Sunday, February 14, 2021

Homeless

Dulu ada istilah "Gepeng" alias gelandangan dan pengemis. Sepertiya istilah itu mulai hilang seiring dengan kemajuan dan kesejahteraan orang. Tidak punya rumah bukanlah sesuatu yang diinginkan sebagian besar orang. Namun ada jug aorang yang malah tak mau kembali ke rumah dan memilih hidup menggelandang. Gelandangan tidak memandang manakah negara miskin dan manakah negara kaya. Sepertinya keduanya punya gelandangan. Kalau di wilayah negara +62 malah ada gelandangan politik. Itu cerita lain. Aku tidak masuk ke sana. Orang mengataka bahwa si negara-negara miskin banyak gelandangan. Namun negara yang cukupan pun jug ada. Itu yang terjadi di sini. Aku melihat di depan rumahku sendiri juga da satu setidaknya yang selalu tidur di depan rumah. Karena hawanya dingin maka banyak kain dan selimut yang dibawa sehingga seperti dibungkus tubuhnya sampai tidak kelihatan manusianya. Ya, seperti kebanyakan gelandangan. Kadang kita merasa kasihan. Kadang kita merasa biasa. Ada pula yang merasa bahwa itu adalahsituasi yang tidak beruntung dan sebagainya. Kita semua mempunyai perasaan, persepsi, atau mengartikan sendiri-sendiri fenomena gelandangan itu.

Kadang orang mengira bahwa negara tidak mengurusi. Ada juga yang mengatakan bahwa dinas sosialnya tidak mengurusi. Ada pula yang mengatakan bahwa itu kan imigran asing. Bahkan ada yang mengatakan bahwa mungkin itu warga lokal yang memang memilih seperti itu. Aku tidak tahu pasti yang benar yang mana. Ada teman yang mengatakan bahwa ada situasi di mana orang lebih memilih menjadi gelandangan daripada tinggal bersama keluarga karena tidak ingin sebuah relasi kedekatan satu sama lain. Ada situasi di mana orang lebih ingin mengisolasi diri. Ada situasi di mana orang lebih suka hidup dengan seadanya dan meminta-minta, lalu tinggal di jalanan. Itu persoalan psikis. 

Di tempat publik memang kelihatan sangat mengganggu pemandangan. Tetapi di sisi lain banyak orang gelandangan yang diberi makan oleh orang lain atau bahkan yang berwenang di wilayah itu. Mereka lebih memilih menjadi gelandangan daripada hidup berkomunitas bersama keluarga. Memang ada keanehan dalam hal ini. Apa boleh buat mereka memilih sendiri. Itu adalah hak mereka. Tidak ada yang melarang, dan tidak ada yang mengganggu. Bahkan mereka tidak ingin diganggu. Katanya, setiap kali mereka dipulangkan ke tempat asalnya, mereka malah kembali ke jalanan. Menggelandang. 

Bahayanya memang, seperti yang pernah kutulis di beberapa waktu lalu, hal ini menjadi situasi yang justru malah membuat situasi serba ketergantungan. Artinya yang tidak punya rumah menggantungakan pertolongan dari yang punya. Yang punya membuat situasi ini menjadi langgeng sehingga terjadi lingkarang setan di situ. Pertanyaannya adalah apakah memang itu bagian dari kehidupan ini? Sepertinya gelandangan itu sejak dunia ini ada, maka mereka juga sudah ada. Sepertinya sejak manusia ada, gelandangan juga ada. Atau jangan-jangan kita manusia ini ada unsur "menggelandang"-nya dalam dirinya? Tidak mau bersama. Ingin hidup sendiri, tak mau diganggu? 

Ah, sore ini aku hanya menorehkan ide sekedar untuk mengusir dingin karena di luar banyak angin. Karenanya, aku ingat gelandangan yang pernah kufoto di depan rumah yang kudiami. "Apakah aku melawat mereka yang menjadi gelandangan dan memberi mereka tempat tinggal, kalau mereka pun tidak mau diberi apa yang dialami orang-orang pada umumnya?" Perkataan Yesus sepertinya tidak berlaku pada situasi yang terjadi pada mereka. Mereka menggelandang bukan karena tidak punya rumah tetapi memang tidak mau tinggal di rumah. Mereka memilih untuk menjadi gelandangan. Apa boleh buat.


