Thursday, August 13, 2020

Emang enak, Merdeka itu?

Aku punya cerita. Cerita itu hanya kuendapkan saja selama ini. Ceritanya begini. Beberapa waktu lalu aku merasakan bagaiama seorang teman itu selalu pergi dan berpindah tempat. Sedangkan dia warga negara yang dulu pernah “dijajah” oleh dua kekuatan negara lain. Memang negara itu miskin. Namun yang menarik bagiku adalah kepindahan dan tidak pernahnya dia menetap di negaranya yang sedang membangun dari puing-puing sejarah kemiskinan dan keterjajahan. Ada banyak alasan untuk tidak menetap dan tidak mau menetap dan berkarya di sebuah negara yang nota bene juga adalah tanah airnya sendiri. Kata orang, dia ingin “jadi orang internasional”. Ah, apakah benar? Aku hanya mengernyitkan dahi saja. Orang internasional itu apakah selalu melanglang buana dan tidak pernah hinggap di sebuah tanah yang menghidupinya sejak ia lahir? Koq malah ungkapan itu menyedihkan bagiku, lantaran keinternasionalan menjadi dalih untuk tidak mau pulang dan justru menyingkiri arti kemerdekaan itu? Apakah kemerdekaan itu menyenangkan? Apakah kemerdekaan yang dulu diidamkan dengan berbagai macam cara lantas diingkari begitu melihat ketidaknyamanan yang ada di hadapan mata? Kemiskinan, tidak ada sumber daya, banyak pekerjaan rumah, menata berbagai hal terkait kehidupan dan tata kelola sebuah komunitas, itu semua adalah realitas kemerdekaan.

Aku kemudian terkesan dengan video yang dikirim di sebuah grup whatsapp. Video jadul yang mendokumentasikan bagaimana negara Indonesia yang belum seumur sebulan harus menyusun kabinet alias pemerintah yang mengurusi berbagai kepentingan kemaslahatan rahayat pada awal Indonesia lahir. Bagaimana jalan Pegangsaan Timur 56 Jakarta  itu menjadi saksi prosesi dan seremoni kedatangan kepala dan wakil kepala negara beserta jajaran menterinya. Suasananya sangat sederhana dan semua serba masih darurat. Bisa dibayangkan bagaimana para pendiri bangsa ini dan pemerintah yang dibentuk pun juga dari para tokoh yang ada pada waktu itu. Intinya perjuangan itu akan selalu ada walau kita sudah merdeka.

Dari perjuangan di masa sederhana dan seba darurat kiranya penting untuk selalu dimasukkan dalam ingatan dan sanubari seluruh rakyat negeri ini. Bukan sebuah kemenangan yang perlu dilupakan dalam euforia berlama-lama namun dalam penghayatan bahwa kemenangan dalam arti merdeka itu adalah merdeka untuk membangun dan memperbaiki seluruh sendi kehidupan sebagai sebuah bangsa dan negara.

Dari pengalaman pertama dan kutatapkan dengan hal kedua tadi, aku hanya ingin mengatakan bahwa kemerdekaan itu tidak otomatis membawa pada kenyamanan yang seperti kaum hedonis. Artinya, kemerdekaan itu membawa konsekuensi ruang dan waktu yang harus diisi dengan kerja keras, bukan untuk konsumsi saja. Konsumsi hanya menghabiskan segala sesuatu. Oleh karena itu, tidak heran ketika Bani Israel itu marah-marah kepada Musa ketika di Masa dan Meriba, mereka merindukan daging, gandum, madu yang melimpah di Mesir. Sedangkan Musa membawa mereka untuk “berjalan mengisi kemerdekaan dari penindasan Mesir.” Konsumsitif adalah mentalitas siapapun. Bahkan komunitas yang terjajah pun bisa melakukannya. Namun komunitas yang merdeka, terbebaskan dari penindasan adalah mereka yang dengan kesadaran diri penuh mengisi ruang dan waktu mereka dengan perjuangan itu sendiri.

Jika teman yang kuceritakan di atas itu hanya bermotivasi “ingin jadi orang internasional” lantas tak pernah menetap dan hinggap di tanah airnya, apakah jangan-jangan hanya rasionalisasi diri saja karena ketika pulang ke rumah itu adalah perjuangan? Ketika berhadapan dengan rakyatnya yang miskin, infrastruktur belum terbangun, mata uang pun belum satu, sumber daya yang minim, konsekuensi membangun yang adalah perjuangan, semua itu adalah hidup yang “rekasa” (istilah Jawa: penuh perjuangan, kerja keras, tidak mudah). Kalau pulang dan hanya ingin menikmati suasana kemewahan, penuh fasilitas, kenyamanan fisik dan psikis, ya mana ada itu sudah terselenggara begitu saja. Keinternasionalan tidak akan menghasilkan kemerdekaan jika hanya sebagai ideologi menyingkiri kesulitan hidup. Beda dengan yang merasa dimusuhi di negerinya karena alasan politis tertentu. Banyak sekarang para petualang politik yang sebenarnya hanya cari sensasi, bahkan mungkin menjual bangsanya demi kenyamanan di luar negeri.

Dalam hatiku aku berkata, “Pulanglah ke negeri asalmu. Di sana rakyatmu menantimu, di sana mereka menunggu kerja keras dan perjuanganmu. Jangan hanya kembali ke negeri penjajah yang sudah hengkang. Mereka yang menjajah sudah mengeruk keuntungan dari rakyatmu yang masih jelata dan miskin. Bekerjalah dengan rakyatmu sebagai ungkapan terima kasih dan ngkapan kemerdekaan yang selama ini kamu rindukan. Jangan ragu untuk kembali. Jangan jijik untuk berbelepotan tanah, kotoran, dan suasana miskin dari rakyatmu. Jangan terlalu lama berada di luar negeri. Jangan jadi kaum borjuis atau kaum feodal yang justru malah menjajah rakyatmu sendiri. Merdeka itu memang tidak enak. Merdeka itu harus berjuang, sobat.” 



#Mardika iku rekasa#
#Salam kamardikan#
#Agustusan#