Wednesday, December 30, 2015

Berserah itu Tak Mudah

Bulan Desember ini rasanya diriku penuh dengan aktivitas. Awal Desember aku harus rapat ke Jakarta tetapi tepatnya di daerah Bogor. Kemudian, tiga hari selanjutnya perjalanan kami lanjutkan melintas katulistiwa, ke utara, yaitu Manila, Philipina. Di sana sekitar seminggu bersama rekan-rekan dari Asia-Pasifik untuk menjalani workshop. Ada orang Myanmar, Kamboja, Philipina, Indonesia, Hongkong, Vietnam, Haiti, Australia, perantau dari Argentina yang kerja di China, dan juga rekan dari Korea. Itulah kami yang berkumpul bersama menjalani perutusan bersama. Dua minggu sudah habis untuk kegiatan itu.

Seminggu di rumah, kerja sudah menunggu menandatangani raport anak-anak yang akan melaporkan ke orangtua mereka saat libur kali ini, libur Natal dan Tahun Baru. Saat kerja itu pun, aku merasakan pergulatan, mengapa rekan-rekan tidak dapat segera menyelesaikan dalam waktu yang tepat. Masih perlu ditunggu dan disapa. Aku sering merasa tidak nyaman di sini. Aku cenderung perfeksionis untuk hal ini dan harus tepat waktu. Yang, itulah bagian hidupku. Menunggu, dan menyapa.

Beberapa hari ini, dan itu yang kemudian kukerjakan, undur diri sejenak, melepas kesibukan. Aku semedi supaya masih ada "ruang" batin yang dapat diisi. Ruang batin yang sering terlupakan saat sibuk dan tersita perhatian dan energi di saat aktivitas. Itulah manusia. Aku di pulau dewata. Sekedar semedi sesaat karena memang aku perlu sejenak melihat hidupku, sejenak merasakan kembali jejak-jejak itu, ketika kaki menjejak bumi, nafas terus tertiup dan terserap. Semua sering mekanis tak tersadari.

Di penghujung tahun ini, kucoba memaknai hidup lebih berarti, walau hati kadang masih belum mau berhenti, menggulati duri dalam jati. Aku masih pribadi yang bergulat. Aku masih pribadi yang penuh kecewa. Aku pribadi yang masih penuh kekhawatiran, saat kepercayaan terluka karena diserang pencuri. Aku masih merasa semua harus terkendali. Tapi saat ini aku diajak untuk berjuang berserah walau itu tak mudah. Katanya harus berani berjiwa besar pun tak pelak harus melawan kekerasan hati yang terluka. Rasa percaya itu terluka. Rasa aman itu tergores. Itulah diriku saat ini.
Penuh ketidakpuasan dan kekhawatiran.

Kusadari akhirnya, berserah itu tak mudah. Itulah diriku saat ini. Kutuliskan ini di sebuah ruang, saat akhir setelah semedi, menyepi, yang berbeda waktu di mana aku tinggal. Kutuliskan ini sebagai pelengkap di akhir tahun. Kutuliskan ini sebagai lanjutan perjalanan kemudian.


* Di akhir sebenarnya juga ingin kuingat bersama hawa sejuk pegunungan sekitar gunung Agung dan gunung Batur. Bersama danau-danau di sana yang membawa berkat berlimpah bagi banyak orang. Hawa sejuk pegunungan Bedugul yang membantuku berdoa agar bisa belajar berserah. Bersama para petani sayuran dan peternak yang ada di sana, kulihat ketika aku berjalan turun naik sekitar 5 km pergi pulang agar tubuh tetap segar. Hawa dan udara yang memberiku berkah agar bisa berserah.




#sebuah ruang di pagi hari yang berbeda waktu sejam dari biasanya (Kuta)

Saturday, November 21, 2015

Percaya itu Indah?

Ah, sekarang aku tidak lagi suka dengan istilah itu. Bagiku sekarang menghadapi situasi di mana kepercayaan tidak lagi ada. Baik itu karena perkara kecil maupun besar yang ada di masyarakat, aku sudah muak dengan "percaya itu indah". Yang pasti "disbelieve" itu yang mewarnai diriku. Entah seberapa percent yang ada dalam diriku, tetapi sekali lagi percaya itu tidak mudah. Menjadi percaya diri saja tidak cukup bersekolah selama 6 tahun dari kelas 1 SD sampai kelas 6 SD. Bahkan sampai menjelang pergi ke liang lahat pun ada orang yang percaya dirinya kecil. Menjadi percaya pada orang lain apalagi, sangat susah. Percaya diri, percaya pada orang lain, dapat dipercaya, dan beriman, itulah terminologi dalam tulisanku ini.

Di saat-saat seperti sekarang ini, aku tengah merasakan "disbelieve" itu. Bahkan tesisku mengatakan bahwa selama masih hidup di dunia, tidak ada yang dapat dipercaya. Tesis kedua adalah tidak ada tempat yang aman di dunia. Semua serba tidak aman. Bahkan kalau mau menyimpan apapun bahkan mungkin lebih baik membuat "chip" yang disimpan di "cloud"-nya hati setiap manusia. Setiap pribadi pasti mempunyai ruang private yang tak dapat dimasuki siapapun selama belum ada "smart chip" yang dapat mendeteksi itu. Bahkan dalam film "Spectre", "smart blood" pun sudah ada. Teknologi ini dapat membuat orang dilacak di mana keberadaannya.

Bagiku, sebuah peristiwa kehilangan membuktikan bahwa tidak semua itu aman adanya. Memang ada sisi di mana kelemahan manusia adalah lupa, lalai, khilaf. Tetapi bahwa ada manusia atau pihak lain yang kemudian mengganggu, bagiku itu sudah merupakan penyebab adanya kehilangan. Orang mengambil dengan paksa dan tidak sepengetahuan yang empunya adalah sebuah pencurian. Akibat pencurian adalah kehilangan. Sudah banyak kisah-kisah kehilangan yang menjadikan korbannya tidak nyaman hidupnya.Apakah dengan demikian lantas mudah sekali mengatakan bahwa "percaya itu indah?" Tidak. Akhirnya yang harus disalahkan memang diri sendiri yang mengandaikan bahwa semua itu aman. Kehilangan orang-orang yang dicintai akibat perang atau kecelakaan atau bomb yang mematikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, semua itu merupakan luka anak manusia di dunia yang penuh ketidakamanan. Skenario apapun itu yang pasti adalah bahwa efeknya tidak mengenakkan dalam hati manusia. Baru kehilangan barang saja, kita sering kali marah dan kecewa. Kehilangan membuat hati tidak lagi nyaman. Hati selalu diselimuti kekecewaan, kepedihan, kemarahan. Lengkap sudah rasanya kalau mau membuat peperangan, mulailah dengan membuat sebuah kehilangan. Perang Dunia juga mulai dengan membuat suasana salah satu pihak adalah kehilangan, maka semua akan terjadi.

Tidak ada lagi "percaya itu indah." Yang ada kehilangan membuat peperangan. Kehilangan membuat tidak lagi percaya. Kehilangan membuat segala sesuatunya kacau dan menimbulkan niat yang tidak baik. Ada niat menangkap pelaku pencurian. Ada niat untuk balas dendam. Intinya membuat segala sesuatunya negatif. Hanya kekelaman dan rasa marah yang berkelanjutan. Efeknya bisa panjang. Efeknya bisa antar generasi. Mulanya dari kehilangan. Kehilangan yang menyesakkan. Kehilangan yang menyesakkan menimbulkan ketidakpercayaan. Ketidakpercayaan menimbulkan kemarahan karena balas dendam. Tidak ada "percaya itu indah." Yang ada, "Mari kita perang! TIdak ada lagi kepercayaan di antara kita!"

Itulah keterusikanku saat ini. Ketidakpercayaan karena suasana hati yang tak lagi percaya pada orang-orang di sekitarku. Percaya pun hanya berapa persen. Tidak percaya pada situasi di masyarakat. Apalagi ketika membaca orang-orang saling catut nama untuk mendapatkan keuntungan pribadi, dan gaya bicara dalam penyadapan itu demikian, "Freeport tetap jalan, kita bisa beli jet pribadi, happy-happy, golf". Belum lagi tragedi Paris 13 November 2015, tragedi Jumat kelabu, Friday the 13th. Semua dengan seenaknya mengambil nyawa orang lain yang sedang menonton konser dalam gedung pertunjukan. Mereka menembaki dengan senapan mesin. Mereka membawa bomb bunuh diri. Dan akibatnya nyawa orang lain terenggut dengan gampangnya.

Mengambil dan menyalahgunakan dengan paksa, itulah pencurian brutal. Jika itu terus terjadi memang dunia ini rasanya tidak nyaman, Sewaktu-waktu teror itu terjadi dimana-mana. Sewaktu-waktu pengambilan paksa itu berlangsung dengan enaknya, Sewaktu-waktu memang adanya rasa was-was dan khawatir. Sekali lagi, percayalah pada diri sendiri. Waspada untuk segala sesuatu itu yang terbaik. Tidak usah dan tidak bisa lagi kita mengandaikan akan segala sesuatunya. Believe none. Segala sesuatu perlu dicek ulang. Segala sesuatu perlu dikonfirmasi, bahkan dengan bukti fisik yang detail. Tidak bisa kita membiarkan kepalsuan itu berkembang karena kita terlalu lunak dan mengandaikan. Kita sering permisif atas segala yang ada. Membiarkan pencuri memasuki ruang privat memang kesalahan kita. Lebih salah lagi adalah membuat kesempatan dan peluang pencurian itu sangat bodoh. Trust nobody, believe nothing. Just believe yourself.


#Disbelieve#
Late Morning @my office

Friday, October 23, 2015

Memilih Orang

Komunitas kami sedang bekerja keras mewakili provinsi untuk sebuah lomba tertentu. Ketika kami sampai ke provinsi dan mendapat juara, maka konsekuensinya adalah maju ke tingkat nasional. Saat penilaian dan persiapan lapangan, kami biasa saja tidak terlalu ngoyo. Namun karena kami harus mempertahankan prestasi dan sudah mewakili provinsi saat ini, kami makin dicecar dengan banyak tuntutan. Salah satunya adalah bagaimana saat presentasi ke nasional, kami tidak seperti di lapangan. Presentator kurang sigap mempresentasikan bahan namun di sisi lain asisten kelihatan malah mengganggu presentator saat presentasi. Banyak hal terjadi di lapangan saat terjadi penialaian. Ada sisi kepentingan ini dan itu. Dan selalu manusia ada dalam  pusaran kepentingan.

