Thursday, December 28, 2023

Ketinggalan

Ada cerita yang sedikit konyol tapi juga membuat terheran-heran. Aku sendiri dalam kisah ini tidak secara langsung terlibat tapi dapat merasakan sesuatunya. Suatu pagi kami bersiap untuk mengadakan liburan bersama. Kami mengusung banyak barang dan memakai beberapa angkutan. Barang-barang kami karena liburannya beberapa hari dan harus memasak sendiri, camping, mencoba bekerja sama dalam kerja bersama, membangun tenda, maka bawaannya adalah kompor, beras, tenda, perlengkapan masak dan lain-lain. Kami menghitung ada dua puluh orang yang harus masuk angkutan. Barang-barang sudah masuk duluan. Orangnya menunggu agar semua barangnya masuk angkutan. Waktu itu tidak kepikiran adanya presensi bagi orang yang akan diangkut.  

Aku hanya sebagai sopir yang membantu. Namun demikian aku juga tidak ingat harus menghitung ulang orang yang seharusnya masuk dan diangkut. Setelah semua dirasa selesai dan harus segera berangkat, maka bergegaslah kami. Di angkutanku yang kebanyakan adalah barang, ada satu orang yang ikut. Sesampai di pertengahan jalan sebelum sampai pada tempat yang dituju, HP-ku berdering. Aku sebenarnya bisa saja mengabaikan, namun kalau ada yang telepon pasti ada sesuatu. Untungnya aku masih bisa mengendalikan kemudi sambil menerima telepon. 

Apa yang terjadi? Ternyata ada satu rekan yang masih tertinggal. Astaga! Aku tidak mengira jika itu terjadi. Aku tidak habis pikir mengapa itu bisa terjadi. Aku lantas minggir dan memberhentikan angkutan yang kukendarai di sebuah parkiran resto yang masih sepi. Aku mencoba koordinasi bagaimana yang tertinggal ini bisa dibantu diangkut. Awalnya aku akan menunggui sampai ada yang mengantarkan yang tertinggal ini. Namun kemudian ada info update bahwa yang tertinggal akan dipesankan Gojek supaya bisa lekas mengikuti yang lain. Akhirnya aku mengendarai lagi sampai di parkiran akhir sebelum sampai ke camping ground

Aku menunggu sampai datangnya yang tertinggal diantar Gojek. Sesampainya yang tertinggal di parkiran akhir, aku mencoba bertanya kepadanya, "Tadi koq bisa ketinggalan? Kamu ke toilet?" Ia menjawab, "Iya tapi aku sebenarnya sudah bilang si L supaya memberitahu yang lain." Ia menjawab sambil kecewa dan agak mangkel dengan si L yang ternyata tidak menunaikan tugasnya sekedar untuk omong bahwa ada satu teman yang masih ke toilet dan harus ditunggu. 

Dari sini aku hanya bisa menduga-duga beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama, benarkah ia bilang kepada si L bahwa ia harus ditunggu. Jika itu benar, memang ada kelupaan dari si L untuk bicara. Kemungkinan kedua, mengapa kalau ia benar-benar tahu harus menyampaikan ke si L dan tidak langsung pada koordinator supaya lebih jelas dan ditunggu? Kemungkinan ketiga adalah bahwa dari kemungkinan pertama dan kedua bisa digabung. Artinya, ada sebuah fenomena bahwa pesan berantai pada saat ini sudah tidak lagi bisa dilakukan, karena orang tidak lagi terbiasa dititipi sesuatu atau orang tidak lagi mampu mendengarkan dengan baik apalagi menyampaikan ke pihak lain. 

Aku hanya melihat ini dari sisi kemanusiaan yang memang kadang itu rapuh, tak sudi mendengarkan, tak sudi pula menyampaikan. Aku juga melihat bahwa cara berkomunikasi itu sudah berubah dan kadang juga diwarnai dengan kerapuhan-kerapuhan yang ada. Yang satu kurang bisa mendengarkan, yang lain tak mampu menyampaikan. Pengalaman ketinggalan ini menjadi penting, formatif bagi kedua belah pihak. Satu lagi, jika ada koordinator dalam sebuah penugasan seperti ini, tentu koordinator itu mengecek atau memeriksa ulang teman-teman yang sudah terangkut dan memastikan apakah ada yang kurang atau sudah lengkap semua. 

Yah, itulah anak manusia. Itulah anak-anak Adam dan Hawa yang juga tidak sempurna. Hidup ini kadang penuh dengan lelucon dalam praktiknya. Ada kerapuhan. Ada kekuatan. Ada juga kelucuan. Hidup ini kadang perlu ditertawakan alias menertawakan diri sendiri juga perlu. Sebagai yang terlibat mengantar, aku juga sadar bahwa kebiasaan untuk peduli pada yang lain adalah perlu. Sisi detil itu perlu dilatihkan dengan attentiveness. Jika tidak maka semua tidak ada artinya. Tak heran bahwa akhirnya experientia est optima magistra. Pengalaman itu adalah guru terbaik. 

Monday, November 27, 2023

Saat Kapal pun Bisa Karam

Kita tidak tahu akan ke mana setelah melihat drama-drama yang mencuat di beberapa waktu belakangan ini. Ada sebuah perjalanan yang ternyata tidak lagi seperti yang diharapkan. Saling tikung-menikung di tengah jalan atau di akhir jalan sepertinya akan menjadi sebuah hal yang normal dalam rantai peradaban. Kita bahkan harus memahami sebuah pola dalam ruang dan waktu tidak ada sesuatu yang selalu mulus dan ideal. Sekali lagi justru karena berada dalam ruang dan waktu maka sesuatu itu tidak ideal. Dan akhirnya yang semula itu  kelihatan ideal, ternyata di akhir adalah sebuah drama yang sama buruknya dari yang dibanding-bandingkan sebelumnya. 

Suasana yang dibuat di akhir ternyata mempengaruhi dinamika perasaan dan anggapan yang sebelumnya baik, terpuji, ideal, tidak ada cacat. Narasi akan dinamika yang sangat cair memang sering terjadi di mana pun. Mengikuti dinamika politik, sosial, ekonomi di sebuah negeri itu selalu akan menarik. Tidak ada yang bisa dipastikan. Tidak ada pola yang sangat text book kadang. Di lapangan selalu harus siap dengan hal-hal yang tidak kita duga. 

Saat aku menulis ini ada sebuah wawancara yang kudengarkan dan itu mungkin yang mempengaruhi tulisan ini. Ada sebuah ungkapan bahwa "(ada) sebuah kekuatan dalam diri seseorang itu dalam hal yang remeh-temeh-nya". Aku sadar bahwa kita sebagai bangsa tengah belajar mengenai berbangsa walau sudah berusia 78 tahun. Demokrasi ini adalah produk peradaban juga yang sampai saat ini "dianggap paling baik". Namun masih ada juga beberapa negeri berstatus kerajaan, dipimpin oleh raja dan keluarga monarki itu. Bahkan di sebagian negara yang dihuni mereka yang berkulit putih, ras manusia yang dianggap paling maju sampai dengan saat ini, setidaknya jika aku memahami sampai saat ini. Ada juga sistem yang totaliter seperti China yang dianggap komunis oleh sebagian besar orang. Bahkan orang negeri ini menganggap China masih sebagai momok, walau dalam urusan ekonomi kita masih "dikausai" oleh negeri China ini. 

Sebenarnya baik tidaknya sebuah pilihan sistem politik negeri, tergantung bagaimana itu diterima oleh mayoritas komunitas itu sendiri. Memang negeri ini sudah terlanjur memilih demokrasi sejak pasca Perang Dunia II. Kita dijajah oleh Netherland yang kerajaan dan juga diinvasi Jepang yang juga berbentuk kekaisaran. Apakah karena melihat dua negara penjajah yang monarki itu lalu kita memilih demokrasi? Aku juga tidak tahu. Praktik kemudian ketika orde lama kita hampir jadi negeri totalitarian, termasuk ketika orde baru. Ketika diperintah oleh rezim sipil zaman Soekarno kita hampir jadi sosialis dan ketika dipimpin rezim Soeharto, kita adalah negeri junta militer. Keduanya mempraktikkan sisi-sisi totalitarian. Demokrasi kemudian adalah terus-menerus bergolak dengan reformasi yang mengorbankan sekian nyawa anak bangsa. Darah harus tercurah kembali, namun pendewasaan terus-menerus terjadi walau gangguan dan tantangan ini masih terus terjadi. Dan itu kemungkinan akan terjadi terus dalam pergolakan di negeri ini, entah seberapa banyak jumlah korban dari pergolakan itu. 

Dalam permenunganku ini, aku hanya mau melihat bahwa segala sesuatu tidak selesai sekali jadi dan tidak pernah akan berhenti. Jika ada pergolakan, maka kita pun akan tersangkut secara langsung atau tidak dalam ruang dan waktu itu. Sesuatu yang ideal selalu kita impikan, namun yang berbicara akhirnya adalah real-nya. Mau menangis, menyesal, kecewa, atau apapun pilihan kita itu ada di pihak kita masing-masing. Akhirnya merah dan birunya, hijau dan abu-abunya warna akan tergantung bagaimana aku dan aku aku yang lain bersikap. Satu hal yang tak boleh pergi dari diri kita, hidup harus terus berjalan, walau kapal bisa saja karam.


#eveningtime#

Tuesday, October 24, 2023

Terlalu (Tinggi) Berharap

Ada sebuah syair atau lyric lagu dari Rossa dari judul lagu "Terlalu Berharap". Salah satu potongannya berbunyi demikian: 

Mengapa sampai detik ini
Semua masih sama seperti kemarin
Ataukah memang harus kusadari 
Hanya aku saja yang terlalu berharap...

Akhir-akhir ini fenomena dikecewakan oleh berbagai hal, berbagai kepentingan, berbagai peristiwa juga mempengaruhi tulisan ini. Banyak orang merasa dikecewakan. Banyak orang merasa apa yang menjadi harapan semula tidak terjadi sepenuhnya seperti yang mereka harapkan sampai akhir. Berharap itu juga ada resiko. Resiko itu adalah bahwa harapan itu tidak terjadi. Akibatnya adalah kekecewaan. Akibat dari kecewa adalah orang apatis dan tidak percaya lagi. Akibat lain lagi adalah orang menyalahkan diri dan pihak di luar dirinya juga. Selalu ada pertanyaan "mengapa aku selalu mengalami kekecewaan? Mengapa (Tuhan) tidak mengabulkan doaku? Mengapa si A dan si B atau keadaan C atau D tidak terjadi, padahal kita sudah berharap supaya itu terjadi karena kita melihat selama ini dia baik-baik saja?" Dan masih banyak lagi pertanyaan-pertayaan kekecewaan yang terlontar dari hati dan mulut manusia. Lalu munculah istilah "penghianat", "tak tahu balas budi", "tak setia" dan sebagainya. Dan itu sedang ramai di atmosfer kita saat ini. Bahkan dalam sebuah teaser film yang akan tayang nanti ada ungkapan "apakah karena kesalahan yang dibuat ibuku dan diupload dalam sebuah unggahan video 20 detik menghancurkan profesinya yang sudah dilakoni selama 20 tahun?" Kecewa bisa dari dua belah pihak. 

