Friday, December 27, 2024

Kasunyataning Urip

Masyarakat manusia ini memang hidup berdampingan satu dengan yang lain. Manusia tak hidup dengan dirinya sendiri. No man is an island. Itulah sebabnya pola hidup yang berelasi, terkoneksi satu dengan yang lain ini kemudian melahirkan masyarakat dari yang terkecil sampai yang paling besar. Namun demikian tak semua proses berelasi itu berjalan dengan lancar. Ada gesekan-gesekan kecil sampai besar yang menimbulkan konflik atau peperangan. Konflik-konflik itu terjadi karena berbagai macam hal. Ada faktor kecemburuan, ada faktor persaingan, ada faktor keinginan untuk menguasai, ada juga karena tak lagi ada komitmen berelasi secara murni dengan satu pihak saja. Manusia mempunyai kehendak bebas untuk menentukan dirinya, termasuk mempertahankan sebuah relasi ataupun menghentikannya. Karena kehendak bebas inilah kiranya ada sebuah batasan yang dibuat manusia itu sendiri agar tidak semaunya sendiri. Dalam hidup ini tentu ada struktur atau sistem yang mengatur atau mengelola hidup ini sendiri. 

Di jalan ada seorang ibu yang menggendong anaknya dan dibawa panas-panas terik untuk mengemis dan dari sana aku bisa melihat bahwa bukan sekedar kemiskinannya yang aku lihat tetapi lebih kepada mentalitas dan struktur masyarakat kita di mana masih menoleransi pola meminta-minta itu. Ada yang salah dalam masyarakat manusia ini sehingga masih membiarkan orang meminta-minta. Entah karena sistem sosial yang memang "memfasilitasi" untuk terjadinya itu. Kehadiran sebuah perwakilan tatanan tidak selalu normal dan ideal. Yang normal saja tidak terjadi apalagi ideal, karena ideal itu tidak akan pernah terjadi di dunia yang dibatasi ruang dan waktu ini. 

Demikian juga ketika sebuah relasi akan berubah menjadi percekcokan karena salah satu pihak memulai dengan sebuah hal yang tidak bisa diterima oleh yang lain, entah lupa janji, tak komitmen lagi, melanturkan diri ke relasi-relasi lain, itu juga berdampak. Relasi ini selalu tidak ideal sebagaimana hidup ini tidak ideal. Hidup adalah kenyataan, real. Demikian juga ketika dua pribadi merayakan sebuah relasi mereka, itu pun tak selamanya akan mengalami jalan yang lurus-lurus saja. Ada pendakian. Ada belokan. Ada geronjalan. Ada aspalan. Ada jalan becek. Ada banjir. Ada angin badai. Di alam raya ini banyak kemungkinan, ada sebab dan akibat. Kesadaran akan seluruh realitas memanglah penting. Hal ini supaya kita masih menapak bumi dan tidak hidup dalam awang-awang idealisme. Namun demikian, yang terpenting dan mendasar adalah bagaimana realitas itu dijalani dengan sepenuh hati dan kembali sadar diri untuk kembali pulang. 

Sekedar berandai menetapi diri ini
Berpencar pergi tuk mencari apa yang lama dicari
Pergi tanpa pamrih pergi tanpa pamit akan
Ke sana kemari tanpa arah serta ratusan makian

Kembali pulang tuk menenangi
Banyaknya luka yang berantakan
Peluk hangat sikap tuk sembuhkan
Kembali pulang bersama terang
Menghiasi diri merayakan
Genggaman tangan yang masih ada

"Kembali pulang", dalam sebuah lirik itu mengungkapkan kepada kita bahwa sejauh-jauhnya sebuah relasi yang melenceng pun perlu dikembalikan ke asalnya. Tentu ada luka. Tentu ada bekas-bekas tak nyamannya. Ada keberantakan yang terjadi. Ada rasa kecewa. Ada curiga. Itu semua timbul karena satu pihak atau keduanya saling belum terbuka. Terbuka yang membawa percaya.  

Demikian juga potret kehidupan yang lain di mana sebuah pasangan hidup dalam lunta-lunta nestapa. Hidup mereka harus mengais-ngais sampah dan di antara comberan dan debu jalanan. Hidup mereka ada dalam rumah kardus dan gerobak pemulung. Namun mereka tetap setia dalam seiring sejalan demi kehidupan itu sendiri. Atau sebuah keluarga yang harus banting tulang dalam hidup. Tak bisa keduanya mencari nafkah, namun dalam kesederhanaan itu, kerja keras itu, hidup harus terus berjalan. Aku pun yakin apapun bentuk relasi antar pribadi yang dinamakan keluarga itu selalu ada suka dan duka, untung dan malang. Ending sebuah perjalanan kita tidak tahu. Kita hanya menjalani dan mencari makna. 

Tak semua seperti postingan story atau status di medsos, yang menampilkan yang baik-baik, ganteng, cantik, kumpul sana sini, makan bareng, rekreasi bareng, namun kita tidak tahu sebenarnya yang terjadi di balik panggung kehidupan itu. Gebyar panggung tak sama dengan belakang panggung. Bahkan jika melihat dan memaknai kehidupan yang dinamakan keluarga pun juga tak lepas dari ruang sunyi tersembunyi yang jauh dari hiruk pikuk story atau postingan status medsos. Justru mereka yang berada di balik panggung kehidupan keluarga dan tak terekspose itulah yang bagiku bermakna dan menyentuh. Ada pribadi-pribadi kuat dan tanpa pamrih ingin narsis atau pamer diri. Hidup tak hanya dimaknai dan dihargai lewat pamer diri.  

Hidup lebih dalam dan lebih jauh dari sekedar pamer diri. Hidup merupakan kasunyatan yang harus dijalani, bukan dipamerkan. Perkara orang lain melihat atau tidak itu tidak masalah. Orang sekarang selalu ingin terlihat ini dan itu yang nadanya adalah pamer atau ingin dipuji atau ingin menyemangati diri. Orang terfasilitasi dengan hal-hal yang serba visual. Zamannya zaman visual, maka hidup ditarik ke hal-hal itu juga. Orang tak menyanyikan "kidung sunyi" namun kidung riuh kehidupan yang kadang perlu diwaspadai karena di sana ada bahaya penipuan diri. Orang tidak otentik dengan dirinya. Orang hanya dipandang dari yang kelihatan. Apalagi di tengah masyarakat yang budayanya "maling", serba formalistik dan tak otentik. Sedari dini sudah diajari bagaimana cara "maling" secara efektif yaitu sekedar isi form maka seluruh hidupmu ada di sana. Ketika mengisi form, seolah-olah hidup ini sudah lengkap dan baik. Form dikumpulkan ke pusat, lalu tanpa verifikasi kualitas sebenarnya, semua beres. Itulah budaya formalisme. Formalisme yang membawa pada mentalitas maling secara resmi. 

Belum lagi, generasi saat ini yang semakin spesialis, akan menerima dampak kesulitan mencari nafkah hidup. Makin spesialis, makin akan susah mencari profesi. Lebih beruntung ketika zaman generasi itu generalis. Pekerjaan terbuka. Profesi tak menuntut spesialisasi. Memang spesialisasi itu mahal harganya. Namun demikian itulah yang kelihatannya bagi generasi zaman ini perlu dikembalikan kepada marwah kehidupan yaitu bahwa hidup itu bukanlah sebuah spesialisasi profesi. Hidup itu ada yang spesialis, ada yang generalis. Mahal tidaknya sebuah konsekuensi adalah kenyataan. Itulah kasunyatan hidup. Dan dalam kasunyatan itu brayat atau keluarga itu hidup. 

Hidup harus berjalan, hidup harus terus berlangsung. Oleh karena itu, di akhir tahun ini, aku hanya merenung bahwa hidup ini terus bergulir. Makna-makna yang lain akan terus dicari dan dijalani seiring dengan bergulirnya waktu. Ke manakah hidup akan berlabuh, itu semua ada di tangan kita yang menjalani. Apakah aku mau kembali pulang, apakah aku mau berpura-pura, apakah aku mau bersembunyi dan mengelak, dan sebagainya, itu semua adalah pilihan kita masing-masing. Di sana masih ada jalan dan waktu. Jalan kepura-puraan, kepalsuan, kemelencengan, ketidaksetiaan, dan jalan-jalan kerapuhan lain masih akan diuji oleh waktu. Kapan kita mau kembali pulang, ke kasunyataning hidup itu sendiri.


#wayahesuk# 



Thursday, November 28, 2024

Dominion

Kecenderungan untuk berkuasa itu ada dalam diri setiap makhluk. Misalnya, binatang pasti ada satu yang berkuasa atas kawanannya. Tumbuhan pun ada yang karakternya tidak ingin diungguli yang lain, entah itu dengan bentuk batang yang menjulang tinggi, atau yang memang tidak bisa hidup bersama karena tidak ingin ditutupi oleh yang lain. Macam-macam bentuk kehendak ingin berkuasa atau tidak ingin disaingi yang lain. Itulah sebentuk kekuatan yang memang ada dalam diri ciptaan atau makhluk. Dan manusia hanyalah salah satu dari ciptaan itu. Namun kadang kita sebagai manusia ini merasa jumawa dan menganggap bahwa manusia adalah puncak dari ciptaan yang ada di dunia ini, belum di alam semesta ini setidaknya. Kita tidak tahu apakah ada ciptaan lain yang lebih mumpuni daripada seorang manusia yang merasa diri lebih hebat dari makhluk lain karena akal budinya. 

Ketika membicarakan soal kelebihan manusia, kita sering hanya melihat dari sisi akal budi. Memang akal budi manusia itu berkemampuan luar biasa. Ada kemampuan untuk mengatur, ada kemampuan untuk mengkoordinasi, ada kemampuan untuk menganalisa, ada kemampuan untuk membeda-bedakan, ada kemampuan untuk mengkalkulasi, dan sebagainya. Namun di sana pula ada kemampuan untuk memanipulasi juga. Kemampuan-kemampuan itu serasa kemampuan yang memang mempunyai kemiripan dari Penciptanya karena akal budi itu layaknya prototipe akal semesta alam, yang adalah akal dari Pencipta. Kekuasaan adalah hal yang kemudian  berkambang dari manusia karena manusia mempunyai hal yang lebih kemampuan menaklukkan. Penaklukan ini bermula menaklukkan ciptaan lain selain kelompok manusia. Ia menaklukkan alam dengan kemampuan menjelajah. Ia menaklukkan tumbuhan karena kemampuan bercocok tanam. Ia menaklukkan binatang karena ia bisa menguasai, menjinakkan, dan membunuh untuk dijadikan makanan. Rantai makanan yang berada di puncak akhirnya adalah manusia. 

Dalam sebuah perjumpaan, aku menemui sebuah hal yang terkait manusia, akal budi, dan dominasi. Manusia yang kusebutkan di dua paragraf awal tadi mengawali kisah ini yang mungkin tidak banyak bertele-tele. Intinya, si manusia kadang dalam perjalanannya, karena situasi masa lalu, keluarga, relasi-relasi yang dibangun, pengalaman-pengalaman yang menimpa dirinya, bisa membuat dirinya harus berpola tertentu. Salah satunya adalah pola perilaku yang idealis, perfectionis, didominasi otak, dan akibatnya dia ingin mengontrol semua. 

Kehendak ingin berkuasa tidak sefrontal yang terjadi di dalam kehidupan flora dan fauna. Kehendak untuk berkuasa dari manusia sudah agak berkembang daripada kemampuan binatang. Jika binatang langsung dengan gerakan fisik, manusia biasanya bergerak dengan kemampuan berpikir, merasionalisasi, membuat sebuah argumen, menganalisa dan baru menyerang. Serangannya bukan dengan fisik saja, ia juga bisa menyerang dengan verbal atau kata-kata atau kritikan yang terwujud dalam bentuk tulisan karena kemampuan akal budi yang sudah lebih berkembang dibanding primata atau homo sapiens di awal perkembangannya. Kemampuan berdiplomasi, melobby adalah sebuah kemampuan yang mencuat kemudian ketika kumpulan homo sapiens mengenal bahasa. 