Saat itulah, kami diminta untuk menukar/mengganti presentator ketika nanti maju ke tingkat nasional.  Perlu diketahui, kami memang memiliki kelemahan dalam hal personalia. Yang satu kelemahannya adalah pendengarannya. Yang lain adalah tidak bisa fokus dalam bekerja dan berbicara. Ketika di lapangan, yang presentasi adalah personil yang lemah pendengarannya, sehingga ketika juri menanyakan sesuatu, ia kurang dapat memuaskan juri dengan jawabannya. Pihak provinsi meminta saya untuk mengganti dengan yang personil kedua, namun dalam hati saya justru lebih memilih personil pertama walau ia lemah dalam pendengaran tetapi konsep dan dalam presentasi ia masih lebih menguasai. Jika yang diminta adalah yang satunya, kami khawatir justru malah akan merusak suasana karena ketidakfokusannya. Dalam situasi ini, saya banyak merenung dan kurang lebih selama sepuluh hari persiapan ini batin saya harus memutuskan sesuatu.

Awalnya, saya bergulat dengan kekecewaan karena presentator yang satu sudah persiapan dan ternyata ketika hari H malah tidak seperti yang dipersiapkan. Sedangkan ada kendala-kendala tertentu yang harus diperbaiki dan diperhatikan. Di sisi lain, ada tekanan dari provinsi untuk mengganti presentator yang satunya dengan yang kedua. Batin semakin tak karuan. Dua hari tak dapat tidur nyenyak. Saya harus cari pendapat dan meminta ide dari berbagai pihak, rekan, wakil-wakil dan sebagainya. Permenungan saya adalah jika saya mengganti dan menuruti pihak provinsi, sedang saya harus mengalah dari ego saya, saya tetap merasa tidak nyaan. Sedang kalau saya tetap memakai presentator pertama, saya tidak menuruti tuntutan provinsi. Hampir saya mengganti karena saya menemukan permenungan ini: "Bisa jadi saya harus rendah hati merelakan kepentingan diri saya karena ini bukan lagi kepentingan komunitas tetapi kepentingan provinsi." Namun di sisi lain saya masih belum tenang dan menerima karena saya condong memilih dan mantap dengan presentator awal dengan syarat diperbaiki dan dilatih keras untuk maju ke tingkat nasional.

Hari berikutnya ada telepon dari provinsi yang menanyakan kesiapan dan siapa yang akan maju presentasi. Nama yang saya berikan tetap yang pertama. Walau pada awalnya, kami akan melatih kedua nama itu dan dipilih salah satu yang lebih baik. Namun situasi mengatakan lain, karena kami harus menentukan dengan cepat siapa yang harus maju dan tiket segera harus dibooking. Akhirnya pihak provinsi saya beri penjelasan: "Kami tetap mempertahankan yang pertama karena pertama, kami yang lebih kenal siapa mereka; kedua, yang kedua memang sering lebih aktif saat di lapangan tetapi ia seorang pekerja dan bukan presentator (konseptor) yang dapat fokus merangkai idenya. Termasuk yang "merusak" presentasi awal adalah pihak kedua yang tiba-tiba intervensi." Ternyata alasan saya ini masuk akal dan kuat dan dapat diterima provinsi.

Akhirnya saya lega dan dinamika kemudian adalah persiapan. Kami merancang bahan presentasi. Bahan yang sudah ada diperbaiki. Cara presentasi diperbaiki. Saya harus berbicara secara pribadi dengan personil-personil yang bersangkutan termasuk membesarkan hati agar tidak jatuh mentalnya dan juga merasa tetap dilibatkan dalam proyek ini. Saat ini bukan lagi untuk iba dan "melo" tetapi justru menghadapi situasi real yang harus cepat.

Saya belajar bagaimana cura personalis, mengenal sisi pribadi, mengajak bicara dari hati ke hati dengan banyak pihak. Saya juga harus belajar rendah hati seandainya tuntutan provinsi masih bersikeras dengan penggantian pihak presentator. Di sisi lain saya juga belajar discernment, menentukan mana yang sebenarnya akan diperjuangkan. Akhirinya juga bagaimana usaha itu tetap dijalankan sekuat mungkin dan hati tetap pasrah (lepas bebas) nanti mau mendapatkan apa. It's meaningful for me because how to see the problem is the problem. Seperti doa Salomo saat harus memutuskan apakah akan membagi dua bayi yang diperebutkan itu atau seperti apa, ia hanya meminta kepada Allah hati yang bisa memahami, hati yang bijaksana sehingga dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Keputusan akhirnya menentukan hidup mati si bayi.



Evening @my room

Friday, September 25, 2015

Zona Nyaman

Siapapun dan apapun jika sudah terperangkap dalam "zona nyaman" maka akan mati. Ketika seseorang hanya hidup dalam kenyamanan diri, maka dirinya tak berkembang, setidak-tidaknya tak mau berkembang. Pengalaman ini sungguh kurasakan setahun ini bekerjasama dengan orang-orang dan lembaga yang ternyata sesuai usianya menular dalam cara bertindak dan berpikir orang-orangnya. Ini adalah sebuah kritik bagi diri sendiri dan tempat di mana aku bekerja dan hidup. Tak heran jika Karl Marx dan kawan-kawan yang disebut aliran kiri itu menghajar kaum "establish" dengan kritik pedas dan menyakitkan, tetapi dalam situasi kenyamanan memang orang selalu membuat benteng hidup dengan berbagai alasan untuk melindungi kepentingannya: tak mau diusik kenyamanannya.

Jika seorang guru memberi pelajaran artinya dia sendiri juga belajar bersama murid. Jika orangtua memberi wejangan, ia sebenarnya sedang berbagi hidup dengan anak-anaknya. Jika seorang pemimpin memberi arahan, ia sendiri sebenarnya sedang mengarahkan hidupnya. Jika seorang pembimbing retret membimbing retretan, ia sendiri sedang ikut retret bersama mereka. Intinya bahwa segala sesuatu yang kita ungkapkan keluar, sebenarnya adalah mengungkapkan apa yang ada dalam diri kita. Itulah yang tidak mudah tetapi bisa dilakukan. Guru tak sekedar menuntut muridnya ini dan itu tetapi dia sendiri juga harus menjalankan apa yang diungkapkannya itu. Guru tak sekedar mengajarkan soal kedisiplinan kalau ia sendiri tidak menjalankan dan menghayati. Guru tidak sekedar meminta anak mengumpulkan tugas jika ia sendiri tidak mengumpulkan administrasi (minimal) sebagai alat pembelajaran. Guru tidak hanya menuntut nilai baik dengan banyak tuntutan ini dan itu jika ia sendiri tidak membaca buku-buku sebagai seorang sumber ilmu anak-anak.

Di mana pun dan siapapun itu virus yang mematikan adalah "kenyamanan". Sebuah keluarga yang hanya berpatokan pada kenyamanan salah satu tatanan, maka keluarga itu tak melihat perkembangan anak-anaknya. Ada hal prinsip yang harus diajarkan dan dihidupi oleh keluarga. Misalnya, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Ketiga nilai dasar itu penting bagi hidup. Cara menghidupinya bisa berbeda-beda asal tidak menghilangkan prinsip yang ditanamkan. "Menyerang" kenyamanan itu memang tidak mudah. Harus ada gerak terpadu dari atas ke bawah atau sebaliknya. Harus dicari titik lemah dari kenyamanan itu di mana. Harus dicari titik ketidakimbangan itu dimana. Kita pun harus cerdik seperti ular dalam hal ini. Ada lembaga yang menerapkan caranya adalah dari sisi reward and punishment-nya. Tidak ada lagi honor-honor tiap kegiatan tetapi dialihkan kepada apresiasi kepada para guru yang mendampingi kegiatan dalam satu paket dengan gaji. Ada juga apresiasi jika guru datang rajin dan tidak terlambat, ada apresiasi khusus dari pihak lembaga. Sebaliknya guru yang sering datang terlambat dan "perokok" mendapat punishment, seperti potong gaji 15 % dalam bulan itu atau bulan-bulan di mana ia melanggar. Jika guru terlambat mengumpulkan administrasi, ada punishment lain lagi. Dari sini bukan soal reward and punishment-nya yang mau ditekankan, tetapi bagaimana zona nyaman itu dikikis dan orang menjadi berkualitas dalam bekerja dan siap sedia dalam menjalankan tugasnya. Tidak ada lagi giliran jatah dan itu selalu akan berulang dan berpola sama, yaitu guru atau karyawan menuntut ini dan itu jika ada yang baru.

Orang bekerja tentu ada tuntutan dan standar kerja tertentu. Jika tidak ada hal ini, maka yang terjadi adalah orang tidak dilatih untuk mencapai target yang ada. Pagi tadi aku melihat ada tulisan di papan skore yang sekaligus dipakai anak untuk papan pengumuman dan lagu di kapel. Tulisan di sebaliknya masih ada skor lomba basket. Sedangkan papan itu sudah beralih fungsi menjadi papan lagu di kapel. Dari situ aku hanya berpikir, ternyata anak tidak dilatih untuk kerja secara tuntas. Setelah mengerjakan yang satu, harus dibereskan sampai tuntas, dan baru pindah ke kegiatan yang lain. Ketuntasan ini belum menjadi kesadaran aktual dalam diri anak. Kesadaran intelektual mungkin sudah tetapi aktualisasinya belum. Dari cara bekerja dan bertindak anak, jelas dapat diambil kesimpulan bahwa cara bertindak dari pemberi latihan pun juga belum sampai pada kesadaran itu. Kesadaran konseptual (intelektual) perlu sampai pada aktualisasi diri bahwa kerjaku harus tuntas. Bagaimana KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) tercapai jika unsur yang minimal saja belum tercapai. Hal ini bukan soal mencapai nilai 70 atau 75 tetapi semangat dari 70 dan 75 itu artinya aku sungguh-sungguh mencapai standard kerja yang berkualitas 70 atau 75 itu.

Orang tentu akan banyak berkilah soal kedisiplinan atau konsistensi ikut ini atau itu karena patokannya adalah kepentinganku terakomodasi. Kedisiplinan itu mengesampingkan kepentingan. Konsistensi mengesampingkan kepentingan. Kalau doa pagi saja yang sudah dijadikan komitmen, ada beberapa yang tidak ikut, artinya ada komitmen-komitmen lain yang masih menjadi kepentingan diri daripada kepentingan dari kesepakatan yang ada. Oleh karena itu, hal yang mau kubenahi adalah mengevaluasi kerja kita yang sudah ada dari doa pagi, pengumpulan administrasi sekolah, kerja kepanitiaan, cara menangani sebuah kasus, keluhan-keluhan dari beberapa pihak, dan sebagainya. Tidak usah kita berbicara pada tataran kerja yang muluk-muluk dahulu. Yang pasti adalah niat membangun diri ke depan. Retret selama ini tidak pernah berdaya guna karena tidak menyentuh pada tataran dasar diri aktual, tataran dalam diri real. Yang disentuh hanya dalam tataran diri ideal.

Nah, ternyata dari rasan-rasan, merasakan, selama setahun ini, dan juga yang dirasakan sebagian orang yang masih merasa butuh perubahan, akhirnya kutemukan musuh sejati: ESTABLISHMENT, ZONA NYAMAN. Say NO to ESTABLISHMENT !!!


