Tuesday, December 16, 2025
Sampai Kapan Kita akan Bertahan
Wednesday, November 26, 2025
Ke Kedalaman
Monday, October 27, 2025
Keberacunan dan Kegelapan
Bangsa yang hidupnya ada dalam kegelapan tidak akan melihat terang. Terang bagi bangsa ini hanya sekedar sepercik cahaya yang menyinari memori sesaat belaka. Tidak ada bangsa yang lebih menyedihkan daripada bangsa yang hidupnya menyukai kegelapan. Itu hanya sekelumit ucapan mazmur pribadi di tengah hiruk pikuk kehidupan bangsa yang entah mau kemana pergi dan berlalunya nanti. Jargon-jargon yang selama ini menggaung seolah-olah hanya angin lalu saja. Kadang kita dibius dengan jargon-jargon memabukkan dan kita tenggak tanpa lambaran makanan lain sehingga cepat memabukkan. Ada yang mengatakan "Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan para pahlawannya." Ada lagi yang mengatakan bahwa "NKRI harga mati". Semua itu adalah jargon-jargon dari muntahan racun memabukkan yang disebut sebagai ultra otoritarianisme belaka. Setelah aku menelisik, bangsa ini memang lahir dan dilahirkan di masa nasionalisme didengungkan dan oleh kekuatan fasisme yang menjadikan bentuk negara dan orang-orang di dalamnya mencetuskan sebuah negara bangsa.
Aku bisa memahami bahwa di tengah-tengah lahirnya negara bangsa ini ada kekuatan yang selalu kuat entah mendominasi atau tidak, pengaruhnya tetap ada dan terasa. Ada sebuah negara di dalam negara. Kekuatan itu nyata dan di zaman rezim sekarang tengah dihidupkan kembali. Rezim yang sarat racun dan kegelapan tengah berkuasa di bumi ini. Hal itu juga tidak luput dari pengaruh negara bangsa lain yang situasinya sebelas dua belas. Artinya, jagat gedhe sedang menampilkan tokoh-tokoh yang senada dan seirama. Entah itu di negara yang superpower atau di negara -negara kere, kiranya tokoh-tokoh yang sedang dimunculkan oleh dunia ini adalah mereka yang memang berwatak pemimpin yang populis kapitalis.
Dari waktu ke waktu, di masa rezim ini yang belum berumur panjang, sudah banyak hal yang terjadi. Dan itu memilukan. Namun demikian, ini bukan hanya dari pengelihatanku dan mungkin karena aku sudah mempunyai sentimen kurang baik. Ada banyak pemberitaan dan kenyataan bahwa di sana-sini ada banyak kejanggalan dilihat dari kaca mata orang yang memang mengidealkan soal tata kelola dalam hidup bersama. Ada ironi di sana-sini ketika melihat ketidaksehatan dalam menyusun para pengelola negara ini. Kegemukan sebuah pengurus adalah cermin kekurangbecusan seorang pemimpin dalam mengelola sebuah komunitas negara bangsa. Hal lain adalah membuat lembaga-lembaga baru yang menghambur-hamburkan uang adalah sebuah realitas bahwa pemimpin ini adalah pemimpin yang tak pernah mengalami situasi sulitnya hidup sebagai rakyat kecil. Walau jargonnya adalah demi kesejahteraan masyarakat, demi mengentaskan kemiskinan, demi rakyat kecil, semua itu hanya omon-omon saja. Kenyataannya, si pemimpin ini adalah seorang yang tak pernah merasakan kemiskinan materi. Yang kemudian muncul lagi adalah kejadian-kejadian massal di mana banyak anak SD, SMP, SMA/K keracunan makanan. Makanan itu dari para pengurus negara. Idenya adalah memberi makan bergizi pada generasi muda yang masih belajar di tingkat dasar dan menengah. Ide dan cita-cita yang mulia. Namun yang baik itu perlu dibarengi dengan tindakan detil yang baik juga. Ternyata itu terlewatkan. Ketika banyak anak keracunan, anehnya adalah para pengurus negara ini hanya diam saja, ada yang menangis tipu-tipu, ada yang tanggapannya salah dan sebagainya. Misalnya, ketika ahli gizi dan para pemantau keracunan ini bicara di parlemen, salah satunya adalah "guru dijadikan budak proyek makan gratis ini", maka tanggapan pengurus negara yang cetek pikirnya adalah segera memberi tambahan uang bagi guru-guru yang harus mengkoordinasi makanan itu.Aku sekali lagi tak habis pikir. Aku sudah cenderung muak dengan rezim yang mempermainkan pengelolaan hidup bersama ini entah dengan aturan mainnya diubah-ubah seenaknya, dengan ongkos mahal dalam hidup bersama kita, dan juga kekuatan represif yang saat ini sudah mulai merebak di sana-sini dan akan, sedang dan sudah berkuasa lagi. Mereka-mereka yang memakai lars panjang dan pengoperasi sah senjata adalah pihak yang tak kusukai. Aku sebagai pribadi sudah pernah mengalami betapa menindasnya jika kaum bersenjata ini berkuasa. Mungkin saat ini belum sangat terasa namun sudah kelihatan di mana-mana. Dari urusan sampah sampai dapur, mereka ada. Dari penyelewengan arti ketahanan pangan mereka dicawe-cawekan oleh rezim yang memasukkan para kaum bersenjata ini ada di dalam dan mengurusinya.
