Friday, September 25, 2015

Zona Nyaman

Siapapun dan apapun jika sudah terperangkap dalam "zona nyaman" maka akan mati. Ketika seseorang hanya hidup dalam kenyamanan diri, maka dirinya tak berkembang, setidak-tidaknya tak mau berkembang. Pengalaman ini sungguh kurasakan setahun ini bekerjasama dengan orang-orang dan lembaga yang ternyata sesuai usianya menular dalam cara bertindak dan berpikir orang-orangnya. Ini adalah sebuah kritik bagi diri sendiri dan tempat di mana aku bekerja dan hidup. Tak heran jika Karl Marx dan kawan-kawan yang disebut aliran kiri itu menghajar kaum "establish" dengan kritik pedas dan menyakitkan, tetapi dalam situasi kenyamanan memang orang selalu membuat benteng hidup dengan berbagai alasan untuk melindungi kepentingannya: tak mau diusik kenyamanannya.

Jika seorang guru memberi pelajaran artinya dia sendiri juga belajar bersama murid. Jika orangtua memberi wejangan, ia sebenarnya sedang berbagi hidup dengan anak-anaknya. Jika seorang pemimpin memberi arahan, ia sendiri sebenarnya sedang mengarahkan hidupnya. Jika seorang pembimbing retret membimbing retretan, ia sendiri sedang ikut retret bersama mereka. Intinya bahwa segala sesuatu yang kita ungkapkan keluar, sebenarnya adalah mengungkapkan apa yang ada dalam diri kita. Itulah yang tidak mudah tetapi bisa dilakukan. Guru tak sekedar menuntut muridnya ini dan itu tetapi dia sendiri juga harus menjalankan apa yang diungkapkannya itu. Guru tak sekedar mengajarkan soal kedisiplinan kalau ia sendiri tidak menjalankan dan menghayati. Guru tidak sekedar meminta anak mengumpulkan tugas jika ia sendiri tidak mengumpulkan administrasi (minimal) sebagai alat pembelajaran. Guru tidak hanya menuntut nilai baik dengan banyak tuntutan ini dan itu jika ia sendiri tidak membaca buku-buku sebagai seorang sumber ilmu anak-anak.

Di mana pun dan siapapun itu virus yang mematikan adalah "kenyamanan". Sebuah keluarga yang hanya berpatokan pada kenyamanan salah satu tatanan, maka keluarga itu tak melihat perkembangan anak-anaknya. Ada hal prinsip yang harus diajarkan dan dihidupi oleh keluarga. Misalnya, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Ketiga nilai dasar itu penting bagi hidup. Cara menghidupinya bisa berbeda-beda asal tidak menghilangkan prinsip yang ditanamkan. "Menyerang" kenyamanan itu memang tidak mudah. Harus ada gerak terpadu dari atas ke bawah atau sebaliknya. Harus dicari titik lemah dari kenyamanan itu di mana. Harus dicari titik ketidakimbangan itu dimana. Kita pun harus cerdik seperti ular dalam hal ini. Ada lembaga yang menerapkan caranya adalah dari sisi reward and punishment-nya. Tidak ada lagi honor-honor tiap kegiatan tetapi dialihkan kepada apresiasi kepada para guru yang mendampingi kegiatan dalam satu paket dengan gaji. Ada juga apresiasi jika guru datang rajin dan tidak terlambat, ada apresiasi khusus dari pihak lembaga. Sebaliknya guru yang sering datang terlambat dan "perokok" mendapat punishment, seperti potong gaji 15 % dalam bulan itu atau bulan-bulan di mana ia melanggar. Jika guru terlambat mengumpulkan administrasi, ada punishment lain lagi. Dari sini bukan soal reward and punishment-nya yang mau ditekankan, tetapi bagaimana zona nyaman itu dikikis dan orang menjadi berkualitas dalam bekerja dan siap sedia dalam menjalankan tugasnya. Tidak ada lagi giliran jatah dan itu selalu akan berulang dan berpola sama, yaitu guru atau karyawan menuntut ini dan itu jika ada yang baru.