Aku bisa memahami jika dari kekecewaan ini kita bisa berbuat apa saja. Aku bisa memahami jika orang berharap itu seolah-olah semua sudah pasti. Padahal dalam harapan itu di sisi lain adalah kepercayaan. Dan sisi kepercayaan ini ada unsur ketidakpastian. Maka berharap itu juga harus siap diombang-ambingkan ketidakpastian. Walau ada orang yang mengatakan bahwa "harapan adalah sauh dari iman/kepercayaan itu". Harapan adalah jangkar yang menghentikan laju kapal kepercayaan, namun demikian kita juga perlu memikirkan bahwa arus laut tidak bisa kita prediksi. Bisa saja kapal terus berjalan dan jangkar terus tidak bisa menghentikan laju kapal karena terseret arus. 

Kecewa dan kecewa sering bisa terjadi. Orang menjadi marah. Orang menjadi apatis. Orang menjadi cuek. Orang tak peduli apapun dan siapapun. Orang tidak sadar bahwa dirinya tersakiti oleh harapannya sendiri. Apapun itu yang kita lakukan pasti akan ada konsekuensinya. Dan kita tidak perlu untuk membuat fiksasi dalam hidup. Tidak bisa semua itu fiks (fix), pasti. Selalu kudengungkan dalam hidupku bahwa yang pasti itu ya ketidakpastian itu sendiri. Dengan demikian hidup ini perlu realistis dan siap sedia terombang-ambing dalam arus dan gelombang hidup yang kejam. 

Katanya hidup itu mencari kebahagiaan? Memang benar. Namun kebahagiaan macam apa yang kita cari? Apakah kebahagiaan yang fiks tadi? Apakah kebahagiaan itu adalah kebahagiaan yang menurut kacamata atau frame kita saja? Apakah kebahagiaan itu selalu situasi yang membuat hidupku tidak punya tantangan hidup, jalan hidup selalu mulus? Kalau tidak seperti yang kuharapkan dan kuskenario maka semua itu mubazir dan kita patah semangat? Itulah problem kita sebagai manusia. Kita terlalu berharap. Kita terlalu tinggi berharap. Kita terlalu idealis dengan apa yang kita inginkan dan idam-idamkan. 

Aku diajak untuk belajar realistis. Bahkan sampai aku merenungkan untuk sampai pada keadaan bahwa aku ini bukan apa-apa dan dilupakan. Aku tidak dianggap, bukan sosok penting, bahkan dihina sedina-dinanya. Aku dihapus dari ingatan dunia dan manusia. Kadang orang ingin cepat-cepat mengakhiri hidup karena kecewa berat, harapan tak terwujud, skenario tak terjadi, idealisme tak ada lagi. Orang bunuh diri, merasa tak berarti lagi, hidup ini meaningless. Dan di situlah ujian hidup kita, masih beranikah kita hidup dalam kekecewaan? Masih beranikah kita menghadapi kekecewaan akut yang berat dan masih berani menegakkan kepala dan berjalan ke depan? Masih beranikah aku menghadapi rasa malu bahwa diriku ini gagal, jatuh, rapuh, bahkan runtuh? Masih beranikah aku menghadapi cacian dan hinaan yang melumpuhkan hidup? 

Perasaanku juga tidak mudah merasakan kekecewaan. Aku bisa saja mengambil jalan pintas jika tidak tahan. Aku juga tidak kuat dan butuh sandaran jika didera kekecewaan, entah karena kejatuhanku, karena ada pihak-pihak lain yang menyerangku, ada hal-hal yang membuatku terhempas dan jatuh. Yang ada padaku hanya sisi kesanggupan untuk bangun dan menatap ke depan walau kadang masih kabur dan remang-remang karena kondisi rubuh berantakan. 

Mungkin di sisi inilah aku disadarkan untuk belajar tidak lelah terus berharap walau kadang jangan terlalu tinggi harapan kita. Berharap itu sebuah tindakan keutamaan namun keutamaan juga ada kualifikasi yang perlu dibuat yaitu realistis. Terlalu berharap itu juga tidak baik karena akan membawa kerugian pada diri sendiri dan akhirnya merembet ke pihak lain karena selalu hidup kita itu relational. Maka berani berharap tidak terlalu tinggi. Berani berharap juga berani menerima konsekuensi, bahkan kalau konsekuensi itu berbalik arah sama sekali.


#inmyroom#

Thursday, September 28, 2023

Wolak-Waliking Wektu

Sebuah lyric lagu berjudul "Satu-Satu" berkata demikian:

Mata pernah melihat
Telinga pernah mendengar
Badan pernah merasa
Terekam jelas seakan terjadi
Baru saja


Siapakah yang salah
Siapa yang tanggung jawab
Waktu terus berjalan
Terasa salah karena
Ada yang belum selesai oh no no

                                                    Aku sudah tak marah
                                                    Walau masih teringat
                                                    Semua yang terjadi kemarin
                                                    Jadikan aku yang hari ini

Aku sudah tak benci
Walau nyatanya merugi
Terdengar tidaknya kata maaf
Dada lapang terima semua

                                                    Akan ada masa depan
                                                    Bagi semua yang bertahan
                                                    Duniaku pernah hancur
                                                    Rangkai lagi satu satu

Hu......

Tak semua kan paham
Dan tak semua katakan
Maaf semua harus terjadi
Pasti rasa sepi
Kini kau tak sendiri lagi
Tak pendam lagi
Aku akan coba pahami

                                                    Aku sudah tak marah
                                                    Walau masih teringat
                                                    Semua yang terjadi kemarin
                                                    Jadikan ku yang hari ini

Aku sudah tak benci
Walau nyatanya merugi
Terdengar tidaknya kata maaf
Dada lapang terima semua

                                                    Akan ada masa depan
                                                    Bagi semua yang bertahan
                                                    Duniaku pernah hancur
                                                    Rangkai lagi satu satu

Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu

Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu
Rangkai lagi satu satu
Rangkai lagi satu satu

 

Lyric ini kemudian merangkai ingatan-ingatanku yang terpecah saat ini dengan peristiwa masa lalu yang tidak secara langsung aku alami. Namun demikian setelah sekian waktu merenung, aku mencoba mencari benang merah ide yang terpecah itu, yang kutemukan disatukan oleh lyric ini. Ya, kembali aku mengingat peristiwa yang sebenarnya masih menjadi tabu, dihindari, dilarang bahkan oleh sekumpulan orang di negeri ini. Memang tidak semua, namun sebagian besar menyingkiri dan sebaiknya tidak dibahas besar-besar di wilayah umum. Kadang ini masih menjadi sesuatu yang menakutkan. 

Menakutkan karena orang harus menuju pada sebuah luka masa lalu. Menakutkan karena peristiwa itu menyangkut nyawa sekian keluarga yang tercerai berai juga. Sama seperti ketika Bani Israel diasingkan dan dicerai-beraikan oleh Raja Babel zaman Darius maupun Xerxes di abad ke-5 sebelum Masehi. Dan tidak hanya itu, menakutkan karena peristiwa itu adalah bagian paling berdarah-darah dari negeri ini. Mungkin dari pembantaian itu peradaban itu dibangun. Aku belum melihat sebuah peradaban yang dibangun sejak awal adalah peradaban yang tenang dan damai. Peradaban adalah peradaban yang menakutkan, kejam, keji, penuh intrik dan peperangan. Menakutkan karena peristiwa itu telah memecah belah kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, dan institusi sebuah negara ini. 

Peristiwa itu berdarah. Berdarah karena memang dari belasan nyawa menjadi pembalasan ribuan jiwa (bahkan ada yang menghitung jutaan jiwa)  yang mati oleh tangan saudaranya sendiri. Dan itu berlangsung sekian tahun, setidaknya satu dasa warsa dengan berbagai intensitasnya. Nyawa begitu murah. Dan karenanya, peristiwa itu adalah peristiwa berdarah. Seolah negeri ini dikuasai raksasa haus darah yang mewujud dalam diri penguasa. 

Peristiwa itu tentu bermula dari sebuah aktor atau pelaku yang entah dari mana dan siapa. Sampai sekarang itu pun tidak terkuak jelas. Memang peristiwa itu tidak berasal dari satu sumber karena memang yang melatari bukan hanya sebab internal tetapi ada aktor-aktor eksternal bahkan global. Itu yang memang berkelindan di dalam peristiwa itu. 

Aku hanya mau melihat demikian: awalnya pihak yang menjadi pelaku bisa menjadi korban. Dan sebaliknya korban bisa saja menjadi pelaku. Seperti debat mana dulu: ayam atau telor. Pihak-pihak yang semula menjadi pelaku diserang dan dibantai menjadi korban. Dalam hitungan cacah jiwa yang ratusan ribu jumlahnya itu sebenarnya bukan semua pelaku aktif langsung namun karena cap, stigma, stempel pada diri mereka maka dikorbankanlah mereka dan dianggaplah mereka sebagai musuh publik. Darahnya halal bagi semua yang mau membunuhnya. Yang awalnya disebut sebagai pelaku tidak lama menjadi korban kebiadaban peradaban terstruktur dalam sebuah negara. Bahkan perangkat negara yang tugasnya berperang pun bisa menjadi senjata pembunuh bagi rakyatnya sendiri. 

Itulah yang kusebut sebagai wolak-waliking wektu. Waktu bisa membolak balik sesuatu menjadi yang berlawanan dari sebelumnya. Waktu memberi kita perspektif. Waktu adalah penguasa. Ia bisa saja  menjadikan kita sebagai korban di awal namun di akhir membalik diriku sebagai pelaku karena balas dendam yang bengis, apalagi kalau aku diisi dan dikuasi oleh waktu dengan kemarahan yang tak padam. Orang marah adalah orang buta. Orang buta tak bisa melihat. Akibatnya, percuma orang buta diberi nasehat sebaik apapun. Kemarahan harus dihilangkan dahulu baru orang bisa diarahkan. Kebutaan perlu disembuhkan atau setidaknya diterima sehingga jiwa yang marah bisa lebih terarah. 

