Thursday, December 28, 2023
Ketinggalan
Monday, November 27, 2023
Saat Kapal pun Bisa Karam
Tuesday, October 24, 2023
Terlalu (Tinggi) Berharap
Thursday, September 28, 2023
Wolak-Waliking Wektu
Sebuah lyric lagu berjudul "Satu-Satu" berkata demikian:
Mata pernah melihat
Telinga pernah mendengar
Badan pernah merasa
Terekam jelas seakan terjadi
Baru saja
Siapakah yang salah
Siapa yang tanggung jawab
Waktu terus berjalan
Terasa salah karena
Ada yang belum selesai oh no no
Aku sudah tak marah
Walau masih teringat
Semua yang terjadi kemarin
Jadikan aku yang hari ini
Aku sudah tak benci
Walau nyatanya merugi
Terdengar tidaknya kata maaf
Dada lapang terima semua
Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu
Hu......
Tak semua kan paham
Dan tak semua katakan
Maaf semua harus terjadi
Pasti rasa sepi
Kini kau tak sendiri lagi
Tak pendam lagi
Aku akan coba pahami
Aku sudah tak marah
Walau masih teringat
Semua yang terjadi kemarin
Jadikan ku yang hari ini
Aku sudah tak benci
Walau nyatanya merugi
Terdengar tidaknya kata maaf
Dada lapang terima semua
Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu
Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu
Akan ada masa depan
Bagi semua yang bertahan
Duniaku pernah hancur
Rangkai lagi satu satu
Rangkai lagi satu satu
Rangkai lagi satu satu
Menakutkan karena orang harus menuju pada sebuah luka masa lalu. Menakutkan karena peristiwa itu menyangkut nyawa sekian keluarga yang tercerai berai juga. Sama seperti ketika Bani Israel diasingkan dan dicerai-beraikan oleh Raja Babel zaman Darius maupun Xerxes di abad ke-5 sebelum Masehi. Dan tidak hanya itu, menakutkan karena peristiwa itu adalah bagian paling berdarah-darah dari negeri ini. Mungkin dari pembantaian itu peradaban itu dibangun. Aku belum melihat sebuah peradaban yang dibangun sejak awal adalah peradaban yang tenang dan damai. Peradaban adalah peradaban yang menakutkan, kejam, keji, penuh intrik dan peperangan. Menakutkan karena peristiwa itu telah memecah belah kehidupan pribadi, keluarga, komunitas, dan institusi sebuah negara ini.
Peristiwa itu berdarah. Berdarah karena memang dari belasan nyawa menjadi pembalasan ribuan jiwa (bahkan ada yang menghitung jutaan jiwa) yang mati oleh tangan saudaranya sendiri. Dan itu berlangsung sekian tahun, setidaknya satu dasa warsa dengan berbagai intensitasnya. Nyawa begitu murah. Dan karenanya, peristiwa itu adalah peristiwa berdarah. Seolah negeri ini dikuasai raksasa haus darah yang mewujud dalam diri penguasa.
Peristiwa itu tentu bermula dari sebuah aktor atau pelaku yang entah dari mana dan siapa. Sampai sekarang itu pun tidak terkuak jelas. Memang peristiwa itu tidak berasal dari satu sumber karena memang yang melatari bukan hanya sebab internal tetapi ada aktor-aktor eksternal bahkan global. Itu yang memang berkelindan di dalam peristiwa itu.
Aku hanya mau melihat demikian: awalnya pihak yang menjadi pelaku bisa menjadi korban. Dan sebaliknya korban bisa saja menjadi pelaku. Seperti debat mana dulu: ayam atau telor. Pihak-pihak yang semula menjadi pelaku diserang dan dibantai menjadi korban. Dalam hitungan cacah jiwa yang ratusan ribu jumlahnya itu sebenarnya bukan semua pelaku aktif langsung namun karena cap, stigma, stempel pada diri mereka maka dikorbankanlah mereka dan dianggaplah mereka sebagai musuh publik. Darahnya halal bagi semua yang mau membunuhnya. Yang awalnya disebut sebagai pelaku tidak lama menjadi korban kebiadaban peradaban terstruktur dalam sebuah negara. Bahkan perangkat negara yang tugasnya berperang pun bisa menjadi senjata pembunuh bagi rakyatnya sendiri.
Itulah yang kusebut sebagai wolak-waliking wektu. Waktu bisa membolak balik sesuatu menjadi yang berlawanan dari sebelumnya. Waktu memberi kita perspektif. Waktu adalah penguasa. Ia bisa saja menjadikan kita sebagai korban di awal namun di akhir membalik diriku sebagai pelaku karena balas dendam yang bengis, apalagi kalau aku diisi dan dikuasi oleh waktu dengan kemarahan yang tak padam. Orang marah adalah orang buta. Orang buta tak bisa melihat. Akibatnya, percuma orang buta diberi nasehat sebaik apapun. Kemarahan harus dihilangkan dahulu baru orang bisa diarahkan. Kebutaan perlu disembuhkan atau setidaknya diterima sehingga jiwa yang marah bisa lebih terarah.
Sekali lagi waktu memberi kita perspektif apakah seseorang menjadi pelaku atau korban. Apakah korban lalu belas dendam dengan keji? Apakah korban memang tetap menjadi korban selama-lamanya? Itulah yang kemudian patut dilihat lebih dalam, dan itu membutuhkan perspektif dari sang waktu. Tepat kata pelantun lagu di atas: "Siapakah yang salah? Siapa yang tanggung jawab? Waktu terus berjalan. Terasa salah karena ada yang belum selesai." Selesainya sebuah hal pun akhirnya tergantung waktu. Waktu memang berkuasa.
