Wednesday, February 26, 2014

Jesuit Encounters An Angel

Sebuah pemandangan patung di Ateneo de Cebu menarik perhatianku sore itu. Tepatnya 1 Februari yang lalu. Pertama kali aku mendarat di sana dan pertama kali aku tinggal di komunitas Jesuit di sekolah itu. Apa yang menarik? Kukira pertama kali adalah patung St Ignatius Loyola. Ternyata bukan.  Patung itu berada di antara jalan di bagian TK dan SD, di sebuah pertigaan tepatnya jika orang Indonesia menyebutnya.

Yang menarik bagiku adalah bahwa patung itu patung bergaya ekspesionis (entah benar atau tidak aku menyebutnya, tetapi demikian menurutku). Seorang yang berjubah, tangannya terlipat sambil membawa rosario di jari-jari tangan kirinya dan tangan kanan menahan dagu seperti orang berpikir dan memperhatikan. Yah, yang diperhatikan adalah anak kecil di hadapannya. Anak kecil itu menatap ke atas ("ndangak", kata orang Jawa). Keduanya saling bercakap. Itu ekspresi patung yang menarik perhatianku. Pertanyaanku kemudian: "mengapa patung orang yang tinggi, berjubah, memegang rosario itu, kepalanya tidak utuh dan tengkoraknya terbuka?" Sebuah perjumpaan yang membuahkan perubahan.

Ini yang kemudian terjawab oleh perjumpaan kami pada hari Sabtu sore, tanggal 22 Februari. Ketika kami datang dari kota, karena sekolah itu terletak di wilayah lain yaitu Mandaue City, ada sekumpulan orang di sekitar patung itu. Nampak juga di situ dua orang Jesuit. Yang satu muda yang satu uzur. Dan kami akhirnya menghampiri kumpulan orang itu. Ternyata kumpulan itu adalah para alumni sekolah itu yang sedang hadir untuk pertunjukan malam itu yaitu konser drama musikal, Gen Rosso, sebuah kelompok yang mirip Broadway. Lalu dalam perjumpaan itu, kami diperkenalkan ini dan itu lalu syukur bahwa salah satu obrolan kami adalah tentang patung itu karena dalam kumpulan itu ada pembuatnya, sang artisnya, yaitu Raymund L Fernandez. Dia termasuk angkatan 1972 yang memprakarsai pembuatan patung itu.

Raymund L Fernandez
Dalam sebuah kesempatan memaparkan mengapa patung itu dibuat dan apa yang di balik bentuk patung itu sehingga demikian, Raymund menjelaskan demikian: "Kami sangat bangga bahwa kami dididik di sekolah ini. Kami berjumpa dengan banyak teman. Kami berjumpa pula dengan para Jesuit saat kami bermain bola dan beraktivitas yang lain. open minded. Itulah gambaran saya ketika membuat patung ini. Aslinya terbuat dari tanah liat tetapi yang di sini saya design dengan logam."
Dan yang menarik dari perjumpaan itu adalah bahwa kami diberi wawasan luas. Pendidikan yang kami terima bukan saja pendidikan akademis belaka tetapi pendidikan yang membantu kami terbuka wawasan kami, menghargai kehidupan dan menghargai perbedaan karena kita hidup dalam perbedaan itu sendiri. Mengapa patung seorang Jesuit ini (dia menyebut demikian) kepalanya tidak utuh dan terbuka? Bagi saya, ini mengungkapkan bahwa para Jesuit adalah pribadi yang merdeka, yang memberikan pendidikan untuk terbuka dengan segala hal, selalu berpikir.