Sekali lagi waktu memberi kita perspektif apakah seseorang menjadi pelaku atau korban. Apakah korban lalu belas dendam dengan keji? Apakah korban memang tetap menjadi korban selama-lamanya? Itulah yang kemudian patut dilihat lebih dalam, dan itu membutuhkan perspektif dari sang waktu.  Tepat kata pelantun lagu di atas: "Siapakah yang salah? Siapa yang tanggung jawab? Waktu terus berjalan. Terasa salah karena ada yang belum selesai." Selesainya sebuah hal pun akhirnya tergantung waktu. Waktu memang berkuasa. 

Tugas yang tidak mudah bagi siapapun adalah merangkai kembali satu-satu agar yang terpecah itu menyatu lagi. Memang sudah tidak marah namun masih teringat peristiwa itu. Setidaknya kata maaf itu yang perlu diwujudkan, walau menurut Sir Elton John itu kata-kata yang sangat berat (Sorry Seems To Be The Hardest Word, judul lagu juga). Masa depan akan ada bila kita memaafkan. Orang sampai pada sebuah keutuhan memaafkan juga butuh waktu. Maka sekali lagi waktu itu sangat berkuasa. Bertahan itu juga membutuhkan waktu. Bagi yang bertahan, di sana akan ada masa depan. 

Semoga masa depan itu bisa terwujud. Semoga kita diberi rahmat kekuatan untuk menatap dan menapaki masa depan dengan mau bertahan, memaafkan, dan merangkai kembali satu-satu keterpecahan dalam hidup. Mari kita berekonsiliasi secara pribadi, komunal, dan institusional. Semua memang masih penuh harapan, namun bisa diwujudkan.     

#eveningtime#

Friday, September 8, 2023

Glumprut

Ada pepatah Jawa, "aja cedhak-cedhak kebo gopak". Artinya, jangan dekat-dekat kerbau kotor. Memang menggunakan peribahasa saat ini dalam berbahasa sudah tidak lagi umum. Orang lebih suka berpantun daripada berperibahasa. Berpantun pun sudah sangat cair dan terbuka, sehingga hanya memperhatikan rima saja. Kadang berpantun pun dipaksakan yang penting dapat rimanya. Ketika memaknai peribahasa itu aku hanya mengingat dan merenung pada keadaan di mana kotoran, rasa jijik, merasa diri bersih, dan macam-macam. Semalam kita juga tengah berbicara soal kaum tani yang selalu akan mengalami ketersingkiran, kekalahan, ketertindasan karena sejak semula, tanah kotor itu yang jadi sumbernya. Petani adalah kaum kalah di bumi ini. Padahal hasilnya selalu dinikmati oleh semua orang. Kaum kulineran selalu akan memakan dan menikmati hasil kerja keras kaum tani ini, yang setiap harinya bergumul dan bergelimang dengan kotoran, tanah, dan segala macam yang menyuburkan kehidupan tanaman. 

Beberapa waktu lalu bapakku mengeluh karena mau menggarapkan tanah sawah saja sudah tidak mudah mencari penggarap alias mereka yang mau mencangkul, menyiangi tanaman di sawah dan menggarap sampai panen. Di desa saja petani sudah jarang. Bahkan jumlahnya bisa dihitung. Itulah mengapa bapakku kesulitan mencari tenaga penggarap sawah atau ladang sekedar untuk menyiangi rumput atau mencangkul tanah sawah sehabis panen. Menjadi petani itu sesuatu yang dihindari oleh kalangan orang saat ini. Aku tidak hanya menyebut orang muda tetapi kalangan orang saat ini. Entah mengapa itu dihindari. Apakah karena menjadi petani itu sengsara? Apakah hasilnya tidak menjanjikan? Apakah karena kotor karena selalu bergumul dengan tanah dan kotoran? Atau ada alasan lain, sampai saat ini memang belum ada jawaban yang pasti. 

Aku sendiri dari keluarga petani hanya sampai pada generasi kakek-nenek. Itu pun dari bapak. Dari keluarga ibu, petani sudah berhenti di generasi sebelumnya. Artinya, kesinambungan "profesi" petani di keluargaku juga sudah terputus. Anak dan cucu sudah beralih kiblat ke pilihan profesi lain yaitu guru atau pegawai non petani. Menjadi petani seolah sudah tidak lagi zamannya. Dan ketika merenung lebih jauh hal ini sebenarnya memprihatinkan. Profesi petani selalu akan dikalahkan dan disepelekan karena orang selalu akan menyebut profesi ini dengan kata "hanya" petani. Kami "hanya" dari keluarga petani. Kami ini "hanya" petani miskin, orang kecil, dan sebagainya. Nah, petani itu dimaknai sebagai minioritas. Ia adalah kaum kecil, miskin dan akhirnya tersingkir. Padahal tanpa petani, kita semua tak bisa menikmati kuliner yang sekarang apapun bisa laku. Makanan apapun bisa dijual. Bahan makanan itu semua dari petani. Jika tidak, kita bisa bertanya: "siapa penghasilnya?"

Memang jika kita melihat fenomena "hanya" petani atau ketersingkiran dan kekalahan petani sehingga profesi petani ini tidak menjadi favorit, itu akibat dari cara kita melihat dan berpikir sehingga mempengaruhi cara kita bertindak. Petani seolah tidak penting walau de facto mereka penting. Mengapa profesi ini selalu dicibir? Karena petani itu tidak sangat dibanggakan, petani sendiri tidak pernah diajak bangga dengan dirinya. Paradigma manusia saat ini meminggirkan mereka karena yang bergulat dengan tanah dan kotoran itu adalah mereka yang rendahan. Tanah itu memang di bawah. Yang di bawah itu kotor dan menjijikkan. Kotoran itu selalu dianggap harus disingkirkan dan dijauhi. Oleh karena itu, petani yang bergulat dengan tanah dan kotoran (pupuk) itu harus dijauhi dan tidak perlu dibahas. Hasil pertanian saja yang diperhatikan. Sebab, proses dan siapa pelakunya itu tidak penting. Kira-kira itu paradigma manusia saat ini yang anti petani, tanah, dan kotoran. 

Sayangnya, petani dan hasil pertanian itu pantas dan layak dibanggakan. Tanah dan kotoran itu pantas dihargai karena tanah itu tempat bertumbuhnya tanaman untuk kehidupan. Tanah adalah tempat tumbuh. Kesuburan tanah itu karena ada kotoran yang jadi pupuk. Namun orang menyebut kotoran sebagai yang menjijikkan. Mereka menjauhi kotoran, sedangkan petani itu mendekati dan bergaul erat dengan kotoran. Maka dari itu, petani adalah sahabat kotoran dan tanah yang direndahkan. Petani modern pun harus bergulat dengan tanah dan kotoran. Semodern-modernnya petani dan pertanian, tanah selalu akan jadi fokusnya. Orang tak bisa mengelak atau menolak kotor(an). 

Kembali ke ungkapan awal, mengapa orang menilai seseorang atau sesuatu dari bersih tidaknya dia? Bagiku, orang selalu mencari yang bersih. Yang bersih itu menyenangkan, tidak kotor itu segala-galanya. Padahal tidak menjamin yang bersih itu baik. Tidak semua dari kita adalah bersih. Atau bahkan kita semua itu tidak bersih. Kita semua itu rapuh, kita semua itu berdosa. Dosanya kecil atau besar itu tergantung yang menilai. Diri sendiri saja tidak bisa menentukan apakah dosaku kecil atau besar. Maunya berdosa kecil, tetapi ada orang lain menilai besar, maka kita tidak bisa menolak. Orang lebih mudah menilai kita adalah bersalah, kotor daripada menilai sesama itu bersih, baik. Itu adalah nalar survival, nalar bertahan hidup. Tidak mudah menerima mereka yang bersalah, jatuh, gagal, dan jelek. Lebih mudah menerima mereka yang cantik/ganteng, bersih, tidak bersalah, semua serba baik. Padahal pada dasarnya manusia itu kotor, lemah, rapuh, ada sisi keberdosaan. Tetapi sekali lagi idealisme manusia itu selalu akan menyematkan sosok di luar dirinya harus bersih, cemerlang, berprestasi, perfect dan itu adalah proyeksi dirinya yang lemah, cacat, rapuh, berdosa supaya ada sosok yang lebih baik daripada dirinya. Ketika sosok itu diketahui jatuh, gagal, berdosa karena setitik kesalahan saja, maka image kotor itu langsung disematkan pada dirinya. Dan seolah-olah tanpa pengampunan. Sekali jatuh tetap jatuh dan kotor. Itulah gambaran seperti malaikat yang jatuh dan jadi iblis. 

Manusia menilai orang lain jauh lebih mudah menghakimi dengan kekotoran, keberdosaan, kerapuhannya daripada melihat adanya pengampunan, kebertobatan, perbaikan, dan apresiasi yang membangun. Otak manusia jatuh dalam ekstrimitas satu ke yang lain. Orang yang mudah melihat saudaranya jahat, negatif akan mudah sekali menjadi pengkiritik daripada pemberi apresiasi. Di sisi lain, ekstrim satunya adalah orang yang mudah memberi apresiasi akan kesulitan memberi penilaian sisi negatif atau kekurangan orang lain sehingga menjadi naif. 

Oleh karena itu, belajar dari kekurangan dan kotoran, aku belajar banyak untuk menilai orang itu lebih prosporsional. Aku sendiri bukan pribadi yang perfect. Nobody is perfect. Apakah Tuhan yang kita sebut sempurna itu ciptaannya juga sempurna? Ternyata juga tidak. CiptaanNya pun juga ada cacatnya. Namun dari kekurangannya itu kita bisa memaknai supaya kerahiman Sang Pencipta terungkap nyata. Orang menuntutnya semua sempurna tanpa cela, namun kadang orang ini kurang realistis bahwa kita semua itu tentu ada kekurangannya. Seorang idealis perfectionis bahkan akan menilai juga bahwa Tuhan itu tentu salah karena yang benar adalah hanya dirinya. 

Semoga glumprut, belepotan, kotor, menjijikkan ini tidak menghalangi rahmat dari atas untuk melihat segala sesuatunya secara baru dalam Dia. Kita lupa bahwa kita diberi cara pandang dan bukan hanya alat pandang. Kita tidak hanya punya mata untuk melihat tetapi cara pandang yang kadang tak butuh mata. Kita bukan hanya bisa berdiri dengan kaki tetapi berdirinya manusia itu juga dengan cara berdiri yaitu pendirian. 