*Catatan: musuh ini tak mengenal umur, agama, jenis kelamin, golongan, suku dan sebagainya, Siapapun dan kapanpun virus ini dapat menjangkit ..... mengerikan!!!



Morning time @my office

Wednesday, September 2, 2015

Bungsu, Sulung, Bapa


Pernah melihat lukisan Rembrandt, "Return of the Prodigal Son?" Lukisan itu telah menjadi karya yang luar biasa, apalagi setelah Henri J.M. Nouwen membuat tulisan rohani yang mengupas akan lukisan itu. Tentunya bukan saja karena semata kehebatan lukisan Rembrandt tetapi juga karena tulisan Nouwen itulah aku mampu mengenali lukisan yang terkenal itu. Buku yang diterjemahkan pada tahun 1995 itu sebenarnya sudah aku baca pada tahun 1996. Setahun setelah terbitan dalam bahasa Indonesia. Aku lupa isinya semua tetapi yang aku ingat adalah kedua tangan yang memeluk anak bungsu yang kembali itu ternyata berbeda bentuk dan gayanya. Nouwen menuliskan demikian, " kedua tangan itu berbeda. Tangan kiri sang bapa yang sedang menyentuh bahu si anak bungsu begitu kuat dan berotot. jari-jarinya mengembang dan menutupi bahu dan punggung si anak hilang... Berbeda dengan tangan kanannya! Tangan kanan ini tidak memegang atau mencengkeram. Sentuhannya begitu halus, lembut pada bahu si anak bungsu. ia ingin membelai, mengusap, menawarkan penghiburan, dan kelegaan. Itulah tangan seorang ibu."


Bungsu

Dengan membaca dan juga mundur dari keramaian beberapa waktu lalu, diriku memang mengingat kembali bagaimana isi buku itu dan juga dinamika pertobatan sebagai manusia. Si bungsu yang bengal yang berkata:  “Saya adalah anak bungsu yang badung yang sedang dalam perjalanan pulang, menantikan sambutan Bapa.” Itulah kata-kata si bungsu yang bengal, yang meminta harta dari bapanya dan pergi ke tanah asing, menghilang entah kemana. Di sana ia berfoya-foya, bersama pelacur-pelacur. Hidupnya akhirnya "nelangsa", sedih, susah, dan akhirnya kelaparan. Uang dan harta dari bapanya sudah habis. Sebuah pengalaman pergi, "minggat", menghilang entah kemana. Pangalaman anak manusia yang memberontak dari rumahnya. Ada penolakan radikal dari si bungsu bengal yang juga menidak dari jati dirinya sebagai anak. Tindakan pergi berarti penolakan tanpa perasaan terhadap rumahnya tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Pergi ke negeri yang jauh berarti pemutusan ikatan yang mendasar dari sebuah cara hidup, cara berpikir dan cara bertindak yang telah diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi. Hal ini tidak hanya tidak menghargai tetapi juga merupakan suatu pengkhianatan terhadap nilai-nilai berharga yang ada dalam keluarga dan masyarakat.

Di sisi lain ia juga tuli terhadap bisikan cinta. Rumah adalah pusat keberadaan saya. Di situ saya dapat mendengar suara yang berujar,”Engkaulah anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan.” Suara itu datang kepada saya melalui orang tua, guru, teman-teman, dan yang paling utama melalui mass media. Suara itu mengatakan,”Tunjukkan kepada saya bahwa Anda adalah anak yang baik, lebih baik dari teman Anda. Saya berharap Anda berprestasi di sekolah. Tanda-tanda suara itu nampak dalam perasaan-perasaan yang muncul dalam diri saya. Kemarahan, dendam, iri hati, keinginan untuk membalas, nafsu, keserakahan, perselisihan, dan persaingan adalah tanda-tanda jelas bahwa saya meninggalkan rumah.


Ada pencarian ke tempat yang sebenarnya tak ia temukan yang ia cari itu. Selama saya senantiasa disibukkan oleh pertanyaan,”Apakah engkau mencintai aku?”, maka saya memberikan segalanya kepada suara-suara dunia dan menempatkan diri saya dalam perbudakan karena dunia ini dipenuhi dengan banyak “JIKA”. Dunia akan mengatakan,”Ya...saya mencintai engkau JIKA engkau menarik, pandai, dan kaya.”Perbudakan mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk menjelaskan masyarakat sekarang ini yang boleh disebut hilang. Perbudakan membuat kita terlekat pada hal-hal yang oleh dunia ditawarkan sebagai kunci pemenuhan diri: kekayaan dan kekuasaan, kedudukan dan kehormatan, mengumbar nafsu makan dan minum, dan pemuasan seksual tanpa membedakan antara cinta dan nafsu. 


Si bungsu sadar dan akhirnya bangkit, sadar bahwa di rumah bapanya banyak makanan dan tempat untuk tidur. Berbeda dengan tanah asing. Kesadarannya membawanya untuk melangkah, maju dan kembali ke rumah Bapa. Kesadaran dan niat menunjukkan pertobatan ke arah bapa kembali. Ia ingin meraih keputraannya kembali, martabat keputraan yang selama ini ia hilangkan. Kisah si bungsu adalah kisah kepulangan ke rumah bapanya. Road HomeMenerima pengampunan menuntut kesediaan penuh untuk membiarkan Allah memberikan kesembuhan, pemulihan, dan pembaharuan. Penyerahan diri yang sebagian akan menghasilkan pengampunan yang tidak penuh. Martabat sebagai anak tidak didapatkan. Yang didapatkan adalah status sebagai orang upahan. Sebagai seorang upahan, saya cenderung menjaga jarak, memberontak, menolak, lari, atau mengeluhkan upah.


Sulung

“Terus terang, saya tak pernah memikirkan diri saya sebagai si anak sulung. Namun, selanjutnya... untuk beberapa lama, mustahil bagi saya melihat diri saya sebagai anak bungsu lagi. Saya adalah si anak sulung, tetapi yang hilang seperti si anak bungsu, kendati saya senantiasa ada di rumah sepanjang hidup saya.” Dalam keluhan ini, ketaatan dan kewajiban menjadi beban, dan pelayanan menjadi perbudakan. (hl. 82). Si sulung adalah sang pengamat utama atas kepulangan si bungsu. Dalam mengamati kejadian di depannya, dia mengambil jarak. Dia memandang sang bapa tanpa secercah kegembiraan terpancar di wajahnya. Dia tidak mengulurkan tangan atau tersenyum sebagai ungkapan penyambutan kedatangan sang adik. Dia hanya berdiri di sana, di sudut panggung. Tampaknya dia enggan untuk tampil.


Ketika melihat si bungsu pulang, marahlah si sulung. Ia "ngambek". Ia merasa "apa-apaan ini semua! Ngapain bapa membuat pesta seperti ini, menyambut anak bengal yang sudah menghabiskan banyak harta, berpesta pora bersama para pelacur, dan sekarang pulang.!" Ketika pulang pun masih dipestakan, disambut dengan hangat, diberi pakaian dan sepatu yang terbaik, disembelihkan lembu tambun, dipanggil para penari dan pemain seruling. Melihat seluruh keadaan itu, semua menjadi kemarahan dalam diri si sulung.

Sulung adalah keirian. Sulung adalah sikap tidak gembira melihat si bungsu pulang. Sulung marah. Sulung tidak gembira. Sulung adalah representasi atas iri hati kita. Ada kekuatan gelap yang hebat yang senantiasa menarik saya  masuk ke dalam batin. Perasaan menyalahkan orang lain dan diri sendiri, mmbenarkan diri dan penolakan diri yang terus-menerus saling menguatkan bahkan dengan cara yang lebih buruk. 
Setiap saat saya membiarkan diri larut dalam perasaan itu, saya semakin tenggelam dalam pusaran penolakan diri (Nouwen, hl. 84)... Keluhan terus terjadi dalam diri saya. Tragisnya, sekali orang mengeluh, ia akan diseret kepada hal yang paling ditakuti, yaitu penolakan lebih jauh. Ada kekhawatiran bahwa diri saya akan disingkirkan lagi, bahwa seseorang tidak akan bercerita kepada saya, bahwa saya tetap tidak tahu segala-galanya.(hl. 85). Menjadi anak sulung dalam pengalamanku pribadi adalah anak yang harus memberi contoh teladan kepada adik-adiknya, menjadi panutan, menjadi penegak moralitas di rumah, menjadi sosok yang harus tegar, kuat. Sering inilah yang  menjadi beban hidup. Beban itu jika tidak hati-hati, akan menjadi belenggu yang mematikan, tak menjadikan diriku murah hati. Tak melihat orang lain yang juga mempunyai kelemahan. Aku mempunyai target dan tuntutan tinggi. Orang lain harus ikut diriku.

Si sulung kembali. Ia harus menyingkirkan segala persaingan dan iri hati menyingkir. Ia perlu hidup dalam penerimaan diri, tak lagi hilang karena iri hatinya.Harga dirinya memang dilukai secara menyakitkan oleh kegembiraan bapanya, dan kemarahannya menghalangi dia untuk menerima bajingan yang kembali itu sebagai saudaranya. Dia menjadi seorang asing di rumahnya sendiri. 


Bapa
“Tidak peduli apakah engkau si anak bungsu atau si anak sulung, engkau harus menyadari bahwa engkau dipanggil untuk menjadi sang bapa.” Inti dari lukisan Rembrandt sebenarnya adalah tangan sang bapa. Pada tangan itulah segala terang terpusat; pada tangan itulah mata para pengamat terarah; dalam tangan itulah berkat menjadi daging; melalui tangan itulah si anak yang kepayahan dan sang bapa yang penat mendapatkan istirahatnya. (hl. 112)... Sekarang saya ragu apakah dalam kehidupan ini sayamemang sudah cukup menyadari bahwa Allah sebenarnya mencoba menemukan saya, mengenal saya, dan mencintai saya. Pertanyaannya bukan "Bagaimana saya menemukan Allah" tetapi "Bagaimana saya membiarkan diri ditemukan oleh Allah." (hl. 122)...Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah sebuah cerita tentang cinta yang ada sebelum penolakan, dan tetap akan ada di sana setelah segala penolakan terjadi. Itulah cinta pertama dan abadi dari Allah yang sekaligus Bapa dan Ibu...Dalam melukiskan sang bapa, Rembrandt menawarkan sekilas cinta itu kepada saya. Itulah cinta yang selalu menyambut kedatangan kita. Itulah cinta yang selalu ingin merayakan kedatangan kita.(hl. 126).


Itulah sejenak permenungan di tempat sunyi bersama rekan-rekanku yang lain. Permenungan tentang kebungsuan, kesulungan dan kebapaan yang selama ini terjadi di dalam diri manusia. Kisah itu adalah kisah hidupku bersama sesama menuju pada Bapa sejati. Perjalanan ke Bapa sejati tak mudah dan memang di sanalah kita pun mengalami pergulatan batin itu. Itulah pertobatan hidup. 


