Tuesday, December 16, 2025

Sampai Kapan Kita akan Bertahan

Bukan hanya karena bencana di Sumatera aku menulis ini. Lebih-lebih karena aku muak dengan gaya dan cara bertindak dari pengurus negara sampai saat ini. Bencana ini hanya satu dari sekian malapetaka yang masih dan terus akan terjadi di negeri ini. Negeri yang memang sudah sejak dahulunya adalah negeri yang silih berganti akan seperti ini dengan bencana alam maupun bencana kemanusiaan. Bencana alam adalah genetika negeri ini karena kita di atas lempeng api yang tidak pernah tidur untuk sewaktu-waktunya membakar apa saja yang di atasnya. Lempeng itu akan terus bergerak karena bagian dari kehidupan planet ini. Namun demikian, bencana kemanusiaan akan lebih dahsyat hadirnya karena itu sudah menganak-pinak dilahirkan dari mentalitasnya dengan trauma-trauma yang diakibatkan oleh ketidakpedulian manusianya terhadap manusia yang lain. Kebenaran biasanya akan samar, namun kebenaran biasanya akan hadir dan memberitahu kita juga lewat bencana dan suasana yang tidak mengenakkan lainnya. 

Pagi tadi ada sebuah kebanggaan namun kebanggaan itu kiranya menjadi semu ketika keadaan realnya adalah kebanggaan yang bisa saja akan berubah di suatu saat. Banyak dari kalangan tua membanggakan negeri ini yang maha luas itu bertahan dari tahun ke tahun. Aku hanya nyeletuk, "itu kebaggaan orang tua, yang mengimaginasikan Majapahit, namun kami orang muda hanya bisa bertanya, 'sampai kapan kita akan mampu bertahan seperti ini?' " Demikian celetukku. Aku menyadari bahwa jika imaginasi itu tidak pernah akan kita rawat dan kita melalaikan keadaan real kita, maka mendingan kita berpisah dan mengadakan kesepakatan sendiri-sendiri untuk mendirikan sebuah negara yang lebih kecil-kecil daripada kesulitan menyelenggarakan negara yang maha luas dan tak realistis ini. Zaman adanya diktator sebelumnya kita sudah terlalu lama hidup bukan dalam persatuan tapi persatean. Yang penting harus disate, untuk disamakan dalam satu tusuk bambu atau jeruji logam itu. Kesatuan bukanlah kesatean. Kesatuan itu mengandaikan adanya penerimaan keberagaman dan lebih realistis mengelola hidup bersama. Idealisme tidak selamanya akan merawat hidup bersama jika ada ketimpangan di sana sini. 

Yang lain adalah soal cara bertindak (selain kebanggan merawat imaginasi kesatean - jika tidak mau disebut kesatuan) untuk mengelola hidup bersama (bonum commune) kita. Apapun bentuk nation state kita, tidak ada yang "harga mati". Semua itu ada dalam dialektika. Semua ada dalam on going, semua ada dalam on the process of becoming. Seandainya dalam proses menjadi itu ada kesepakatan lain yang mengubah cara bertindak kita, maka kita pun harus dengan realistik menerima dan menjalankan. Tidak selamanya negara yang kita bangga-banggakan itu bentuknya kesatuan, bisa jadi federasi atau bahkan bisa jadi kesepatakan atau mufakat itu kita lepas dan kita berdiri sendiri-sendiri entah itu sesuai pulau atau latar belakang suku kita. Aku tidak alergi akan perpecahan yang mengubah dan membuat sebuah formasi baru. Aku tidak menampik adanya negara kecil-kecil yang mungkin di sana akan lebih mewujudkan "keadilan sosial bagi seluruh rakyat" dengan lebih baik. Aku juga akan mendukung semua cara untuk mewujudkan kemerdekaan sebagai bagian dari "kemanusiaan yang adil dan beradab" ketimbang hanya mempertahankan bungkusnya saja namun dalamnya itu berisi ketidakadilan, bencana, korupsi, dan segala bentuk perampasan kehidupan.  

Di saat bencana ini terjadi, di sanalah kita diuji. Ketika suasana real adalah hidup yang tidak baik-baik saja, di sanalah kita sedang diuji untuk bersungguh-sungguh komitmen dengan hidup itu sendiri. Apakah aku sungguh mau mengusahakan sesuatu yang perlu dan intinya saja atau aku hanya perhatian pada luaran, tampilan, polesan? Kerja keras dan kesederhanaan adalah mentalitas yang perlu kita bangun. Tentu itu perlu didukung oleh kejujuran dalam kerja kita dan cara kita bertindak. Aku memoles diri dan aku mau menutupi kerapuhanku, biasanya aku hanya menunggu bom waktu saja kapan aku akan bertahan dengan hal-hal yang tidak perlu ini. Mentalitas kita sudah terlalu bebal dengan hal-hal yang perlu. Kita terlalu lama hidup dengan polesan-polesan asesoris kehidupan yang tak perlu. Kita terlalu bangga dengan kebesaran luasnya wilayah. Kita bangga dengan menjadi "bangsa yang besar." Kita terlalu lama membiarkan elite politik yang meninabobokkan kita dengan tipu daya mereka dan kita tidak berani melawan. Struktur hidup bersama dalam mengurus bonum commune sudah kita biarkan korup sejak lama. Orang-orang yang mengurus negara ini sudah terlalu lama bukan melayani tetapi pejabat alias elite. Mereka ada karena tujuan kita hidup bersama, bersepakat, mengadakan kontrak sosial ini dan mereka kita serahi tugas mengurus semua itu. Namun jika kemampuan mereka tidak ada, ya seharusnya kita bisa menolak mereka. 

Pemikiranku adalah tentang hidup bersama, pengelolaannya, dan pertanyaan cermin bagi kita: "sampai kapan kita akan bertahan dengan hal-hal yang tampak lumrah namun sudah tidak sesuai ini?" Sepertinya, kita perlu mengevaluasi diri. Perlu ada sebuah tindakan keras dan tegas dari kita manusia yang adalah masyarakat ini. Tindakan itu adalah sebuah tuntutan apakah masih mau melayani masyarakat atau kita paksa mundur dari tugas itu (aku tidak mau menyebut itu sebagai jabatan, karena akan melahirkan kata pejabat). Mereka kita tugasi maka mereka adalah petugas kita. Kalau melihat fenomena gerakan masyarakat sipil yang dikoordinasi oleh Ferry Irwandi, aku sudah tidak kaget lagi. Hidup di negeri yang maha luas ini membutuhkan petugas yang murah hati, tak cari nama, tak memanfaatkan bantuan untuk numpang status sosial saja, penuh liku birokrasi yang tak mencerminkan pelayan dan pengurus bonum commune. Hidup di negeri ini bagiku hanya seperti kost di republik yang lupa akan ke-republik-annya. Semenjak kita lahir, kita sudah tidak dilayani oleh lembaga yang namanya negara. Kita hanya hidup di sebuah ruang republik namun kita harus bayar. Ada berbagai harga yang harus dibayar sebagai masyarakat. 

Kita perlu sadar akan keberadaanku, siapa yang kupercaya dan tidak bisa dipercaya, bagaimana sebab dan akibat dari cara bertindak kita sebagai warga republik yang diurus oleh para pengurus yang tidak becus ini menjadi bagian dari hidup kita. Selebihnya, kita bernegara ini hanya mengurus sendiri. 


#dipagihari# 

Wednesday, November 26, 2025

Ke Kedalaman

Kedalaman bukan hanya dalam arti ukuran fisik  yang diukur dengan meteran atau penggaris atau alat ukur kedalaman atau ketinggian secara geometrik. Aku hanya ingin membicarakan bahwa kedalaman ini adalah unsur peziarahan jiwa dan batin dalam memasuki tahap demi tahap perjalanan hidup. Setiap tahap hidup ada benang merahnya. Setiap jejak itu adalah tapak-tapak yang disadari dan ditelusur kembali. Inilah aktivitas yang memang perlu atau tidak hanya manusia yang memiliki kemampuannya. Manusia sebagai makhluk yang terus mencari makna, mampu merefleksikan dirinya, mampu menemukan jejak hidup di masa lalu, sekarang dan berspekulasi akan masa depan, walau tidak sepenuhnya yang dinamakan masa depan ada di tangannya. Aku menyadari bahwa tidak semua bisa dikontrol oleh kemampuannya.

Dalam keadaan di mana ia tidak mampu menguasai hal-hal tadi, maka yang kemudian perlu dibuat adalah melihat hidup ini jauh lebih realistik ketimbang terobsesi untuk menguasai. Ketika seseorang menemukan dirinya adalah diri real di lini masa saat ini, maka aku menemukan diriku saat ini. Namun demikian, aku pun menemukan diriku yang terbentuk ini karena ada dimensi masa lalu yang juga "telah" membentukku. Aku sengaja memberi tanda petik pada kata 'telah' karena pertimbangan waktu saja. Masa lalu telah membentukku sedemikian rupa sehingga menjadi sekarang ini. Masa lalu telah mengukirku secara sadar atau tidak dan akhirnya aku sekarang ini yang hidup. Apakah perlu meratapi atau mensyukuri? Nah, itulah yang akhirnya menjadi penting digali sehingga menghasilkan jawaban atasnya. Masuk ke dalam inner-self kita adalah sebuah peziarahan juga. Memasukki diri dan jagat-nya adalah sebuah keberanian. Tidak semua orang berani karena akan menghadapi hal-hal yang tidak hanya menyenangkan tetapi lebih pada banyaknya kerapuhan.

Aku bisa mengutuki atau meratapi masa-laluku karena aku mempunyai obsesi akan diri saat ini dan yang akan kuukir nanti. Mengapa demikian? Kadang dalam kisah hidup manusia, ada yang merasa hidupnya penuh kemalangan, merasa kurang beruntung, koq tidak bahagia, dan ada hal-hal yang serba tidak nyaman. Itu terkait dengan apa yang dirasa secara pribadi dan ada yang terkait dengan relasinya dengan pribadi-pribadi saat ini atau ruang dan waktu saat ini. Katakanlah, aku merasa koq aku sering tidak suka dikritik oleh orang lain karena kritikan itu selalu membuatku agresif menyerang orang lain. Atau ada kesadaran lebih dalam bahwa ketika aku dikritik orang lain, aku teringat akan diriku yang meminta dipahami dan dipuji, eh koq aku mendapatkan hantaman kritik.  Setelah ditelusur, ternyata dalam sejarah hidupku aku memang mempunyai sebuah pengalaman bahwa relasiku dengan ibuku adalah relasi yang hanya menurut saja dan hanya bisa menurut saja tanpa mempunyai daya untuk berdiskusi, menyampaikan pendapatku dan aku mengalami represi selama awal usia emasku. Dari sana aku sebenarnya merindukan sebuah ruang dipahami, aku merindukan ruang di mana aku pun bisa saja gagal, jatuh, tidak sesuai idealisme namun aku adalah aku yang juga butuh dipahami.

Aku merasa tidak nyaman kalau memprotes apa yang dilakukan orang lebih tua dariku karena aku ada dalam dilema (1) kalau aku melawan, aku selalu dimarahi dan kemarahan itu membuatku tak berdaya karena aku tidak dianggap atau tidak diperhatikan atau tidak diberi ruang merdeka atau (2) aku tidak boleh membantah karena itu adalah DOSA. Itulah yang membuatku terkungkung dalam keberadaanku saat ini, karena itu terekam dalam memori hidup tubuhku. Itulah tegangan yang memenjarakan diri. 

Di sisi lain, seorang anak manusia akan bisa bersyukur atas pengalaman ketidaknyamanan masa lalu karena hal di atas ketika dirinya menyadari (dalam proses reflektif-nya) bahwa ketidaknyamanan masa lalu adalah sebuah anugerah di balik pengalaman negatif itu. Maksudnya demikian, ketika pribadi itu menyadari bahwa ada sebuah konflik terpendam di masa lalunya, ia mulai menyadari lewat perjuangannya bahwa apa yang dilakukan orang terdekatku adalah sebuah usaha yang ia bisa demi dirinya. Mungkin aku belum melewati masa menerima diri jika belum menelusuri lorong-lorong hidupnya di mana sebenarnya perlakuan ibunya adalah tindakan melindungi dan menyayangi jika belum direfleksikan. Penerimaan diri atas perlakuan kasih sayang itu bisa saja caranya adalah kurang sesuai kemauan si kecil yang sarat dengan super ego dirinya. Dan si kecil itu merekam dalam hidup tubuhnya dan akhirnya menimbulkan letupan-letupan agresi yang tak disadari. Misalnya, bisa saja seseorang tidak dekat dengan sosok ortunya karena merasa terus dipaksa sejak kecil dan akhirnya menyimpulkan diri bahwa orang tua tak mencintainya. Namun sebuah peristiwa kecil terjadi di masa remajanya, ternyata orangtuanya dengan penuh usaha mendatanginya di saat moment biasa namun berharga, dan itulah yang menyembuhkan. Memori hidup tubuhnya akhirnya mengubah simpulan itu, yaitu ternyata orangtuaku mencintaiku. Hatinya terharu dan di sanalah terjadi rekonsiliasi. Aku sudah tidak lagi menyebut orangtuaku membenciku atau tidak menyayangiku atau apapun itu. 