Bahasa yang dipakai manusia akhirnya bermacam-macam. Ia bisa menciptakan bahasa dengan berbagai macam tergantung dari mana asalnya. Lokalitas membatasi kemampuan penyebaran bahasa dari manusia. Ada yang memang mirip dan ada yang sama sekali berbeda karena situasi budaya tertentu yang memang tidak terhubung sama sekali. Maka, jika makhluk manusia ingin menguasai kelompok manusia yang lain, ia harus mempelajari bahasa dari kelompok yang ingin ia kuasai.

Dalam lingkup yang lebih terbatas dan personal, penguasaan dan keinginan untuk mengontrol sangat terkait juga dengan mekanisme pertahanan manusia. Prinsip awal sebagai primata yang senada dengan makhluk lain adalah sebelum dikuasai yang lain maka haruslah menguasai. Ini sangat natural dan dialami oleh siapa saja. Ada seorang pribadi yang memang kritis, analisis, kemampuan secara intelektual tidak diragukan lagi. Ia sangat kuat dalam hal yang detil. Ia mempunyai kekuatan di dalam hal itu namun di sisi lain jika kita paham akan dua sisi mata uang, kemampuan atau kekuatan itu juga berdampingan dengan kelemahannya. Di balik kekuatan ada kelemahan. 

Aku menemukan sebuah fenomena dalam diri pribadi manusia-manusia muda saat ini yaitu demikian: sebenarya mereka sangat terfasilitasi di masa hidup awal dalam keluarga namun sayangnya karena hal itu mereka menjadi miskin imaiginasi, rasa, dan afeksi. Belum lagi jika pola asuh ada yang salah, biasanya akan menjadi masalah lagi. Dari miskinnya rasa, imagi dan afeksi, yang berkembang kuat akhirnya adalah otak. Akal budi seperti segala-galanya. Dan dari sanalah seseorang itu menjadi kelihatan apakah ia sungguh cerdas secara utuh atau cerdas dalam tataran ide saja. Aku sangat menghargai mereka yang cerdas secara utuh (lengkap) daripada orang yang cerdas dalam tataran ide saja. Dan kerap kali mereka yang hidup di tataran ide inilah yang sering kali mempunyai karakter ingin menguasainya lebih kuat juga. Mereka seperti ingin mengalahkan yang lain karena kekuatannya ada di dunia ide, namun ketika ditantang ke tataran praksis, mereka biasanya berdalih (merasionalisasi). Itulah mengapa aku menemukan hal ini bermula dari otak. 

Mereka berkutat pada tataran pemikiran, analisa, diskusi ini dan itu, berdebat, berkalkulasi, berteori konspirasi, dan sebagainya. Akhirnya, mereka biasanya ingin supaya dirinya diperhatikan, didengar, dianggap dan sejenisnya. Mereka biasanya miskin imaginasi, rasa, dan afeksi karena intelek itu cenderung manipulatif. Manipulasi itu akhirnya menciptakan ketidakjujuran, memoles diri, membuat serasa semua harus sukses, berhasil, berprestasi dan sebagainya, karena kalau itu tidak terjadi maka kegagalan, kerapuhan, borok itu terkuak lebar. Dan biasanya si idealis ini akan marah, merasa diri gagal, merasa ada yang menguasai, menyaingi dan sejenisnya. 

Kegagalan dan kerapuhan bagi si idealis adalah runtuhnya dunia. Maka ide itu harus benar-benar sebaik mungkin. Itulah kiranya seperti kisah Pygmalion (dalam mitologi Yunani) yang karena pengalaman berelasi dengan wanita selalu gagal dalam hidup realnya, maka ia membuat imaginasi ideal mengenai wanita. Ia adalah pematung. Lalu ia membuat patung wanita dari pualam yang putih dan karena kemampuannya yang luar biasa, patung wanita yang ia ciptakan itu sungguh mirip dengan wanita yang sempurna. Itulah idealisme wanita dari Pygmalion. Karena saking idealnya patung itu, Pygmalio sampai menjadi jatuh cinta pada patung ciptaannya. Ia akhirnya menikahi patung idealisme ciptaannya itu dan tidak ingin menikah dengan wanita biasa dari manusia. 

Kisah Pygmalion dan patungnya itu kiranya menjadi contoh bahwa kadang kita ingin hidup dan mencipta idealisme sendiri. Bahkan saking ekstremnya, kita ingin menikahi idealisme kita karena (1) berhadapan dengan realitas yang ada selalu tidak memuaskan dan (2) jika kita memiliki idealisme dalam hidup, aku seperti bisa menguasainya sendiri. Berbeda jika aku menikahi wanita yang sama-sama manusia, kadang tidak bisa menguasainya, atau malah si laki-laki dikuasai wanita. Itulah kiranya pelajaran yang dapat kuambil dari kisah Pygmalion. 

Ada hal-hal dalam hidup ini yang memang tidak bisa kita kuasai. Namun bagaimana aku bisa menguasai diriku dan secara realistis memahami hal-hal yang terjadi dalam hidup, baik yang ada dalam diriku sendiri maupun di luar diriku, itulah yang kuperlukan. Maka, belajar terus untuk berani dengan rendah hati bukan untuk menguasai namun berani menjadi rendah, dihina, disepelekan, itu yang diperlukan, walau di sana jalan terjal dan menyakitkan itu kita alami. Apa gunanya kekuasaan jika kita tidak bisa menguasai diri sendiri. 

#eveningtime#   

Tuesday, October 22, 2024

Parseus

Ada sebuah masa di mana manusia ingin menentukan nasibnya sendiri tanpa harus takut pada amukan dewa-dewi di zaman mitologi. Kisah ini menandakan adanya sebuah perubahan cara berpikir manusia lama yang sarat dengan mitos-mitos ke manusia baru yang tidak lagi takut akan kemarahan dewa-dewi yang dibuatnya sendiri. Manusia harus memberi penghormatan kepada dewa-dewi supaya mereka tidak menurunkan bencana atau murka pada manusia. Bencana alam dan penyakit serta nasib buruk dipercayai sebagai tulah dari murka dewa-dewi. Dan itu dalam mitologi Yunan kuno ditandai dengan para tokoh yang mau membebaskan belenggu manusia lama ke manusia baru. Ada sejumlah nama seperti Hercules, Parseus, dan Achiles. Ketiga nama itu adalah manusia hybrid. Mereka adalah setengah dewa, setengah manusia, karena ayahnya adalah dewa Zeus. Ibunya adalah manusia biasa. Biasanya di awal cerita dikisahkan bahwa Zeus "membuahi" perempuan manusia sehingga lahirlah anak manusia setengah dewa dengan segala kekuatannya masing-masing. 

Anak manusia setengah dewa ini kemudian berperan dalam pembebasan cara pikir dan bertindak manusia di mana ia adalah makhluk yang mempunyai otonomi menentukan pilihannya sendiri atau menentukan nasibnya  sendiri di dunia. Yah, ternyata dalam masa tertentu manusia perlu menyadari diri bahwa dirinya adalah makhluk yang merdeka dan mempunyai otonomi untuk menentukan nasib sendiri, terbebas dari cara berpikir mitis dan tidak merdeka.   

Banyak dari antara kita terjebak dalam keterbelengguan. Hidup rasanya tidak merdeka. Hidup ini seperti terbelenggu. Belenggu yang ada adalah berbagai kepentingan, relasi, pengalaman masa lalu atau keinginan masa depan, dan termasuk norma-norma kaku dalam relasi antar makhluk yang menjadikan kita seperti terbelenggu karena kondisi tertentu. Dalam sebuah percakapan, ada kisah tentang dua hal dari dua anak manusia.  Seperti biasa anak manusia membuat sebuah hal yang kemudian justru membelenggu jiwanya ketika hal yang dibuatnya tidak menyelesaikan masalahnya atau malah membuat masalah baru karena satu dan lain hal. 

Ketika sebuah relasi menjadi belenggu karena relasi yang dibangun selama ini justru menimbulkan kesedihan, beban, kungkungan tak kunjung berhenti. Awalnya tak ada yang mau mendengarkan atau meringankan beban relasi yang tak harmonis itu. Kemudian ada pihak yang mau mendengarkan dan sedikit banyak meringankan beban derita relasi itu. Di satu sisi, karena relasi masa lalu seorang anak manusia mengalami keterbelengguan karena statusnya adalah orangtua dan anak. Ketika masih anak-anak, ia sangat ditekan ibunya. Relasi terjadi karena yang satu takut yang lain menekan. Yang satu menekan supaya anak itu menuruti ibunya sedemikian sehingga mau membebaskan diri dari kungkungan relasi masa lalu ini tak kunjung bisa. Si anak sampai-sampai merasa bahwa kalau ia tidak mengindahkan ibunya, ia seperti anak durhaka. Padahal di usia yang sudah dianggap dewasa, sebagai pribadi ia wajib menentukan nasibnya sendiri. 

Kunci utama dalam hal ini adalah menentukan nasib sendiri, berani membuat keputusan dan mau menjalankan keputusan dengan konsekuen. Ketika relasi antara dua orang dewasa diresmikan, maka di sana ada konsekuensi, yaitu berani untuk komitmen dalam situasi apapun. Namun jika tidak berjalan dengan semestinya relasi itu di tengah jalan, maka banyak pertanyaan, banyak hal yang bisa saja akan diambil salah satu pihak untuk berbuat yang mungkin bisa saja disebut "mengkhianati" komitmen itu. Jika ada pola relasi timpang, maka apa yang harus dibuat? Akankah kita hanya memberi nasihat supaya yang lemah mengalah? Apakah kita hanya melihat secara normatif legalistik persoalan relasi antara dua orang dewasa ini sehingga kadang yang ada hanya jalan buntu? Ketika yang lemah dan kalah itu memberontak dan mengambil jalan lain dan berelasi dengan yang meringankan beban, biasanya yang terjadi adalah penghakiman. Ia bisa dikatakan tidak setia, pengkhianat, dan lain-lain yang lebih kasar secara moral. Orang dengan mudah akan menghakimi tanpa melihat dari sisi yang lebih luas dan utuh. 

Ketika seorang anak yang sudah menginjak dewasa namun belum bisa mandiri secara finansial dan harus memutuskan nasibnya/pilihannya, biasanya ia tidak segera akan berani karena terbebani oleh rasa tidak enak karena masih dibiayai orangtua, nanti takut orangtuanya kecewa, akan ada penghakiman dari keluarga dan sebagainya.   Apalagi jika di masa lalunya, si anak masih punya beban-beban relasi yang bernada hutang budi, maka butuh rekonsiliasi. Keberanian untuk berbicara jujur pada orangtua adalah kunci, walau tidak semudah aku membalikkan telapak tangan. Kadang ada rasa berat, sungkan, tidak mau mengecewakan dan sebagainya. 

Di satu sisi kita terbebani oleh masa lalu kita, di sisi lain ada yang terbebani oleh sikap legalistik dan sok moralis dari budaya masyarakat kita. Aku sedikit banyak harus berani mengatakan bahwa jika sebuah sarana manusia justru membelenggu dirinya demi kebaikan jiwanya (keselamatan) maka sarana itu bisa diletakkan. Apapun itu jika sudah membelenggu, bersifat toxic, menindas, membebani, atau mengurangi kualitas martabat manusia pada dirinya, maka manusia berhak untuk membebaskan diri. Memang konsekuensinya adalah cercaan publik bahwa ada ungkapan moralis yang pasti akan menghancurkan martabat dirinya yang memang sedang lemah. Banyak dari pribadi manusia dihancurkan dengan pembunuhan karakter karena tidak sejalan dengan narasi mayoritas atau narasi moralitas yang sebenarnya dominasi kuasa kepada yang tak punya kuasa. Mitos-mitos dalam kehidupan ini sangat kompleks dan kadang kita berada di belenggu yang satu ke belenggu yang lain. Kita tidak bisa benar-benar merdeka karena dunia kita sudah dikuasai oleh kuasa-kuasa yang terstruktur dan itu mudah sekali menjadi penghakiman bagi mereka yang sebenarnya terjajah dan terbelenggu. 

