sapiens di tengah pandemi ini? Ini juga menjadi pertanyaan besar bagi sapiens.  Dari keluarga, sapiens mempunyai relasi intim. Dari keluargalah sapiens belajar menalar. Dari keluargalah, sapiens belajar bekerja. Dari keluargalah, sapiens belajar solider. Ada juga relasi sapiens dalam keluarga yang berjarak sejak awalnya. Sapiens juga bisa belajar sebaliknya dari yang disebut di atas mulai dari keluarga. Sapiens perlu mendefinisi ulang arti kedekatan ketika distancing itu dibutuhkan.

Yang tidak bisa dikerjakan online sementara ini adalah distribusi barang dan jasa. Ini semua masih memakai tenaga sesama sapiens. Nah, mungkin suatu saat, sapiens harus menciptakan robot untuk distribusi ini. Jika virus ini tidak bisa ditaklukkan atau bahkan menguasai bumi ini, tentu sapiens harus cari cara agar tetap survive. Intinya virus ini supaya tidak menyebar adalah sapiens tidak saling sentuh dan menulari dengan droplet dari yang menderita/membawa virus. Mereka yang kerja harian dan mendapat upah dari hari demi hari itulah yang juga terdampak. Oleh karena itu, tentunya antar mereka pun sapiens harus berpikir. Negara sebagai jaringan sah dan mempunyai otoritas sebagai kumpulan sapiens dengan batasan tertentu pastilah membuat rancangan kerja supaya kalangan pekerja harian ini masih bisa hidup ketika tidak ada pekerjaan yang menghasilkan upah. Ini adalah situasi tidak normal.

Aku bisa memaklumi bahwa ada kalangan sapiens tertentu yang marah atau tidak puas dengan otorita negaranya karena koq tidak segera bisa menghentikan penyebaran pandemi ini. Merasa harus ada kekuatan super power yang serta merta menyelesaikan masalah. Merasa seperti harus dibuat sistem totalitarian seperti komunis internasional yang semua harus tunduk pada satu otoritas kejam dan tangan besi supaya semua bisa efektif tertangani. Antara kelompok negaranya sapiens satu dengan yang lain itu berbeda-beda. Tidak bisa menyamakan negara ini dengan negara itu. Yang sudah lock down saja seperti India akhirnya menyerah karena kekacauan muncul, maka kebijakan lock down dihapus. Ada negara-negara yang mampu untuk lock down karena siap sistemnya dan siap masyarakat sapiensnya.

Yang tidak bisa dipungkiri adalah bisa jadi semua sapiens akan kena virus ini sebagai carier sehingga ada herd immunity. Seperti layaknya virus-virus lain, virus ini akan hidup di tubuh specises sapiens namun sapiens tidak sakit dan sampai pada kematian. Akan terjadi seleksi alam sebagaimana teori Darwin alias survival of the fittest. Ini adalah masa seleksi kalangan sapiens yang kuat dan tidak kuat menghadapi virus ini. Oleh karena itu di masa depan, terbentuk jenis spesies sapiens baru yang kebal dengan virus ini.

Sisi lain adalah bahwa dengan kurangnya aktivitas sapiens di planet bumi ini maka planet ini sedang memperbaiki diri dari kerusakan, entah itu ozone di atmosfer, entah itu sumber mineral dalam kandungan bumi, entah itu komunitas-komunitas binatang yang mulai merasakan kesehatan suasana alam ini sehingga mau keluar dari persembunyiannya. Banyak indikatornya. Dan inilah evolusi cerdas dari fenomena covid-19 yang memaksa sapiens untuk berubah. Berkurangnya pesawat terbang yang hilir mudik di udara setidaknya menyehatkan atmosfer. Berkurangnya kendaraan dan kereta darat menyehatkan juga karena tidak ada polusi. Air kembali bersih karena limbah sedikit.

Aku tidak tahu apa yang ada dalam rencana di otak sapiens. Setidaknya adalah ingin supaya virus ini pergi dan dikalahkan. Tujuannya: supaya pola hidup lama berjalan kembali. Aku menyebutnya sebagai pola hidup lama karena banyak dari sapiens itu ingin yang dulu terus. Mereka tidak bisa kuliner. Mereka tidak bisa traveling. Mereka tidak bisa nongkrong. Mereka ternyata tidak tahan untuk tidak mengerjakan hal-hal itu.