Tugas yang tidak mudah bagi siapapun adalah merangkai kembali satu-satu agar yang terpecah itu menyatu lagi. Memang sudah tidak marah namun masih teringat peristiwa itu. Setidaknya kata maaf itu yang perlu diwujudkan, walau menurut Sir Elton John itu kata-kata yang sangat berat (Sorry Seems To Be The Hardest Word, judul lagu juga). Masa depan akan ada bila kita memaafkan. Orang sampai pada sebuah keutuhan memaafkan juga butuh waktu. Maka sekali lagi waktu itu sangat berkuasa. Bertahan itu juga membutuhkan waktu. Bagi yang bertahan, di sana akan ada masa depan.
Semoga masa depan itu bisa terwujud. Semoga kita diberi rahmat kekuatan untuk menatap dan menapaki masa depan dengan mau bertahan, memaafkan, dan merangkai kembali satu-satu keterpecahan dalam hidup. Mari kita berekonsiliasi secara pribadi, komunal, dan institusional. Semua memang masih penuh harapan, namun bisa diwujudkan.
#eveningtime#
Friday, September 8, 2023
Glumprut
Ada pepatah Jawa, "aja cedhak-cedhak kebo gopak". Artinya, jangan dekat-dekat kerbau kotor. Memang menggunakan peribahasa saat ini dalam berbahasa sudah tidak lagi umum. Orang lebih suka berpantun daripada berperibahasa. Berpantun pun sudah sangat cair dan terbuka, sehingga hanya memperhatikan rima saja. Kadang berpantun pun dipaksakan yang penting dapat rimanya. Ketika memaknai peribahasa itu aku hanya mengingat dan merenung pada keadaan di mana kotoran, rasa jijik, merasa diri bersih, dan macam-macam. Semalam kita juga tengah berbicara soal kaum tani yang selalu akan mengalami ketersingkiran, kekalahan, ketertindasan karena sejak semula, tanah kotor itu yang jadi sumbernya. Petani adalah kaum kalah di bumi ini. Padahal hasilnya selalu dinikmati oleh semua orang. Kaum kulineran selalu akan memakan dan menikmati hasil kerja keras kaum tani ini, yang setiap harinya bergumul dan bergelimang dengan kotoran, tanah, dan segala macam yang menyuburkan kehidupan tanaman.
Beberapa waktu lalu bapakku mengeluh karena mau menggarapkan tanah sawah saja sudah tidak mudah mencari penggarap alias mereka yang mau mencangkul, menyiangi tanaman di sawah dan menggarap sampai panen. Di desa saja petani sudah jarang. Bahkan jumlahnya bisa dihitung. Itulah mengapa bapakku kesulitan mencari tenaga penggarap sawah atau ladang sekedar untuk menyiangi rumput atau mencangkul tanah sawah sehabis panen. Menjadi petani itu sesuatu yang dihindari oleh kalangan orang saat ini. Aku tidak hanya menyebut orang muda tetapi kalangan orang saat ini. Entah mengapa itu dihindari. Apakah karena menjadi petani itu sengsara? Apakah hasilnya tidak menjanjikan? Apakah karena kotor karena selalu bergumul dengan tanah dan kotoran? Atau ada alasan lain, sampai saat ini memang belum ada jawaban yang pasti.
Aku sendiri dari keluarga petani hanya sampai pada generasi kakek-nenek. Itu pun dari bapak. Dari keluarga ibu, petani sudah berhenti di generasi sebelumnya. Artinya, kesinambungan "profesi" petani di keluargaku juga sudah terputus. Anak dan cucu sudah beralih kiblat ke pilihan profesi lain yaitu guru atau pegawai non petani. Menjadi petani seolah sudah tidak lagi zamannya. Dan ketika merenung lebih jauh hal ini sebenarnya memprihatinkan. Profesi petani selalu akan dikalahkan dan disepelekan karena orang selalu akan menyebut profesi ini dengan kata "hanya" petani. Kami "hanya" dari keluarga petani. Kami ini "hanya" petani miskin, orang kecil, dan sebagainya. Nah, petani itu dimaknai sebagai minioritas. Ia adalah kaum kecil, miskin dan akhirnya tersingkir. Padahal tanpa petani, kita semua tak bisa menikmati kuliner yang sekarang apapun bisa laku. Makanan apapun bisa dijual. Bahan makanan itu semua dari petani. Jika tidak, kita bisa bertanya: "siapa penghasilnya?"
Memang jika kita melihat fenomena "hanya" petani atau ketersingkiran dan kekalahan petani sehingga profesi petani ini tidak menjadi favorit, itu akibat dari cara kita melihat dan berpikir sehingga mempengaruhi cara kita bertindak. Petani seolah tidak penting walau de facto mereka penting. Mengapa profesi ini selalu dicibir? Karena petani itu tidak sangat dibanggakan, petani sendiri tidak pernah diajak bangga dengan dirinya. Paradigma manusia saat ini meminggirkan mereka karena yang bergulat dengan tanah dan kotoran itu adalah mereka yang rendahan. Tanah itu memang di bawah. Yang di bawah itu kotor dan menjijikkan. Kotoran itu selalu dianggap harus disingkirkan dan dijauhi. Oleh karena itu, petani yang bergulat dengan tanah dan kotoran (pupuk) itu harus dijauhi dan tidak perlu dibahas. Hasil pertanian saja yang diperhatikan. Sebab, proses dan siapa pelakunya itu tidak penting. Kira-kira itu paradigma manusia saat ini yang anti petani, tanah, dan kotoran.