Keberanian membebaskan diri tentu akan mendapat tantangan dari dunia yang terstruktur oleh sikap-sikap pengadil yang tak adil lain. Melihat secara utuh dan mendalam setiap persoalan manusia adalah perlu, sehingga tidak terjadi penghakiman yang tak adil. Dunia manusia bukan dunia hitam-putih. banyak warna dan banyak juga abu-abunya. Bahkan anak manusia bisa mengatakan bahwa norma (dengan muatan moralitasnya) diadakan untuk anak manusia dan bukan manusia untuk hal-hal tadi karena anak manusia adalah tuan atas apa yang dibuatnya. 

#noontime#

Wednesday, September 11, 2024

Tawanan Kegagalan

"Saudara-saudari, berhadapan dengan banyaknya tugas kehidupan kita sehari-hari; pada panggilan yang kita semua alami untuk membangun masyarakat yang lebih adil, dan untuk bergerak maju di jalur perdamaian dan dialog – jalur yang telah ditelusuri di Indonesia selama beberapa waktu –, kita terkadang merasa tidak mampu. Kita merasakan beban dari begitu banyak komitmen yang tidak selalu membawa hasil yang diinginkan atau kesalahan kita yang seolah menghentikan perjalanan. Namun dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak terus menerus menjadi tawanan kegagalan-kegagalan kita. Ini adalah hal yang sangat buruk, karena kegagalan menimpa kita dan kita bisa menjadi tawanan dari kegagalan-kegagalan itu. Saya mohon, janganlah kita terus menjadi tawanan atas kegagalan-kegagalan kita. Daripada tetap terpaku pada jaring kita yang kosong, marilah kita memandang DIA dan percaya kepada-Nya. Jangan melihat jala kita yang kosong, lihatlah DIA, lihatlah DIA! Dia akan membuatmu berjalan, Dia akan membuatmu berjalan dengan baik, percayalah pada DIA! Kita selalu bisa mengambil risiko untuk bangkit kembali dan menebarkan jaring kita lagi, bahkan ketika kita telah melalui malam kegagalan, masa kekecewaan dimana kita tidak mendapatkan apa pun. Sekarang saya akan mengheningkan cipta sejenak dan anda masing-masing memikirkan kegagalan-kegagalan anda." [kutipan dari kotbah Paus Fransiskus pada 5 September 2024 di GBK dengan sedikit pengubahan dari penulis]

Aku membaca kembali apa yang diungkapkan sosok satu ini, yang beberapa hari lalu berkunjung ke tanah ini dan aku diberi kesempatan, anugerah, berkah, rahmat untuk bertemu langsung dengannya. Rasanya ungkapan itulah yang berharga, yang berbunyi bagiku. Mengapa berharga? Karena aku sering berpikiran pendek, aku sering mendengar dari banyak sahabat, keluarga atau banyak orang merasa bahwa kegagalan adalah kiamat, kegagalan bukan saja penjara namun keadaan hidup yang remuk. Memaknai bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk bangkit lagi, kiranya itu sesuatu yang mahal. 

Bisa dipahami karena hidup kita sehari hari biasa kita pahami sebagai beban dan bukan panggilan untuk berjalan dan terus berjalan. Kadang atau sering aku menghayati hidup ini hanya sebatas dengan pola pikir aku harus sukses dan aku harus berhasil. Dan keberhasilan itu memang selalu dicari banyak orang, seperti yang pernah kudengar dari seorang tokoh sepak bola, "Aku suka kemenangan (sukses), karena dunia suka dengan kemenangan". Jika seluruh hidup ini diukur dengan kesuksesan, maka tidak adillah hidup ini. Atau memang kita ini kemudian jatuh dalam pusaran ketidakadilan itu? 

Komitmen kita memang tak semua membuahkan hasil. Bahkan mungkin komitmen hidup kita adalah hasilnya kegagalan. Dan ini menjadi mimpi buruk bagiku. Realitas tidak sesuai dengan idealisme yang ada pada pikiranku. Realitas tak sesuai ekspektasi. Dan itulah mengapa aku menyebutnya sebagai panggilan untuk menerima kegagalan dengan kerendahan hati. Dalam ungkapan Fransiskus di atas, dengan kerendahan hati dan kepercayaan, menjalani hidup ini jauh lebih realistis. Inilah yang mungkin perlu dihayati orang-orang di zaman supermodern ini. Ketika semua mengagung-agungkan penampilan, penampakan, prestasi, sisi luarnya, semua ingin terlihat baik, OK, bagus, indah dan sejenisnya. Namun itu membawa petaka ketika realitasnya adalah sebaliknya. 

Ada kalanya orang ingin terlihat glowing di medsos namun realnya wajahnya biasa-biasa saja. Ada orang yang ingin agar pekerjaannya menghasilkan gaji yang tinggi dan itu cukup bagi keluarganya, namun kenyataannya tidak seperti itu. Malah harus hutang dan terjerat pinjaman online. Ada orang yang idealismenya sebagai pendidik semua akan baik-baik saja, namun ternyata di luar tampak baik namun di dalam hidup pribadinya harus mengalami pergulatan dalam mendidik anak atau pergulatan menghadapi keluarga yang sakit berat. Semua itu rasanya membuat hidup tak sesuai harapan. Dan hidup bukan ideologi, hidup bukan sekedar idealisme. Hidup ini realitas (bukan realisme belaka). Di sanalah aku merasa dipanggil untuk tabah, mampu bertahan, mampu membuat jalur-jalur alternatif, mampu untuk membuat jejaring, mampu untuk menerima kerapuhan dari mereka yang lemah atau yang merasa dirinya tak sadar akan kelemahan itu sendiri. Dan akhirnya, hidup ini perlu menjadi bejana yang menampung segala tangis, remukan, ketercabikan, dan kerapuhan dari berbagai orang dan diriku sendiri yang memang tidak sempurna.  

Persis dan tepat seperti diingatkan dalam kotbah di atas, aku tak perlu membangun "penjara kegagalan" dalam hidup ini. Bahwa kadang atau sering aku ingin menyerah, itu benar. Bahwa aku tak tahan dengan kegagalan, itu pasti. Bahwa aku mengalami dan meragukan Tuhan tidak membantu dan mengabulkan doa-doaku, itu iya. Bahwa aku merasa hidup ini tak adil, itu sering terjadi. Itulah litani penjara kegagalan yang kubangun pelahan dan pasti akan menebal jika tidak hati-hati. Dinding-dinding penjara itu  makin tinggi kalau aku tidak dengan rendah hati dan kepercayaan menghancurkannya pelan-pelan. 

Aku bersyukur pagi ini aku diingatkan untuk rendah hati dan terus percaya karena seruan itu adalah menyemangati, menggerakkan agar hidupku tidak terjebak dalam penjara kegagalan. Atau aku tidak terpenjara dalam kegagalan-kegagalan itu sendiri. Jika memang aku tak punya apa-apa, ya itulah yang perlu kubawa dan kupersembahkan. Jika aku merasa kering, ya itulah yang menjadi situasiku. Jika aku merasa hampa, ya itulah kekayaanku sampai saat ini. Namun itu tidak berarti aku harus berhenti berharap, aku tak boleh lelah untuk terus berjalan dan bergerak untuk terus menuju pada kedalaman hidup. Bertolak (menjala) ke tempat yang lebih dalam adalah kunci menemukan makna hidup itu sendiri. 

#Aku sebenarnya masih punya insight lain yang perlu kucatat namun di tulisan lain baru akan kutuliskan lagi. Sementara ini dulu saja karena ini bagian dari rasa syukurku.#


#morningtime#  

Tuesday, August 13, 2024

Cyperus rotundus

Kadang aku berjalan di jalan setapak yang sudah dipaving. Awalnya jalan itu adalah jalan setapak yang sebagian berbatu, sebagian berlumpur tetapi ada juga bagian yang kering dan berumput. Namun karena alasan tertentu, jalan itu sekarang sudah diperkeras dengan paving. Satu hal yang kulihat dari jalan setapak itu, yaitu adanya rumput yang tumbuh tidak hanya di tanah yang memang masih tanah, tetapi kehebatan rumput adalah dia tidak menyerah walah di atasnya dipaving, dia tetap mencari celah untuk hidup dan berkembang. 

Ini mungkin adalah sebentuk impresi yang datang beberapa hari ini. Rumput itu sepertinya mati di musim kemarau namun tetapi berpotensi hidup ketika sepercik air menuangi tanah tempatnya hidup. Begitu luar biasanya daya hidup tumbuhan yang memang di sana ada akar kata "tumbuh". Daya tumbuh itu memang luar biasa. 

Aku pun mengingat kembali peristiwa beberapa waktu lalu di Jakarta. Ketika tanah Jakarta itu sudah lesu dan tak ada tanda kesuburan, karena semua layaknya aspal saja, namun ketika ada segunduk tanah yang kering dan diterpa hujan, di gundukan itu tumbuhlah rumput dan tanaman lain yang bebijiannya tertidur (dormant) di situ. Tanah itu mengandung kehidupan. Dan kehidupan itu adalah tumbuhan yang biji atau umbinya tertidur di situ menunggu guyuran air hujan untuk merangsangnya tumbuh. 

Lebih hebat lagi adalah rumput. Aku melihat rumput teki yang cenderung mengganggu atau semacam gulma. Dulu waktu kecil, rumput teki itu dipakai untuk memberi makan jangkrik yang ditangkap dan dikandangkan di sebuah kotak bambu. Jangkrik itu diberi makan rumput teki supaya "ngeriknya keras" alias bunyinya keras. Itu kesan lama tentang rumput teki. Saat ini aku berbeda melihatnya, rumput teki itu meberi inspirasi lain. Rumput teki yang kecil dan pendek cenderung hidup di daerah yang dalam arti tertentu menantang. Ia akan subur tentunya di tanah yang bernutrisi, namun demikian ia juga bisa tumbuh di tanah yang di atasnya ditimbuni bebatuan. Dan saat aku berjalan di jalan berpaving itu, rumput teki itu pun tumbuh. Aku lantas terhenyak, begitu kuat dan dahsyatnya kekuatan hidup rumput itu. Dia walau ditimbuni paving tetap bisa mencari celah dan ruang hidup. Dia tidak menyerah ketika kekuatan berat menimpa dirinya, bahkan seolah menutup ruang hidupnya. Kekuatan rumput teki itu mengingatkanku akan kekuatan akar rumput yang sering dipakai dalam menyimbolkan kekuatan rakyat kecil. Dan bukan hanya itu, kekuatan daya tumbuhnya itu yang memang luar biasa. Walau kelihatannya kecil dan pendek, ia mempunyai daya tumbuh. Walau ia ditekan, ia tetap bisa bertahan hidup dan bisa mencari celah supaya bisa tumbuh. Bahkan bagi yang tanahnya dipaving, tumbuhnya rumput teki itu mempersulit orang untuk mencabuti atau membersihkannya karena tumbuh di sela-sela paving.

Bagiku ini jelas. Inspirasi ini memberiku gambaran bahwa hidup ini bukan sesuatu yang lembek. Hidup ini keras. Dengan kekerasan hidup ini aku bisa belajar dari rumput teki, yaitu tidak menyerah walau ditimbuni banyak masalah atau beban hidup yang solah-olah beban hidupku itu paling berat di antara beban-beban hidup orang lain. Ternyata, rumput teki memberiku pemahaman lain, ia tidak lembek, ia tidak menyerah, ia tidak mati, ia tidak mengeluh, tetapi dengan lambat namun pasti ia mencari celah di antara yang menimbunnya, dan tetap hidup, bertumbuh dan berkembang. Aku tidak tahu apa yang dia katakan jika aku bisa mendengarnya. Mungkin minim keluhan darinya hanya karena ditimbuni paving lantas tidak bisa bertumbuh. Buktinya ia masih bisa hidup. Meratapi kegelapan dan beban hidup itu tak membantu apa-apa, justru mencari celah dan menyalakan lilin harapan itu yang harus kita buat. 

Jika hanya memikirkan dan meratapi hidup yang penuh salah dan kekurangan ya siapa yang dapat tahan? Jika kita hanya memikirkan olok-olokan orang lain akan kekurangan, kelemahan, kesalahan, aib, kejelekan kita maka kita hanya akan berhenti tak bertumbuh. Namun rumput teki mengajariku untuk tak berhenti bertumbuh walau dianggap jelek, jahat, tak bermartabat sekalipun. Aku sejelek-jeleknya dan dianggap tak bermartabat ini masih punya daya hidup. Tak padam oleh olok-olokan orang lain dan tak berhenti hanya menghakimi diriku yang tidak ideal.  

