Tuesday, December 22, 2020

Der, Skormu Isih Luwih Dhuwur

Namanya adalah Prihana. Namun orang banyak menambahkan kata "su" di depan nama itu, maka menjadi Suprihana. Padahal  orangtuanya pasti punya maksud menamakan dia Prihana.  Dia adalah seorang Bruder Minister di rumah yang kami tempati saat ini. Ya, "perih" itu "ana". Perih itu ada. Perih itu saat ini sedang kembali menyelimuti kami. Perih itu sedang kami alami kala dia meninggalkan kami. Perih itu memang ada. Pagi hari ini aku hanya menuliskan kesan perjumpaan yang baru saja sejak Agustus 2020 lalu. Dia sebagai ministerku di rumah. Usia hanya selisih setahun, lebih tua dari aku. Keseharian mengerjakan hal-hal rutin fisik, itulah kerjanya di rumah ini, melayani kami anggota rumah. Sampai pada saat kami bisa saling guyon, dan main pingpong yang sebenarnya dia menemaniku mengaktifkan kembali kemampuanku main pingpon. Dia dengan bangganya menyebut diri "tutor" saat main pingpong. Itu diceritakannya saat di meja makan bersama frater-frater. Kami semeja makan, maka sering bercerita dan bergurau.

Main pingpon di ruang atas menjadi kebiasaan beberapa kali saja. Waktu itu dia ingin berolahraga melihat aku selesai treadmill. Lalu aku mengiyakan ajakannya untuk pingpong. Sebenarnya ada undangan ke frater-frater juga. Namun belum kesampaian main bareng, dia sudah pergi duluan. Beberapa kali permainan pingpong memang aku belum pernah sampai mengalahkannya. Aku pun mengakui gerakanku sudah tidak lincah lagi. Kakiku yang cedera juga mempengaruhi gerakanku. Kami setiap bermain bisa 4-5 set. Biasanya bisa 4-0 atau 5-0 kedudukannya. Aku kalah. Namun dua kali pertemuan terakhir aku sudah tahu gaya mainnya dan trik-triknya. Aku pun mempelajari caranya bermain, menempatkan bola, pukulannya, dan sebagainya. Aku juga hapal sekarang bagaimana kalau bolanya diplintir, dia agak kesulitan menerima atau mengembalikan. Ya, dua kali pertemuan terakhir aku sudah bisa mengimbangi permainannya. Dari 4 atau 5 set, aku bisa memenangi 1 sampai 2 set. Artinya kedudukan bisa 3-1 atau 3-2. Tetap saja masih menang dia. Namun ketika aku sudah tahu gaya permainannya, aku menjadi sadar bahwa kita semua punya kelemahan dan kelebihan. 

Waktu itu tanggal 30 November 2020. Hari sebelumnya dia sudah menjanjikan ingin main pingpong lagi. Namun ketika sore itu ku-WA: "Nggu opera atau wis rampung?" (maksud saya mengajak dia menunggu dulu kerja sore hari atau kerjanya sudah selesai, lalu kita main pingpong?). Ternyata jawabannya: "Saya blm naik, saya izn dulu rada msk angin". Itu WA terakhir dan pesan terakhir. Hari berikutnya kami masih ketemu sebelum dia berangkat retret pribadi. Tanggal 1-9 Desember 2020 dia retret. Dalam retret itulah mungkin dia bergulat dengan sakitnya yang dia tak anggap serius. Bahkan menurut rekan yang bareng retret, dia sempat dikeroki. Tanggal 9 Desember 2020, akhirnya retret selesai dan dia sudah lemas dan batuk. Akhirnya diputuskan agar dia masuk RS Carolus. Sehari itu dicek oleh tim medis. Ada keluhan batuk, sesak nafas, dan gula tinggi. Yang lebih membuatku kaget adalah paru-parunya sudah terinfeksi. Itulah yang menjadikan kami sadar, covid telah menyerangnya. Saluran pernafasan sudah kena. Dokter juga mengatakan sudah kasep. 