Sayangnya, petani dan hasil pertanian itu pantas dan layak dibanggakan. Tanah dan kotoran itu pantas dihargai karena tanah itu tempat bertumbuhnya tanaman untuk kehidupan. Tanah adalah tempat tumbuh. Kesuburan tanah itu karena ada kotoran yang jadi pupuk. Namun orang menyebut kotoran sebagai yang menjijikkan. Mereka menjauhi kotoran, sedangkan petani itu mendekati dan bergaul erat dengan kotoran. Maka dari itu, petani adalah sahabat kotoran dan tanah yang direndahkan. Petani modern pun harus bergulat dengan tanah dan kotoran. Semodern-modernnya petani dan pertanian, tanah selalu akan jadi fokusnya. Orang tak bisa mengelak atau menolak kotor(an).
Kembali ke ungkapan awal, mengapa orang menilai seseorang atau sesuatu dari bersih tidaknya dia? Bagiku, orang selalu mencari yang bersih. Yang bersih itu menyenangkan, tidak kotor itu segala-galanya. Padahal tidak menjamin yang bersih itu baik. Tidak semua dari kita adalah bersih. Atau bahkan kita semua itu tidak bersih. Kita semua itu rapuh, kita semua itu berdosa. Dosanya kecil atau besar itu tergantung yang menilai. Diri sendiri saja tidak bisa menentukan apakah dosaku kecil atau besar. Maunya berdosa kecil, tetapi ada orang lain menilai besar, maka kita tidak bisa menolak. Orang lebih mudah menilai kita adalah bersalah, kotor daripada menilai sesama itu bersih, baik. Itu adalah nalar survival, nalar bertahan hidup. Tidak mudah menerima mereka yang bersalah, jatuh, gagal, dan jelek. Lebih mudah menerima mereka yang cantik/ganteng, bersih, tidak bersalah, semua serba baik. Padahal pada dasarnya manusia itu kotor, lemah, rapuh, ada sisi keberdosaan. Tetapi sekali lagi idealisme manusia itu selalu akan menyematkan sosok di luar dirinya harus bersih, cemerlang, berprestasi, perfect dan itu adalah proyeksi dirinya yang lemah, cacat, rapuh, berdosa supaya ada sosok yang lebih baik daripada dirinya. Ketika sosok itu diketahui jatuh, gagal, berdosa karena setitik kesalahan saja, maka image kotor itu langsung disematkan pada dirinya. Dan seolah-olah tanpa pengampunan. Sekali jatuh tetap jatuh dan kotor. Itulah gambaran seperti malaikat yang jatuh dan jadi iblis.Manusia menilai orang lain jauh lebih mudah menghakimi dengan kekotoran, keberdosaan, kerapuhannya daripada melihat adanya pengampunan, kebertobatan, perbaikan, dan apresiasi yang membangun. Otak manusia jatuh dalam ekstrimitas satu ke yang lain. Orang yang mudah melihat saudaranya jahat, negatif akan mudah sekali menjadi pengkiritik daripada pemberi apresiasi. Di sisi lain, ekstrim satunya adalah orang yang mudah memberi apresiasi akan kesulitan memberi penilaian sisi negatif atau kekurangan orang lain sehingga menjadi naif.
Oleh karena itu, belajar dari kekurangan dan kotoran, aku belajar banyak untuk menilai orang itu lebih prosporsional. Aku sendiri bukan pribadi yang perfect. Nobody is perfect. Apakah Tuhan yang kita sebut sempurna itu ciptaannya juga sempurna? Ternyata juga tidak. CiptaanNya pun juga ada cacatnya. Namun dari kekurangannya itu kita bisa memaknai supaya kerahiman Sang Pencipta terungkap nyata. Orang menuntutnya semua sempurna tanpa cela, namun kadang orang ini kurang realistis bahwa kita semua itu tentu ada kekurangannya. Seorang idealis perfectionis bahkan akan menilai juga bahwa Tuhan itu tentu salah karena yang benar adalah hanya dirinya.
Semoga glumprut, belepotan, kotor, menjijikkan ini tidak menghalangi rahmat dari atas untuk melihat segala sesuatunya secara baru dalam Dia. Kita lupa bahwa kita diberi cara pandang dan bukan hanya alat pandang. Kita tidak hanya punya mata untuk melihat tetapi cara pandang yang kadang tak butuh mata. Kita bukan hanya bisa berdiri dengan kaki tetapi berdirinya manusia itu juga dengan cara berdiri yaitu pendirian.
Peribahasa "aja cedhak-cedhak kebo gopak" itu adalah peribahasa bagi mereka yang sok suci dan sok bersih padahal dirinya juga seperti kuburan yang bersih dari luar karena dilabur putih luarnya namun dalamnya juga isinya adalah bangkai. Kita semua adalah ciptaan yang punya kerapuhan, ada sisi kegagalan, jatuh tetapi percaya bahwa aku dicintai Tuhan. Oleh karenanya, aku masih hidup.
