Sunday, March 19, 2023

Wuta

"Wuta" atau buta adalah sebutan bagi mereka yang tidak bisa melihat atau ketiadaan kemampuan melihat akibat kerusakan mata. Kisah seorang yang buta sejak lahir sering kita dengarkan. Aku tidak akan mengupas itu secara alkitabiah atau teologis, namun aku hanya melihat itu sebagai peristiwa manusia yang narasinya cukup lekat dan dekat dengan kita. Kebutaan itu adalah sebuah siksaan. Buta biasanya sepaket dengan tuli namun tidak selalu. Kemungkinan besar, kalau ada kebutaan sejak lahir, orang itu juga tidak bisa mendengar. Buta itu ada dalam kegelapan. Apalagi ditambah tuli, serasa dunia adalah gelap dan sunyi walau hidup dalam kelompok masyarakat, tetap saja sunyi dan gelap itu sebuah dunia yang menyiksa. Tak heran bahwa orang mencari pembebasan dari kegelapan dan kesunyian yang mencekam.

Dalam kisah itu, orang buta sejak lahir menjadi seorang pengemis. Hal itu diketahui dari komentar-komentar banyak orang (yang secara naratif ada dalam budaya Yahudi) bahwa dia itu biasanya mengemis. Bisa dipahami bahwa kebutaan sejak lahir datang dari keluarga yang secara finansial juga miskin. Semenjak datangya Sang Penyembuh, orang yang buta sejak lahir itu akhirnya merasakan sebuah sentuhan rahmat yang datang dari mana dia tidak tahu. 

Kejadian itu membuat banyak orang berkomentar. Memang komentar itu semakin dipicu karena penyembuhannya di saat hari Sabat. Itu semakin memicu kemarahan banyak orang yang melihat hari Sabat sebagai yang sakral dan tidak boleh dipakai apa-apa. Aku sendiri tidak tahu jika ada kultur yang semacam itu bagaimana akan berkembang manusianya. Banyak larangan waktu dan tempat yang bisa saja itu menjadi penghambat manusia hidup.  

Dialog antar pribadi dalam narasi itu menarik. Sebagian besar masyarakat itu menilai aneh kesembuhan dan penyembuhan orang buta sejak lahir itu. Bahkan ketika si buta yang sembuh itu sudah bisa melihat namun tidak tahu ketika ditanyai banyak orang tentang siapa dan dari mana datangnya Penyembuh itu, dia dihakimi sebagai orang berdosa. Orang banyak masih menanyai orangtuanya untuk mengorek-ngorek peristiwa itu. Interogasi dalam proses investigasi itu cenderung memojokkan keluarga si buta yang disembuhkan itu. Orang banyak terlalu mengurusi hidup orang lain bahkan baik itu yang urusan pribadi sekalipun. Masalah ia percaya pada Penyembuh itu dan menyebutnya nabi itu adalah urusan pribadinya. Mengapa banyak orang yang taat adat itu menyebut dia berdosa?

Lantas dalam benakku aku mengingat peristiwa demi peristiwa yang juga kualami atau orang lain alami. Pertama, orang sekarang itu banyak mengurusi orang lain daripada dirinya sendiri. Baik bahwa itu terkait dengan hajat hidup orang lain. Bahwa yang diprotes itu praktik-praktik menyimpang dari pejabat-pejabat yang pamer ini dan itu, aku mendukungnya. 

Kedua, ini yang sedikit banyak tidak aku setujui yaitu bahwa banyak orang itu mudah menghakimi saudaranya daripada menghargai pilihan-pilihan pribadinya masing-masing. Seolah, semua harus sama dan sesuai dengan apa yang ia atau mereka buat. Pilihan pribadi seolah adalah tabu. Hidup menikah dan memilih tidak punya anak dihujat. Memilih hidup bersama dengan teman sejenis dihujat. 

Ketiga, cacat atau sakit atau keadaan yang tidak beruntung dilihat sebagai laknatullah atau terkena azab atau hukuman dari Tuhan. Orang lebih akan memilih hidup yang tidak cacat atau tercela atau sakit itu pasti, namun menganggap itu sebagai hukuman kiranya tidak pantas kita nilaikan pada orang lain atau hidup kita. 

Keempat, pertobatan atau perubahan dari yang buruk ke yang baik seolah harus segera dan cepat. Jika tidak sesuai dengan keinginannya, dia harus dibunuh (secara fisik maupun karakternya/character assasination). Ini akan semakin menjadi ketika netizen itu menghujat ramai-ramai pada kasus tertentu yang melibatkan pihak-pihak dari pejabat publik. Memang kelakuan pihak pejabat itu membuat kita marah dan ingin membunuhnya, namun kemudian kalau kita pikir lebih jauh apakah kita berhak membunuh atau menghilangkan nyawa sesama? "Siapa yang merasa tidak berdosa, silahkan melemparkan batu lebih dahulu pada orang ini!" 

