Saturday, August 30, 2025

Apakah hanya "Sekedar" ?

Dengan kejadian kekerasan, demo besar dan terjadi di berbagai tempat, aksi protes, saling umpat, berhadap-hadapan, dan akhirnya ada nyawa yang melayang, apakah semua itu hanya "sekedar"? Satu nyawa bagi sementara pihak bisa saja dinilai "sekedar" atau "hanya". Bagi sementara orang ketika melihat angka dan nominal, dia hanya mengatakan "sekedar". Tapi kenyataan berkata lain. Itu semua bukan "sekedar". Itu semua adalah kenyataan. Itu adalah realitas. Angka dan simbol nominal itu adalah simbol kenyataan itu sendiri. Mungkin generasi kekinian hanya mengenal ikon / emotikon / sticker atau sekedar meme. Namun demikian dalam segala bentuk visual itu yang mau diungkapkan adalah realitas yang tak terungkapkan semua. Visualisasi adalah bentuk ungkapan bagi keseluruhan, hanya mewakili sedikit karena realitas tak semudah itu diungkapkan. 

Kejadian beberapa hari ini di beberapa tempat adalah kenyataan yang sudah ada potensinya dari beberapa waktu sebelumnya. Ada pemicu. Ada sumbernya. Namun kadang orang tak sadar dan hanya melihat yang ada kini dan di depan mata. Realitas sebenarnya tak pernah disadari sepenuhnya karena kita terlalu dangkal untuk mengenalinya. Kita terlalu terlena untuk mengenali dan menamai apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita. Kita tak mau jujur dengan diri kita dan hanya ikut-ikutan dan cari enaknya saja. Sering fatamorgana membutakan kita. Sering yang "wah", "hebat", "kaya", "menarik", itu yang kita pilih. Itulah kesalahan kita. Yang jelek, yang berat, yang menyengsarakan, yang harus kerja keras, tidak kita pilih. Padahal itu adalah kenyataan jujur yang harus kita jalani, bukan hanya di luar diri kita. Kerja keras dan perjuangan adalah jati diri kita. 

Bukan sebuah hal yang asing bagiku jika ada kekerasan lagi. Bukan sebuah kebetulan jika ada aksi protes massa yang terjadi. bahkan aku tidak menilai asing atau kaget atau menyesal jika ada nyawa yang tumbang lebih banyak lagi, entah dari pihak siapa. Hal ini dikarenakan aku paham akan hukum alam yaitu siapa yang abai akan menerima akibat. Siapa yang memulai akan menuai akhir. Siapa yang menyulut akan kena percikan api. Siapa yang mengurbankan, akan jadi kurban selanjutnya. Alam pada dasarnya mencari keseimbangan. Semesta pada prinsipnya akan mencari awal dan akhirnya. Mungkin tak bisa lagi seperti Revolusi Prancis yang menjatuhkan raja dan ratu dan antek-antenya dengan pemenggalan kepala di pisau guilotine. Tapi itu pun mungkin. 

Aku menyayangkan pola hidup manusia kita. Aku menyayangkan ketidaksadaran akan apa yang mereka pilih dan katakan. Aku menyesalkan bagaimana kualitas kita bertindak ternyata masih amburadul dan tak punya pertimbangan matang. Manusia negeri ini kebanyakan dipengaruhi oleh hal-hal yang dangkal. Angin ke sana, maka ikut ke sana. Angin ke sini, maka ikut ke sini. Yang viral, yang menggelembung, yang gebyarnya lebih banyak, itulah yang dipilih. Maka tak mengherankan bahwa kita belum sadar untuk apa dan bagaimana kita hidup. Aku belum tahu sebenarnya hidupku sendiri. Ibaratnya, seperti rakyat Jerman yang dulu pernah memilih seorang monster pembunuh dan dielu-elukan oleh massa. Uang dan kuasa itu berkelindan. Kuasa dan penyalahgunaanya itu akan selalu ada. Kuasa dan kekerasan pastilah sebuah pasangan abadi yang tak terelakkan jika tanpa kesadaran kontrol terhadap kuasa itu.