Yang aku rasakan sampai saat ini adalah sebuah kekuatiran dan ketakutan bahwa racun dan kegelapan itu akan dibawa kembali menyelimuti hidup negara ini. Keracunan itu hanya bagian kecil dari genosida yang mungkin sedang dirancang. Kalau hanya terjadi satu yang keracunan, itu tragedi. Tapi kalau yang keracunan itu ribuan, itu hanya statistik. Itulah cara pandang pemimpin otoriter - represif - haus darah. Wajahnya kelihatan manis dan gemoy namun di dalamnya adalah wajah bengis iblis dari neraka jahanam yang siap melalap hidup semua makhluk.
Mungkin inilah tulisanku di masa kegelapan dan keracunan. Aku tidak tahu harus sampai kapan masa ini akan berlalu. Orang kita hanya punya memori pendek-pendek, yang akan mengangkat pembantai jutaan orang jadi pahlawan, yang membiarkan ketakutan kembali mengontrol diri kita, yang membiarkan kita alergi membaca buku-buku bermutu, dan yang menjerumuskan hidup kita pada abad gelap (obscurum saeculum).
#pesimisvsoptimis#
Monday, September 15, 2025
Ternyata...
Ketika perasaan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat manusia, maka energi ketertindasan dan menuntut keadilan dikembalikan itu bisa berwujud gelombang protes perlawanan. Protes itu bisa mengakibatkan kerusuhan bila kekuasaan masih represif dan tidak responsif. Di Indonesia hal itu disebabkan oleh rasa keadilan yang dilukai lewat kebijakan penguasa menaikkan pajak dengan alasan efisiensi namun pengurus negaranya berfoya-foya, membuat kebijakan yang tak masuk akal, aparat bersenjata masih represif dan sangat suka dengan kekerasan. Di Nepal, dengan kondisi internal yang mirip dengan Indonesia, ditambah lagi pemblokiran berbagai platform medsos, akhirnya menyingkap kerapuhan negara itu dan kaum muda yang mengamuk. Di Perancis, banyak orang protes dan rusuh karena kebijakan mengenai penambahan waktu kerja dan penghilangan beberapa hal yang berpengaruh pada dikuranginya hak-hak warga sipil. Banyak warna di tiap negara namun satu rasa yang sama yaitu keadilan harus dikembalikan. Masyarakat versus pengurus negara tak bisa dihindari lagi. Padahal seharusnya pengurus negara adalah representasi warga itu sendiri, namun sudah lupa daratan dan menjadi elite yang tak tersentuh dan tak pernah terkoneksi dengan masyarakat biasa.
Friday, September 5, 2025
Res Publica
Saturday, August 30, 2025
Apakah hanya "Sekedar" ?
Dengan kejadian kekerasan, demo besar dan terjadi di berbagai tempat, aksi protes, saling umpat, berhadap-hadapan, dan akhirnya ada nyawa yang melayang, apakah semua itu hanya "sekedar"? Satu nyawa bagi sementara pihak bisa saja dinilai "sekedar" atau "hanya". Bagi sementara orang ketika melihat angka dan nominal, dia hanya mengatakan "sekedar". Tapi kenyataan berkata lain. Itu semua bukan "sekedar". Itu semua adalah kenyataan. Itu adalah realitas. Angka dan simbol nominal itu adalah simbol kenyataan itu sendiri. Mungkin generasi kekinian hanya mengenal ikon / emotikon / sticker atau sekedar meme. Namun demikian dalam segala bentuk visual itu yang mau diungkapkan adalah realitas yang tak terungkapkan semua. Visualisasi adalah bentuk ungkapan bagi keseluruhan, hanya mewakili sedikit karena realitas tak semudah itu diungkapkan.
Kejadian beberapa hari ini di beberapa tempat adalah kenyataan yang sudah ada potensinya dari beberapa waktu sebelumnya. Ada pemicu. Ada sumbernya. Namun kadang orang tak sadar dan hanya melihat yang ada kini dan di depan mata. Realitas sebenarnya tak pernah disadari sepenuhnya karena kita terlalu dangkal untuk mengenalinya. Kita terlalu terlena untuk mengenali dan menamai apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita. Kita tak mau jujur dengan diri kita dan hanya ikut-ikutan dan cari enaknya saja. Sering fatamorgana membutakan kita. Sering yang "wah", "hebat", "kaya", "menarik", itu yang kita pilih. Itulah kesalahan kita. Yang jelek, yang berat, yang menyengsarakan, yang harus kerja keras, tidak kita pilih. Padahal itu adalah kenyataan jujur yang harus kita jalani, bukan hanya di luar diri kita. Kerja keras dan perjuangan adalah jati diri kita.
Bukan sebuah hal yang asing bagiku jika ada kekerasan lagi. Bukan sebuah kebetulan jika ada aksi protes massa yang terjadi. bahkan aku tidak menilai asing atau kaget atau menyesal jika ada nyawa yang tumbang lebih banyak lagi, entah dari pihak siapa. Hal ini dikarenakan aku paham akan hukum alam yaitu siapa yang abai akan menerima akibat. Siapa yang memulai akan menuai akhir. Siapa yang menyulut akan kena percikan api. Siapa yang mengurbankan, akan jadi kurban selanjutnya. Alam pada dasarnya mencari keseimbangan. Semesta pada prinsipnya akan mencari awal dan akhirnya. Mungkin tak bisa lagi seperti Revolusi Prancis yang menjatuhkan raja dan ratu dan antek-antenya dengan pemenggalan kepala di pisau guilotine. Tapi itu pun mungkin.