Hari-hari berikutnya kami hanya bisa memantau dan mendoakan. Beberapa hari kadar oksigen dalam tubuh masih ada antara 85-90 %. Namun ada alat bantu pernafasan yang bukan ventilator. Kami masih optimis. Doa setiap hari buatnya masih kami panjatkan. Sampai hari Minggu malam, 20 Desember 2020, kami khusus memanjatkan doa bersama sebagai rekan-rekan senior yang ada di sini. Itulah tepat kami merayakan Fr Hermanus Bouwens dan Romo Sandjaja yang meninggal pada tanggal 20 Desember 1948. Dan aku membuat status dengan dua orang itu di WA sambil mohon doa kepada mereka berdua.

Pagi harinya, 21 Desember 2020, kami dikejutkan dengan kabar bahwa dia meninggal. Kami sibuk menyiapkan pakaian yang dibutuhkan dan apapun yang dia sukai dalam hidupnya. Dia seorang dalang yang emang studi mengenai dalang. Maka kendit, blangkon dan wayang kami sematkan untuk dibawa di petinya. Ketika kesulitan mencari wayang mana yang harus dibawa, ada berita lain yaitu Rm Herry Priyono meninggal dunia karena serangan jantung. Jederr!!! Semua kaget karena dalam sehari ada dua yang meninggal. 

Masih kesulitan mencari wayang itu, kami memang tidak tahu wayang purwa atau wayang wahyu. Kami putuskan wayang wahyu. Harusnya wayang Maria dan Yesus yang dibawa ternyata tidak ada. Di kotak wayangnya hanya ada wayang purwa dan wayang wahyu yang mengenai lakon-lakon Perjanjian Lama. Wayang purwa pun tidak tahu tokoh mana yang dia sukai. Akhirnya aku memutuskan membawa gunungan yang ada lukisan "IHS". Itulah yang akhirnya dibawa ke sana. Dia membawa kehidupan untuk menghadap Tuhannya. Itu saja yang kuingat dari memori sehari kemarin. Memang masih ada kisah lain menemani sampai kremasi, namun kiranya biarlah kisah itu hidup sendiri di lain waktu. 

Der, skormu isih luwih dhuwur. Awakmu isih menang pas main pingpong karo aku. Matur nuwun wis dikancani pingpong. Sak ora-orane aku wis ngerti gayamu main. Aku iso menang rong set wis lumayan. Nanging skormu isih luwih dhuwur. Awakmu isih menang. Aku ora iso ngalahke awakmu. Ojo lali gawanen gunungan sing tak gawake nggo awakmu. Gawanen urip (gunungan) lan ndhalanga ana ing swargaloka, katur Gusti piyambak. Ojo lali nyembahyangake aku lan kanca-kanca kabeh. (Der, skormu masih lebih tinggi. Dirimu masih menang main pingpong melawan aku. Terima kasih sudah ditemani main pingpong. Setidak-tidaknya aku sudah tahu gaya permainanmu. Aku bisa menang dua set itu sudah lumayan. Namun skormu masih lebih tinggi. Dirimu yang menang. Aku tidak bisa mengalahkanmu. Jangan lupa, bawalah hidup (wayang gunungan) yang kubawa untuk kamu. Bawalah hidup dan mendalanglah di surga, bersama Allah sendiri. Jangan lupa mendoakan aku dan teman-teman semua).



* In Memoriam Rm Herry, aku pun merasakan baru kali itu tanggal 4 Desember 2020 lalu diajak ngobrol begitu lama di telepon, 45 menit. Kami ngobrol tentang hal-hal terkait mendampingi para frater dan fenomena yang ada di antara kami. Dia memberi tips atau kunci yang harus diberikan yaitu "sense of realism". Banyak hal yang dia ceritakan sampai lama setelah aku olahraga. Dan itulah perjumpaan kami terakhir. Rm Herry, berbahagialah bersama Br Prihana. Semoga ada pertunjukan wayang wahyu di surgaloka.