#morningtime#
Sunday, August 6, 2023
Koentji
Thursday, July 27, 2023
Cerita demi Cerita
Wednesday, June 21, 2023
Tak Semua Jalan bisa Dilalui dengan Cara yang Sama
Dari apa yang kujalani ini aku berpikir dan merenung sembari berjalan dan berlari. Kadang aku juga merasakan kaki ini harus terantuk batu, kadang kesleo ringan, kadang melalui jalan berbatu, kadang melalui jalur tanah berumput. Semua itu adalah bagian dari olah raga yang kujalani, latihan fisik dan tentu ini tak menyingkirkan latihan bermenung lebih dalam tentang hidup. Yang kutemukan kemudian adalah tak semua jalur bisa kulalui dengan cara dan kecepatan yang sama. Jalan berbatu tak mungkin dilewati dengan kecepatan berlari, maka harus berjalan supaya kaki tidak kesleo atau tersandung. Jalan tanah berumput bisa dilalui dengan kecepatan dan cara berlari karena kaki dapat menapak dengan lebih lancar, tidak bergelombang jalannya.
Kiranya refrain itu yang saat ini menggaung di angan dan kalbuku. Mengapa demikian? Tak bedanya dengan latihan fisik, latihan mental dan kerohanian kiranya juga sama. Tidak bisa hanya memaksa diri dengan cara yang sama, namun konteks kita hidup dan situasi kondisi di luar diri kita pun perlu diperhatikan. Kondisi jalan dan jalur yang kita lalui dalam hidup akan berpengaruh pada kecepatan dan cara kita bertindak. Bukan lantas itu menjadi tidak konsisten, namun semua langkah laku kita perlu kita sesuaikan dengan konteks kita berjalan, konteks kita hidup.
Orang yang sedang mengalami kesuksesan entah itu sifatnya material atau mental, tentu jalannya dengan kecepatan tinggi. Aura kebahagiaan, kebanggaan, keceriaan mewarnai energi hidup. Orang yang sedang terpuruk tentu tidak bisa berlari kencang, kecepatan 20 km/jam saja sudah cepat. Ketika jam 10.00 pagi melewati jalan tol Cikampek sampai menjelang JORR, jalan masih lancar. Belum banyak mobil yang melewati jalur itu. Namun ketika masuk JORR sekitar jam 12.00 siang dan di hari kerja maka jalur itu adalah jalur neraka, padat merayap. Orang harus tahu konteks di mana ia hidup, berjalan, bepergian dan lewat jalur mana agar meminimalisir kemacetan. Kiranya hal itu sama dengan hidup ini. Tak bisa kita akan melalui jalur yang sama untuk sebuah hal yang berbeda. Jalur yang sama akan berbeda kepadatan di jam yang berbeda. Jalan setapak pun punya karakteristik yang berbeda. Seperti di atas tadi, ada jalan berbatu dan ada jalan berumput. Ada kalanya naik, ada kalanya turun, ada kalanya landai, datar.
Ketika kita dalam masa yang konsolatif, semua terasa bahagia dan bersemangat, walau itu berat. Ketika desolasi melanda, maka hanya ada kegalauan, abu-abu, bahkan kelam. Jalan memang perlu kita lalui. Yang penting adalah bagaimana kita melaluinya. Tidak bisa kita memaksakan semua itu dengan apa yang kita lakukan atau dengan ukuran kita. Tak cukup menahan hujan supaya tidak membasahi lapangan hanya dengan menutup lapangan itu dengan terpal. Tentu perlu membuat resapan yang lebih baik agar lapangan itu cepat menyerap dan mengalirkan air dari lapangan.
Resiko memang perlu diperhitungkan. Jika kita hanya memaksakan cara dan kecepatan yang kita pakai saja, maka resiko kesleo atau terantuk batu akan terkena pada kita. Meminimalisir resiko itu justru yang harus kita ambil agak tubuh tetap terjaga dan kita tidak menyalahkan hal-hal di luar diri kita. Resiko tetap saja ada dalam hidup ini namun bagaimana mensiasati resiko yang merusak, itu lebih baik daripada kita menjalani hidup hanya dengan mata kuda. Itulah hidup. Tidak bisa hanya berpatokan pada diriku saja, tapi melihat konteks hidup juga penting. Itulah sebabnya tak semua jalan bisa dilalui dengan cara yang sama.
#noontime#
Friday, May 26, 2023
Toxic
Orang mengatakan relasi itu bisa saja menjadi toxic alias tidak sehat alias relasi beracun. Racun itu kalau masih ringan, ada obatnya. Namun kalau sudah berat, obatnya juga dosis tinggi atau malah kelewat berat ya tak ada obat. Itulah susahnya. Susah di sini artinya orang lain sudah merasa terbebani namun pihak satunya tidak merasa itu. Malah cenderung untuk mengekspose diri ke pihak-pihak lain. Ketika mengekspose diri ke pihak-pihak lain, tentu pihak lain itu juga bisa menilai aneh, "koq ini orang bertingkah aneh, kata-katanya aneh, permintaannya aneh-aneh?" Itulah yang menyebabkan relasi itu menjadi beracun bukan kepada kedua belah pihak namun sudah menyebar ke lingkaran yang lebih luar dari keduanya. Dan ketika sudah menyebar, racun itu sduah menjalar ke berbagai tempat. Aku memang sedang mencari cara bagaimana melawan racun itu.