Peribahasa "aja cedhak-cedhak kebo gopak" itu adalah peribahasa bagi mereka yang sok suci dan sok bersih padahal dirinya juga seperti kuburan yang bersih dari luar karena dilabur putih luarnya namun dalamnya juga isinya adalah bangkai. Kita semua adalah ciptaan yang punya kerapuhan, ada sisi kegagalan, jatuh tetapi percaya bahwa aku dicintai Tuhan. Oleh karenanya, aku masih hidup.          


#morningtime#

Sunday, August 6, 2023

Koentji

"Orang yang paling paham dan tahu betul tentang sesuatu (halnya) adalah orang yang paling pertama akan melanggar hal yang dipamahi itu ". Aku menemukan ini dalam sebuah benda yang dipakai untuk membuka dan sekaligus menjalankan sebuah mesin. Ya, itulah koentji. Entah dari zaman kapan benda atau alat itu ditemukan dan dibuat. Aku belum menelusurnya dalam glosary pengetahuan dan biasa kita sering pakai di era ini adalah "mbak google". Koentji bukan saja sebuah alat, orang bisa saja mengatakan istilah itu sebagai sebuah sifat. Seperti dalam film yang terkenal di era Orba sebagai film propaganda ada ungakapan bahwa "Djawa adalah koentji". Namun yang ingin kubahas kali ini adalah sebuah alat (benda) dan bukan sifat itu. 

Di sebuah komunitas, ada aturan yang disepakati bersama. Cara bertindak itu demikian: "Jika seseorang ingin bepergian, ia haruslah menulis di sebuah papan dan jikalau mau memakai kendaraan tertentu, haruslah ia menuliskan kendaraan mana yang akan dipakai, kapan, dengan sopir siapa." Itu bisa dibuat bersamaan atau bisa saja pesan jauh-jauh hari sehingga jika ada orang yang mau pakai, maka bisa saling tahu. Andai dibuat bersamaan pun bisa asalkan tidak mau memilih manakah yang yang harus dipakai atau yang ada ya itu yang dipakai. Aturan itu bertujuan untuk (1) segala sesuatunya terkomunikasikan, (2) orang lebih sadar akan arti pemakaian alat transportasi mana yang kita gunakan sehingga bisa mengontrol bersama apakah ia memakai dengan baik, apakah bahan bakar juga diisi jika sudah berkurang, ada batas waktu dan sebagainya. Setidaknya dua hal itu yang kupahami mengenai kebijakan itu.

Suatu hari mobil A itu ada di garasi. Namun ketika dicari koentjinya koq tidak ada. Aku mencoba mencari tahu pertama-tama kepada para sopir yang biasa memakai karena jenis pekerjaannya adalah menyopiri dan merawat mobil-mobil yang ada. Respon dari semua sopir adalah negatif. Artinya mereka tidak pada tahu. Aku akhirnya hanya menunggu momentum siapa yang nanti akan memakai mobil A itu. Untungnya hari itu aku tahu siapa yang akhirnya memakai mobil itu. Dan itulah momentum yang kutunggu. Ternyata orang yang sebenarnya paham betul bahkan sudah lebih lama memahami pola halnya, dialah yang paling pertama melanggar hal itu. Mengapa aku katakan itu, karena dengan alasan apapun hal sederhana ini menunjukkan bahwa tidak mudah untuk konsisten dan berpola yang sama. Aku menanyakan ke sopir-sopir karena pengalamanku sebelumnya mereka juga kadang lalai mengembalikan koentji pada tempatnya. Di lain sisi aku juga prihatin karena ada orang yang polanya kusebut sebagai yang tadi, yaitu harusnya tahu betul tetapi lebih dari satu kali ini aku menemukan pola yang berulang. Artinya, apakah orang itu pelupa atau memang polanya sama walau tidak sering?

Menyimpan sebuah koentji terlalu lama dan tidak menulis dalam pemesanan mengartikan bahwa sepertinya alat itu ingin disimpan supaya tidak dipakai orang lain. Walau pada akhirnya ia menulis di papan tetapi ketika di buku pemesanan kendaraan tidak ada, itu juga akan lebih membingungkan. Sebenarnya di setiap mobil ada buku kecil yang dipakai untuk mencatat setiap kali dipakai namun itu tidka efektif terpakai. Sebenarnya itu dipakai jika ada keluhan tentang kendaraan yang habis dipakai. Misalnya, setelah dipakai koq menemukan ada lampu rem yang mati maka bisa dicatat mengenai keluhan atau kerusakan itu. 

Mengambil koentji dan tidak mencatat sedangkan kendaraannya masih ada menimbulkan syak wasangka: "siapa yang mengambil koentji?" dan ditambahi "ini orang lupa atau memang ingin menyimpan koentji terlalu lama?" Akhirnya yang bisa kulakukan pertama-tama memahami pola orang itu. Mungkin ia ingin menyimpan lebih lama dari kebiasaan yang sebenarnya menulis dulu baru ketika akan memakai baru diambil koentjinya. Dengan menuliskan, kita sudah membooking itu dan tidak akan ada orang yang memakai di hari dan jam itu. Dengan tidak menulis, orang cenderung akan mencari siapa, di mana, untuk apa? 

Orang tahu seharusnya memesan dulu kapan, ke mana dan manakah yang akan dipakai bukan malah mengambil koentji itu tanpa ada catatan yang terkomunikasikan. Komunikasi baru dipahami orang lain ketika sebuah mobil dipakai dan ternyata dia yang memakai dan tidak mencatat. Memesan itu akan menolong diriku dan orang lain berkomunikasi. Seandainya alat itu akan dipakai orang lain, maka bisa dinegosiasi sebelumnya sehingga tidak menjadi batu sandungan bagi sesama. 

Di sini akhirnya, komunikasi adalah "koentji". Mungkin hanya menulis pemesanan namun itu adalah sebuah hal yang berbicara banyak, seperti: aku ingin terbuka pada orang lain, aku mengkomunikasikan maksudku, aku butuh alat ini, kapan, dan ke mana. Selain itu aku juga memperhatikan supaya tidak ada orang yang curiga dan mencari-cari, membiasakan diri untuk menaruh pada tempatnya dan sekaligus memakai pada saatnya.   


#eveningtime#

Thursday, July 27, 2023

Cerita demi Cerita

Hidup ini adalah cerita. Cerita demi cerita yang kadang nuansanya sedih, rapuh, duka. Di sisi lain ada nuansa suka, ceria, menyenangkan. Dua hal itu kadang bersisi seperti dua sisi mata uang. Di mana ada duka di situ ada suka. Di mana ada cita di situ ada duka. Kehidupan tak selamanya mengkisahkan orang-orang kuat. Tak selamanya menceritakan orang-orang kaya dan mewah. Hidup itu ada yang diam. Hidup itu ada yang tak selamanya sedap dipandang. Hidup itu kadang juga coreng moreng, carut marut. Orang ada yang malu. Orang ada yang membenci hal itu. Orang tak suka dengan yang cacat, cela, gelap, kacau. Maka sering kali orang tak suka hidup dan membunuh dirinya karena tidak suka dengan kekacauan, kejelekan, rasa malu berlebihan. Itu semua adalah beban yang tak tertanggungkan. Orang bersalah kepada orang lain. Orang lain menjadi marah. Yang marah memakai pihak lain untuk mencoreng moreng hidup dan keluarga orang yang bersalah. Yang bersalah merasa malu dan menyesal, tapi orang lain tetap saja menghukum dengan hujatan dan cemoohan. Karena tak tertanggungkan maka kerapuhan hidup itu makin menganga, dan ia memutuskan mengakhiri hidupnya. 

Banyak kisah dan cerita tentang kehidupan ini. Ada yang rapuh karena tubuh dipakai berlebihan dan tak kenal lelah, sehingga tubuh pun menagih kebutuhannya untuk diistirahatkan. Oleh karena itu, muncullah tegangan saraf dan tekanan darah yang tinggi. Gejala pecah pembuluh darah pun mengakibatkan tubuh menjadi tak terasa lagi di saraf perasa. Dan seseorang pun mengalami penyakit yang bernama stroke. Ada bagian-bagian tuuh yang tak bisa digerakkan karena saraf tak bisa lagi mengkoordinasi, bekerja sama dengan fungsi otak karena kerusakan tertentu. Wajah dan bibir menjadi pelo, tak mampu berbicara seperti biasa. Saat tubuh mengalami masa di ambang batas itu, manusia baru sadar dan merasa bahwa dirinya perlu mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak terjadi kerusakan  yang lebih hebat. 

Kisah lain adalah kerapuhan karena kerentaan. Rapuh dan rentan itu pasti ada. Renta dan tua itu adalah proses selanjutnya. Karena ketuaan dan kerentaan, maka sisi rapuh itu makin menyeruak. Orang tak serta merta merasakan bahwa tubuhnya menjadi renta. Ketika aku bertanya pada salah satu yang sudah uzur tentang bagaimana mengalami masa tua, ia menjawab, "Tidak terasa, yang dirasakan adalah sama seperti saat muda. Hanya kemudian saya merasa bahwa fisik menjadi terbatas geraknya". Hidup bagaikan baru kemarin sore. Namun ketika semua itu menjadi terbatas, maka kesadaran menua itu tak serta merta menyertai. Aku hanya ingat sebuah ungkapan dalam tayangan satu acara di TV: "In the time that you are still young, you have to remember that someday you will become old." 

Hidupku adalah cerita demi cerita. Ada yang merasa diri harus ini dan itu. Ada yang merasa harus sesuai dengan apa yang dipikirkannya. Ada pula kisah bahwa serenta usia 80an, orang itu masih belum merasa tenang dan selalu idealis. Hidupnya adalah kisah demi kisah protes dan ketidakpuasan. Dan ia adalah orang yang penyendiri. Dia merasa tidak puas dengan orang lain, komunitasnya, apa yang dilakukan teman-temannya. Semua serba salah, bahkan mungkin Tuhan pun di matanya salah dengan apa yang diciptakanNya. (Bahkan mungkin dia pikir Tuhan pun salah dalam menciptakan dirinya). Rasa tidak puas dan ingin menyendiri menjadi pola hidup yang jika mengetahui lebih dalam tentang hidupnya ada sisi-sisi antara idealis, inkonsisten, merasa diri otonom dan benar. Ketika mengusulkan sesuatu secara ide, banyak hal ditulis dan itu bagus. Namun itu semua tidak pernah ia jalani. Idenya sebatas ide atau sebatas yang ia bisa tuliskan. Aksinya untuk mewujudkan itu hanya sebatas untuk orang lain. Ia sendiri bahkan tidak menjalankannya. Menjengkelkan, ya. Pasti orang seperti ini menjengkelkan. 

