Beberapa hari ini aku bermenung dan berpikir tentang begitu mudahnya orang meng-upload foto di media sosial. Aku bermula dari tidak aktifnya diriku dari “ dunia persilatan” FB dan yang berbau postingan foto atau video. Aku lantas bertanya pada diriku, “apakah faseku untuk ber-facebook sudah usai?” Lantas aku mencoba bermenung mulai dari ketidaknyamananku untuk memposting diriku di status entah WA ataupun FB atau IG. Fenomena media sosial adalah fenomena visual yang melanda dunia global ini. Ada orang yang sejak lama tidak pernah memakai fasilitas medsos seperti FB, IG, twitter atau yang lain. Mereka hanya pakai WA sebagai andalan komunikasi karena sudah puas dengan kirim foto atau video. Ada orang yang bahkan strict tidak memakai perangkat android bahkan karena ingin tidak diganggu keriuhan dunia medsos sehingga hanya memakai perangkat HP GSM dan email saja.Ketidaknyamanan itu makin menjadi ketika aku melihat status WA beberapa orang di kontakku yang aneh-aneh. Apa-apa di-upload sehingga akhirnya teori lama itu sungguh terjadi, yaitu tidak ada lagi ruang privat di duinia medsos (walau ada setting untuk privasi status...share with..). Apa sih motivasi orang membuat status? Orang menulis sesuatu di statusnya untuk mengabari, memberi informasi dan promosi tentang sesuatu hal atau dirinya. Orang meng-upload foto di berbagai tempat untuk memberitahukan bahwa dirinya berada di situ. Orang memposting gambar-gambar atau video lucu supaya yang melihat statusnya menjadi tertawa. Banyak motivasi orang membuatnya. Ketika kemarin aku melihat beberapa postingan status "Pray for SMP 1 Turi", dari beberapa orang yang kukenal, aku menjadi ingin tahu berita apa yang sedang terjadi. Ternyata ada musibah anak-anak pramuka yang terseret arus sungai saat kegiatan pramuka di sekolah itu saat susur sungai.
Dari postingan seseorang dalam statusnya, akhirnya aku setidaknya juga bisa membaca kecenderungan beberapa orang yang ada. Ini hanya penilaian subjektif saja tentunya. Kadang ada orang yang kecenderungannya adalah memposting segala sesuatu yang bagi dirinya itu memberi motivasi bagi orang lain, entah itu sapaan selamat pagi, foto motivasi, atau tulisan renungan. Kadang ada orang yang kecenderungannya adalah pamer tentang prestasi, apa yang dia buat, atau dia tulis. Ini bisa saja mewartakan atau promosi tentang sesuatu. Ada juga yang postingannya adalah acak, kadang foto lucu, video lucu atau alirannya macam-macam. Ada juga yang selalu ingin up to date dengan dirinya. Biasanya statusnya adalah memberitakan bahwa hari ini sedang rapat di mana, berkegiatan di mana, sedang menjalani apa. Ada juga status yang ada menggambarkan hobinya. Oleh karena itu postingannya juga tentang berbagai jenis mobil, bintang olahraga, artis atau kecintaan yang lain. Ada juga yang memuat trend saat ini. Ini berbeda dengan yang ingin up to date. Biasanya ini soal trend musik atau artis yang sedang booming. Misalnya ia ikut arus trend K-Pop atau "Sobat Ambyar" atau aplikasi tik-tok, dan sebagainya.
Pernah suatu kali aku mencoba untuk ganti profile picture di WA. Tidak ada hitungan jam lalu aku menggantinya. Aku tidak suka dengan mengekspose diri. Aku ini pemalu. PP pun hanya gambar lain dan bagiku itu menarik. Bagi orang lain bisa saja itu tidak ada artinya. Masih ada kusisakan PP yang adalah wajahku di FB dan IG yang lama sudah tidak kutengok. Dulu pernah aku suka memposting gambar-gambar di mana aku berada, pemandangan alam yang indah, foto tentang fenomen masyarakat dan sebagainya. Aku juga pernah memakai medsos untuk memposting tulisanku. Sekarang aku merasa itu sudah cukup. Aku berusaha mengurangi ekspos-ekspos.
Aku butuh ruang untuk batin untuk tidak terekspos atau mengeksposkan diri. Ketika dunia ini penuh sesak dengan segala bentuk visual exhibition, rasanya diriku perlu membuat yang lain. Tidak perlu hanyut dan terseret ke sana. Aku membandingkan demikian: ketika ibuku menyekolahkanku masuk SD umur 7 tahun, aku baru memahami ternyata itu ada maksudnya. Setidaknya aku diberi waktu sampai 7 tahun untuk bermain sepuasnya. Setelah itu aku masuk ke SD dan aku tidak lagi menagih diri dengan kebutuhan untuk bermain. Aku merasa bahwa masa kecilku sudah tercukupi kebutuhan untuk bermainnya. Begitu juga ketika tahun 2008 aku mulai masuk dalam "rimba" FB dan sampai 2007 lalu aku memakainya untuk postingan foto atau video tentang diri dan pekerjaanku, rasanya saat ini aku sudah merasa cukup. Aku sadar bahwa ketika masuk ke WA dan melihat status orang lain, aku "tersangkut" sejenak untuk menikmati hal-hal yang serba visual. Dan ini bisa menjadi gangguan kalau aku selalu ingin melihat status orang lain. Karakter "kepo" terbentuk di zaman ini karena semua bisa diakses.
Diriku kadang merasa capai dengan dunia medsos. Bahkan aku sempat mengatakan dan menjalani sendiri pemblokiran beberapa kontak yang tidak kuinginkan karena kiriman-kiriman yang bagiku perlu distop. Ketika ada seorang yang mengeluh bahwa ada yang mengganggu iseng dengan merayu-rayu tetapi dia tidak berani menyetop, saranku "blokir saja kiriman sampah itu". Beberapa status WA pun aku mute supaya tidak terlihat di statusku. Toh mereka tidak tahu kalau aku mute. Kebutuhan untuk membuat status kiranya perlu lebih kuperhatikan. Mengapa? Apa sebab orang suka membuat status? Ini fenomena yang cukup menarik. Banyak teori dan penjelasan tentang hal itu tetapi aku hanya menulis sebagian dari apa yang aku alami saja.
Kalau dikaitkan dengan ungkapan di atas, aku merasa butuh ruang sendiri, ruang merdeka untuk tidak terekspos. Sekali lagi ini adalah ideku, pilihanku. Bagi mereka yang suka dan hobi pasang status ya silakan. Bukan "gue banget" pasang-pasang status atau posting-posting apapun di medsos. Yang aku butuhkan adalah ruang sepi dan sunyi untuk merdeka. Ruang sunyi tak terekspos atau tak mengeksposkan diri buatku penting karena di sana aku bisa leluasa berkarya dan berpikir, tak terganggu oleh hiruk-pikuk visual exhibition. Ada beberapa orang yang ingin "me time" namun sayang "me time" diposting di statusnya dengan embel-embel "late post" (itu masih mending) atau malah ada yang me time-nya live.
Apakah kemudian ketika orang meposting statusnya maka dirinya ada? Kalau Descartes mengatakan "aku berpikir maka aku ada"(cogito ergo sum), mungkin saat ini orang berpola sama dengan mengatakan "aku pasang status maka aku ada"? Itu menjadi sebuah pertanyaan besar. Apakah keberadaanku (eksitensiku) hanya ditentukan oleh update statusku? Silakan dijawab sendiri.
#malam hari saat sunyi#