*Road home. The road to repentance is the road to be back to heavenly Father. We often live like prodigal but also as the elder. We call also, in our way of life, to be father, who has mercy, love, generousity to accept ourselves. We are sinners yet called to be his sons.


#after noon time in my office#

Wednesday, August 19, 2015

15-08-15

Aku ingin menuliskan hal ini sudah beberapa waktu lalu. Tetapi baru malam ini kesampaian. Ada dua peristiwa menarik dalam tanggal itu. Supaya tidak kehilangan momentum, aku mencoba menuliskan hal itu. Setidak-tidaknya, momentum bagiku cukup berbicara. Jika orang lain tidak, bagiku ya. Peristiwa demi peristwa tentu terjadi dan terus akan berbagai macam ragam. Tetapi juga ada yang mengulang intinya. Sejarah dapat saja berulang. Prinsip sama tetapi mungkin luarannya yang berbeda. Peristiwa itu mungkin diamati oleh orang lain dapat dikatakan, "ah, itu mah biasa saja." Orang lain menyebut, "oh, baik, itu pantas diperhatikan." Tinggal bagaimana orang melihatnya, dari mana sudut pandangnya, apa kepentingannya. 

Bagi orang Kristiani khususnya yang Katolik, 15 Agustus adalah tanggal untuk memperingati Maria diangkat ke Surga. Bukan soal teologis njlimet tulisan ini. Bukan soal dogma. Bukan soal konsep. Bukan soal teori ini dan itu. Tulisan ini bukan mau membahas dan menguak diangkatnya Maria itu tetapi lebih hanya sekedar sharing pribadiku melihat 2 peristiwa yang terjadi di tahun 2015 ini. Khususnya di tempat berbeda yang hampir berdekatan. Satu di Ambarawa, kota Palagan itu. Satunya di Jogjakarta, kota Gudeg, kota Pelajar? Entah apa sebutannya sekarang. 

Apa sih dua kejadian itu? Koq tidak segera disebut? Yah, pertama, pemberkatan patung Maria yang tinggi megah di Gua Maria Kerep Ambarawa oleh beberapa uskup dan diikuti oleh ribuan umat yang hadir dalam perayaan pemberkatan patung itu. Kedua, pencegatan rombongan Moge alias Motor Gede oleh Elanto. Waktunya hampir bersamaan. Sore atau siang hari terjadi. Bayanganku lantas membandingkan dua peristiwa "besar" itu. Besar karena kubesarkan dalam tulisan dan memori peristiwaku. Kubayangkan waktu itu, setelah membaca berita dan mendengar percakapan di meja makan, karena saat terjadi 2 peristiwa itu, aku sedang berolah raga, sore hari keduanya terjadi. Di Ambarawa dengan kemeriahan dan kemegahan, misa berlangsung dan pemberkatan ternyata memakai crane untuk mengusung uskup yang memberkati patung ke atas karena tingginya 42 meter. Wow... aku hanya mengucap dalam hati. Aku mencoba mengkopi keterangan dari sebuah blog demikian: "Inilah Patung Bunda Maria tertinggi di dunia. Patung Bunda Maria Assumpta dibangun di Komplek Wisata Religi Gua Maria Kerep, Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dengan ketinggian 42 meter. Patung ini dibuat oleh seniman patung asli dari Ambarawa. Patung ini memiliki ketinggian 23 meter dengan  ketinggian penopang 19 meter yang apabila ditotal menjadi 42 meter."


Di satu sisi, sore itu aku juga mendengar dan melihat dari tempatku di pinggir jalan, deru Moge yang berkonvoi ke arah Jogjakarta karena hari itu menjelang tanggal 17 Agustus. Aku pikir ya mereka paling memanfaatkan momentum tanggal itu untuk konvoi atau touring kalau istilah untuk "mocil" (motor kecil maksudnya). Ternyata sore itu, Elanto mencegat konvoi Moge yang dikawal polisi (forider). Tepat di traffic light perempatan Condong catur ia berhasil "menyetop" kawanan konvoi Moge itu yang ternyata mau berkumpul mengadakan gathering di Prambanan. Ia sempat beradu argumen dengan salah satu pengendara Moge. Ia juga selalu menyerukan, "Stop, berhenti! Merah, pak! Stop!" Itu yang kelihatan di youtube. Ia mencoba menggugat polisi. Ia mencoba menertibkan yang selama ini seharusnya terjadi. Ia mencoba memperjuangkan pelaksanaan peraturan di jalan raya. Yang ia perjuangkan hanya hal biasa yang "mendadak" menjadi seperti luar biasa. Ia ingin semua dihargai, dihormati di jalan raya. Jika motor dan mobil saja harus taat aturan, mengapa Moge yang konvoi harus diperlakukan khusus? Apa karena mereka membayar pengawalan? Ia selalu mengatakan "kita juga bayar pajak, pak!" 

Kiranya dengan peristiwa yang dimunculkan Elanto ini kita semakin disadarkan akan penghargaan dan hak dasar manusia: saling hormat akan keberadaan dan perilaku di tempat publik. Ada yang mengatakan dalam nada sinis: "Yah, pencegat itu kan iri saja karena gak bisa membeli Moge". Persoalannya bukan iri hati tetapi rasa keadilan yang dilecehkan. Tentu ada rasa tak diperlakukan semestinya. Ada pengkhususan bisa dimaklumi tetapi mengapa itu hanya pada kalangan orang berduit, orang kaya?

Koq rasanya jauh sekali dengan sebuah bacaan yang kurenungkan pagi harinya: "... Perkasalah perbuatan tanganNya: dicerai-beraikanNya orang yang angkuh hatinya. Orang berkuasa diturunkanNya dari tahta; yang hina dina diangkatNya. Orang lapar dikenyangkanNya dengan kebaikan; orang kaya diusirNya dengan tangan kosong..." Sepenggal kidung Maria, Magnificat. Ya, Maria yang patungnya sedang diberkati para uskup. Ya, Maria yang dipuja-puji kalangan Kristiani, khususnya Katolik. Kidung  revolusioner dari seorang Maria, yang ditulis Lukas. Kidung seorang kecil yang mendamba kekuasaan yang ilahi mengalahkan kebatilan. Kidung yang mengajak umat manusia untuk tetap tabah setia menjalani kehidupan yang serba berjuang dan berhadapan dengan kekuatan-kekuatan kekuasaan yang kejam dan rakus. Keperkasaan manusia bukan pada dirinya sendiri namun pada kekuatan ilahi yang menaungi dirinya. Itu Kidung Maria, kidung orang kecil, papa miskin. 

Sedang yang terjadi, Moge dengan membayar polisi dapat perlakuan khusus menerjang lampu merah.  Maria, sang orang kecil dengan kidungnya yang melawan kekuasaan, kadang tidak lagi dihormati sebagai orang kecil namun dibesar-besarkan demi kepentingan modal semata, jika tidak hati-hati. Orang kaya, orang yang mempunyai banyak kepentingan, sehingga bisa apa saja, sering tidak peka dengan lingkungan sekitar. Tulisan ini hanya mau berbagi keprihatinan ketidakpekaan manusia di antara manusia yang lain. Sayang jika Maria hanya dijadikan proyek mercusuar dengan mengatasnamakan kesucian, tokoh agama, dan sebagainya. Kebesaran Maria justru ada dalam kesederhanaannya. Ia tidak dapat membeli karena miskin dan tak dapat dibeli karena keagungannya. Ia besar karena ia seorang miskin dan kecil. Elanto mewakili ketertindasan masyarakat yang rasa keadilannya terusik oleh perlakuan khusu aparat kepolisian yang mengawal motor gede yang mahal dan jarang dipakai di jalan kalau tidak ada acara khusus bersama komunitas mereka. Inilah keangkuhan itu, inilah kesombongan itu. Manusia ingin diakui kebesarannya di antara manusia lain. Inilah kisah menara Babel untuk kesekian kalinya. Aku tidak rela Maria dijadikan menara Babel di zaman ini. Banyak masyarakat dan umat berbeda pandangan. Banyak orang miskin yang masih ditipu dengan omong suci saja. Tetapi tidak bisa ditipu kalau sudah menyangkut harkat mereka sebagai orang miskin, yang lapar, yang butuh sesuatu, dan jika tidak hati-hati disulut akan membakar apapun di sekitarnya. Kepekaan terhadap keberbedaan liyan dan saling menghormati lebih jauh akan membantu kehidupan ini. Hidup lebih nyaman dengan kesederhanaan.

Simple is better. Demikian kata Paus Fransiskus. Mari kita hidup bersama dalam keberagaman dan kepekaan satu dengan yang lain. Itu saja pesan tulisan ini. Simple saja.



*Arrogance. It is about how to make myself look better, higher, richer, more powerful than others. But not that attitude we need in our life. We need to live humbly. As we learned from Mother Mary, she is humble mother who become a Mother of God. She became a queen because of her simplicity.



#evening in my room#

Tuesday, August 11, 2015

Hilang

Menghilang tanpa izin, itulah yang terjadi beberapa hari lalu. Seorang anak "nyangkut" ke tempat kakeknya di sebuah desa. Alasannya sederhana, "Kalau aku harus izin dan bilang Pamong, maka akan tidak diperbolehkan." Anak itu sudah tidak krasan tetapi tidak mau bilang ke Pamong. Bahkan tidak pernah bilang. Ternyata dalam diamnya itu, ia merancang taktik untuk keluar dan  akhirnya menghilang untuk selanjutnya pamit memutuskan tidak mau meneruskan perjalanan di asrama. Hidup ini adalah perjuangan. Hidup adalah peziarahan. Hidup memang menantang dan penuh tegangan. Karena itulah aku hidup. Karena itulah kehidupan itu penuh dengan berbagai tawa, kesedihan, pengkhianatan, kekecewaan, kehilangan, kemurungan, tetapi juga ada yang sebaliknya: berani berjuang, tertantang, tergugah dan tergugat. Maukah berjalan?

Sudah ada tiga anak belum sebulan ini yang jebling karena tidak krasan. Ada yang melihat memang motivasinya rendah. Ada yang memang motivasinya dari orangtua. Ada yang karena sudah terbiasa terfasilitasi di rumah ketika melihat kesederhanaan di asrama ini, lalu hatinya ciut dan memutuskan kembali ke zona nyaman sebelumnya. Bagiku ini sekarang adalah soal kesanggupan untuk berpindah. Pindah dari zona nyaman dalam hidup dan berpindah, menyeberang ke zona yang tidak nyaman dengan satu alasan, menjadi pejuang yang harus berziarah.