Aku menyayangkan pola hidup manusia kita. Aku menyayangkan ketidaksadaran akan apa yang mereka pilih dan katakan. Aku menyesalkan bagaimana kualitas kita bertindak ternyata masih amburadul dan tak punya pertimbangan matang. Manusia negeri ini kebanyakan dipengaruhi oleh hal-hal yang dangkal. Angin ke sana, maka ikut ke sana. Angin ke sini, maka ikut ke sini. Yang viral, yang menggelembung, yang gebyarnya lebih banyak, itulah yang dipilih. Maka tak mengherankan bahwa kita belum sadar untuk apa dan bagaimana kita hidup. Aku belum tahu sebenarnya hidupku sendiri. Ibaratnya, seperti rakyat Jerman yang dulu pernah memilih seorang monster pembunuh dan dielu-elukan oleh massa. Uang dan kuasa itu berkelindan. Kuasa dan penyalahgunaanya itu akan selalu ada. Kuasa dan kekerasan pastilah sebuah pasangan abadi yang tak terelakkan jika tanpa kesadaran kontrol terhadap kuasa itu.
Di sini dan saat ini kita dipertontonkan dengan aksi pongah dan vulgar para perampok hidup manusia. Para penjoget dan badut yang kita "percayai" (sedangkan aku sendiri skeptis dan tidak tertarik dan tidak percaya - sebagai disclaimer) sebagai "wakil rakyat". Wakil macam apa, jika mereka tak mencerminkan hidup rakyat dengan: hidup mewah, tunjangan ugal-ugalan, gaji jumbo, tidak pernah mendengarkan aspirasi rakyat, tidak pernah mengalami "rekasa"-nya rakyat? Saat ini kesadaran bahwa memilih wakil itu harus benar dan sadar. Yang belum bisa kutemukan adalah cara mengawal dan mengontrol wakil-wakil rakyat ini. Kelemahan kita selalu dalam hal kontrol terhadap kualitas kerja dan hidup mereka yang kita percayai, kita sebut sebagai parlemen, eksekutif, dan yudikatif kita. Ketiga lembaga itu harus kita kawal dengan baik. Ketiganya bisa saja bermain dan tidak menunjukkan kinerja sebenarnya. Selama 32 tahun tiga lembaga itu hanya simbol dari kekuasaan yang menindas. Semua ada di satu tangan yaitu sang diktator. Sang diktator berposisi sebagai eksekutif. Sedangkan parlemen dan yudikatif hanya sebagai lembaga yang "mengiyakan" segala macam hal yang dimaui oleh sang diktator. Yudikatif hanya mengetok palu bagi sang diktator (baca eksekutif) dan penyetempel undang-undang hasil kerja palsu si legislatif, karena aturan mainnya hanya bagi kepentingan keluarga dan antek-anteknya. Apalagi ketika sang diktator punya kuasa penuh memegang senjata alias tentara. Dia punya bedil dan sepatu lars. Dia juga yang punya mobil tank dan barakuda untuk melindas lawan dan bahkan rakyat pun adalah lawannya jika protes. Yang punya kuasa harus dikoreksi, diingatkan, bahkan dikritik. Lembaga Kritik Nasional kiranya diperlukan bagi indera penguasa.Lengkaplah sudah penderitaan rakyat. Lengkaplah sudah penindasan oleh bangsa sendiri. Lengkaplah sudah semua yang kita rasakan sebagai tekanan terstruktur dan masif itu. Rakyat hanya dipakai sebagai boneka mainan belaka yang sewaktu-waktu bisa dirusak, dihempaskan, dibuang, diinjak-injak. Diijnak oleh mereka yang tak punya kepekaan, tak punya sense of crisis, tak punya option for the poor, tak punya rasa karena mereka orang kaya, borjuis.
Dimaksudkan ada tiga unsur di atas, yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif supaya ada mekanisme saling kontrol. Eh, ternyata pengalaman nyata sebelumnya itu bisa saja hanya ilusi. Yang memang harus disadari adalah bisa saja salah satu dari tiga lembaga itu berkuasa atas yang lain. Aku hanya melihat banyak kemungkinan. Yang ada dalam benakku karena pernah mengalami kenyataan sebelumnya yaitu kejadian-kejadian di negeri ini akan terulang kembali. Suasana ini biasanya butuh tumbal. Dengan tumbal maka akan terjadi kekacauan. Kekacauan akan menimbulkan suasana darurat. Suasana darurat akan memunculkan satu pihak yang harus menertibkan situasi. Yang punya wewenang ketertiban dalam suasana darurat adalah yang punya bedil. Yang punya bedil akan menjadi penguasa. Itulah logika yang pernah terjadi dalam perjalanan negeri ini. Pesan dan harapanku sebagai rahayat jelata adalah jangan sampai terulang masa itu, masa penuh kengerian, masa penuh pembantaian nyawa, masa penuh represi oleh tangan-tangan berlumur darah dan mereka yang mengangkat bedil.
Oleh karenanya, apakah kenyataan itu hanya "sekedar"? Sekedar nominal angka kenaikan pajak ratusan persen? Sekedar aksi joget-joget di gedung persidangan mereka yang mengaku diri "wakil rahayat"? Apakah sekedar kematian satu nyawa tukan ojol? Tidak. Semua itu adalah sebuah rangkaian kisah, rangkaian narasi bahwa ada ketidakpekaan, ada sebuah situasi di mana rakyat itu menjerit, ada kisah bahwa pajak dan segala macam kebijakan negeri ini hanya menguntungkan sementara orang dan masih merugikan mayoritas rahayat kecil yang lain, ada ketimpangan di sana sini, yang kaya foya-foya, yang miskin makin terasing, ada kontradiksi: di jalan aksi protes; di gedung megah ada pesta pemberian bintang kehormatan bagi mereka yang tak terhormat, ada yang berjoget karena euforia kenaikan gaji dan tunjangan.