Ada lagi kisah seorang anak manusia yang ketika di masa tuanya ia ingin selalu atau merindukan dininabobokkan oleh yang membantunya. Ia selalu menyebut yang merawatnya di rumah jompo itu "mama". Selidik punya selidik, sejarah hidupnya adalah sejarah tentang kerinduan seorang anak manusia yang baru bisa melihat dengan mata kepala sendiri kedua orang tuanya saat ia berusia 19 tahun. Dan ketika itu pula, ia harus pergi demi keputusan martabat hidupnya. Sosok orang tua baginya adalah sebuah sosok kerinduan terus-menerus karena ketika di masa kecilnya, ia tidak pernah melihatnya. Tubuhnya renta dan rentan, kerinduannya masih bertahan dan mengendap di alam bawah sadarnya, lalu ia selalu memanggil "mama". 

Sebenarnya masih banyak penggalan-penggalan kisah demi kisah, cerita demi cerita. Namun aku cukupkan sampai di sini. Aku hanya mau menyampaikan bahwa hidup ini penuh cerita. Hidup ini tak selamanya adalah kisah sukses dan sempurna. Orang yang menuntut dan menghukum orang lain harus ini dan itu bahkan sampai menyingkirkan mereka yang bersalah, kiranya mengingkari hidup itu sendiri. Orang jahat dan orang baik dibiarkan hidup bersama. Kejahatan dan kebaikan itu hidup berdampingan walau secara moral manusia, yang jahat harus dikalahkan. Kenyataannya, keduanya berkelindan dan berdampingan. 

Tak selamanya hidup ini adalah kisah sang perkasa seperti Hercules. Tak selamanya hidup ini berkisah tentang kejayaan dan kemegahan bangunan. Hidup ini berkisah tentang kejayaan dan keruntuhan, kemerdekaan dan penindasan, kehidupan dan kematian, kesucian dan keberdosaan. Aku bukannya permisif, namun perlu lebih menerima jika ada keburukan dan menghargai kebaikan. Hitler pernah akan menciptakan manusia super, Ubermensch alias Superman. Namun semua itu gagal total karena terlanjur kalah perang.  Aku tak bisa membayangkan jika itu terwujud saat itu. Manusia yang cacat disingkirkan. Manusia yang bodoh dibunuh. Manusia yang bersalah pasti dihabisi. Ternyata kehidupan berkata lain. Kerapuhan masih tetap diberi ruang. Kerentaan masih diberi kesempatan. Kesalahan diberi pengampunan. Aku tak tahu itu semua apa maksudnya. Setidaknya, aku belajar untuk makin rendah hati menerima segala kerapuhan, kerentanan, ketidakberdayaan, bahkan kesalahan yang kadang tak ingin kita terima sekalipun. Yah, sekali lagi itulah cerita demi erita. 


#eveningtimeinmyroom# 

Wednesday, June 21, 2023

Tak Semua Jalan bisa Dilalui dengan Cara yang Sama

Setiap hari aku berusaha berolahraga. Setiap hari aku menapaki jalur yang relatif sama. Jika pun berbeda hanya arahnya dari kiri ke kanan atau dari kanan ke kiri. Awalnya semua itu kujalani sebagai pemulihan lagi dari sakit kakiku karena ada gangguan sedikit. Biasa, setelah melalui proses usia, tentu ada hal-hal yang mulai harus kusadari dan kuperhatikan dari tubuh ini. Ketika raga ini butuh diolah lagi dan lagi, aku mencoba berjalan dan berlari, keduanya kukombinasi. Ada saat dimana jalur pun kutapaki dengan adaptasi. Jalur yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Cara yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Aku memang merasa di sini aku tidak mudah berkeringat karena suhu dan atmosfer udara yang memang berbeda. Dulu aku tinggal di daerah yang panas. Sekarang di daerah yang relatif sejuk. Ketika kujalani semua itu, aku pun perlu memakai cara lain. Suhu tubuh perlu dinaikkan dengan alat bantu lain yaitu jaket yang kupakai dengan tutup kepalanya agar cepat berkeringat. Namun itu sudah tidak lagi. Bahkan aku sudah mempersiapkan APD jika suhu dan cuaca di sini lebih dingin lagi nanti sehingga tubuh cepat mengeluarkan keringat. Intinya adalah supaya tubuh mengeluarkan keringat.

Dari apa yang kujalani ini aku berpikir dan merenung sembari berjalan dan berlari. Kadang aku juga merasakan kaki ini harus terantuk batu, kadang kesleo ringan, kadang melalui jalan berbatu, kadang melalui jalur tanah berumput. Semua itu adalah bagian dari olah raga yang kujalani, latihan fisik dan tentu ini tak menyingkirkan latihan bermenung lebih dalam tentang hidup. Yang kutemukan kemudian adalah tak semua jalur bisa kulalui dengan cara dan kecepatan yang sama. Jalan berbatu tak mungkin dilewati dengan kecepatan berlari, maka harus berjalan supaya kaki tidak kesleo atau tersandung. Jalan tanah berumput bisa dilalui dengan kecepatan dan cara berlari karena kaki dapat menapak dengan lebih lancar, tidak bergelombang jalannya. 

Kiranya refrain itu yang saat ini menggaung di angan dan kalbuku. Mengapa demikian? Tak bedanya dengan latihan fisik, latihan mental dan kerohanian kiranya juga sama. Tidak bisa hanya memaksa diri dengan cara yang sama, namun konteks kita hidup dan situasi kondisi di luar diri kita pun perlu diperhatikan. Kondisi jalan dan jalur yang kita lalui dalam hidup akan berpengaruh pada kecepatan dan cara kita bertindak. Bukan lantas itu menjadi tidak konsisten, namun semua langkah laku kita perlu kita sesuaikan dengan konteks kita berjalan, konteks kita hidup. 

Orang yang sedang mengalami kesuksesan entah itu sifatnya material atau mental, tentu jalannya dengan kecepatan tinggi. Aura kebahagiaan, kebanggaan, keceriaan mewarnai energi hidup. Orang yang sedang terpuruk tentu tidak bisa berlari kencang, kecepatan 20 km/jam saja sudah cepat. Ketika jam 10.00 pagi melewati jalan tol Cikampek sampai menjelang JORR, jalan masih lancar. Belum banyak mobil yang melewati jalur itu. Namun ketika masuk JORR sekitar jam 12.00 siang dan di hari kerja maka jalur itu adalah jalur neraka, padat merayap. Orang harus tahu konteks di mana ia hidup, berjalan, bepergian dan lewat jalur mana agar meminimalisir kemacetan. Kiranya hal itu sama dengan hidup ini. Tak bisa kita akan melalui jalur yang sama untuk sebuah hal yang berbeda. Jalur yang sama akan berbeda kepadatan di jam yang berbeda. Jalan setapak pun punya karakteristik yang berbeda. Seperti di atas tadi, ada jalan berbatu dan ada jalan berumput. Ada kalanya naik, ada kalanya turun, ada kalanya landai, datar. 

Ketika kita dalam masa yang konsolatif, semua terasa bahagia dan bersemangat, walau itu berat. Ketika desolasi melanda, maka hanya ada kegalauan, abu-abu, bahkan kelam. Jalan memang perlu kita lalui. Yang penting adalah bagaimana kita melaluinya. Tidak bisa kita memaksakan semua itu dengan apa yang kita lakukan atau dengan ukuran kita. Tak cukup menahan hujan supaya tidak membasahi lapangan hanya dengan menutup lapangan itu dengan terpal. Tentu perlu membuat resapan yang lebih baik agar lapangan itu cepat menyerap dan mengalirkan air dari lapangan. 

Resiko memang perlu diperhitungkan. Jika kita hanya memaksakan cara dan kecepatan yang kita pakai saja, maka resiko kesleo atau terantuk batu akan terkena pada kita. Meminimalisir resiko itu justru yang harus kita ambil agak tubuh tetap terjaga dan kita tidak menyalahkan hal-hal di luar diri kita. Resiko tetap saja ada dalam hidup ini namun bagaimana mensiasati resiko yang merusak, itu lebih baik daripada kita menjalani hidup hanya dengan mata kuda. Itulah hidup. Tidak bisa hanya berpatokan pada diriku saja, tapi melihat konteks hidup juga penting. Itulah sebabnya tak semua jalan bisa dilalui dengan cara yang sama. 


#noontime#   

Friday, May 26, 2023

Toxic

Aku agak kaget tapi juga merasa harus memahami orang per orang. Masalahnya adalah bukan hanya menyangkut satu dua orang, tapi persoalan ini sudah merangkak dari wilayah personal ke komunal dan itu yang mempengaruhi situasi kerja. Awalnya adalah permintaan perlakuan khusus, lama kelamaan permintaan itu seperti mengalir dan menjadi kebiasaan. Ternyata orang menjadi lupa kalau pekerjaan seorang karyawan tidak hanya menjadi fokus ke dirinya saja. Eh, ternyata manusia itu mudah lupa dan tak sadar diri. Inginnya dilayani, diladeni, diperlakukan khusus. Sayangnya, perlakuan khusus itu kemudian berubah menjadi relasi yang tidak sehat. Aku melihat adanya keluhan, komplain, ketidaknyamanan dan akhirnya menjadi problem yang perlu segera ditangani. Jika dalam berelasi yang selayaknya harus relasi A dan menjadi B, maka itu sudah melenceng dari awalnya. Ketika ada pelencengan-pelencengan itulah mulainya sebuah ketimpangan. Ketika terjadi ketimpangan, maka ada di sana relasi timpang dan itulah mulainya opresi, penindasan, penguasaan yang satu terhadap yang lain. Itulah penjajahan. 

Orang mengatakan relasi itu bisa saja menjadi toxic alias tidak sehat alias relasi beracun. Racun itu kalau masih ringan, ada obatnya. Namun kalau sudah berat, obatnya juga dosis tinggi atau malah kelewat berat ya tak ada obat. Itulah susahnya. Susah di sini artinya orang lain sudah merasa terbebani namun pihak satunya tidak merasa itu. Malah cenderung untuk mengekspose diri ke pihak-pihak lain. Ketika mengekspose diri ke pihak-pihak lain, tentu pihak lain itu juga bisa menilai aneh, "koq ini orang bertingkah aneh, kata-katanya aneh, permintaannya aneh-aneh?" Itulah yang menyebabkan relasi itu menjadi beracun bukan kepada kedua belah pihak namun sudah menyebar ke lingkaran yang lebih luar dari keduanya. Dan ketika sudah menyebar, racun itu sduah menjalar ke berbagai tempat. Aku memang sedang mencari cara bagaimana melawan racun itu.

