Siapapun dan apapun jika sudah terperangkap dalam "zona nyaman" maka akan mati. Ketika seseorang hanya hidup dalam kenyamanan diri, maka dirinya tak berkembang, setidak-tidaknya tak mau berkembang. Pengalaman ini sungguh kurasakan setahun ini bekerjasama dengan orang-orang dan lembaga yang ternyata sesuai usianya menular dalam cara bertindak dan berpikir orang-orangnya. Ini adalah sebuah kritik bagi diri sendiri dan tempat di mana aku bekerja dan hidup. Tak heran jika Karl Marx dan kawan-kawan yang disebut aliran kiri itu menghajar kaum "establish" dengan kritik pedas dan menyakitkan, tetapi dalam situasi kenyamanan memang orang selalu membuat benteng hidup dengan berbagai alasan untuk melindungi kepentingannya: tak mau diusik kenyamanannya.Jika seorang guru memberi pelajaran artinya dia sendiri juga belajar bersama murid. Jika orangtua memberi wejangan, ia sebenarnya sedang berbagi hidup dengan anak-anaknya. Jika seorang pemimpin memberi arahan, ia sendiri sebenarnya sedang mengarahkan hidupnya. Jika seorang pembimbing retret membimbing retretan, ia sendiri sedang ikut retret bersama mereka. Intinya bahwa segala sesuatu yang kita ungkapkan keluar, sebenarnya adalah mengungkapkan apa yang ada dalam diri kita. Itulah yang tidak mudah tetapi bisa dilakukan. Guru tak sekedar menuntut muridnya ini dan itu tetapi dia sendiri juga harus menjalankan apa yang diungkapkannya itu. Guru tak sekedar mengajarkan soal kedisiplinan kalau ia sendiri tidak menjalankan dan menghayati. Guru tidak sekedar meminta anak mengumpulkan tugas jika ia sendiri tidak mengumpulkan administrasi (minimal) sebagai alat pembelajaran. Guru tidak hanya menuntut nilai baik dengan banyak tuntutan ini dan itu jika ia sendiri tidak membaca buku-buku sebagai seorang sumber ilmu anak-anak.
Di mana pun dan siapapun itu virus yang mematikan adalah "kenyamanan". Sebuah keluarga yang hanya berpatokan pada kenyamanan salah satu tatanan, maka keluarga itu tak melihat perkembangan anak-anaknya. Ada hal prinsip yang harus diajarkan dan dihidupi oleh keluarga. Misalnya, kejujuran, tanggung jawab, dan kedisiplinan. Ketiga nilai dasar itu penting bagi hidup. Cara menghidupinya bisa berbeda-beda asal tidak menghilangkan prinsip yang ditanamkan. "Menyerang" kenyamanan itu memang tidak mudah. Harus ada gerak terpadu dari atas ke bawah atau sebaliknya. Harus dicari titik lemah dari kenyamanan itu di mana. Harus dicari titik ketidakimbangan itu dimana. Kita pun harus cerdik seperti ular dalam hal ini. Ada lembaga yang menerapkan caranya adalah dari sisi reward and punishment-nya. Tidak ada lagi honor-honor tiap kegiatan tetapi dialihkan kepada apresiasi kepada para guru yang mendampingi kegiatan dalam satu paket dengan gaji. Ada juga apresiasi jika guru datang rajin dan tidak terlambat, ada apresiasi khusus dari pihak lembaga. Sebaliknya guru yang sering datang terlambat dan "perokok" mendapat punishment, seperti potong gaji 15 % dalam bulan itu atau bulan-bulan di mana ia melanggar. Jika guru terlambat mengumpulkan administrasi, ada punishment lain lagi. Dari sini bukan soal reward and punishment-nya yang mau ditekankan, tetapi bagaimana zona nyaman itu dikikis dan orang menjadi berkualitas dalam bekerja dan siap sedia dalam menjalankan tugasnya. Tidak ada lagi giliran jatah dan itu selalu akan berulang dan berpola sama, yaitu guru atau karyawan menuntut ini dan itu jika ada yang baru.
Orang bekerja tentu ada tuntutan dan standar kerja tertentu. Jika tidak ada hal ini, maka yang terjadi adalah orang tidak dilatih untuk mencapai target yang ada. Pagi tadi aku melihat ada tulisan di papan skore yang sekaligus dipakai anak untuk papan pengumuman dan lagu di kapel. Tulisan di sebaliknya masih ada skor lomba basket. Sedangkan papan itu sudah beralih fungsi menjadi papan lagu di kapel. Dari situ aku hanya berpikir, ternyata anak tidak dilatih untuk kerja secara tuntas. Setelah mengerjakan yang satu, harus dibereskan sampai tuntas, dan baru pindah ke kegiatan yang lain. Ketuntasan ini belum menjadi kesadaran aktual dalam diri anak. Kesadaran intelektual mungkin sudah tetapi aktualisasinya belum. Dari cara bekerja dan bertindak anak, jelas dapat diambil kesimpulan bahwa cara bertindak dari pemberi latihan pun juga belum sampai pada kesadaran itu. Kesadaran konseptual (intelektual) perlu sampai pada aktualisasi diri bahwa kerjaku harus tuntas. Bagaimana KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal) tercapai jika unsur yang minimal saja belum tercapai. Hal ini bukan soal mencapai nilai 70 atau 75 tetapi semangat dari 70 dan 75 itu artinya aku sungguh-sungguh mencapai standard kerja yang berkualitas 70 atau 75 itu.
Orang tentu akan banyak berkilah soal kedisiplinan atau konsistensi ikut ini atau itu karena patokannya adalah kepentinganku terakomodasi. Kedisiplinan itu mengesampingkan kepentingan. Konsistensi mengesampingkan kepentingan. Kalau doa pagi saja yang sudah dijadikan komitmen, ada beberapa yang tidak ikut, artinya ada komitmen-komitmen lain yang masih menjadi kepentingan diri daripada kepentingan dari kesepakatan yang ada. Oleh karena itu, hal yang mau kubenahi adalah mengevaluasi kerja kita yang sudah ada dari doa pagi, pengumpulan administrasi sekolah, kerja kepanitiaan, cara menangani sebuah kasus, keluhan-keluhan dari beberapa pihak, dan sebagainya. Tidak usah kita berbicara pada tataran kerja yang muluk-muluk dahulu. Yang pasti adalah niat membangun diri ke depan. Retret selama ini tidak pernah berdaya guna karena tidak menyentuh pada tataran dasar diri aktual, tataran dalam diri real. Yang disentuh hanya dalam tataran diri ideal.
Nah, ternyata dari rasan-rasan, merasakan, selama setahun ini, dan juga yang dirasakan sebagian orang yang masih merasa butuh perubahan, akhirnya kutemukan musuh sejati: ESTABLISHMENT, ZONA NYAMAN. Say NO to ESTABLISHMENT !!!
*Catatan: musuh ini tak mengenal umur, agama, jenis kelamin, golongan, suku dan sebagainya, Siapapun dan kapanpun virus ini dapat menjangkit ..... mengerikan!!!
Morning time @my office