Sayangnya, kita sebagai rahayat belum mampu membuat sistem kontrol bagi penguasa. Wakil-wakil kita yang ternyata tikus-tikus got itu tak bisa mewakili. Ya jelas, namanya tikus tidak bisa mewakili manusia. Mungkin baik, di waktu selanjutnya, kita tak butuh wajah-wajah tikus lagi untuk kita pilih. Absen dalam pileg lebih baik, dan itu sah-sah saja jika hanya tikus-tikus yang ada dalam daftar. Kita tak perlu pilih pula calon pemimpin yang bisa dikendalikan tikus atau bahkan maling atau yang membiayai maling dan menyuapi maling-maling itu. Sebagai kawanan rahayat, kita perlu membuat gerakan yang terstruktur dan masif dan konsisten untuk mengawal sekaligus menjadi QC dalam gerak dinamika gubernasi negeri ini. Jangan hanya berdoa. Berdoa itu perlu, tapi berdoa itu harus ada kelanjutannya. Berdoa hanya komat-kamit saja, itu hanya ritualisme kompulsif yang tak berguna. Manusia punya cara hidupnya dan pendiriannya. Berdoa untuk mendapat kekuatan dari Hyang Ilahi dan kekuatan itu perlu kita wujudkan dalam tindakan kita mengontrol negeri ini. Berdoa bukan berhenti pada tindakan doa itu sendiri namun akan berdaya bila lebih diaktualkan dalam tindakan mengawasi, mengontrol, mengkritik, bahkan menjewer mereka yang menyelewengkan marwah gubernasi.
Yah, uneg-uneg ini masih nglambrang dan belum sepenuhnya konkit. Namun setidaknya, aku masih mau peduli dengan korban satu nyawa yang telah terjadi. Adios, Affan Kurniawan! Bahagia di sana, kawan ! Kami masih berjuang di negeri ini....yang tertindas dan masih bisa dilindas.
#behadedofstjohnthebaptist#
Wednesday, August 13, 2025
Merayakan "Merdeka"
Monday, July 21, 2025
Gelar
Gelar adalah nama seorang anak manusia. Dia anak (Wira)Galeng dan Idayu. Aku tertegun dengan ceritanya, kisah hidupnya. Kisahnya membuatku tertegun, entah kenapa. Namun, di saat membaca kisah itu rasa haru dan campur aduk pun muncul. Di akhir hidupnya, ia adalah pembalas dari kebencian dan pergulatan bapak dan ibunya. Namun demikian karena itulah justru perubahan yang tragis pun harus ia jalani. Hidupnya di zaman pergolakan dan perubahan. Di zamannya, ia hidup dalam arus besar zaman yang sedang bergolak. Pergolakan yang pada akhirnya membuat dirinya, keluarganya adalah bagian kecil dari perubahan itu sendiri. Jatidirinya pun selalu dia pergulatkan sebelum ia akhirnya menutup kisah itu dengan kisah-kisah lain yang besar dari kisah bapaknya, ibunya, dan berbagai pribadi zamannya yang melingkupinya.
Namanya disematkan sebagai Paulus di akhir kisah itu. Dari Gelar ke Paulus ada kisah panjang seorang anak manusia yang mencari jatidirinya. Dalam kisah besar itu, yang menjadi tulisan besar adalah kisah bapaknya yang bernama Galeng yang kemudian menjadi Wiranggaleng yang juga adalah Hang Wira. Bapaknya adalah pegulat Tuban yang hidup di masa pergolakan ketika Majapahit - yang nota bene imperium maritim besar di zamannya - runtuh dan surut seiring waktu. Itulah masa di mana Tuban, kota pelabuhan utama imperium itu menjadi penting di zamannya. Mengisahkan hidup anak manusia di masa keruntuhan peradaban memang tidak mengenakkan. Bapaknya adalah seorang juara gulat di Tuban dan ibunya adalah penari yang juga tersohor karena kemampuannya dan kecantikannya yang tak tertandingi di seantero Tuban. Karenanya, pernikahan Galeng dan Idayu adalah pernikahan dua pribadi rakyat biasa yang karena kemampuannya dirayakan dengan gegap gempita oleh rakyat Tuban.
Kisah hidup manusia memang membawa misterinya sendiri-sendiri. Setelah menikah, kedua insan itu tidak segera akan menikmati hidup yang layak. Galeng, dengan kemampuannya, diminta Adipati untuk bekerja sebagai telik sandi ke Malaka karena Portugis sudah mulai melanglang buana mejelajahi nusantara. Tuban, sebagai pelabuhan yang mulai surut pamornya, harus menelisik penyebab dari kemerosotan perdagangan rempah selama ini. Oleh karena itu, sebelum pasangan pengantin baru ini bisa menikmati masa indahnya, Galeng, sang suami harus merelakan waktunya pergi menaati perintah sembahannya. Akibatnya, ia meninggalkan istrinya, Idayu di Tuban sendirian. Di sinilah, petaka itu mulai. Idayu ternyata dirudapaksa oleh Tholib Sungkar Az Zubaid atau yang terkenal dengan Almasawa, seorang Moor yang dipercaya sang Adipati menjadi Syahbandar di Tuban waktu itu. Idayu yang sendirian, membuat Almasawa tak dapat menahan nafsu bejatnya untuk membujuk rayu Idayu dan dengan kelicikannya, ia membius Idayu sehingga tak sadarkan diri dan di saat itulah aib itu terjadi.