Mungkin waktu dulu belum pernah ada pikiran seperti anak-anak zaman ini yang makin kompleks dan canggih pemikirannya. Apalagi fasilitas hidup sangatlah melimpah. Fasilitas membantu orang hidup mudah. Fasilitas tak menantang orang berjuang. Fasilitas menjadikan orang pandai berpikir untuk mendapatkan kemauannya. Dari asrama penuh perjuangan, daripada tidak krasan, hati terus bergulat, kalau bilang ke Pamong pasti akan diulur-ulur, maka escape saja dari kelompok dan bilang kepada rekan-rekannya bahwa "kalau sampai jam 07.00 malam aku belum kembali, jangan cari aku. Aku tidak akan bersamamu lagi." Sebuah keputusan sudah dibuat. Mungkin ia akan menjadi pejuang di luar sana dengan hati yang teguh. Mungkin tempatnya memang bukan di sini. Aku hanya berharap saja.

Aku hanya membayangkan waktu itu, dalam kehidupan yang serupa, aku tak kepikiran akan menghilang atau escape atau lari bahkan. Yang ada dalam diri rekan-rekan dan aku sendiri paling hanya menangis saat kesepian, tak krasan dan memang ada temanku yang menangis di pojok kamar tidur. Dia tak krasan. Baru seminggu ia akhirnya pulang. Tak seperti awal nafsu menggebu, kemauan tinggi setingkat dewa. Ketika menjalani realitasnya, ternyata penuh perjuangan. Namun demikian, yang mampu merasakan didikan ketidakmapanan, keterasingan, kegundahan, ketidaknyamanan, kini aku merasakan rahmat itu ada di sana.

Aku dapat merasakan Pamong yang kehilangan. Saat ini aku berada dalam posisi yang merasakan kehilangan. Sama seperti kisah domba yang hilang, pemilik atau gembalanya sampai harus mencari sampai ketemu dan ketika ketemu, ia sangat bergembira. Ditemukannya yang hilang, walau tak akan kembali pun setidaknya sudah ayem. Merasa tenang karena setidaknya, ia bisa ngaruhke, melihat sendiri, dan tidak meninggalkan. Setidaknya ada kehendak, niat bahwa si empunya tidak membiarkan pergi begitu saja. Tidak membiarkan dombanya hilang.

Memilih hidup jauh dari keluarga memang tidaklah gampang. Pilihan dengan segala komitmen dan konsekuensinya hanyalah bagi orang dewasa. Orang dewasalah yang mau menghidupi kehidupan yang tidak nyaman. Ketidaknyamanan bukan berarti kesengsaraan. Ketidaknyamanan adalah bagian dari kehidupan ketika orang harus menyeberang. Ketika pengalaman menyeberang itu menang, ia menjadi pribadi yang menempuh jalan keluaran, exodus. Seperti bani Israel keluar dari Mesir, mereka pun harus bergulat 40 tahun lamanya. Musa yang memimpin pun tak sampai tanah terjanji. Di Masa dan Meriba pun mereka memberontak dan protes kepada YHWH. Pelajaran dan didikan YHWH saat exodus itulah yang menjadikan mereka bangsa yang teruji.

Tak bisa orang hidup hanya lari dari masalah. Tak mungkin orang hidup hanya memilih yang nyaman. Tak bisalah orang hidup hanya berdasar kesukaan. Tidak semua itu dapat kita pilih dan kontrol. Ada kalanya hidup kita sangat ditentukan orang lain atau kondisi atau situasi di luar batas kendali kita, dan kita harus menjalaninya. Itulah kiranya didikan saat merenungkan situasi anak menghilang dan Pamong kehilangan.



*Sometimes, we live just like the prodigal. We lost. We escaped from our problem. But actually, we have to face it till we can find ourselves.


#Evening in my room#

Tuesday, July 7, 2015

Menunggu

Hari kemarin, isi hariku adalah "menunggu". Ke Dinas yang semula janjian jam 09.00 diundur jam 10.30. Setelah datang ke kantor Dinas, ternyata sampai sejam kami tidak ketemu pihak yang sudah janjian. Rasa dongkol dan kecewa tentu mewarnai atmosfer diriku. Aku paham bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan, membuat tidak nyaman, selalu tidak sabar. Itulah yang selalu aku alami. Menunggu, menunggu, dan menunggu. Kuakui aku paling tidak suka. Malam hari, ketika aku menunggu juga demikian. Itu hanya telepon. Tetapi karena "menunggu, menunggu, dan menunggu", aku pun jadi tidak nyaman. Pagi pun demikian. Sudah seperti "penjaga merindukan pagi", demikian juga aku menunggu. Itu hanya telepon. Namun telepon yang kutunggu tak kunjung datang. Lupa ternyata. Aku mencoba sabar, memahami. Itu saja. Walau sebenarnya ada kekecewaan karena menunggu, menunggu, dan menunggu.

Aku belajar untuk sabar. Aku belajar untuk mencoba memahami situasi menunggu. Aku memahami situasi yang akhirnya aku sendiri tak kuasa mengontrolnya. Aku sendiri tidak seluruh perjalanan hidupku bisa aku kuasai. Ada saat di mana aku ditentukan oleh orang lain. Aku mencoba memahami bahwa kelupaan pun akan menentukan hidup orang lain. Ketika ibu lupa menanak nasi, maka anak-anak dan anggota keluarga kelaparan. Ketika direktur lupa menggaji pegawai, akan ada demo dan protes menuntut gaji. Ketika seorang guru lupa menilai pekerjaan muridnya, maka murid akan protes dan menuntut adanya nilai, demikian orangtua, dan komuitas sekolah menuntut dia mengerjakan penilaian dan sejarah nilai yang harus diberikan.

Menunggu adalah sebentuk pekerjaan. Menunggu artinya menuntut tanggung jawab orang lain yang kita tunggu. Menunggu artinya juga menuntut keikhlasan dari pihak diriku untuk menyediakan waktu dan kesabaran. Waktu dan kesabaran tentu ada batasnya. Batas itu bisa hitungan jam. Batas itu bisa kenyamanan dan adanya tanggung jawab lain yang harus dikerjakan. Artinya kita pun ditunggu oleh tanggung jawab lain di depan sana.

Lantas aku mencoba merenung. Kenapa aku menjadi tidak sabar ketika menunggu dan aku harus tepat waktu. Aku ingat masa kecilku. Aku ingat kebiasaan yang dibangun dalam tubuhku. Kebiasaan itu dibangun oleh orangtuaku. Aku diajak untuk tepat waktu dalam segala hal. Ada perasaan tidak nyaman, malu, dan kurang bertanggung jawab kalau aku tidak dapat tepat waktu. Ketika aku harus membayar uang sekolah, orangtua memberiku maksimal sehari sebelum batas akhir pembayaran. uang itu harus dibayarkan pada hari aku diberi. Ketika raport sekolah kuterima, orangtua harus tandatangan pada hari itu juga. Kebiasaan kecil yang membekas. Aku tidak boleh terlambat. Datang sebelum acara dimulai. Pulang setelah acara sungguh selesai. Itu saja. Dari kebiasaan yang terbangun itu ternyata aku menjadi pribadi yang saat ini kurasakan. Ketika acara selalu molor, aku akan tidak nyaman duduk menunggu. Ketika rapat Dinas undangannya jam 09.00 tetapi baru mulai pada jam 10.30, aku sangat kecewa. Kekecewaan menjadi warna hari itu. Aku masih ingat ketika kuliah, toleransi keterlambatan dosen dan mahasiswa hanya dihitung dalam waktu 15 menit. Selebihnya mahasiswa dapat keluar dari ruangan dan membubarkan diri. Artinya tidak ada perkuliahan. Demikian juga dosen dapat menolak mahasiswa yang datang lebih dari 15 menit dari mulainya perkuliahan.

Ada baiknya dan ada tidaknya. Baiknya aku dilatih bertanggung jawab karena kedisiplian (waktu) adalah salah satu indikator tanggung jawab. Jeleknya adalah bahwa dari sisi psikis, aku tidak tahan menunggu. Aku menjadi kurang sabaran. Semua ada pro dan kontranya. Aku sadar bahwa kemungkinan besar adalah kelemahan dan kelebihan selalu akan ada dalam diriku. Dan itu akan berjalan beriringan. Aku pun berterima kasih kepada orangtuaku yang sudah menanamkan kebiasaan tepat waktu. Aku pun bersyukur atasnya. Namun juga yang namanya tanggung jawab tentu juga perlu dirawat. Ya, dari menunggu, aku melihat ke belakang ternyata ada pengalaman "pembentukan" diriku.



*This is me. When I have to wait, I can't take it. I realize that in the past I was habituated by my parent to be punctual. It formed me to be punctual too. I can't tolerate someone who can not be punctual when he/she make appointment with me. 



#morning in my office#

Tuesday, June 9, 2015

Parkland

Tadi malam aku menonton untuk kedua kalinya film tentang pembunuhan JFK. Selalu yang aku tonton adalah potongan tengah sampai akhir. Awalnya aku selalu tidak menonton. Dalam menonton yang kedua kalinya, aku merenung dan mengamati film itu dan selalu bertanya mengapa "Parkland". Sebelum tahu persis bahwa itu nama tempat dan juga Rumah Sakit di mana jasad JFK dikirim pertama kali setelah penembakan itu, ternyata juga jasad pembunuhnya Oswald juga dikirim setelah ditembak, dua hari setelah penembakan Kennedy. Itulah Rumah Sakit Parkland, Dallas Texas.

Kesan dari penonton yang sudah berjarak waktu dan ruang ini hanya menyaksikan alur yang diangkat dalam film itu mencoba melihat detail bagaimana seorang presiden, orang nomer 1 di Amerika Serikat pada waktu berhasil ditembak dan dibunuh. Pengawal presiden pun tak berhasil mengawal alias menyelamatkan dan akhirnya kehilangan orang yang dikawal. Perdebatan sengit terjadi dalam film itu, walau tidak diungkapkan dalam nada percakapan. Tetapi dalam adegan sungguh dinampakkan bagaimana kegagalan tim pengawal presiden dan pengawal pribadinya pun  tidak berhasil menyelamatkan nyawa yang seharusnya dikawal dan diamankan.

Selain itu, tim medis, dokter dan perawat di Parkland Hospital pun tak kuasa mengembalikan nyawa presiden, orang nomer 1 di Amerika karena tembakan peluru itu. Dokter dan tim medis berusaha untuk menyembuhkan, mengeluarkan peluru, memompa jantung, dan menyadarkan JFK yang sudah tergeletak karena tertembak bagian kepalanya. Perawat pun akhirnya memohon agar segera memanggil pastor untuk perminyakan. Jacky (istri JFK) hanya bisa menyerahkan serpihan tulang kepala yang tercecer karena tembakan dan tertangkap tangan istrinya kepada perawat.