Di sini dan saat ini kita dipertontonkan dengan aksi pongah dan vulgar para perampok hidup manusia. Para penjoget dan badut yang kita "percayai" (sedangkan aku sendiri skeptis dan tidak tertarik dan tidak percaya - sebagai disclaimer) sebagai "wakil rakyat". Wakil macam apa, jika mereka tak mencerminkan hidup rakyat dengan: hidup mewah, tunjangan ugal-ugalan, gaji jumbo, tidak pernah mendengarkan aspirasi rakyat, tidak pernah mengalami "rekasa"-nya rakyat? Saat ini kesadaran bahwa memilih wakil itu harus benar dan sadar. Yang belum bisa kutemukan adalah cara mengawal dan mengontrol wakil-wakil rakyat ini. Kelemahan kita selalu dalam hal kontrol terhadap kualitas kerja dan hidup mereka yang kita percayai, kita sebut sebagai parlemen, eksekutif, dan yudikatif kita. Ketiga lembaga itu harus kita kawal dengan baik. Ketiganya bisa saja bermain dan tidak menunjukkan kinerja sebenarnya. Selama 32 tahun tiga lembaga itu hanya simbol dari kekuasaan yang menindas. Semua ada di satu tangan yaitu sang diktator. Sang diktator berposisi sebagai eksekutif. Sedangkan parlemen dan yudikatif hanya sebagai lembaga yang "mengiyakan" segala macam hal yang dimaui oleh sang diktator. Yudikatif hanya mengetok palu bagi sang diktator (baca eksekutif) dan penyetempel undang-undang hasil kerja palsu si legislatif, karena aturan mainnya hanya bagi kepentingan keluarga dan antek-anteknya. Apalagi ketika sang diktator punya kuasa penuh memegang senjata alias tentara. Dia punya bedil dan sepatu lars. Dia juga yang punya mobil tank dan barakuda untuk melindas lawan dan bahkan rakyat pun adalah lawannya jika protes. Yang punya kuasa harus dikoreksi, diingatkan, bahkan dikritik. Lembaga Kritik Nasional kiranya diperlukan bagi indera penguasa. 

Lengkaplah sudah penderitaan rakyat. Lengkaplah sudah penindasan oleh bangsa sendiri. Lengkaplah sudah semua yang kita rasakan sebagai tekanan terstruktur dan masif itu. Rakyat hanya dipakai sebagai boneka mainan belaka yang sewaktu-waktu bisa dirusak, dihempaskan, dibuang, diinjak-injak. Diijnak oleh mereka yang tak punya kepekaan, tak punya sense of crisis, tak punya option for the poor, tak punya rasa karena mereka orang kaya, borjuis. 

Dimaksudkan ada tiga unsur di atas, yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif supaya ada mekanisme saling kontrol. Eh, ternyata pengalaman nyata sebelumnya itu bisa saja hanya ilusi. Yang memang harus disadari adalah bisa saja salah satu dari tiga lembaga itu berkuasa atas yang lain. Aku hanya melihat banyak kemungkinan. Yang ada dalam benakku karena pernah mengalami kenyataan sebelumnya yaitu kejadian-kejadian di negeri ini akan terulang kembali. Suasana ini biasanya butuh tumbal. Dengan tumbal maka akan terjadi kekacauan. Kekacauan akan menimbulkan suasana darurat. Suasana darurat akan memunculkan satu pihak yang harus menertibkan situasi. Yang punya wewenang ketertiban dalam suasana darurat adalah yang punya bedil. Yang punya bedil akan menjadi penguasa. Itulah logika yang pernah terjadi dalam perjalanan negeri ini. Pesan dan harapanku sebagai rahayat jelata adalah jangan sampai terulang masa itu, masa penuh kengerian, masa penuh pembantaian nyawa, masa penuh represi oleh tangan-tangan berlumur darah dan mereka yang mengangkat bedil.

