Sunday, April 27, 2025

Warisan

Aku tidak bicara soal warisan harta, namun sebuah kesaksian hidup yang sangat bermanfaat bagi kelangsungan manusia dan kemanusiaannya. Aku ingat akan sebuah kejadian dalam sebuah keluarga yaitu setelah kematian ibunya, anak-anak dalam keluarga itu malah berkelahi berebut harta warisan. Aku berpikir mengerikan juga jika itu terjadi dalam hidup ini karena kita kadang masih mempunyai egoisme tinggi, kelekatan kuat pada harta benda, dan keinginan untuk memupuk harta dan status sosial. Aku juga paham karena secara realistis manusia selalu akan butuh harta benda selama hidupnya di dunia. Namun bagiku yang terutama adalah sikap terhadap barang atau harta itu. Jika kita mempunyai prinsip bahwa hidup ini mempunyai tujuan dan sarana, kiranya sikap itu dapat dipakai untuk memperlakukan hidup kita sesuai dengan apa yang kita butuhkan dan tidak akan mempunyai sikap tamak terhadap sarana. 

Aku belajar banyak dari warisan seorang Jorge. Lepas dari dia adalah tokoh dunia yang baru saja dimakamkan kemarin, aku merasa lebih nyaman dan dekat dengan menyebutnya Jorge. Aku merasa bahwa sebagai pribadi, pilihan-pilihan hidupnya membawa sebuah perubahan pada sebuah institusi besar dan tua ini. Wajahnya mulai berubah. Arahnya lebih kembali ke asal. Ia tidak justru menampakkan keangkuhan dengan wajah angker sebuah institusi. Itu pertama-tama yang aku kenali dan rasakan. Hal kedua adalah keberanian mengaku salah dan merubah arah. Sebuah institusi tentu punya kesalahan. Ia bukanlah super body yang tak ada salah. Sebuah institusi terdiri dari manusia-manusia. Manusia ada kesalahan dan bisa atau berpotensi bersalah. Apapun jenis dan nama institusi itu pasti ada kesalahan. Dengan mengakui kesalahan bukan berarti menurunkan pamor namun justru mengembalikan kepercayaan karena dengan itu, institusi itu mengembalikan wajahnya dan marwahnya. Yang ketiga adalah dari situ Jorge mengajak kita semua untuk menurunkan ego kita masing-masing. Kita semua punya ego dan ego itu yang sering menghambat pertumbuhan, menghalangi koomunikasi dan relasi, mengkerdilkan pribadi dan yang tersangkut padanya. Dengan mengkerdilkan atau menurunkan ego kita, maka semua penghalang itu terputus. Kita menjadi merdeka bertumbuh menjadi makhluk. 

Pilihan nama yang kemudian ia sematkan sebagai nama resmi kepemimpinannya juga menunjukkan apa yang ia kerjakan. Fransiskus adalah sosok miskin. Dengan kemiskinan itu, ia bukan hanya mau menunjukkan bahwa dirinya memang menghayati pribadi yang merdeka dan tak lekat pada harta benda duniawi, namun ia adalah makhluk manusia dengan segala macam dimensi kemanusiaan yang melekat padanya. Kemiskinan mengajarkanku pada banyak hal. Kemiskinan bukan hanya simbol. Kemiskinan adalah praktik hidup merdeka, tak terikat, tak banyak kepentingan yang mengekang diri. Kemiskinan memang mengajak kita untuk saling berbagi dan bukan menumpuk harta. Kemiskinan mengajarkaku untuk lebih peduli, solider, bekerja keras dan rela berkurban. Kemiskinan akan selalu memilih kesederhanaan dalam setiap tindak dan pilihan hidup. 

Jorge alias Fransiskus alias si miskin dan sederhana itu mewariskan padaku sebuah semangat untuk tetap memperhatikan kemanusiaan. Manusia yang miskin adalah manusia yang terbuka pada bimbingan ilahi dan Roh yang membuka wawasan budi dan hati nurani. Mereka yang miskin tak punya kepentingan. Ketika tak punya kepentingan maka ia adalah manusia yang berani dan tidak takut akan apapun. Kemiskinan itu telah membimbing orang pada keberanian untuk hidup walau di tengah-tengah marabahaya. Dunia yang tak baik-baik saja ini berpotensi selalu dikuasai kegelapan kemanusiaan. Namun Jorge tak gentar walau banyak musuh di sekelilingnya. Sosok kecil dan rendah hati itu memberi warisan mendasar pada dunia yaitu bahwa kesederhanaan (baca: kemiskinan) memanggil kita untuk kembali pada kemanusiaan yang asali dan dasariah. Manusia kecil dan miskin (minorum) adalah manusia yang kembali pada fitrahnya. Maka jika dunia dihuni oleh manusia-manusia yang kecil, akan tumbuhlah kemanusiaan yang murni.

Sayangnya dunia saat ini mengartikan yang kecil dan miskin (minorum) itu sangatlah negatif. Bahkan memang "minor" akhirnya. Kemiskinan identik dengan kekurangan, kepahitan, kemelaratan yang mencabik kehidupan, ketidakberdayaan yang bisa diperdayakan, kebodohan yang selalu ditipu oleh yang berkuasa. Semua nada itu tidak ada keutamaannya. Oleh karena itu, kiranya, warisan akan menjadi yang kecil dan miskin itu adalah yang utama bagiku. Menjadi miskin dan kecil membuat hidup ini makin merdeka, tak punya kepentingan dan ego kita lepaskan. Ketika semuanya terjadi, maka bumi ini menjadi firdaus. He is a man of peace. He is a welcome person. He is a man of prayer. 


#morningtime#