Beberapa hari lalu, seiring dengan waktu masuknya sekolah bagi para pelajar, Menteri Pendidikan mengedarkan Surat Himbauan kepada para orangtua agar mengantar anaknya masuk sekolah. Tidak secara langsung memberi beberapa alasan mengapa Menteri menghimbau para orangtua untuk mengantar anak masuk sekolah di hari pertama. Ada pro dan kontra yang kulihat. Memang tidak secara tegas dan spesifik bahwa itu harus atau menjadi sebuah hal yang wajib, namun hal itu bisa menjadi kontra produktif dalam kehidupan sebagai orangtua, orang yang bekerja, dan juga dalam rangka pendidikan yang melihat perkembangan pribadi. Rationale bercampur mekanisme (cara) mendukung anak ke sekolah disebut demikian:1. Mendorong aparatur sipil daerah untuk mengantar anak ke sekolah di hari pertama dan memberikan dispensasi dapat memulai kerja sesudah mengantarkan anaknya ke sekolah.
2. Mendukung sekolah dalam menyambut siswa baru dan berinteraksi dengan orangtua.
3. Menyampaikan pesan kepada instansi swasta di daerah agar memberi dispensasi bagi karyawan untuk dapat memulai kerja sesudah mengantarkan anaknya ke sekolah di hari pertama.
4. Menggunakan berbagai kanal komunikasi di daerah untuk menyebarkan pesan Hari Pertama Sekolah kepada publik luas di daerah saudara.
Intinya, orangtua yang disebut aparatur sipil harus mengantar anak ke sekolah. Kemudian, ini semacam meminta dispensasi kepada instansi lain jika orangtua si anak bekerja di lembaga lain. Ada manfaat sebagai orangtua karena memberi waktu mengantar anaknya dahulu baru kemudian bekerja. Namun di sisi lain, lembaga tempat bekerja orangtua akan mengalami kekosongan beberapa jam ketika ditinggal mengantar anak ke sekolah di hari pertama.
Ada beberapa hal yang perlu dilihat di sini. Pertama, Menteri harus melihat lebih jeli mengapa himbauan ini muncul? Alasan apa dihimbaukan semacam itu? Kedua, apakah semua anak dari TK sampai SMA/K akan diperlakukan sama oleh orangtua sehingga mereka harus diantar ke sekolah di hari pertama? Ketiga, sebegitu "dramatisnya" hari pertama masuk sekolah sehingga harus ada himbauan Menteri.
Setelah ada surat himbauan Menteri itu, ada diskusi informal di media sosial. Ada perbandingan kultur pembiasaan orangtua kepada anak berkaitan keberangkatan ke sekolah. Di Jepang bahkan tidak begitu didramatisasi seperti itu. Orang Jepang malah memberi kebebasan kepada oranrtua apakah akan mengantar anak atau tidak. Itu hak pribadi. Ada juga budaya yang membiarkan anaknya berangkat sendiri ke sekolah. Justru inilah latihan bagi anak untuk menjalani pembiasaan lain dari sebelumnya.
Dalam diskusi itu, orang mencibir tentang kehebohan yang harus dijalankan orangtua mengantar anaknya sampai sekolah. Aku sendiri melontarkan ide demikian: memang kalau tidak hati-hati masyarakat kita makin dikuasai ketakutan dan fobia tentang suasana luar rumah dan atau jalanan. Sepertinya kita dibawa para sebuah reproduksi mental masyarakat kita untuk mudah kuatir. Lalu kekuatiran itu membuat orang mencari-cari jaminan apapun termasuk keamanan dan kenyamanan anaknya yang sekolah dari TK sampai SMA. Bisa jadi anak yang sudah masuk perguruan tinggi pun diperlakukan sama. Aku hanya ingin melihat bahwa di sini perlu dilihat jenjang usia anak sampai remaja. Ada usia di mana anak masih perlu diperhatikan secara ketat dan khusus. Misalnya TK sampai SD. Ada usia yang tidak perlu ketat diawasi. Misalnya, SMP sampai SMA. Kekuatiran orangtua biasanya soal kriminalitas, narkoba, dan tawuran di jalanan dan lingkungan pergaulan. Nah, di sini kemudian masyarakat kita mereproduksi ketakutan yang makin meluas.
Oleh karena itu, bagi kita sebenarnya Menteri boleh saja mengeluarkan surat himbauan namun perlu melihat konteks jenjang usia anak juga. Jika semua digeneralisasi maka akan nampak aneh. Sepertinya orangtua dan kita semua dimasukkan dalam sebuah lingkup pembiasaan yang makin tidak menumbuhkan harapan dan potensi yang berkembang. Segala macam keluhan dan mudah menuntut adalah ciri khas pribadi "cemen", ciut mental dan tidak punya keberanian menghadapi hidup. Jika semua dan apa-apa dikaitkan dengan HAM atau tidak menghargai pribadi, maka kita semua akan jatuh pada penghargaan yang berlebihan dan tidak mendewasakan. Pribadi anak tidak bertumbuh menjadi pribadi yang dewasa, mandiri, dan militan. Keberanian anak juga perlu ditumbuhkan. Jika apa-apa harus dijamin dan difasilitasi, bagaimana ia akan menghadapi tantangan hidup? Jika semua sudah "secure", bagaimana ia bisa menghadapi situasi yang tanpa jaminan? Jika semua serba dipermudah, bagaimana ia akan menapaki terjalnya jalan kehidupan?
Bangsa ini akan semakin dibawa pada kemerosotan mental sebagai manusia jika hanya menuruti pihak-pihak yang "cemen". Pendidikan tidak ada gunanya karena pendidikan hanya mengabdi pada pemenuhan jaminan hidup dan fasilitasnya. Pendidikan tidak berarti karena semua maunya enak dan nyaman. Padahal masuh banyak anak bersekolah pun dalam kondisi lapangan yang serba sulit di pelosok nusantara ini. Ada pula yang masih belum menikmati kemerataan pembangunan dalam hal pendidikan, itu pun ada di belahan wilayah nusantara ini. Mari kita sadari itu sebagai hal yang lebih penting daripada sekedar menjadi kaum "cemen" di nusantara ini.
#noon time#
@office