Kedalaman biasanya ditemukan ketika jiwa seseorang itu ada dan menyediakan diri dalam keheningan. Ruang dan waktu hening itu perlu diusahakan. Tak mudah memang dalam hiruk pikuk hidup yang hanya menuruti jadwal harian yang tergerus oleh padatnya rutinitas atau aktivitas sehari-hari. Kadang kita pun perlu menyingkir dari kepadatan rutinitas. Kedalaman itu demi menumbuhkan jiwa yang kerdil menuju pada kedewasaan hidup. Menuju pada kedalaman adalah pengembaraan jiwa yang mau memaknai hidup bukan sekedar hidup yang biasa namun ada makna dari setiap jengkal atau rentangan sekecil apapun jejak hidupku. Kedalaman mengajakku untuk berani menghadapi setiap warna dan wajah dari hidupku, baik yang ceria atau yang bopeng-bopeng tak elok. Itulah tadi kusebut sebelumya sebagai peziarahan ke dalam inner-self. Kadang aku menolak ketidakelokan itu, namun sayangnya aku pun harus menghadapinya, menerimanya, bahkan memeluk kesemuanya itu karena itu adalah aku. Aku pun perlu memaknai keterlemparanku ke dunia ini supaya aku tidak terjebak dalam keterasingan hidup. Aku adalah orang asing dalam pengembaraan di dunia ini namun aku tidak mau terasing dari diriku dan duniaku. 


#eveningtimewiththerain# 

Monday, October 27, 2025

Keberacunan dan Kegelapan

Bangsa yang hidupnya ada dalam kegelapan tidak akan melihat terang. Terang bagi bangsa ini hanya sekedar sepercik cahaya yang menyinari memori sesaat belaka. Tidak ada bangsa yang lebih menyedihkan daripada bangsa yang  hidupnya menyukai kegelapan. Itu hanya sekelumit ucapan mazmur pribadi di tengah hiruk pikuk kehidupan bangsa yang entah mau kemana pergi dan berlalunya nanti. Jargon-jargon yang selama ini menggaung seolah-olah hanya angin lalu saja. Kadang kita dibius dengan jargon-jargon memabukkan dan kita tenggak tanpa lambaran makanan lain sehingga cepat memabukkan. Ada yang mengatakan "Kita adalah bangsa yang besar. Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan para pahlawannya." Ada lagi yang mengatakan bahwa "NKRI harga mati". Semua itu adalah jargon-jargon dari muntahan racun memabukkan yang disebut sebagai ultra otoritarianisme belaka. Setelah aku menelisik, bangsa ini memang lahir dan dilahirkan di masa nasionalisme didengungkan dan oleh kekuatan fasisme yang menjadikan bentuk negara dan orang-orang di dalamnya mencetuskan sebuah negara bangsa. 

Aku bisa memahami bahwa di tengah-tengah lahirnya negara bangsa ini ada kekuatan yang selalu kuat entah mendominasi atau tidak, pengaruhnya tetap ada dan terasa. Ada sebuah negara di dalam negara. Kekuatan itu nyata dan di zaman rezim sekarang tengah dihidupkan kembali. Rezim yang sarat racun dan kegelapan tengah berkuasa di bumi ini. Hal itu juga tidak luput dari pengaruh negara bangsa lain yang situasinya sebelas dua belas. Artinya, jagat gedhe sedang menampilkan tokoh-tokoh yang senada dan seirama.  Entah itu di negara yang superpower atau di negara -negara kere, kiranya tokoh-tokoh yang sedang dimunculkan oleh dunia ini adalah mereka yang memang berwatak pemimpin yang populis kapitalis. 

Dari waktu ke waktu, di masa rezim ini yang belum berumur panjang, sudah banyak hal yang terjadi. Dan itu memilukan. Namun demikian, ini bukan hanya dari pengelihatanku dan mungkin karena aku sudah mempunyai sentimen kurang baik. Ada banyak pemberitaan dan kenyataan bahwa di sana-sini ada banyak kejanggalan dilihat dari kaca mata orang yang memang mengidealkan soal tata kelola dalam hidup bersama. Ada ironi di sana-sini ketika melihat ketidaksehatan dalam menyusun para pengelola negara ini. Kegemukan sebuah pengurus adalah cermin kekurangbecusan seorang pemimpin dalam mengelola sebuah komunitas negara bangsa. Hal lain adalah membuat lembaga-lembaga baru yang menghambur-hamburkan uang adalah sebuah realitas bahwa pemimpin ini adalah pemimpin yang tak pernah mengalami situasi sulitnya hidup sebagai rakyat kecil. Walau jargonnya adalah demi kesejahteraan masyarakat, demi mengentaskan kemiskinan, demi rakyat kecil, semua itu hanya omon-omon saja. Kenyataannya, si pemimpin ini adalah seorang yang tak pernah merasakan kemiskinan materi. Yang kemudian muncul lagi adalah kejadian-kejadian massal di mana banyak anak SD, SMP, SMA/K keracunan makanan. Makanan itu dari para pengurus negara. Idenya adalah memberi makan bergizi pada generasi muda yang masih belajar di tingkat dasar dan menengah. Ide dan cita-cita yang mulia. Namun yang baik itu perlu dibarengi dengan tindakan detil yang baik juga. Ternyata itu terlewatkan. Ketika banyak anak keracunan, anehnya adalah para pengurus negara ini hanya diam saja, ada yang menangis tipu-tipu, ada yang tanggapannya salah dan sebagainya. Misalnya, ketika ahli gizi dan para pemantau keracunan ini bicara di parlemen, salah satunya adalah "guru dijadikan budak proyek makan gratis ini", maka tanggapan pengurus negara yang cetek pikirnya adalah segera memberi tambahan uang bagi guru-guru yang harus mengkoordinasi makanan itu. 

Aku sekali lagi tak habis pikir. Aku sudah cenderung muak dengan rezim yang mempermainkan pengelolaan hidup bersama ini entah dengan aturan mainnya diubah-ubah seenaknya, dengan ongkos mahal dalam hidup bersama kita, dan juga kekuatan represif yang saat ini sudah mulai merebak di sana-sini dan akan, sedang dan sudah berkuasa lagi. Mereka-mereka yang memakai lars panjang dan pengoperasi sah senjata adalah pihak yang tak kusukai. Aku sebagai pribadi sudah pernah mengalami betapa menindasnya jika kaum bersenjata ini berkuasa. Mungkin saat ini belum sangat terasa namun sudah kelihatan di mana-mana. Dari urusan sampah sampai dapur, mereka ada. Dari penyelewengan arti ketahanan pangan mereka dicawe-cawekan oleh rezim yang memasukkan para kaum bersenjata ini ada di dalam dan mengurusinya. 

Yang aku rasakan sampai saat ini adalah sebuah kekuatiran dan ketakutan bahwa racun dan kegelapan itu akan dibawa kembali menyelimuti hidup negara ini. Keracunan itu hanya bagian kecil dari genosida yang mungkin sedang dirancang. Kalau hanya terjadi satu yang keracunan, itu tragedi. Tapi kalau yang keracunan itu ribuan, itu hanya statistik. Itulah cara pandang pemimpin otoriter - represif - haus darah. Wajahnya kelihatan manis dan gemoy namun di dalamnya adalah wajah bengis iblis dari neraka jahanam yang siap melalap hidup semua makhluk. 

Mungkin inilah tulisanku di masa kegelapan dan keracunan. Aku tidak tahu harus sampai kapan masa ini akan berlalu. Orang kita hanya punya memori pendek-pendek, yang akan mengangkat pembantai jutaan orang jadi pahlawan, yang membiarkan ketakutan kembali mengontrol diri kita, yang membiarkan kita alergi membaca buku-buku bermutu, dan yang menjerumuskan hidup kita pada abad gelap (obscurum saeculum).    



#pesimisvsoptimis#

Monday, September 15, 2025

Ternyata...

Awalnya ragu
Sebuah keraguan pernah muncul dalam diriku. Hal itu terkait dengan apakah anak muda zaman ini meu berpolitik, karena mereka sudah terfasilitasi dengan banyak hal. Aku sempat menyatakan hal ini di beberapa kesempatan, entah itu dalam situasi formal atau dalam percakapan personal. Aku merasa bahwa kemerosotan dan kebusukan yang terjadi di dunia saat ini harus berubah. Perubahan itu harus radikal. Bahkan aku selalu berpikir, harus ada sebuah pembalikan besar-besaran entah lewat perang atau bencana alam dahsyat, supaya ada pembersihan besar-besaran. Ini adalah harapan yang mengandaikan sebuah kesadaran dari dalam juga. Kadang kesombonganku mengatakan bahwa pada saat dulu, saat berjuang di tengah melawan musuh bersama, semua itu adalah momentum mengubah nasib sebuah bangsa. Saat ini musuhnya banyak, bahkan kadang aku sendiri sulit menemukan musuhnya siapa untuk dilawan. Seolah-olah, dunia sudah dininabobokkan oleh kemewahan dan fasilitas itu sendiri. Akibatnya, generasi zaman ini sudah dengan enaknya tidak perlu berjuang keras bahkan melawan kekuasaan. Itu bayangku dulu, sebelum 25-31 Agustus 2025 dan ternyata itu masih berlanjut ke bulan September ini. Bukan hanya lokal di Indonesia namun merebak ke Nepal, Philipina, dan Perancis.

Keraguan itu mulai sirna. Ada musuh bersama yang bisa dilawan dan itu akan tetap ada di sepanjang segala abad jika kita tidak sadar. Musuh itu selalu akan melawan kesadaran individual maupun komunal bahwa keadilan dan kesejahteraan harus dihadirkan. Musuh itu bisa berwujud apapun. Intinya, dia menghadirkan ketidaksadaran, ketidakpedulian, memberangus pemikiran kritis, meninabobokkan manusia dengan fasilitas, namun di sana dia terus membajak marwah apa yang seharusnya terjadi dalam kehidupan bersama. Biasanya musuh itu ada dalam pengurus negara. 

Perlu ada trigger sebuah penderitaan dan penindasan
Keadaan yang tertindas membuat orang kalah atau berani melawan. Mungkin awalnya adalah kalah dan tak berdaya. Namun jika ketertindasan dan perasaan yang sama dialami banyak orang dan kesadaran itu membawa pada sebuah kehendak kuat untuk melawan, maka akan ada jalan untuk sebuah gerakan perlawanan besar. Protes merebak dari soal perasan keadilan yang dilukai. Ketidakadilan terjadi. Pemicunya adalah tindakan pamer yang ditunjukkan dengan masif. Orang tidak sadar bahwa hidup kita saat ini tidak bisa lagi ditutup-tutupi atau ibaratnya kita itu ada dalam rumah kaca yang bisa terlihat dari mana dan kapanpun oleh siapapun. 

Ketika perasaan ketidakadilan yang terjadi di masyarakat manusia, maka energi ketertindasan dan menuntut keadilan dikembalikan itu bisa berwujud gelombang protes perlawanan. Protes itu bisa mengakibatkan kerusuhan bila kekuasaan masih represif dan tidak responsif. Di Indonesia hal itu disebabkan oleh rasa keadilan yang dilukai lewat kebijakan penguasa menaikkan pajak dengan alasan efisiensi namun pengurus negaranya berfoya-foya, membuat kebijakan yang tak masuk akal, aparat bersenjata masih represif dan sangat suka dengan kekerasan. Di Nepal, dengan kondisi internal yang mirip dengan Indonesia, ditambah lagi pemblokiran berbagai platform medsos, akhirnya menyingkap kerapuhan negara itu dan kaum muda yang mengamuk. Di Perancis, banyak orang protes dan rusuh karena kebijakan mengenai penambahan waktu kerja dan penghilangan beberapa hal yang berpengaruh pada dikuranginya hak-hak warga sipil. Banyak warna di tiap negara namun satu rasa yang sama yaitu keadilan harus dikembalikan. Masyarakat versus pengurus negara tak bisa dihindari lagi. Padahal seharusnya pengurus negara adalah representasi warga itu sendiri, namun sudah lupa daratan dan menjadi elite yang tak tersentuh dan tak pernah terkoneksi dengan masyarakat biasa.

Apapun itu suasananya, satu hal yang bagiku berguna untuk sebuah pembelajaran global yaitu bahwa kehidupan ini haruslah demi sebuah kesejahteraan bersama (bonum commune). Itu masih relevan. Jika kesejahteraan bersama sudah dikhianati maka keadilan sosial (social justice) juga sudah dibajak oleh segelintir orang (elite). Di sanalah muncul penindasan, ketidakadilan, abuse of power, kesewenang-wenangan, dan sebagainya. Penindasan memunculkan pemberontakan. 

Tidak hanya sebuah peristiwa lokal, tapi global
Peristiwa protes dan kerusuhan di beberapa lokasi di dunia ini tidak hanya monopoli di Indonesia. Ternyata itu berdampak ke berbagai belahan dunia. Artinya ada kecepatan perambatan model protes, namun di sisi lain ada situasi yang sama di beberapa negara. Fenomena global ini ternyata mencerminkan status quo beberapa gubernasi penguasa di beberapa negara. Di Perancis yang adalah pelopor sistem demokrasi itu sendiri juga mengalami hal yang sama. Ternyata pemerintahannya tidak sebaik yang menjadi bayangan sebelumnya. Bayanganku, pemerintahan negara-negara Eropa yang sudah mapan adalah baik juga. Namun ternyata tidak. 

Kuakui bahwa kecepatan dampak ini adalah karena faktor kecepatan penyebaran di dunia internet dan media sosial. FB, IG, Tiktok, X, dan lain-lain adalah sarana penyebaran efektif global. Sarana ini sudah menjadi senjata generasi saat ini untuk berekspresi, menyuarakan pendapat, bekerja, dan apapun bisa diluapkan di situ. Dalam hal ini, aku bangga dengan kecepatan yang tersalur oleh generasi muda saat ini. Globalitas efek ini akhirnya yang menggaung adanya perasaan yang sama. Dukungan luas cepat sekali merebak. Dan itu sangat efektif. Warga global sudah bukan hal asing lagi. 