Tepat jam 13.00 waktu Dallas, JFK dinyatakan meninggal. Seluruh Amerika dan dunia kehilangan salah seorang pemimpin dunia. Namun sebelum jasad JFK diterbangkan ke D.C. masih ada insiden antara pengawal presiden yang akan segera menerbangkan peti jenasah itu dengan petugas forensik kepolisian federal Texas. Adu mulut pun terjadi. Pihak kepolisian Texas mempunyai wewenang untuk mengotopsi dahulu jasad jika ada pembunuhan di wilayahnya. Sedangkan pengawal presiden beralasan ini soal kemendesakan dan keamanan, maka jasad presiden tidak harus menginap lama dengan harus menunggu otopsi. Perdebatan sengit antara otoritas lokal dan pusat terjadi di situ. Yang akhirnya memang dimenangkan pusat dalam situasi darurat seperti itu. Bahkan ketika petugas yang ada di pesawat Air Force One pun bingung mau ditempatkan di mana peti yang berisi jasad presiden mereka, karena di kabin pesawat tidak ada space yang cukup untuk peti. Oleh karena itu, mereka langsung mengambil atau mencopot kursi penumpang sehingga ada ruang untuk peti. Bahkan ketika menaikkan peti pun karena pada waktu itu belum ada alat mekanis untuk menggotong, maka petugas-petugas menggotong peti yang berat itu naik tangga dan merusak pintu dalam sehingga peti dapat masuk. Sebuah pemaparan film yang luar biasa karena menampakkan detail bagaimana orang mati harus masuk ke dalam sebuah pesawat, lantaran tidak tega harus dimasukkan dalam bagasi.

Tulisan ini bukan mau meresensi film itu. Aku hanya mau melihat dari kacamataku tentang peristiwa itu. Peristiwa pembunuhan seorang pemimpin memang tidak hanya terjadi pada diri JFK. Beberapa pemimpin dunia juga mengalami kejadian serupa dengan cara berbeda. Tercatat dalam memoriku: Julius Caesar, Abraham Lincoln, Franz Ferdinand dari Austria, Mahatma Gandhi, Indira Gandhi, Benazir Bhuto. Itulah nama-nama yang masih dapat diteruskan daftarnya. Motivasinya macam-macam, dan aku tidak akan mengupasnya. Aku hanya menuliskan sebuah kesan dari apa yang kulihat semalam. Bisa jadi karena pertarungan politis. Bisa jadi karena sentimen pribadi. Bisa karena konspirasi ini dan itu. Ahh...aku tidak mau memasuki wilayah itu.

Di sisi lain, pemandangan sepi adalah pemakaman Lee Harvey Oswald, yang dituduh membunuh JFK. Ia sendiri dibunuh oleh Jack Ruby ketika akan dipindah ke penjara lain. Hanya ada kakaknya Robert Oswald, ibunya, istri Lee dan anak-anaknya yang masih kecil. Di makam itu, ada pendeta, petugas keamanan dan petugas makam yang sebenarnya juga agak sungkan mengangkat peti Lee, "si pembunuh". Beberapa jurnalis yang meliput pun akhirnya diminta Robert untuk membantunya mengangkat peti dan memasukkan dalam liang kubur. Petugas makam yang hanya berdua akhirnya membantu Robert menutup liang kubur dengan tanah urugan yang ada. Sebuah kejadian yang tragis di mana ada pemakaman yang sungguh sepi ketika Lee Oswald dikubur dan di sisi lain, di Washington D.C, berjuta orang kehilangan mengiringi pemakaman JFK.

Itulah tragedi Parkland, bagiku mempunyai arti lain, bukan sekedar nama sebuah Rumah Sakit tetapi Parkland adalah lahan parkir, tempat orang memarkir diri, tempat orang beristirahat, bahkan istirahatnya yang terakhir. Masih ada di sana ironi. Ironi di mana ada yang kehilangan dan ada yang menolak, menyingkiri. Parkland membawaku pada sebuah peristiwa hidup bahwa tidak dibenarkan bahwa nyawa seseorang dihilangkan dengan cara apapun. Tetapi peristiwa politik membenarkan kadang. Itulah hidup. Kadang ada hal-hal yang tidak dapat dikendalikan oleh kehendak kita. Dan di saat-saat kritis, kita baru tahu ada sebuah kebenaran yang tak terungkap (terispirasi oleh ungkapan Ignacio Ellacuria SJ, yang terbunuh di El Salvador).



#Morning in my office#




* in sense of death, every one faces something unpredictable, unspoken, ironic, absurd. But it is life, and death, as Homer said: “There will be killing till the score is paid."

Saturday, May 30, 2015

Hasil

Orang lebih akan melihat hasil daripada proses. Hasil dapat dilihat dengan mata, dirasa dengan lidah, dijamah dengan tangan. Banyak kejadian yang menginspirasi hidupku melihat dan mengamati orang berkomentar, orang mengeluh, orang berbicara, orang menghujat, dsb. Bukankah masyarakat kita juga demikian? Hasil itu selalu menjadi rujukan atau patokan. Presiden atau pimpinan sebuah komunitas akan dilihat "hasil" memimpinnya selama 100 hari pertama. Apa yang dia buat? Bahkan belum ada setahun saja orang sudah jengah menuntut hasil yang baik, lebih baik, atau paling baik. Itu pun dengan embel-embel kepentingan mereka (walau tidak dikatakan). Perlombaan demi perlombaan dalam hidup selalu akan memberi semangat. Orang sekali lagi akan mengejar itu. Khristo Soijkov, pemain sepak bola terkenal dari Bulgaria, mengatakan, "Aku suka kemenangan karena dunia suka akan kemenangan." Aku selalu terngiang kata-kata itu.

Aku pun akan melihat hal yang sama jika kepentinganku tak terpenuhi atau setidaknya tidak sesuai harapan. Mengapa hasilnya tidak memuaskan? Apa ada sesuatu yang salah? Demikian juga dengan hasil Ujian Nasional tahun ini. Pertama, hampir merata bahwa para guru mengeluh akan menurunnya hasil UN 2015. Kedua, nilai ini adalah nilai asli, orisinal, tak "diolah" terlebih dahulu di pusat seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada kebagahagiaan karena nilai itu nilai asli dan tidak dipermak. Ada kesedihan karena mutu pendidikan dilihat dari salah satu indikator asesment (penilaian) ternyata sangatlah tidak membanggakan.

Dari hasil ini aku punya ide ke depan. Ternyata PR besar ada di tangan kita, yaitu apakah kita mau serius untuk mengelola bidang scientia ini bagi kepentingan anak bangsa ini? Artinya, para guru tidak hanya mengajar di kelas dengan standard normal tetapi sungguh mendampingi, mengajak, memotivasi anak supaya lebih sadar akan hidupnya, sadar akan kemampuannya. Hasil walau itu hanya sebuah akibat dari apa yang dikerjakan namun penting bagi masa depan. Sekali lagi, aku tidak terlalu mementingkan hasil jika proses yang dilalui oleh guru dan murid itu sudah benar dan optimal. Jika salah satu masih timpang, aku berani menilai kita kurang optimal. Totalitas dalam kerja dan belajar sangatlah perlu. Seperti yang dikatakan oleh seseorang yang pernah memberi masukan kepada kami, "Jika kita melakukan segala sesuatunya berdasarkan atas kesenangan diri kita, itu artinya kita masih kanak-kanak." Dengan kata lain, kedewasaan seseorang akan terlihat dari apa yang dikerjakan itu bukan sekedar atas kesenangan belaka. Orang dewasa akan mengerjakan segala sesuatunya karena ikatan tugas atau atas dasar komitmen atau memang kita tak bisa menolak. Itu dijalaninya dengan sepenuh hati walau tentu ada pergulatan, kebosanan, kemalasan.

Tidak dapat sepenuhnya para orang dewasa menyalahkan anak-anak. Biasanya yang terjadi adalah orangtua menyalahkan anaknya karena tidak seperti dia dahulu. Bahkan oleh Maria Montessori dikatakan bahwa orang dewasa tidak diperkenankan untuk menyekokkan dunia orang dewasa kepada dunia anak-anak karena dunia anak-anak itu dunia yang masih bermain. Dalam hal ini kepada anak-anak remaja tentu perlu dilatih pelan-pelan dalam proses untuk memahami dunia yang perlu kedewasaan juga namun bukan lantas mencekokkan begitu saja. Orangtua atau guru sering menyalahkan murid karena tidak mampu mengerjakan ini dan itu. Intinya orangtua tidak puas dengan capaian anaknya. Sering tidak dilihat mengapa orang tidak mampu dan akhirnya tidak suka. Tegangan antara keinginan supaya mampu mengerjakan dan ketidaksukaan pada diri anak sering tidak tertangkap dengan jelas.

Bila dilihat dalam dunia pendidikan kita terlebih di negeri ini yang terjadi adalah tarik-menarik antara kepentingan kalangan yang mau jujur dan lugas menjalankan pendidikan bagi orang muda dengan kepentingan kalangan yang "memakai dalih" Hak Asasi Manusia atau kekerasan atau pelecehan atau bullying karena mereka tidak mau gagal. Anak tidak boleh gagal menurut kalangan kedua ini. Anak tidak boleh dikerasi. Anak tidak boleh dibentak. Anak tidak boleh mengalami trauma ini dan itu. Akibatnya anak menjadi lembek. Anak manja. Anak tidak peduli dengan orang lain. Generasi saat ini menjadi generasi manja yang ketika dituntut belajar, daya juangnya lemah. Generasi yang dihasilkan oleh kalangan kedua inilah yang terjadi saat ini. Selain oleh karena kemajuan zaman yang memfasilitasi manusia dengan berbagai alat hasil teknologi, orang juga dilarang untuk bergulat dengan lumpur hidup dengan segala kerja keras dan kepahitannya. Orang menjadi takut gagal. Tidak berhasil adalah tabu.

Bagiku saat ini, melihat kegagalan adalah bagian dari hidup. Kegagalan tidak tabu. Kegagalan itu sah-sah saja. Tentu ada tuntutan untuk berhasil tetapi tidak menutup ruang bahwa manusia itu lemah. Kegagalan itu selayaknya menjadi pelajaran hidup untuk meraih keberhasilan. Ketakutan untuk gagal itu perlu dihilangkan. Biarlah kegagalan itu menjadi guru hidup kita. Ada kalanya kita mengukur hidup lewat keberhasilan namun kita perlu sadar akan kegagalan karena kita lemah.


#morning, in my office#


In our life, we learn from our failures. There is always a "space for failure" in everything because we realize that as a human, we have weakneses.

Wednesday, April 15, 2015

Mahalnya Harga Kejujuran

Ujian Nasional (UN) di negara Indonesia ini mulai Tahun Pelajaran 2014-2015 bermakna lain. Artinya, UN tidak lagi menjadi penentu kelulusan murid dalam jenjang manapun karena penentu kelulusan adalah nilai Ujian Sekolah dan akumulasi dari nilai-nilai lainnya. Tanggapannya paling tidak ada  (1) pihak Dinas dan guru yang fanatik UN sebagai standar kelulusan merasa terampok proyeknya: proyek pengadaan UN dan proyek "menakut-nakuti" murid karena murid tidak lagi bersemangat untuk mengejar nilai UN (cenderung malas-malasan kata mereka karena sudah Ujian Sekolah); (2) kalangan yang lebih moderat dan cenderung anti UN merasa ini sebuah rahmat pembebasan dari rejim UN yang totaliter dan semena-mena karena selama belajar 3 tahun, hanya ditentukan oleh nilai UN yang berlangsung 3 hari. Itulah yang terjadi selama hari-hari ini.

