Saturday, February 28, 2015

Stand up Comedy (Lanjutan dari "Kosong")

Tulisanku yang berjudul "Kosong" sempat ditanggapi seseorang. Tanggapan itu sempat membuat salah paham. Memang sedari awal aku menuliskan bahwa apa yang kutulis itu sulit dipahami. Alasannya karena mengungkapkan yang ada di batin, "jagat cilik". Aku lalu memakai gambaran "jagat gedhe" karena sesuatu yang ada dalam batin itu memang tidak mudah diungkapkan. Mengenai hal ini (tidak mudahnya mengungkapkan yang ada dalam batin), aku punya kisah. Kisah ini bukan dari diriku tetapi aku belajar dari orang lain yang pernah bicara padaku dan kucoba dengarkan.

Sosok itu dinilai sangat lihai ketika ada di panggung. Aku lantas diberi informasi bahwa dia seorang yang pernah menang lomba "stand up comedy" di sekolahnya pada saat SMP. Aku tak percaya. Mana mungkin sosok seperti itu koq bisa berceloteh, bisa melucu, banyak cerita di panggung? Itu ketidakpercayaanku. Sosoknya tidak dapat bicara jika berhadapan 4 mata. Beberapa orang mengatakan bahwa dirinya paling tidak tidak bisa untuk bicara 4 mata apalagi bicara mendalam tentang hidup. Ketika ditanya apa yang ada dalam batinmu, bagaimana perasaanmu, apa visi hidupmu dan sebagainya mengenai kedalaman hidup, orang itu selalu kesulitan menjabarkan, berkisah, berceloteh dengan mudah. Hmmm....ada apa ini? Itu selalu pertanyaan yang muncul dalam benak banyak orang.

Ada kontradiksi yang sangat besar antara ketika ia berada di panggung dan ketika ia berada di ruang pembicaraan berdua. Ada sesuatu yang tidak nyambung kalau hanya dilihat dari cara bicara dan kemampuan dia bicara mengocok perut orang dari panggung. Mengapa ada ketidaksambungan ini? Apakah sementara orang butuh panggung untuk mengekspresikan dirinya kepada orang lain? Sedangkan kehidupan sendiri adalah panggung sebenarnya. Ada teori yang mengatakan bahwa orang dapat saja berekspresi dan senang dengan gebyar panggung, tetapi orang akan tidak mudah ketika harus sendiri berhadapan dengan diri sendiri dan cenderung takut, bosan, menolak. Hal ini penyebabnya adalah orang tidak berani menatap hidup dan seluruh dirinya yang ada sisi gelap dan terangnya. Ada ketakutan terhadap masa lalu, carut-marut hidup, trauma-trauma, dan sebagainya. Berbeda saat ia berada di panggung, keramaian, acara publik. Ia tidak harus menatap dirinya. Ia tidak harus melihat carut-marutnya kehidupan. Ia tidak harus mengingat trauma lama yang belum tersembuhkan. Ia tidak harus berdamai dengan dirinya.

Ketika ia harus berhadapan dengan orang yang mengajak bicara dari hati ke hati, tentang hidupnya, tentang masa lalunya, tentang peristiwa-peristiwa hidupnya, bahkan tentang cita-citanya pun yang ada hanya satu dua kata. Itu pun diucapkan dengan terbata dan sulit mengeluarkan kata-kata. Di situlah jawaban ketidaknyambungan itu. Intinya seseorang harus berjuang mengenal dirinya sampai akhir hayat tetapi orang akan lebih mudah beraktivitas sesuai kesenangan tanpa mengenal diri lebih dalam. Banyak yang seperti itu di antara kumpulan manusia di bumi ini. Oleh karena itu, pengenalan diri dan berdamai dengan diri itu sesuatu yang sangat dibutuhkan agar manusia mampu mengungkapkan dirinya: who we are, what we do, where we live, how we are.

Aku lantas ingat akan para pekerja seni, entah itu pelawak, penyanyi, bintang film, dsb. Tahun lalu baru saja bintang kenamaan mati bunuh diri, yaitu Robin Williams. Seantero dunia kaget. Mengapa tokoh sukses dengan film-film berbobot itu mati mengenaskan karena over dosis? Apakah ada sebuah beban hidup yang tak tertanggungkan? Serasa antara apa yang ia ekspresikan dalam karya luar biasa itu tak sepadan dengan cara dia mengakhiri hidupnya. Ada kekosongan makna? Ada kekosongan yang membebani hidup? Bisa jadi sesuatu kekosongan makna hidup karena orang cenderung aktif dan aktif tanpa memaknai dan menghayati hidup sebagai anugerah. Bisa jadi orang dituntut kerja keras sampai harus berkompetisi mati-matian dan lupa bahwa suatu saat gagal. Kegagalan dimaknai sebagai tanpa makna, kosong. Hasilnya bunuh diri. Negara Jepang menjadi populer karena salah satunya tingginya angka bunuh diri karena mereka akan merasa gagal dan tak berarti kalau kalah dalam kompetisi atau yang tidak sukses adalah tidak berarti. Ketidakberartian ini yang menyebabkan orang tanpa makna atau mengalami kekosongan batin. Para pekerja seni yang harus menghibur orang lain ternyata merana hidupnya. Ada yang tidak punya rumah dan masih mengontrak. Ada yang harus hutang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Ada yang terlunta-lunta di masa tuanya, dan sebagainya. Itulah ketika dunia real dan dunia tidak real itu diperankan. Ada kesenjangan antara panggung pertunjukan dan panggung kehidupan.