Sebuah pekerjaan yang tidak menyenangkan melawan racun. Perlu mencari obat yang adalah racun pemusnah racun sebaliknya. Ada virus maka perlu anti-virus. Perkaranya adalah mencari anti-virus yang mujarab itu yang dibutuhkan. Tidak bisa serta merta melawan virus itu dengan anti-virus. Perlu kehati-hatian supaya malah tidak kontra produktif. Aku bisa saja mendengarkan atau melihat secara reaktif dari satu pihak, namun itu pasti akan membuat reaksi negatif atau resistensi dari yang lain. Aku sedang melihat dengan lebih prosporsional dan objektif setidak-tidaknya karena pola-polanya perlu dicermati dengan seksasma. Bagi yang terkena imbas kurang menyenangkan ini, aku pun juga perlu mengatakan bahwa perlu lebih tenang dan tidak reaktif. Memang mengalami orang yang tak sadar diri itu tidak mudah. Kita pun perlu memberi kesadaran pada yang meracuni itu sehingga terjadi proses penyembuhan kedua belah pihak. Jika sudah lebih possesif dan agresif, itu yang harus segera dipotong polanya. Itu yang memang membahayakan. Ada keterlukaan pada sisi pihak yang lebih lemah.
Aku hanya melihat di sini adanya ketimpangan power, kekuasaan, otoritas. Dan karena relasi timpang itu, maka ada kecenderungan yang satu terlukai, yang lain menjadi pemenang, penikmat, mendapat kepuasan. Nah, itulah abuse of power. Ada penyalahgunaan kekuasan dari yang lebih berkuasa kepada yang lebih lemah. Misalnya, mentang-mentang pimpinan, lalu memakai wewenangnya untuk mengerjain anak buahnya. Mentang-mentang karena pemuka umat, maka ia ingin diperlakukan khusus oleh karyawan, anak buah awam dan itu sering tidak sadar. Kalau sudah ada yang mengeluh, barulah itu muncul dan mencuat. Ada komplain dan laporan ke pihak yang lebih tinggi. Bahkah itu polanya halus, karena sering tidak eksplisit bahwa orang itu punya posisi kekuasaan namun karena jabatan atau status sosialnya walau tidak punya posisi di dalam komunitas, ia tetap saja berkuasa atas karyawan atau awam yang kemudian tidak berkutik ketika melihat sosok "tertahbis" atau "yang berkaul" atau "religius" dan sebagainya. Itulah mengapa abuse of power itu juga berarti spiritual abuse. Ada penyalahgunaan status kereligiusan pada pihak lain yang dikategorikan sebagai kurang atau bukan kalangan religius. Padahal dari sisi manusiawinya, kita sama-sama religius dan sama-sama punya badan wadag yang punya kerapuhan.
Oleh karena itu, pertama, menyadari akan kerapuhan kita itu penting. Menyadari bukan berhenti pada menyadari tetapi itu menjadi kesadaran yang memberi warning bagi perilaku kita. Kedua, berhati-hati dan waspada bahwa yang kulalukan, kuucapkan, kupikirkan juga ada kalanya melukai sesama. Emosi memang kadang muncul. Kalau emosi negatif terungkap pada sesama, itu menyerang dan melukai. Jika da luka, maka perlu rekonsiliasi. Ketiga, mengolah diri sampai mati itu adalah perlu. Mengolah diri itu sebenarnya gabungan antara yang pertama dan kedua, kemudian diintegrasikan dengan penghayatan nilai atau keutamaan yang terus-menerus dibangun dan diusahakan dari waktu ke waktu bahwa manusia itu punya derajat yang mampu memperbaiki diri, berdamai, dan mengobati dirinya dan sesamanya. Istilah keren-nya ada integrasi antara sikap sadar, kehati-hatian, dan pengolahan diri terus-menerus. Bahwa diriku lemah itu diakui, tidak diingkari, namun kelemahan bukan hal yang harus disimpan terus namun dipakai sebagai dasar membangun dan mengolah diri sehingga menjadi pribadi yang sehat, membantu komunitas menjadi sehat dan tidak menjadi batu sandungan bagi karya atau relasi kerja antar sesama.
Itu semua adalah pekerjaan rumah yang tak pernah selesai dari kita masing-masing. Oleh karena itu, antara kodrat dan rahmat selalu dibutuhkan kerjasama. Tidak ada rahmat yang efektif tanpa kodrat yang bekerja sama. Tidak ada kodrat yang menyempurnakan dirinya tanpa dibarengi rahmat dari Atas. Mungkin info grafis ini baik untuk sekedar info ringan namun membantu kita melihat diriku atau orang lain toxic atau tidak.
Wednesday, May 3, 2023
Sahaja
Berita akhir-akhir ini marak dengan penonaktivan beberapa pejabat karena mereka sering pamer harta. Kata "harta" dan "pamer" sering muncul di pemberitaan manapun. Orang seolah tidak kenal lagi bahwa hidup itu adalah sahaja, semenjana, prasaja. Seolah hidup ini digelontor harta atau bahasa Jawanya, "diuja karo bandha". Harta bukan sekedar tas bermerk, jam tangan bermerk, mobil bermerk, atau perabotan rumah mewah. Ada juga yang pamer bepergian ke sana ke mari baik di dalam negeri maupun luar negeri dengan foto-foto yang di-upload di media sosial. Ketika media sosial itu memang akun pribadi namun yang namanya "media" untuk "bersosialisasi" maka menjadi tersebarlah hal-hal yang sifatnya pribadi. Orang tidak sadar dan tidak bisa menyalahkan perangkat ini. Ketika sudah pamer kemewahan dan harta (yang entah dari mana), pasti banyak orang akan bisa menelusur hal-hal yang sifatnya privat ini. Karakter media sosial adalah membeberkan segala macam hal sehingga menjadi tersosialisasikan, tersiarkan, tersebarkan.