#windysera#

Tuesday, February 2, 2021

Kekosongan dalam Kemegahan

Kemegahan tidak selalu menampakkan adanya isi atau kepenuhan sebuah hal. Saat aku beribadah di sebuah tempat yang bagi sementara orang itu megah tetapi bagiku aku merasakan kekosongan makna dari orang-orang yang sementara ini memakai tempat itu sebagai sebuah tempat ibadah. Memang di sebuah negara yang menjadi pusat peribadatan, saat ini di masa pandemi ini semakin disadarkan akan keaslian jati diri. Ada ungkapan demikian: semakin komunitas mayoritas orang-orangnya miskin, semakin religusitas itu berkembang; sebaliknya semakin mayoritas orang-orangnya kaya, maka religiusitas itu makin surut. Religiusitas berbanding terbalik dengan kemakmuran orang dalam arti materi dan berbanding lurus dengan kemiskinan dalam arti material/fisik. Kesakralan yang megah dibangun oleh kekuasaan yang juga kuat dan besar. Kesakralan dengan ornamen-ornamen artistik itu menunjukkan kekuasaan yang ada di sebuah bangunan peribadahan. Namun di balik itu semua, tentu kita perlu menyadari akan berbagai narasi yang timbul tenggelam dalam indahnya ornamen interior sebuah bangunan. Mungkin penampakan dari luar tidak seberapa karena sudah mulai kusam oleh polusi udara maupun perubahan cuaca. 

Aku hanya mau membicarakan soal bagaimana bangunan kekuasaan dan religiusitas bercampur dalam sebuah narasi zamannya. Kemegahan itu sekarang berubah menemukan kekosongan maknanya. Pengalaman sepagi kemarin, aku hanya melihat dan mengikuti ibadah di sebuah bangunan di samping atau depan tempat tinggal yang kudiami. Hanya sepelemparan batu jauhnya. Jalan kaki hanya 5 menit saja. Aku sempat tak bisa dan tak tahu jalan keluar atau masuk karena satu dan lain hal, termasuk karena orang rantau yang masih harus belajar banyak soal jalan dan jalur. Kunci dan segala macamnya harus diatur sedemikian rupa sehingga aku bisa jalan keluar atau masuk. Ya, itu salah satu hal yang harus kupelajari juga. Menjadi orang (baru) itu harus banyak belajar dan mau belajar. 

Kembali ke perasaan dan pikiranku yang meraba-raba dan merasakan suasana pagi kemarin. Aku merasakan betapa megahnya sebuah bangunan, di dalamnya banyak ornament. Musik yang mengiringi peribadahan itu terdengar megah dan meriah. Penyanyi koor hanya seorang. Umat yang mengikuti dan yang datang pun hanya kurang dari setengah dari kapasitas ruangan itu. Bagiku ini mempunyai makna tersendiri. Ada keanehan. Ada kekosongan makna. Ada yang "njomplang", tak sebanding dengan bangunan megah dan sakral karena sedikitnya hadirin, lagu yang tak dinyanyikan dengan megah semegah iringannya. Oleh karena itu, apa yang kuungkapkan di awal tadi menjadi sebuah konklusiku. Bahwa kemegahan pada zamannya dengan berbagai narasi yang ditorehkan menemukan kekosongannya di zaman ini karena berbagai hal. Aku mengiyakan bahwa saat ini orang-orang kulit putih adalah ras yang memang tidak lagi di puncak peradabannya. Orang kulit putih pada zamannya adalah raja penguasa planet biru ini. Bahkan aku mengakui keampuhan kekuasaan mereka yang bisa menguasai sebagian besar benua-benua di planet ini. Mereka datang bukan dengan personel yang banyak, namun dengan pemikiran mereka yang bisa mengatur tata dunia ini. 