Selayaknya sapiens harus berpikir dan menemukan pola hidup baru. Tadi aku sempat mengatakan di atas bahwa sapiens harus menemukan cara pendistribusian bahan pangan dan yang lain dengan robot yang dikonrol jarak jauh. Kebutuhan online harus didukung dengan infrastruktur yang layak yaitu bayanganku seluruh atmosfer bumi adalah wifi. Semua sapiens itu bisa mengakses internet dengan ID password namun tidak lagi tergantung mana akses poinnya. Setiap negara punya akses poin. ID adalah KTP dan di situ sudah ada personal password. Bukankah sapiens sudah mempunyai kemampuan membuat robot dan komputer? Bukankah ini bisa dikembangkan ke dalam teknologi yang lebih maju? Biarlah covid ini hidup dan tidak perlu dimusuhi. Biarlah binatang dan tumbuhan hidup dengan ekosistem di planet bumi ini. Sapiens harus hidup berdampingan dengan spesies lain dengan cara baru. Sapiens maju, spesies lain juga hidup dengan kemajuannya sendiri.

Semoga harapanku ini menjadi terwujud mengikuti arus besar Nalar Abadi yang bisa membuat semua evolusi ini tetap ada.  Nalar Abadi yang memungkinkan semua binatang berevolusi tanpa disakiti oleh ulah sapiens atau tumbuhan berkembang biak dan berevolusi tanpa harus mengalami kepunahan karena rakusnya sapiens. Biarlah juga sapiens menjadi tahan untuk mengambil jarak satu dengan yang lain tanpa mengurangi kedekatan afektif satu dengan yang lain sehingga karenanya semua makhluk bersinergi di planet bumi ini. Semoga.

Aku sematkan lyrics lagu dari salah satu sapiens bernama Bette Midler, "From a Distance", ketika ingat akan segala macam hal yang terkait dengan distancing beberapa waktu ini dan kita juga bisa mendengar lagu itu dari link yang tertera di bawahnya:

From a distance the world looks blue and green
And the snow capped mountains white
From a distance the ocean meets the stream
And the eagle takes to flight
From a distance there is harmony
And it echoes through the land
It's the voice of hope
It's the voice of peace
It's the voice of every man
From a distance we all have enough
And no one is in need
And there are no guns, no bombs and no disease
No hungry mouths to feed
From a distance we are instruments
Marching in a common band
Playing songs of hope
Playing songs of peace
They are the songs of every man
God is watching us
God is watching us
God is watching us from a distance
From a distance you look like my friend
Even though we are at war
From a distance I just cannot comprehend
What all this fightings for
From a distance there is harmony 
And it echoes through the land
And it's the hope of hopes
It's the love of loves
It's the heart of every man
It's the hope of hopes
It's the love of loves
This is the song for every man
God is watching us
God is watching us
God is watching us from a distance
God is watching us
God is watching 
God is watching us from a distance

https://www.youtube.com/watch?v=lN4AcFzxtdE



#Sore hari diiringi rintik hujan-dari kamarku#

Wednesday, March 25, 2020

Haruskah dengan Virus?

Sejak beberapa waktu ini umat manusia di planet bumi ini sedang berhadapan dengan musuh yang sangat kecil. Itulah virus. Covid-19 sedang menyerang kita. Corona Virus Disease-19 itulah namanya. Banyak negara tutup (lock down) karenanya. Banyak nyawa meninggal karenanya. Banyak orang panik, toko dan tempat-tempat publik sepi, kerumunan dibubarkan, sekolah ditiadakan di sekolah, perkantoran mengurangi aktivitasnya, kegatan keagamaan juga tidak ada di ruangan dengan kegiatan bersama, dan masih banyak lagi. Awalnya virus ini dianggap seperti virus flu biasa, namun ketika ada seorang dokter memperingatkan bahwa virus ini adalah berbahaya dan misterius, maka serentak dunia menjadi kalang kabut. Sampai saat ini dari mana virus ini muncul, apakah China atau Amerika atau dari mana, sejauh ini aku pun belum tahu persis. Memang berita dari media berasal dari Wuhan, China, namun itu pun masih belum pasti bagaimana terjadi. Banyak narasi mengarahkan ke sana namun tidak sepenuhnya juga tepat.