Menarik apa yang dikatakan Raymund, "pendidikan bukan sekedar pendidikan akademik tetapi bagaimana kami diajari untuk menghargai kehidupan yang berbeda dan sekaligus menghargai perbedaan itu dengan wawasan yang terbuka." Ungkapan yang dituangkan dengan patung seorang Jesuit dengan kepala terbuka, seolah tak selesai, merupakan kekhasan pendidikan para Jesuit di sekolah-sekolah yang dirintis. Wawasan yang terbuka membuat orang memahami dirinya dan dunia (termasuk manusia di dalamnya). Itulah warisan utama yang diberikan St Ignatius Loyola lewat Latihan Rohani dan Serikat Yesus. Ayudar las almas, membantu jiwa-jiwa, adalah tujuan manusia diciptakan dengan memuji, mengabdi dan memuliakan Allah (LR 23).

Syukurlah bahwa ada alumni yang mengalami sentuhan pendidikan para Jesuit seperti itu. Syukurlah bahwa setelah sekian lama karya itu berjalan, buah-buahnya kelihatan. Dan ungkapan alumni yang sedemikian itu kiranya membanggakan. Membanggakan karena sebuah jerih lelah telah menuai hasilnya. Membaggakan karena karya pendidikan selalu akan tidak sekali jadi. Membanggakan karena apresiasi itu sangatlah bernilai harganya dengan karya seni yang sarat simbol dan makna karena di situlah kekhasan manusia.

Malam itu kami menyaksikan pertunjukan Gen Rosso, dengan judul "Streetlight" yang merefleksikan relasi manusia dalam kehidupannya yang sarat suka dan duka, jalan kehidupan yang mengungkapkan ada permusuhan dan cinta, bahkan tokoh utamanya mati ditembak para genster karena ingin mengajak komunitasnya ke arah kehidupan yang lebih baik tetapi tak desetujui. Lalu ia ditembak kawanan gengster di komunitasnya. Ketika ada niat baik dan mencintai justru lawannya adalah kegelapan dan kekerasan. Salah satu ide Ignatius Loyola dalam mendidik kaum muda adalah iman yang mencintai dunia, supaya semakin membawa dunia kepada Allah, dan tidak jatuh ke dalam neraka. Itulah yang kemudian aku untai dalam renungan pribadiku hari itu. Tertarik dengan patung "Jesuit meets the angel" lalu berjumpa dengan senimannya, dan kemudian dirangkum dalam "Streetlight". Ungkapan terkenal yang ditulis Pedro de Ribadeneira kepada Raja Philip II tertanggal 14 Februari 1556 adalah "institutio puerorum reformatio mundi." Jika ingin mengubah dunia, didiklah orang-orang muda dengan baik dan layak. AMDG.



From the statue "Jesuit encounters an Angel" in Ateneo de Cebu, I was interested in the style, gesture, the expressionism style. Why did the Jesuit statue in "open head" like unfinished form? After encountering with the artist, Raymund L Fernandez, he told me that the meaning of the statue were we met Jesuit who educated us in 1972. The Jesuit always gives us open minded education to face the world, to appreciate the diversity, to appreciate the world of human kind. They, the Jesuits, helped us to be holistic. "All the whole world depends on the proper education of youth." (Pedro de Rebadeneira, 1556)



#LHS, Februari 2014#

Saturday, February 22, 2014

Yang Dibuang

Pagi itu, empat hari lalu aku mendapat kabar dari seorang perawat dan suster di Rumah Sakit. Telah ditemukan seorang bayi yang dibuang dekat tempat sampah di sebelah rumah seseorang. Seorang bayi perempuan. Ditemukan oleh seorang pekerja bangunan, katanya dibungkus dalam kantong plastik. Lalu dipalorkan dan diberikan bayi itu kepada Rumah Sakit untuk dirawat karena khawatir jika bayi itu terkena apa-apa dan perlu pengobatan. Tak lama kemudian, tuan rumah di mana bayi itu ditemukan, mengutus pembantunya untuk melihat dia. Dia punya niat mengadopsi bayi terbuang itu.