Perkara tanggapan itu memang bisa didiskusikan banyak hal dan oleh siapapun. Saya tidak akan memfokuskan ke situ. Yang lebih ingin saya tuju adalah poin di mana pelaksanaan dan semangat ujiannya. Kejujuran itu ternyata belum sepenuhnya terjadi. Jika ada 200 murid dalam setiap angkatan, ada 1 murid yang mencontek atau bertindak tidak jujur, maka gagalah seluruh proses pendidikan selama 3 tahun di dalam komunitas sekolah itu. Ada kecenderungan bahwa pengawas ruang tidak akan memproses murid yang ketahuan mencontek atau malah dapat disebut tutup mata atas tindakan tersebut. Mengapa demikian? Alasannya adalah jika diproses (diberita-acarakan) maka Dinas pun tentu tidak akan dengan mudah memproses juga karena Dinas tidak ingin kondite jelek di wilayah tersebut. Pengawas menjadi dilematis karena justru yang kena adalah bisa jadi Dinas menekan sekolah yang muridnya mencotek dan diminta menyelesaikan secara internal saja. Apalagi dibarengi dengan mekanisme saat ini nilai sekolah sudah masuk ke Dinas dan anak dinilai sudah lulus. Jika tidak lulus dalam UN pun mereka dapat mengikuti UN tahun depan. Dalam prosedur UN, salah satu poinnya dikatakan bahwa jika ada peserta yang mencontek, maka sanksinya adalah "dikeluarkan dari ruangan saat itu juga dan dinyatakan tidak lulus." Namun sayangnya, itu hanya untuk UN saja sedang peserta sudah mengantongi kelulusan dari sekolah karena nilai sudah diverifikasi Dinas. Artinya sekolah sudah tidak lagi mampu membatalkan kelulusan peserta.

Sebenarnya jika mau fair, nilai tetap di Dinas namun jika ada kebijakan sekolah yang lebih tegas dan tajam, maka nilai di Dinas dapat dibatalkan dengan kasus adanya ketidakjujuran saat UN. Itulah yang memang tidak mudah untuk mensinkronkan antara kebijakan negara (Dinas) dan kebijakan sekolah. Spirit dan mekanisme agar ujian tetap terlaksana dengan jujur sangat perlu dibuat. Bahkan menurut saya ini sangatlah mendesak ketika UN tidak lagi menjadi momok murid. Justru dengan hal ini sekolah, Dinas, dan pihak-pihak terkait mempunyai pintu masuk dan peluang agar pembangunan manusia yang jujur ini menjadi prioritas yang mendesak. Ujian Nasional dijadikan tolok ukur untuk membantu murid memasuki jenjang berikut yaitu Perguruan Tinggi. Dengan UN, murid diajak untuk menjajaki sejauh mana kemampuan dirinya. Kemudian mekanisme dipertegas dan diperjelas agar pribadi yang  jujur itulah yang berhak mendapatkan penghargaan daripada sekedar mampu mengerjakan namun tidak jujur.

Ada murid yang merasa tidak percaya diri sehingga mencontek. Ada murid yang memang tidak mau belajar alias malas sehingga mencontek. Ada yang memang sudah ketagihan mencontek. Macam-macam alasan  mencontek. Ketika murid diketahui dia mencontek, ia pun tidak akan segera mengakui bahwa dirinya mencontek. Banyak alasan yang akan dibuat. Ia tidak berniat mencontek tetapi bukti fisik sudah ditangkap. Misalnya kertas yang berisi kunci jawaban atau rumus-rumus matematika yang dibuat sebelum UN dimulai.

Itulah realitas yang ada. Itulah yang dianggap biasa oleh masyarakat setidaknya di Indonesia. Orang lebih menghargai hasil daripada proses. Dan mengubah paradigma ini tidaklah mudah. Sampai kapan hal ini menjadi sebuah keberhasilan, saya sendiri belum tahu. Kejujuran di negeri ini masih mahal. Itu saja yang aku alami. Kepercayaan dan harapan bahwa orang jujur masih ada, itu ada, namun perjuangan juga belum selesai. Menjadi jujur memang perlu latihan, seperti kata Sigmund Freud, "being entirely honest with oneself is a good exercise."



#evening in my room#



*Honesty is very expensive. We still need to struggle for honesty because honesty is a precious value in our life. "We learned about honesty and integrity - that the truth matters... that you don't take shortcuts or play by your own set of rules... and success doesn't count unless you earn it fair and square." (Michelle Obama)

Tuesday, March 24, 2015

Membantu

Kerap ada dilema dengan kata "membantu". Setidak-tidaknya aku pernah mengalami makna kata ini dengan biasanya kasus-kasus yang menyangkut nyawa orang. Atau setidak-tidaknya kasus yang berkaitan dengan memutuskan nasib seseorang. Tidak mudah. Penuh pertimbangan. Ada ketidaknyamanan antara perasaan atau pertimbangan logika. Keduanya harus sepadan sehingga objektif. Itulah mengapa pertimbangan moral selalu kaitannya dengan conscience kita. Tidak bisa hanya berdasarkan like and dislike. Atau sebaliknya berdasarkan pertimbangan ranah nalar saja sehingga tidak dipikirkan.

Motivasinya baik, "membantu" tetapi kalau ada pamrih supaya ada pujian dari orang lain, maka tidaklah baik dari sisi motif. Orang perlu melihat sampai sedalam itu karena manusia ternyata tidak hanya hidup dengan perasaan saja atau dengan pikiran saja. Ada motivasi-motivasi sadar maupun tak sadar yang perlu diperhatikan. Di situlah conscience seseorang itu hidup atau tidak. Co yang atinya bersama, scire yang artinya mengetahui. Mengetahui bersama antara nurani dan nalarku, itulah moralitas manusia. Respon kita bukan respon secara perasaan saja atau nalar saja tetapi respon yang benama kemampuan manusia sebagai manusia adalah dalam hal moralitas ini. Respon ability-nya sungguh berarti dalam arti moralitas manusia. Tanggung jawab (responsible) artinya kemampuan menanggapi dengan baik itulah kemampuan manusia yang selayaknya diungkapkan dalam hidup sehari-hari.

Kasusnya demikian: dalam sebuah sekolah ada seorang anak yang sudah tidak krasan mengikuti kegiatan apapun. Pelajaran dari pagi sampai siang isinya hanya tidur bagi dia. Kadang kalau sudah tidak sanggup pelajaran, ia membolos. Hidupnya berbeban berat. Ia sudah tidak punya hati di sekolah itu. Namun demikian ada pihak staf di sekolah itu mau membantu dia. Staf itu tidak ingin dia dikeluarkan oleh pihak sekolah karena dia membutuhkan pendampingan khusus, yang kurang dapat disediakan oleh sekolah itu. Pihak guru-guru lain melihat dia sudah bosan mengingatkan agar tidak membolos atau tidur di kelas. Namun dari pihak anak tersebut sudah tidak punya kesanggupan untuk hadir dan beraktivitas sesuai aturan main di sekolah itu. Angin-anginan yang terjadi. Dia kadang nongol di sekolah. Dia kadang tidur. Konteksnya adalah sebuah asrama. Jika dalam sekolah non asrama pun sebenarnya juga bisa jadi acuan namun lebih khusus ini terjadi dalam kompleks sekolah asrama. Guru-guru lain sebenarnya sudah tidak tahan dengan dia yang angot-angotan itu.

Inilah tantangan itu. "Membantu" dalam arti memberi rekomandasi baik dari anak yang sudah tidak sanggup, tidak berdaya tidaklah mudah. Di sisi lain ada keinginan agar tidak dikeluarkan karena kondisi anaknya. Memang sudah dicoba untuk mengajak bicara anaknya dari para guru dan staf yang lain. Ada ketertutupan dalam diri anak yang sudah tidak krasan ini. Labelinglah yang kemudian terjadi. Setiap guru sudah tidak suka dengan sikap dan perilaku dia karena ndableg. Tidur atau membolos bagi dia akhirnya pola hidupnya. Bahkan ketika dilarang membolos, ia menjawab seorang guru:"Daripada saya membolos, Pak, saya moso tidak boleh tidur." Hidupnya terbebani oleh pergulatan sehingga tak bersemangat.

Membantu dalam konteks anak ini bukan kemudian mempertahankan dia di asrama karena hatinya dan juga ia akan menderita kalau mengalami seperti ini terus. Rekomendasi sebenarnya adalah membantu agar ia mampu memutuskan pilihannya di sini atau di luar.  Sayang, karena jika dipertahankan terlalu lama, maka ia akan semakin menderita dan guru-guru serta teman lain yang melihatnya malah menyayangkan dia. Reaksi rekan lain juga tidak senang karena ia sudah tidak bisa diberitahu. Nah, "membantu" akhirnya juga harus sampai pada membuat dia memutuskan dalam waktu singkat: terus atau keluar secepatnya. Membantu tidak selalu dalam konteks baik dan nyaman bagi si anak tetapi membantu yang lain yang masih ingin berdinamika dengan serius di sekolah yang sama.

Kadang ada motivasi dalam diri kita untuk seperti Robin Hood yang "membantu" orang-orang kecil dengan mencuri barang-barang orang kaya atau keluarga kerajaan Edward dalam legenda sejarah Inggris di Notingham. Memang dalam konteks itu ada situasi represif masyarakat yang membutuhkan figur Robin Hood. Ada juga motivasi dalam diri kita untuk menjadi "gembala baik" yang akan membantu 1 domba yang hilang dan meninggalkan 99 lain agar yang 1 itu tetap selamat. Konteks di sini adalah panggilan pertobatan. 99 domba ada dalam lahan yang aman dan nyaman di padang yang hijau dan ada yang menjaga. Nah, dalam konteks mendampingi pribadi yang perlu memutuskan, apakah harus ditunda-tunda sehingga si pribadi muda ini malah kehilangan momentum mengambil keputusan? Pendewasaan dan kedewasaan dari keduabelah pihak harus menjadi perhatian bersama. Sejauh mana motivasi diri kita membantu juga akhirnya objektif.

Membantu mengarahkan seseorang menemukan jalan hidupnya. Membantu juga mengandaikan ketegasan dan berani memutuskan, mengambil kebijakan bagi pribadi tertentu agar yang lain juga terbantu. Nah, mari kita lihat diri kita, sejauh mana aku sungguh menghayati kata "membantu" dalam hidup sehari-hari.