Orang bekerja tentu ada tuntutan dan standar kerja tertentu. Jika tidak ada hal ini, maka yang terjadi adalah orang tidak dilatih untuk mencapai target yang ada. Pagi tadi aku melihat ada tulisan di papan skore yang sekaligus dipakai anak untuk papan pengumuman dan lagu di kapel. Tulisan di sebaliknya masih ada skor lomba basket. Sedangkan papan itu sudah beralih fungsi menjadi papan lagu di kapel. Dari situ aku hanya berpikir, ternyata anak tidak dilatih untuk kerja secara tuntas. Setelah mengerjakan yang satu, harus dibereskan sampai tuntas, dan baru pindah ke kegiatan yang lain. Ketuntasan ini belum menjadi kesadaran aktual dalam diri anak. Kesadaran intelektual mungkin sudah tetapi aktualisasinya belum. Dari cara bekerja dan bertindak anak, jelas dapat diambil kesimpulan bahwa cara bertindak dari pemberi latihan pun juga belum sampai pada kesadaran itu. Kesadaran konseptual (intelektual) perlu sampai pada aktualisasi diri bahwa kerjaku harus tuntas. Bagaimana KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) tercapai jika unsur yang minimal saja belum tercapai. Hal ini bukan soal mencapai nilai 70 atau 75 tetapi semangat dari 70 dan 75 itu artinya aku sungguh-sungguh mencapai standard kerja yang berkualitas 70 atau 75 itu.

Orang tentu akan banyak berkilah soal kedisiplinan atau konsistensi ikut ini atau itu karena patokannya adalah kepentinganku terakomodasi. Kedisiplinan itu mengesampingkan kepentingan. Konsistensi mengesampingkan kepentingan. Kalau doa pagi saja yang sudah dijadikan komitmen, ada beberapa yang tidak ikut, artinya ada komitmen-komitmen lain yang masih menjadi kepentingan diri daripada kepentingan dari kesepakatan yang ada. Oleh karena itu, hal yang mau kubenahi adalah mengevaluasi kerja kita yang sudah ada dari doa pagi, pengumpulan administrasi sekolah, kerja kepanitiaan, cara menangani sebuah kasus, keluhan-keluhan dari beberapa pihak, dan sebagainya. Tidak usah kita berbicara pada tataran kerja yang muluk-muluk dahulu. Yang pasti adalah niat membangun diri ke depan. Retret selama ini tidak pernah berdaya guna karena tidak menyentuh pada tataran dasar diri aktual, tataran dalam diri real. Yang disentuh hanya dalam tataran diri ideal.

Nah, ternyata dari rasan-rasan, merasakan, selama setahun ini, dan juga yang dirasakan sebagian orang yang masih merasa butuh perubahan, akhirnya kutemukan musuh sejati: ESTABLISHMENT, ZONA NYAMAN. Say NO to ESTABLISHMENT !!!


*Catatan: musuh ini tak mengenal umur, agama, jenis kelamin, golongan, suku dan sebagainya, Siapapun dan kapanpun virus ini dapat menjangkit ..... mengerikan!!!



Morning time @my office

Wednesday, September 2, 2015

Bungsu, Sulung, Bapa


Pernah melihat lukisan Rembrandt, "Return of the Prodigal Son?" Lukisan itu telah menjadi karya yang luar biasa, apalagi setelah Henri J.M. Nouwen membuat tulisan rohani yang mengupas akan lukisan itu. Tentunya bukan saja karena semata kehebatan lukisan Rembrandt tetapi juga karena tulisan Nouwen itulah aku mampu mengenali lukisan yang terkenal itu. Buku yang diterjemahkan pada tahun 1995 itu sebenarnya sudah aku baca pada tahun 1996. Setahun setelah terbitan dalam bahasa Indonesia. Aku lupa isinya semua tetapi yang aku ingat adalah kedua tangan yang memeluk anak bungsu yang kembali itu ternyata berbeda bentuk dan gayanya. Nouwen menuliskan demikian, " kedua tangan itu berbeda. Tangan kiri sang bapa yang sedang menyentuh bahu si anak bungsu begitu kuat dan berotot. jari-jarinya mengembang dan menutupi bahu dan punggung si anak hilang... Berbeda dengan tangan kanannya! Tangan kanan ini tidak memegang atau mencengkeram. Sentuhannya begitu halus, lembut pada bahu si anak bungsu. ia ingin membelai, mengusap, menawarkan penghiburan, dan kelegaan. Itulah tangan seorang ibu."