Itulah yang kemudian, dalam kisah hitam dan putihnya manusia, atau abu-abu bahkan, apapun bisa terjadi. Kisah Gelar tertimbun sementara oleh kisah bapak dan ibunya. Kisah Gelar adalah kisah anak manusia yang baru pada saat remajanya, ia mendengar selentingan dari sana sini mengenai hidupnya yang tidak mengenakkan. Dia dikatakan anaknya ini dan itu. Ia sendiri waktu itu hanya merasa bahwa apakah benar itu adalah bagian hidupnya. Ia belum bisa berbuat apa-apa. Ia saat beranjak dewasa makin merasa bahwa pendengarannya makin tidak mengenakkan. Selentingan orang mengatakan bahwa bapaknya bukanlah Galeng sang senopati yang merebut "kekuasaan" dari ketidaktahanannya akan sikap sang Adipati yang peragu. Ia terpaksa membunuh Adipati karena seorang muda yang ingin segera mendapat kepastian menyerang atau diserang. Kalah atau menang di zaman kalabendu itu. Akhirnya dengan keterpaksaan yang melayangkan kerisnya dan menusuk tubuh sang pemimpin tak tegas itu, ia akhirnya disegani dan dipercaya prajurit Tuban untuk menyerang musuh yang memang sudah merangsek. Ia lari ke tempat lain guna memimpin pasukan Tuban yang harus mempertahankan diri. Namun apa yang terjadi kemudian, ia harus merelakan dirinya diketahui bahwa dirinyalah yang membunuh sang adipati tak becus memimpin itu. Maka, sebagai hukuman, ia harus rela pergi jauh meninggalkan istriya ke Malaka sekedar untuk mencari informasi mengenai sepak terjang Portugis.Di sisi lain, Idayu sudah mencoba memberitahukan kepada suaminya, Galeng tentang situasi kelamnya. Ia bahkan rela untuk dibunuh suaminya karena aibnya. Namun, Galeng tidak melakukannya. Ia tetap menerima Idayu sebagai istrinya, sepulangnya dari Malaka, dan bahkan ketika istrinya direnggut nafsu oleh Almasawa itu. Hatinya hancur berkeping, namun kedua insan ini tetap menjalani hidup sebagai suami istri. Kerelaan mengampuni dan meminta maaf telah mengutuhkan mereka.
Sayangnya, keutuhan relasi mereka tidak dibarengi dengan apa yang dialami Gelar, si anak yang terus mencari siapakah sebenarnya dirinya. Seorang anak yang karena tragedi bapak ibunya, mendengar ejekan dan cemoohan dari orang lain tentang dirinya. Ia pun membandingkan wajahnya dan wajah bapaknya. Ia pun akhirnya menyadari bahwa wajahnya memang mirip wajah Moor ketimbang wajah Jawa dari perpaduan bapak ibunya. Ia terus merangsek bertanya pada ibunya, siapakah bapak kandungnya yang sebenarnya. Dan ketika tiba saat ia dewasa dan punya Kumbang sebagai adinya, ibunya menceritakan semua karena terpaksa dan didesak Gelar sendiri. Memang, Idayu tak sampai hati sebenarnya untuk cerita, namun daripada terdesak terus, maka ia pun membuka aib dan kenyataan itu. Gelar pun mendendam karena ibunya juga merasakan hal itu. Namun apa daya ia hanya wanita yang tak bisa berbuat banyak. Lalu ketika, mendapatkan kesempatan, di tangan Gelarlah, si Almasawa, bapak kandungya, si orang Moor itu, pecah kepalanya oleh tangan anaknya sendiri dari perbuatan bejatnya pada ibunya.
Demikian pula, Gelar tak tanggung-tanggung, ia pun masih merasakan bagaimana ia terasing dengan identitasnya dan ditinggal lama pergi oleh bapaknya ke Malaka. Baru ketemu lagi ketika ia sudah dewasa. Bapaknya adalah pribadi yang setia baik pada keluarga maupun pada Tuban dan Majapahit. Ia pun galau dengan kekuasaan Demak yang memang sudah meruntuhkan kekuasaan Majapahit karena Kerajaan Islam Demak itu. Namun, ia masih hormat pada pemimpin Demak pertama, yang masih mau menyerbu Portugis di Malaka, yaitu Patiunus. Namun "Pangeran Seberang Lor" itu tak sanggup mengalahkan "Lelananging Jagat" dari semenanjung Malaka. Patiunus kalah. Penggantinya Sultan Trenggono justru tidak meneruskan cita-cita kakaknya ini dan malah menginginkan bersatunya seluruh kerajaan Jawa di bawah kekuasaan Demak. Inilah yang malah melemahkan persatuan untuk mengusir Portugis yang mengangkangi pusat-pusat perdagangan rempah di nusantara. Dan apa yang dialami oleh bapaknya ini pun akhirnya dituntaskan oleh Gelar. Kebencian pada Trenggono dari bapaknya dituntaskan oleh Gelar melalui tangan orang lain, dan tumpaslah Trenggono, musuh bapaknya.
Kebanggaan telah menumpas mereka yang menjadi pihak yang merugikan hidup bapak ibunya, bukan dipuja oleh kedua orangtuanya, justru ini malah menjadi petaka bagi Gelar yang akhirnya harus terusir dari rumah karena sebenarnya orangtuanya tak ingin dia melakukan hal itu. Gelar yang ingin berbakti itu harus merasakan penderitaan orangtuanya karena ulahnya.
Ia pun mengasingkan diri, mencari penghidupannya sendiri. Ia lahir dari keluarga Hindu. Ia sendiri pemuja Budha. Namun, karena pengalaman pahitnya, ia mengubah haluan ikut arus besar pembalikan peradaban yang akhirnya dimenangkan oleh bangsa kulit putih. Ia pun mengubah haluan menjadi Kristen, dengan nama Paulus. Nama yang sarat makna, karena membawa pesan dengannya, perubahan radikal itu ia wujudkan. Arus yang semula dari tradisi keluarganya, ia balik ke arah asur besar zaman bergolak pada waktu itu, dan ia pun menaiki atau ikut dalam arus besar itu dengan identitas Paulus-nya. Paulus adalah rasul besar yang bertobat dari pembunuh dan musuh yang selama ini ia incar, sekarang menjadi bagian dari yang dulunya dikejar-kejar.