Aku ingat kata-kata ini: Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal namun tidak putus asa; kami dianiaya namun tidak ditinggalkan sendirian, kami dihempaskan, namun tidak binasa. Sebuah daya hidup dan daya juang yang terus menerus didengungkan dan tidak mengerdilkan dan mematikan kami. Itulah sebentuk harapan yang terpancar dari hidup manusia. Viktor E Frankl memberi nama teorinya Logoterapi. Ia memfokuskan pribadi untuk mengenal diri dan menerima dirinya dengan totalitas sehingga dapat memaknai hidupnya bahwa dirinya adalah berharga dan dengan itu tumbuhlah harapan hidup dan daya hidup itu. Manusia perlu belajar hidup seperti rumput teki yang tak menyerah ditimpa musibah. Tak padam walau hidup suram. Tak gentar walau dirinya terlempar. 

Perjuangan dalam hidup tidak menjadi suatu yang asing. Maka celotehanku ini juga bagian dari bulan ini yang kumaknai sebagai bulan perjuangan, bukan sekedar menikmati hasilnya yaitu kemerdekaan. Dan kemerdekaan itu mengandaikan kemauan untuk hidup, tumbuh, dan berkembang dalam situasi apapun. Merdeka !!! 

Friday, July 26, 2024

Sentimen & Rasisme

Sepertinya dalam kehidupan ini orang selalu memakai ukuran atau standar, entah itu subjektif maupun objektif. Seobjektif-objektifnya ukuran pasti akan ada saja yang menentangnya atau ada yang tidak setuju. Beberapa waktu lalu ada sebuah pesta di dua benua yang sarat dengan olahraga terpopuler di dunia, yaitu sepak bola. Kejuaran di benua biru alias Eropa dengan Euro 2024 di Jerman dan Copa America 2024 di USA. Keduanya sudah melahirkan juara di benuanya masing-masing. Copa America dengan juaranya Argentina. Euro 2024 dengan juaranya Spanyol. Keduanya akan bertanding menentukan siapa yang paling pantas juara di kedua benua itu yaitu dalam ajang Finalissima. 

Ada kejadian yang aneh dan lucu dan juga mengenaskan kalau boleh dibilang begitu. Setelah Argentina juara, mereka merayakan kemenangan dengan selebrasi. Selebrasi mereka pun tersiar ke mana-mana. Tentu seluruh mata dunia melalui media sosial menjadi tahu keberadaan mereka dan sedang apa mereka. Itu menyangkut public space. Nah , yang menjadi kontroversi adalah selebrasi tim Argentina di bus mereka dengan menyanyi-nyanyi yang mengejek timnas Perancis (musuh mereka di final Piala Dunia 2022 di Qatar) dengan nada atau bunyi demikian: "Timnas Perancis isinya pemain-pemain dari negara-negara Afrika (bekas jajahan Perancis di masa lalu)." Karena ada satu pemain yang menyiarkan ini secara live di IG-nya maka seluruh dunia menyaksikannya. Respon publik adalah kemarahan, menilai Argentina rasis, mengkritik bahwa itu tidak sepantasnya dilakukan oleh tim yang baru saja menang dan malah mengejek negara lain dengan hal-hal yang berbau rasial. Ulah salah satu pemain ini menjadi awal permusuhan sampai detik kutulis ini. Kebodohan yang terjadi adalah bahwa mereka tidak sadar bahwa apa yang dia buat dan posting di media sosial ini menjadi senjata makan tuan. Pemain sekelas dunia pun masih tidak sadar akan bahaya media sosial terkait dengan tindakan yang memang menyinggung sesuatu yang sensitif. 

Respon yang lebih lanjut lagi adalah karena Argentina bermain di ajang Olimpiade yang diadakan di Perancis, maka kejadian berlanjut. Lanjutannya adalah timnas Argentina menjadi musuh publik di pertandingan perdana melawan Maroko. Hasilnya semula imbang 2-2, namun karena ada sentimen rasialis maka ada dugaan wasit menganulir gol kedua Argentina sehingga Argentina kalah 1-2 dari Maroko. Tambahan lagi perseteruan itu berlanjut pada tindakan yang tidak sepantasnya terjadi, yaitu pelemparan botol dan barang-barang dari para supporter Maroko ke para pemain dan official timnas Argentina. Ada pula supporter Maroko yang masuk ke lapangan untuk menyerang. 

Memang rasisme tidak dibenarkan. Dunia masih belajar akan hal ini. Walau banyak negara maju yang sudah mencanangkan dan menindak pelanggaran HAM karena rasialisme ini, masih banyak juga kecolongannya dalam praksis. Perancis yang  sedari Revolusi-nya mengalahkan kekuasaan monarki, dan mencanangkan semboyang "Liberte, Egalite, Fraternite" pun masih juga kecolongan dengan ketidakmampuan menangani situasi yang terjadi di ajang Olimpiade. Bahwa ada protes akan aksi rasisme dari para pemain Argentina, itu hak mereka. Namun dengan pembalasan di ajang resmi Olimpiade dan terjadi kekerasan fisik atau penyerangan, itu justru yang melahirkan masalah baru. 

Ada standar ganda yang disinyalir oleh publik setelah kejadian itu. Penyerangan secara apapun itu juga tidak dibenarkan. Penyerangan tidak menyelesaikan masalah namun ini menimbulkan kasak kusuk, kusutnya masalah dan justru penilaian akan terjadi dari pelbagai pihak, entah pro dan kontra. 

Kecenderungan primordial rasisme ada di dalam diri setiap makhluk. Manusia yang adalah hasil evolusi makhluk yang akhirnya menjadi homo sapiens pun juga masih harus belajar banyak. Proses evolusi tidak menjamin berhentinya rasisme. Standar ganda adalah dalih dari manusia untuk menilai dan memperlakukan sesamanya. Setelah dihina maka harus ada penghinaan balasan. Setelah ada pembunuhan maka harus ada pembunuhan balasan. Setelah ada bully maka harus ada bully balasan, dan sebagainya. Balas dendam adalah ekspresi barbar dari manusia. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Dan hal ini masih ada juga dalam tata norma tradisi tertentu. Bahkan balas dendam ini bisa merembet ke semua orang yang terkena sentimen yang sama. Oleh karena itu, standar yang harus ditegakkan pun jadi runtuh karena adanya unsur balas dendam itu. 

Kebencian itu tak mengenal apapun. Yang pasti jika ada kebencian, di situ akan muncul berbagai aksi dan reaksi. Ada juga orang yang karena kebenciannya yang sangat akut maka semua hal yang terkait yang dibenci maka semua digeneralisir sama. Dengan demikian standarnya jadi ganda. Logikanya tidak jalan karena standar jadi ganda dan kebencian yang mendalam yang melandasinya. Orang boleh benci namun tidak layaklah orang menggeneralisir. Hal itu akan membuat orang lain yang tidak ada kaitannya langsung pun jadi sasaran. Namun sekali lagi, aku menulis ini dengan kesadaran setidaknya intelektual, namun jika sudah menyentuh sentimen, kelihatannya akal atau logika atau kesadaran pun akan sirna dibuatnya. 

Manusia hidup kadang memakai sentimennya. Dan sentimen ini yang melemahkan logika. Sentimen pasar pun mengalahkan kalkulasi rasional para pengamat ekonomi. Sentimen  pun yang melahirkan kekompakan dan kerusuhan di antara kelompok-kelompok yang berseteru. Standar ganda menyatakan bahwa orang lain tidak boleh rasis tetapi kalau kelompokku yang rasis tidak masalah. Di sinilah letak persoalannya. Dan masalah itu tidak berhenti karena selalu saja manusia itu dihinggapi dan dikuasai oleh sentimen kelompoknya. Tidak mudah mendidik ego yang ada sentimennya. Dan ini menjadi kunci dalam merawat kesadara persaudaraan antar sesama homo sapiens yang selayaknya sadar sesadar-sadarnya bahwa kita adalah saudara walau berbeda warna kulit, budaya, bangsa, bahasa, dan sebagainya. Mari kita tak jemu-jemunya mendidik kesadaran ini.



#eveningtimeinmyroom# 

Saturday, June 29, 2024

Sepak Bola

Kata Hristo Stoichkov, "Aku suka kemenangan karena dunia suka kemenangan." Itulah sepatah kalimat yang pernah kubaca di tabloit Bola yang sekarang sudah almarhum. Kalimat itu begitu mengesan bagiku, dan aku sangat mengiyakan hal itu. Waktu itu aku masih sangat fanatik bola dan hampir semua liga Eropa yang ditayangkan di Stasiun TV Swasta aku tonton. Itu terjadi di akhir 1990-an dan awal 2000-an. Aku mulai menyukai bola sejak usia 10 tahun, saat kemenangan Argentina di Piala Dunia 1986 di Mexico. Maradona dan Argentina begitu mengesan bagiku dan seolah-olah aku ingin pergi ke sana, ke negara di belahan paling selatan benua Amerika itu.

Kata-kata Stoichkov memang tajam dan bagiku itu adalah ambisi setiap orang di dunia ini. Ambisi untuk menang, untuk mengalahkan yang lain, untuk meraih kemanangan adalah sebuah kunci hidup. Bahkan sejak remaja aku diperkenalkan dengan semboyang "in finem omnia", semua diarahkan pada satu tujuan, yaitu kemenangan. Mungkin ini sangat maskulin, dan memang dunia maskulin itu identik dengan perang, perebutan, peperangan, konflik dan semacamnya. Namun demikian itu hanya rasa subjektifku. Kemenangan bukan melulu bergender maskulin, itu bisa bergender apa saja. Memang dunia ini sering kali menanamkan pola-pola penilaian atau melabeli atau memberi penilaian ini dan itu dan salah satunya adalah hal itu. Kompetisi didominasi kaum maskulin daripada feminin. Namun jika ini dibaca oleh kaum feminis, itu akan menjadi debat serius. 

"Dunia suka kemenangan." Itulah anak kalimat dari alasan mengapa Stoichkov menyukainya kemenangan. Dan dalam dunia sepakbola yang sarat kompetisi yang ketat, manusia hanya hidup dalam 3 hal: menang, seri, atau kalah. Selama semusim tiap tahunnya, ia dituntut untuk menang, walau dalam kondisi real di lapangan, bisa terjadi kalah atau seri. Ketiganya pasti ada resiko. Jika menang, poinnya 3. Jika seri, nilainya 1. Jika kalah, maka tidak dapat nilai. Dan kemenangan akan membawa posisi timnya akan menjadi tim yang bertengger di posisi atas. Posisi di atas inilah yang diperebutkan oleh lebih dari 10 tim (klub) di dalam liga manapun di dunia, kecuali negara itu hanya punya tim yang kurang dari 10. Selama bermusim-musim, selama ia masih sehat dan produktif, pemain bola akan mengalami hal yang itu-itu saja, kalah, seri, atau menang. Padahal yang dicari adalah kemenangan. 

Bukankah hal itu sama dengan setiap orang yang menjalani hidup ini jika paradigmanya disamakan dengan kompetisi? Orang dalam medan hidup inginnya adalah kemenangan atau kebahagiaan atau sukses, namun realitasnya yang terjadi bisa saja berbeda: aku bisa seri atau bisa kalah. Kemenangan membawaku pada kebahagiaan. Kekalahan membawa kesedihan. Seri atau draw bisa saja dirasakan mengecewakan atau datar saja. Orang yang sangat berambisi pada kemenangan akan terus terobsesi untuk selalu membawa hidup ini pada kesuksesan, yang kadang tidak realistis. Sering orang bahkan harus baku hantam dengan sesamanya untuk meraih kesuksesan. Saling sikut, intrik-intrik dan berbagai hal yang sifatnya kecurangan dan tidak pantas bisa saja dilakukan demi meraih kemenangan. Namun apakah diriku akan menjadi seperti itu atau tidak? Itu akhirnya dikembalikan pada masing-masing diri kita.

