Saturday, June 19, 2021

Masih Harus Terus Belajar Menjadi Merdeka

Aku sudah menulis beberapa waktu lalu tentang "kesiapan untuk merdeka". Dan itu tidak sekali jadi. Merdeka itu tidak mengenakkan. Dengan merebaknya covid-19 ini jelas menunjukkan indikasi itu. Siapa yang siap menjadi merdeka akan selamat dibanding mereka yang tidak atau belum siap. Merdeka berarti siap menerima resiko, mempersiapkan diri dari resiko, menerima konsekuensi apapun yang terjadi seberat apapun. Orang yang masih terjebak dalam perbudakan dan penjajahan (secara mentalitasnya) akan lebih menyalahkan orang lain, situasi eksternalnya dibanding dengan mempersiapkan diri dari hal-hal yang ada. Biasanya hal itu lebih mengarah pada edukasi dan persiapan diri. Dan itu akan membawa dampak pada bagaimana mengelola sistem kehidupan di dalam komunitas masyarakatnya. 

Menarik melihat perbandingan orang-orang Eropa/Amerika kulit putih yang saat ini jauh lebih teruji kemampuan mengatur dirinya. Bisa dipahami karena mereka adalah penjajah dan tuan atas budak-budak yang semua adalah orang kulit berwarna. Di saat covid-19 menyerang lebih dari setahun ini, dunia ketiga masih kelimpungan dengan naiknya kasus. Sedangkan dunia pertama sudah relatif aman, walau kita juga belum tahu seberapa jauh keamanannya. Bermula dari merebaknya di India karena pesta keagamaan. Sama dengan di Indonesia yang beberapa waktu ini naik kasus penularan karena pesta/perayaan keagamaan. Dari perayaan itu, massa berkerumun. Tentu tidak semua terdeteksi siapa pembawa virus dan yang tertular. Akibatnya, ketidaksiapan dan kengeyelan itu berdampak dengan naiknya kasus covid-19. 

Kembali ke tema "kesiapan untuk merdeka", aku melihat adanya kemampuan (dan ketidakmampuan) mengelola sistem kehidupan bersama dalam hal: "akuntabilitas, responsabilitas, dan transparansi" (ART). Kemerdekaan adalah seni (ART). Kemerdekaan adalah seni mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak ada penolakan terhadap ART itu sendiri. Sedangkan bangsa yang masih komplain untuk bertanggung jawab, transparan dan tidak mau jujur dengan dirinya, ya akan menuai hasilnya. Data berapa jumlah kasus secara jujur pun bangsa Indonesia ini masih sulit didapatkan. Banyak ketidakjujuran karena takut distigmatisasi karena covid-19 ini. Sedangkan karena tidak jujur ini menimbulkan efek penularan yang akhirnya merebak. Orang ada yang tidak percaya covid-19 itu ada, termasuk orang India merasa diri bahwa dewa-dewanya jauh lebih sakti dari covid-19. Akibatnya, kebodohan itu berakibat saat ini. Orang Indonesia juga sama saja. Pemerintah sudah melarang mudik. Namun orang masih saja ngeyel. Akibatnya, dari kerumunan keluarga yang mudik atau dikunjungi itulah, penularan terjadi. Bisa dipastikan juga, pemerintah kuwalahan juga mengatur bangsa yang ngeyel sih. Di sisi lain, penegakan hukum menjadi problem karena mentalitas kurang siap merdeka, kurang jujur dan akibatnya korupsi di mana-mana. Korupsi itu bukan soal duit saja, namun soal kemerdekaan untuk berani diatur dan mengatur diri dan kehidupan. Dikomentari sedikit saja biasanya orang sudah kapok dan menyerah. Pemerintah dinilai zalim kalau keras sedikit. Ya, ini akibat kita terlalu lama dizalimi oleh rezim diktator NuvOrd. Lalu mentalitas bahwa pemerintah selalu salah itu masih melekat kuat. Akibatnya penegakan hukum juga masih setengah hati. Hukum masih bisa dibeli oleh orang-orang kaya yang mampu memanfaatkan hal ini. 

Sekali lagi kesiapan untuk merdeka itu soal mentalitas. Kita terlalu lama dijajah dan terjajah, baik dari luar maupun dari dalam. Artinya, penjajahan itu bukan saja oleh bangsa lain tetapi oleh bangsa sendiri dan mengakibatkan mentalitas jadi tertindas. Ketertindasan membuat orang jadi ingin menghindari kesengsaraan, kerja keras, ketidaknyamanan dalam hidup. Padahal merdeka itu ya justru harus berjuang terus. Merdeka bukan mau seenaknya sendiri, serba ngeyel dan tak mau diatur. Orang merdeka itu orang yang mau menjadi bangsa yang mampu mengatur diri sedemikian rupa sehingga tidak ada kelekatan dalam dirinya. Orang yang menjadi jujur dengan dirinya itu merdeka. Orang yang merdeka itu tidak sulit ditata dan menata dirinya. Itulah tanda ART: akuntabel, responsibel, transparan. Tanpa ART ya kita tidak merdeka. 