Komunikasi generasi muda dan tua yang rapuh dan terhambat
Aku melihat dari hal komunikasi antar generasi juga dalam fenomena protes dan kerusuhan itu. Ada sebuah kemacetan komunikasi. Ada kesenjangan antara generasi tua (penguasa) dan generasi muda (masyarakat). Ada kesenjangan kecepatan antara yang muda dan tua. Penguasa biasanya merespon lambat segala macam tuntutan publik. Hal itu disebabkan oleh kenyamanan, sehingga kehendal politiknya jadi melemah dan tentu gerak birokrasi yang lemot akan menjadi wujud berikutnya. 

Saat ini kecepatan itu adalah kebutuhan di sisi tertentu. Kecepatan merespon akan menentukan sebuah kepuasan publik atau tidak. Kepuasan publik akan menentukan peminatan dari sebuah sistem atau sosok tententu. Minat terhadap sosok/sistem menjadikan penentu keberhasilan sebuah pemerintahan atau politiknya. 

Di sisi lain kerapuhan dan keterhambatan komunikasi membuka mata kita bahwa perlu ada keterbukaan dari kedua belah pihak, yang tua dan muda, yang berkuasa dan warganya, karena bagaimanapun gubernasi adalah tentang seni berkomunikasi. Kekuasaan adalah komunikasi itu sendiri. Apalagi saat ini, media sosial mengatakan pada kita bahwa siapa yang melek media adalah dia yang menguasai, walau belum tentu berkuasa secara politik praktis. 

Sebuah peluang gubernasi global dengan internet-sosmed 
Jika warga dunia global ini cepat sekali menyebarkan pengaruh, maka potensi yang baik adalah bahwa batas-batas negara akan segera terhapus pelan atau lambat. Gubernasi bisa terjadi lewat jejaring internet dan media sosial. Di Nepal pun pemilu cepat bisa dengan platform tertentu dan tanpa harus hadir secara fisik dengan pencoblosan kertas (konvensional).
 
Tugas-tugas yang lebih bisa dipantau oleh warga masyarakat akan lebih mudah transparan dan akuntabel dengan bantuan sarana digital lain. Oleh karena itu, Ahok pernah berkata, "Jika para pejabat mau mempertanggungjawabkan kerjanya, semua harus transparan, ditunjukkan ke publik kinerjanya, bahkan gajinya." Aku sangat setuju dengan model seperti itu, karena publik atau warga atau masyarakat bisa melihat dan mengecek seberapa benar dan tepat sasarannya sebuah proyek itu dibuat, didanai, dikelola dan dikawal. Itulah bonum commune. Publik diajak untuk melihat dan mengawal. Memberi masukan atau koreksi itu hal yang bukan sesuatu yang tabu dan membuat alergi yang dikritik. Itulah kontrol kekuasaan/ wewenang.  

Feodalisme harus dilawan
Yang tidak bisa dilupakan lagi adalah bahwa musuh bersama yang harus dikalahkan adalah di zaman ini adalah penjajahan dari mentalitas feodalistik. Bentuk negara apapun dan sistem apapun, jika tidak hati-hati, kekuasaan akan berubah menjadi feodal. Artinya, sekelompok elite akan menampakkan diri sebagai yang "terpilih" dan menuntut adanya pengecualian, diistimewakan, berjarak dengan publik. Ini yang kemudian menjadikan mereka layaknya para dewa yang harus diberi sesaji. Mentalitas feodalistik ini bisa menjangkit ke mana saja dan kapan saja zaman ini berjalan. Kalangan gen Z pun bisa terkena ini kalau ia selalu menikmati previlese di rumahnya. Akibatnya, orang menjadi tak peka, kurang punya empati karena semua harus meladeni dia sebagai "elite". Itulah musuh abadi bagi semua orang. Perancis yang pernah berkar dengan Revolusi-nya yang mencetuskan "Liberte, Fraternite, Egalite" pun kena masalah ini.

Perkara mentalitas harus dibangun sejak dini. Pendidikan egaliter bukan berarti melalaikan saling hormat satu dengan yang lain. Menghargai mereka yang tua bukan lantas menegaskan terus budaya feodal. Jika pendidikan itu benar, maka relasi setara itu bisa dibangun. Relasi tak setara karena ada sebuah pola pembangunan jiwa yang mau melanggengkan status quo mereka yang tidak mau bergerak dan berubah. Menghormati mereka yang lebih senior bukan lantas menciptakan budaya senioritas. Menghormati orang yang lebih tua bukan berarti harus selalu menomorsatukan yang tua dan tidak bisa berpandangan bahwa kaum muda tidak bisa diandalkan. Justru dalam sebuah komunitas yang hidup, relasi dan pola relasinya harus dinamis. Yang tua menghargai yang muda, yang muda juga belajar dan mau menghargai yang tua. Sekali lagi, ini soal mentalitas yang bisa menjangkit di berbagai generasi. Hanya satu cara: feodalisme harus dilawan.

Meredefinisi hidup bersama
Ada jargon bahwa bentuk sebuah bentuk negara adalah harga mati. Dengan hal yang terjadi akhir-akhir ini hal itu tidak lagi relevan. Bentuk sebuah negara adalah sebuah sarana bagi hadirnya social justice dan bonum commune. Jika bentuk sekarang ini tidak menghadirkan itu, maka harus diredefinisi lagi bentuknya. Mungkin jika bentuknya tidak masalah, perlu melihat pengurus negara dan sistemnya. Jika tidak, perlu lebih jauh lagi, mekanisme dan siapa yang harus mengecek dan menyeimbangkan kekuasaan. Kontrol kekuasaan dan memastikan mekanisme itu berjalan adalah tugas yang tidak mudah. Tugas kita semua yang tidak boleh lelah mengadakan check and balance segala hal yang terjadi. 

Hidup bersama tidak lagi terbatasi oleh border wilayah negara, baik itu republik atau kerajaan atau apapun. Saat ini sebagai warga global planet ini, orang bisa saja menjalankan gubernasi dengan lintas batas teritorial. Dengan sarana media komunikasi dan informasi, masyarakat manusia jauh lebih bisa berkomunikasi satu sama lain dari jarak jauh dan waktu yang berlainan dengan lebih mudah. Ruang dan waktu bisa dicabut dengan kemajuan teknologi komunikasi dan informasi. 

Oleh karena itu, res politica masih relevan. Bahwa ada urusan bersama itu adalah hal yang wajar. Ketidakwajaran terjadi karena ada segelintir orang yang melencengkan dalam mengurus res publica jadi res privata. Hasilnya adalah ketidakadilan dan tidak terjadi kesejahteraan bersama. Politik bukan soal meraih kekuasaan atau merebutnya. Politik adalah seni mengurus urusan bersama sehingga tidak ada yang dirugikan. Atau setidaknya antar individu saling belajar berkeadilan, berbagi, berkontribusi, mengawal dan tidak sarat kepentingan bagi kehidupan bersama demi kesejahteraan bersama dan keadilan sosial itu. Mengurus urusan publik dibutuhkan mentalitas "mau repot"dan tidak lelah untuk selalu berbenah. 


#inmyroom#

Friday, September 5, 2025

Res Publica

Hal publik itu sekarang terkenal dengan nama Negara. Res publica dahulu adalah sebuah istilah yang dipakai pada zaman orang-orang di Kekaisaran Yunani dan Romawi Kuno untuk segala hal yang terkait dengan urusan bersama (public). Dulunya adalah istilah yang dipakai para pemikir untuk menamai segala macam hal urusan umum / bersama. Di negeri ini yang sudah secara resmi menamakan diri artinya membangun dirinya, melahirkan dirinya di kancah perhelatan dunia, dan akhirnya diakui oleh negeri-negeri lain yang sudah menamakan diri mirip dengannya alias sejenis res publica. Republik sudah menjadi istilah yang begitu populer di telinga dari zaman ke zaman. Artinya, negeri ini adalah urusan bersama, bukan hanya dimiliki, diurus hanya oleh segelintir orang yang lantas membangun diri sebagai elite. Walau realitas di lapangan itu yang terjadi. Akhir-akhir ini rakyat akhirnya sadar betul bahwa selama ini kita kurang memaknai res publika di negeri ini. Kita terlalu mengandaikan sehingga rakyat hidup dengan pola apa-apa diurus sendiri serba swalayan, swadaya, swa apapun. Bahkan aku sampai mengatakan bahwa semenjak lahir, aku sudah harus ngurus apa-apa sendiri, di republik ini tidak ada res publica yang dilayani oleh mereka yang kita percayai sebagai pekerja untuk res publica itu. Aku hanya numpang nge-kost hidup di negeri ini.

Aku melanjutkan celotehanku. Masih agak melanjutkan celotehanku di bulan lalu yang baru saja berpindah, aku tengah mengamati situasi yang akhir-akhir ini publik tengah galau dan juga bersuara akhirnya. Inilah momentum yang kutunggu-tunggu karena di celotehanku sebelumnya aku hanya bertanya: "siapa yang akan mengawal dan mengontrol pengawal atau pengawas atau aparat" itu sendiri. Siapa yang menjaga penjaga? Mengapa akhirnya jawabannya adalah yang bertanya itu sendiri atau akhirnya jawaban itu adalah yang bersuara? Memang dalam sebuah republik, medan terbesar yang dijadikan "hal" adalah publik itu sendiri. Publik adalah yang berkepentingan untuk menciptakan wadah besar yang diselenggarakan untuk membuat ruang bagi seluruh aktivitasnya dan kemudian dibuatlah sebuah kontrak bersama. Publiklah yang mau tak mau harus mengawasi, mengontrol, menjaga, mengawal apa yang menjadi kepentingannya. Selama ini memang kita terlalu mengandaikan "wakil-wakil" publik itu. Mereka kita beri suara (karena merengek-rengek), mereka kita beri fasilitas (gedung, ruang kerja mewah, bayaran banyak, dan berbagai macam hal lain) guna mendukung kinerja mereka, yaitu legislatif alias pembuat aturan main. Pihak-pihak yang kita ciptakan bagi kesepakatan kontrak bersama ada yang lain lagi, yaitu yang menjalankan (eksekutif) dan yang menjaga aturan main (yudikatif). 

Eh, ternyata ketiganya tidak berjalan seperti adanya. Marwah ketiga lembaga yang sebenarnya kita percaya menjalankan tugasnya ternyata mengkhianati publik itu sendiri. Mereka-mereka telah melupakan kontrak bersama. Yang sedang memanas kita soroti adalah mereka yang membuat aturan main. Eh, alih-alih mereka sangat cepat dan tepat membuatnya, ternyata malah menyalahgunakan kedudukan hanya untuk mencari dan menimbun cuan saja. Alih-alih mereka mewakili suara publik, eh, ternyata suara itu hanya sebuah komoditas yang sudah terbeli ketika mereka promosi dan setelah dapat, mereka tak lagi menggubris suara publik itu. Mereka malah berjoget ria entah apa yang penyebabnya. Apakah karena dapat tambahan tunjangan yang makin ugal-ugalan? Atau apapunlah yang akhirnya tersorot oleh publik itu sendiri. Yah, jangankan berjoget, tidur atau nonton film bokep saja sekarang mudah tertangkap oleh publik di zaman yang serba menuntut transparansi ini. Suara itu sekarang berbunyi nyaring oleh para perwakilan rakyat yang peduli akan res publica ini. Ada yang mewakili kaum muda, ada yang mewakili kaum terpelajar alias akademisi, ada yang mewakili kaum agamawan dan budayawan, dan sebagainya. 

Walau sudah terlanjur ada tragedi nyawa melayang, sekali lagi, publik tetap tidak ingin hal itu terulang maka bersuaralah mereka. Sebenarnya jika wakil-wakil kita di tiga lembaga yang ada di sebuah nation state itu bekerja dengan common sense-nya alias lumrah dan wajar, maka tidak ada yang namanya tumbal. Tidak ada yang namanya korban nyawa. Tidak ada yang namanya kerusuhan. Bahkan protes keras pun itu sebenarnya tidak akan terjadi. Setidaknya evaluasi itu selalu ada. Karena tidak punya common sense, maka wakil-wakil kita itu tidak peka dan tidak tahu akan situasi dan kondisi yang diwakili. Itu pertama-tama yang aku pikirkan. Kedua, di lembaga kedua, yaitu pelaksana (eksekutif), kita sudah dikibulin dan dijadikan bulan-bulanan oleh pihak satu ini di era Orba. Eksekutif yang adalah dia yang bersenjata, memimpin negeri ini dengan tangan besi. Pelaksana akhirnya menguasai dua lembaga yang lain, yudikatif dan legislatif. Apa yang dikatakan eksekutif (dalam hal ini presiden res publica) bahwa hal itu hitam, maka legislatif dan yudikatif hanya mengangguk saja. Semua di bawah komando sang pemimpin bersenjata itu. Itu bedanya dengan masa di zaman pasca Orba. Namun kelihatannya, ada corak yang mau dibangun mirip di masa pemimpin yang bersenjata itu di saat ini. Yudikatif memang belum sangat kelihatan dibenci dan dicaci. Walau sebenarnya juga harus kita waspadai. Kerjanya saat ini masih nangkap-nangkap mereka-mereka yang melakukan korupsi, namun apakah ini bukan hanya dipakai oleh pihak eksekutif? Aku koq merasa ada yang janggal. Ketiga, ekseskutif adalah dia yang (mantan) bersenjata. Namun demikian, tentu ada pengaruhnya di dalam gaya memimpin, gesturnya, pola pikir dan tindakannya. Walau tidak segarang di zaman Orba karena saat ini dunia tidak lagi sebodoh zaman itu. 