Mulai Maret 2020 ini dunia penuh dengan perhitungan dan kewaspadaan sehingga melahirkan kebijakan lock down di beberapa negara. Setelah China yang terkena, maka Italia adalah yang berikut, lalu ada juga Iran, Korea Selatan, dan akhirnya menyebar di berbagai belahan dunia. Bahkan sebenarnya Amerika Serikat. Intinya seluruh belahan dunia ini sedang terserang virus yang namanya corona ini. Yang tentunya mati dan mudah sekali terdampak adalah orang-orang tua dan mereka yang sudah punya penyakit bawaan lainnya, di mana daya imunitasnya lemah. Cara kerja virus ini pun juga canggih sampai-sampai para ahli pun belum menemukan cara menanggulangi dampak virus ini.

Aku tidak mau masuk lebih jauh ke arah medis atau biologinya. Yang justru menjadi insight adalah bahwa dengan virus ini, kita semua atau dunia sedang dipaksa untuk mendefinisikan kembali atau memaknai arti kemanusiaan, relasi-relasi yang kita bangun entah itu yang namanya institusi sosial, politik, pendidikan, keagamaan, ekonomi dan sebagainya. Kesempatan di Hari Raya Nyepi bersama dengan saudara-saudara penganut Hindhu bagiku menjadi sangat baik menyepi dan menyendiri untuk melihat dengan mengambil jarak dari rutinitas keseharian. Memang sudah seminggu lebih ini pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk work from home. Virus ini menyebar karena manusianya juga mobile, bergerak ke sana kemari. Penyebaran itu diikuti dengan media penyebaran yaitu cairan yang kemudian masuk ke dalam saluran pernafasan.

Ketika mobilitas manusia harus dikurangi atau bahkan dihentikan, maka virus ini juga terkurangi penyebarannya. Yang menjadi menarik kemudian adalah ketika manusia dipaksa berhenti atau mengurangi aktivitas bepergiannya, lalu apa artinya bekerja, apa artinya belajar di sekolah, apa artinya peribadatan agama dengan ritual bersamanya, apa arti festival seni dan budaya pamer di tempat-tempat publik? Semua itu lantas menjadi tiada artinya lagi. Semua akhirnya relatif. Bahkan kalau mau menyelamatkan spesies manusia di planet bumi ini, manusianya harus tidak bersinggungan dengan sesamanya. Oleh karena itu social distancing juga diikuti dengan physical distancing.

Masih banyak juga beberapa pihak yang melanggar. Di Italia juga banyak orang melanggar dan mengabaikan larangan untuk stay at home untuk mengurangi penyebaran virus ini, maka kasus yang terkena corona termasuk besar di sana karena hal ini. Sementara orang mengatakan bahwa virus ini menyerang orang-orang urban yang memang suka atau terbiasa traveling. Ada juga yang mengatakan bahwa virus ini adalah virus milenial yang memaksa kita untuk terbiasa dengan distance. Lalu lahirlah belajar online, kerja online, misa online. Pertemuan-pertemuan pun yang sebelumnya bertemu dalam ruang dan waktu yang sama, sekarang arti ruang itu tidak hanya harafiah sebuah tempat dengan ukuran panjang kali lebar kali tinggi, namun ruang adalah wahana untuk berjumpa dan berbicara dengan waktu berbeda. Bisa saja karena kebijakan work from home, rapat dikoordinatori oleh pihak dari Semarang, mengundang pihak-pihak dari Klaten, Jogjakarta, Solo, dan Jakarta. Tinggal menentukan saja jam berapa siap online dan ketemu dengan sarana yang berplatform tertentu, entah Whatsapp, Zoom, Skype, Google Hangout, dsb. Pengalamanku bersama keluarga bisa mengadakan doa bareng dengan Zoom, mengajak anggota dari Balikpapan, Temanggung, Salatiga, Bekasi, Tanggerang, Semarang, Jakarta, dan Lampung. Ruang dan waktu menjadi relatif dengan situasi sekarang ini. Jarak menjadi relatif juga. Pertemuan sudah tidak butuh ruang fisik lagi secara absolut. Bahkan antar negara dengan perbedaan zona waktu pun "terselesaikan" dengan cara bertindak ini, time space distanciation (GIDDENS, 1985).  Apa yang disebut Giddens ini yang kupelajari samba lewa tahun 2000-an awal, ternyata dua dekade kemudian mejadi penting realisasinya, yaitu soal Globalisation and Risk Society, Runaway World-How Globalisation Reshaping Our Lives, semua itu ternyata kualami sekarang dengan gamblang.