Pagi itu juga, si bayi mungil itu dibaptis dengan nama Maria Bernadette. Aku menjenguknya di ruang perawatan. Tubuh bayi mungil dalam ranjang kecil dengan selang di hidungnya yang membantu dia bernafas normal. Aku hanya dapat berdoa dalam hati, "Semoga kamu sehat-sehat saja, Maria." Aku tertegun bersama pembantu yang hadir di Ruang itu. Aku ikut bersyukur bahwa masih ada orang yang berniat baik dan berbelarasa untuk jiwa yang tak bersalah ini.

Bagiku ada ironi yang terpikir olehku. Pertama, masih banyak orang yang menyia-nyiakan nyawa tak berdosa sedangkan masih banyak orang atau keluarga yang sangat mendambakan lahirnya anak di tengah-tengah keluarga yang mereka bangun. Bahkan sampai lama menunggu dan ada yang baru diberikan setelah hampir sepuluh tahun berkeluarga. Kedua, ada orang yang bijak dan berhati tulus merawat nyawa yang terbuang di tengah-tengah sekian banyak orang yang menyia-nyiakan hidup, anugerah ini. Aku lantas ingat sebuah kisah penyia-nyiaan ketika Anak Manusia tak mendapat tempat untuk dilahirkan di bumi. Semua rumah penuh. Semua mengatakan, "Maaf rumah kami penuh." Yang lain, "Tidak ada ruang di rumah kami. Silakan cari tempat lain." Sang ayah yang menuntun keledai dan ibu muda yang mau melahirkan tengah meregang itu, pontang-panting mencari sekedar tempat tenang untuk melahirkan. Hanya seorang yang akhirnya melihat jerih lelah kedua orang ini yang terpaksa memberikan ruangnya yang bercampur dengan kandang hewan. Tetapi tak mengapa. Masih ada RUANG untuk melahirkan.

Ruang, tak hanya sebatas ruang fisik. Ruang, bagiku adalah sebuah niat baik membantu sesama yang berkesusahan. Ruang dimana hati mau diisi oleh yang lain. Ruang, dimana hidup tak dibuang dan disia-siakan. Ruang, tak memberi kemerdekaan untuk hidup di tengah kemerdekaan yang lain. Maria Bernadette lahir dan memberiku sebuah renungan ini. Dia yang terbuang, bukanlah sebuah masalah. Dia adalah anugerah dan sekaligus tanggungjawab. Bagi orang tua yang telah membuang dia, aku hanya berdoa, "Semoga kalian tetap sadar dan bertanggung jawab atas hidup kalian." Suatu saat Maria Bernadette akan mengingatkan orangtua yang melahirkan dia kerinduan untuk memeluk kehidupan dan merawatnya. Apapun alasannya. Entah itu malu karena lahirnya seorang bayi (yang tak diinginkan). Entah karena tidak punya biaya untuk menghidupi bayi itu, atau alasan lain. Semua alasan kiranya dapat dimuat di sini tetapi cara mengambil keputusan dengan membuang tidaklah tepat. Kehidupan harus dirawat.

Maria Bernadette seolah memberiku pengalaman Natal kembali. Natal bukanlah sebuah perayaan gegap gempita saja namun sebuah peristiwa batin yang sejak semula mengajakku ke perjalanan salib dari sejak lahir sampai mati. Salib sejak Betlehem sampai Golgota.


*Maria Bernadette,the newborn baby girl, who was thrown away by her parent, found by a worker and gave  her to hospital. A family adopted her and she make me reflect on how to respect, administer and manage life as far as possible. Our life is a ROOM, a SPACE that should be cared for. That's why we also need to notice it properly.



#Saturday afternoon in Cebu

Saturday, February 8, 2014

Xyrus

Nama itu kutemui di sebuah Rumah Sakit. Pertama kali aku kira dia seorang anak laki-laki. Tetapi perawat yang ada di kantornya mengatakan, "Dia perempuan." Aku dan seorang suster yang mengantarku menjenguk dia. Saat itu masih pagi. Aku baru saja datang ke rumah sakit dan seorang dokter datang untuk mencari suster yang bertugas di pastoral care. Lalu kami bertiga berjalan ke ruangannya. Aku diberi masker karena masuk dalam ruangan itu memang harus memakai alat itu.