Aku sangat mengapresiasi rekan-rekan yang sudah membuat tuntutan atau petisi atau pernyataan 17 + 8. Angka yang menarik, simbolik seperti angka keramat bagi republik ini. Aku hanya berharap dan ini pasti akan menjadi sambungan celotehanku selanjutnya, bahwa sekaranglah saatnya rakyat bersuara, mengawasi, membuat kerja wakil-wakil kita terukur, terkontrol, transparan dan bisa kita rasakan hasilnya. Ada perjuangan. Ada pergulatan. Tentu akan ada pro dan kontra. Namun kita harus dan mau tak mau mengawasi detil dan bahkan membuat konkrit, sehingga jalan betul apa yang ada dalam 17+8 itu. Aku sangat setuju bahwa 17+8 itu adalah living petition. Itu adalah sebuah hal yang tak bisa hanya harga mati. Bahkan republik ini pun bukan juga harga mati. Republik ini hanya sarana. Tujuannya dan harga matinya adalah kesejahteraan bersama (bonum commune). Jika memang republik ini harus diredefinisi, ya mari kita mulai dari nol. Jika republik ini sebagai sarana kesepakatan bersama yang memang belum final, maka mari kita perjuangkan lagi. 

So, 17+8 itu kiranya perlu kita cermati dan jangan sampai lolos dikerjakan oleh para wakil kita yang sudah kita percayai, kita minta kerja dengan sungguh dan kita perlu menjaganya. Kehormatan wakil kita adalah kehormatan kita. Ketidakhormatan mentalitas mereka adalah beban bagi kita dan akhirnya kita juga merosot kehormatannya. Kita jadi beringas dan kasar karena merespon ketidakhormatan wakil-wakil kita. Kita jadi biadab karena wakil-wakil kita jadi contoh kebiadaban. Pejabat menjadi penjahat. Itulah ketidakhormatan dan kemerosotan martabat kita. 

Selain itu, yang perlu kutambahkan di sini adalah sisi pengawal atau mereka yang ditugasi membawa senjata (bedil atau apapun), kuharapkan mereka juga makin humanis namun tegas dan taktis dalam menjaga marwah tiga lembaga wakil rakyat (legislatif, eksekutif, dan yudikatif). Para pembawa senjata itu bukanlah centeng yang sudah diperankannya selama tiga dekade lebih semasa Orba. Saat ini mereka harus sadar diri bahwa dunia berubah. Yang berbedil ya harus kembali ke barak dan jangan merangsek ke sektor-sektor pekerjaan sipil yang tidak selayaknya mereka lakukan. Sipil itu memang perlu dikontrol namun yang lebih tepat adalah polisi. Nah, supaya polisi tidak bermasalah juga maka perlulah memberi contoh profesional dan etis. Kebanyakannya yang terjadi di lapangan adalah mereka yang berseragam plus bersenjata (entah itu yang berurusan dengan hal sipil dan yang kaitannya dengan perang) berlagak arogan dan sering menyalahgunakan kekuasaan (abuse of power). Pungli dan memakai "ordal" adalah mentalitas yang melekat bagi kekuasaan manapun yang korup. 

Oleh karena itu, mari kita jaga dan kawal. Kita "kontrol" pekerjaan yang merupakan "titipan" kita untuk dikerjakan demi kesejahteraan bersama (keadilan sosial bagi seluruh publik di republik ini) karena kita mau membuat wadah besar republik ini demi ke arah itu. Republik ini punya aturan main dan sistem yang dibuat oleh lembaga legislatif. Pelaksananya adalah eksekutif. Jika aturan main perlu dikawal maka yudikatiflah yang bekerja. Maka, sistem kita tidak bolehlah tumpang tindih atau malah saling kongkalikong antar tiga lembaga itu. Perlulah sisi monitoring dan evaluasi, sehingga butuh transparasi, bukan formalitas belaka. Kita terlalu lama lekat dengan mentalitas formalisme, apa-apa ada form-nya, namun itu hanya untuk di atas kertas. Realitas di lapangan tidak pernah diperhatikan seperti di atas kertas. Seharusnya apa yang direncanakan itu dilakukan. Jika ada yang berubah, maka di situlah gunanya fungsi pengontrol (QC) dan evaluator atau pengawas. Jika harus diubah, seberapa banyak perubahannya, sehingga hasil akhir selaras dengan rencana. Jika tidak, jalankan dengan transparan sampai akhir.       

Sekali lagi, sebuah republik ada karena publik mempunyai cita-cita supaya wadah itu membantu mereka mencapai kesejahteraan bersama dalam wadah hidup bersama. Maka, perlu sistem atau aturan main yang dibuat wakilnya. Ada pelaksana yang juga representasi dari publik karena dipilih publik. Ada juga yang mengawasi jalannya aturan main dan pemain-pemain pelaksana itu. Di sisi lain, ada penjaga bersenjata dalam urusan luar wadah republik (urusan perang dan bencana) dan urusan publik internal (dalam arti sipil). Penjaga ini pun perlu diatur supaya tidak malah memangsa sistem dan tuannya, yaitu publik itu sendiri karena mereka yang bersenjata berpotensi agresif dan ofensif, tentunya akan berpotensi melakukan kekerasan. Mereka adalah pihak yang sah memakai senjata dan membuat kekerasan di sebuah republik karena aturan mainnya jika ada keadaan darurat. Maka mereka pun perlu diawasi dan dikontrol supaya ada antisipasi untuk tidak membuat kondisi darurat. Sistem dan jalannya sebuah republik harus dibuka secara transparan pada publik agar peran serta publik pun sepenuhnya terjadi demi kesejahteraan bersama itu. Yah, itulah celotehan bagi situasi akhir-akhir ini di republik ini.  


#eveningtime#

Saturday, August 30, 2025

Apakah hanya "Sekedar" ?

Dengan kejadian kekerasan, demo besar dan terjadi di berbagai tempat, aksi protes, saling umpat, berhadap-hadapan, dan akhirnya ada nyawa yang melayang, apakah semua itu hanya "sekedar"? Satu nyawa bagi sementara pihak bisa saja dinilai "sekedar" atau "hanya". Bagi sementara orang ketika melihat angka dan nominal, dia hanya mengatakan "sekedar". Tapi kenyataan berkata lain. Itu semua bukan "sekedar". Itu semua adalah kenyataan. Itu adalah realitas. Angka dan simbol nominal itu adalah simbol kenyataan itu sendiri. Mungkin generasi kekinian hanya mengenal ikon / emotikon / sticker atau sekedar meme. Namun demikian dalam segala bentuk visual itu yang mau diungkapkan adalah realitas yang tak terungkapkan semua. Visualisasi adalah bentuk ungkapan bagi keseluruhan, hanya mewakili sedikit karena realitas tak semudah itu diungkapkan. 

Kejadian beberapa hari ini di beberapa tempat adalah kenyataan yang sudah ada potensinya dari beberapa waktu sebelumnya. Ada pemicu. Ada sumbernya. Namun kadang orang tak sadar dan hanya melihat yang ada kini dan di depan mata. Realitas sebenarnya tak pernah disadari sepenuhnya karena kita terlalu dangkal untuk mengenalinya. Kita terlalu terlena untuk mengenali dan menamai apa yang sebenarnya menjadi kebutuhan kita. Kita tak mau jujur dengan diri kita dan hanya ikut-ikutan dan cari enaknya saja. Sering fatamorgana membutakan kita. Sering yang "wah", "hebat", "kaya", "menarik", itu yang kita pilih. Itulah kesalahan kita. Yang jelek, yang berat, yang menyengsarakan, yang harus kerja keras, tidak kita pilih. Padahal itu adalah kenyataan jujur yang harus kita jalani, bukan hanya di luar diri kita. Kerja keras dan perjuangan adalah jati diri kita. 

Bukan sebuah hal yang asing bagiku jika ada kekerasan lagi. Bukan sebuah kebetulan jika ada aksi protes massa yang terjadi. bahkan aku tidak menilai asing atau kaget atau menyesal jika ada nyawa yang tumbang lebih banyak lagi, entah dari pihak siapa. Hal ini dikarenakan aku paham akan hukum alam yaitu siapa yang abai akan menerima akibat. Siapa yang memulai akan menuai akhir. Siapa yang menyulut akan kena percikan api. Siapa yang mengurbankan, akan jadi kurban selanjutnya. Alam pada dasarnya mencari keseimbangan. Semesta pada prinsipnya akan mencari awal dan akhirnya. Mungkin tak bisa lagi seperti Revolusi Prancis yang menjatuhkan raja dan ratu dan antek-antenya dengan pemenggalan kepala di pisau guilotine. Tapi itu pun mungkin. 

Aku menyayangkan pola hidup manusia kita. Aku menyayangkan ketidaksadaran akan apa yang mereka pilih dan katakan. Aku menyesalkan bagaimana kualitas kita bertindak ternyata masih amburadul dan tak punya pertimbangan matang. Manusia negeri ini kebanyakan dipengaruhi oleh hal-hal yang dangkal. Angin ke sana, maka ikut ke sana. Angin ke sini, maka ikut ke sini. Yang viral, yang menggelembung, yang gebyarnya lebih banyak, itulah yang dipilih. Maka tak mengherankan bahwa kita belum sadar untuk apa dan bagaimana kita hidup. Aku belum tahu sebenarnya hidupku sendiri. Ibaratnya, seperti rakyat Jerman yang dulu pernah memilih seorang monster pembunuh dan dielu-elukan oleh massa. Uang dan kuasa itu berkelindan. Kuasa dan penyalahgunaanya itu akan selalu ada. Kuasa dan kekerasan pastilah sebuah pasangan abadi yang tak terelakkan jika tanpa kesadaran kontrol terhadap kuasa itu.

Di sini dan saat ini kita dipertontonkan dengan aksi pongah dan vulgar para perampok hidup manusia. Para penjoget dan badut yang kita "percayai" (sedangkan aku sendiri skeptis dan tidak tertarik dan tidak percaya - sebagai disclaimer) sebagai "wakil rakyat". Wakil macam apa, jika mereka tak mencerminkan hidup rakyat dengan: hidup mewah, tunjangan ugal-ugalan, gaji jumbo, tidak pernah mendengarkan aspirasi rakyat, tidak pernah mengalami "rekasa"-nya rakyat? Saat ini kesadaran bahwa memilih wakil itu harus benar dan sadar. Yang belum bisa kutemukan adalah cara mengawal dan mengontrol wakil-wakil rakyat ini. Kelemahan kita selalu dalam hal kontrol terhadap kualitas kerja dan hidup mereka yang kita percayai, kita sebut sebagai parlemen, eksekutif, dan yudikatif kita. Ketiga lembaga itu harus kita kawal dengan baik. Ketiganya bisa saja bermain dan tidak menunjukkan kinerja sebenarnya. Selama 32 tahun tiga lembaga itu hanya simbol dari kekuasaan yang menindas. Semua ada di satu tangan yaitu sang diktator. Sang diktator berposisi sebagai eksekutif. Sedangkan parlemen dan yudikatif hanya sebagai lembaga yang "mengiyakan" segala macam hal yang dimaui oleh sang diktator. Yudikatif hanya mengetok palu bagi sang diktator (baca eksekutif) dan penyetempel undang-undang hasil kerja palsu si legislatif, karena aturan mainnya hanya bagi kepentingan keluarga dan antek-anteknya. Apalagi ketika sang diktator punya kuasa penuh memegang senjata alias tentara. Dia punya bedil dan sepatu lars. Dia juga yang punya mobil tank dan barakuda untuk melindas lawan dan bahkan rakyat pun adalah lawannya jika protes. Yang punya kuasa harus dikoreksi, diingatkan, bahkan dikritik. Lembaga Kritik Nasional kiranya diperlukan bagi indera penguasa. 

Lengkaplah sudah penderitaan rakyat. Lengkaplah sudah penindasan oleh bangsa sendiri. Lengkaplah sudah semua yang kita rasakan sebagai tekanan terstruktur dan masif itu. Rakyat hanya dipakai sebagai boneka mainan belaka yang sewaktu-waktu bisa dirusak, dihempaskan, dibuang, diinjak-injak. Diijnak oleh mereka yang tak punya kepekaan, tak punya sense of crisis, tak punya option for the poor, tak punya rasa karena mereka orang kaya, borjuis. 

Dimaksudkan ada tiga unsur di atas, yaitu eksekutif, yudikatif dan legislatif supaya ada mekanisme saling kontrol. Eh, ternyata pengalaman nyata sebelumnya itu bisa saja hanya ilusi. Yang memang harus disadari adalah bisa saja salah satu dari tiga lembaga itu berkuasa atas yang lain. Aku hanya melihat banyak kemungkinan. Yang ada dalam benakku karena pernah mengalami kenyataan sebelumnya yaitu kejadian-kejadian di negeri ini akan terulang kembali. Suasana ini biasanya butuh tumbal. Dengan tumbal maka akan terjadi kekacauan. Kekacauan akan menimbulkan suasana darurat. Suasana darurat akan memunculkan satu pihak yang harus menertibkan situasi. Yang punya wewenang ketertiban dalam suasana darurat adalah yang punya bedil. Yang punya bedil akan menjadi penguasa. Itulah logika yang pernah terjadi dalam perjalanan negeri ini. Pesan dan harapanku sebagai rahayat jelata adalah jangan sampai terulang masa itu, masa penuh kengerian, masa penuh pembantaian nyawa, masa penuh represi oleh tangan-tangan berlumur darah dan mereka yang mengangkat bedil.