Pemukulan pada Ade Armando yang brutal itu hal yang sama. Amuk massa biasanya terjadi karena kita hidup dan bersembunyi pada anonimitas, kawanan yang tak mau bertanggungjawab. Kalau ditantang sendiri-sendiri, pasti mereka tidak pada mau melakukan itu. Mereka pasti takut pada konsekuensi hukum. Butet menulis opini di Kompas bahwa kita saat ini memang hidup dalam situasi mengalami "Berkah Kesandhung". Berkat kesandungnya banyak pejabat publik entah dengan pembunuhan berencana (Sambo) atau penganiayaan anak pejabat pajak yang melukai orang lain (Kasus Mario Dandy) akhirnya membongkar kebobrokan praktik hidup (orangtuanya) yang tidak pantas dilakukan. Ada penyalahgunaan kekuasaan di sana, ada penyalahgunaan wewenang sampai bisa mengatur segala sesuatu dengan uang dan kekuasaan itu sangat dekat dengan kekuasaan. Siapa yang berduit dia juga pasti menguasai seseorang, wilayah, atau sebuah proyek tertentu. Dan tentu nanti akan banyak lagi "Berkah Kesandhung" lain yang akan menimpa banyak pejabat atau instansi lain. Saat ini kita tidak bisa bersembunyi karena hidup ini serasa di rumah kaca, siapapun bisa melihat dan menghakimi kita. 

Kritikan dan kekritisan itu perlu. Namun keterbukaan pada hal-hal lain pun juga perlu kita punyai. Jangan sampai hidup ini hanya patokan ukuran adalah diriku, adatku, kebiasaanku. Perubahan sekecil apapun dari manapun itu perlu kita lihat juga. Perubahan itu tidak datang tiba-tiba tetapi perlu proses. Kesalahan itu ada konsekuensinya, yaitu hukuman dan yang bersalah perlu berubah memperbaiki kelakuan salahnya. Tentu ini memakan waktu dan secara emosional pun tidak mudah. Orang yang bersalah pasti memiliki perasaan bersalah. Saat memperbaiki diri pun tidak mudah karena merasa diawasi dan kadang perasaan itu mencengkeram dan memenjarakan dia seumur hidup. Label "Orang Bersalah" itu akan berlaku baginya, keluarganya, lembaga di mana ia bekerja dan sebagainya. Tak heran bahwa lembaga tempat orang berslah akan cepat-cepat cuci tangan "mengeluarkan, memecat, menyingkirkan" mereka yang bersalah. Label stigma "ET" pernah diberikan pada saudara-saudara kita yang dituduh terlibat dan ikut bergabung atau simpati pada Partai Komunis Indonesia. "ET" atau Eks Tapol itu membuat mereka terbebani hidupnya sampai keturunannya pun dihakimi secara sistematik oleh masyarakat karena itu dibuat oleh kekuasaan politik waktu itu.

Kegelapan itu dibongkar dan ditelanjangi oleh terang. Benar bahwa kegelapan harus disinari dengan terang namun perkara menghakimi dan berceloteh seenak jidat kita, itu juga perlu lebih bijaksana sebagai manusia. Tidak semua perlu berisik mengomentari orang lain, apalagi menghakimi mereka yang salah. Siapa sih yang tidak pernah bersalah di dunia ini? Siapa sih yang tidak rapuh dalam hidupnya? Siapa sih yang hidupnya tak pernah mengalami jatuh? Dalam mengakhiri celotehanku ini aku hanya mau berterima kasih pada Dere yang mengidungkan lagu "Berisik" dan syairnya kupakai sebagai pengakhir tulisan ini. 


Oh, manusia berisik Bermulut satu dan bicaranya lantang Lidah tertutup gigi, tapi bagai terpampang Oh, manusia berisik Berakal budi, tapi terkadang lupa Kalau hidup di dunia hanya bertamu saja Bicaralah secukupnya Tak semua harus terucap Oh, manusia berisik Punya hati, tapi tak hati-hati Beralaskan logika, sering merasa benar Bicaralah secukupnya Tak semua harus terucap Aku manusia berisik Kutulis lagu ini bukan karena aku merasa paling benar Tapi karena kurasa kadang ku juga lupa tuk bicara secukupnya.



#noontimeinmyroom#

No comments:

Post a Comment