Dari bangunan yang megah dengan berbagai dekorasi itu nampak bahwa kemegahan pada zamannya memang menunjukkan betapa berkuasanya alam pikiran dengan segala macam sistemnya. Tempat ibadah atau gedung gereja yang menunjukkan kemegahan kekuasaan rohani dan duniawi tercampur dalam arsitektur yang megah dan sakral. Namun apa daya, saat ini narasi dalam sebuah bangunan megah dan sakral itu berhadapan dengan kekosongan (makna). Di sebagian besar benua biru ini, orang mulai jengah dengan kekuasaan Gereja. Orang mulai memisahkan diri dari kekuasaan rohani pemimpin Gereja dan memilih menjadi sekuler. Apa yang kuungkapkan di atas adalah cerminan dari semakin tersingkirnya narasi kekuasaan sakral dan megah itu dari zaman-zaman sebelumnya. Bisa dibayangkan bagaimana orang bisa membangun kemegahan basilika atau kastil-kastil di mana-mana tanpa sebuah kekuasaan rohani dan duniawi yang begitu besar dan kuat. Tentu di balik bangunan itu ada struktur kekuasaan yang besar juga. Di zaman ini, torehan itu tinggal tersisa dalam kemegahan yang (masih) bisa dinikmati dan dikagumi tetapi sudah tidak lagi banyak berbicara dalam arti kekuasaan. 

Entah karena pandemi atau faktor lain, memang tempat-tempat ibadah menjadi sepi. Mungkin kalau di tempat pusat turisme religius ini, saat ini pandemi ini memang membuat menderita semua saja. Banyak turis tidak bisa datang untuk berbondong-bondong menikmati bangunan-bangunan masa lalu dan ritual-ritual yang ditata sedemikian rupa untuk kepentingan turisme dan atau kultisme. Hal lain yang mau kukatakan adalah pandemi ini makin menampakkan keaslian pribadi manusia yang saat ini harus dibatasi ritual dan mobilitasnya. Bisa jadi, dengan semakin tidak bebasnya manusia berkerumun atau berkumpul, makin kelihatan aslinya sifat manusia yang sebenarnya ada yang ngotot berkumpul dan tidak mau diatur. Ada juga yang semakin kelihatan sebenarnya tingkat religiusitasnya yaitu salah satunya mengatakan bahwa manusia itu bisa mengusahakan segalanya tanpa bantuan yang ilahi. Semakin dirinya terfasilitasi, semakin tidak ada lagi kekuasan yang bisa mengintervensi hidupnya. Nasib hidupnya ditentukan oleh usahanya. Religiusitas hanya sebuah peninggalan (relik) yang menampakan bahwa manusia masih takut oleh kekuatan di luar dirinya yang bisa mengintervensi dirinya. Namun ketika manusia sudah bisa mengerjakan berbagai macam hal, lantas apa itu religiusitas? Apa itu gunanya ritual?  Apa gunanya bangunan megah dan sakral ketika kesakralan itu dibongkar oleh alam pikir sekular? 

Bangsa kulit putih sudah berubah arah pikiran dan mentalitasnya. Dulu kekuasaan bercampur antara kekuasaan dunia dan rohani, lantas pada perkembangannya mereka merevolusi menjadi memisahkan antara keduanya. Alhasil makin merosotnya religiusitas dengan seiring perkembangan kemajuan teknologi dan kemakmuran hidup. Kemegahan di masanya dalam bentuk gedung-gedung dan berbagai bangunan menjadi kosong dan tak lagi berfungsi sebagaimana asalnya.  

Akhirnya aku bisa merasakan sendiri bagaimana gedung-gedung megah dan sakral itu akhirnya ditinggalkan dan dibiarkan mengalami kehampaan. Bahkan di belahan dunia lain, itu dialihfungsikan sebagai tempat-tempat publik yang sekuler, tidak lagi menjadi pusat kesakralan. Ada yang jadi bar, restoran, tempat-tempat hiburan, dan sebagainya. Bisa dipahami bahwa kemegahan yang nampak dari luar dan ornamen dalamnya, tidak lagi menjadi pusat peribadatan yang mengagungkan religiusitas. Kemegahan pun sebenarnya kalau kita mau jujur dengan sejarah, banyak narasi skandal yang mengerikan. 

Masih banyak narasi lain yang belum tertulis di sini. Tentu tidak harus semua dimuntahkan saat ini dan dalam waktu yang selalu singkat. Semua perlu pengendapan dan pemaknaannya.


#Buonaserra#