Before noon time@my office

Saturday, February 28, 2015

Stand up Comedy (Lanjutan dari "Kosong")

Tulisanku yang berjudul "Kosong" sempat ditanggapi seseorang. Tanggapan itu sempat membuat salah paham. Memang sedari awal aku menuliskan bahwa apa yang kutulis itu sulit dipahami. Alasannya karena mengungkapkan yang ada di batin, "jagat cilik". Aku lalu memakai gambaran "jagat gedhe" karena sesuatu yang ada dalam batin itu memang tidak mudah diungkapkan. Mengenai hal ini (tidak mudahnya mengungkapkan yang ada dalam batin), aku punya kisah. Kisah ini bukan dari diriku tetapi aku belajar dari orang lain yang pernah bicara padaku dan kucoba dengarkan.

Sosok itu dinilai sangat lihai ketika ada di panggung. Aku lantas diberi informasi bahwa dia seorang yang pernah menang lomba "stand up comedy" di sekolahnya pada saat SMP. Aku tak percaya. Mana mungkin sosok seperti itu koq bisa berceloteh, bisa melucu, banyak cerita di panggung? Itu ketidakpercayaanku. Sosoknya tidak dapat bicara jika berhadapan 4 mata. Beberapa orang mengatakan bahwa dirinya paling tidak tidak bisa untuk bicara 4 mata apalagi bicara mendalam tentang hidup. Ketika ditanya apa yang ada dalam batinmu, bagaimana perasaanmu, apa visi hidupmu dan sebagainya mengenai kedalaman hidup, orang itu selalu kesulitan menjabarkan, berkisah, berceloteh dengan mudah. Hmmm....ada apa ini? Itu selalu pertanyaan yang muncul dalam benak banyak orang.

Ada kontradiksi yang sangat besar antara ketika ia berada di panggung dan ketika ia berada di ruang pembicaraan berdua. Ada sesuatu yang tidak nyambung kalau hanya dilihat dari cara bicara dan kemampuan dia bicara mengocok perut orang dari panggung. Mengapa ada ketidaksambungan ini? Apakah sementara orang butuh panggung untuk mengekspresikan dirinya kepada orang lain? Sedangkan kehidupan sendiri adalah panggung sebenarnya. Ada teori yang mengatakan bahwa orang dapat saja berekspresi dan senang dengan gebyar panggung, tetapi orang akan tidak mudah ketika harus sendiri berhadapan dengan diri sendiri dan cenderung takut, bosan, menolak. Hal ini penyebabnya adalah orang tidak berani menatap hidup dan seluruh dirinya yang ada sisi gelap dan terangnya. Ada ketakutan terhadap masa lalu, carut-marut hidup, trauma-trauma, dan sebagainya. Berbeda saat ia berada di panggung, keramaian, acara publik. Ia tidak harus menatap dirinya. Ia tidak harus melihat carut-marutnya kehidupan. Ia tidak harus mengingat trauma lama yang belum tersembuhkan. Ia tidak harus berdamai dengan dirinya.

Ketika ia harus berhadapan dengan orang yang mengajak bicara dari hati ke hati, tentang hidupnya, tentang masa lalunya, tentang peristiwa-peristiwa hidupnya, bahkan tentang cita-citanya pun yang ada hanya satu dua kata. Itu pun diucapkan dengan terbata dan sulit mengeluarkan kata-kata. Di situlah jawaban ketidaknyambungan itu. Intinya seseorang harus berjuang mengenal dirinya sampai akhir hayat tetapi orang akan lebih mudah beraktivitas sesuai kesenangan tanpa mengenal diri lebih dalam. Banyak yang seperti itu di antara kumpulan manusia di bumi ini. Oleh karena itu, pengenalan diri dan berdamai dengan diri itu sesuatu yang sangat dibutuhkan agar manusia mampu mengungkapkan dirinya: who we are, what we do, where we live, how we are.

Aku lantas ingat akan para pekerja seni, entah itu pelawak, penyanyi, bintang film, dsb. Tahun lalu baru saja bintang kenamaan mati bunuh diri, yaitu Robin Williams. Seantero dunia kaget. Mengapa tokoh sukses dengan film-film berbobot itu mati mengenaskan karena over dosis? Apakah ada sebuah beban hidup yang tak tertanggungkan? Serasa antara apa yang ia ekspresikan dalam karya luar biasa itu tak sepadan dengan cara dia mengakhiri hidupnya. Ada kekosongan makna? Ada kekosongan yang membebani hidup? Bisa jadi sesuatu kekosongan makna hidup karena orang cenderung aktif dan aktif tanpa memaknai dan menghayati hidup sebagai anugerah. Bisa jadi orang dituntut kerja keras sampai harus berkompetisi mati-matian dan lupa bahwa suatu saat gagal. Kegagalan dimaknai sebagai tanpa makna, kosong. Hasilnya bunuh diri. Negara Jepang menjadi populer karena salah satunya tingginya angka bunuh diri karena mereka akan merasa gagal dan tak berarti kalau kalah dalam kompetisi atau yang tidak sukses adalah tidak berarti. Ketidakberartian ini yang menyebabkan orang tanpa makna atau mengalami kekosongan batin. Para pekerja seni yang harus menghibur orang lain ternyata merana hidupnya. Ada yang tidak punya rumah dan masih mengontrak. Ada yang harus hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang terlunta-lunta di masa tuanya, dan sebagainya. Itulah ketika dunia real dan dunia tidak real itu diperankan. Ada kesenjangan antara panggung pertunjukan dan panggung kehidupan.

Dari pengalaman dan komentar seseorang tentang tulisanku, "Kosong", aku melahirkan tulisan ini. Aku bukan mau menjelaskan kekosonganku semata tetapi sebenarnya ada sebuah ruang kehidupan yang harus disadari bahwa kita semua bisa masuk dalam ruang itu jika tidak menyadari hidup dan tidak memaknainya dengan baik. Intinya jika kita tidak mengenal who we are, yang terjadi adalah tak tahu siapa diriku. Tahunya hanya yang superficial saja. Diriku seorang pekerja di bidang pendidikan. Aku mulai kerja tahun sekian. Aku hidup di suatu tempat. Hidupku hanya berjalan begitu saja dan sebagainya. Itu saja. Tak ada rasa, tak ada nada, tak ada warna. Socrates pun pernah mengatakan, "cognosce te ipsum", kenalilah dirimu! Bagiku kata-kata itu membawa sebuah perintah supaya kita makin mampu merumuskan siapa diriku yang sebenarnya, mengenal sedalam-dalamnya diriku dengan segala kecenderungan dan sebagainya.

Terima kasih "Kekosongan". Terima kasih karena kamu sudah mengingatkanku untuk selalu sadar dan mengisi hidupku dengan memaknainya. Merci beaucoup.





#morning time, in my office#

Thursday, February 19, 2015

Kosong

Kosong atau kusebut juga kekosongan, begitulah yang terjadi di bulan lalu memasuki tahun baru 2015. Aku tak menuliskan ide-ideku ataupun pendapatku atau komentarku atau yang lain. Sebenarnya aku tak mau itu terjadi. Dan bulan lalu itu tak sekosong ideku yang tak termuat di sini. Justru karena bulan lalu itu penuh bergejolak dan pergulatan antara jagad cilik dan jagad gedhe-ku. Bukan maksud aku mau melupakan coretan-coretanku tetapi memang aku tengah menjalani berbagai macam hal yang semua itu membutuhkan ketahanan batin tertentu. Aku baru saja ingat kata-kata seorang Ernest Renan, "Memperhatikan keragu-raguan dalam hidup adalah menghormati adanya kebenaran itu sendiri." Cuplikan itu kudapat dalam novel Romo Rahadi, karya Wastu Wijaya.

Apakah aku sedang ragu? Apakah aku tengah mengalami keragu-raguan itu? Setiap hari bagiku adalah penegasan diri. Setiap tapak hidupku adalah penegasan terus-menerus. Ada kalanya ragu itu terus menyelimuti dan ada kalanya jalan  itu penuh dengan kerikil ragu-ragu. Apakah keraguan itu membuat hidupku berhenti atau tak menentu? Aku memperhatikan hal ini demikian: saat diriku hanya bergulat dengan keraguan, memang akhirnya seperti sebuah kendaraan yang antara berhenti atau berjalan. Saat orang penuh keraguan namun perlahan mengolah dan mendapatkan peneguhan akan kebenaran yang ada, di situlah sebenarnya keraguan adalah saat di mana kebenaran belum tersingkap dan memanggil dirinya untuk menyingkapnya.

Aku belajar untuk jujur pada diriku dan pada orang-orang yang dekat denganku untuk dengan jujur mengungkapkan kebenaran diri. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata kejujuran ini banyak kali mendapat perlawanan dari berbagai penjuru. Ketika orang diminta untuk jujur dengan dirinya dan orang lain berkaitan dengan "apa sih maunya", ternyata kebanyakan orang tidak dapat segera mengungkapkan. Pengungkapan diri dalam kejujuran pun di masyarakat kita butuh sebuah institusi pemaksa, seperti KPK misalnya. Karena membongkar ketidakjujuran pun saat ini orang dapat disalahkan karena pada dasarnya manusia itu ingin menyembunyikan dirinya. Kejujuran ternyata sangat amat mahal. Bahkan ini bisa jadi kali kedua pemimpin sebuah institusi yang mau menegakkan kejujuran dipersalahkan. Jujur menjadi barang berharga yang membutuhkan pengurbanan nyawa. Kejujuran dipertaruhkan dalam sebuah panggung kehidupan.

Ya, itulah yang kadang membuatku harus sampai pada taraf memaknai kekosongan kemarin itu dalam konteks diri dan wilayah yang lebih luas. Mungkin tulisanku ini juga tak mudah dimengerti karena mengungkap kebenaran memang tidak mudah. Jujur dengan diri sendiri saja tak mudah apalagi jujur pada khlayak ramai. Orang sudah dipengaruhi dan ditumpuki dengan berbagai kepentingan sehingga kebenaran itu tertumpuki juga oleh kepentingan-kepentingan itu. Kebenaran dipermainkan. Kebenaran dikomersialisasikan. Kebenaran malah juga dikriminalisasikan. Itulah yang terjadi saat ini. Suasananya riuh. Suasana perang dingin, saling balas dendam, mengungkit kasus lama supaya ada perkara. Di sini kejujuran dan kebenaran menjadi ambigu, tidak jelas, tidak segera dapat dipahami. Orang cenderung bersembunyi pada pasal-pasal hukum. Orang memakai kedok apapun supaya ketidakjujuran dan ketidakbenarannya tak terungkap.

Kisah Adam dan Eva yang ditanyai Allah sudah melahirkan saling tuduh dan tak jujur. Kisah Kain dan Habel sudah melahirkan kedengkian dan kecemburuan beranak pinak di bumi ini. Keturunan manusia memang sejak dulu kala terjerat kekuatan jahat yang lebih sering menjerat hidup. "Perempuan yang Kau berikan padaku, dialah yang memberikan buah itu kepadaku," demikian kata Adam ketika ia ditanyai Allah. "Mengapa Kau tanyakan Adikku? Apakah aku penjaga Adikku?", jawab Kain kepada Allah setelah ia membunuh adiknya.


#rainy evening in my room#