Bungsu

Dengan membaca dan juga mundur dari keramaian beberapa waktu lalu, diriku memang mengingat kembali bagaimana isi buku itu dan juga dinamika pertobatan sebagai manusia. Si bungsu yang bengal yang berkata:  “Saya adalah anak bungsu yang badung yang sedang dalam perjalanan pulang, menantikan sambutan Bapa.” Itulah kata-kata si bungsu yang bengal, yang meminta harta dari bapanya dan pergi ke tanah asing, menghilang entah kemana. Di sana ia berfoya-foya, bersama pelacur-pelacur. Hidupnya akhirnya "nelangsa", sedih, susah, dan akhirnya kelaparan. Uang dan harta dari bapanya sudah habis. Sebuah pengalaman pergi, "minggat", menghilang entah kemana. Pangalaman anak manusia yang memberontak dari rumahnya. Ada penolakan radikal dari si bungsu bengal yang juga menidak dari jati dirinya sebagai anak. Tindakan pergi berarti penolakan tanpa perasaan terhadap rumahnya tempat dia dilahirkan dan dibesarkan. Pergi ke negeri yang jauh berarti pemutusan ikatan yang mendasar dari sebuah cara hidup, cara berpikir dan cara bertindak yang telah diturunkan turun temurun dari generasi ke generasi. Hal ini tidak hanya tidak menghargai tetapi juga merupakan suatu pengkhianatan terhadap nilai-nilai berharga yang ada dalam keluarga dan masyarakat.

Di sisi lain ia juga tuli terhadap bisikan cinta. Rumah adalah pusat keberadaan saya. Di situ saya dapat mendengar suara yang berujar,”Engkaulah anak yang Kukasihi, kepadamulah Aku berkenan.” Suara itu datang kepada saya melalui orang tua, guru, teman-teman, dan yang paling utama melalui mass media. Suara itu mengatakan,”Tunjukkan kepada saya bahwa Anda adalah anak yang baik, lebih baik dari teman Anda. Saya berharap Anda berprestasi di sekolah. Tanda-tanda suara itu nampak dalam perasaan-perasaan yang muncul dalam diri saya. Kemarahan, dendam, iri hati, keinginan untuk membalas, nafsu, keserakahan, perselisihan, dan persaingan adalah tanda-tanda jelas bahwa saya meninggalkan rumah.


Ada pencarian ke tempat yang sebenarnya tak ia temukan yang ia cari itu. Selama saya senantiasa disibukkan oleh pertanyaan,”Apakah engkau mencintai aku?”, maka saya memberikan segalanya kepada suara-suara dunia dan menempatkan diri saya dalam perbudakan karena dunia ini dipenuhi dengan banyak “JIKA”. Dunia akan mengatakan,”Ya...saya mencintai engkau JIKA engkau menarik, pandai, dan kaya.”Perbudakan mungkin merupakan kata yang paling tepat untuk menjelaskan masyarakat sekarang ini yang boleh disebut hilang. Perbudakan membuat kita terlekat pada hal-hal yang oleh dunia ditawarkan sebagai kunci pemenuhan diri: kekayaan dan kekuasaan, kedudukan dan kehormatan, mengumbar nafsu makan dan minum, dan pemuasan seksual tanpa membedakan antara cinta dan nafsu. 


Si bungsu sadar dan akhirnya bangkit, sadar bahwa di rumah bapanya banyak makanan dan tempat untuk tidur. Berbeda dengan tanah asing. Kesadarannya membawanya untuk melangkah, maju dan kembali ke rumah Bapa. Kesadaran dan niat menunjukkan pertobatan ke arah bapa kembali. Ia ingin meraih keputraannya kembali, martabat keputraan yang selama ini ia hilangkan. Kisah si bungsu adalah kisah kepulangan ke rumah bapanya. Road HomeMenerima pengampunan menuntut kesediaan penuh untuk membiarkan Allah memberikan kesembuhan, pemulihan, dan pembaharuan. Penyerahan diri yang sebagian akan menghasilkan pengampunan yang tidak penuh. Martabat sebagai anak tidak didapatkan. Yang didapatkan adalah status sebagai orang upahan. Sebagai seorang upahan, saya cenderung menjaga jarak, memberontak, menolak, lari, atau mengeluhkan upah.


Sulung

“Terus terang, saya tak pernah memikirkan diri saya sebagai si anak sulung. Namun, selanjutnya... untuk beberapa lama, mustahil bagi saya melihat diri saya sebagai anak bungsu lagi. Saya adalah si anak sulung, tetapi yang hilang seperti si anak bungsu, kendati saya senantiasa ada di rumah sepanjang hidup saya.” Dalam keluhan ini, ketaatan dan kewajiban menjadi beban, dan pelayanan menjadi perbudakan. (hl. 82). Si sulung adalah sang pengamat utama atas kepulangan si bungsu. Dalam mengamati kejadian di depannya, dia mengambil jarak. Dia memandang sang bapa tanpa secercah kegembiraan terpancar di wajahnya. Dia tidak mengulurkan tangan atau tersenyum sebagai ungkapan penyambutan kedatangan sang adik. Dia hanya berdiri di sana, di sudut panggung. Tampaknya dia enggan untuk tampil.


