Kurikulum 2013 ternyata masih tetep menjadi trending topic di mana-mana. Bahkan hari ini tadi setelah aku berbagi oleh-oleh dan pemikiran, muaranya adalah bagaimana kita menghadapi K-13 itu. Dalam diskusi Jumat lalu, sebuah tema diangkat yaitu "Formalisme dalam Dunia Pendidikan" dan itu tak lain juga mengangkat soal K-13 ini karena dirasa oleh sementara orang dalam K-13 ini apa-apa harus diukur, distandarkan, dinilai. Memang dalam standar evaluasi ada banyak sekali instrumennya: ada evaluasi diri, evaluasi rekan sebaya, evaluasi dari observasi tentang ketrampilan spiritual, kognitif, dan yang lain lagi. Di sini guru dan praktisi pendidikan dibuat puyeng dan mabok oleh begitu rupa banyaknya instrumen itu. Yang namanya praktisi pasti akan ribut dulu karena tidak diberitahu dengan pasti dan jelas. Apalagi sekarang guru direndahkan martabat dan levelnya oleh pemerintah dengan hanya dijadikan pelaksana kurikulum saja karena dari sylabus sudah dibuatkan, sedangkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran guru yang buat. Nah, ketika dari situlah guru tidak lagi tahu apa yang harus dibuat. Guru direndahkan hanya jadi tukan pengajar di kelas saja tanpa tahu banyak filosofi dan rationale dari sylabus bahkan maksud dari kurikulum yang diwajibkan ini. Sekali lagi di situlah formalisme sudah membuat guru mandeg dan kalau sudah menjalankan instruksi ya sudah, itu saja. Ketika diajak untuk berubah, isinya mazmur ratapan dan keluhan. Berubah itu sakit.Aku bicara soal standard dan formalitas yang menjad "isme". Ketika segala sesuatu menjadi -"isme", maka cenderung akan monolitik dan mengaggungkan klaim kebenaran sendiri. Formalisme menjadi peyoratif karena itu cenderung membenarkan dirinya bagi atau di atas kebenaran yang lain. Ketika itu terjadi, maka orang akan menganut faham (yang "isme" tadi). Contohnya, ketika zaman Orde Baru, dalam pelajaran PMP, apa yang kita pelajari? Setidaknya aku hanya belajar rumusan yang panjang-panjang dan itu yang benar. Kebenaran ada pada rumusan panjang dan itu yang dinilai guru paling benar. Lebih lanjut lagi, kita tahu yang baik, maka kita sudah "dinilai" bermoral baik karena labelnya pedidikan "moral" dengan embel-embel Pancasila. Terjadi kesalahkaprahan, kesalahajaran, kesalahkonsepsi tentang moralitas. Tak mengherankan generasi yang dihasilkan adalah generasi yang sebenarnya tak bermoral karena hanya tahu moral saja. Dalam pelajaran seni rupa, kebenaran rupa ditentukan oleh warna yang dipilih. Jika melukis gunung, maka warna gunung itu biru atau hijau. Jika warna yang dipilih merah, maka nilainya kurang atau tidak mendapat nilai seperti yang diharapkan.
Pertanyaannya kemudian: apakah sesuatu yang formal itu perlu? Apakah standard itu perlu? Jawaban yang aku temukan masih ya, sejauh tidak sampai pada "isme" tadi. Mengapa? Formal berasal dari kata "form" atau "forma". Artinya bentuk. Tentu dalam kehidupan kita masih perlu adanya bentuk dengan embel-embel yang jelas. Pendidikan pun tak lepas dari pembentukan (karakter - misalnya). To educate sekaligus punya tanggung jawab to form. Buah dari pendidikan itu bentuknya seperti apa, selalu akan diarah oleh setiap lembaga pendidikan. Justru tantangannya adalah formalitas itu harus disadari dengan baik agar tidak terjebak dalam ketidaksadaran formalisme. Guru sering mengeluh jika diminta membuat administrasi sekolah karena tidak sadar akan pentingnya sebuah dokumentasi. Dokumentasi itu dibuat sejak persiapan/perencanaan, pelaksanaan, dan akhir dari proses yang dibuat evaluasi. Proses ini yang sering tidak dibuat catatan/dokumentasi. Kesadaran sepenuhnya bahwa dengan menulis persiapan (RPP), melaksanakan pembelajaran di kelas, dan mengevaluasinya adalah sebuah proses berkesinambungan dan integral dalam mendidik.
Tantangan dunia zaman ini sekali lagi orang sulit diajak untuk merumuskan ide secara lebih sistematis karena terbiasa (habit) hidup dalam dunia serba lisan. Walau alat komunikasi itu canggih, ternyata alat itu hanya "membentuk" habit lisan. Memang ada embel-embel text tetapi text ini tidak membantu manusia untuk duduk, tenang, menulis dengan baik. Isinya hanyalah obrolan daam peranti media sosial (sosmed). Sekian miliar text message yang melayang di udara setiap detiknya karena orang senang ngobrol, chatting, berkicau (nge-twitt), dan sebagainya. Mungkin jika diminta untuk menjelaskan dengan sms atau LINE, atau medsos yang lain tentang RPP-nya guru-guru yang melek medsos akan menjelaskan tetapi kalau diminta mengerjakan di word atau excell maka kelabakan ditambah lagi dengan deadline dari kepala sekolah. Belum lagi bagi kalangan guru yang usianya uzur, penggarapan RPP dan sebagainya tambah mumet karena mereka sudah tidak connect dengan perkembangan super cepat di dunia ini.
Formalisme ternyata membawa banyak dampak dari efek samping A sampai Z. Hanya satu kata untuk melawannya: Kesadaran! Sadar bahwa diri kita yang membutuhkan sebuah format atau standar bukan dari luar. Sadar bahwa ada kebutuhan tertentu maka dibuatlah standar atau bentuk tertentu. Ketika kesadaran itu ada, maka tidak lagi menjadi sebuah bumerang lagi apa yang dinamakan formalisme. Paulo Freire ketika melawan penindasan yang menstruktur di Brazil dengan akibat kebodohan karena banyak orang miskin yang buta huruf, membuat pedagogi yang intinya penyadaran atau conscientization. Penyadaran ini yang kemudian mengajak masyarakat tertindas tahu siapa dirinya, apa perannya, dan bagaimana selayaknya dia harus hidup. Penyadaran secara pedagogis juga dapat disebut sebagai proses refleksi. Kesadaran dibangun lewat kebiasaan berefleksi setelah mempelajari sesuatu, memberi makna dari pengalaman sebelumnya dan membuat aksi apa yang selanjutnya dibutuhkan. Orang yang sungguh belajar dan mengajak belajar haruslah sampai pada pembentukan kesadaran dan teraplikasi dalam tindakan. Jika orang belajar hanya untuk mengejar nilai angka akademis dalam tes, maka itu bukan proses belajar yang baik dan benar.
Some people said about conscientization, some people said about reflection. Both for me are needed when our community or ourselves live unconsciously. Especially in our educational institution, we need to create or develop reflective and conscious milieu for better life, understand more what is our purpose, how we do live, what is our tools to gain our purpose.
in the beginning of December 2014
in my room