Sebuah pemandangan patung di Ateneo de Cebu menarik perhatianku sore itu. Tepatnya 1 Februari yang lalu. Pertama kali aku mendarat di sana dan pertama kali aku tinggal di komunitas Jesuit di sekolah itu. Apa yang menarik? Kukira pertama kali adalah patung St Ignatius Loyola. Ternyata bukan. Patung itu berada di antara jalan di bagian TK dan SD, di sebuah pertigaan tepatnya jika orang Indonesia menyebutnya.Yang menarik bagiku adalah bahwa patung itu patung bergaya ekspesionis (entah benar atau tidak aku menyebutnya, tetapi demikian menurutku). Seorang yang berjubah, tangannya terlipat sambil membawa rosario di jari-jari tangan kirinya dan tangan kanan menahan dagu seperti orang berpikir dan memperhatikan. Yah, yang diperhatikan adalah anak kecil di hadapannya. Anak kecil itu menatap ke atas ("ndangak", kata orang Jawa). Keduanya saling bercakap. Itu ekspresi patung yang menarik perhatianku. Pertanyaanku kemudian: "mengapa patung orang yang tinggi, berjubah, memegang rosario itu, kepalanya tidak utuh dan tengkoraknya terbuka?" Sebuah perjumpaan yang membuahkan perubahan.
Ini yang kemudian terjawab oleh perjumpaan kami pada hari Sabtu sore, tanggal 22 Februari. Ketika kami datang dari kota, karena sekolah itu terletak di wilayah lain yaitu Mandaue City, ada sekumpulan orang di sekitar patung itu. Nampak juga di situ dua orang Jesuit. Yang satu muda yang satu uzur. Dan kami akhirnya menghampiri kumpulan orang itu. Ternyata kumpulan itu adalah para alumni sekolah itu yang sedang hadir untuk pertunjukan malam itu yaitu konser drama musikal, Gen Rosso, sebuah kelompok yang mirip Broadway. Lalu dalam perjumpaan itu, kami diperkenalkan ini dan itu lalu syukur bahwa salah satu obrolan kami adalah tentang patung itu karena dalam kumpulan itu ada pembuatnya, sang artisnya, yaitu Raymund L Fernandez. Dia termasuk angkatan 1972 yang memprakarsai pembuatan patung itu.
![]() |
| Raymund L Fernandez |
Dan yang menarik dari perjumpaan itu adalah bahwa kami diberi wawasan luas. Pendidikan yang kami terima bukan saja pendidikan akademis belaka tetapi pendidikan yang membantu kami terbuka wawasan kami, menghargai kehidupan dan menghargai perbedaan karena kita hidup dalam perbedaan itu sendiri. Mengapa patung seorang Jesuit ini (dia menyebut demikian) kepalanya tidak utuh dan terbuka? Bagi saya, ini mengungkapkan bahwa para Jesuit adalah pribadi yang merdeka, yang memberikan pendidikan untuk terbuka dengan segala hal, selalu berpikir.
Menarik apa yang dikatakan Raymund, "pendidikan bukan sekedar pendidikan akademik tetapi bagaimana kami diajari untuk menghargai kehidupan yang berbeda dan sekaligus menghargai perbedaan itu dengan wawasan yang terbuka." Ungkapan yang dituangkan dengan patung seorang Jesuit dengan kepala terbuka, seolah tak selesai, merupakan kekhasan pendidikan para Jesuit di sekolah-sekolah yang dirintis. Wawasan yang terbuka membuat orang memahami dirinya dan dunia (termasuk manusia di dalamnya). Itulah warisan utama yang diberikan St Ignatius Loyola lewat Latihan Rohani dan Serikat Yesus. Ayudar las almas, membantu jiwa-jiwa, adalah tujuan manusia diciptakan dengan memuji, mengabdi dan memuliakan Allah (LR 23).
Syukurlah bahwa ada alumni yang mengalami sentuhan pendidikan para Jesuit seperti itu. Syukurlah bahwa setelah sekian lama karya itu berjalan, buah-buahnya kelihatan. Dan ungkapan alumni yang sedemikian itu kiranya membanggakan. Membanggakan karena sebuah jerih lelah telah menuai hasilnya. Membaggakan karena karya pendidikan selalu akan tidak sekali jadi. Membanggakan karena apresiasi itu sangatlah bernilai harganya dengan karya seni yang sarat simbol dan makna karena di situlah kekhasan manusia.
From the statue "Jesuit encounters an Angel" in Ateneo de Cebu, I was interested in the style, gesture, the expressionism style. Why did the Jesuit statue in "open head" like unfinished form? After encountering with the artist, Raymund L Fernandez, he told me that the meaning of the statue were we met Jesuit who educated us in 1972. The Jesuit always gives us open minded education to face the world, to appreciate the diversity, to appreciate the world of human kind. They, the Jesuits, helped us to be holistic. "All the whole world depends on the proper education of youth." (Pedro de Rebadeneira, 1556)
#LHS, Februari 2014#