Pagi ini aku baru saja mencoba mebuat sesuatu yang sebetulnya baik. Namun ketika aku mencoba menjelaskan ada orang yang sudah antipati dengan hidup bersama dan segala sesuatu yang di luar dirinya itu jelek, maka semua serba ditolak. Apa yang dibuat orang lain, komunitas, institusi apapun bagi dia adalah salah. Bahkan aku sempat berpikir mungkin Tuhan pun salah membuat segala sesuatu bagi dirinya dan orang lain. Dia ingin menang dan benarnya sendiri. Dia mungkin merasa lebih dibanding yang lain. Itulah mengapa DNA-nya dia adalah sendiri (benar sendiri, pinter sendiri, menang sendiri....dsb). Namun sebenarnya ia adalah sosok yang perlu dikasihani, walau ia sendiri tidak sadar dan tidak merasa demikian.

Bola membawaku untuk belajar banyak, belajar dari orang-orang di sekitarku, belajar bagaimana harus memainkan peran, belajar bagaimana mengatur strategi hidup, belajar dari kemenangan dan kekalahan atau bahkan keadaan seri. Aku belajar bagaimana bola itu menjadi yang tersohor di dunia karena turnamen yang bernama Piala Dunia hanya turnamen sepak bola. Sindhunata mengupas mengenai bola dan mengatakan bahwa dalam sepakbola ada ketidakpastian dan itulah hidup. Ada kejutan dan ada tangis dan ada luapan kegembiraan. Bola sudah merasuk di dalam diri manusia yang memainkannya. Tidak seperti kondisi manusia saat ini yang sebagian menginginkan kepastian dengan msein ciptaannya, bola membawa kita pada dinamika hidup menang, kalah atau seri. Dan itu adalah situasi yang terjadi dengan berbagai ketidakpastian walau sudah dirancang menang tapi kalah, diprediksi kalah tapi malah menang dan sebagainya. Perayaan histeris dengan teriakan luar biasa karena gol yang terjadi tidak bisa dibendung dan diungkapkan dengan kata-kata. Kadang itu juga terjadi dalam hidup kita. Bola mengandung air mata duka maupun suka. Bola mengantar manusia untuk menjalani berbagai dinamika rasa. Ada campuran haru, debar, harap cemas, optimisme dan sebagainya. Itulah hidup. 


#noontime#  
#momentumeuro&copaamerica24#

Monday, May 27, 2024

Cari Enak

Suatu kali ada orang berkata, "mau cari tempat yang view-nya bagus koq selalu harus nanjak, bikin ga "pede" ke sana." Orang mau  liat pemandangan indah tidak bisa hanya dari medan yang enak dan nyaman saja. Itu baru hal sederhana dalam hidup. Belum lagi soal urusan detail dan sebutannya "thethek bengek". Aku ingat akan banyak hal yang selalu akan berurusan dengan ketidaknyamanan, deatil, rumit, kompleks, dan semacamnya. Apalagi urusan dengan manusia yang multi dimensi. Mengurus barang mungkin lebih mudah tetapi urusan yang harus dengan manusia itu pasti tidak sekali jadi. Urusan barang yang diurus manusia pun akhirnya juga ujung-ujungnya sama: ribet. Namun demikian, bukankah kita itu dipanggil dalam dan mengurus keribetan dalam hidup? (setidaknya itu pertanyaan tesis utamanya).

Aku pernah sinis dengan orang yang maunya merdeka tapi tidak mau ribetnya. Kemarin aku munculkan lagi dalam sebuah pertemuan dengan mengatakan " Emang enak merdeka itu?" Merdeka itu penuh keribetan, mulai dari nol, mulai dengan karut marut keadaan pasca perang, karut marut urusan manusia yang banyak maunya tapi tidak mau kerja kerasnya. Aku makin sadar bahwa hidup itu inginnya yang enak-enak doang, namun kerjanya tidak. Atau ada seorang guru yang pernah berkata, "Pestanya mau, cuci piringnya yang ogah." 

Mau lihat view dari atas bukit atau gunung pasti harus kerja keras naik, entah keberanian naik mobil nanjak atau naik gunung dengan bersusah payah jalan, angkut barang dan sebagainya. Tipe orang yang cari enaknya pasti akan bayar porter, atau naik mobil dan tinggal bayar jadinya saja. Tipe orang pejuang tentu mau bersusah payah jalan, menggendong tas, dan berjuang naik sampai bisa menikmati puncak dan melihat view dari atas. Mau ke sebuah pertapaan atau kastil di atas bukit atau gunung, di sana adalah tempat terisolasi supaya tidak diganggu banyak kesibukan dan kerunyaman, pastilah harus ada kerja keras untuk mewujudkannya. 

Hidup ini adalah pilihan. Tidak semua pilihan kita ambil. Pasti ada yang lain yang harus kita sisihkan. Pilihan itu mengandung resiko dan konsekuensi. Mau lihat pemandangan indah dari atas harus naik. Mau hidup dalam kesunyian maka harus menyingkirkan keramaian. Orang saat ini inginnya adalah memilih semua dengan cara "icip-icip". Banyak orang berbondong ke tempat-tempat ziarah dengan rombongan, lalu diadakanlah ziarah dan rekreasi. Maka itulah "icip-icip", menikmati tempat-tempat yang seharusnya sunyi namun masih nego dengan kerumunan dan keramaian. 

Ketika dalam sebuah komunitas banyak unsur bersinggungan sana sini, maka yang harus dibangun adalah banhwa hidup adalah urusan. Urusan perlu dikomunikasikan. Komunikasi adalah sarana membangun jalur dan rambu-rambu. Ketika yang dikomunikasikan tidak jelas rambu-rambunya, maka akan terjadi tabrakan. Ketika urusan itu bersinggungan satu dengan yang lain maka harus ada saling pengertian satu dengan yang lain. Yang jadi persoalan (kalau boleh disebut itu) adalah jika anggotanya adalah yang sulit berkomunikasi, tidak mau tahu soal rambu, yang penting jalan, maka pasti lambat atau cepat pasti ada tabrakan atau setidaknya srempetan. Dan srempetan itu karena adanya pengandaian. Memastikan di awal tidak terjadi. Karut marut terjadi. Seni hidup bersama adalah sebuah perjuangan untuk mengkomunikasikan segala sesuatu sampai tidak ada satu pertanyaan dari salah satu anggota. Itu saja sebenarnya. Namun demikian, untuk sampai ke sana, tidak semua orang paham dan sadar. Kadang ada yang merasa tak pentinglah untuk selalu mengkomunikasikan ini dan itu. Sedangkan akhirnya yang terjadi adalah kasak-kusuk atau "ngrasani" di belakang, karena saluran komunikasi tidak ada, cara mengkomunikasikan kurang dan banyak pengandaian. Kadang orang kurang rendah hati atau bahkan mala atau malah malu untuk berkomunikasi. Saluran mampet akhirnya. Jalan terjal itu makin berliku dan berbatu karena mampetnya saluran komunikasi. Ada yang mudah berkomunikasi namun tak sistematik. Ada yang tak mau berkomunikasi dan itu makin membawa tak adanya struktur jelas. Kerja keras berkomunikasi adalah perlunya struktur jelas, pesan sampai dengan jelas, tak ada penyelesengan pesan atau tafsiran macam-macam. 

Itulah yang aku urai mengenai keribetan manusia. Sebenarnya hanya soal komunikasi, tapi karena saking berbagai macam dimensi manusia, maka keribetan itu terjadi. Salah persepsi terjadi karena berbagai macam hal tadi. Oleh karena itu, memakai alat komunikasi yang ada di dalam tubuh kita ini perlu kita latihkan pula. Belum lancar memakai mulut, mata, dan telinga, tiba-tiba harus pakai jempol untuk berkomunikasi, maka akan banyak terjadi kekacauan. Namun ada pula yang sebaliknya jika sejak lahir sudah tuna wicara mungkin. Itu keadaan yang disebut anomali.  

Intinya bagiku adalah hidup ini memang ribet. Kita buat sederhana juga bisa. Namun kesederhanaan itu tidak muncul begitu saja sebelum kita masuk dalam keribetan hidup ini. Kemampuan seseorang merumuskan dengan sederhana itu pasti ia pernah mengalami hal dengan berbagai keribetan. Orang yang selalu ribet perlu berlatih hidup sederhana. Jadi kedua kutub itu perlu saling menyeimbangkan. Hidup ini perlu berani ribet, namun juga perlu sederhana. 


#morningtime#

Saturday, April 20, 2024

Fitri

Saat kutulis coretan dan celotehan di blank sheet ini, aku belum punya judul tulisanku. Aku belum punya "endapan dan luapan air" dalam diriku sebenarnya. Namun aku mencoba setidaknya untuk menjalani ini sebagai keajegan dan konsistensi cara bertindak untuk menuangkan sebagai sebentuk cerminan dan juga  berbagi ide, perasaan, krenteg (orang Jawa menyebut ini bukan sekedar kehendak tapi juga apa yang menyembul dalam hati dan budi) dalam diriku. Sebenarnya hari-hariku kujalani dengan biasa, dan beberapa waktu lalu ikut juga kumpul trah di saat saudara-saudara muslim merayakan idul fitri. Memang ada satu konsern waktu awal ikut di hari lebaran pertama yaitu tentang saudara sepupu yang lama tidak pernah nongol dalam acara bersama. Di hari kedua kami ternyata karena situasi yang sudah mentok harus "berpesta demokrasi" dalam memilih siapa yang akan mengganti bendahara trah keluarga besar kakek dari ibuku. Paman sudah renta dan harus ada yang mengganti dari generasiku (anak) atau cucu dari trah kakek kami. Sebenarnya aku sudah mengusulkan dalam grup keluarga kami bahwa setelah ini harus dibuat sistem pergantian yang secara teknis adalah urutan saja. Misalnya masa kepengurusan maksimal adalah 3 tahun dan bisa menjadi pengurus (bendahara) selama 2 periode, maka maksimal adalah 6 tahun. 

Dua hal itu kiranya yang kudapat dari perjalanan di bulan ini yang adalah bulan syawal bagi saudara muslim. Namun di sisi lain, aku juga selama ini sebenarnya belajar dari layar yang kita hadapi sendiri-sendiri dalam ruang yang disebut gadget, entah HP, Laptop, Desktop, atau  Pad. Nah, di sanalah segala macam bisa diunggah dan dipertontonkan secara visual. Dan memang dunia saat ini adalah dunia visual yang bagiku kadang perlu kuhindari. Aku kapok dengan pelabelan ke pribadi karena konflik di dunia visual. Setiap orang bisa memotret atau membuat video dan kemudian disebar lalu dilabeli oleh masyarakat semesta sehingga ada yang labelnya baik dan ada yang buruk. Pembunuhan bisa terjadi dalam dunia visual, dari dan karena dunia visual. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa segala sesuatu saat ini tidak bisa tersembunyi lagi. Memang ada baiknya bahwa semua transparan, namun ada kalanya kebaikan itu tidak selamanya baik, jika sudah ada yang memanfaatkan atau merekayasanya. 

Sekali lagi zaman ini adalah zaman visual. Zaman visual itu zaman keramaian yang penuh rekayasa dan pencitraan. Pencitraan itu bisa saja citra yang buruk dan itu adalah senjata di mana orang bisa saling bunuh  di dunia visual. Gambar yang baik itu bisa dicoret-coret. Aku sadar bahwa tidak semua orang itu bersih, maka dunia visual itu menyediakan alat untuk "membersihkan" citra dengan postingan-postingan yang selalu bernuansa baik dan bersih, walau kenyataan di balik yang ditampilkan itu kita tidak tahu. Orang perlu membangun persepsi. Itu intinya. Sayang bahwa di seberang itu, citra bisa rusak karena dirusak sendiri atau dirusak pihak lain. Mengembalikan citra itu tidak mudah, sehingga ini yang selalu menjadi ancaman dan orang merasa tidak mudah untuk menerima diri yang kotor dan dicoret-coret entah oleh siapa. Orang yang niatnya baik memberitakan kabar baik pun bisa saja mengancam mereka yang berada dalam status quo, sehingga orang baik itu menjadi orang yang mengancam, berbahaya, dan dianggap penjahat. Ada batas kesabaran tentunya dalam diri seseorang untuk mengungkapkan dirinya bagi orang lain sehingga tentu ada kata atau tindakan yang kemudian bisa saja dicap sebagai buruk. Dan karenanya, hal itu bisa menjadi senjata makan tuan yang dipakai pihak lain untuk menyerang, menghakimi, dan mengeksekusinya. Biasanya tinggal menunggu kapan waktunya akan datang, sehingga ada pertanyaan "akan datang jugakah ia ke pesta?" Dan jika datang, maka penangkapan dan pengeksekusian itu dilaksanakan.  

