Main pingpon di ruang atas menjadi kebiasaan beberapa kali saja. Waktu itu dia ingin berolahraga melihat aku selesai treadmill. Lalu aku mengiyakan ajakannya untuk pingpong. Sebenarnya ada undangan ke frater-frater juga. Namun belum kesampaian main bareng, dia sudah pergi duluan. Beberapa kali permainan pingpong memang aku belum pernah sampai mengalahkannya. Aku pun mengakui gerakanku sudah tidak lincah lagi. Kakiku yang cedera juga mempengaruhi gerakanku. Kami setiap bermain bisa 4-5 set. Biasanya bisa 4-0 atau 5-0 kedudukannya. Aku kalah. Namun dua kali pertemuan terakhir aku sudah tahu gaya mainnya dan trik-triknya. Aku pun mempelajari caranya bermain, menempatkan bola, pukulannya, dan sebagainya. Aku juga hapal sekarang bagaimana kalau bolanya diplintir, dia agak kesulitan menerima atau mengembalikan. Ya, dua kali pertemuan terakhir aku sudah bisa mengimbangi permainannya. Dari 4 atau 5 set, aku bisa memenangi 1 sampai 2 set. Artinya kedudukan bisa 3-1 atau 3-2. Tetap saja masih menang dia. Namun ketika aku sudah tahu gaya permainannya, aku menjadi sadar bahwa kita semua punya kelemahan dan kelebihan.
Waktu itu tanggal 30 November 2020. Hari sebelumnya dia sudah menjanjikan ingin main pingpong lagi. Namun ketika sore itu ku-WA: "Nggu opera atau wis rampung?" (maksud saya mengajak dia menunggu dulu kerja sore hari atau kerjanya sudah selesai, lalu kita main pingpong?). Ternyata jawabannya: "Saya blm naik, saya izn dulu rada msk angin". Itu WA terakhir dan pesan terakhir. Hari berikutnya kami masih ketemu sebelum dia berangkat retret pribadi. Tanggal 1-9 Desember 2020 dia retret. Dalam retret itulah mungkin dia bergulat dengan sakitnya yang dia tak anggap serius. Bahkan menurut rekan yang bareng retret, dia sempat dikeroki. Tanggal 9 Desember 2020, akhirnya retret selesai dan dia sudah lemas dan batuk. Akhirnya diputuskan agar dia masuk RS Carolus. Sehari itu dicek oleh tim medis. Ada keluhan batuk, sesak nafas, dan gula tinggi. Yang lebih membuatku kaget adalah paru-parunya sudah terinfeksi. Itulah yang menjadikan kami sadar, covid telah menyerangnya. Saluran pernafasan sudah kena. Dokter juga mengatakan sudah kasep.
Hari-hari berikutnya kami hanya bisa memantau dan mendoakan. Beberapa hari kadar oksigen dalam tubuh masih ada antara 85-90 %. Namun ada alat bantu pernafasan yang bukan ventilator. Kami masih optimis. Doa setiap hari buatnya masih kami panjatkan. Sampai hari Minggu malam, 20 Desember 2020, kami khusus memanjatkan doa bersama sebagai rekan-rekan senior yang ada di sini. Itulah tepat kami merayakan Fr Hermanus Bouwens dan Romo Sandjaja yang meninggal pada tanggal 20 Desember 1948. Dan aku membuat status dengan dua orang itu di WA sambil mohon doa kepada mereka berdua.
Pagi harinya, 21 Desember 2020, kami dikejutkan dengan kabar bahwa dia meninggal. Kami sibuk menyiapkan pakaian yang dibutuhkan dan apapun yang dia sukai dalam hidupnya. Dia seorang dalang yang emang studi mengenai dalang. Maka kendit, blangkon dan wayang kami sematkan untuk dibawa di petinya. Ketika kesulitan mencari wayang mana yang harus dibawa, ada berita lain yaitu Rm Herry Priyono meninggal dunia karena serangan jantung. Jederr!!! Semua kaget karena dalam sehari ada dua yang meninggal.
Masih kesulitan mencari wayang itu, kami memang tidak tahu wayang purwa atau wayang wahyu. Kami putuskan wayang wahyu. Harusnya wayang Maria dan Yesus yang dibawa ternyata tidak ada. Di kotak wayangnya hanya ada wayang purwa dan wayang wahyu yang mengenai lakon-lakon Perjanjian Lama. Wayang purwa pun tidak tahu tokoh mana yang dia sukai. Akhirnya aku memutuskan membawa gunungan yang ada lukisan "IHS". Itulah yang akhirnya dibawa ke sana. Dia membawa kehidupan untuk menghadap Tuhannya. Itu saja yang kuingat dari memori sehari kemarin. Memang masih ada kisah lain menemani sampai kremasi, namun kiranya biarlah kisah itu hidup sendiri di lain waktu.
Der, skormu isih luwih dhuwur. Awakmu isih menang pas main pingpong karo aku. Matur nuwun wis dikancani pingpong. Sak ora-orane aku wis ngerti gayamu main. Aku iso menang rong set wis lumayan. Nanging skormu isih luwih dhuwur. Awakmu isih menang. Aku ora iso ngalahke awakmu. Ojo lali gawanen gunungan sing tak gawake nggo awakmu. Gawanen urip (gunungan) lan ndhalanga ana ing swargaloka, katur Gusti piyambak. Ojo lali nyembahyangake aku lan kanca-kanca kabeh. (Der, skormu masih lebih tinggi. Dirimu masih menang main pingpong melawan aku. Terima kasih sudah ditemani main pingpong. Setidak-tidaknya aku sudah tahu gaya permainanmu. Aku bisa menang dua set itu sudah lumayan. Namun skormu masih lebih tinggi. Dirimu yang menang. Aku tidak bisa mengalahkanmu. Jangan lupa, bawalah hidup (wayang gunungan) yang kubawa untuk kamu. Bawalah hidup dan mendalanglah di surga, bersama Allah sendiri. Jangan lupa mendoakan aku dan teman-teman semua).
* In Memoriam Rm Herry, aku pun merasakan baru kali itu tanggal 4 Desember 2020 lalu diajak ngobrol begitu lama di telepon, 45 menit. Kami ngobrol tentang hal-hal terkait mendampingi para frater dan fenomena yang ada di antara kami. Dia memberi tips atau kunci yang harus diberikan yaitu "sense of realism". Banyak hal yang dia ceritakan sampai lama setelah aku olahraga. Dan itulah perjumpaan kami terakhir. Rm Herry, berbahagialah bersama Br Prihana. Semoga ada pertunjukan wayang wahyu di surgaloka.
#pagiharidikamarku#