#pagiharidikamarku#

Wednesday, December 16, 2020

Realita

Judul yang kubuat itu memang mengacu pada banyak hal. Tentu ini berdasarkan pengalamanku sendiri berhadapan dengan banyak hal yang terjadi dalam hidup. Orang menyebut hidup ini kadang realita. Mereka yang tidak mau hidup dalam realtia biasanya memakai kata "seandainya", "harusnya", "idealnya" dan semacamnya baik itu langsung atau tidak langsung. Orang bisa saja sudah paham akan realita ini, namun ketika dihadapkan bahkan kasarnya dibenturkan, tentu mereka akan bergejolak. Reaksinya bisa kecewa, marah, menyalahkan, mutung dan sebagainya. "Aku paham bahwa aku harus realitsis, namun aku tidak mau mengalami realita seperti ini." Banyak orang akan mengatakan hal yang sama. Banyak kejadian mengatakan itu. Ada contoh demikian: anak yang dalam keluarga dibentuk dan dididik oleh orangtuanya diharapkan menjadi pribadi yang baik (tentu menurut versi orangtuanya) dan sesuai dengan idealisme keluarga itu. Namun demikian ada hal yang tentu tidak ideal dalam pembentukan itu, entah datang dari lingkungan, relasi orangtua, pilihan-pilihan praktis dan sebagainya. Anak menjadi tidak bisa menerima bentukan dan harapan cita-cita orangtua. 

Realita mengatakan bahwa hidup tidak serta-merta bisa ditata dan dikontrol sedemikian rupa seperti rancangan awal dan harapan awal dari pihak tertentu. Idealnya memang ada komunikasi yang baik antara satu pihak dan pihak lain. Idealnya ada ketaatan dari satu pihak ke pihak yang lain. Idealnya ada kondisi bahwa yang melingkupi itu juga tidak tanpa kontaminasi. Semua lantas berada dalam keadaan krisis.

Nah, banyak hal dalam hidup ini seakan tidak adil. Ada yang sepertinya bagus dan mulus-mulus saja keluarganya, hidupnya, kariernya, relasinya, dan sebagainya. Krisis menyebabkan orang lantas membanding-bandingkan: "rumput tetangga kelihatan lebih hijau daripada rumput halamanku". Di saat krisis ini orang cenderung akan lari dari kenyataan yang tidak ideal. Itulah realita yang harus dihadapi. Ada juga kejadian yang mengungkapkan bahwa masuk dalam sebuah institusi tertentu itu harapannya bisa memperbaiki harapan, kehidupan dan kerinduan-kerinduan sebelumnya. Eh, ternyata ketika berada dalam institusi yang diharap-harapkan memperbaiki impian malah yang terjadi sebaliknya atau malah sama dengan yang dialaminya sebelum masuk. Ini bisa terjadi dalam instusi apapun, sekular maupun religius. 

Oleh karena itu, pertama, menjadi penting melihat dan merasakan sendiri bahwa ada realitas yang harus dimasuki. Kesadaran untuk memasuki realitas itu ternyata membuat orang tidak hanya hidup dalam impian belaka. Hidup ini adalah real, bukan suatu yang ideal. Dunia dan realitanya ini bukanlah dunia idea saja. Memang mungkin orang ada yang hidup dalam dunia idea saja maka orang itu hanya bisa berwacana. Ketika dihadapkan pada kenyataan konkret, ia kelabakan mau berbuat apa. 

