Thursday, August 28, 2014

Ketika Semua Harus Diukur

Hari Selasa minggu lalu, aku ikut dalam sebuah acara yag diselenggarakan Dinas Pendidikan dan Olah Raga (Disdikpora). Aku juga mulai harus mengenal istilah-istilah yang disingkat di birokrasi negara ini. Acara itu adalah acara yang judulnya "Sosialisasi Kurikulum 2013". Agenda ini termasuk bagian dari Bimbimbingan Teknis (Bimtek) di Kabupaten di mana aku tinggal dan bekerja.

Sejak awal aku sudah tidak tertarik dengan apa-apa yang berbau negeri/pemerintah/birokrat negara. Memang benar bahwa acara itu penuh dengan protokoler. Bahasa yang digunakan bahasa formal. Penyampaian bertele-tele. Presentasi dari pembicara pun sebenarnya tidak banyak menambah apa-apa karena bersifat informatif dan teoretis. Langkah yang diambil oleh Dinas sendiri terkesan (bagiku) selalu menghabiskan dana dan waktu bekerja. Sebenarnya kalau mau serius dan lebih berbobot adalah bagaimana pengawalan di setiap unit kerja dari sekolah-sekolah negeri dan swasta.

Terkesan dari apa yang dibuat dalam pelaksanaan Kurikulum 2013 ini setengah-setengah. Di sisi lain juga tidak siap dengan landasan teori atau rasionale yang dirancang oleh kementrian. Ada ambisi yang keterlaluan bagiku yakni bahwa dengan kurikulum ini diharapkan generasi muda Indonesia yang akan memipin negara ini pada 2045, pada saat perayaan 100 tahun kemerdekaan nanti, menjadi generasi yang hebat, berkarakter dan bertakwa. Itulah ambisi yang terlalu ambisius. Oleh karena itu, kurikulum ini dirancang bahwa akan memuat pendidikan karakter yang lebih banyak, walau pendekatannya itu katanya scientific. Hal ini diambil karena ada keprihatinan bahwa bangsa ini mempunyai kepandaian intelektual tetapi kurang beriman, bertakwa dan kurang mempunyai budi pekerti. Dalam komponen kurikulumnya pun harus mengolah pengetahuan (akal), iman (hati), dan ketrampilan (tindakan).

Sayangnya ketika saya mendengarkan sejak masuk 3 bulan lalu di sekolah dan mau tak mau negara harus menuntut semua menjalankan kurikulum ini baik bagi swasta dan negeri tentu, saya kurang menemukan roh kurikulum ini sesuai harapannya. Saya hanya menemukan bahwa (1) administrasi guru semakin banyak, (2) metodologi dan pendekatan dalam psikologi perkembangan kurang pas, dan (3) kurangsiapnya komponen dalam pelaksanaan. Masalah banyaknya administrasi bagi guru, saya membayangkan demikian: guru dituntut untuk membuat persiapan (RPP) dengan segala macam kolom yang harus dibuat. Setelah itu RPP harus semua dikumpulkan ke Dinas, tak cukup di sekolah. Administrasi sebenarnya pekerjaan biasa bagi guru tetapi ketika semua harus dicatat dan diukur dengan detail baik kuantitatif dan kualitatif, saya mengibaratkan bahwa saat ini tiap guru butuh 1 orang asisten mengajar yang membuatkan administrasi dari persiapan, mengobservasi di kelas, dan akhirnya membuat assesment (penilaian dari ulangan harian, tugas, mid semester sampai ulangan akhir semester) yang dalam bentuk raport. Administrasi semakin bertambah dengan adanya kelas peminatan dan lintas minat karena ini juga membutuhkan pendokumentasian tersendiri yang relatif banyak dan "merepotkan" guru. Jam mengajar untuk matapelajaran sendiri saja sudah banyak, ditambah lagi dengan kelas peminatan yang ditujukan bagi murid dari jurusan lain agar mengalami jurusan yang lain. Misalnya dari IPA ke IPS atau sebaliknya IPS ke IPA.