Ketika trend pola Mario yang menganiaya David dan akhirnya permasalahan ini berujung pada pemecatan ayah Mario dari Dirjen Pajak, maka pola-pola yang sama pun dipakai untuk "mengadili" para pejabat yang sering pamer kemewahan dan harta. "Anak polah, bapa kepradhah,"demikian orang Jawa mengatakan peribahasanya untuk segala hal yang menyangkut perilaku anak akhirnya terimbas pada orangtuanya. Benar bahwa akhirnya toh dari mana sih si anak dapat pamer atau bisa meniru? Tak lain ya adalah dari orangtuanya. Entah itu langsung atau tidak langsung, kemewahan dan harta itu dari orangtuanya. Akhirnya senjata yang dipunyai untuk bermewah-mewah atau pamer itu ditelisik orang lain untuk menunjuk "itu lho orangtuanya".
Kekejaman netizen menghakimi mereka yang pamer kemewahan dan harta ada baiknya. Baik bahwa itu mengurangi kecenderungan untuk pamer. Namun yang lebih penting lagi adalah bagaimana melatihkan hidup bersahaja, prasaja itu dari keluarga inti. Orangtua yang merasa berhasil, sering kali mengatakan bahwa mereka tak ingin anak cucunya sengsara seperti mereka di zaman perjuangan. Ideologi inilah yang kemudian menimbulkan banyak orang berlomba-lomba mengutamakan ketamakan daripada kesahajaan. Keberhasilan adalah tujuan hidup, bukan sarana lagi. Tujuanku adalah mendapat, menumpuk, menyikat harta dan segala macam kemewahan yang bisa kuraih supaya aku bisa pamer dan punya kekuasaan (power) untuk menyikat, mendapat hal-hal yang lebih banyak lagi. Dan itu adalah harta dan kemewahan.
"Sahaja" itu dekat dengan kata "sahaya" yang adalah hamba miskin atau budak atau jongos. Itulah yang menjadi kata "saia" atau "saya". Kita melupakan kesahayaan diri kita sehingga sahaja itu mahal harganya. Orang sering memakai kata "aku" yang cenderung egois, self-centris, dan cenderung childish. Apa-apa harus "aku". Kalau si aku ini tidak mendapat segala yang dimaui, maka ngambek, marah, mendendam. Kita ini adalah sahaya yang harus bersahaja. Mengapa demikian? Kesahajaan adalah benteng dari ketamakan yang merusak kehidupan. Perang adalah muara dari ketamakan, terlalu ingin menang sendiri, dan menguasai yang lain. Kesahajaan itu adalah ibu dari kehidupan agar yang lain juga kebagian hidup itu sendiri. Hidup itu ada ruang dan waktu dalam dimensi di dunia ini. Maka berbagi ruang dan waktu itulah yang terpenting dari kesahajaan dari seorang sahaya satu ke sahaya yang lain.
Solidaritas dan kepekaan akan sahaya ini jauh dari apa yang selayaknya kehidupan ini berlaku. Orang tidak lagi paham dengan solidaritas karena lebih membesarkan "aku"-nya daripada "sahaya"-nya. Kalau orang mengaku diri sebagai sahaya maka ia rela melayani, rela mengalah, rela berbagi. Kalau yang hidup hanya "aku"-nya, maka yang hidup juga ego-nya. Semua terpusat pada "aku" yang semu. Hidup ini tak lain dan tak bukan adalah berbagi dan solider dengan yang lain. Peka dengan situasi sering juga terkalahkan oleh kepentingan "aku" yang terlalu besar. Orang berorientasi pada harta dan kemewahan sehingga itulah yang memoles "aku" atau "ego". Harta dan kemewahan mengubah sahaya yang seharusnya bersahaja menjadi AKU dan EGO yang jauh lebih menutupi kehidupan ini. Selayaknya kita mengatakan bahwa aku adalah hamba sahaya yang tidak punya apa-apa. Hidup ini adalah peziarahan yang tak lama dan tak bawa apa-apa. Kesahayaan tentu menuntut kesahajaan. Jika setiap pribadi manusia adalah sahaya bagi yang lain maka hidup ini tak bakal kekuarangan, tak bakal ada kecemburuan, dan semua hidup dalam kecukupan. Cukup itu bukan menumpuk atau tamak. Orang mengatakan cukup mengandaikan hidupnya merasakan arti sebuah kesederhanaan.
