Judul ini sebenarnya mencerminkan apa yang dilakukan oleh setiap orang tentu ada penggeraknya. Penggerak itu kusebut sebagai HATI. Mungkin aku sudah pernah membagikan di tulisan yang lain namun koq rasanya aku ingin menulisnya lagi karena ada keprihatinan yang kulihat. Yah, tulisanku hanya luapan keprihatinan yang kucoba baca dari yang kulihat. Banyak contoh. Para guru di manapun akan serta-merta grudukan membuat ini dan itu untuk kelengkapan administrasi demi mendapat "imbalan" sertifikasi. Sertifikasi bukanlah sebuah pencapaian kualitas namun pencapaian "imbalan" dari negara kepada para guru. Rupanya itu sudah jadi rahasia umum. Orang selalu akan bertanya, "Dapat berapa sertifikasinya?" Bukan lagi pertanyaan ini, "Kamu sudah bisa apa saja untuk muridmu dan sekolahmu dengan sertifikasi?" Ini hanya satu contoh saja. Yang lain orang jika sudah tidak suka dan antipati biasanya akan membuat apapun supaya lepas atau tidak ditugaskan lagi di situ. Entah akan membuat kasus atau kerja dengan semangat yang tidak lagi selaras dengan apa yang menjadi komitmen tugasnya.Banyak hal sebenarnya bisa kita lihat dalam kehidupan setiap hari. Hati ternyata menjadi penting. Jika masih punya hati, entah itu mudah atau gampang akan dilaksanakan dengan bahagia. Bahkan dalam rayuan-rayuan gombal atau lirik lagu percintaan pun dikatakan, "Laut kan kuseberangi, gunung kan kudaki". Sampai sebegitunya. Itulah kalau hati sudah kena. Segala sesuatunya akan dilaksanakan dengan enteng. Tak heran jika ada pepatah mengatakan, "Sentuhlah hatinya, maka semua akan kamu dapat dari dia". Melanjutkan kisah atau contoh-contoh di atas, aku pun sebenarnya setiap bekerja selalu mengaitkan dengan hal ini. Awalnya mungkin berat tapi harus mengusahakan diri sampai dirasakan hati ini apakah memang aku jatuh hati pada apa yang kulakukan ataupun ditugaskan ini.
Hati menyangkut motivasi. Banyak orang jatuh pada hal-hal yang sifatnya motif ini. Coba lihat bagaimana seseorang pun mampu melacurkan dirinya menjadi tidak konsisten dengan perjuangan sebelumnya karena hati nuraninya sering dia khianati! Sampai terjadi bahwa ia konsisten dengan inkonsistensinya. Pura-pura manis namun hatinya sebenarnya busuk penuh pengkhianatan. Coba lihat bagaimana para calon yang mau mendapatkan kekuasaan berkompetisi mendapatkan hati banyak orang! Orang yang tidak sampai hati tidak akan melacurkan dirinya dengan mengkhianati hati nuraninya. Atau contoh lain, orang tidak akan mudah meninggalkan tugas utamanya jika hatinya ada di situ. Orang yang mudah meninggalkan tugas utamanya biasanya orang yang sudah tidak punya hati di sebuah tempat tugas yang dia harus jalani. Orang mudah meninggalkan tugas pokok karena ia tidak mau repot dengan tugas utama, ia tidak mau mengurusi lagi, ia sudah jenuh, dan itulah bukti tidak ada lagi HATI di situ.
Banyak efek yang akan terjadi jika kita berhadapan dan bersama dengan orang yang sudah tidak punya HATI. Biasanya akan meninggalkan banyak pertanyaan di antara yang lain, "Koq dia malah meninggalkan tugasnya, padahal sedang dicari dan dibutuhkan?" Biasanya akan membuat repot banyak pihak, "Lha koq pekerjaanya tidak segera diselesaikan? Koq ada yang belum ia kerjakan padahal sudah ditagih beberapa waktu lalu?" Biasanya akan membawa dampak pada subjek layanan di mana ia tidak lagi dipercaya, "Lha kami tidak pernah ditemui. Apa kami harus percaya lagi dengan layanan dia?" Biasanya akan segera ada laporan jika ada atasan lain yang lebih menentukan posisi dia di pekerjaan, "Sepertinya personil ini sudah tidak lagi krasan di tempat kerja, mungkin pimpinan bisa membuat langkah lain demi dia dan institusi ini? Kami sudah mencoba semampunya untuk berkomunikasi dengan dia."
Dalam situasi seperti ini memang siapapun akan tidak nyaman dan tidak mudah. Pihak dia entah sadar atau tidak tentu akan mengalami pergulatan walau tidak terungkap. Dari pihak rekan kerja pasti akan juga bertanya-tanya dan kadang tak berani memberi masukan. Dari pihak pimpinan harus menanyai yang bersangkutan dan mengajak bicara, sebelum ada keputusan yang harus diambil. Dari yang dilayani pasti akan banyak hal: pertanyaan, ketidakpercayaan, tanggapan, reaksi dan sebagainya. Dari sinilah sebenarnya seperti ungkapan kekinian orang saat ini, harus move on. Move on dari kehidupan yang saat ini ke saat yang lain, bergerak untuk segera mengambil sikap dan tindakan. Pasti banyak konsekuensi sih tentunya. Mana ada sih yang gak ada konsekuensi ketika masih hidup dalam ruang dan waktu ini? Dan di sinilah, aku mengaitkan dengan keutamaan yang dibuat oleh Ignatius Loyola. Dia menekankan soal semangat "MAGIS" (membuat sesuatu yang lebih mengarah pada tujuan manusia diciptakan: memuji, memuliakan, mengabdi Allah). Intinya, kita menghayati MAGIS ini di saat kita berani membuat keputusan. Keputusan itu bersifat sebuah pertanggungjawaban personal dan komunal atas apa yang kupilih dan akan kulakukan. Jika memang tidak punya hati lagi, alangkah lebih baiknya jika kuputuskan TIDAK daripada YA malah mengganggu. Memang ada unsur latihan untuk tidak selalu menjalankan sesuai dengan kehendakku namun di sini ternyata HATI itu penting. Tidak ada HATI maka tidak ada KEHENDAK.
Oleh karena itu, aku ingat apa yang pernah kualami. Pertama aku biasanya HATI-HATI di tempat yang baru. Kemudian aku mencoba memperHATIkan segala sesuatu yang ada di situ dan apa yang bisa kubuat. Dan ketika aku sudah cukup bekerja, biasanya aku akan menerima keputusan dengan lapang HATI. Semoga siapapun yang bekerja denganku senang HATI juga.
#noontime@office#