Metodologi dan pendekatan yang psikologi perkembangan yang kurang pas adalah soal peminatan. Anak sampai dengan usia SMA adalah pribadi anak muda yang masih harus didampingi. Pilihan-pilihan dalam hal minat studi pun masih dalam batas pengawasan dan pendampingan guru. Oleh karena itu, dengan metode dan pendekatan minat, bagiku ini "ngayawara", terlalu dini dan mengada-ada bagi perkembangan anak. Mereka memilih pun juga sebenarnya karena diwajibkan. Minat pun akhirnya minat wajib. Alasan dari negara adalah agar murid dari jurusan IPA dan atau IPS dapat mengalami jurusan sebaliknya sehingga ketika masuk universitas nanti, mereka juga dapat masuk ke jurusan yang tidak selalu searah dengan jurusan ketika SMA. Terlalu dini sejak SMA sudah dijuruskan/dispesialisasi. Demikian pemikiran mereka. Dalam praktiknya di universitas pun jurusan IPA dapat masuk ke mana-mana. Memang dalam arti ini anak lulusan IPS yang dianaktirikan karena tidak dapat masuk ke jurusan MIPA di universitas. Apakah karena hal ini kemudian dibuat semacam ini?

Kekurangsiapan negara sebenarnya sudah awal diprediksi banyak orang. Buku yang sedianya sudah terdistribusi sejak pertengahan Juli tahun ini, dengan alasan adanya lebaran dan kendala teknis yang tak perlu sebenarnya, justru menjadi alasan utamanya, akhirnya tak terdistribusi sampai bulan Agustus ini. Kesan membuat-buat alasan selalu kami rasakan itu. dari segi konsep pun ketidaksiapan ini dirasakan. Ukuran rasa memang subjektif tetapi rasa itu juga adalah reaksi dari akal budi yang bertanya dan sanksi: "Koq seperti itu sih? Apakah pemerintah ini serius atau selalu cari proyek agar dirinya bekerja? Apakah kurikulum yang lalu sudah harus diganti atau dimodifikasi?" Kekuarangsiapan membuat sebuah ukuran pun terasa. Apa-apa harus diarahkan kepada Tuhan, Allah. Ujung-ujungnya kadang terasa dipaksakan. Bahkan ketika harus merangkum pembelajaran agar orang bertakwa kepada Tuhan, beriman lewat ilmu, rasanya memang aneh karena istilah dan cara yang dipakai itu dipaksakan. Cara beriman orang satu dengan yang lain akan diarahkan ke dalam ukuran yang sama dalam sebuah kurikulum. Ukuran keberhasilan iman dan takwa dimasukkan dalam sebuah kurikulum dan itu harus ada di setiap adminstrasi guru. Naif memang karena sering berurusan dan memasukkan Tuhan dalam "kendaraan" kecil yang bernama kurikulum karena dipaksakan.

Aku rasa ini sama seperti seseorang yang diperingati hari ini, Agustinus seorang dari Hippo Afrika Utara, yang pada abad ke-4 sudah mau memasukkan Allah dalam rumusan pikirannya. Memahami Allah yang Mahabesar itu dalam tempurung kepalanya. Ia disadarkan oleh peristiwa bertemu dengan anak kecil di pantai. Anak kecil itu memasukkan air laut ke dalam lubang yang ia buat. Air itu masuk tetapi meluber keluar karena sudah penuh. Ibaratnya seperti mau memasukkan air samudera ke dalam kepalanya, Agustinus sadar bahwa Allah melebihi ukuran kepala yang ia punyai.