Oleh karenanya, apakah kenyataan itu hanya "sekedar"? Sekedar nominal angka kenaikan pajak ratusan persen? Sekedar aksi joget-joget di gedung persidangan mereka yang mengaku diri "wakil rahayat"?  Apakah sekedar kematian satu nyawa tukan ojol? Tidak. Semua itu adalah sebuah rangkaian kisah, rangkaian narasi bahwa ada ketidakpekaan, ada sebuah situasi di mana rakyat itu menjerit, ada kisah bahwa pajak dan segala macam kebijakan negeri ini hanya menguntungkan sementara orang dan masih merugikan mayoritas rahayat kecil yang lain, ada ketimpangan di sana sini, yang kaya foya-foya, yang miskin makin terasing, ada kontradiksi: di jalan aksi protes; di gedung megah ada pesta pemberian bintang kehormatan bagi mereka yang tak terhormat, ada yang berjoget karena euforia kenaikan gaji dan tunjangan. 

Sayangnya, kita sebagai rahayat belum mampu membuat sistem kontrol bagi penguasa. Wakil-wakil kita yang ternyata tikus-tikus got itu tak bisa mewakili. Ya jelas, namanya tikus tidak bisa mewakili manusia. Mungkin baik, di waktu selanjutnya, kita tak butuh wajah-wajah tikus lagi untuk kita pilih. Absen dalam pileg lebih baik, dan itu sah-sah saja jika hanya tikus-tikus yang ada dalam daftar. Kita tak perlu pilih pula calon pemimpin yang bisa dikendalikan tikus atau bahkan maling atau yang membiayai maling dan menyuapi maling-maling itu. Sebagai kawanan rahayat, kita perlu membuat gerakan yang terstruktur dan masif dan konsisten untuk mengawal sekaligus menjadi QC dalam gerak dinamika gubernasi negeri ini. Jangan hanya berdoa. Berdoa itu perlu, tapi berdoa itu harus ada kelanjutannya. Berdoa hanya komat-kamit saja, itu hanya ritualisme kompulsif yang tak berguna. Manusia punya cara hidupnya dan pendiriannya. Berdoa untuk mendapat kekuatan dari Hyang Ilahi dan kekuatan itu perlu kita wujudkan dalam tindakan kita mengontrol negeri ini. Berdoa bukan berhenti pada tindakan doa itu sendiri namun akan berdaya bila lebih diaktualkan dalam tindakan mengawasi, mengontrol, mengkritik, bahkan menjewer mereka yang menyelewengkan marwah gubernasi. 

Yah, uneg-uneg ini masih nglambrang dan belum sepenuhnya konkit. Namun setidaknya, aku masih mau peduli dengan korban satu nyawa yang telah terjadi. Adios, Affan Kurniawan! Bahagia di sana, kawan ! Kami masih berjuang di negeri ini....yang tertindas dan masih bisa dilindas.



#behadedofstjohnthebaptist#

Wednesday, August 13, 2025

Merayakan "Merdeka"

Menjadi makhluk ciptaan ini tidak ada yang lebih bermakna kecuali pencarian makna itu sendiri. Ketika menelusuri kehidupan awali, aku terbantu oleh penelitian, penguraian, dan pemaparan dalam berbagai media hypermodern saat ini. Aku bisa mengenali bagaimana dan siapakah manusia yang di saat-saat ini di wilayah dekatku adalah mereka-mereka yang sedang beraktivitas aneka macam. Ada banyak kejadian yang mengejutkan, tragedi pembunuhan, drama pengadilan dan ke(tidak)adilan, perdagangan manusia, penangkapan penjahat pembobol situ judol, perlombaan senjata, saling sikut antar manusia, dan berbagai macam lagi yang terkait itu. Manusia mengenal pembunuhan sudah sejak lama, sejak ia masih primata dan mulai mengincar satu primata besar yang dominan dalam kelompoknya karena ada kelompok lain yang ingin mencoba masuk namun dihalang-halangi oleh kekuasaan dominan ini. Kekuasaan dominan pun akan terus berlangsung jika tidak ada penghentian dari kelompok yang lebih kuat. Serba dilema.