Di akhir kisah besar itu, si penulis mencatat: "Demikianlah cerita tentang seorang anak desa lain yang mengemban cita-cita menahan arus balik. Berbeda dari anak desa lain, yang seorang ini tidak berhasil, patah di tengah jalan, namun ia telah mencoba." (Toer, Arus Balik, hlm. 752). Catatan itu memang untuk bapaknya, namun demikian kisah Gelar alias Paulus itu pun adalah kisah arus balik itu sendiri di mana ia merenangi dan menari di kala arus besar itu berbalik mengubah segalanya, mengubah arah hidupnya, mengubah tradisi besar bangsanya, dan mengubah haluan hidupnya, sehingga kapalnya pun mengarungi samudera hidup entah akan berlabuh di mana.
#relungmalamhari#
Tuesday, June 24, 2025
Negeri Penjahat
Dengan pernyataan pejabat publik yang sudah mengingkari adanya sebuah peristiwa kejahatan yang telah terjadi pada masa lalu, ia sudah menjadi bagian dari pelaku yang melakukan tindakan kejahatan itu sendiri. Peristiwa itu bukan saja hanya masalah angka atau kuantitas berapa korbannya. Jika itu hanya satu saja korbannya, korban tetap saja korban. Ia punya nama, identitas, keluarga, dengan berbagai latar yang melingkupinya. Ia punya martabat yang harus dihargai. Ia adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang menyejarah. Peristiwa tidak bisa hanya ditulis hanya dengan sesederhana penyangkalan bahwa tidak ada bukti, tidak ditulis dalam buku sejarah, tidak ada macam-macamnya. Seringkali peristiwa yang menyangkut korban yang trauma akan lebih sulit mengungkapkan diri karena malu, takut dihujat massa, merasa itu aib dan tak pantas.
Peristiwa pemerkosaan massal tahun 1998 karena adanya kerusuhan massal pada waktu itu memang lingkupnya di Jakarta dan sekitarnya. Itu adalah lokasi peristiwa dengan berbagai titik seperti Glodok, Pluit, Sunter, dan beberapa wilayah lagi yang ada. Tahun itu adalah tahun perubahan yang cukup signifikan di negeri ini. Tahun di mana ada sebagian nyawa melayang karena pergantian kekuasaan. Di negeri ini memang ketika pergantian kekuasaan harus dengan sebuah tragedi, biasanya ada korban yang harus dijadikan tumbal. Sekali lagi, setidaknya sudah ada beberapa titik momentum yang ada. Ada tahun 1945 dari kekuasaan penjajahan ke kemerdekaan (situasi perang dunia kedua), dua puluh tahun kemudian tahun 1965 di mana ada pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Suharto, terjadi tragedi berdarah pembantaian 500 ribu sampai 1 juta nyawa melayang, dan tahun 1998, ketika pergantian rezim Suharto ke era yang disebut reformasi (aku tidak menulis dalam huruf kapital karena tak layak rasanya), terjadi kerusuhan dan kekerasan seksual yang dialami sejumlah besar kalangan wanita Tionghoa yang diperkosa dan dibunuh dengan brutal. Tonggak-tonggak sejarah itu menentukan nasib anak-anak di negeri ini sebenarnya, namun sering kali karena kurang menghargai sejarah, maka penentuan itu tak berbuah apa-apa sampai detik ini.Dari peristiwa penyangkalan atau pengingkaran data dan fakta sejarah di negeri ini oleh pejabat publik yang terhormat (dengan nada sinis), aku begitu yakin bahwa memang bangsa ini tidak kenal dan tidak menghargai sejarah. Aku menjadi miris dan prihatin sejak dulu. Yang ada hanya tradisi atau kebiasaan ingin populer, suka yang viral namun tidak mendalam pada diri dan hidupnya. Kesannya adalah sederhana yaitu seorang pejabat menyangkal peristiwa sejarah, namun itu adalah sebuah tindakan berbahaya yang menyangkal jati dirinya atau malah menunjukkan jati diri si penjahat itu sendiri.
Orang kadang merasa kalau sejarah itu harus yang baik-baik, yang "ditulis dengan tone positif". Jika aku bisa misuh di hadapan pejabat itu, yang kuucapkan adalah "positif dantjoek-mu !" Apakah sejarah hanya demi kepentingan tertentu, maka ini yang kemudian sering menjadi perdebatan. Aku pun mengakui bahwa penguasa dan pejabat saat ini adalah bagian dari sejarah pelaku dan korban pada tahun 1998. Ada sebagian mereka adalah pelaku-pelaku kejahatan itu dan ada sebagian dari mereka adalah korban yang "dibius oleh pelaku kejahatan" sehingga mereka mau menjadi bagian dari lingkaran negeri penjahat ini. Yang dulunya adalah anak muda yang keras menentang rezim Suharto pun akhirnya takluk oleh biusan dari penguasa sekarang dan akhirnya mau menjadi salah satu staff-nya atau asistennya. Aku tidak melihat lagi idealisme mereka yang berapi-api zaman itu. Sementara para pelaku kebanyakan adalah mereka-mereka yang dengan jumawanya pembawa senjata yang sah untuk membunuhi anak bangsanya sendiri.