Tentu tak ada lagi saling menjatuhkan karena tidak saling iri harta dan kemewahan seandainya sahaya itu saling menghargai satu dengan yang lain. Sahaya tidak mencurigai sahaya yang lain karena sebagai sahaya, kita adalah saling mengabdi satu dengan yang lain. Sahaya tidak posesif dengan harta dan kemewahan, apalagi pamer-pamer. Keluarga-keluarga perlu mendidik anak-anaknya untuk (1) tidak gila pada harta dan kemewahan. Teringat aku dengan seorang teman yang ketika bersama anaknya dia mengatakan: "Nanti kalau sudah besar carilah suami yang kaya biar hidupmu tidak susah." Dari kecil anak itu sudah dicekoki ideologi tentang kekayaan, bukan kecukupan; (2) mengatakan dan bisa menerima kata "cukup" dan bukan menjadikan diri yang tamak (greedy). Ketamakan adalah pangkal dari kejahatan di dunia ini. Ketamakan menghasilkan kurangnya barang yang dibutuhkan orang lain karena menumpuk di sebagian orang saja; (3) tidak alergi dengan perjuangan dan kerja keras. Hidup ini walau gratis toh dalam mengupayakan ketahanannya juga butuh usaha. Kerja keras itu masih perlu dilatihkan, tidak dihindari. Anak yang sering dimanja akan menjadi pribadi yang EGO-nya besar. Ukurannya hanya dia. Yang lain seolah numpang saja; (4) pembiasaan low profile dalam segala hal, tidak cari pujian, dan menonjolkan diri. Cari pujian dan menonjolkan diri adalah pangkal dari sikap pamer. Pamer saat ini adalah virus berbahaya yang bisa mencabut nyawa. Dengan mata dan jari kita, kita posting dan upload kepameran kita di medsos. Itulah awal dari runyamnya kehidupan. Sikap bijak dan hati-hati itu tetap penting.Sahaja itu tetap penting. Walau zaman ini seolah menyingkirkan kebersahajaan, kita tetap perlu memperjuangkan itu. Tanpa kesederhanaan, kita akan tidak cukup, dan kita cenderung melukai rasa keadilan dalam kehidupan ini. Maka marilah kita tetap berjuang hidup bersahaja, bersikap biasa walau kita diberi kelebihan, dan tidak menonjolkan diri. Sebisa mungkin kita saling berbagi dan mengabdi, karena itu adalah hal yang berat yang menjadi pergulatan manusia dari zaman ke zaman. Perjuangan itu banyak mendapatkan godaan atau tentangan dari si pamer, si jahat, si musuh abadi jiwa manusia.
#noontime#
Sunday, April 2, 2023
Pamer
Tulisanku ini kuawali dengan sebuah syair lagu ini:
Ada hal yang tak perlu digenggam Rindu yang tak perlu diratapi Luka yang tak perlu sekarang diobati Hanya sesekali tuk diziarahi Bersemayam di altar biru Tuk seluruh ratap dan sedu Samsara dukamu Bukan lagi sajak-sajak ku Pancaran merah muda yang layu Menuju berusia Memang penuh kesia-siaan Seperti segala Yang tak punya umpama Pasrah begitu terasa Saat kata mulai mengada Tentang arti kata lara, duka, sengsara Yang tak kau tau kekasihku Mengikhlas itu setingginya ilmu Meski saban waktu Kutimang jiwaku
(Samsara, Soegi Bornean)
Sunday, March 19, 2023
Wuta
Dalam kisah itu, orang buta sejak lahir menjadi seorang pengemis. Hal itu diketahui dari komentar-komentar banyak orang (yang secara naratif ada dalam budaya Yahudi) bahwa dia itu biasanya mengemis. Bisa dipahami bahwa kebutaan sejak lahir datang dari keluarga yang secara finansial juga miskin. Semenjak datangya Sang Penyembuh, orang yang buta sejak lahir itu akhirnya merasakan sebuah sentuhan rahmat yang datang dari mana dia tidak tahu.
Kejadian itu membuat banyak orang berkomentar. Memang komentar itu semakin dipicu karena penyembuhannya di saat hari Sabat. Itu semakin memicu kemarahan banyak orang yang melihat hari Sabat sebagai yang sakral dan tidak boleh dipakai apa-apa. Aku sendiri tidak tahu jika ada kultur yang semacam itu bagaimana akan berkembang manusianya. Banyak larangan waktu dan tempat yang bisa saja itu menjadi penghambat manusia hidup.
Dialog antar pribadi dalam narasi itu menarik. Sebagian besar masyarakat itu menilai aneh kesembuhan dan penyembuhan orang buta sejak lahir itu. Bahkan ketika si buta yang sembuh itu sudah bisa melihat namun tidak tahu ketika ditanyai banyak orang tentang siapa dan dari mana datangnya Penyembuh itu, dia dihakimi sebagai orang berdosa. Orang banyak masih menanyai orangtuanya untuk mengorek-ngorek peristiwa itu. Interogasi dalam proses investigasi itu cenderung memojokkan keluarga si buta yang disembuhkan itu. Orang banyak terlalu mengurusi hidup orang lain bahkan baik itu yang urusan pribadi sekalipun. Masalah ia percaya pada Penyembuh itu dan menyebutnya nabi itu adalah urusan pribadinya. Mengapa banyak orang yang taat adat itu menyebut dia berdosa?
Lantas dalam benakku aku mengingat peristiwa demi peristiwa yang juga kualami atau orang lain alami. Pertama, orang sekarang itu banyak mengurusi orang lain daripada dirinya sendiri. Baik bahwa itu terkait dengan hajat hidup orang lain. Bahwa yang diprotes itu praktik-praktik menyimpang dari pejabat-pejabat yang pamer ini dan itu, aku mendukungnya.
Kedua, ini yang sedikit banyak tidak aku setujui yaitu bahwa banyak orang itu mudah menghakimi saudaranya daripada menghargai pilihan-pilihan pribadinya masing-masing. Seolah, semua harus sama dan sesuai dengan apa yang ia atau mereka buat. Pilihan pribadi seolah adalah tabu. Hidup menikah dan memilih tidak punya anak dihujat. Memilih hidup bersama dengan teman sejenis dihujat.