Aku melihat bahwa tembok besar budaya kita masih mengajarkan untuk selalu formal, sopan santun, sok agamis, sok suci. Kenyataannya kebalikannya. Formal itu sebenarnya tembok untuk menutupi korupnya. Sopan santun itu untuk menutupi kenyataan bahwa sebenarnya "urakan" di dalamnya. Sok agamis ya karena agama masih dipakai sebagai alat menakut-nakuti orang dengan hukuman neraka. Padahal ya siapa sih yang tahu itu? Nerakan dan surga juga buatan manusia. Sok suci kaitannya dengan agama dan moralitas. Moralitas kita sebenarnya juga tidak bagus-bagus amat. "Jaim" saja yang terjadi selama ini. Kaum munafikun lebih banyak dan berkuasa daripada yang jujur. Untuk terbuka pada diri sendiri masih sulit, bagaimana akan jujur dengan orang lain. Mau jujur dengan orang lain takut jadi ajur (ambyar) karena sistem masyarakat yang masih membelenggu. Sistem kejujuran masih mahal di masyarakat kita. Semua masih rentan, masih bisa diatur ("aturable" kata saudaraku). 

Ya, akhirnya aku hanya masih bisa menyebut bahwa menjadi merdeka itu perjuangan. Merdeka itu harus jujur dan terbuka pada diri sendiri, kenyataan, dan bahkan orang lain (tidak perlu menyangkut-nyangkutkan Tuhan). Sistem kejujuran dalam masyarakat kita belum terbentuk. Jika sistem ini belum ada, bagaimana kita mau menjadi maju? Kemajuan ya sebatas supervisial, mudah hilang dan dilupakan. Kemajuan dalam arti korupsi mungkin akan paling top. Namun kemajuan dalam arti ART ya paling-paling kita jeblok. Mau membongkar fakta dan kebenaran pun kita masih berat karena setiap suara kebenaran itu konsekuensinya berat. Bisa-bisa nyawa melayang walau bukan masa NuvOrd lagi tetapi virus NuvOrd itu masih kuat dibanding covid-19 (sepertinya). Paling covid-19 ini beberapa tahun lagi bisa dikendalikan. Virus NuvOrd ini sudah menjangkiti sejak 1966. Tahun 1998 ada reformasi. Sekarang tahun 2021, virus itu masih berbahaya dan ada. Ada korban 500.000 orang pasca VecOrd (data minimal). Hitungan lain ada sekitar 1.000.000-1.500.000 orang mati (dalam waktu 2 tahun). Lha, covid-19 dalam setahun lebih sedikit ini baru 54.000 yang mati di Indonesia (data 18 Juni 2021). Kita masih harus terus belajar untuk menjadi merdeka.


#room#

Thursday, June 3, 2021

Simplicity: La Storta

Kesederhanaan. Itulah yang mengajakku kemarin menyelami apa yang dialami Inigo di perjalanan menuju kota Abadi. Sebuah kapel kecil membisu di pojokan jalan (pertigaan tepatnya). Bangunan kecil yang sudah mengalami pembangunan lagi setelah perang dunia kedua itu menyiratkan sebuah kesederhanaan. Pengalaman mistik Inigo terjadi di situ. Aku mencoba menyelami, mencecap, menghirup udara di sekitarnya, tentu ada perbedaan dengan masa lalu. Setidaknya pengalaman itulah yang membawaku dan mendorongku untuk kembali mereguk cita rasa itu. Memang di kota Abadi itulah, Inigo hidup dan mengalami sendiri 'kesederhanaan'. Kota Abadi sendiri jauh dari kesederhanaan. Kesederhanaan seolah lupa hinggap di kota-kota besar. Namun entah mengapa, Inigo selalu suka kota-kota yang penuh hiruk pikuk sedangkan pengalamannya selalu bernuansa sederhana.