Oleh karenanya, apakah kenyataan itu hanya "sekedar"? Sekedar nominal angka kenaikan pajak ratusan persen? Sekedar aksi joget-joget di gedung persidangan mereka yang mengaku diri "wakil rahayat"?  Apakah sekedar kematian satu nyawa tukan ojol? Tidak. Semua itu adalah sebuah rangkaian kisah, rangkaian narasi bahwa ada ketidakpekaan, ada sebuah situasi di mana rakyat itu menjerit, ada kisah bahwa pajak dan segala macam kebijakan negeri ini hanya menguntungkan sementara orang dan masih merugikan mayoritas rahayat kecil yang lain, ada ketimpangan di sana sini, yang kaya foya-foya, yang miskin makin terasing, ada kontradiksi: di jalan aksi protes; di gedung megah ada pesta pemberian bintang kehormatan bagi mereka yang tak terhormat, ada yang berjoget karena euforia kenaikan gaji dan tunjangan. 

Sayangnya, kita sebagai rahayat belum mampu membuat sistem kontrol bagi penguasa. Wakil-wakil kita yang ternyata tikus-tikus got itu tak bisa mewakili. Ya jelas, namanya tikus tidak bisa mewakili manusia. Mungkin baik, di waktu selanjutnya, kita tak butuh wajah-wajah tikus lagi untuk kita pilih. Absen dalam pileg lebih baik, dan itu sah-sah saja jika hanya tikus-tikus yang ada dalam daftar. Kita tak perlu pilih pula calon pemimpin yang bisa dikendalikan tikus atau bahkan maling atau yang membiayai maling dan menyuapi maling-maling itu. Sebagai kawanan rahayat, kita perlu membuat gerakan yang terstruktur dan masif dan konsisten untuk mengawal sekaligus menjadi QC dalam gerak dinamika gubernasi negeri ini. Jangan hanya berdoa. Berdoa itu perlu, tapi berdoa itu harus ada kelanjutannya. Berdoa hanya komat-kamit saja, itu hanya ritualisme kompulsif yang tak berguna. Manusia punya cara hidupnya dan pendiriannya. Berdoa untuk mendapat kekuatan dari Hyang Ilahi dan kekuatan itu perlu kita wujudkan dalam tindakan kita mengontrol negeri ini. Berdoa bukan berhenti pada tindakan doa itu sendiri namun akan berdaya bila lebih diaktualkan dalam tindakan mengawasi, mengontrol, mengkritik, bahkan menjewer mereka yang menyelewengkan marwah gubernasi. 

Yah, uneg-uneg ini masih nglambrang dan belum sepenuhnya konkit. Namun setidaknya, aku masih mau peduli dengan korban satu nyawa yang telah terjadi. Adios, Affan Kurniawan! Bahagia di sana, kawan ! Kami masih berjuang di negeri ini....yang tertindas dan masih bisa dilindas.



#behadedofstjohnthebaptist#

Wednesday, August 13, 2025

Merayakan "Merdeka"

Menjadi makhluk ciptaan ini tidak ada yang lebih bermakna kecuali pencarian makna itu sendiri. Ketika menelusuri kehidupan awali, aku terbantu oleh penelitian, penguraian, dan pemaparan dalam berbagai media hypermodern saat ini. Aku bisa mengenali bagaimana dan siapakah manusia yang di saat-saat ini di wilayah dekatku adalah mereka-mereka yang sedang beraktivitas aneka macam. Ada banyak kejadian yang mengejutkan, tragedi pembunuhan, drama pengadilan dan ke(tidak)adilan, perdagangan manusia, penangkapan penjahat pembobol situ judol, perlombaan senjata, saling sikut antar manusia, dan berbagai macam lagi yang terkait itu. Manusia mengenal pembunuhan sudah sejak lama, sejak ia masih primata dan mulai mengincar satu primata besar yang dominan dalam kelompoknya karena ada kelompok lain yang ingin mencoba masuk namun dihalang-halangi oleh kekuasaan dominan ini. Kekuasaan dominan pun akan terus berlangsung jika tidak ada penghentian dari kelompok yang lebih kuat. Serba dilema.

Itulah kisah primata awal yang akhirnya diwarisi oleh mamalia-manusia yang berdiri tegak (pitecantropus erectus) dan kemudian makin dimodifikasi oleh manusia pandai (homo sapiens). Karena ingin memiliki betina-betina dalam kawanan itu, pejantan harus bertarung dan jika ada kawanan pejantan yang membunuh pejantan dominan di kawanan itu, mereka berhak memiliki betinanya. Demikian juga homo sapiens menemui situasi yang lain. Ketika mereka mulai menetap dan tidak nomaden lagi, mereka mulai sadar akan kepemilikan. Ketika ada klan lain yang menduduki lahan yang adalah "properti" mereka, maka mereka pun harus bertarung untuk menyingkirkan klan nomaden itu dari lahannya. Itulah mulainya perang antar manusia. Belum lagi sifat tamak dalam diri manusia, ia merasa tidak akan puas dengan kepemilikannya, maka ia menimbun barang-barang lain dari ternak, hasil kebun/hutan, logam, dan barang lain yang mulai mereka temukan. Itulah mulainya ketidakadilan. 

Kemampuan yang telah berkembang merupakan sebuah keajaiban dari makhluk manusia yang berevolusi jutaan tahun lamanya. Dari primata ke pemburu ke nomaden ke sebuah klan yang menetap sebagai homo sapiens, ruang dan waktu telah menguji dan membentuk makhluk manusia sebagai yang seperti saat ini. Makhluk yang dahulu merdeka dengan keterbatasan kemampuan dan hanya berumah atapkan langit dan beralaskan bumi, saat berkembang, ia telah menjadi makhluk yang dengan kemampuan akalnya mengalahkan elemen-elemen alam yang dahulu mengurungnya. Seolah-olah alam takluk ke dalam tangan makhluk manusia ini. Ia merasa telah merampas kuasa langit dan mempermalukan hujan ketika menemukan sistem irigasi yang mengairi lahan untuk pertanian mereka. Ia merasa lebih kuat dari alam dan dari segala roh. 

Bahkan ketika makhluk manusia makin bertambah banyak karena makin bertambah kuat secara intelektual, fenomena purba pun tidak serta-merta hilang dari dunianya. Pembunuhan, perang, ketidakadilan, saling sikut, kecemburuan, kerakusan tidaklah musnah. Malah semuanya itu makin masif, semuanya itu makin menjadi dengan peperangan tanpa awak. Pembunuhan massal makin seru. Darah tak lagi menggenang dalam peperangan antar serdadu. Permusuhan tak lagi terang-terangan dalam sebuah konflik fisik. Saat ini peperangan ada di dalam dunia maya, saling serang dalam perebutan kepemilikan data pribadi, perang tarif perdagangan, peperangan ada dalam keseruan dalam layar yang dipakai manusia dalam lompatan kemampuan itu. 

Di bumiku yang bernama nuswantara ini. Sedari dulu memang menjadi bagian dari hunian homo sapiens, setidaknya ada soloensis dan manusia kecil dari Flores. Keramaian dan kegaduhan di bumi ini pun tak luput dari pergolakan dunia makhluk manusia itu sendiri. Di berbagai kisah dan berita, kita digaduhkan di bulan ini dengan hiruk pikuk merayakan berdirinya sebuah bangsa dengan batas-batas teritorinya, sebuah bangsa yang dirayakan karena terbebas dari penguasaan (dominasi) klan bangsa Eropa kulit putih. Namun apa daya, perayaan hiruk pikuk itu di tahun ini adalah perayaan hambar karena hambarnya sebuah tatanan yang menunjukkan ketidakjelasan. Kehambaran itu adalah sebuah fenomena yang dipicu oleh tatanan dunia yang juga sedang membara oleh peperangan di negara lain, perang dagang karena kerakusan, perang pengaruh karena ingin saling sikut dan menguasai. Di dalam negeri pun ada ketidakjelasan pemerintahan yang semakin menampakkan sisi kekurangpekaan pejabat dengan rakyatnya. Pajak melambung tinggi. Pengangguran menggelombang. Ketidakjelasan orientasi kepemimpinan membawa perjalanan bahtera negeri ini tak tahu arah dan tujuannya.  Semua telah dirusak dari dalam dan terancam oleh situasi dari luar.   

Seolah seremoni formal tahunan rutin itu adalah sebuah hal yang harus dirayakan secara mekanis, latah. Manusia tak paham lagi perayaan sebuah "kamardikan" yang kadang hanya sebuah ritualisme formal. Orang dibutakan oleh daya mekanis mereka. Di sinilah pemaknaan itu perlu dibantu. Kemampuan manusia memaknai itu berdasarkan kepekaan mereka menangkap fenomena alam. Sebuah klan yang sudah menemukan rumah batu dan sudah menetap akan berbeda menghadapi bencana alam badai dengan sebuah klan yang masih nomaden dan hanya mempunyai rumah dari kayu dan kulit. Tentu klan yang sudah menetap dan punya rumah batu akan lebih stabil dan rumahnya tidak rusak oleh badai. Sedangkan yang nomaden akan terpengaruh oleh badai itu. Dari sini, kemampuan memaknai hidup dan kemerdekaan juga perlu melihat fenomena alam dan manusianya. Apakah sebuah negara wajib merayakan kemerdekaan itu hanya karena "wajib" merayakan dan dengan hal-hal yang seremonial belaka? Seremoni selama sebulan dengan keharusan ini dan itu, lomba-lomba dan upacara itu kiranya sudah kehilangan makna. Yang tersisa hanya kewajiban belaka. Bahwa memang itu adalah sebuah tanda, namun yang tak pernah kita lupakan adalah tanda makna itu sendiri. 

Banyak orang sudah mencibir, muak, antipati, membuat sebuah tandingan lain. Itu berarti makna "kemerdekaan" ada masalah. Kita bukan anti kemerdekaan, kita bukan anti seremoni, asalkan semua itu dilandasi kepekaan nurani sebagai homo sapiens. Peka bahwa ternyata masih banyak ketidakadilan, penggarongan, penipuan, persekusi, korupsi, manipulasi aturan main, perusakan alam, dan lain-lain. Apakah dengan realitas seperti itu kita manusia ini layak disebut merdeka? Memang kemerdekaan tidak bisa mutlak 100% namun setidaknya alam tidak dirusak, manusia tidak dipersekusi, yang kaya tidak korupsi, orang miskin dimanupulasi, dan lain sebagainya. Kemerdekaan bukan hanya sebagai mereka yang berduit, mereka yang punya jabatan, mereka yang punya bekingan, mereka yang dekat dengan kekuasaan, mereka yang punya wewenang mengobati, mereka yang mengatur jalur hukum dan keamanan. Kemerdekaan adalah kita sebagai makhluk manusia dan alam semesta. Kemerdekaan berarti menghormati kebhinekaan, menghormati hak hidup dan kesehatan, membantu dan tidak serakah dengan mereka yang miskin, tidak menghalangi dan juga tidak merebut batas-batas wilayah, dan sebagainya. Itulah penghargaan pada martabat hidup yang merdeka. Kemerdekaan biasanya terenggut oleh mereka yang ingin berkuasa, rakus, dan tinggi hati.

Oleh karenanya,  merayakan merdeka bukan hanya ritualisme formal. Merayakan merdeka adalah bagian dari hidup makhluk hidup yaitu dengan menghormati dan menghargai hidup itu sendiri. Yang sudah mati akan bangkit karena sebuah penghormatan dan penghargaan akan berharganya hidup. Primata sudah mempelajari arti kematian, kehilangan anggota dari kawanan, mereka mulai menangis kehilangan karena kematian anggota primatanya. Saat ini sebagai homo sapiens, kematian bukan lagi sebagai sebuah kehilangan namun sebuah efek dari ketidakmauan dikuasai oleh yang lain. Dan itu ibarat tak berharga lagi kehidupan ini. Bahkan ketika terjadi pembantaian massal dari zaman ke zaman, homo sapiens hanya diam, membeku, tak peduli. Dunia tak peduli akan pembasmian itu.

#inmyroom# 

Monday, July 21, 2025

Gelar

Gelar adalah nama seorang anak manusia. Dia anak (Wira)Galeng dan Idayu. Aku tertegun dengan ceritanya, kisah hidupnya. Kisahnya membuatku tertegun, entah kenapa. Namun, di saat membaca kisah itu rasa haru dan campur aduk pun muncul. Di akhir hidupnya, ia adalah pembalas dari kebencian dan pergulatan bapak dan ibunya. Namun demikian karena itulah justru perubahan yang tragis pun harus ia jalani. Hidupnya di zaman pergolakan dan perubahan. Di zamannya, ia hidup dalam arus besar zaman yang sedang bergolak. Pergolakan yang pada akhirnya membuat dirinya, keluarganya adalah bagian kecil dari perubahan itu sendiri. Jatidirinya pun selalu dia pergulatkan sebelum ia akhirnya menutup kisah itu dengan kisah-kisah lain yang besar dari kisah bapaknya, ibunya, dan berbagai pribadi zamannya yang melingkupinya.

Namanya disematkan sebagai Paulus di akhir kisah itu. Dari Gelar ke Paulus ada kisah panjang seorang anak manusia yang mencari jatidirinya. Dalam kisah besar itu, yang menjadi tulisan besar adalah kisah bapaknya yang bernama Galeng yang kemudian menjadi Wiranggaleng yang juga adalah Hang Wira. Bapaknya adalah pegulat Tuban yang hidup di masa pergolakan ketika Majapahit - yang nota bene imperium maritim besar di zamannya - runtuh dan surut seiring waktu. Itulah masa di mana Tuban, kota pelabuhan utama imperium itu menjadi penting di zamannya. Mengisahkan hidup anak manusia di masa keruntuhan peradaban memang tidak mengenakkan. Bapaknya adalah seorang juara gulat di Tuban dan ibunya adalah penari yang juga tersohor karena kemampuannya dan kecantikannya yang tak tertandingi di seantero Tuban. Karenanya, pernikahan Galeng dan Idayu adalah pernikahan dua pribadi rakyat biasa yang karena kemampuannya dirayakan dengan gegap gempita oleh rakyat Tuban. 

