Thursday, June 29, 2017

Sujarah

Setiap kali lebaran selalu saja yang ada adalah kumpul keluarga, kumpul trah atau pesta keluarga besar. Selain itu ada kunjungan keluarga, silaturahmi, saling berkunjung memaaf-maafkan satu sama lain. Yang muda berkunjung ke yang tua dan meminta maaf serta meminta restu atas kehidupan selama ini. Setidaknya pesta lebaran atau idul fitri ini ada berbagai macam "ritual": kunjungan keluarga, mudik besar-besaran kalangan keluarga Jawa entah yang ada di pulau Jawa atau di luar Jawa ke Jawa atau ke komunitas-komunitas Jawa, menyediakan nyamikan khas lebaran dan makanan terutama ketupat dan opor, saling bersilaturahmi, saling meminta maaf dan berkah, kumpul keluarga yang kemudian mentradisi menjadi kumpul trah keluarga besar, dan di sana ada pemberian "ang pao" alias uang receh kepada anak-anak kecil dari yang tua. Aku melihat tradisi lebaran dan mudik ini sepertinya tradisi keluarga Jawa (muslim). Di dalamnya termuat berbagai macam pengaruh dari macam-macam tradisi. Ada kumpul keluarga yang senada dengan tradisi "thanksgiving" ala Eropa atau Amerika Utara. Ada pemberian "ang pao" yang mirip dengan tradisi Tionghoa dalam perayaan Imlek (Sinchia). Sedangkan idul fitri sendiri asli Arab atau budaya Semit (Timur Tengah) yang artinya "semoga kita kembali kepada asal (fitr) dan kita dilebur menjadi baru", maka ada tradisi saling meminta maaf dan memaafkan.

Yang menarik dari lebaran adalah kumpul trah atau kumpul keluarga besar. Tahun ini keluarga kami bertemu dan berkumpul dengan agak berbeda. Biasanya ada dua kali pertemuan. Pertemuan pertama di hari lebaran kedua itu untuk keluarga besar dari simbah puteri kedua. Pertemuan kedua di hari lebaran ketiga untuk keluarga besar dari mbah kakung. Maklum Mbah kakungku menikah dua kali. Sedangkan keluargaku sebenarnya dari isteri pertama, cerai hidup istilahnya. Namun sejak kecilku, keluarga dari istri pertama dan kedua tetap akrab dan rukun. Bahkan ketika Mbah kakung dan Mbah putri kedua masih hidup pun mereka datang dan bertemu dengan istri pertama yang adalah nenekku. Tidak ada dendam dan atau sakit hati, menurutku. Entah, kalau dirasakan oleh nenekku. Mungkin dulu ketika dicerai oleh Mbah kakung ya pasti ada reaksi perasaan, namun itu bukan mau kukupas dalam tulisan ini. Tahun ini dua keluarga besar itu disatukan pertemuannya sehingg hanya memakan sehari saja. Bagiku ini lebih nyaman karena hanya sehari. Tidak memakan waktu banyak. Kadang aku lebih memilih salah satu untuk ikut kumpul trah, entah yang pertama saja atau yang kedua saja. Biasanya aku memilih yang kedua saja karena masih lebih dekat pertalian darahnya. Tahun ini disatukan karena juga ada ujub khusus dari paklik dan bulik yaitu ada misa syukur perayaan 40 tahun pernikahan. Utunglah ada perayaan itu, karena dengan demikian bisa bertemu dalam satu kesempatan di tempat yang sama dengan dua trah sekaligus. 

