Sunday, February 14, 2021
Homeless
Tuesday, February 2, 2021
Kekosongan dalam Kemegahan
Aku hanya mau membicarakan soal bagaimana bangunan kekuasaan dan religiusitas bercampur dalam sebuah narasi zamannya. Kemegahan itu sekarang berubah menemukan kekosongan maknanya. Pengalaman sepagi kemarin, aku hanya melihat dan mengikuti ibadah di sebuah bangunan di samping atau depan tempat tinggal yang kudiami. Hanya sepelemparan batu jauhnya. Jalan kaki hanya 5 menit saja. Aku sempat tak bisa dan tak tahu jalan keluar atau masuk karena satu dan lain hal, termasuk karena orang rantau yang masih harus belajar banyak soal jalan dan jalur. Kunci dan segala macamnya harus diatur sedemikian rupa sehingga aku bisa jalan keluar atau masuk. Ya, itu salah satu hal yang harus kupelajari juga. Menjadi orang (baru) itu harus banyak belajar dan mau belajar.
Kembali ke perasaan dan pikiranku yang meraba-raba dan merasakan suasana pagi kemarin. Aku merasakan betapa megahnya sebuah bangunan, di dalamnya banyak ornament. Musik yang mengiringi peribadahan itu terdengar megah dan meriah. Penyanyi koor hanya seorang. Umat yang mengikuti dan yang datang pun hanya kurang dari setengah dari kapasitas ruangan itu. Bagiku ini mempunyai makna tersendiri. Ada keanehan. Ada kekosongan makna. Ada yang "njomplang", tak sebanding dengan bangunan megah dan sakral karena sedikitnya hadirin, lagu yang tak dinyanyikan dengan megah semegah iringannya. Oleh karena itu, apa yang kuungkapkan di awal tadi menjadi sebuah konklusiku. Bahwa kemegahan pada zamannya dengan berbagai narasi yang ditorehkan menemukan kekosongannya di zaman ini karena berbagai hal. Aku mengiyakan bahwa saat ini orang-orang kulit putih adalah ras yang memang tidak lagi di puncak peradabannya. Orang kulit putih pada zamannya adalah raja penguasa planet biru ini. Bahkan aku mengakui keampuhan kekuasaan mereka yang bisa menguasai sebagian besar benua-benua di planet ini. Mereka datang bukan dengan personel yang banyak, namun dengan pemikiran mereka yang bisa mengatur tata dunia ini.
Dari bangunan yang megah dengan berbagai dekorasi itu nampak bahwa kemegahan pada zamannya memang menunjukkan betapa berkuasanya alam pikiran dengan segala macam sistemnya. Tempat ibadah atau gedung gereja yang menunjukkan kemegahan kekuasaan rohani dan duniawi tercampur dalam arsitektur yang megah dan sakral. Namun apa daya, saat ini narasi dalam sebuah bangunan megah dan sakral itu berhadapan dengan kekosongan (makna). Di sebagian besar benua biru ini, orang mulai jengah dengan kekuasaan Gereja. Orang mulai memisahkan diri dari kekuasaan rohani pemimpin Gereja dan memilih menjadi sekuler. Apa yang kuungkapkan di atas adalah cerminan dari semakin tersingkirnya narasi kekuasaan sakral dan megah itu dari zaman-zaman sebelumnya. Bisa dibayangkan bagaimana orang bisa membangun kemegahan basilika atau kastil-kastil di mana-mana tanpa sebuah kekuasaan rohani dan duniawi yang begitu besar dan kuat. Tentu di balik bangunan itu ada struktur kekuasaan yang besar juga. Di zaman ini, torehan itu tinggal tersisa dalam kemegahan yang (masih) bisa dinikmati dan dikagumi tetapi sudah tidak lagi banyak berbicara dalam arti kekuasaan.
Entah karena pandemi atau faktor lain, memang tempat-tempat ibadah menjadi sepi. Mungkin kalau di tempat pusat turisme religius ini, saat ini pandemi ini memang membuat menderita semua saja. Banyak turis tidak bisa datang untuk berbondong-bondong menikmati bangunan-bangunan masa lalu dan ritual-ritual yang ditata sedemikian rupa untuk kepentingan turisme dan atau kultisme. Hal lain yang mau kukatakan adalah pandemi ini makin menampakkan keaslian pribadi manusia yang saat ini harus dibatasi ritual dan mobilitasnya. Bisa jadi, dengan semakin tidak bebasnya manusia berkerumun atau berkumpul, makin kelihatan aslinya sifat manusia yang sebenarnya ada yang ngotot berkumpul dan tidak mau diatur. Ada juga yang semakin kelihatan sebenarnya tingkat religiusitasnya yaitu salah satunya mengatakan bahwa manusia itu bisa mengusahakan segalanya tanpa bantuan yang ilahi. Semakin dirinya terfasilitasi, semakin tidak ada lagi kekuasan yang bisa mengintervensi hidupnya. Nasib hidupnya ditentukan oleh usahanya. Religiusitas hanya sebuah peninggalan (relik) yang menampakan bahwa manusia masih takut oleh kekuatan di luar dirinya yang bisa mengintervensi dirinya. Namun ketika manusia sudah bisa mengerjakan berbagai macam hal, lantas apa itu religiusitas? Apa itu gunanya ritual? Apa gunanya bangunan megah dan sakral ketika kesakralan itu dibongkar oleh alam pikir sekular?
Bangsa kulit putih sudah berubah arah pikiran dan mentalitasnya. Dulu kekuasaan bercampur antara kekuasaan dunia dan rohani, lantas pada perkembangannya mereka merevolusi menjadi memisahkan antara keduanya. Alhasil makin merosotnya religiusitas dengan seiring perkembangan kemajuan teknologi dan kemakmuran hidup. Kemegahan di masanya dalam bentuk gedung-gedung dan berbagai bangunan menjadi kosong dan tak lagi berfungsi sebagaimana asalnya.
Akhirnya aku bisa merasakan sendiri bagaimana gedung-gedung megah dan sakral itu akhirnya ditinggalkan dan dibiarkan mengalami kehampaan. Bahkan di belahan dunia lain, itu dialihfungsikan sebagai tempat-tempat publik yang sekuler, tidak lagi menjadi pusat kesakralan. Ada yang jadi bar, restoran, tempat-tempat hiburan, dan sebagainya. Bisa dipahami bahwa kemegahan yang nampak dari luar dan ornamen dalamnya, tidak lagi menjadi pusat peribadatan yang mengagungkan religiusitas. Kemegahan pun sebenarnya kalau kita mau jujur dengan sejarah, banyak narasi skandal yang mengerikan.
Masih banyak narasi lain yang belum tertulis di sini. Tentu tidak harus semua dimuntahkan saat ini dan dalam waktu yang selalu singkat. Semua perlu pengendapan dan pemaknaannya.
#Buonaserra#