Kisah hidup manusia memang membawa misterinya sendiri-sendiri. Setelah menikah, kedua insan itu tidak segera akan menikmati hidup yang layak. Galeng, dengan kemampuannya, diminta Adipati untuk bekerja sebagai telik sandi ke Malaka karena Portugis sudah mulai melanglang buana mejelajahi nusantara. Tuban, sebagai pelabuhan yang mulai surut pamornya, harus menelisik penyebab dari kemerosotan perdagangan rempah selama ini. Oleh karena itu, sebelum pasangan pengantin baru ini bisa menikmati masa indahnya, Galeng, sang suami harus merelakan waktunya pergi menaati perintah sembahannya. Akibatnya, ia meninggalkan istrinya, Idayu di Tuban sendirian. Di sinilah, petaka itu mulai. Idayu ternyata dirudapaksa oleh Tholib Sungkar Az Zubaid atau yang terkenal dengan Almasawa, seorang Moor yang dipercaya sang Adipati menjadi Syahbandar di Tuban waktu itu. Idayu yang sendirian, membuat Almasawa tak dapat menahan nafsu bejatnya untuk membujuk rayu Idayu dan dengan kelicikannya, ia membius Idayu sehingga tak sadarkan diri dan di saat itulah aib itu terjadi.      

Itulah yang kemudian, dalam kisah hitam dan putihnya manusia, atau abu-abu bahkan, apapun bisa terjadi. Kisah Gelar tertimbun sementara oleh kisah bapak dan ibunya. Kisah Gelar adalah kisah anak manusia yang baru pada saat remajanya, ia mendengar selentingan dari sana sini mengenai hidupnya yang tidak mengenakkan. Dia dikatakan anaknya ini dan itu. Ia sendiri waktu itu hanya merasa bahwa apakah benar itu adalah bagian hidupnya. Ia belum bisa berbuat apa-apa. Ia saat beranjak dewasa makin merasa bahwa pendengarannya makin tidak mengenakkan. Selentingan orang mengatakan bahwa bapaknya bukanlah Galeng sang senopati yang merebut "kekuasaan" dari ketidaktahanannya akan sikap sang Adipati yang peragu. Ia terpaksa membunuh Adipati karena seorang muda yang ingin segera mendapat kepastian menyerang atau diserang. Kalah atau menang di zaman kalabendu itu. Akhirnya dengan keterpaksaan yang melayangkan kerisnya dan menusuk tubuh sang pemimpin tak tegas itu, ia akhirnya disegani dan dipercaya prajurit Tuban untuk menyerang musuh yang memang sudah merangsek. Ia lari ke tempat lain guna memimpin pasukan Tuban yang harus mempertahankan diri. Namun apa yang terjadi kemudian, ia harus merelakan dirinya diketahui bahwa dirinyalah yang membunuh sang adipati tak becus memimpin itu. Maka, sebagai hukuman, ia harus rela pergi jauh meninggalkan istriya ke Malaka sekedar untuk mencari informasi mengenai sepak terjang Portugis.

Di sisi lain, Idayu sudah mencoba memberitahukan kepada suaminya, Galeng tentang situasi kelamnya. Ia bahkan rela untuk dibunuh suaminya karena aibnya. Namun, Galeng tidak melakukannya. Ia tetap menerima Idayu sebagai istrinya, sepulangnya dari Malaka, dan bahkan ketika istrinya direnggut nafsu oleh Almasawa itu. Hatinya hancur berkeping, namun kedua insan ini tetap menjalani hidup sebagai suami istri. Kerelaan mengampuni dan meminta maaf telah mengutuhkan mereka. 

Sayangnya, keutuhan relasi mereka tidak dibarengi dengan apa yang dialami Gelar, si anak yang terus mencari siapakah sebenarnya dirinya. Seorang anak yang karena tragedi bapak ibunya, mendengar ejekan dan cemoohan dari orang lain tentang dirinya. Ia pun membandingkan wajahnya dan wajah bapaknya. Ia pun akhirnya menyadari bahwa wajahnya memang mirip wajah Moor ketimbang wajah Jawa dari perpaduan bapak ibunya. Ia terus merangsek bertanya pada ibunya, siapakah bapak kandungnya yang sebenarnya. Dan ketika tiba saat ia dewasa dan punya Kumbang sebagai adinya, ibunya menceritakan semua karena terpaksa dan didesak Gelar sendiri. Memang, Idayu tak sampai hati sebenarnya untuk cerita, namun daripada terdesak terus, maka ia pun membuka aib dan kenyataan itu. Gelar pun mendendam karena ibunya juga merasakan hal itu. Namun apa daya ia hanya wanita yang tak bisa berbuat banyak. Lalu ketika, mendapatkan kesempatan, di tangan Gelarlah, si Almasawa, bapak kandungya, si orang Moor itu, pecah kepalanya oleh tangan anaknya sendiri dari perbuatan bejatnya pada ibunya. 

Demikian pula, Gelar tak tanggung-tanggung, ia pun masih merasakan bagaimana ia terasing dengan identitasnya dan ditinggal lama pergi oleh bapaknya ke Malaka. Baru ketemu lagi ketika ia sudah dewasa. Bapaknya adalah pribadi yang setia baik pada keluarga maupun pada Tuban dan Majapahit. Ia pun galau dengan kekuasaan Demak yang memang sudah meruntuhkan kekuasaan Majapahit karena Kerajaan Islam Demak itu. Namun, ia masih hormat pada pemimpin Demak pertama, yang masih mau menyerbu Portugis di Malaka, yaitu Patiunus. Namun "Pangeran Seberang Lor" itu tak sanggup mengalahkan "Lelananging Jagat" dari semenanjung Malaka. Patiunus kalah. Penggantinya Sultan Trenggono justru tidak meneruskan cita-cita kakaknya ini dan malah menginginkan bersatunya seluruh kerajaan Jawa di bawah kekuasaan Demak. Inilah yang malah melemahkan persatuan untuk mengusir Portugis yang mengangkangi pusat-pusat perdagangan rempah di nusantara. Dan apa yang dialami oleh bapaknya ini pun akhirnya dituntaskan oleh Gelar. Kebencian pada Trenggono dari bapaknya dituntaskan oleh Gelar melalui tangan orang lain, dan tumpaslah Trenggono, musuh bapaknya. 

Kebanggaan telah menumpas mereka yang menjadi pihak yang merugikan hidup bapak ibunya, bukan dipuja oleh kedua orangtuanya, justru ini malah menjadi petaka bagi Gelar yang akhirnya harus terusir dari rumah karena sebenarnya orangtuanya tak ingin dia melakukan hal itu. Gelar yang ingin berbakti itu harus merasakan penderitaan orangtuanya karena ulahnya. 

Ia pun mengasingkan diri, mencari penghidupannya sendiri. Ia lahir dari keluarga Hindu. Ia sendiri pemuja Budha. Namun, karena pengalaman pahitnya, ia mengubah haluan ikut arus besar pembalikan peradaban yang akhirnya dimenangkan oleh bangsa kulit putih. Ia pun mengubah haluan menjadi Kristen, dengan nama Paulus. Nama yang sarat makna, karena membawa pesan dengannya, perubahan radikal itu ia wujudkan. Arus yang semula dari tradisi keluarganya, ia balik ke arah asur besar zaman bergolak pada waktu itu, dan ia pun menaiki atau ikut dalam arus besar itu dengan identitas Paulus-nya. Paulus adalah rasul besar yang bertobat dari pembunuh dan musuh yang selama ini ia incar, sekarang menjadi bagian dari yang dulunya dikejar-kejar.     

Di akhir kisah besar itu, si penulis mencatat: "Demikianlah cerita tentang seorang anak desa lain yang mengemban cita-cita menahan arus balik. Berbeda dari anak desa lain, yang seorang ini tidak berhasil, patah di tengah jalan, namun ia telah mencoba." (Toer, Arus Balik, hlm. 752). Catatan itu memang untuk bapaknya, namun demikian kisah Gelar alias Paulus itu pun adalah kisah arus balik itu sendiri di mana ia merenangi dan menari di kala arus besar itu berbalik  mengubah segalanya, mengubah arah hidupnya, mengubah tradisi besar bangsanya, dan mengubah haluan hidupnya, sehingga kapalnya pun mengarungi samudera hidup entah akan berlabuh di mana. 


#relungmalamhari#

Tuesday, June 24, 2025

Negeri Penjahat

Dengan pernyataan pejabat publik yang sudah mengingkari adanya sebuah peristiwa kejahatan yang telah terjadi pada masa lalu, ia sudah menjadi bagian dari pelaku yang melakukan tindakan kejahatan itu sendiri. Peristiwa itu bukan saja hanya masalah angka atau kuantitas berapa korbannya. Jika itu hanya satu saja korbannya, korban tetap saja korban. Ia punya nama, identitas, keluarga, dengan berbagai latar yang melingkupinya. Ia punya martabat yang harus dihargai. Ia adalah manusia. Manusia adalah makhluk yang menyejarah. Peristiwa tidak bisa hanya ditulis hanya dengan sesederhana penyangkalan bahwa tidak ada bukti, tidak ditulis dalam buku sejarah, tidak ada macam-macamnya. Seringkali peristiwa yang menyangkut korban yang trauma akan lebih sulit mengungkapkan diri karena malu, takut dihujat massa, merasa itu aib dan tak pantas. 

Peristiwa pemerkosaan massal tahun 1998 karena adanya kerusuhan massal pada waktu itu memang lingkupnya di Jakarta dan sekitarnya. Itu adalah lokasi peristiwa dengan berbagai titik seperti Glodok, Pluit, Sunter, dan beberapa wilayah lagi yang ada. Tahun itu adalah tahun perubahan yang cukup signifikan di negeri ini. Tahun di mana ada sebagian nyawa melayang karena pergantian kekuasaan. Di negeri ini memang ketika pergantian kekuasaan harus dengan sebuah tragedi, biasanya ada korban yang harus dijadikan tumbal. Sekali lagi, setidaknya sudah ada beberapa titik momentum  yang ada. Ada tahun 1945 dari kekuasaan penjajahan ke kemerdekaan (situasi perang dunia kedua), dua puluh tahun kemudian tahun 1965 di mana ada pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Suharto, terjadi tragedi berdarah pembantaian 500 ribu sampai 1 juta nyawa melayang, dan tahun 1998, ketika pergantian rezim Suharto ke era yang disebut reformasi (aku tidak menulis dalam huruf kapital karena tak layak rasanya), terjadi kerusuhan dan kekerasan seksual yang dialami sejumlah besar kalangan wanita Tionghoa yang diperkosa dan dibunuh dengan brutal. Tonggak-tonggak sejarah itu menentukan nasib anak-anak di negeri ini sebenarnya, namun sering kali karena kurang menghargai sejarah, maka penentuan itu tak berbuah apa-apa sampai detik ini. 

Dari peristiwa penyangkalan atau pengingkaran data dan fakta sejarah di negeri ini oleh pejabat publik yang terhormat (dengan nada sinis), aku begitu yakin bahwa memang bangsa ini tidak kenal dan tidak menghargai sejarah. Aku menjadi miris dan prihatin sejak dulu. Yang ada hanya tradisi atau kebiasaan ingin populer, suka yang viral namun tidak mendalam pada diri dan hidupnya. Kesannya adalah sederhana yaitu seorang pejabat menyangkal peristiwa sejarah, namun itu adalah sebuah tindakan berbahaya yang menyangkal jati dirinya atau malah menunjukkan jati diri si penjahat itu sendiri. 

Orang kadang merasa kalau sejarah itu harus yang baik-baik, yang "ditulis dengan tone positif". Jika aku bisa misuh di hadapan pejabat itu, yang kuucapkan adalah "positif dantjoek-mu !" Apakah sejarah hanya demi kepentingan tertentu, maka ini yang kemudian sering menjadi perdebatan. Aku pun mengakui bahwa penguasa dan pejabat saat ini adalah bagian dari sejarah pelaku dan korban pada tahun 1998. Ada sebagian mereka adalah pelaku-pelaku kejahatan itu dan ada sebagian dari mereka adalah korban yang "dibius oleh pelaku kejahatan" sehingga mereka mau menjadi bagian dari lingkaran negeri penjahat ini. Yang dulunya adalah anak muda yang keras menentang rezim Suharto pun akhirnya takluk oleh biusan dari penguasa sekarang dan akhirnya mau menjadi salah satu staff-nya atau asistennya. Aku tidak melihat lagi idealisme mereka yang berapi-api zaman itu. Sementara para pelaku kebanyakan adalah mereka-mereka yang dengan jumawanya pembawa senjata yang sah untuk membunuhi anak bangsanya sendiri. 