Ketika melihat si bungsu pulang, marahlah si sulung. Ia "ngambek". Ia merasa "apa-apaan ini semua! Ngapain bapa membuat pesta seperti ini, menyambut anak bengal yang sudah menghabiskan banyak harta, berpesta pora bersama para pelacur, dan sekarang pulang.!" Ketika pulang pun masih dipestakan, disambut dengan hangat, diberi pakaian dan sepatu yang terbaik, disembelihkan lembu tambun, dipanggil para penari dan pemain seruling. Melihat seluruh keadaan itu, semua menjadi kemarahan dalam diri si sulung.

Sulung adalah keirian. Sulung adalah sikap tidak gembira melihat si bungsu pulang. Sulung marah. Sulung tidak gembira. Sulung adalah representasi atas iri hati kita. Ada kekuatan gelap yang hebat yang senantiasa menarik saya  masuk ke dalam batin. Perasaan menyalahkan orang lain dan diri sendiri, mmbenarkan diri dan penolakan diri yang terus-menerus saling menguatkan bahkan dengan cara yang lebih buruk. 
Setiap saat saya membiarkan diri larut dalam perasaan itu, saya semakin tenggelam dalam pusaran penolakan diri (Nouwen, hl. 84)... Keluhan terus terjadi dalam diri saya. Tragisnya, sekali orang mengeluh, ia akan diseret kepada hal yang paling ditakuti, yaitu penolakan lebih jauh. Ada kekhawatiran bahwa diri saya akan disingkirkan lagi, bahwa seseorang tidak akan bercerita kepada saya, bahwa saya tetap tidak tahu segala-galanya.(hl. 85). Menjadi anak sulung dalam pengalamanku pribadi adalah anak yang harus memberi contoh teladan kepada adik-adiknya, menjadi panutan, menjadi penegak moralitas di rumah, menjadi sosok yang harus tegar, kuat. Sering inilah yang  menjadi beban hidup. Beban itu jika tidak hati-hati, akan menjadi belenggu yang mematikan, tak menjadikan diriku murah hati. Tak melihat orang lain yang juga mempunyai kelemahan. Aku mempunyai target dan tuntutan tinggi. Orang lain harus ikut diriku.

Si sulung kembali. Ia harus menyingkirkan segala persaingan dan iri hati menyingkir. Ia perlu hidup dalam penerimaan diri, tak lagi hilang karena iri hatinya.Harga dirinya memang dilukai secara menyakitkan oleh kegembiraan bapanya, dan kemarahannya menghalangi dia untuk menerima bajingan yang kembali itu sebagai saudaranya. Dia menjadi seorang asing di rumahnya sendiri. 


Bapa
“Tidak peduli apakah engkau si anak bungsu atau si anak sulung, engkau harus menyadari bahwa engkau dipanggil untuk menjadi sang bapa.” Inti dari lukisan Rembrandt sebenarnya adalah tangan sang bapa. Pada tangan itulah segala terang terpusat; pada tangan itulah mata para pengamat terarah; dalam tangan itulah berkat menjadi daging; melalui tangan itulah si anak yang kepayahan dan sang bapa yang penat mendapatkan istirahatnya. (hl. 112)... Sekarang saya ragu apakah dalam kehidupan ini sayamemang sudah cukup menyadari bahwa Allah sebenarnya mencoba menemukan saya, mengenal saya, dan mencintai saya. Pertanyaannya bukan "Bagaimana saya menemukan Allah" tetapi "Bagaimana saya membiarkan diri ditemukan oleh Allah." (hl. 122)...Perumpamaan tentang anak yang hilang adalah sebuah cerita tentang cinta yang ada sebelum penolakan, dan tetap akan ada di sana setelah segala penolakan terjadi. Itulah cinta pertama dan abadi dari Allah yang sekaligus Bapa dan Ibu...Dalam melukiskan sang bapa, Rembrandt menawarkan sekilas cinta itu kepada saya. Itulah cinta yang selalu menyambut kedatangan kita. Itulah cinta yang selalu ingin merayakan kedatangan kita.(hl. 126).


Itulah sejenak permenungan di tempat sunyi bersama rekan-rekanku yang lain. Permenungan tentang kebungsuan, kesulungan dan kebapaan yang selama ini terjadi di dalam diri manusia. Kisah itu adalah kisah hidupku bersama sesama menuju pada Bapa sejati. Perjalanan ke Bapa sejati tak mudah dan memang di sanalah kita pun mengalami pergulatan batin itu. Itulah pertobatan hidup. 


*Road home. The road to repentance is the road to be back to heavenly Father. We often live like prodigal but also as the elder. We call also, in our way of life, to be father, who has mercy, love, generousity to accept ourselves. We are sinners yet called to be his sons.


#after noon time in my office#