Tulisanku yang berjudul "Kosong" sempat ditanggapi seseorang. Tanggapan itu sempat membuat salah paham. Memang sedari awal aku menuliskan bahwa apa yang kutulis itu sulit dipahami. Alasannya karena mengungkapkan yang ada di batin, "jagat cilik". Aku lalu memakai gambaran "jagat gedhe" karena sesuatu yang ada dalam batin itu memang tidak mudah diungkapkan. Mengenai hal ini (tidak mudahnya mengungkapkan yang ada dalam batin), aku punya kisah. Kisah ini bukan dari diriku tetapi aku belajar dari orang lain yang pernah bicara padaku dan kucoba dengarkan.Sosok itu dinilai sangat lihai ketika ada di panggung. Aku lantas diberi informasi bahwa dia seorang yang pernah menang lomba "stand up comedy" di sekolahnya pada saat SMP. Aku tak percaya. Mana mungkin sosok seperti itu koq bisa berceloteh, bisa melucu, banyak cerita di panggung? Itu ketidakpercayaanku. Sosoknya tidak dapat bicara jika berhadapan 4 mata. Beberapa orang mengatakan bahwa dirinya paling tidak tidak bisa untuk bicara 4 mata apalagi bicara mendalam tentang hidup. Ketika ditanya apa yang ada dalam batinmu, bagaimana perasaanmu, apa visi hidupmu dan sebagainya mengenai kedalaman hidup, orang itu selalu kesulitan menjabarkan, berkisah, berceloteh dengan mudah. Hmmm....ada apa ini? Itu selalu pertanyaan yang muncul dalam benak banyak orang.
Ada kontradiksi yang sangat besar antara ketika ia berada di panggung dan ketika ia berada di ruang pembicaraan berdua. Ada sesuatu yang tidak nyambung kalau hanya dilihat dari cara bicara dan kemampuan dia bicara mengocok perut orang dari panggung. Mengapa ada ketidaksambungan ini? Apakah sementara orang butuh panggung untuk mengekspresikan dirinya kepada orang lain? Sedangkan kehidupan sendiri adalah panggung sebenarnya. Ada teori yang mengatakan bahwa orang dapat saja berekspresi dan senang dengan gebyar panggung, tetapi orang akan tidak mudah ketika harus sendiri berhadapan dengan diri sendiri dan cenderung takut, bosan, menolak. Hal ini penyebabnya adalah orang tidak berani menatap hidup dan seluruh dirinya yang ada sisi gelap dan terangnya. Ada ketakutan terhadap masa lalu, carut-marut hidup, trauma-trauma, dan sebagainya. Berbeda saat ia berada di panggung, keramaian, acara publik. Ia tidak harus menatap dirinya. Ia tidak harus melihat carut-marutnya kehidupan. Ia tidak harus mengingat trauma lama yang belum tersembuhkan. Ia tidak harus berdamai dengan dirinya.
Ketika ia harus berhadapan dengan orang yang mengajak bicara dari hati ke hati, tentang hidupnya, tentang masa lalunya, tentang peristiwa-peristiwa hidupnya, bahkan tentang cita-citanya pun yang ada hanya satu dua kata. Itu pun diucapkan dengan terbata dan sulit mengeluarkan kata-kata. Di situlah jawaban ketidaknyambungan itu. Intinya seseorang harus berjuang mengenal dirinya sampai akhir hayat tetapi orang akan lebih mudah beraktivitas sesuai kesenangan tanpa mengenal diri lebih dalam. Banyak yang seperti itu di antara kumpulan manusia di bumi ini. Oleh karena itu, pengenalan diri dan berdamai dengan diri itu sesuatu yang sangat dibutuhkan agar manusia mampu mengungkapkan dirinya: who we are, what we do, where we live, how we are.Aku lantas ingat akan para pekerja seni, entah itu pelawak, penyanyi, bintang film, dsb. Tahun lalu baru saja bintang kenamaan mati bunuh diri, yaitu Robin Williams. Seantero dunia kaget. Mengapa tokoh sukses dengan film-film berbobot itu mati mengenaskan karena over dosis? Apakah ada sebuah beban hidup yang tak tertanggungkan? Serasa antara apa yang ia ekspresikan dalam karya luar biasa itu tak sepadan dengan cara dia mengakhiri hidupnya. Ada kekosongan makna? Ada kekosongan yang membebani hidup? Bisa jadi sesuatu kekosongan makna hidup karena orang cenderung aktif dan aktif tanpa memaknai dan menghayati hidup sebagai anugerah. Bisa jadi orang dituntut kerja keras sampai harus berkompetisi mati-matian dan lupa bahwa suatu saat gagal. Kegagalan dimaknai sebagai tanpa makna, kosong. Hasilnya bunuh diri. Negara Jepang menjadi populer karena salah satunya tingginya angka bunuh diri karena mereka akan merasa gagal dan tak berarti kalau kalah dalam kompetisi atau yang tidak sukses adalah tidak berarti. Ketidakberartian ini yang menyebabkan orang tanpa makna atau mengalami kekosongan batin. Para pekerja seni yang harus menghibur orang lain ternyata merana hidupnya. Ada yang tidak punya rumah dan masih mengontrak. Ada yang harus hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang terlunta-lunta di masa tuanya, dan sebagainya. Itulah ketika dunia real dan dunia tidak real itu diperankan. Ada kesenjangan antara panggung pertunjukan dan panggung kehidupan.
Dari pengalaman dan komentar seseorang tentang tulisanku, "Kosong", aku melahirkan tulisan ini. Aku bukan mau menjelaskan kekosonganku semata tetapi sebenarnya ada sebuah ruang kehidupan yang harus disadari bahwa kita semua bisa masuk dalam ruang itu jika tidak menyadari hidup dan tidak memaknainya dengan baik. Intinya jika kita tidak mengenal who we are, yang terjadi adalah tak tahu siapa diriku. Tahunya hanya yang superficial saja. Diriku seorang pekerja di bidang pendidikan. Aku mulai kerja tahun sekian. Aku hidup di suatu tempat. Hidupku hanya berjalan begitu saja dan sebagainya. Itu saja. Tak ada rasa, tak ada nada, tak ada warna. Socrates pun pernah mengatakan, "cognosce te ipsum", kenalilah dirimu! Bagiku kata-kata itu membawa sebuah perintah supaya kita makin mampu merumuskan siapa diriku yang sebenarnya, mengenal sedalam-dalamnya diriku dengan segala kecenderungan dan sebagainya.
Terima kasih "Kekosongan". Terima kasih karena kamu sudah mengingatkanku untuk selalu sadar dan mengisi hidupku dengan memaknainya. Merci beaucoup.
#morning time, in my office#