Sebuah pekerjaan yang tidak menyenangkan melawan racun. Perlu mencari obat yang adalah racun pemusnah racun sebaliknya. Ada virus maka perlu anti-virus. Perkaranya adalah mencari anti-virus yang mujarab itu yang dibutuhkan. Tidak bisa serta merta melawan virus itu dengan anti-virus. Perlu kehati-hatian supaya malah tidak kontra produktif. Aku bisa saja mendengarkan atau melihat secara reaktif dari satu pihak, namun itu pasti akan membuat reaksi negatif atau resistensi dari yang lain. Aku sedang melihat dengan lebih prosporsional dan objektif setidak-tidaknya karena pola-polanya perlu dicermati dengan seksasma. Bagi yang terkena imbas kurang menyenangkan ini, aku pun juga perlu mengatakan bahwa perlu lebih tenang dan tidak reaktif. Memang mengalami orang yang tak sadar diri itu tidak mudah. Kita pun perlu memberi kesadaran pada yang meracuni itu sehingga terjadi proses penyembuhan kedua belah pihak. Jika sudah lebih possesif dan agresif, itu yang harus segera dipotong polanya. Itu yang memang membahayakan. Ada keterlukaan pada sisi pihak yang lebih lemah.

Aku hanya melihat di sini adanya ketimpangan power, kekuasaan, otoritas. Dan karena relasi timpang itu, maka ada kecenderungan yang satu terlukai, yang lain menjadi pemenang, penikmat, mendapat kepuasan. Nah, itulah abuse of power. Ada penyalahgunaan kekuasan dari yang lebih berkuasa kepada yang lebih lemah. Misalnya, mentang-mentang pimpinan, lalu memakai wewenangnya untuk mengerjain anak buahnya. Mentang-mentang karena pemuka umat, maka ia ingin diperlakukan khusus oleh karyawan, anak buah awam dan itu sering tidak sadar. Kalau sudah ada yang mengeluh, barulah itu muncul dan mencuat. Ada komplain dan laporan ke pihak yang lebih tinggi. Bahkah itu polanya halus, karena sering tidak eksplisit bahwa orang itu punya posisi kekuasaan namun karena jabatan atau status sosialnya walau tidak punya posisi di dalam komunitas, ia tetap saja berkuasa atas karyawan atau awam yang kemudian tidak berkutik ketika melihat sosok "tertahbis" atau "yang berkaul" atau "religius" dan sebagainya. Itulah mengapa abuse of power itu juga berarti spiritual abuse. Ada penyalahgunaan status kereligiusan pada pihak lain yang dikategorikan sebagai kurang atau bukan kalangan religius. Padahal dari sisi manusiawinya, kita sama-sama religius dan sama-sama punya badan wadag yang punya kerapuhan. 

Oleh karena itu, pertama, menyadari akan kerapuhan kita itu penting. Menyadari bukan berhenti pada menyadari tetapi itu menjadi kesadaran yang memberi warning bagi perilaku kita. Kedua, berhati-hati dan waspada bahwa yang kulalukan, kuucapkan, kupikirkan juga ada kalanya melukai sesama. Emosi memang kadang muncul. Kalau emosi negatif terungkap pada sesama, itu menyerang dan melukai. Jika da luka, maka perlu rekonsiliasi. Ketiga, mengolah diri sampai mati itu adalah perlu. Mengolah diri itu sebenarnya gabungan antara yang pertama dan kedua, kemudian diintegrasikan dengan penghayatan nilai atau keutamaan yang terus-menerus dibangun dan diusahakan dari waktu ke waktu bahwa manusia itu punya derajat yang mampu memperbaiki diri, berdamai, dan mengobati dirinya dan sesamanya. Istilah keren-nya ada integrasi antara sikap sadar, kehati-hatian, dan pengolahan diri terus-menerus. Bahwa diriku lemah itu diakui, tidak diingkari, namun kelemahan bukan hal yang harus disimpan terus namun dipakai sebagai dasar membangun dan mengolah diri sehingga menjadi pribadi yang sehat, membantu komunitas menjadi sehat dan tidak menjadi batu sandungan bagi karya atau relasi kerja antar sesama. 

Itu semua adalah pekerjaan rumah yang tak pernah selesai dari kita masing-masing. Oleh karena itu, antara kodrat dan rahmat selalu dibutuhkan kerjasama. Tidak ada rahmat yang efektif tanpa kodrat yang bekerja sama. Tidak ada kodrat yang menyempurnakan dirinya tanpa dibarengi rahmat dari Atas. Mungkin info grafis ini baik untuk sekedar info ringan namun membantu kita melihat diriku atau orang lain toxic atau tidak.

Wednesday, May 3, 2023

Sahaja

Berita akhir-akhir ini marak dengan penonaktivan beberapa pejabat karena mereka sering pamer harta. Kata "harta" dan "pamer" sering muncul di pemberitaan manapun. Orang seolah tidak kenal lagi bahwa hidup itu adalah sahaja, semenjana, prasaja. Seolah hidup ini digelontor harta atau bahasa Jawanya, "diuja karo bandha". Harta bukan sekedar tas bermerk, jam tangan bermerk, mobil bermerk, atau perabotan rumah mewah. Ada juga yang pamer bepergian ke sana ke mari baik di dalam negeri maupun luar negeri dengan foto-foto yang di-upload di media sosial. Ketika media sosial itu memang akun pribadi namun yang namanya "media" untuk "bersosialisasi" maka menjadi tersebarlah hal-hal yang sifatnya pribadi. Orang tidak sadar dan tidak bisa menyalahkan perangkat ini. Ketika sudah pamer kemewahan dan harta (yang entah dari mana), pasti banyak orang akan bisa menelusur hal-hal yang sifatnya privat ini. Karakter media sosial adalah membeberkan segala macam hal sehingga menjadi tersosialisasikan, tersiarkan, tersebarkan. 

Ketika trend pola Mario yang menganiaya David dan akhirnya permasalahan ini berujung pada pemecatan ayah Mario dari Dirjen Pajak, maka pola-pola yang sama pun dipakai untuk "mengadili" para pejabat yang sering pamer kemewahan dan harta. "Anak polah, bapa kepradhah,"demikian orang Jawa mengatakan peribahasanya untuk segala hal yang menyangkut perilaku anak akhirnya terimbas pada orangtuanya. Benar bahwa akhirnya toh dari mana sih si anak dapat pamer atau bisa meniru? Tak lain ya adalah dari orangtuanya. Entah itu langsung atau tidak langsung, kemewahan dan harta itu dari orangtuanya. Akhirnya senjata yang dipunyai untuk bermewah-mewah atau pamer itu ditelisik orang lain untuk menunjuk "itu lho orangtuanya". 

Kekejaman netizen menghakimi mereka yang pamer kemewahan dan harta ada baiknya. Baik bahwa itu mengurangi kecenderungan untuk pamer. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana melatihkan hidup bersahaja, prasaja itu dari keluarga inti. Orangtua yang merasa berhasil, sering kali mengatakan bahwa mereka tak ingin anak cucunya sengsara seperti mereka di zaman perjuangan. Ideologi inilah yang kemudian menimbulkan banyak orang berlomba-lomba mengutamakan ketamakan daripada kesahajaan. Keberhasilan adalah tujuan hidup, bukan sarana lagi. Tujuanku adalah mendapat, menumpuk, menyikat harta dan segala macam kemewahan yang bisa kuraih supaya aku bisa pamer dan punya kekuasaan (power) untuk menyikat,  mendapat hal-hal yang lebih banyak lagi. Dan itu adalah harta dan kemewahan. 

"Sahaja" itu dekat dengan kata "sahaya" yang adalah hamba miskin atau budak atau jongos.  Itulah yang menjadi kata "saia" atau "saya". Kita melupakan kesahayaan diri kita sehingga sahaja itu mahal harganya. Orang sering memakai kata "aku" yang cenderung egois, self-centris, dan cenderung childish. Apa-apa harus "aku". Kalau si aku ini tidak mendapat segala yang dimaui, maka ngambek, marah, mendendam. Kita ini adalah sahaya yang harus bersahaja. Mengapa demikian? Kesahajaan adalah benteng dari ketamakan yang merusak kehidupan. Perang adalah muara dari ketamakan, terlalu ingin menang sendiri, dan menguasai yang lain. Kesahajaan itu adalah ibu dari kehidupan agar yang lain juga kebagian hidup itu sendiri. Hidup itu ada ruang dan waktu dalam dimensi di dunia ini. Maka berbagi ruang dan waktu itulah yang terpenting dari kesahajaan dari seorang sahaya satu ke sahaya yang lain. 

Solidaritas dan kepekaan akan sahaya ini jauh dari apa yang selayaknya kehidupan ini berlaku. Orang tidak lagi paham dengan solidaritas karena lebih membesarkan "aku"-nya daripada "sahaya"-nya. Kalau orang mengaku diri sebagai sahaya maka ia rela melayani, rela mengalah, rela berbagi. Kalau yang hidup hanya "aku"-nya, maka yang hidup juga ego-nya. Semua terpusat pada "aku" yang semu. Hidup ini tak lain dan tak bukan adalah berbagi dan solider dengan yang lain. Peka dengan situasi sering juga terkalahkan oleh kepentingan "aku" yang terlalu besar. Orang berorientasi pada harta dan kemewahan sehingga itulah yang memoles "aku" atau "ego". Harta dan kemewahan mengubah sahaya yang seharusnya bersahaja menjadi AKU dan EGO yang jauh lebih menutupi kehidupan ini. Selayaknya kita mengatakan bahwa aku adalah hamba sahaya yang tidak punya apa-apa. Hidup ini adalah peziarahan yang tak lama dan tak bawa apa-apa. Kesahayaan tentu menuntut kesahajaan. Jika setiap pribadi manusia adalah sahaya bagi yang lain maka hidup ini tak bakal kekuarangan, tak bakal ada kecemburuan, dan semua hidup dalam kecukupan. Cukup itu bukan menumpuk atau tamak. Orang mengatakan cukup mengandaikan hidupnya merasakan arti sebuah kesederhanaan. 