Dari pengalaman dan komentar seseorang tentang tulisanku, "Kosong", aku melahirkan tulisan ini. Aku bukan mau menjelaskan kekosonganku semata tetapi sebenarnya ada sebuah ruang kehidupan yang harus disadari bahwa kita semua bisa masuk dalam ruang itu jika tidak menyadari hidup dan tidak memaknainya dengan baik. Intinya jika kita tidak mengenal who we are, yang terjadi adalah tak tahu siapa diriku. Tahunya hanya yang superficial saja. Diriku seorang pekerja di bidang pendidikan. Aku mulai kerja tahun sekian. Aku hidup di suatu tempat. Hidupku hanya berjalan begitu saja dan sebagainya. Itu saja. Tak ada rasa, tak ada nada, tak ada warna. Socrates pun pernah mengatakan, "cognosce te ipsum", kenalilah dirimu! Bagiku kata-kata itu membawa sebuah perintah supaya kita makin mampu merumuskan siapa diriku yang sebenarnya, mengenal sedalam-dalamnya diriku dengan segala kecenderungan dan sebagainya.

Terima kasih "Kekosongan". Terima kasih karena kamu sudah mengingatkanku untuk selalu sadar dan mengisi hidupku dengan memaknainya. Merci beaucoup.





#morning time, in my office#

Thursday, February 19, 2015

Kosong

Kosong atau kusebut juga kekosongan, begitulah yang terjadi di bulan lalu memasuki tahun baru 2015. Aku tak menuliskan ide-ideku ataupun pendapatku atau komentarku atau yang lain. Sebenarnya aku tak mau itu terjadi. Dan bulan lalu itu tak sekosong ideku yang tak termuat di sini. Justru karena bulan lalu itu penuh bergejolak dan pergulatan antara jagad cilik dan jagad gedhe-ku. Bukan maksud aku mau melupakan coretan-coretanku tetapi memang aku tengah menjalani berbagai macam hal yang semua itu membutuhkan ketahanan batin tertentu. Aku baru saja ingat kata-kata seorang Ernest Renan, "Memperhatikan keragu-raguan dalam hidup adalah menghormati adanya kebenaran itu sendiri." Cuplikan itu kudapat dalam novel Romo Rahadi, karya Wastu Wijaya.

Apakah aku sedang ragu? Apakah aku tengah mengalami keragu-raguan itu? Setiap hari bagiku adalah penegasan diri. Setiap tapak hidupku adalah penegasan terus-menerus. Ada kalanya ragu itu terus menyelimuti dan ada kalanya jalan  itu penuh dengan kerikil ragu-ragu. Apakah keraguan itu membuat hidupku berhenti atau tak menentu? Aku memperhatikan hal ini demikian: saat diriku hanya bergulat dengan keraguan, memang akhirnya seperti sebuah kendaraan yang antara berhenti atau berjalan. Saat orang penuh keraguan namun perlahan mengolah dan mendapatkan peneguhan akan kebenaran yang ada, di situlah sebenarnya keraguan adalah saat di mana kebenaran belum tersingkap dan memanggil dirinya untuk menyingkapnya.

Aku belajar untuk jujur pada diriku dan pada orang-orang yang dekat denganku untuk dengan jujur mengungkapkan kebenaran diri. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata kejujuran ini banyak kali mendapat perlawanan dari berbagai penjuru. Ketika orang diminta untuk jujur dengan dirinya dan orang lain berkaitan dengan "apa sih maunya", ternyata kebanyakan orang tidak dapat segera mengungkapkan. Pengungkapan diri dalam kejujuran pun di masyarakat kita butuh sebuah institusi pemaksa, seperti KPK misalnya. Karena membongkar ketidakjujuran pun saat ini orang dapat disalahkan karena pada dasarnya manusia itu ingin menyembunyikan dirinya. Kejujuran ternyata sangat amat mahal. Bahkan ini bisa jadi kali kedua pemimpin sebuah institusi yang mau menegakkan kejujuran dipersalahkan. Jujur menjadi barang berharga yang membutuhkan pengurbanan nyawa. Kejujuran dipertaruhkan dalam sebuah panggung kehidupan.

Ya, itulah yang kadang membuatku harus sampai pada taraf memaknai kekosongan kemarin itu dalam konteks diri dan wilayah yang lebih luas. Mungkin tulisanku ini juga tak mudah dimengerti karena mengungkap kebenaran memang tidak mudah. Jujur dengan diri sendiri saja tak mudah apalagi jujur pada khlayak ramai. Orang sudah dipengaruhi dan ditumpuki dengan berbagai kepentingan sehingga kebenaran itu tertumpuki juga oleh kepentingan-kepentingan itu. Kebenaran dipermainkan. Kebenaran dikomersialisasikan. Kebenaran malah juga dikriminalisasikan. Itulah yang terjadi saat ini. Suasananya riuh. Suasana perang dingin, saling balas dendam, mengungkit kasus lama supaya ada perkara. Di sini kejujuran dan kebenaran menjadi ambigu, tidak jelas, tidak segera dapat dipahami. Orang cenderung bersembunyi pada pasal-pasal hukum. Orang memakai kedok apapun supaya ketidakjujuran dan ketidakbenarannya tak terungkap.

Kisah Adam dan Eva yang ditanyai Allah sudah melahirkan saling tuduh dan tak jujur. Kisah Kain dan Habel sudah melahirkan kedengkian dan kecemburuan beranak pinak di bumi ini. Keturunan manusia memang sejak dulu kala terjerat kekuatan jahat yang lebih sering menjerat hidup. "Perempuan yang Kau berikan padaku, dialah yang memberikan buah itu kepadaku," demikian kata Adam ketika ia ditanyai Allah. "Mengapa Kau tanyakan Adikku? Apakah aku penjaga Adikku?", jawab Kain kepada Allah setelah ia membunuh adiknya.


#rainy evening in my room#