Itulah kisah primata awal yang akhirnya diwarisi oleh mamalia-manusia yang berdiri tegak (pitecantropus erectus) dan kemudian makin dimodifikasi oleh manusia pandai (homo sapiens). Karena ingin memiliki betina-betina dalam kawanan itu, pejantan harus bertarung dan jika ada kawanan pejantan yang membunuh pejantan dominan di kawanan itu, mereka berhak memiliki betinanya. Demikian juga homo sapiens menemui situasi yang lain. Ketika mereka mulai menetap dan tidak nomaden lagi, mereka mulai sadar akan kepemilikan. Ketika ada klan lain yang menduduki lahan yang adalah "properti" mereka, maka mereka pun harus bertarung untuk menyingkirkan klan nomaden itu dari lahannya. Itulah mulainya perang antar manusia. Belum lagi sifat tamak dalam diri manusia, ia merasa tidak akan puas dengan kepemilikannya, maka ia menimbun barang-barang lain dari ternak, hasil kebun/hutan, logam, dan barang lain yang mulai mereka temukan. Itulah mulainya ketidakadilan. 

Kemampuan yang telah berkembang merupakan sebuah keajaiban dari makhluk manusia yang berevolusi jutaan tahun lamanya. Dari primata ke pemburu ke nomaden ke sebuah klan yang menetap sebagai homo sapiens, ruang dan waktu telah menguji dan membentuk makhluk manusia sebagai yang seperti saat ini. Makhluk yang dahulu merdeka dengan keterbatasan kemampuan dan hanya berumah atapkan langit dan beralaskan bumi, saat berkembang, ia telah menjadi makhluk yang dengan kemampuan akalnya mengalahkan elemen-elemen alam yang dahulu mengurungnya. Seolah-olah alam takluk ke dalam tangan makhluk manusia ini. Ia merasa telah merampas kuasa langit dan mempermalukan hujan ketika menemukan sistem irigasi yang mengairi lahan untuk pertanian mereka. Ia merasa lebih kuat dari alam dan dari segala roh. 

Bahkan ketika makhluk manusia makin bertambah banyak karena makin bertambah kuat secara intelektual, fenomena purba pun tidak serta-merta hilang dari dunianya. Pembunuhan, perang, ketidakadilan, saling sikut, kecemburuan, kerakusan tidaklah musnah. Malah semuanya itu makin masif, semuanya itu makin menjadi dengan peperangan tanpa awak. Pembunuhan massal makin seru. Darah tak lagi menggenang dalam peperangan antar serdadu. Permusuhan tak lagi terang-terangan dalam sebuah konflik fisik. Saat ini peperangan ada di dalam dunia maya, saling serang dalam perebutan kepemilikan data pribadi, perang tarif perdagangan, peperangan ada dalam keseruan dalam layar yang dipakai manusia dalam lompatan kemampuan itu. 

Di bumiku yang bernama nuswantara ini. Sedari dulu memang menjadi bagian dari hunian homo sapiens, setidaknya ada soloensis dan manusia kecil dari Flores. Keramaian dan kegaduhan di bumi ini pun tak luput dari pergolakan dunia makhluk manusia itu sendiri. Di berbagai kisah dan berita, kita digaduhkan di bulan ini dengan hiruk pikuk merayakan berdirinya sebuah bangsa dengan batas-batas teritorinya, sebuah bangsa yang dirayakan karena terbebas dari penguasaan (dominasi) klan bangsa Eropa kulit putih. Namun apa daya, perayaan hiruk pikuk itu di tahun ini adalah perayaan hambar karena hambarnya sebuah tatanan yang menunjukkan ketidakjelasan. Kehambaran itu adalah sebuah fenomena yang dipicu oleh tatanan dunia yang juga sedang membara oleh peperangan di negara lain, perang dagang karena kerakusan, perang pengaruh karena ingin saling sikut dan menguasai. Di dalam negeri pun ada ketidakjelasan pemerintahan yang semakin menampakkan sisi kekurangpekaan pejabat dengan rakyatnya. Pajak melambung tinggi. Pengangguran menggelombang. Ketidakjelasan orientasi kepemimpinan membawa perjalanan bahtera negeri ini tak tahu arah dan tujuannya.  Semua telah dirusak dari dalam dan terancam oleh situasi dari luar.   