Aku pun heran bahwa sebagian besar anak bangsa dan negeri ini saat ini takluk oleh mereka-mereka yang dulunya dianggap sebagai penjahat dan musuh idealisme mereka. Apakah karena sudah terbiasa terbujuk oleh cuan, maka kita sebagai anak negeri ini rela melacurkan diri pada segala sesuatu atau mereka yang menjadi penjahat dan merusak citra martabat kemanusiaan itu sendiri? Aku menjadi seorang yang rasanya idealisme menjadi anak di negeri ini sudah mati. Dulu di tahun 1998, aku setidaknya menjadi bagian dari mereka yang mengalami kekerasan itu. Walau ketika datang ke Jakarta sesudah kerusuhan Mei. Namun setidaknya, selama Juni-November 1998, kekerasan itu masih terasa. Ketika melihat daerah Glodok, rasanya memang mengerikan. Warna hitam setelah bekar-bakaran itu masih ada. Aura mencekam,takut, was-was adalah nuansa pada tahun itu. Walau ada sepercik cahaya yang pantas dibanggakan dengan tumbangnya rezim diktator, dan munculah udara harapan demokrasi.
Namun semuanya itu semu ternyata. Saat ini atmosfer kesemuan itu makin menyeruak. Masa yang disebut reformasi itu bukanlah masa yang membanggakan, namun masa yang mengecewakan. Harapan itu seolah mengecewakan. Sampai saat ini rasanya dengan pencapaian yang ada, negeri ini masih timpang hidupnya, karena satu hal yang dilupakan yaitu tidak menghargai (sejarah) manusianya. Artinya, negeri ini tak menghargai jati dirinya, tak tahu sejatinya siapa diriku, sejarahku, pola perilakuku, apa tujuanku hidup sebagai manusia negeri ini.
Yah, aku akhirnya hanya bisa mengeluh dan mengesah dalam lembah keprihatinan ini. Aku hanya bisa menyuarakan keprihatinan hati terhadap negeri ini. Bagaimanapun juga ini adalah tumpah darah yang setidaknya membuat aku hidup. Dengan label yang kusematkan sendiri, yaitu aku hidup di "negeri penjahat". Bukan berarti aku mau sok suci dan steril dengan kejahatan. Setidaknya aku konsern dengan kehidupan negeri ini, supaya tidak melupakan sejarah, karena dengan tidak melupakan berarti berani berpijak pada kebenaran. Kebenaran tidak hanya baik-baik saja, namun ada yang menyedihkan bahkan yang mengerikan dan warnanya kelam juga. Apakah kita mau selalu berpola selalu harus ada tumbal jika ada pergantian rezim yang berkuasa ke rezim lain demi nafsu kekuasaan? Tujuh sampai sepuluh nyawa bisa dibalas dengan 500 ribu sampai 1 juta nyawa, apa perlu jumlah yang lebih besar lagi? Kurang berapa nyawa yang harus ditumbalkan di negeri ini?
#inmyroom#
Saturday, May 31, 2025
Random
Mei akan berakhir beberapa jam lagi. Dan aku baru bisa menuliskan coretan yang sebenarnya random dan tak punya hal yang jelas. Bahkan aku pun masih mengingat bagaimana seorang yang bertanggung jawab mengumpulkan personel rapat namun tak jelas isi kepalanya sehingga rapat pun bisa ambyar jadinya. Aku serba menghadapi hal-hal yang random di bulan ini atau bahkan sebelum-sebelumnya. Fokus tak jelas itu ada di depan mataku baik dalam bentuk pribadi manusia, kerjaannya, maupun hasil kerjanya. Tak bisa muluk-muluk berharap akan sebuah komunitas atau hal yang dikerjakan komunitas. Tak perlu muluk-muluk dengan idealisme karena tanpa idealisme pun kita bisa hidup.
Mungkin aku harus berlatih untuk menghidupi realitas random dalam hidup. Mungkin juga aku harus menyadari bahwa random itu adalah bagian dari carut marutnya kehidupan itu sendiri. Ada orang-orang yang hidup dalam idealisme yang mau menata seluruh aspek kehidupan. Ada juga orang yang karena idealismenya malah tak sempat membuat hidupnya tertata karena ada di awang-awang.
Negeri yang disebut "konoha" atau negeri para penduduk +62 pun kiranya tak lepas dari random. Banyak pejabat publik tak punya arah jelas. Ada program ini dan itu. Ada proyek ini dan itu. Akibatnya atau mungkin mekanismenya adalah praktik-praktik pembusukan (baca: corrrupted) pun terjadi. Pembusukan itu mungkin ulah jati diri random tidak jelasnya jalan hidup manusia itu. Ketika tak ada kejelasan, tak fokus, maka jamur atau bakteri pembusuk itu sangat menyenagi mekanisme itu. Bertumbuh suburlah mereka dan pembusukan itu makin nyata dan rata. Proyek besar-besaran untu makan tidak jelas akhirnya juga beracun dan jadi rayahan. Proyek merombak sejarah pun kiranya sarat dengan kepentingan random tidak jelas, yang ujung-ujungnya adalah pembusukan.
Mungkin dunia memang sedang ada dalam fase pembusukan. Pembusukan karena ada randomitas yang menjadi momentum penting bagi bakteri dan jamur pembusuk keadaan. Sejarah hanya mencatat adanya proses pembusukan terus-menerus dalam kehidupan karena ulah random manusianya. Aku sampai saat ini hanya sekedar menyimak proses random dalam tiap harinya.
Di penghujung bulan ini, aku hanya mau menulis pikiranku yang random dan tak ada fokus jelas ini. Mungkin fokusnya adalah sisi random kehidupan itu sendiri. Dan tulisanku ini hanyalah sekilas tuangan pikiran random tak punya fokus jelas. Setidaknya aku meluangkan waktuku untuk menulis karena blog ini pun bertajuk belajar menulis. Setidaknya kebiasaan mengisi tiap bulan pun adalah sebuah kebutuhan yang harus aku jalani, walau kali ini tak ada fokus jelasnya. Aku sedang ada dalam situasi random, tulisannya pun random tidak jelas, dan aku mencoba menikmati kerandoman itu.