Dunia ini dan tentunya hidup ini selalu ada dalam paradoks. Ada orang yang berdebat bahwa hidup itu harus logis dan menolak yang tak logis, bahkan menolak yang paradoks. Namun kelihatan sekali ketika berdebat tentang itu (sekali lagi aku juga menyaksikan itu dalam layar yang kupantengi), ada pihak yang sebenarnya tidak secara penuh percaya diri akan persepsinya. Mereka yang menekankan akan logika hidup harus berjumpa dengan paradoks atau logika lain yang tak terduga. Apakah karena kesalahan sejarah masa lalu yang itu menyangkut ketidaklogisan sebuah hal lantas kita berhak mengadili secara sepihak? Tentu perlu sebuah objektivasi akan pengadilan itu. Bahkan hukum yang namanya Taurat pun mencatat bahwa hukum itu perlu mendengarkan secara utuh dulu baru ada penghakiman. Kesalahan itu beragam dan ada gradasinya sehingga keputusan pengadilan pun juga ada gradasinya. Apakah pencuri ayam dan pencuri uang negara yang merugikan sampai trilyunan dan mereka sama-sama ketahuan pihak aparat, hukumannya sama? Tentu tidak. Nah, kadang karena sudah ada kebencian akut dalam diri kita maka semua itu dianggap sama. Hukumannya sama. Bahkan kemarin ada kasus ada pemain bola yang dikartu kuning 2 kali koq tidak dikeluarkan alias tidak dikartu merah? Ternyata ada aturan baru yang memungkinkan wasit mengkartu kuning pemain sampai 2 kali dan tidak dikartu merah. 

Apa yang kutuangkan di atas mungkin hanya istilah orang Jawa ngaya wara, ora cetha. Namun bagiku setidaknya aku belajar dari bulan syawal, semua orang bersilaturahim dan saling memaafkan. Mungkin juga hidup ini sesederhana itu, berani memaafkan dan kalau ada kesalahan ya nanti kita buat permintaan maaf lagi. Aku hanya melihat dengan geli seperti itu. Kadang kalau dengan kalangan idealis dan puritan hidup ini dipandang harus semuanya bersih, rapi, soleh, tidak boleh ada yang cacat. Kaum puritan dan idealis itu seakan-akan mau mempercepat pembuatan surga di bumi yang masih carut marut ini. Bumi seolah-olah harus dibasuh bersih dan tidak ada salah lagi. Salah dan dosa seolah harus segera dicuci dan yang berdosa segera harus disingkirkan dari bumi supaya tidak mengotori planet biru ini. Tapi belajar dari idul fitri, kadang mekanisme meminta maaf dan memaafkan (walau kadang hanya terkesan seremonial dan formalistik) itu juga dibutuhkan. Sesederhana itulah hidup. Hidup itu berjalan terus dan kendaraan yang terus dipakai ini tentu juga ada kerusakan, error, dan perlu dikembalikan lagi supaya berfungsi. Itulah hidup yang tidak semua awet dan perlu service rutin, pengembalian dengan spooring dan balancing. Sekali lagi sesederhana itulah hidup. [Spoiler: Harapannya semua manusia itu mudah memaafkan dan mudah mengampuni. Tidak menyimpan lama memori kesalahan orang lain dan mau mengampuni kesalahan orang lain, tapi juga mungkin kita jangan mudah membuat kesalahan hahaha].

Mungkin ini adalah celotehan dari diriku yang menganggap hidup terlalu sederhana, namun sederhana itu tidak mudah. Siapa yang mau mengakui salah? Siapa yang mudah memaafkan? Siapa yang tidak "baper" karena dikata-katai sedikit saja dan menganggap itu yang meruntuhkan hidupnya? Satu dan lain orang itu punya kepentingan dan persepsinya sendiri-sendiri. Gesekan selalu akan ada. Itulah karena kita masih hidup dalam ruang dan waktu. Mungkin aku belajar untuk tidak terlalu lama menyimpan file kesalahan orang lain dalam diriku. Lepaskan saja dan cueki saja kalau ada yang salah. Tapi itu tidak mudah sering kali. Memori ada yang menyimpan lama akan kesalahan orang lain dan maunya kita cepat diampuni jika kita salah. Maka kembali ke fitri itu menjadi penting. Sesederhana itu hidup ini. 


#morningtime#    

Saturday, March 30, 2024

Keluasan dan Kedalaman

Sebenarnya aku sudah agak lama menemukan fenomena seperti ini, yaitu pada prinsipnya untuk manusia zaman ini tidak bisa diandaikan dan mengandaikan lagi. Awalnya, untuk mengerjakan sebuah proyek tertentu, aku harus membuat sebuah SOP dan teamwork yang  harus ada juklak dan juknis sampai sedetil-detilnya. Itu terjadi di sebuah sekolah di mana aku pernah bekerja. Namun ternyata fenomena ini tidak hanya terjadi di sebuah sekolah yang memang menurutku itu wajar dan aku pun harus belajar bersama mereka yang menjadi pendidik. Aku akhir-akhir ini menemui hal yang mirip-mirip dan itu adalah berlatar belakang kesempitan cara berpikir, common sense yang tidak lagi jalan, penalaran yang tidak berjalan seperti selayaknya, dan dibarengi dengan pemahaman nilai yang juga kurang dalam. Keluasan dan kedalaman itu dibutuhkan dalam hidup. Itu harga mati.

Aku menyadari betapa susahnya menanamkan nilai bagi anak sekolah menengah karena fase mereka adalah penemuan jati diri. Mereka tidak sekedar meniru. Mereka butuh sosok atau figur sebagai role model namun demikian mereka butuh eksplorasi diri seluas-luasnya dan memahani suatu hal sedalam-dalamnya setingkat usia mereka. Maka di dalam tahap ini kami perlu memberi pemahaman-pemahaman yang bukan doktinal atau definisi yang selalu memakai bla-bla-bla adalah.... atau yaitu..... Kami menghindari hal itu sebisa mungkin karena hidup ini dimensinya tidak definitif. Tidak ada yang pasti amat dalam hidup kecuali ketidakpastian itu sendiri. Maka, SOP, detil acara, bagaimana menjalankan, siapa PIC-nya, berapa durasi dan apa saja yang dibutuhkan itu selalu harus ada. Tentu berapa duit yang dipakai untuk sebuah proyek perlulah dibuat anggarannya. Tidak bisa hanya mengandalkan tutorial lisan dari senior ke yunior. Demikian juga ketika melihat fenomena tidak sinkronnya apa yang dilatihkan di sekolah dan di rumah, maka kita adakan "sekolah bagi orangtua". Intinya supaya kurikulum sekolah sinergis dengan kurikulum keluarga, dan tidak saling menegasi. Di sekolah diajarkan kemandirian, di rumah semua dilayani. Di sekolah diajarkan kesederhanaan, di rumah malah diajak foya-foya dengan kemewahan. Semua akan mubazir pada waktunya jika demikian itu.

Nah, beberapa waktu ini aku melihat hal yang mirip namun sedikit berbeda konteks. Fenomena itu kutemukan bermula dari melihat beberapa hal yang diungkapkan banyak pihak melalui visualisasi medsos atau obrolan ringan-ringan berat. Aku menemukan ini (1) kita terlalu terbiasa dengan seremonial yang menghabis-habiskan duit "hanya" untuk sebuah pesta sepekan. Ada yang mendapat subsidi 13 juta ada yang anggarannya 60 juta untuk seluruh acara sepekan itu. (2) Ada fenomena bahwa orang hidup dalam pola atau hukum "boleh dan tidak boleh". Misalnya, ada banyak penjelasan mengenai ini dan itu terkait dengan warna, waktu, bentuk, dan sebagainya terkait seremoni no (1) di atas. Ada sebuah penjelasan yang diposting di sebuah status WA: "Pada hari Sabtu Sepi kita memakai pakaian warna hitam bukan karena tobat atas dosa tetapi tanda duka".  Ada debat juga katanya pada hari Jumat sebelumnya tidak boleh memakai warna hitam karena kalendernya berwarna "merah" nuansanya. 

Orang cenderung mencari kejelasan karena saat ini ada kecenderungan telat belajar, tidak mau membaca, tidak mau mencari sendiri, dan memakai pemaknaan dari otoritas yang mau mendukungnya (back up) agar sah dan tidak takut dimarahi otoritas tertentu. Untuk perkara no (1) kiranya memang itu tidak hitam putih penghakimannya. Aku menyorot itu seolah-olah pandanganku seperti Yudas yang mempermasalahkan seorang wanita yang meminyaki kaki Yesus dengan minyak yang mahal. Lalu Yudas mempersoalkan karena itu cenderung menghabis-habiskan duit, hanya untuk meminyaki kaki dan mungkin rambut Yesus yang panjang itu. Dalam drama musikal Jesus Christ Superstar, konflik ini sangat kentara karena memang drama itu garis besarnya adalah konflik Yesus dan Yudas. Jawaban Yesus adalah perminyakan oleh wanita itu adalah hak dari si wanita dan itu bisa diartikan sebagai antisipasi kematiannya. Aku bisa memaknai sebagai kemerdekaan setiap pribadi jika seseorang mau membeli minyak mahal untuk tujuan tertentu. Pernyataan Yudas seperti bernada himbauan agara kita tidak membuang-buang duit hanya untuk minyak namun duit itu bisa membiayai makan orang-orang miskin. Ada nuansa pertarungan antara sayap kanan dan kiri (walau dalam tradisi Yudas menyatakan ini hanya untuk berdalih saja karena ia lihai dalam mencuri uang. Apakah Yesus sayap kanan dan Yudas sayap kiri? Hahaha....itu hanya imaginasiku). Yang kubayangkan untuk no (1) memang pesta selalu ada biayanya. Namun bisakah kita berpesta tidak berdalih dengan "biasanya"? Pesta sederhana dan seperlunya sekali-sekali perlu diadakan. Setidaknya itu untuk shocked therapy. Ketika pandemi covid-19 pun hal itu bisa, apakah butuh pandemi dulu,  baru bisa sederhana?

Untuk perkara no (2), aku hanya mau menengarai kurangnya semangat belajar dan membaca. Orang di negeri ini terkenal itu karena sudah "terbiasa" difasilitasi, dihibur, disenangkan dengan kesuburan, keenakan, kenyamanan apapun itu. Orang mengatakan orang tropis itu suka menikamati hidup dan lupa bekerja keras karena hanya ada dua musim, penghujan dan kemarau. Tidak pernah merasakan cuaca membeku. Apa yang ditanam, akan tumbuh dengan sendirinya karena subur tanahnya. Perbedaan malam dan siang pun hampir imbang waktunya. Tidak ada perbedaan terang-gelap yang berarti. Tidak harus memikir ada penambahan atau pengurangan jam di musim tertentu. Bahasanya pun tidak perlu mikir tenses tertentu yang menyebabkan perubahan bentuk kata kerja karena hanya menempel-nempel kata semua sudah berubah dengan sendirinya. Cara berpikirnya memang beda. Itulah sebabnya orang-orang negeri ini cenderung akan mudah lupa, karena semua serba tempelan. Tidak mudah mengingat karena semua bisa diatur dan dipasang begitu saja. Kata kerja bisa saja lupa diberi tambahan "sudah" atau "sedang"  atau "akan" untuk menyatakan tenses atau pekerjaan yang terkait dengan waktu. Perubahan kata kerja karena waktu sangat tidak kelihatan. 