Ketiga, cacat atau sakit atau keadaan yang tidak beruntung dilihat sebagai laknatullah atau terkena azab atau hukuman dari Tuhan. Orang lebih akan memilih hidup yang tidak cacat atau tercela atau sakit itu pasti, namun menganggap itu sebagai hukuman kiranya tidak pantas kita nilaikan pada orang lain atau hidup kita.
Keempat, pertobatan atau perubahan dari yang buruk ke yang baik seolah harus segera dan cepat. Jika tidak sesuai dengan keinginannya, dia harus dibunuh (secara fisik maupun karakternya/character assasination). Ini akan semakin menjadi ketika netizen itu menghujat ramai-ramai pada kasus tertentu yang melibatkan pihak-pihak dari pejabat publik. Memang kelakuan pihak pejabat itu membuat kita marah dan ingin membunuhnya, namun kemudian kalau kita pikir lebih jauh apakah kita berhak membunuh atau menghilangkan nyawa sesama? "Siapa yang merasa tidak berdosa, silahkan melemparkan batu lebih dahulu pada orang ini!"
Pemukulan pada Ade Armando yang brutal itu hal yang sama. Amuk massa biasanya terjadi karena kita hidup dan bersembunyi pada anonimitas, kawanan yang tak mau bertanggungjawab. Kalau ditantang sendiri-sendiri, pasti mereka tidak pada mau melakukan itu. Mereka pasti takut pada konsekuensi hukum. Butet menulis opini di Kompas bahwa kita saat ini memang hidup dalam situasi mengalami "Berkah Kesandhung". Berkat kesandungnya banyak pejabat publik entah dengan pembunuhan berencana (Sambo) atau penganiayaan anak pejabat pajak yang melukai orang lain (Kasus Mario Dandy) akhirnya membongkar kebobrokan praktik hidup (orangtuanya) yang tidak pantas dilakukan. Ada penyalahgunaan kekuasaan di sana, ada penyalahgunaan wewenang sampai bisa mengatur segala sesuatu dengan uang dan kekuasaan itu sangat dekat dengan kekuasaan. Siapa yang berduit dia juga pasti menguasai seseorang, wilayah, atau sebuah proyek tertentu. Dan tentu nanti akan banyak lagi "Berkah Kesandhung" lain yang akan menimpa banyak pejabat atau instansi lain. Saat ini kita tidak bisa bersembunyi karena hidup ini serasa di rumah kaca, siapapun bisa melihat dan menghakimi kita.
Kritikan dan kekritisan itu perlu. Namun keterbukaan pada hal-hal lain pun juga perlu kita punyai. Jangan sampai hidup ini hanya patokan ukuran adalah diriku, adatku, kebiasaanku. Perubahan sekecil apapun dari manapun itu perlu kita lihat juga. Perubahan itu tidak datang tiba-tiba tetapi perlu proses. Kesalahan itu ada konsekuensinya, yaitu hukuman dan yang bersalah perlu berubah memperbaiki kelakuan salahnya. Tentu ini memakan waktu dan secara emosional pun tidak mudah. Orang yang bersalah pasti memiliki perasaan bersalah. Saat memperbaiki diri pun tidak mudah karena merasa diawasi dan kadang perasaan itu mencengkeram dan memenjarakan dia seumur hidup. Label "Orang Bersalah" itu akan berlaku baginya, keluarganya, lembaga di mana ia bekerja dan sebagainya. Tak heran bahwa lembaga tempat orang berslah akan cepat-cepat cuci tangan "mengeluarkan, memecat, menyingkirkan" mereka yang bersalah. Label stigma "ET" pernah diberikan pada saudara-saudara kita yang dituduh terlibat dan ikut bergabung atau simpati pada Partai Komunis Indonesia. "ET" atau Eks Tapol itu membuat mereka terbebani hidupnya sampai keturunannya pun dihakimi secara sistematik oleh masyarakat karena itu dibuat oleh kekuasaan politik waktu itu.
Kegelapan itu dibongkar dan ditelanjangi oleh terang. Benar bahwa kegelapan harus disinari dengan terang namun perkara menghakimi dan berceloteh seenak jidat kita, itu juga perlu lebih bijaksana sebagai manusia. Tidak semua perlu berisik mengomentari orang lain, apalagi menghakimi mereka yang salah. Siapa sih yang tidak pernah bersalah di dunia ini? Siapa sih yang tidak rapuh dalam hidupnya? Siapa sih yang hidupnya tak pernah mengalami jatuh? Dalam mengakhiri celotehanku ini aku hanya mau berterima kasih pada Dere yang mengidungkan lagu "Berisik" dan syairnya kupakai sebagai pengakhir tulisan ini.
Oh, manusia berisik Bermulut satu dan bicaranya lantang Lidah tertutup gigi, tapi bagai terpampang Oh, manusia berisik Berakal budi, tapi terkadang lupa Kalau hidup di dunia hanya bertamu saja Bicaralah secukupnya Tak semua harus terucap Oh, manusia berisik Punya hati, tapi tak hati-hati Beralaskan logika, sering merasa benar Bicaralah secukupnya Tak semua harus terucap Aku manusia berisik Kutulis lagu ini bukan karena aku merasa paling benar Tapi karena kurasa kadang ku juga lupa tuk bicara secukupnya.
#noontimeinmyroom#