Bukan aku tak setuju dengan tujuan baik bahwa setiap murid, setiap pribadi harus sampai pada tahap bersyukur atas hidup, ilmu, pengetahuan yang ia punyai. Yang pantas disayangkan adalah cara yang dipaksakan dan harus terukur secara terbatas dalam sebuah ukuran kurikulum. Menyadari dan memberi ruang untuk examen (memeriksa batin) ketika belajar bahwa Allah itu hadir dalam hidupku, itu harus dilakukan. Ilmu yang ada itu juga berasal dari hukum-hukum ilahi di alam semesta dan sebagainya, itu perlu disadari dan dibuat tetapi tidak lantas diukur sedemikian rupa sehingga ada hal yang dapat dipakai untuk menghakimi dan menilai berhasil atau tidaknya sebuah tindakan. Latihan refleksi dan menulis di SMA pun dalam rangka examen juga perlu dilatihkan dan masih banyak lubang, apalagi hanya sebatas diukur dengan angka dan narasi. Inilah kelamahan sebuah rumusan dan ukuran yang dibuat manusia. Ukuran dan rumusan itu tak mencakup dan tak mencukupi apa yang ia bayangkan. Maunya mengukur dan membuat penilaian karena metodenya scientific, harus ada bukti penilaian dari indikator, ternyata yang dinilai adalah sebuah kualitas dan bahkan sebuah penghayatan iman, bahkan relasi makhluk dan Penciptanya.Apakah ini tepat? Jangan-jangan kita sedang masuk tahap "atheisme praktis" lagi. Artinya memaksa-maksa diri untuk menyebut Tuhan, Allah tetapi kenyataannya kita berbuat yang sebaliknya: kejahatan tetap ada, korupsi merajalela, saling bunuh antar sesama, dan sebagainya.

Ah, itulah yang sedang terjadi di salah satu bagian yang dibuat di negara ini. Pendidikan menjadi ajang proyek dan rayahan elit birokrasi. Nalar kurang dipakai untuk kepentingan bersama dengan semestinya namun hanya sekedar menjalankan proyek, membuat rasionalisasi secukupnya, memakai otoritas yang harus memberlakukan secara paksa tanpa memandang keunikan dan keberagaman yang ada. Itulah yang terjadi.

O, iya...para perangkat birokratis selalu memakai ideologi perubahan untuk sosialisasi yang maunya menjadi sebuah propaganda yang setengah-setengah dalam menerapkan kurikulum ini. Sekarang zamannya perubahan. Semangat perubahan tidak disertai dengan cara mengawal yang baik sehingga masih terjadi ketimpangan di sana sini.



#in my office
Pada Peringatan St Agustinus

Thursday, August 7, 2014

Riuh

Semenjak Pemilu Presiden Juli lalu sampai saat ini dunia rasanya riuh. Keriuhan itu tak hanya di dalam negeri yang bernama Indonesia ini tetapi juga jagad ini sepertinya tak mau kalah riuhnya. Sampai-sampai saking riuhnya ada juga yang mengajak ricuh hehehe… Itu komentarku dalam hati.

Dunia ini begitu berisik. Tetapi itulah dunia. Tak ramai bukanlah dunia mungkin. Selama masih hidup di dunia, orang-orang masih butuh makan, masih ada persoalan ini dan itu, tandanya masih ada kehidupan.

Setelah pilpres pun masih ada sengketa. Pihak nomer 1 masih belum bisa menerima kekalahan dari nomer 2. Alasannya ada kecurangan dalam pemilu yang dibuat sistematis, masif dan terstruktur. Segala macam cara diupayakan agar kandidat nomer 1 bisa menang. Kubu nomer 1 dan pengikutnya sampai sebelum lebaran terus menerus mengusahakan agar terjadi kemenangan walau dalam perhitungan cepat sudah kalah bahkan sampai perhitungan KPU juga dinyatakan kalah namun hal itu belum dapat diterima kubu nomer 1. Kelompok ini merengek-rengek minta kemenengan, seperti anak kecil yang minta dibelikan gula-gula tetapi belum dikabulkan ibunya. Mereka terus merengek dan merengek agar diberi gula-gula.

Kericuhan internal bangsa ini pun berpotensi konflik. Itu yang ditakutkan banyak pihak. Orang sudah muak dengan cara-cara kekerasan, intimidasi, teror, ancaman dan sebagainya. Justru karena kubu nomer 1 memakai hal itu, maka orang-orang banyak yang sinis dengan cara-cara itu. Ada ancaman "people power". Ada orasi-orasi yang bernada ngawur di depan gedung Mahkamah Konstitusi (MK). Ada praktik-praktik perdukunan/klenik dengan dukun-dukun yang didatangkan. Bahkan para pendemo yang dikupas Kompas hari ini, 7 Agustus 2014 disebutkan bahwa ada pihak-pihak yang memang dibayar oleh pihak kubu nomer 1 untuk beramai-ramai datang ke depan MK untuk sekedar beriuh-riuh ria. Tarifnya dapat Rp. 50.000,00. Ada juga yang seharian dibayar Rp. 200.000,00. Mereka hanya diminta datang dan berdemo, tanpa tahu sebenarnya acara itu untuk apa. Ironis memang. Bahkan sampai setelah lebaran yang fitri bulannya pun masih terus mengusik kefitrian itu…