Refleksiku untuk dua fenomena ini adalah perlunya keluasan berpikir dan kemendalaman pemahaman (understanding) yang sebenarnya itu caranya adalah dengan kebiasaan berefleksi. Oleh karena itu, ilmu tidak hanya dipahami sebagai sebuah hafalan atau sesuatu yang harus kupunyai dengan masuk ke otak saja namun perlu ada sebuah cara memasukkan itu dalam hidup (embodiment: masuk ke dalam tubuh). Yang pernah kupakai misalnya adalah melatih murid untuk memberi tutorial ke temannya atau kelas supaya mempunyai pengalaman mengajar seperti gurunya, maka ilmu itu nyantol di kepala lebih lama daripada hanya menghafal untuk ujian. Membuat sebuah proyek pribadi atau kelompok jauh akan membuat paham daripada hanya menulis jawaban di atas kertas kerja. Orang harus memaksa diri atau dipaksa belajar memahami dengan berbagai cara apapun agar paham dengan lika-liku kehidupan dan tidak jatuh pada debat definitif tentang ini dan itu yang ujung-ujungnya "boleh tidak boleh" yang menjengkelkan itu. 

Aku tidak serta-merta benci pada definisi namun definisi itu hanya salah satu cara memasukkan informasi dalam otak. Orang pun perlu diberi ruang berpikir dan mempertimbangkan untuk menentukan pilihan dan keputusan secara dewasa sesuai tahap hidupnya. Jika orang sudah tua dan masih berpola "boleh dan tidak boleh", aku merasa ada sesuatu di sana. Definisi itu hanya salah satu. Pemaknaan akan lebih berwarna dan dalam jika kita sungguh belajar, membaca, mencari sendiri lalu berdiskusi, sehingga ada dialektika. Hidup ini bukan hitam dan putih saja, namun berwarna macam-macam. Pegadilan yang benar adalah ketika sudah mendengarkan semua pihak dan bukan dari sepihak atau malah dari frame diriku saja. Dialektika membantu orang menemukan kebenaran. Socrates juga mamakai cara ini di saat mengajar para muridnya sehingga menemukan kebenaran. Metode ini ibarat bidan yang memancing orang yang mau melahirkan mendorong sendiri bayinya sehingga lahir. Kelahiran bayi itu adalah kebenaran. Maka metode dialektika ini terkenal dengan metode kebidanan. 

Kemungkinan dunia kita ini agak abai dengan dialektika. Karena semua serba ada dan serba terfasilitasi, maka dialektika itu seperti barang mahal yang jarang dijumpai dalam hidup. Yang ada hanyalah mesin elektronik yang di-klick lalu kita hanya menemukan jawaban, kita kurang belajar bertanya. Kita hanya ingin jawaban, tak mau bertanya. Itulah kiranya yang kutemukan di waktu-waktu ini. Selamat berdialektika, selamat bermenung. 


#noontime-inmyroom# 

Monday, March 4, 2024

Lik Kamdi dan Lik Man

Aku mencoba mengingat hal-hal di masa lalu. Ada ingatan tentan dua saudara atau keluarga yang sebenarnya kurang normal menurut ukuran orang yang menyebut diri normal dan sehat. Ingatan saya hanya berkisar mengingat mereka yang hidup sederhana, sakdrema, istilah Jawanya. Tidak banyak keinginan. Mereka berdua lebih hanya hidup, tinggal di rumah, mengerjakan pekerjaan-pekerjaan fisik, lebih-lebih diserahi mengurus ternak milik keluarga, kadang membantu macul di sawah atau kebun. Mengurus ternak biasanya dengan mencarikan rumput atau ngaritke sapi atau golek ramban untuk kambing. Itu pekerjaan tiap hari. Aku ingat betul keseharian mereka. Tidak ada yang lain. Makan sehari tiga kali, pakaian ya seadanya dan apa yang diberikan keluarga, itu yang mereka pakai. Hidupnya tidak ada penjaluk lain. 

Entah mengapa aku mengingat mereka berdua dan tentang hal itu lagi. Seolah-olah merekalah yang sebenarnya itu manusia sejatinya. Sedangkan aku ini kerap kali hanya hidup dengan berbagai hal yang justru membuat aku ini merasa aneh-aneh. Memang dunianya lain, namun aku disadarkan bahwa memang hidup ini perlu dihidupi dengan kesederhanaan dan apa adanya, tanpa banyak keinginan. Lik Kamdi dan Lik Man masih saudara bapak. Aku masih ingat bagaimana keluarga mereka pindah rumah di dekat rumah keluargaku sekitar tahun 1980-an. Waktu itu rumah mereka ada di pojok pinggiran dusun dekat Kali Kembang yang biasa para warga dusun pakai untuk mandi, cuci, dan minum. Sumber air di kali Kembang itu memang bersih dan jernih. Sampai sekarang masih ada. Kali itu lebih pada pancuran sebenarnya. Ada tiga bagian: paling atas agak kecil pancurannya, tengah yang besar grojogannya, dan bagian paling bawah yang masih disekat dua bagian untuk kaum laki dan satunya untuk perempuan. Letak kali Kembang memang di bawah dusun kami. Maka, kalau mandi di kali itu, kami pulang-pulang sudah basah keringat lagi. 

Kembali ke peristiwa perpindahan rumah keluarga Lik Man dari pojok dusun yang sepi dan cenderung dekat ladang dan situasinya kurang mendukung untuk sosialisasi, maka keluarga itu diminta pindah rumah dekat kami. Namun, kemungkinan kuat yang lain adalah pada waktu itu, ada situasi di mana masyarakat diancam dengan situasi keamanan yang kurang damai. Ada peristiwa "Petrus" (penembakan misterius). Aku masih ingat di kepalaku, sore hari setelah maghrib, biasanya warga dusun sudah siap-siap membunyikan ketongan agar warga masuk ke rumah. Para kaum laki sudah siap dengan berbagai senjata, seperti crengkeng, bambu runcing, arit, dan lainnya. Hal itu dibuat untuk ronda malam sehingga sewaktu-waktu ada orang asing yang mencurigakan warga cepat bergerak mengamankan wilayahnya. Oleh karena itu, perpindahan rumah ke area dekat rumahku itu menjadi solusi yang baik agar menjaga keamanan keluarga juga. 

Lik Man bicaranya agak kurang jelas kadang. Lik Kamdi jauh lebih jelas. Orang sering menyebutnya "kurang normal" seperti kebanyakan orang. Namun kekurangnormalannya tidak menghalangi untuk beraktivitas sebagaimana yang lain. Mereka juga bisa membantu sesama dalam kerja bakti. Mereka juga diminta membantu ngangsu air saat ada rewang di tempat tetangga. Mereka juga bisa angkut-angkut membantu tetangga bekerja di saat ada sambatan. Intinya, ketidakmampuan seperti orang normal biasa itu bukan halangan membantu sesama. Dan yang lebih penting lagi adalah mereka tidak sangat dianggap oleh orang lain walau mereka adalah sesama manusia. Mereka tidak banyak protes. Mereka adalah manusia lugu, karena ketidaknormalan secara mental, namun mereka itu justru yang dalam ingatanku saat ini menjadi guru penting kalau mengingat sosok manusia. Orang yang mengaku diri normal dan sehat kadang jauh dari sosok manusia berharga karena bisa memanipulasi dengan otaknya. Akal budi menjadi alat memutarbalikkan fakta, membuat HOAX, merekayasa pembunuhan karakter, memainkan peran untuk membuat kepentingannya tercapai.

Aku hanya melihat sosok Lik Man dan Lik Kamdi sebagai pribadi manusia yang tahunya hanya hidup sederhana, makan, minum, berpakaian, tidur, bekerja tanpa ada rekayasa apapun. Hidup mereka adalah kesederhanaan dan itulah kekudusan. Tidak ada tipu daya dalam dirinya. Tidak ada kemunafikan. Tidak ada keculasan. Tidak ada keinginan untuk menjatuhkan orang lain. Kalau mereka dianggap tidak normal pun, mereka tidak marah. Orang lain tidak merasa terancam oleh tingkah laku mereka. Kadang kita yang merasa diri normal inilah yang justru banyak tingkah dan membuat masalah. Sehat dan normal bukan jaminan bahwa manusia itu hidup dengan jujur, apa adanya, sederhana, tidak banyak tingkah manipulatif. Aku menyadari bahwa dengan mengingat dua sosok pribadi itu aku diajak untuk nrima lebih sadar diri bahwa aku pun perlu tidak aneh-aneh, lebih jujur dan murni dalam keinginan. Bahwa aku pernah mengalami jatuh bangun, justru di sanalah aku dilatih untuk makin peka dengan diriku. Bahwa aku pernah terperosok sehingga menyebabkan orang lain terluka, di sanalah aku diajak untuk berani mengakui kesalahan dan berani meminta maaf. Kadang yang kuhadapi adalah realitas dunia yang tidak mau memaafkan. Budaya pengampunan seolah hanya berhenti pada balas dendam. Kalau aku bisa membalas, maka di sanalah seolah selesainya sebuah masalah. Padahal ketika ada pembalasan, di sanalah mulainya lingkaran setan kekerasan dan budaya kematian. Orang takut bertobat karena lingkungannya tidak mau memaafkan. Memaafkan itu dianggap lemah. Memaafkan itu dinilai mubazir. Memaafkan itu hina. Sebaliknya meminta maaf itu harus dibarengi dengan penghakiman, bahkan pembunuhan jika bisa. Itulah hukum yang berlaku di dunia ini. 

Peristiwa pembunuhan Joshua bin Joseph pun sebenarnya juga demikian. Dia yang mengajarkan kasih dan pengampunan, dibalas dengan pembunuhan dan tidak ada yang mau mengampuni dia. Dia yang mengampuni orang yang dianggap bersalah pun harus mati karena kebrutalan dan nafsu haus darah dari massa yang mengamuk tak terelakkan. Pengampunan tidak mungkin muncul dari ketertutupan hati yang masih membenci dan mau menang sendiri. Hati yang kurang sederhana hanya akan menimbulkan kematian bagi sesamanya. Hati yang tidak memberi ruang seluas-luasnya pada hidup orang lain akan menghasilkan dendam ke dendam yang terus berkesinambungan. 

Lik Man dan Lik Kamdi setidaknya mengajarkanku akan kesederhanaan pribadi dalam (anggapan orang yang menganggap mereka) tidak normalnya sosok pribadi manusia itu. Mungkin karena itulah, aku wajib bertanya lebih dalam lagi: "Apakah memang demikian hidup ini?" Yang merasa diri normal harus belajar dari yang kurang atau dianggap sebagai yang tidak normal?


#morningtime# 

Saturday, February 10, 2024

Gana

Orang-orang menyebutnya patung "Gana". Beberapa hari lalu aku sudah sangat bersemangat untuk mencari dan menemukan patung itu. Ternyata ketika aku menemukannya, itu bukanlah yang asli. Itu hanya sebuah tiruan yang diletakkan di sebuah pojok pertigaan dekat sebuah pohon tinggi (semacam beringin) dan di situ memang ada sumber airnya. Memang di situ juga ada semacam sesaji (sajen) yang ditempatkan di situ. Auranya mistis. Namun kebanggaanku itu ternyata sirna ketika seorang karyawan tempat kami mengatakan bahwa bukan itu yang asli. Aku yang semula merasa sudah menemukan ternyata kena "prank" patung tiruan yang katanya memang ada di dekat situ. Kemudian, aku terus mencari lewat internet. Di internet kutemukan dengan nama "Lembah Gana - Taman Arkeologi dan Edukasi Budaya". Sayang bahwa yang disebut mentereng di map itu hanya sebuah tempat yang memprihatinkan karena di kebonan dan dekat sawah, kemudian di situ memang dekat aliran sungai. Ketika pas berjalan ke sana pun google maps tidak sangat jelas menunjukkan jalannya karena harus melalui jalur sawah yang baginya mungkin tak teridentifikasi sebagai jalan.

Aku lantas bertanya pada bapak-bapak yang sedang membangun sebuah bangunan dan ketika sampai di sawah bertanya lagi ke bapak yang sedang mencangkul di sawah. Sempat pula ketika berjalan menyusur jalur tak jelas itu aku bertanya pada dua anak yang sedang mancing ikan di sungai kecil. Aku sembari mengira-ira dan setengah tidak yakin mencoba menyibak rerumputan dan mencari jalan, yang kata orang-orang tadi ada jembatan dan di dekat jembatan itulah tempat yang kutuju. Dan akhirnya, aku mendapatkan patung itu. Aku coba bandingkan dengan yang pernah di-upload orang di maps atau internet. Ternyata memang itu. Aku memang lupa memotret prasasti yang dibuat oleh pemerintah pada tahun 2021 lalu. Namun demikian, aku puas hari ini aku menemukannya. Patung "Gana" yang berasal dari istilah "Ganesha". Patung anak gajah yang duduk dan itu sangat terkenal dalam tradisi Hindhu atau Jawa Kuna. Banyak hal bisa dipelajari dari patung ini. 