Kedua, membuka wawasan dan jendela kemungkinan-kemungkinan baru itu juga perlu. Dengan membuka jendela hidup, kita tidak picik dan hanya melihat dari dunia kita yang tertutup. Syukur bahwa Roncalli mencanangkan "argiornamento" bagi institusi Gereja universal sehingga tidak picik dan hidup dalam kegelapannya. Banyak orang membuat terobosan supaya hidup tidak mandeg. Banyak momentum bisa menjadi saat dimana menerobos batasan gelap itu membuat cerahnya hidup. Tentu itu semua bukannya tanpa sebuah harga yang harus dibayar. Perubahan tentu ada harganya. 

Ketiga, merasakan (sense) realita itu penting. Ada orang yang mengatakan padaku pentingnya sense of realism. Tanpa bisa merasakan realitas, orang cenderung menutup diri, kecewa, kaku, terlalu serius, apa-apa diharapkan menjadi ideal. Siapa yang akan tahan terhadap tuntutan idealisme seperti itu? Bahkan rasaku Sang Pencipta sendiri pun tidak mengharapkan hal-hal yang ideal dari ciptaanNya. Bahkan ciptaan pun tidak ada yang ideal. Bukan berarti aku lantas menganggap Pencipta itu tidak ideal. Itu semua masih misteri.  Idealisme karena ciptaan punya harapan yaitu kehidupan yang harmonis, tertata, terukur dan serba indah. Indah dalam hal ini adalah keadaan di mana orang menjadi nyaman dan aman. 

Keempat, kalau ada ketidakidealan lantas kita ngapain dengan hidup yang mengusahakan kebaikan? Apakah kita salah melakukan kebaikan walau kita tidak ideal? Ya, tentu itu baik dan sah-sah saja. Kita semua diciptakan menjadi baik adanya. Kita semua juga ingin yang baik. Justru karena kita tidak ideal dan tidak baik itulah kita sedang berjuang (entah sampai kapan) menjadi baik. Apakah menjadi baik itu salah? Tentu juga tidak. Menatap dan menerima ketidakidealan hidup bukan berarti lalu berhenti menjadi baik. Yang ideal tetap menjadi tatapan kita. Justru dari ketidakberesan, ketidakidealan, kejatuhan, kelemahan, kekurangan itulah kita dipanggil menjadi baik. Baik di sini bisa saja sebuah keadaan dari sebaliknya: yang buta menjadi melihat, yang tuli mendengar, yang lumpuh berjalan. 

Kelima, belajar dari realitas ini adalah belajar bagaimana hidup itu adalah ruang untuk (melakukan) kesalahan namun juga menjadi ruang untuk (belajar) memperbaiki. Ada kesalahan, ada pengampunan. Pengampunan tentu membawa konsekuensi perubahan sikap hidup. Orang sampai memeluk dan menerima kelemahan, kesalahan, kejatuhan kemudian mengakuinya lalu memperbaiki diri. Ketika sebuah kejatuhan belum diterima dan dipeluk sedemikian rupa menjadi bagian dan milik dirinya, maka perbaikan sikap hidup tentu tidak akan berjalan dengan baik. Orang merasa tidak ingin beresiko disalahkan karena kejatuhan sehingga malah memanipulasi diri. Atau orang cenderung tidak ingin karena kejatuhannya lalu akan membuat dirinya tidak dipercaya, maka dia mencoba memoles diri sedemikian rupa sehingga tidak ingin diketahui kekurangannya. Itu semua sering dialami kita semua. 

Hidup menjadi berat karena sering kita menatap terlalu tinggi dengan harapan kita. Hidup menjadi berat karena sering kita tidak ingin bersalah dan disalahkan. Hidup menjadi berat karena kita sering tidak ingin jatuh dalam kegagalan. Hidup menjadi berat karena kita ingin menguasai semua dan tidak paham kalau kita ini lemah dan terbatas. Kekuatan diri kita adalah sekaligus kelemahan kita.  Mari kita belajar dari yang Maha Besar itu mau menjadi yang terbatas. Keterbatasan akan membuat kita bergulat karena tidak bisa berbuat apa-apa, bahkan menjadi nothingness. Welcome to reality.


#noon time#