Mengenali wajah dan dari keluarga siapa memang tidak mudah, apalagi sudah lama tidak bertemu dan sudah lama aku pergi dari keluarga inti untuk melanglang buana. Ketika berjumpa dengan banyak saudara, tidak semua kenal baik. Bahwa mereka semua adalah keluargaku secara langsung atau tidak bagiku ini yang menjadi kekayaan sejarah keluarga. Dengan kumpul bersama aku mengenali sejarah keluarga. Ada pohon keluarga yang makin lama makin besar dan makin panjang. Contoh konkritnya adalah bulik dan paklik yang merayakan 40 tahun pernikahan. Semula mereka hanya berdua sebagai suami istri. Mereka mempunyai 3 anak cewek semua. Dari 3 anak itu lahirlah 5 cucu. Dari 2 menjadi 5 menjadi 8 menjadi 13. Itulah sedikit contohnya. Jika dihitung kasar, dua trah kemarin yang berkumpul berjumlah 300an orang yang datang. Artinya dua keluarga besar itu masing-masing mempunyai 150 orang. Itu baru dua trah. Dengan sekian banyak orang dari satu keluarga besar, orang sering tidak mengenal satu dengan yang lain kalau tidak dikenalkan atau diberitahu. Bahkan ada kisah bahwa pernah terjadi hampir saja antar keluarga masih sepupu menikah. Untungnya sebelum terjadi pernikahan, keluarga mereka menggagalkan. Orang Jawa mengatakan hal ini, "kepaten obor". Artinya antar saudara tidak mengenal lagi. "Kepaten obor" artinya penerangnya mati. Obor yang menerangi atau memberitahu akan sanak saudara itu mati sehingga saling tidak kenal sehingga seperti orang asing.

Aku selalu bertanya kepada bapakku atau nenekku mengenai silsilah keluarga. Kadang memang pertanyaan yang tidak penting namun buatku ini penting. Setidaknya aku pernah punya informasi (obor) mengenai silsilah keluargaku walau kadang aku juga lupa ini keluarga dari mana dan dari siapa. Bertanya dan ada yang menjelaskan silsilah itu bermanfaat. Oleh karena itu, lebaran bukan sekedar "lebar" (selesai) dari berpuasa. Lebaran buatku juga merupakan peristiwa mengingat kembali silsilah asali diriku (fitrah). Aku lebih merayakannya sebagai "fitr" yang memanggilku kembali ke fitrahku, dari mana asalku dan dari keluarga siapa aku berada dan hidup. Sejarah keluarga dengan pohon keluarga akan sangat berharga bukan hanya untuk mengenali pribadi-pribadi yang ada di situ namun juga sebenarnya mengenal asas dan dasar keluargaku. Di sanalah aku mengenali sejarah Allah yang juga memanggil keluargaku untuk menanggapi seperti apa dalam peziarahannya. Lewat Mbah Buyut ke Mbah kakung-putri ke Bapak-ibu dan sebagainya ada keluarga-keluarga lain yang menjadi bagian dari hidupku. Ada jalur rahmat Allah yang begitu luar biasa jika dikenali lebih dalam. Ada peristiwa-peristiwa unik yang menyedihkan, menggembirakan, membanggakan, mengecewakan, menantang, dan sebagainya. Itulah peristiwa sejarah. 

Lewat mengenal sejarah keluarga, aku dibantu untuk merumuskan siapa diriku, bagaimana pengalamanku, apa saja kehendakku, talentaku, kekuatan dan kelemahanku, dan sebagainya. Lewat sejarah keluarga aku juga dibantu untuk menghadirkan pribadi-pribadi yang menjadi bagian hidupku. Ada narasi (teks) dan sekaligus peristiwa-peristiwa yang terikat ruang dan waktu (konteks). Kekuatan keluarga adalah kekuatan dalam mengenali tradisi yang hidup. Keluarga bukan saja hanya untuk kehangatan psikologis namun sebenarnya di sana ada sebuah bangunan besar untuk menanamkan nilai dan keutamaan. Tidak mengherankan bangsa-bangsa yang tua selalu kuat dalam hal ini karena mereka setia dalam nilai dan keutamaan yang selalu ditransferkan kepada generasi ke generasi maka ada tradisi. Keluarga Yahudi sangat kuat dan bangga dengan komunitas kecil mereka karena setiap tahun mereka hadir dan kumpul bersama untuk berdoa sekaligus mendengarkan narasi (sejarah) mereka sebagai keuarga bangsa yang berjiarah dari perbudakan ke pembebasan dan perjalanan ke tanah terjanji. Tradisi yang hidup itu didengungkan terus ke telinga dan hati dari generasi ke generasi. Itulah kekuatan peristiwa keluarga yang disadari dan dikenali karena dari sanalah keluarga menjadi tempat awal mengenali kekuatan sejarah Allah yang menyelamatkan: memanggil, membentuk, mendampingi dan mengarahkan peziarahan sampai pada tujuan akhir.

Selamat idul fitri. Selamat mengenali sejarah asali keluarga. Selamat berkumpul dan saling mengenal pribadi-pribadi dalam keluarga. Salam.


#Evening in my room#