Pertanyaanku kemudian adalah mengapa di daerah itu ada patung ganesha? Apakah ada kaitan dengan candi Ngempon dan candi-candi lain dekat daerah sini, seperti Gedongsongo? Itulah pertanyaan yang muncul sambil menikmati alam dan juga pertanyaan-pertanyaan yang bersliweran di kepalaku. Aku memang suka sejarah. Setidaknya di dekat daerah ini aku bisa melihat sendiri bagaimana warisan leluhur itu membekas dan masih bisa dinikmati sisa-sisanya walau memprihatinkan. Katanya, memang masih ada satu lagi patung yang mirip di dekat sini namun aku belum berminat untuk menelusurinya. Aku hanya mengira bentuk patung itu antara bentuk ganesha atau gupala. Namun orang di sini menyebutnya "gana" maka itu kaitanya dengan ganesha, dewa kebijaksanaan dan ilmu. 

Dengan berjalan di pagi hari, aku sebenarnya juga berniat untuk sedikit mencari keringat. Aku juga tidak bisa menahan rasa ingin tahuku tentang jejak peninggalan yang kudengar dari beberapa orang. Aku juga mencoba mencari informasi dari berbagai hal, terutama saat ini dari internet. Hari ini aku mencoba menuliskan pengalaman ini karena waktu luang, dan selain itu ini adalah bukti dari keingintahuanku akan sebuah arca/patung yang katanya ada dan dikabarkan oleh orang-orang di sini. Jika ingin mengenali dan mengetahui umur berapa patugn itu memang butuh penelitian lebih akurat dengan alat yang lebih canggih. Aku hanya heran mengapa di sekitar sini ada peninggalan artefak yang tak dikira. Aku langsung mengaitkan dengan candi Ngempon dan Gedongsongo. Dan ada sumber yang mengatakan bahwa di sekitar sini adalah tempat "berkumpul" (pangumpulan) atau "tempat empu/resi" (pangempuan = pangempon) yang kaitannya dengan orang-orang yang berguru pada sang empu. Ilmu terkait dengan dewa ganesha itu sendiri. Nah, dari kesimpulanku secara pribadi dan spekulatif, memang patung itu kaitannya dengan hal itu. Orang berkumpul untuk mencari ilmu dan berguru  pada empu/ resi. 

Setidaknya pagi ini aku pergi berjalan bukan sekedar berjalan tanpa tujuan. Pertama untuk cari keringat alias berolahraga, membakar kalori. Kedua untuk mencari dan menemukan artefak yang konon kabarnya ada di sekitar tempatku. Awalnya aku keliru namun karena aku mencoba mencari yang lebih dari sekedar informasi yang ada, aku akhirnya menemukannya. Aku tidak bermaksud untuk mengulas arca itu, namun aku pun hanya memahami dari apa yang pernah kudapatkan. Daerah ini sekarang sudah berbeda keadaannya. Sekarang di sekitar artefak itu sudah banyak pabrik, kawasan industri. Jika dilihat dari imaginasiku, daerahnya adalah area persawahan dan "tegalan" alias kebon. Di sisi lain ada aliran sungai kecil yang mencukupi untuk mengairi sawah dan kebon. Aku menyimpulkan bahwa daerah ini subur. Bayanganku melayang jauh ke informasi sejarah yang pernah kudapat di bangku persekolahan bahwa peradaban itu selalu terkait dengan aliran sungai yang di sekitarnya subur. Nah, aku lantas mengiyakan hal ini, bahwa arca itu adalah buatan manusia beradab dan tentu daerah ini adalah daerah tempat orang berkarya dan mencipta. Aku memang hanya spekulatif namun aku percaya tentu artefak-artefak lain akan berkaitan. Aku selalu mengamini bahwa suatu hal itu akan terkait satu dengan yang lain. 

Itulah sedikit cerita di pagi hari ketika banyak orang libur dan merayakan hari rayanya masing-masing. Dan aku menikmati pagi hari dengan berjalan, mencari, dan menemukan sebuah archa. Itulah kisah sedikit dariku yang menemukan "Lembah Gana" alias Ganesha. 


#noontime# 

Thursday, February 1, 2024

Vanity

Semenjak beberapa waktu ini aku merasakan bahwa aku harus menjauhi dan sebisa mungkin tidak menunjukkan diri. Ada sesuatu yang bagiku menakutkan. Ya, sebuah ketakutan karena ada sesuatu yang bagiku adalah pengalaman mendalam. Pengalaman itu adalah bahwa sekuat-kuatnya, sekuasa-kuasanya, sehebat-hebatnya atau apapun itu yang namanya nama besar, prestasi, kesuksesan yang dicari-cari orang kebanyakan, itu semua adalah tidak ada apa-apanya. Bahkan aku hanya bisa mengalami dan merasakan bahwa semua yang ditempelkan, disematkan pada diriku adalah fana. Sejak lama manusia merefleksikan bahwa selama hidup ini masih di dalam ruang dan waktu maka kefanaan dan (kadang) kesia-siaan (vanity).  Beberapa waktu lalu aku harus bergulat dengan berbagai hal yang tidak mudah, bukan hanya diriku namun juga menyangkut banyak orang. Ketika mengetahui secara dalam bahwa semua itu hanya sementara, tidak ada artinya, tidak pantas dibanggakan, aku makin merenungkan bahwa hidup ini adalah kesia-siaan, dalam pandangan para pesimistik. Aku masih punya optimisme namun demikian, kiranya supaya lebih realistik, aku pun tidak menyingkirkan pesimisme juga.

Nama besar, prestasi memang masih dicari dan diburu oleh sebagian besar dari penduduk di planet bumi ini. Aku tidak menyalahkan mereka semua, namun dari sana aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa itu semua hanya sementara. Mengapa sementara? Tidak ada yang abadi sementara kita masih ada di ruang dan waktu, kita dibatasi oleh dimensi itu. Selain itu, alasan yang lain adalah bahwa dalam hidup ini (karena dibatasi ruang dan waktu), ada kerapuhan (vulnerability). Itulah mengapa nama besar, prestasi itu hanya akan bertahan dalam periode tertentu. Bahwa ada legacy (warisan) yang pernah tercatat oleh sejarah itu iya. Namun demikian, sejarah akan mencatat dan dikenang oleh karena ada kekuatan yang menopangya. Tanpa ada kekuatan dan kekuasaan yang menopang, maka catatan sejarah itu hanya tinggal catatan dan tidak ada yang membaca, mengakui, dan mengagungkan juga. 

Ketakutanku tidak tanpa alasan. Aku takut untuk menjadi sorotan. Aku takut untuk menjadi besar. Aku takut untuk diagung-agungkan. Mengapa? Karena pada dasarnya aku tidak suka. Sisi yang lain adalah aku sadar sepenuhnya bahwa pada suatu masa tentu akan ada saat dimana itu semua berlalu dan lenyap. Tidak ada gading yang tak retak. Tidak ada nama besar yang tentu ada kekurangannya. Tidak ada kemegahan tanpa sebuah tumbal (harga yang harus dibayar). Aku belajar dari bangunan-bangunan besar dan megah peninggalan bersejarah yang mengagumkan. Itu semua tentu ada harga yang harus dibayar. Ada nyawa yang harus dipertaruhkan untuk membangun itu semua. Ada darah yang harus mengucur itu kebesaran itu. Bangunan-bangunan keajaiban dunia itu dibangun oleh kekuasaan para diktator. Mereka tentu mengorbankan banyak nyawa dalam proses pembangunan. Sebuah waduk di Wonogiri pun mengorbankan banyak kecamatan dan penduduknya harus dipindahkan ke pulau lain sehingga sampai ada slogan di sana "jer basuki mawa beya". Setiap kesuksesan harus ada harga yang harus dibayar. 

Celaka, kritikan, kejatuhan bisa terkenai siapa saja. Bahkan imperium yang menguasai sebagian besar dunia selama ratusan tahun pun bisa hancur. Kehancuran bisa karena faktor alam (bencana) dan bisa saja karena kejatuhan karena diserang dari luar maupun dalam. Semua ada batasnya. Maka dalam setiap sejarah peradaban manusia, selalu ada narasi yang membuat orang menjadi "abadi". Ada kisah mengenai seorang raja yang mencari keabadian dengan ramuan-ramuan misterius, ada juga sebuah naskah besar mengenai narasi bahwa untuk membalas kekalahan maka penguasa harus membuat sebuah babad besar yang menunjukkan bahwa kekuasaannya adalah dari Yang Maha Ilahi dan turun-temurun dari tokoh-tokoh besar yang melegitimasinya secara sah menjadi penguasa. Bahkan kekalahan perang bisa menjadi bisnis film yang mereguk keuntungan besar-besaran di pasar perfilman dunia. 

Kita sadar sepenuhnya tidak ada orang yang mau gagal. Oleh karenanya, kegagalan selalu disingkiri. Nama besar dan prestasi itu yang dicari. Namun demikian selalu dalam sejarah peradaban manusia, ada juga penyeimbang bahwa orang menyadarkan diri untuk tidak lupa pada kekecilan dan tiak berharganya diri kita dibanding dengan kekuatan yang pasti akan mengalahkan keangkuhan prestasi, nama besar, kesuksesan, keangkuhan, dan semacamnya. Ketika kejatuhan tiba, maka runtuhlah bangunan kita. Nama besar, kesuksesan, prestasi, nama harum sekalipun tidak berlaku lagi.

Aku ingat seorang tokoh besar yang sempat diasingkan bertahun-tahun karena dianggap berbahaya oleh rejim yang berkuasa. Ia tak bertemu keluarga bertahun-tahun. Akhirnya dia pun ketika dibebaskan oleh penguasa harus menerima realitas ditinggal istrinya yang menikah dengan orang lain. Pastilah ia merasa kecewa dan sakit hati. Namun di sisi lain ia pun mungkin karena sudah lama terbiasa tersakiti di pengasingan harus menjaga kewarasan dan menerima itu semua walau terpaksa. Rejim yang menahannya bertahun-tahun pun akhirnya juga tumbang di tangan rakyat karena kerapuhannya. Jadi di dunia ini hanya ada dialektika. Suatu saat kita di atas, suatu saat kita di samping, suatu saat di bawah. Segala sesuatu ada waktu dan masanya. Dan kalau dilihat dari sisi pesimistik, segala sesuatu itu adalah kesia-siaan. 

Menjadi kecil, sederhana, tak dikenal, tersembunyi adalah lebih baik daripada menyandang nama besar dan harus tampil di depan umum. Semua itu adalah kesia-siaan jika kita melihatnya hanya dari sisi pencapaian diri. Orang yang tidak siap menjadi kecil dan tak dianggap akan menderita. Lebih baik membiarkan pihak lain menjadi besar dan aku menjadi kecil; itu jauh lebih baik daripada terobsesi menjadi besar dan berkuasa. Vanity oh vanity! 

Vanity of vanities, says the Preacher,
    vanity of vanities! All is vanity.
What does man gain by all the toil
    at which he toils under the sun?
A generation goes, and a generation comes,
    but the earth remains forever.
The sun rises, and the sun goes down,
    and hastens to the place where it rises.
The wind blows to the south
    and goes around to the north;
around and around goes the wind,
    and on its circuits the wind returns.
All streams run to the sea,
    but the sea is not full;
to the place where the streams flow,
    there they flow again.
All things are full of weariness;
    a man cannot utter it;
the eye is not satisfied with seeing,
    nor the ear filled with hearing.
What has been is what will be,
    and what has been done is what will be done,
    and there is nothing new under the sun.
Is there a thing of which it is said,
    “See, this is new”?
It has been already
    in the ages before us.
There is no remembrance of former things,
    nor will there be any remembrance
of later things yet to be
    among those who come after.


#inmyroom#