Pelanggaran-pelanggaran dan rasa tidak nyaman ketika orang tidak bergerak juga ada. Di awal-awal kepanikan dan diterapkannya supaya menaati aturan stay at home dan menunda seluruh acara yang melibatkan kerumunan massa, masih ada saja kejadian tahbisan uskup di Ruteng yang menuai cacian publik di media, Tablik Akbar di Sulawesi, Seminar di Bogor yang juga akhirnya memunculkan korban tertularnya covid-19. Tentu juga masih banyak kasus lain di mana polisi atau aparat keamanan harus menegur atau memperingatkan mereka. Kebodohan-kebodohan karena belum terbiasa dengan mengambil jarak dan menunda memang harus menjadi kenyataan pahit di situasi sekarang ini. Persoalan intinya adalah mereka juga harus menyadari bahwa bukan hanya keselamatan diri sendiri yang penting tetapi keselamatan pihak lain, namun itu belum mereka hayati.

Dengan covid-19 ini pemerintah akhirnya terpaksa juga membatalkan UN bagi anak sekolah. Ada yang senang (termasuk diriku) ada yang tidak suka karena mungkin uang proyek UN ini besar dan harus dilaksanakan, dan bagi murid yang sudah persiapan menjadi mubazir. Dalam hal ini aku berterima kasih pada covid-19 dan bukan hanya pada pemerintah. Di sisi lain, aku juga senang dan dalam hati berkata "YES", guru dan dosen dipaksa untuk belajar online bersama murid/mahasiswa. Ketika belum ada covid-19, betapa sulitnya mengajak guru paham dan melakukan bagaimana belajar dan mengelola pembelajaran online. Dengan sirtuasi ini seluruh komponen pendidikan dari yayasan, murid, guru dan pemerintah diarahkan untuk ber-online. Selain itu, yang lain adalah setiap individu dan komunitas diajak untuk hidup bersih. Cuci tangan, mandi, membersihkan dari virus kalau ada yang menempel di perabot apapun menjadi hal yang dipaksakan demi keselamatan. Protokol untuk keselamatan terhindar dari atau meminimalisasi virus ini menjadi penting. Kemanusiaan kita dipaksa untuk hidup kreatif dan bersih merawat kehidupan itu sendiri dengan kedatangan virus ini.

Lantas bagiku sekarang yang sedang merenung, aku melihat bahwa kedatangan virus ini membawa dampak seperti Durga Umayi. Di satu sisi dia adalah Durga, istri Dewa Siva yang merusak dengan kekuatan jahatnya. Di sisi lain, dia adalah Uma(yi), istri Batara Guru yang merawat, mengajak berbenah dan berubah membenahi, melahirkan tata kehidupan ini. Terlepas apakah virus ini buatan manusia entah karena keteledoran atau memang sengaja dibuat sebagai senjata biologis (jika menganut teori konspirasi), segala yang dibuat manusia atau yang ada dalam kehidupan ini selalu ada Durga-Umayinya. Yang dahulu secara konservatif, Gereja Katolik tidak membuat terobosan untuk misa online, pengakuan dosa dengan cara baru, sekarang dipaksa untuk mengubah cara itu. Guru yang konservatif selalu mengajar dengan cara lama, dipaksa untuk mengubah cara mengajarnya. Masih banyak hal yang diajarkan dari si corona ini dan tentu banyak aspek yang kiranya juga berdampak ke yang lain. Apakah si corona ini sedang mengajak kita berbenah dan berubah, walahualam, semogha si spesies manusia yang katanya homo sapiens ini mau berubah juga. Aku hanya mengutip apa yang ditulis Yuval Harari dalam refleksinya "the world after coronavirus": dia mengatakan bahwa dengan semua krisis ini dibutuhkan rencana global bersama. Kemanusiaan butuh pilihan. Apakah kita akan mengarah pada ketidakbersatuan atau memilih jalan solidaritas global? Jika kita memilih tercerai berai, ini bukan saja menjadi awal krisis, tetapi hasil dalam bencana besar di masa depan. Jika kita memilih solidaritas global, itu akan menjadi kemenangan bukan saja melawan virus corona tetapi juga melawan epidemi dan krisis masa depan yang mungkin merupakan serangan bagi bangsa manusia di abad ke-21 ini.


#Day of Silence, 2020#