Tentu tak ada lagi saling menjatuhkan karena tidak saling iri harta dan kemewahan seandainya sahaya itu saling menghargai satu dengan yang lain. Sahaya tidak mencurigai sahaya yang lain karena sebagai sahaya, kita adalah saling mengabdi satu dengan yang lain. Sahaya tidak posesif dengan harta dan kemewahan, apalagi pamer-pamer. Keluarga-keluarga perlu mendidik anak-anaknya untuk (1) tidak gila pada harta dan kemewahan. Teringat aku dengan seorang teman yang ketika bersama anaknya dia mengatakan: "Nanti kalau sudah besar carilah suami yang kaya biar hidupmu tidak susah." Dari kecil anak itu sudah dicekoki ideologi tentang kekayaan, bukan kecukupan; (2) mengatakan dan bisa menerima kata "cukup" dan bukan menjadikan diri yang tamak (greedy). Ketamakan adalah pangkal dari kejahatan di dunia ini. Ketamakan menghasilkan kurangnya barang yang dibutuhkan orang lain karena menumpuk di sebagian orang saja; (3) tidak alergi dengan perjuangan dan kerja keras. Hidup ini walau gratis toh dalam mengupayakan ketahanannya juga butuh usaha. Kerja keras itu masih perlu dilatihkan, tidak dihindari. Anak yang sering dimanja akan menjadi pribadi yang EGO-nya besar. Ukurannya hanya dia. Yang lain seolah numpang saja; (4) pembiasaan low profile dalam segala hal, tidak cari pujian, dan menonjolkan diri. Cari pujian dan menonjolkan diri adalah pangkal dari sikap pamer. Pamer saat ini adalah virus berbahaya yang bisa mencabut nyawa. Dengan mata dan jari kita, kita posting dan upload kepameran kita di medsos. Itulah awal dari runyamnya kehidupan. Sikap bijak dan hati-hati itu tetap penting.       

Sahaja itu tetap penting. Walau zaman ini seolah menyingkirkan kebersahajaan, kita tetap perlu memperjuangkan itu. Tanpa kesederhanaan, kita akan tidak cukup, dan kita cenderung melukai rasa keadilan dalam kehidupan ini. Maka marilah kita tetap berjuang hidup bersahaja, bersikap biasa walau kita diberi kelebihan, dan tidak menonjolkan diri. Sebisa mungkin kita saling berbagi dan mengabdi, karena itu adalah hal yang berat yang menjadi pergulatan manusia dari zaman ke zaman. Perjuangan itu banyak mendapatkan godaan atau tentangan dari si pamer, si jahat, si musuh abadi jiwa manusia. 



#noontime#

Sunday, April 2, 2023

Pamer

Tulisanku ini kuawali dengan sebuah syair lagu ini:

Ada hal yang tak perlu digenggam Rindu yang tak perlu diratapi Luka yang tak perlu sekarang diobati Hanya sesekali tuk diziarahi Bersemayam di altar biru Tuk seluruh ratap dan sedu Samsara dukamu Bukan lagi sajak-sajak ku Pancaran merah muda yang layu Menuju berusia Memang penuh kesia-siaan Seperti segala Yang tak punya umpama Pasrah begitu terasa Saat kata mulai mengada Tentang arti kata lara, duka, sengsara Yang tak kau tau kekasihku Mengikhlas itu setingginya ilmu Meski saban waktu Kutimang jiwaku

(Samsara, Soegi Bornean)

Sepertinya orang zaman sekarang tidak mudah untuk sekedar berbuat tanpa harus pamer. Pamer dan pamer bisa dalam bentuk apapun dan bagaimana saja. Sedangkan, pameran itu hanya mengusung bencana setelahnya. Pamer karena merasa diri punya dan berkuasa. Punya dan kuasa adalah satu paket yang bukan hemat tapi paket mewah, luxury yang bisa dipunya oleh mereka yang yang berharta. Harta dan harta berkelindan dengan kuasa dan jumawa. 

Tanpa harta, kuasa, dan jumawa sepertinya orang tak mampu hidup dan menunjukkan dirinya. Apakah sekedar itu hidup ini? Apakah aku hanya tereduksi dari hartaku, kekuasanku, kejumawaanku? Ah, kalau hanya itu, percumanya hidup ini. Bahkan seorang anak sultan pun bisa saja hidup bergelimang harta, kuasa dan jumawa, tapi ia tak harus memilih itu untuk dipamer-pamerkan. Sepertinya lebih baik "tak mengambil hak sebagai anak sultan dan justru mengambil rupa seorang hamba, bahkan ia menghampakan dirinya". 

Hidup bukan untuk pamer. Hidup ini berlaku seperti apa adanya saja. Barang, harta, kekayaan adalah sarana. Semua itu sarana untuk tujuan perjalanan hidup ini. Tanpa tujuan hidup ini hampa adanya. Tanpa sarana, orang masih bisa memiliki semangat hidup karena tujuannya jelas dan dipunyai. Aku hanya membayangkan mereka yang "kere", miskin, difabel. Mereka masih bisa hidup walau dengan keterbatasannya. Sedangkan banyak orang-orang kaya yang serba berpunya namun sering malah mengakhiri hidupnya karena orientasi (tujuan) hidupnya tidak jelas. Bahkan karena persaingan yang ketat, banyak orang-orang dari negeri matahari terbit itu (yang nota bene negara dalam kelimpahan itu) banyak yang bunuh diri karena tak tahan dirinya gagal, kalah dalam persaingan, malu karena rasa malu seolah membuat dirinya kiamat. 

Tak perlulah hidupku menggenggam apa yang seolah-olah hanya itu saja milikku, itu saja duniaku, tanpa itu seolah aku mati. Tidak. justru karena kita terlalu menggenggam sarana itu, kita mati dalam kelakuan kita terlalu over dalam menggenggam. Aku bukanlah sarana itu. Aku bukanlah barang yang aku punya. Aku bukan harta yang kupunyai. Aku bukan kemewahan. Aku bukan kekuasaan yang bisa membunuh orang lain dan sekaligus membunuhku. Aku adalah aku yang tak punya dan menggenggam apa-apa. Kuasaku datang dari atas. Hartaku adalah ketidakpunyaan harta itu sendiri, hartaku adalah diri yang tak punya apa-apa. Ya, kekayaanku adalah kemiskinanku dalam arti materi maupun psikisku. Siapa yang mau membawa barang-barang dunia saat dia mati? Apakah kekuasaanku, status sosialku menentukan kematianku? Mati itu pasti namun aku tidak akan berkuasa menentukan kapan dan bagaimana matiku, bahkan kalau bisa pun itu tidak wajar namanya. Kekuasaanku juga tidak akan kubawa saat aku mati.  

Segala sesuatu adalah kesia-siaan, jika itu hanya terobsesi pada harta dan kuasa. Segala sesuatu adalah sementara. Segala sesuatu adalah samsara jika itu hanya terobsesi pada pamer harta. Apakah ada adagium "aku ada karena aku pamer?" Tidak juga. Keterobsesian untuk pamer tidak lepas dari diri manusia yang serba berpunya dan jumawa. Kalau tidak punya harta ya pamernya adalah pamer kemampuan, skill, pamer omongan. Pamer itu hanya bermuara pada keakuan, keakuan untuk diakui, keakuan untuk dipuja-puji, keakuan untuk mencari-cari makna dalam kehampaan. Lantas, setelah yang dipamerkan itu diambil, maka terjadilah bencana, bencana bahwa dirinya tak bisa pamer, bencana bahwa dirinya tak berkuasa lagi, bencana bahwa dirinya tak berpengaruh lagi, bencana bahwa dirinya tak bisa "membantu" orang lain yang sebenarnya adalah pamrih. 

Penghujatan kaum "yang suka pamer" juga tak lepas dari kemajuan teknologi "pamer" dengan berbagai media sosial. Kepameran ini menjadi ideologi yang kemudian mirip dengan "borjuasi-kapitalisme" yang sebenarnya sudah ada lama. Manusia baru menamai setelah abad ke-19. Perang kaya vs miskin sudah lama. Bahkan perang itu sejak manusia ada. Bencana pamer makin menjadi karena orang suka mengurusi orang lain. Di satu sisi, yang kaya suka memamerkan hartanya dan di sisi lain mereka yang tersakiti rasa keadilannya (dan sekaligus ada juga yang iri tentu dan itu berkelindan tak kelihatan) protes pada kaum pamer borjuis kapitalis ini. Dunia digegerkan kemewahan dari pamer itu, bahkan karena anaknya yang berulah pun akhirnya kaum pamer-borju-kapitalis ini diobrak-abrik kehidupan keluarganya, dirong-rong harta dan kekuasaannya, dikuntit seluruh kehidupan pribadinya, dihakimi bahwa mereka adalah salah. 


Lalu, apakah sekarang puas menjadi kaum pamer-borjuis-kapitalis? Apakah puas jadi orang iri, proletar, kere yang suka mengurusi orang lain? Keduanya perlu dilihat secara proporsional dan kontekstual. Tidak bijak kalau kita hanya berpihak pada yang satu dan tidak melihat konteksnya. Prosporsi menilai dan menghakimi juga perlu dibuat. Aku pun benci pada mereka yang kaya dan pamer harta dan kuasa. Aku tidak suka pada kejumawaan mereka. Aku tidak suka pada kesombongan dan sok-sokan. Namun di sisi lain aku pun tidak suka pada mereka yang suka mengurusi orang lain terlalu over dan hanya dilandasi rasa benci dan kemarahan. Ketika berdiri pada satu sisi, kita tidak objektif. Ketidaksukaan pada orang kaya jumawa tidak membuatku terus membenci mereka yang kaya. Orang juga boleh-boleh saja kaya karena usaha atau memang sejak lama kaya. Orang tidak bisa menghakimi bahwa orang kaya semua itu jelek. Masih ada orang-orang kaya yang tidak pamer dan jumawa. Orang miskin juga tidak harus iri pada mereka yang kaya. Si miskin adalah si kaya karena hidup dan kerja kerasnya. Mereka yang iri pada yang kaya juga sebenarnya membawa ideologi bahwa semua harus sama semua harus rata. Mana ada? Itu hanya utopia bagi yang masih hidup di dunia, makan nasi, butuh duit, dan kerja. 