Ketika pintu terbuka, kutemukan sosok tubuh lemah, duduk di kursi dan tak lagi dapat tertidur di tempat tidurnya. Hatiku sontak hanya bisa mengatakan, "Wah…". Dalam hati kukasihan. Dalam hati kuberpikir dan merasa memang berat penyakitnya. Sejak di luar tadi dokter dan perawat memang sudah memberi informasi keadaannya hanya "menunggu". Sejak Desember 2013 lalu ia sakit leukimianya menjadi akut. Umurnya baru 10 tahun. Orangtuanya cerai. Ia hidup dengan ibu dan neneknya. Neneknya yang menjagainya di Rumah Sakit. Ibunya kerja sebagai guru di sekolah yang untuk anak-anak Korea di kotanya.


Aku, suster, dan seorang perawat sudah menyiapkan alat-alat untuk perminyakan sesuai yang diminta perawat dan keluarganya. Lalu kumulai berdoa bersama sesuai tata cara perminyakan Katolik Roma. Dalam hati, aku masih terus bertanya-tanya: sakit seperti apa yang ia rasakan? Namun aku terus membaca dan melanjutkan tahap demi tahap doa itu. Neneknya terus menangis. Kami dalam suasana yang tak bisa berkata-kata juga. Setiap kali perminyakan, selalu hati ini miris dan berduka bersama keluarga, mencoba membantu si sakit dari penderitaannya, dengan doa dan menerimakan rahmat Tuhan lewat sakramenNya. Bibirnya sudah kering dan ada bekas darah karena pembuluh darahnya pecah. Dia masih dapat mendengarku saat kami datang dan berdoa. Hanya suara rintihan yang terdengar dari mulutnya, itu pun lirih.

Setelah perminyakan itu, aku menyempatkan diri menghibur neneknya yang terus menangis. Aku juga menyentuh lengannya untuk beberapa saat menguatkan dia. "Sabar ya Nek. Dampingi dia terus." Itu yang bisa kuucapkan dari mulutku. Hari berikutnya aku masih sempat menjenguknya. Cuma hari kemarin aku tidak dapat karena banyak waktu untuk menerimakan komuni, mendengar pengakuan, dan mengunjungi pasien yang lain.

Hari ini, ya aku berniat dalam agendaku menjenguknya. Namun apa dikata, ketika aku bertanya ke perawat, "Bagaimana Xyrus?", perawat menjawab, "Oh, dia sudah tiada pagi ini jam 4 pagi." Hatiku tertegun, kaget tetapi juga mendoakan: "Tuhan memberimu yang terbaik, memberimu pembebasan dari rasa sakitmu." Lalu aku berterima kasih ke perawat itu atas informasinya dan aku duduk termenung di kantor sementara lalu mengendapkan apa yang baru saja kudengar.

Xyrus. Nama itu yang beberapa hari lalu kukenal sekarang sudah berpulang ke rahmat Allah. Selamat jalan Xyrus, doakan kami yang masih berjuang, terima kasih atas perjumpaan itu. Aku mendapatkan fotomu walau kamu mungkin malu saat kufoto. Tetapi aku meminta izin nenekmu untuk mengambil gambarmu agar aku ingat selalu dirimu dan mendoakanmu. Ad vitam aeternam, requiescas in pace. 





*Today I found myself thinking of the future life of all creation, going home. Xyrus, 10 year old girl, has passed away this morning suffering from leukaemia. 3 days ago I met her and anointed her. Thank you Xyrus for this encounter. God did the best for you, he liberated you from your suffering. Pray for us who are still journeying in the world. Amen.

#in chaplaincy