Sore kemarin, aku datang. Datang ke lokasi di mana bangunan kecil dan tua itu dulu menjadi penting bagi peziarahan Inigo sebelum memasuki kota Abadi. Aku hanya membayangkan dan membandingkan, walau itu tidak senada dan tidak sama, dengan pengalaman Petrus dalam narasi novel 'Quo Vadis' di mana sama-sama berada di luar kota Abadi dan beristirahat. Petrus mengalami perjumpaan dengan Sang Guru yang memanggul salib memasuki kota Abadi. Sedangkan Inigo juga mengalami visiun dalam doanya berjumpa dengan Sang Guru yang memanggul salib dan Bapa. Petrus bertanya, 'Quo Vadis, Domine?' Sang Guru menjawab singkat, 'Ad Romam'. Sedangkan dalam visiun Inigo, 'Ego ero vobis Romae propitius' (Aku akan menyertai kalian di Roma: terjemahan bebas). 

Keduanya mengalami Sang Guru yang memanggul salib. Keduanya mengalami tempat yang sama, di luar kota Abadi. Keduanya sama-sama mengalami peneguhan yang menantang, yaitu salib yang dipanggul Sang Guru. Itulah tantangan simbolik dan sekaligus konkrit dalam hidup dan peziarahan. Jika menengok dalam rumusan yang dibuat oleh kelompok Inigo berabad-abad kemudian, dan konteksnya adalah abad ke-21, dikatakan di sana makna visiun itu bagi peziarahan hidup rohani demikian: 'Apa yang dialami Inigo dalam visiunnya itu adalah sebuah peneguhan. Peneguhan itu bukanlah sebuah impian yang dengan mudah menjalaninya di kota Abadi karena kelompok awal ini akan mengalami berbagai kontradiksi yang dialaminya. Bahkan bisa saja mereka "disalibkan" atau mengalami perjuangan berat menjalaninya. Itulah realitas konkrit yang menjadi bayangan atau proyeksi ke depan dari visiun itu. 

Peneguhan bahwa kelompok awal itu akan menyerahkan hidup dan karya perjuangan mereka kepada pimpinan utama di dunia yang waktu itu ada di kota Abadi, yaitu Paus sebagai wakil Sang Guru. Oleh karena itu, visiun itu membawa makna (1) di kota Abadilah mereka akan diteguhkan sebagai kelompok, dan (2) bagaimana mereka akan setia pada Gereja di bawah pimpinan Paus sebagai wakil Sang Guru di dunia. Jelas, setelah itu di tahun-tahun berikut, Inigo dkk pun harus merumuskan diri mereka dan karya mereka. Mereka harus menjalani deliberasi (pertemuan untuk menegaskan langkah dan diri mereka) selama beberapa waktu di rumah Frangipani di kota Abadi. Tentu menghadap Paus dan menyerahkan diri bukan semata-mata tidak membawa apa-apa. Rumusan diri dan karya perlu dibuat sedemikian rupa sehingga Paus menyetujui dan menandatangani itu. 

Kesederhanaan di tengah hiruk pikuk kota Abadi yang syarat dengan banyak kepentingan yang ada memanggil Inigo dkk untuk merumuskan diri dan karya mereka. Siapa mereka dan apa yang dikerjakan, itulah yang mereka perbincangkan dengan serius sebelum menghadap Paus. Aku belajar dari cara bertindak ini dan juga suasana yang melingkupinya. Aku mencoba menghirup udara tempat itu kemarin. Sederhana memang. Namun aku juga sadar bahwa Inigo sedang bergumul dengan idealisme yang harus direalisasikannya yaitu kelompoknya, cara hidupnya, dan segala hal yang menjadi konsekuensi-konsekuensinya. 

Semakin Inigo dibawa masuk ke hiruk pikuk dunia, semakin ia makin sederhana dengan hidup dan cara bertindaknya. Salib awal bisa dibaca ketika kelompok ini tidak mudah disetujui Paus karena ingin dimasukkan ke salah satu kelompok yang sudah ada sebelumnya. Namun Inigo tetap bersikeras merumuskan dirinya lain dengan kelompok sebelumnya. Paus pun memahami itu akhirnya. Berabad-abad kemudian kelompok ini mengalami salib terbesar yaitu pembubaran (supresi). Walau akhirnya direstorasi kembali, namun perlu menjadi catatan bahwa salib itu nyata yaitu perjuangan dan kesederhanaan. Ini hanya pendapatku, kemungkinan kelompok ini 'disalibkan' karena tidak sederhana lagi (entah ada yang terlalu dekat dengan kekuasaan dan kekayaan) atau memang ada pihak yang tidak menyukai, itu perkaranya. 

Hidup dalam kesederhanaan tidak selalu akan membawa kepada masalah-masalah sederhana dalam hidup. Namun dengan kesederhanaan, manusia setidaknya sudah tidak membebani dirinya dengan banyaknya barang bawaan yang menyengsarakan dirinya.


#afternoon#