Itu baru ricuh di intern bangsa ini. Di lain tempat tetapi juga berpengaruh bagi bangsa lain adanya ISIS (Islamic State of Iraq and Syria). Kelompok radikal ini sudah memakan korban nyawa ribuan dan masih akan memangsa pihak-pihak yang tidak sejalan dengan garis mereka. Kelompok ini sudah meneror dunia dari Teluk, Timur Tengah. Timur Tengah bukan hanya soal Israel vs Palestina tetapi sudah terpecah ke konflik yang lain. Krisis Gaza bukan lagi isu sentral politik dunia tetapi ISIS ini juga menebarkan teror masif dan terstruktur. Video-video yang diunggah di youtube sudah mempengaruhi dunia. Bahkan rekrutmen mereka dengan cara membaiat anggotanya sudah sangat masif dan agresif. Warga Indonesia pun ada yang sudah mengaku diri menjadi anggota, belum mereka yang mendukung.

Pertanyaanku: dunia koq makin berisik ya? Apakah kecenderungan memangsa saudaranya semakin berkembang dalam diri manusia? Mengapa orang sering memaksakan kehendaknya ke orang lain dan kalau tidak mau, akan dibunuh? Ini sebuah hukum yang sedang berjalan. Kecenderungan memangsa rekannya menjadi jalan yang ditempuh manusia yang katanya beradab. Apakah keadaban ini sudah dilupakan manusia? Dalam tulisanku ini aku hanya dapat bertanya.

Mentalitas tak mau kalah juga merupakan hukum yang sekarang sedang ngetrend di kalangan manusia. Kalah itu ibaratnya salah. Kalah itu harus ditiadakan. Banyak pihak tak mau kalah. Bahkan hukum ini sudah diajarkan sejak kecil: "jangan sampai ada kata kalah/tak naik/tak lulus." Jika tak lulus, yang disalahkan adalah pihak yang tidak meluluskan. Jika tak menang, yang disalahkan adalah penyelenggara pemilu dan sebagainya. Itulah yang sedang dihidupi manusia.Tak ingat bahwa ia ada di antara manusia yang lain. Ia juga punya kelemahan. Ia hidup tidak selalu super, menang, berprestasi. Menghargai kekalahan, menyadari diri lemah sepertinya tidak lagi masuk dalam kamus hidupnya. Menghargai yang lemah apalagi, jika menyadari diri lemah saja tidak mau atau tidak bisa. Itulah yang terjadi saat ini.

Dalai Lama mengatakan bahwa "planet ini tidak butuh orang-orang yang sukses dan menang tetapi butuh dihidupi oleh orang-orang yang mengusahakan perdamaian." Bunda Teresa dari Kalkuta senada mengatakan bahwa "Tuhan tidak memanggil kita untuk sukses, tetapi untuk lebih setia dalam menjalani hidup". Kata-kata dari dua orang bijak menjadikan kita sadar bahwa hidup ini harus dijalani dengan realistis dan rendah hati. Tidak hanya kita mengumbar keriuhan hidup yang mengarah pada kericuhan tetapi juga perlu hidup lebih damai, merawat kehidupan bukan mengancam orang lain. Bukan budaya kematian yang kita buat tetapi budaya kehidupan, kata St. Yohanes Paulus II.

Harapan pribadiku saat ini "semoga dalam dunia yang berisik, Tuhan selalu berbisik," kata salah seorang anak yang kudengar kemarin. Dan semoga bisikan Tuhan itu kudengar, aku tidak tuli dan menyadarkanku akan kehidupan ini. Mari saling mendoakan dan megusahakan perdamaian. Syalom.





#Malam hari di kamarku#