Sekali lagi, jadi kaya atau miskin, yang penting adalah jangan ada yang digenggam sehingga hidup ini menjadi samsara. Tak mudah mati ketika tua bukan karena punya ajimat atau kesaktian, namun karena orang masih menggenggam sesuatu yang membuat hidup tidak mudah menyerahkan diri, berserah bahwa hidup ini adalah sementara. Hidup yang merdeka adalah hidup yang tak menggenggam apapun. Bahkan ketika kita punya keinginan itu pun adalah samsara.   

Mari kita ingat semangat ini: "ia serupa dengan Allah, namun tak ingin merebut bagi dirinya kesamaan dengan Allah. Sebaliknya ia menghampakan diri dan menjadi serupa dengan seorang hamba, sama seperti manusia...dan setelah hidup sebagai manusia, ia merendahkan lagi dengan taat sampai mati, sampai mati disalib." Salib adalah palang hina, palang penghukuman bagi budak, budak yang sudah dianggap seperti barang atau binatang. Pertanyaanku adalah maukah aku menjadi budak, jongos, babu yang dianggap seperti binatang atau barang yang oleh tuannya boleh diapakan saja? Ini tidak mudah. 

Oleh karena itu, stop pamer-pamer entah itu yang kaya maupun yang miskin, sebab pamer akan membawa pada bencana yang tak kita kira. Bukan melarang orang jadi kaya dan bukan memprovokasi kaum proletar untuk mengganyang orang kaya, ini adalah kecenderungan godaan purba yang harus dilawan dari dalam diri sendiri: "tidak perlu menggenggam kekayaan, kuasa, dan dipamer-pamerkan namun kita perlu bijak menjadi pribadi bersahaja, ugahari. Aku tidak pamer dan tidak kaya pun tetap ada."



#palmsundayinmyroom#

Sunday, March 19, 2023

Wuta

"Wuta" atau buta adalah sebutan bagi mereka yang tidak bisa melihat atau ketiadaan kemampuan melihat akibat kerusakan mata. Kisah seorang yang buta sejak lahir sering kita dengarkan. Aku tidak akan mengupas itu secara alkitabiah atau teologis, namun aku hanya melihat itu sebagai peristiwa manusia yang narasinya cukup lekat dan dekat dengan kita. Kebutaan itu adalah sebuah siksaan. Buta biasanya sepaket dengan tuli namun tidak selalu. Kemungkinan besar, kalau ada kebutaan sejak lahir, orang itu juga tidak bisa mendengar. Buta itu ada dalam kegelapan. Apalagi ditambah tuli, serasa dunia adalah gelap dan sunyi walau hidup dalam kelompok masyarakat, tetap saja sunyi dan gelap itu sebuah dunia yang menyiksa. Tak heran bahwa orang mencari pembebasan dari kegelapan dan kesunyian yang mencekam.

Dalam kisah itu, orang buta sejak lahir menjadi seorang pengemis. Hal itu diketahui dari komentar-komentar banyak orang (yang secara naratif ada dalam budaya Yahudi) bahwa dia itu biasanya mengemis. Bisa dipahami bahwa kebutaan sejak lahir datang dari keluarga yang secara finansial juga miskin. Semenjak datangya Sang Penyembuh, orang yang buta sejak lahir itu akhirnya merasakan sebuah sentuhan rahmat yang datang dari mana dia tidak tahu. 

Kejadian itu membuat banyak orang berkomentar. Memang komentar itu semakin dipicu karena penyembuhannya di saat hari Sabat. Itu semakin memicu kemarahan banyak orang yang melihat hari Sabat sebagai yang sakral dan tidak boleh dipakai apa-apa. Aku sendiri tidak tahu jika ada kultur yang semacam itu bagaimana akan berkembang manusianya. Banyak larangan waktu dan tempat yang bisa saja itu menjadi penghambat manusia hidup.  

Dialog antar pribadi dalam narasi itu menarik. Sebagian besar masyarakat itu menilai aneh kesembuhan dan penyembuhan orang buta sejak lahir itu. Bahkan ketika si buta yang sembuh itu sudah bisa melihat namun tidak tahu ketika ditanyai banyak orang tentang siapa dan dari mana datangnya Penyembuh itu, dia dihakimi sebagai orang berdosa. Orang banyak masih menanyai orangtuanya untuk mengorek-ngorek peristiwa itu. Interogasi dalam proses investigasi itu cenderung memojokkan keluarga si buta yang disembuhkan itu. Orang banyak terlalu mengurusi hidup orang lain bahkan baik itu yang urusan pribadi sekalipun. Masalah ia percaya pada Penyembuh itu dan menyebutnya nabi itu adalah urusan pribadinya. Mengapa banyak orang yang taat adat itu menyebut dia berdosa?

Lantas dalam benakku aku mengingat peristiwa demi peristiwa yang juga kualami atau orang lain alami. Pertama, orang sekarang itu banyak mengurusi orang lain daripada dirinya sendiri. Baik bahwa itu terkait dengan hajat hidup orang lain. Bahwa yang diprotes itu praktik-praktik menyimpang dari pejabat-pejabat yang pamer ini dan itu, aku mendukungnya. 

Kedua, ini yang sedikit banyak tidak aku setujui yaitu bahwa banyak orang itu mudah menghakimi saudaranya daripada menghargai pilihan-pilihan pribadinya masing-masing. Seolah, semua harus sama dan sesuai dengan apa yang ia atau mereka buat. Pilihan pribadi seolah adalah tabu. Hidup menikah dan memilih tidak punya anak dihujat. Memilih hidup bersama dengan teman sejenis dihujat. 

Ketiga, cacat atau sakit atau keadaan yang tidak beruntung dilihat sebagai laknatullah atau terkena azab atau hukuman dari Tuhan. Orang lebih akan memilih hidup yang tidak cacat atau tercela atau sakit itu pasti, namun menganggap itu sebagai hukuman kiranya tidak pantas kita nilaikan pada orang lain atau hidup kita. 

Keempat, pertobatan atau perubahan dari yang buruk ke yang baik seolah harus segera dan cepat. Jika tidak sesuai dengan keinginannya, dia harus dibunuh (secara fisik maupun karakternya/character assasination). Ini akan semakin menjadi ketika netizen itu menghujat ramai-ramai pada kasus tertentu yang melibatkan pihak-pihak dari pejabat publik. Memang kelakuan pihak pejabat itu membuat kita marah dan ingin membunuhnya, namun kemudian kalau kita pikir lebih jauh apakah kita berhak membunuh atau menghilangkan nyawa sesama? "Siapa yang merasa tidak berdosa, silahkan melemparkan batu lebih dahulu pada orang ini!" 

Pemukulan pada Ade Armando yang brutal itu hal yang sama. Amuk massa biasanya terjadi karena kita hidup dan bersembunyi pada anonimitas, kawanan yang tak mau bertanggungjawab. Kalau ditantang sendiri-sendiri, pasti mereka tidak pada mau melakukan itu. Mereka pasti takut pada konsekuensi hukum. Butet menulis opini di Kompas bahwa kita saat ini memang hidup dalam situasi mengalami "Berkah Kesandhung". Berkat kesandungnya banyak pejabat publik entah dengan pembunuhan berencana (Sambo) atau penganiayaan anak pejabat pajak yang melukai orang lain (Kasus Mario Dandy) akhirnya membongkar kebobrokan praktik hidup (orangtuanya) yang tidak pantas dilakukan. Ada penyalahgunaan kekuasaan di sana, ada penyalahgunaan wewenang sampai bisa mengatur segala sesuatu dengan uang dan kekuasaan itu sangat dekat dengan kekuasaan. Siapa yang berduit dia juga pasti menguasai seseorang, wilayah, atau sebuah proyek tertentu. Dan tentu nanti akan banyak lagi "Berkah Kesandhung" lain yang akan menimpa banyak pejabat atau instansi lain. Saat ini kita tidak bisa bersembunyi karena hidup ini serasa di rumah kaca, siapapun bisa melihat dan menghakimi kita. 

Kritikan dan kekritisan itu perlu. Namun keterbukaan pada hal-hal lain pun juga perlu kita punyai. Jangan sampai hidup ini hanya patokan ukuran adalah diriku, adatku, kebiasaanku. Perubahan sekecil apapun dari manapun itu perlu kita lihat juga. Perubahan itu tidak datang tiba-tiba tetapi perlu proses. Kesalahan itu ada konsekuensinya, yaitu hukuman dan yang bersalah perlu berubah memperbaiki kelakuan salahnya. Tentu ini memakan waktu dan secara emosional pun tidak mudah. Orang yang bersalah pasti memiliki perasaan bersalah. Saat memperbaiki diri pun tidak mudah karena merasa diawasi dan kadang perasaan itu mencengkeram dan memenjarakan dia seumur hidup. Label "Orang Bersalah" itu akan berlaku baginya, keluarganya, lembaga di mana ia bekerja dan sebagainya. Tak heran bahwa lembaga tempat orang berslah akan cepat-cepat cuci tangan "mengeluarkan, memecat, menyingkirkan" mereka yang bersalah. Label stigma "ET" pernah diberikan pada saudara-saudara kita yang dituduh terlibat dan ikut bergabung atau simpati pada Partai Komunis Indonesia. "ET" atau Eks Tapol itu membuat mereka terbebani hidupnya sampai keturunannya pun dihakimi secara sistematik oleh masyarakat karena itu dibuat oleh kekuasaan politik waktu itu.

Kegelapan itu dibongkar dan ditelanjangi oleh terang. Benar bahwa kegelapan harus disinari dengan terang namun perkara menghakimi dan berceloteh seenak jidat kita, itu juga perlu lebih bijaksana sebagai manusia. Tidak semua perlu berisik mengomentari orang lain, apalagi menghakimi mereka yang salah. Siapa sih yang tidak pernah bersalah di dunia ini? Siapa sih yang tidak rapuh dalam hidupnya? Siapa sih yang hidupnya tak pernah mengalami jatuh? Dalam mengakhiri celotehanku ini aku hanya mau berterima kasih pada Dere yang mengidungkan lagu "Berisik" dan syairnya kupakai sebagai pengakhir tulisan ini. 


Oh, manusia berisik Bermulut satu dan bicaranya lantang Lidah tertutup gigi, tapi bagai terpampang Oh, manusia berisik Berakal budi, tapi terkadang lupa Kalau hidup di dunia hanya bertamu saja Bicaralah secukupnya Tak semua harus terucap Oh, manusia berisik Punya hati, tapi tak hati-hati Beralaskan logika, sering merasa benar Bicaralah secukupnya Tak semua harus terucap Aku manusia berisik Kutulis lagu ini bukan karena aku merasa paling benar Tapi karena kurasa kadang ku juga lupa tuk bicara secukupnya.



#noontimeinmyroom#