Aku pun heran bahwa sebagian besar anak bangsa dan negeri ini saat ini takluk oleh mereka-mereka yang dulunya dianggap sebagai penjahat dan musuh idealisme mereka. Apakah karena sudah terbiasa terbujuk oleh cuan, maka kita sebagai anak negeri ini rela melacurkan diri pada segala sesuatu atau mereka yang menjadi penjahat dan merusak citra martabat kemanusiaan itu sendiri? Aku menjadi seorang yang rasanya idealisme menjadi anak di negeri ini sudah mati. Dulu di tahun 1998, aku setidaknya menjadi bagian dari mereka yang mengalami kekerasan itu. Walau ketika datang ke Jakarta sesudah kerusuhan Mei. Namun setidaknya, selama Juni-November 1998, kekerasan itu masih terasa. Ketika melihat daerah Glodok, rasanya memang mengerikan. Warna hitam setelah bekar-bakaran itu masih ada. Aura mencekam,takut, was-was adalah nuansa pada tahun itu. Walau ada sepercik cahaya yang pantas dibanggakan dengan tumbangnya rezim diktator, dan munculah udara harapan demokrasi. 

Namun semuanya itu semu ternyata. Saat ini atmosfer kesemuan itu makin menyeruak. Masa yang disebut reformasi itu bukanlah masa yang membanggakan, namun masa yang mengecewakan. Harapan itu seolah mengecewakan. Sampai saat ini rasanya dengan pencapaian yang ada, negeri ini masih timpang hidupnya, karena satu hal yang dilupakan yaitu tidak menghargai (sejarah) manusianya. Artinya, negeri ini tak menghargai jati dirinya, tak tahu sejatinya siapa diriku, sejarahku, pola perilakuku, apa tujuanku hidup sebagai manusia  negeri ini. 

Yah, aku akhirnya hanya bisa mengeluh dan mengesah dalam lembah keprihatinan ini. Aku hanya bisa menyuarakan keprihatinan hati terhadap negeri ini. Bagaimanapun juga ini adalah tumpah darah yang setidaknya membuat aku hidup. Dengan label yang kusematkan sendiri, yaitu aku hidup di "negeri penjahat". Bukan berarti aku mau sok suci dan steril dengan kejahatan. Setidaknya aku konsern dengan kehidupan negeri ini, supaya tidak melupakan sejarah, karena dengan tidak melupakan berarti berani berpijak pada kebenaran. Kebenaran tidak hanya baik-baik saja, namun ada yang menyedihkan bahkan yang mengerikan dan warnanya kelam juga. Apakah kita mau selalu berpola selalu harus ada tumbal jika ada pergantian rezim yang berkuasa ke rezim lain demi nafsu kekuasaan? Tujuh sampai sepuluh nyawa bisa dibalas dengan 500 ribu sampai 1 juta nyawa, apa perlu jumlah yang lebih besar lagi? Kurang berapa nyawa yang harus ditumbalkan di negeri ini?


#inmyroom#      

Saturday, May 31, 2025

Random

Dunia ini penuh kerandoman. Random memang situasi yang kadang kita hadapi. Bahkan dalam jagat kita pun sisi kerandoman hidup itu terjadi. Dunia hyper modern ini penuh dengan hal-hal yang serba random. Bahkan boleh dikata bahwa dunia ini adalah penuh randomitas. Fokus tidak selalu bisa mulus berjalan. Otak dan perhatian manusia sudah terbagi-bagi. maka tema sentral hidup manusia adalah random. Tak ada fokus yang jelas. Tak ada arah yang jelas. Yang dibidik A namun bisa saja itu ke mana-mana arahnya. Arah bisa ke B, C, Z, E dan seterusnya. Aku kadang juga merasa bahwa hidup yang penuh random ini adalah tantangan zaman. Kalau aku memaksakan diriku untuk fokus dan fokus memang kadang harus sakit sendiri. Kadang kita harus terima hal-hal yang random itu sambil mengambil maknanya, apa sih di balik situasi random itu. 

Mei akan berakhir beberapa jam lagi. Dan aku baru bisa menuliskan coretan yang sebenarnya random dan tak punya hal yang jelas. Bahkan aku pun masih mengingat bagaimana seorang yang bertanggung jawab mengumpulkan personel rapat namun tak jelas isi kepalanya sehingga rapat pun bisa ambyar jadinya. Aku serba menghadapi hal-hal yang random di bulan ini atau bahkan sebelum-sebelumnya. Fokus tak jelas itu ada di depan mataku baik dalam bentuk pribadi manusia, kerjaannya, maupun hasil kerjanya. Tak bisa muluk-muluk berharap akan sebuah komunitas atau hal yang dikerjakan komunitas. Tak perlu muluk-muluk dengan idealisme karena tanpa idealisme pun kita bisa hidup. 

Mungkin aku harus berlatih untuk menghidupi realitas random dalam hidup. Mungkin juga aku harus menyadari bahwa random itu adalah bagian dari carut marutnya kehidupan itu sendiri. Ada orang-orang yang hidup dalam idealisme yang mau menata seluruh aspek kehidupan. Ada juga orang yang karena idealismenya malah tak sempat membuat hidupnya tertata karena ada di awang-awang. 

Negeri yang disebut "konoha" atau negeri para penduduk +62 pun kiranya tak lepas dari random. Banyak pejabat publik tak punya arah jelas. Ada program ini dan itu. Ada proyek ini dan itu. Akibatnya atau mungkin mekanismenya adalah praktik-praktik pembusukan (baca: corrrupted) pun terjadi. Pembusukan itu mungkin ulah jati diri random tidak jelasnya jalan hidup manusia itu. Ketika tak ada kejelasan, tak fokus, maka jamur atau bakteri pembusuk itu sangat menyenagi mekanisme itu. Bertumbuh suburlah mereka dan pembusukan itu makin nyata dan rata. Proyek besar-besaran untu makan tidak jelas akhirnya juga beracun dan jadi rayahan. Proyek merombak sejarah pun kiranya sarat dengan kepentingan random tidak jelas, yang ujung-ujungnya adalah pembusukan. 

Mungkin dunia memang sedang ada dalam fase pembusukan. Pembusukan karena ada randomitas yang menjadi momentum penting bagi bakteri dan jamur pembusuk keadaan. Sejarah hanya mencatat adanya proses pembusukan terus-menerus dalam kehidupan karena ulah random manusianya. Aku sampai saat ini hanya sekedar menyimak proses random dalam tiap harinya. 

Di penghujung bulan ini, aku hanya mau menulis pikiranku yang random dan tak ada fokus jelas ini. Mungkin fokusnya adalah sisi random kehidupan itu sendiri. Dan tulisanku ini hanyalah sekilas tuangan pikiran random tak punya fokus jelas. Setidaknya aku meluangkan waktuku untuk menulis karena blog ini pun bertajuk belajar menulis. Setidaknya kebiasaan mengisi tiap bulan pun adalah sebuah kebutuhan yang harus aku jalani, walau kali ini tak ada fokus jelasnya. Aku sedang ada dalam situasi random, tulisannya pun random tidak jelas, dan aku mencoba menikmati kerandoman itu. 


#malamhari#

Sunday, April 27, 2025

Warisan

Aku tidak bicara soal warisan harta, namun sebuah kesaksian hidup yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan manusia dan kemanusiaannya. Aku ingat akan sebuah kejadian dalam sebuah keluarga yaitu setelah kematian ibunya, anak-anak dalam keluarga itu malah berkelahi berebut harta warisan. Aku berpikir mengerikan juga jika itu terjadi dalam hidup ini karena kita kadang masih mempunyai egoisme tinggi, kelekatan kuat pada harta benda, dan keinginan untuk memupuk harta dan status sosial. Aku juga paham karena secara realistis manusia selalu akan butuh harta benda selama hidupnya di dunia. Namun bagiku yang terutama adalah sikap terhadap barang atau harta itu. Jika kita mempunyai prinsip bahwa hidup ini mempunyai tujuan dan sarana, kiranya sikap itu dapat dipakai untuk memperlakukan hidup kita sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan tidak akan mempunyai sikap tamak terhadap sarana. 

Aku belajar banyak dari warisan seorang Jorge. Lepas dari dia adalah tokoh dunia yang baru saja dimakamkan kemarin, aku merasa lebih nyaman dan dekat dengan menyebutnya Jorge. Aku merasa bahwa sebagai pribadi, pilihan-pilihan hidupnya membawa sebuah perubahan pada sebuah institusi besar dan tua ini. Wajahnya mulai berubah. Arahnya lebih kembali ke asal. Ia tidak justru menampakkan keangkuhan dengan wajah angker sebuah institusi. Itu pertama-tama yang aku kenali dan rasakan. Hal kedua adalah keberanian mengaku salah dan merubah arah. Sebuah institusi tentu punya kesalahan. Ia bukanlah super body yang tak ada salah. Sebuah institusi terdiri dari manusia-manusia. Manusia ada kesalahan dan bisa atau berpotensi bersalah. Apapun jenis dan nama institusi itu pasti ada kesalahan. Dengan mengakui kesalahan bukan berarti menurunkan pamor namun justru mengembalikan kepercayaan karena dengan itu, institusi itu mengembalikan wajahnya dan marwahnya. Yang ketiga adalah dari situ Jorge mengajak kita semua untuk menurunkan ego kita masing-masing. Kita semua punya ego dan ego itu yang sering menghambat pertumbuhan, menghalangi koomunikasi dan relasi, mengkerdilkan pribadi dan yang tersangkut padanya. Dengan mengkerdilkan atau menurunkan ego kita, maka semua penghalang itu terputus. Kita menjadi merdeka bertumbuh menjadi makhluk. 

Pilihan nama yang kemudian ia sematkan sebagai nama resmi kepemimpinannya juga menunjukkan apa yang ia kerjakan. Fransiskus adalah sosok miskin. Dengan kemiskinan itu, ia bukan hanya mau menunjukkan bahwa dirinya memang menghayati pribadi yang merdeka dan tak lekat pada harta benda duniawi, namun ia adalah makhluk manusia dengan segala macam dimensi kemanusiaan yang melekat padanya. Kemiskinan mengajarkanku pada banyak hal. Kemiskinan bukan hanya simbol. Kemiskinan adalah praktik hidup merdeka, tak terikat, tak banyak kepentingan yang mengekang diri. Kemiskinan memang mengajak kita untuk saling berbagi dan bukan menumpuk harta. Kemiskinan mengajarkaku untuk lebih peduli, solider, bekerja keras dan rela berkurban. Kemiskinan akan selalu memilih kesederhanaan dalam setiap tindak dan pilihan hidup. 

Jorge alias Fransiskus alias si miskin dan sederhana itu mewariskan padaku sebuah semangat untuk tetap memperhatikan kemanusiaan. Manusia yang miskin adalah manusia yang terbuka pada bimbingan ilahi dan Roh yang membuka wawasan budi dan hati nurani. Mereka yang miskin tak punya kepentingan. Ketika tak punya kepentingan maka ia adalah manusia yang berani dan tidak takut akan apapun. Kemiskinan itu telah membimbing orang pada keberanian untuk hidup walau di tengah-tengah marabahaya. Dunia yang tak baik-baik saja ini berpotensi selalu dikuasai kegelapan kemanusiaan. Namun Jorge tak gentar walau banyak musuh di sekelilingnya. Sosok kecil dan rendah hati itu memberi warisan mendasar pada dunia yaitu bahwa kesederhanaan (baca: kemiskinan) memanggil kita untuk kembali pada kemanusiaan yang asali dan dasariah. Manusia kecil dan miskin (minorum) adalah manusia yang kembali pada fitrahnya. Maka jika dunia dihuni oleh manusia-manusia yang kecil, akan tumbuhlah kemanusiaan yang murni.

Sayangnya dunia saat ini mengartikan yang kecil dan miskin (minorum) itu sangatlah negatif. Bahkan memang "minor" akhirnya. Kemiskinan identik dengan kekurangan, kepahitan, kemelaratan yang mencabik kehidupan, ketidakberdayaan yang bisa diperdayakan, kebodohan yang selalu ditipu oleh yang berkuasa. Semua nada itu tidak ada keutamaannya. Oleh karena itu, kiranya, warisan akan menjadi yang kecil dan miskin itu adalah yang utama bagiku. Menjadi miskin dan kecil membuat hidup ini makin merdeka, tak punya kepentingan dan ego kita lepaskan. Ketika semuanya terjadi, maka bumi ini menjadi firdaus. He is a man of peace. He is a welcome person. He is a man of prayer. 


#morningtime#

Friday, March 28, 2025

Butuh Tumbal

Hidup di negeri ini semua butuh korban. Korban nadanya lebih negatif ketmbang kurban. Kurban itu lebih ke sacrifice, yang berasal dari sacrum facere (melakukan sesuatu yang suci). Korban lebih ke victima alias tumbal; sebuah hal yang harus dijadikan karena ada tindakan kejahatan atau tindakan negatif yang sifatnya meminta bayaran. Beberapa waktu ini aku sedang banyak memperhatikan bagaimana negeri ini memainkan caranya memperoleh korban daripada sebuah pengurbanan. Korban tentunya dari rakyatnya yang kecil, kemampuannya terbatas, dan tak punya otoritas yang memadahi. Semua itu dihisap dengan segala bentuk kekejiannya. Kekejian itu tak harus melulu ada korban jiwa dulu tetapi dalam prosesnya korban nyawa itu dibutuhkan oleh kekejaman sistem dan pola perilaku yang ada di negeri ini. 

Negeri ini memang punya golden rules: (1) rakyat tak boleh pandai karena sekolah itu mahal; (2) rakyat tak boleh kaya karena semua itu berbayar; (3) rakyat tak boleh sakit karena biaya kesehatan itu mahal; (4) tidak ada istilah pencegahan, yang ada "harus ada korban dulu baru ditangani entah tuntas atau tidak. Setidaknya itu menunjuk pada satu titik yaitu bayaran. Ada uang maka ada pelayanan. Tidak ada uang maka kami lebih baik mati saja. Empat golden rules itu sudah jadi karakter bangsa. Ini adalah opiniku pribadi. Aku bisa merasakan dari beberapa hal. Namun dalam coretanku kali ini mungkin hanya sedikit yang aku ungkapkan. 