#malamhari#
Sunday, April 27, 2025
Warisan
Aku tidak bicara soal warisan harta, namun sebuah kesaksian hidup yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan manusia dan kemanusiaannya. Aku ingat akan sebuah kejadian dalam sebuah keluarga yaitu setelah kematian ibunya, anak-anak dalam keluarga itu malah berkelahi berebut harta warisan. Aku berpikir mengerikan juga jika itu terjadi dalam hidup ini karena kita kadang masih mempunyai egoisme tinggi, kelekatan kuat pada harta benda, dan keinginan untuk memupuk harta dan status sosial. Aku juga paham karena secara realistis manusia selalu akan butuh harta benda selama hidupnya di dunia. Namun bagiku yang terutama adalah sikap terhadap barang atau harta itu. Jika kita mempunyai prinsip bahwa hidup ini mempunyai tujuan dan sarana, kiranya sikap itu dapat dipakai untuk memperlakukan hidup kita sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan tidak akan mempunyai sikap tamak terhadap sarana.
Aku belajar banyak dari warisan seorang Jorge. Lepas dari dia adalah tokoh dunia yang baru saja dimakamkan kemarin, aku merasa lebih nyaman dan dekat dengan menyebutnya Jorge. Aku merasa bahwa sebagai pribadi, pilihan-pilihan hidupnya membawa sebuah perubahan pada sebuah institusi besar dan tua ini. Wajahnya mulai berubah. Arahnya lebih kembali ke asal. Ia tidak justru menampakkan keangkuhan dengan wajah angker sebuah institusi. Itu pertama-tama yang aku kenali dan rasakan. Hal kedua adalah keberanian mengaku salah dan merubah arah. Sebuah institusi tentu punya kesalahan. Ia bukanlah super body yang tak ada salah. Sebuah institusi terdiri dari manusia-manusia. Manusia ada kesalahan dan bisa atau berpotensi bersalah. Apapun jenis dan nama institusi itu pasti ada kesalahan. Dengan mengakui kesalahan bukan berarti menurunkan pamor namun justru mengembalikan kepercayaan karena dengan itu, institusi itu mengembalikan wajahnya dan marwahnya. Yang ketiga adalah dari situ Jorge mengajak kita semua untuk menurunkan ego kita masing-masing. Kita semua punya ego dan ego itu yang sering menghambat pertumbuhan, menghalangi koomunikasi dan relasi, mengkerdilkan pribadi dan yang tersangkut padanya. Dengan mengkerdilkan atau menurunkan ego kita, maka semua penghalang itu terputus. Kita menjadi merdeka bertumbuh menjadi makhluk.Pilihan nama yang kemudian ia sematkan sebagai nama resmi kepemimpinannya juga menunjukkan apa yang ia kerjakan. Fransiskus adalah sosok miskin. Dengan kemiskinan itu, ia bukan hanya mau menunjukkan bahwa dirinya memang menghayati pribadi yang merdeka dan tak lekat pada harta benda duniawi, namun ia adalah makhluk manusia dengan segala macam dimensi kemanusiaan yang melekat padanya. Kemiskinan mengajarkanku pada banyak hal. Kemiskinan bukan hanya simbol. Kemiskinan adalah praktik hidup merdeka, tak terikat, tak banyak kepentingan yang mengekang diri. Kemiskinan memang mengajak kita untuk saling berbagi dan bukan menumpuk harta. Kemiskinan mengajarkaku untuk lebih peduli, solider, bekerja keras dan rela berkurban. Kemiskinan akan selalu memilih kesederhanaan dalam setiap tindak dan pilihan hidup.
Jorge alias Fransiskus alias si miskin dan sederhana itu mewariskan padaku sebuah semangat untuk tetap memperhatikan kemanusiaan. Manusia yang miskin adalah manusia yang terbuka pada bimbingan ilahi dan Roh yang membuka wawasan budi dan hati nurani. Mereka yang miskin tak punya kepentingan. Ketika tak punya kepentingan maka ia adalah manusia yang berani dan tidak takut akan apapun. Kemiskinan itu telah membimbing orang pada keberanian untuk hidup walau di tengah-tengah marabahaya. Dunia yang tak baik-baik saja ini berpotensi selalu dikuasai kegelapan kemanusiaan. Namun Jorge tak gentar walau banyak musuh di sekelilingnya. Sosok kecil dan rendah hati itu memberi warisan mendasar pada dunia yaitu bahwa kesederhanaan (baca: kemiskinan) memanggil kita untuk kembali pada kemanusiaan yang asali dan dasariah. Manusia kecil dan miskin (minorum) adalah manusia yang kembali pada fitrahnya. Maka jika dunia dihuni oleh manusia-manusia yang kecil, akan tumbuhlah kemanusiaan yang murni.
Sayangnya dunia saat ini mengartikan yang kecil dan miskin (minorum) itu sangatlah negatif. Bahkan memang "minor" akhirnya. Kemiskinan identik dengan kekurangan, kepahitan, kemelaratan yang mencabik kehidupan, ketidakberdayaan yang bisa diperdayakan, kebodohan yang selalu ditipu oleh yang berkuasa. Semua nada itu tidak ada keutamaannya. Oleh karena itu, kiranya, warisan akan menjadi yang kecil dan miskin itu adalah yang utama bagiku. Menjadi miskin dan kecil membuat hidup ini makin merdeka, tak punya kepentingan dan ego kita lepaskan. Ketika semuanya terjadi, maka bumi ini menjadi firdaus. He is a man of peace. He is a welcome person. He is a man of prayer.
#morningtime#

.jpeg)







.jpeg)

