Menarik melihat perbandingan orang-orang Eropa/Amerika kulit putih yang saat ini jauh lebih teruji kemampuan mengatur dirinya. Bisa dipahami karena mereka adalah penjajah dan tuan atas budak-budak yang semua adalah orang kulit berwarna. Di saat covid-19 menyerang lebih dari setahun ini, dunia ketiga masih kelimpungan dengan naiknya kasus. Sedangkan dunia pertama sudah relatif aman, walau kita juga belum tahu seberapa jauh keamanannya. Bermula dari merebaknya di India karena pesta keagamaan. Sama dengan di Indonesia yang beberapa waktu ini naik kasus penularan karena pesta/perayaan keagamaan. Dari perayaan itu, massa berkerumun. Tentu tidak semua terdeteksi siapa pembawa virus dan yang tertular. Akibatnya, ketidaksiapan dan kengeyelan itu berdampak dengan naiknya kasus covid-19.
Kembali ke tema "kesiapan untuk merdeka", aku melihat adanya kemampuan (dan ketidakmampuan) mengelola sistem kehidupan bersama dalam hal: "akuntabilitas, responsabilitas, dan transparansi" (ART). Kemerdekaan adalah seni (ART). Kemerdekaan adalah seni mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak ada penolakan terhadap ART itu sendiri. Sedangkan bangsa yang masih komplain untuk bertanggung jawab, transparan dan tidak mau jujur dengan dirinya, ya akan menuai hasilnya. Data berapa jumlah kasus secara jujur pun bangsa Indonesia ini masih sulit didapatkan. Banyak ketidakjujuran karena takut distigmatisasi karena covid-19 ini. Sedangkan karena tidak jujur ini menimbulkan efek penularan yang akhirnya merebak. Orang ada yang tidak percaya covid-19 itu ada, termasuk orang India merasa diri bahwa dewa-dewanya jauh lebih sakti dari covid-19. Akibatnya, kebodohan itu berakibat saat ini. Orang Indonesia juga sama saja. Pemerintah sudah melarang mudik. Namun orang masih saja ngeyel. Akibatnya, dari kerumunan keluarga yang mudik atau dikunjungi itulah, penularan terjadi. Bisa dipastikan juga, pemerintah kuwalahan juga mengatur bangsa yang ngeyel sih. Di sisi lain, penegakan hukum menjadi problem karena mentalitas kurang siap merdeka, kurang jujur dan akibatnya korupsi di mana-mana. Korupsi itu bukan soal duit saja, namun soal kemerdekaan untuk berani diatur dan mengatur diri dan kehidupan. Dikomentari sedikit saja biasanya orang sudah kapok dan menyerah. Pemerintah dinilai zalim kalau keras sedikit. Ya, ini akibat kita terlalu lama dizalimi oleh rezim diktator NuvOrd. Lalu mentalitas bahwa pemerintah selalu salah itu masih melekat kuat. Akibatnya penegakan hukum juga masih setengah hati. Hukum masih bisa dibeli oleh orang-orang kaya yang mampu memanfaatkan hal ini.
Sekali lagi kesiapan untuk merdeka itu soal mentalitas. Kita terlalu lama dijajah dan terjajah, baik dari luar maupun dari dalam. Artinya, penjajahan itu bukan saja oleh bangsa lain tetapi oleh bangsa sendiri dan mengakibatkan mentalitas jadi tertindas. Ketertindasan membuat orang jadi ingin menghindari kesengsaraan, kerja keras, ketidaknyamanan dalam hidup. Padahal merdeka itu ya justru harus berjuang terus. Merdeka bukan mau seenaknya sendiri, serba ngeyel dan tak mau diatur. Orang merdeka itu orang yang mau menjadi bangsa yang mampu mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak ada kelekatan dalam dirinya. Orang yang menjadi jujur dengan dirinya itu merdeka. Orang yang merdeka itu tidak sulit ditata dan menata dirinya. Itulah tanda ART: akuntabel, responsibel, transparan. Tanpa ART ya kita tidak merdeka.
Aku melihat bahwa tembok besar budaya kita masih mengajarkan untuk selalu formal, sopan santun, sok agamis, sok suci. Kenyataannya kebalikannya. Formal itu sebenarnya tembok untuk menutupi korupnya. Sopan santun itu untuk menutupi kenyataan bahwa sebenarnya "urakan" di dalamnya. Sok agamis ya karena agama masih dipakai sebagai alat menakut-nakuti orang dengan hukuman neraka. Padahal ya siapa sih yang tahu itu? Nerakan dan surga juga buatan manusia. Sok suci kaitannya dengan agama dan moralitas. Moralitas kita sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. "Jaim" saja yang terjadi selama ini. Kaum munafikun lebih banyak dan berkuasa daripada yang jujur. Untuk terbuka pada diri sendiri masih sulit, bagaimana akan jujur dengan orang lain. Mau jujur dengan orang lain takut jadi ajur (ambyar) karena sistem masyarakat yang masih membelenggu. Sistem kejujuran masih mahal di masyarakat kita. Semua masih rentan, masih bisa diatur ("aturable" kata saudaraku).
Ya, akhirnya aku hanya masih bisa menyebut bahwa menjadi merdeka itu perjuangan. Merdeka itu harus jujur dan terbuka pada diri sendiri, kenyataan, dan bahkan orang lain (tidak perlu menyangkut-nyangkutkan Tuhan). Sistem kejujuran dalam masyarakat kita belum terbentuk. Jika sistem ini belum ada, bagaimana kita mau menjadi maju? Kemajuan ya sebatas supervisial, mudah hilang dan dilupakan. Kemajuan dalam arti korupsi mungkin akan paling top. Namun kemajuan dalam arti ART ya paling-paling kita jeblok. Mau membongkar fakta dan kebenaran pun kita masih berat karena setiap suara kebenaran itu konsekuensinya berat. Bisa-bisa nyawa melayang walau bukan masa NuvOrd lagi tetapi virus NuvOrd itu masih kuat dibanding covid-19 (sepertinya). Paling covid-19 ini beberapa tahun lagi bisa dikendalikan. Virus NuvOrd ini sudah menjangkiti sejak 1966. Tahun 1998 ada reformasi. Sekarang tahun 2021, virus itu masih berbahaya dan ada. Ada korban 500.000 orang pasca VecOrd (data minimal). Hitungan lain ada sekitar 1.000.000-1.500.000 orang mati (dalam waktu 2 tahun). Lha, covid-19 dalam setahun lebih sedikit ini baru 54.000 yang mati di Indonesia (data 18 Juni 2021). Kita masih harus terus belajar untuk menjadi merdeka.
#room#