Ketika ada pihak yang lapor bahwa ada kecurigaan anaknya terpapar napza, maka ia kesulitan untuk mendapatkan pelayanan yang memadahi. Laporan tak selalu mendapat respon yang cukup baik. Laporan hanya sekedar laporan dan itu sudah cukup dengan membayar semisal Rp. 100.000 untuk 30 menit. Sedangkan tindak lanjutnya adalah keluarga itu harus mengurus lagi ke puskesmas, dan ketika puskesmas tidak bisa lalu harus ke babinsa atau polsek setempat karena puskesmas atau Rumah Sakit tidak bisa serta merta menerima pasien yang belum cukup bukti bahwa ia memang terpapar napza. Serba repot, ketika keluarga itu hendak berbuat baik demi keselamatan anak dan keluarganya supaya terhindar dari penyalahgunaan napza namun ternyata di negeri ini sistemnya belum responsif. Bagiku ini adalah ketiadaan sistem pencegahan. Jika ada aturan atau kebijakan mengenai pencegahan pun itu hanya sebatas aturan main di level atas, mungkin di kebijakan UU saja, namun di bawah hal itu tidak diaplikasikan. Semua menuntut bukti fisik yang menyebabkan banyak rakyat lebih baik mengambil keputusan sendiri. Hal itu bisa berdampak (1) lebih baik bunuh diri atau (2) tidak usah lapor saja karena semua serba ribet dan berbelit sehingga menunggu kematian karena napza atau adanya penangkapan oleh polisi, baru ada penanganan. 

Begitu menyedihkannya rakyat yang sudah berabad-abad hidup dalam sistem yang tidak membantu rakyatnya. Negeri ini hanya sebuah sistem yang hadir lewat label dan spanduk belaka. Negeri ini tidak sungguh hadir dan melayani rakyatnya. Lembaga-lembaga negeri ini tak bisa dan tak mau bekerja untuk pelayanan kepada rakyatnya. Lembaga diadakan demi label keberadaan pemerintahan saja. Sedangkan pelayanan itu bullshit belaka. Semua pelayanan adalah zonk. Ketika tradisi menjadi ketidaksadaran maka itu seperti alur hidup biasa saja. Pemudik (karena hari ini adalah puncak-puncaknya) adalah realitas ketidakhadiran sebuah otoritas negeri. Negeri swasta menghadirkan jalan. Itu saja bagiku. Selebihnya kita harus bayar. Bahkan kehadiran jalan itu juga tidak gratis. Paling banter potongan harga. Selebihnya bayar dan bayar. Tradisi ketidaksadaran akan macetnya saat mudik adalah pola perilaku kerumunan yang tanpa kesadaran terus menerus direproduksi dari tahun ke tahun. Kemacetan selalu menjadi konsumsi yang tak habis-habisnya, itu semua ritualistik tanpa kesadaran. Artinya, rakyat sudah mengambil keputusan sendiri bahwa memakai fasilitas pribadi saja daripada harus menunggu bagaimana sebuah otoritas publik itu memberi fasilitas bersama dengan pelayanan yang ada. Memang ritualisme ini adalah wilayah privat. Namun sebagai bentuk kehadiran otoritas publik yang melayani rakyatnya itu semua tidak ada di negeri ini. Paling banter segerombolan "wakil rakyat" memfasilitasi beberapa bus untuk warga rakyat berdasarkan primordialisme kedaerahan untuk mudik.

Sekali lagi, ungkapanku ini adalah sebuah protes ketiadaan pelayanan dari otoritas publik yang bernama negeri yang secara formal yang punya otoritas itu dipilih oleh dan bekerja untuk pelayanan kepada rakyatnya. Lembaga-lembaga pelayanan publik hanya sekedar label saja. Pekerjaannya tidak melayani namun mempersulit. Bukan malah fasilitas namun difisilitas karena malah menyulitkan. Ketika menonton film yang ceritanya sebuah Rumah Sakit ditelpon bahkan oleh orang yang tidak jelas karena mengalami celaka, tim medis pun diturunkan. Bahka ketika penelponnya anonim dan bahkan kalau itu penjahat sekalipun, jika memang membutuhkan layanan publik, maka ada respon cepat mendatangi lokasi penelpon. Aku merasa salut atas gambaran dalam film itu. Itulah yang kunamai sebagai pelayanan publik dan bukan malah sebaliknya. Aku sanksi apakah tim medis akan muncul ketika ada telpon dari rakyat. Bahkan kesanksianku lebih ekstrem lagi yaitu bahkan di negeri ini tidak ada yang namanya call center. Mengapa? Karena jelas itu akan mempersulit lembaga pelayanan publik. Lembaga pelayanan publik adalah lembaga yang harus membuat repot rakyat bukan sebaliknya. Lembaga pelayanan publik adalah lembaga yang ketika dilapori warganya akan berbalik membuat warga yang lapor itu mengurus sendiri, membayar lembaga itu/ personelnya, lari ke sana kemari ke pihak-pihak yang dirujuk dan akhrinya sebelum terjadi pelayanan, yang terjadi adalah korban nyawa atau korban penipuan, korban emosi dan sebagainya. 

Itu semua terjadi di sebagian besar lembaga-lembaga pelayanan publik. Rakyat menjadi sanksi dan skeptis dengan kehadiran pelayanan negeri. Maka lebih baik mengambil keputusan sendiri walau itu salah secara hukum dan moral namun setidaknya ada sebuah tindakan yang diambil dari ketidakpuasan terhadap pelayanan publik. Negeri tumbal butuh korban. Seperti dewa yang butuh tumbal dari anak-anaknya sendiri, itulah ibaratnya negeri tanpa ada itikad baik melayani. Pelayanan bukan sebuah DNA bagi negeri ini. DNA negeri ini adalah tumbal. Tumbal itu selalu menyiratkan adanya sesuatu yang harus dibayar secara fisik, materi, moral atau bahkan nyawa. 


#morning time#    

Monday, February 24, 2025

Efisiensi dan Interest

Setiap orang itu bergerak dan mempunyai passion-nya karena didorong oleh kepentingan. Itu salah satu tesisku saat ini. Ketika ia tugas di suatu karya tertentu atau pekerjaan tertentu, tetapi kalau ia tidak punya passion dan kepentingan maka tugasnya dijalankan hanya sebatas formalitas saja. Alias memenuhi tuntutan formal, SK atau Penugasan. Nah, ketika sebuah kepentingan muncul di saat ia menjalankan tugas utamanya, ia bisa membuat ini dan itu karena ia menemukan kepentingan di situ. Kepentingan itu adalah ia bisa melakukan sesuatu yang di luar tuntutan formalnya. Ia memang tidak menjalankan tugas utamanya dengan sepenuh hati. Atau bahkan kalau dalam kesatuan tertentu ia sebenarnya sudah tidak krasan (tidak betah) dan dengan melenceng itu harapannya ia dipindah. Bisa saja seperti itu. 

Akhir-akhir ini kita kerap mendengar dan berdebat tentang efisiensi anggaran atau keuangan atau biaya. Itu terjadi di negara ini  atau di luar negeri atau di instansi-instansi tertentu. Hal ini karena sebuah tuntutan atau hanya sekedar terpaksa mengikuti instruksi atasan. Semua itu arahnya adalah sebenarnya ada kepentingan apa lagi sampai ada gerakan "efisiensi"? Bagiku semua itu adalah sebuah gimick dari kepentingan tertentu yang tentunya ada pendorongnya dan ada tujuannya. Aku berkaca dari pengalaman di sebuah instansi. Ketika ada himbauan tak keras dari salah satu pejabat di situ tentang "pengiritan" maka kita semua bertanya-tanya untuk apa, bagaimana, dan apa dasarnya? Ketika sebuah "pengiritan" identik dengan belanja barang seadanya, tidak fokus pada kerja utama, tidak perhatian pada pelayanan yang selayaknya, maka itu semua adalah bullshit. Dan ternyata benar, ada rumor yang mengatakan bahwa pejabat itu punya proyek. Proyeknya adalah menanam modal dengan patungan yang berbentuk sebuah ranch. Ada sebuah ranch yang ternyata menyedot pegawai, dana, fasilitas, dan tentunya waktu kerja dari instansi utamanya. Bisa dibayangkan, sebuah proyek tak kecil, butuh waktu dan perhatian, butuh dana tak kecil dan ada pelaku-pelaku yang tak lain adalah buruh-buruh yang ada. Para buruh atau pekerja ini diambil dari instansi utama dan tentunya mengadakan rekrutmen baru dengan standar buruh lepas atau harian. 

Bisa dibayangkan bahwa hal ini akan mengganggu kinerja dari sebuah instansi utama dengan dinamika yang sudah ada, pelayanan jadi tidak optimal, tidak ada omongan jelas bahwa ada proyek besar itu, para pekerja di instansi utama mulai kasak-kusuk tentang proyek itu dan macam-macam. Pertanyaannya adalah (1) dari mana aliran dana untuk proyek itu? siapa penyandang dana utama? (2) jika belum ada pembicaraan, bagaimana proyek itu bisa berdiri? (3) bagaimana status para pekerja di sana? diambilkan gaji darimana? (4) apakah hal itu tidak merupakan konflik kepentingan antara instansi utama dan proyek baru ini? Dan tentunya pertanyaan juga bisa berkembang ke berbagai sisi lain. Aku kadang tak habis pikir ketika sebuah instansi utama membiarkan ini terjadi sedangkan efisiensi selalu didengung-dengungkan ternyata di sisi lain ada pemborosan tanpa sebuah informasi yang jelas. Ya, yang namanya proyek pemborosan tentu tidak akan diumumkan dengan jelas. Orang cenderung akan menyembunyikan, membuat tidak jelas, dan yang penting adalah kepentinganku berjalan. Aku sebenarnya mengkritik adanya ketidakjelasan ini namun aku harus ke mana mengarahkannya juga tidak mudah. Pimpinan tertinggi di sebuah instansi pun juga kurang punya kepedulian tentang hal ini karena kondisi kesehatan dan juga ketidakmampuan (lebih tepatnya ketidakmauan) untuk mengelola hal-hal seperti ini. Kehendak untuk menjamin tata kelola yang sehat pun tidak ada, maka terjadilah pembiaran. 

Ada hal lain juga yang ini menjadi kecurigaanku bahwa ada aliran-aliran dana yang seharusnya layaknya pajak diserahkan kepada negara, tidak semua itu diserahkan ke instansi utama. Maka keluhan akan besarnya desifisit juga sebuah pernyataan bullshit karena tidak ada kesadaran akan solidaritas. Ada banyak dana yang tersembunyi di bawah tangan dan tak pernah diserahkan ke instansi utama. Dana yang selayaknya adalah terkumpul sebagai bukti akan kesadaran bersama untuk hidupnya instansi utama, malah disembunyikan di bawah tangan dan dipakai untuk kepentingan pribadi atau hal-hal yang sifatnya kurang jelas. Aku mencurigai kebocoran di sana sini karena tidak adanya kebijakan jelas mengenai penyerahan dana dari masing-masih pihak untuk instansi utama lantas mucullah istilah "defisit" yang sebenarnya semu karena kesalahan urus. Pihak yang berwenang mengelola dana pun tidak punya kekuatan untuk mengutak-atik hal ini karena berbagai macam faktor. Jadi semuanya tersandera oleh kepentingan. 

Kiranya ini menjadi hal yang serupa terjadi di negeri ini. Ketika seruan efisiensi itu muncul, ternyata di sisi lain pemegang pemerintahan malah mengangkat beberapa staf khusus yang tentunya tidak membawa pada efisiensi anggaran karena staf khusus juga membutuhkan gaji. Gaji pejabat sekelas staf khusus atau pembantu menteri pun tak sedikit. Gaji di instansi manapun akan menghabiskan setidaknya 50-60 % dari anggaran. 

Nah, aku tidak paham cara berpikir sementara orang apalagi di kalangan para pejabat dan pemangku kebijakan. Mereka sering tidak konsisten dengan kebijakan yang dibuat, tidak konsisten dengan kata yang dicuatkan. Atau memang mereka cenderung tersistem tidak jelas sehingga akhirnya ketidakjelasan itu yang memang diciptakan. Ketika mereka semua dikritik, mereka marah dan melakukan tindakan represi. Mereka cenderung anti kritik. Mereka cenderung memanfaatkan celah demi kepentingan mereka. Mereka membuat sistem yang memang ada celah agar kepentingannya berjalan. Jika ada kesalahan maka yang salah "harus" pihak lain atau khilaf atau kebijakannya yang harus diubah.   

Bagiku jelas, bahwa tesis utama masih tetap "manusia hidup didorong oleh kepentingan (abadi)". Maka kepentingan itu yang akan terus menjadi abadi, membuat manusia hidup dengan semangat kerjanya, bahkan jika itu melanggar pola yang ada di sebuah instansi utama atau tugas pokok sekalipun. Memangkas ranting pohon yang sudah kering, memetik buah yang sudah matang, memperbaiki atap yang sudah rusak, menambal barang-barang yang bocor, kalau itu tidak ada kepentingannya dengan egoku, ya tidak akan terlaksana. Yang penting kepentinganku dulu terlaksana. Yang lain-lain kalau belum ada korban jiwa atau kritik massal dan kemarahan, maka belum dilakukan. Itulah kepentingan. Bagaimana dengan kita? Kepentingan apakah yang mendorongku masih hidup sampai saat ini?

#morningtime#