Seolah seremoni formal tahunan rutin itu adalah sebuah hal yang harus dirayakan secara mekanis, latah. Manusia tak paham lagi perayaan sebuah "kamardikan" yang kadang hanya sebuah ritualisme formal. Orang dibutakan oleh daya mekanis mereka. Di sinilah pemaknaan itu perlu dibantu. Kemampuan manusia memaknai itu berdasarkan kepekaan mereka menangkap fenomena alam. Sebuah klan yang sudah menemukan rumah batu dan sudah menetap akan berbeda menghadapi bencana alam badai dengan sebuah klan yang masih nomaden dan hanya mempunyai rumah dari kayu dan kulit. Tentu klan yang sudah menetap dan punya rumah batu akan lebih stabil dan rumahnya tidak rusak oleh badai. Sedangkan yang nomaden akan terpengaruh oleh badai itu. Dari sini, kemampuan memaknai hidup dan kemerdekaan juga perlu melihat fenomena alam dan manusianya. Apakah sebuah negara wajib merayakan kemerdekaan itu hanya karena "wajib" merayakan dan dengan hal-hal yang seremonial belaka? Seremoni selama sebulan dengan keharusan ini dan itu, lomba-lomba dan upacara itu kiranya sudah kehilangan makna. Yang tersisa hanya kewajiban belaka. Bahwa memang itu adalah sebuah tanda, namun yang tak pernah kita lupakan adalah tanda makna itu sendiri. 

Banyak orang sudah mencibir, muak, antipati, membuat sebuah tandingan lain. Itu berarti makna "kemerdekaan" ada masalah. Kita bukan anti kemerdekaan, kita bukan anti seremoni, asalkan semua itu dilandasi kepekaan nurani sebagai homo sapiens. Peka bahwa ternyata masih banyak ketidakadilan, penggarongan, penipuan, persekusi, korupsi, manipulasi aturan main, perusakan alam, dan lain-lain. Apakah dengan realitas seperti itu kita manusia ini layak disebut merdeka? Memang kemerdekaan tidak bisa mutlak 100% namun setidaknya alam tidak dirusak, manusia tidak dipersekusi, yang kaya tidak korupsi, orang miskin dimanupulasi, dan lain sebagainya. Kemerdekaan bukan hanya sebagai mereka yang berduit, mereka yang punya jabatan, mereka yang punya bekingan, mereka yang dekat dengan kekuasaan, mereka yang punya wewenang mengobati, mereka yang mengatur jalur hukum dan keamanan. Kemerdekaan adalah kita sebagai makhluk manusia dan alam semesta. Kemerdekaan berarti menghormati kebhinekaan, menghormati hak hidup dan kesehatan, membantu dan tidak serakah dengan mereka yang miskin, tidak menghalangi dan juga tidak merebut batas-batas wilayah, dan sebagainya. Itulah penghargaan pada martabat hidup yang merdeka. Kemerdekaan biasanya terenggut oleh mereka yang ingin berkuasa, rakus, dan tinggi hati.

Oleh karenanya,  merayakan merdeka bukan hanya ritualisme formal. Merayakan merdeka adalah bagian dari hidup makhluk hidup yaitu dengan menghormati dan menghargai hidup itu sendiri. Yang sudah mati akan bangkit karena sebuah penghormatan dan penghargaan akan berharganya hidup. Primata sudah mempelajari arti kematian, kehilangan anggota dari kawanan, mereka mulai menangis kehilangan karena kematian anggota primatanya. Saat ini sebagai homo sapiens, kematian bukan lagi sebagai sebuah kehilangan namun sebuah efek dari ketidakmauan dikuasai oleh yang lain. Dan itu ibarat tak berharga lagi kehidupan ini. Bahkan ketika terjadi pembantaian massal dari zaman ke zaman, homo sapiens hanya diam, membeku, tak peduli. Dunia tak peduli akan pembasmian itu.

#inmyroom#