Di jalan ada seorang ibu yang menggendong anaknya dan dibawa panas-panas terik untuk mengemis dan dari sana aku bisa melihat bahwa bukan sekedar kemiskinannya yang aku lihat tetapi lebih kepada mentalitas dan struktur masyarakat kita di mana masih menoleransi pola meminta-minta itu. Ada yang salah dalam masyarakat manusia ini sehingga masih membiarkan orang meminta-minta. Entah karena sistem sosial yang memang "memfasilitasi" untuk terjadinya itu. Kehadiran sebuah perwakilan tatanan tidak selalu normal dan ideal. Yang normal saja tidak terjadi apalagi ideal, karena ideal itu tidak akan pernah terjadi di dunia yang dibatasi ruang dan waktu ini.
Demikian juga ketika sebuah relasi akan berubah menjadi percekcokan karena salah satu pihak memulai dengan sebuah hal yang tidak bisa diterima oleh yang lain, entah lupa janji, tak komitmen lagi, melanturkan diri ke relasi-relasi lain, itu juga berdampak. Relasi ini selalu tidak ideal sebagaimana hidup ini tidak ideal. Hidup adalah kenyataan, real. Demikian juga ketika dua pribadi merayakan sebuah relasi mereka, itu pun tak selamanya akan mengalami jalan yang lurus-lurus saja. Ada pendakian. Ada belokan. Ada geronjalan. Ada aspalan. Ada jalan becek. Ada banjir. Ada angin badai. Di alam raya ini banyak kemungkinan, ada sebab dan akibat. Kesadaran akan seluruh realitas memanglah penting. Hal ini supaya kita masih menapak bumi dan tidak hidup dalam awang-awang idealisme. Namun demikian, yang terpenting dan mendasar adalah bagaimana realitas itu dijalani dengan sepenuh hati dan kembali sadar diri untuk kembali pulang.
Sekedar berandai menetapi diri ini
Berpencar pergi tuk mencari apa yang lama dicari
Pergi tanpa pamrih pergi tanpa pamit akan
Ke sana kemari tanpa arah serta ratusan makian
Kembali pulang tuk menenangi
Banyaknya luka yang berantakan
Peluk hangat sikap tuk sembuhkan
Kembali pulang bersama terang
Menghiasi diri merayakan
Genggaman tangan yang masih ada
"Kembali pulang", dalam sebuah lirik itu mengungkapkan kepada kita bahwa sejauh-jauhnya sebuah relasi yang melenceng pun perlu dikembalikan ke asalnya. Tentu ada luka. Tentu ada bekas-bekas tak nyamannya. Ada keberantakan yang terjadi. Ada rasa kecewa. Ada curiga. Itu semua timbul karena satu pihak atau keduanya saling belum terbuka. Terbuka yang membawa percaya.
Demikian juga potret kehidupan yang lain di mana sebuah pasangan hidup dalam lunta-lunta nestapa. Hidup mereka harus mengais-ngais sampah dan di antara comberan dan debu jalanan. Hidup mereka ada dalam rumah kardus dan gerobak pemulung. Namun mereka tetap setia dalam seiring sejalan demi kehidupan itu sendiri. Atau sebuah keluarga yang harus banting tulang dalam hidup. Tak bisa keduanya mencari nafkah, namun dalam kesederhanaan itu, kerja keras itu, hidup harus terus berjalan. Aku pun yakin apapun bentuk relasi antar pribadi yang dinamakan keluarga itu selalu ada suka dan duka, untung dan malang. Ending sebuah perjalanan kita tidak tahu. Kita hanya menjalani dan mencari makna.
Tak semua seperti postingan story atau status di medsos, yang menampilkan yang baik-baik, ganteng, cantik, kumpul sana sini, makan bareng, rekreasi bareng, namun kita tidak tahu sebenarnya yang terjadi di balik panggung kehidupan itu. Gebyar panggung tak sama dengan belakang panggung. Bahkan jika melihat dan memaknai kehidupan yang dinamakan keluarga pun juga tak lepas dari ruang sunyi tersembunyi yang jauh dari hiruk pikuk story atau postingan status medsos. Justru mereka yang berada di balik panggung kehidupan keluarga dan tak terekspose itulah yang bagiku bermakna dan menyentuh. Ada pribadi-pribadi kuat dan tanpa pamrih ingin narsis atau pamer diri. Hidup tak hanya dimaknai dan dihargai lewat pamer diri.
Hidup lebih dalam dan lebih jauh dari sekedar pamer diri. Hidup merupakan kasunyatan yang harus dijalani, bukan dipamerkan. Perkara orang lain melihat atau tidak itu tidak masalah. Orang sekarang selalu ingin terlihat ini dan itu yang nadanya adalah pamer atau ingin dipuji atau ingin menyemangati diri. Orang terfasilitasi dengan hal-hal yang serba visual. Zamannya zaman visual, maka hidup ditarik ke hal-hal itu juga. Orang tak menyanyikan "kidung sunyi" namun kidung riuh kehidupan yang kadang perlu diwaspadai karena di sana ada bahaya penipuan diri. Orang tidak otentik dengan dirinya. Orang hanya dipandang dari yang kelihatan. Apalagi di tengah masyarakat yang budayanya "maling", serba formalistik dan tak otentik. Sedari dini sudah diajari bagaimana cara "maling" secara efektif yaitu sekedar isi form maka seluruh hidupmu ada di sana. Ketika mengisi form, seolah-olah hidup ini sudah lengkap dan baik. Form dikumpulkan ke pusat, lalu tanpa verifikasi kualitas sebenarnya, semua beres. Itulah budaya formalisme. Formalisme yang membawa pada mentalitas maling secara resmi.
Belum lagi, generasi saat ini yang semakin spesialis, akan menerima dampak kesulitan mencari nafkah hidup. Makin spesialis, makin akan susah mencari profesi. Lebih beruntung ketika zaman generasi itu generalis. Pekerjaan terbuka. Profesi tak menuntut spesialisasi. Memang spesialisasi itu mahal harganya. Namun demikian itulah yang kelihatannya bagi generasi zaman ini perlu dikembalikan kepada marwah kehidupan yaitu bahwa hidup itu bukanlah sebuah spesialisasi profesi. Hidup itu ada yang spesialis, ada yang generalis. Mahal tidaknya sebuah konsekuensi adalah kenyataan. Itulah kasunyatan hidup. Dan dalam kasunyatan itu brayat atau keluarga itu hidup.
.jpeg)













