Wednesday, September 11, 2024

Tawanan Kegagalan

"Saudara-saudari, berhadapan dengan banyaknya tugas kehidupan kita sehari-hari; pada panggilan yang kita semua alami untuk membangun masyarakat yang lebih adil, dan untuk bergerak maju di jalur perdamaian dan dialog – jalur yang telah ditelusuri di Indonesia selama beberapa waktu –, kita terkadang merasa tidak mampu. Kita merasakan beban dari begitu banyak komitmen yang tidak selalu membawa hasil yang diinginkan atau kesalahan kita yang seolah menghentikan perjalanan. Namun dengan kerendahan hati dan iman yang sama seperti Petrus, kita juga diminta untuk tidak terus menerus menjadi tawanan kegagalan-kegagalan kita. Ini adalah hal yang sangat buruk, karena kegagalan menimpa kita dan kita bisa menjadi tawanan dari kegagalan-kegagalan itu. Saya mohon, janganlah kita terus menjadi tawanan atas kegagalan-kegagalan kita. Daripada tetap terpaku pada jaring kita yang kosong, marilah kita memandang DIA dan percaya kepada-Nya. Jangan melihat jala kita yang kosong, lihatlah DIA, lihatlah DIA! Dia akan membuatmu berjalan, Dia akan membuatmu berjalan dengan baik, percayalah pada DIA! Kita selalu bisa mengambil risiko untuk bangkit kembali dan menebarkan jaring kita lagi, bahkan ketika kita telah melalui malam kegagalan, masa kekecewaan dimana kita tidak mendapatkan apa pun. Sekarang saya akan mengheningkan cipta sejenak dan anda masing-masing memikirkan kegagalan-kegagalan anda." [kutipan dari kotbah Paus Fransiskus pada 5 September 2024 di GBK dengan sedikit pengubahan dari penulis]

Aku membaca kembali apa yang diungkapkan sosok satu ini, yang beberapa hari lalu berkunjung ke tanah ini dan aku diberi kesempatan, anugerah, berkah, rahmat untuk bertemu langsung dengannya. Rasanya ungkapan itulah yang berharga, yang berbunyi bagiku. Mengapa berharga? Karena aku sering berpikiran pendek, aku sering mendengar dari banyak sahabat, keluarga atau banyak orang merasa bahwa kegagalan adalah kiamat, kegagalan bukan saja penjara namun keadaan hidup yang remuk. Memaknai bahwa kegagalan adalah kesempatan untuk bangkit lagi, kiranya itu sesuatu yang mahal. 

Bisa dipahami karena hidup kita sehari hari biasa kita pahami sebagai beban dan bukan panggilan untuk berjalan dan terus berjalan. Kadang atau sering aku menghayati hidup ini hanya sebatas dengan pola pikir aku harus sukses dan aku harus berhasil. Dan keberhasilan itu memang selalu dicari banyak orang, seperti yang pernah kudengar dari seorang tokoh sepak bola, "Aku suka kemenangan (sukses), karena dunia suka dengan kemenangan". Jika seluruh hidup ini diukur dengan kesuksesan, maka tidak adillah hidup ini. Atau memang kita ini kemudian jatuh dalam pusaran ketidakadilan itu? 

Komitmen kita memang tak semua membuahkan hasil. Bahkan mungkin komitmen hidup kita adalah hasilnya kegagalan. Dan ini menjadi mimpi buruk bagiku. Realitas tidak sesuai dengan idealisme yang ada pada pikiranku. Realitas tak sesuai ekspektasi. Dan itulah mengapa aku menyebutnya sebagai panggilan untuk menerima kegagalan dengan kerendahan hati. Dalam ungkapan Fransiskus di atas, dengan kerendahan hati dan kepercayaan, menjalani hidup ini jauh lebih realistis. Inilah yang mungkin perlu dihayati orang-orang di zaman supermodern ini. Ketika semua mengagung-agungkan penampilan, penampakan, prestasi, sisi luarnya, semua ingin terlihat baik, OK, bagus, indah dan sejenisnya. Namun itu membawa petaka ketika realitasnya adalah sebaliknya. 

Ada kalanya orang ingin terlihat glowing di medsos namun realnya wajahnya biasa-biasa saja. Ada orang yang ingin agar pekerjaannya menghasilkan gaji yang tinggi dan itu cukup bagi keluarganya, namun kenyataannya tidak seperti itu. Malah harus hutang dan terjerat pinjaman online. Ada orang yang idealismenya sebagai pendidik semua akan baik-baik saja, namun ternyata di luar tampak baik namun di dalam hidup pribadinya harus mengalami pergulatan dalam mendidik anak atau pergulatan menghadapi keluarga yang sakit berat. Semua itu rasanya membuat hidup tak sesuai harapan. Dan hidup bukan ideologi, hidup bukan sekedar idealisme. Hidup ini realitas (bukan realisme belaka). Di sanalah aku merasa dipanggil untuk tabah, mampu bertahan, mampu membuat jalur-jalur alternatif, mampu untuk membuat jejaring, mampu untuk menerima kerapuhan dari mereka yang lemah atau yang merasa dirinya tak sadar akan kelemahan itu sendiri. Dan akhirnya, hidup ini perlu menjadi bejana yang menampung segala tangis, remukan, ketercabikan, dan kerapuhan dari berbagai orang dan diriku sendiri yang memang tidak sempurna.  

Persis dan tepat seperti diingatkan dalam kotbah di atas, aku tak perlu membangun "penjara kegagalan" dalam hidup ini. Bahwa kadang atau sering aku ingin menyerah, itu benar. Bahwa aku tak tahan dengan kegagalan, itu pasti. Bahwa aku mengalami dan meragukan Tuhan tidak membantu dan mengabulkan doa-doaku, itu iya. Bahwa aku merasa hidup ini tak adil, itu sering terjadi. Itulah litani penjara kegagalan yang kubangun pelahan dan pasti akan menebal jika tidak hati-hati. Dinding-dinding penjara itu  makin tinggi kalau aku tidak dengan rendah hati dan kepercayaan menghancurkannya pelan-pelan. 

Aku bersyukur pagi ini aku diingatkan untuk rendah hati dan terus percaya karena seruan itu adalah menyemangati, menggerakkan agar hidupku tidak terjebak dalam penjara kegagalan. Atau aku tidak terpenjara dalam kegagalan-kegagalan itu sendiri. Jika memang aku tak punya apa-apa, ya itulah yang perlu kubawa dan kupersembahkan. Jika aku merasa kering, ya itulah yang menjadi situasiku. Jika aku merasa hampa, ya itulah kekayaanku sampai saat ini. Namun itu tidak berarti aku harus berhenti berharap, aku tak boleh lelah untuk terus berjalan dan bergerak untuk terus menuju pada kedalaman hidup. Bertolak (menjala) ke tempat yang lebih dalam adalah kunci menemukan makna hidup itu sendiri. 

#Aku sebenarnya masih punya insight lain yang perlu kucatat namun di tulisan lain baru akan kutuliskan lagi. Sementara ini dulu saja karena ini bagian dari rasa syukurku.#


#morningtime#  

No comments:

Post a Comment