Tulisan ini kubuat malam hari, di bulan akhir tahun ini. Kala yang lain (mungkin) ada di tengah kemeriahan di luar sana, aku mencoba sendiri dalam ruangan. Hanya ditemani segelas air jeruk dicampur madu dan suara radio siaran lagu-lagu. Hmm..ya, aku sengaja menyepi...menyendiri dan tak ikut dalam hiruk pikuk seperti waktu-waktu lalu di mana biasanya ke mana-mana untuk sekedar melayani banyak orang. Aku tahun ini menyepi, sendiri dalam kebersamaan. Natal berasa Advent. Itulah yang terus kurasakan tahun ini. Aku juga mencoba menerima semua kenyataan ini dalam ruang hidupku. Bahkan aku pun membatasi diri dari berbagai hal yang pernah kualami sebagai rutinitas keseharian di waktu-waktu dulu. Aku berniat menyendiri walau tak sendiri.Kusyukuri perjalanan dan hidupku. Kusyukuri berbagai karunia yang sudah kualami dan kuterima. Di saat-saat berahmat itu pun aku merasakan bahwa kejatuhan di sana-sini tetaplah ada. Itulah diriku, manusia ini. Kusyukuri saat-saat di mana aku benar-benar seperti hanya dituntun oleh tangan kuat dari pihak lain yang aku sendiri kadang tak tahu siapa dan dari mana. Kusyukuri sejarah hidupku setahun ini yang bagiku mengalami peralihan dari fase satu ke fase yang lain. Kuingat berbagai nama dan wajah yang pernah singgah dalam hidup. Kurasakan kembali sentuhan pengalaman dalam diri mereka dan bersama mereka. Kurasakan juga saat-saat dimana banyak peran dari kebaikan orang lain yang tak bisa kubalas. Rasa syukur itu tak berhenti bersyukur ketika aku mengingat pergulatan hidup yang lain. Ketika kudaraskan doa untuk bulan ini yang salah satu ujubnya adalah bagi keluarga-keluarga muda, aku selalu merasakan bagaimana pergulatan itu selalu membuka luka di sana-sini, ketika kuingat beberapa wajah keluarga-keluarga itu.
Ada yang tengah mengalami keretakan dalam relasi suami istri. Ada yang tengah mengalami sulitnya mendampingi anak yang mulai memberontak. Ada yang masih menunggu momongan. Ada yang kesulitan dengan banyaknya momongan. Ada yang membuang bayinya di depan rumah orang. Ada yang merawat anak dengan berbagai perjuangan sampai berdarah-darah. Ada yang bentrok karena dalam rumahnya ada mertua. Ada yang cekcok karena mulai bosan dalam berelasi suami istri. Ada yang merasa dikhianati suami. Ada yang ingin membalas suaminya yang selingkuh dengan perbuatan yang sama. Ada yang membutuhkan kehangatan sebagai suami istri namun tak mampu mewujudkannya. Itu semua adalah banyaknya facet yang muncul saat mendaraskan ujub itu. Dan itulah kehidupan.
Kuingat Yusuf muda yang mempersunting Mariam dan ingin juga meninggalkannya karena merasa ada yang janggal dalam relasi awal sebagai calon pasangan baru. Jika Yusuf muda itu tak bertanggung jawab dan meninggalkan Mariam begitu saja, mungkin kisah itu akan berubah dan lain sama sekali. Mungkin suami sekarang sudah mencurigai istrinya dengan bertanya: "Itu anak siapa?" Tak ada keledai tunggangan yang mengangkut ibu dan bayi yang dikandung ke tempat cacah jiwa. Tak ada kisah kehabisan tempat penginapan. Tak ada kisah kelahiran yang menyelamatkan. Tak ada kisah pengungsian ke tanah asing. Tak ada keluarga kecil yang membagi rahmat di tengah-tengah dunia.
Demikian juga kudengar kisah kecil dari seorang ibu yang mendoakan anaknya setiap hari, namun kandas dan bergulat setiap hari dengan anaknya yang mulai memberontak. Ibu itu tidak tahan lagi dan seperti putus asa, tak ingin berelasi lagi dengan anaknya, bahkan rela kehilangan anaknya karena saking bencinya. Senada dengan kisah Monica dan Agustinus yang bejat hidupnya. Aku bisa membayangkan bagaimana ibu itu selalu ada dalam tekanan dan tegangan saben harinya. Aku tak bisa membayangkan apakah hanya doa dan doa, kukira juga tidak. Monica tentu akan ngomel dengan Agustinus dengan kelakuannya. Namun ngomelnya Monica tentu diimbangi dengan ruang batin yang masih punya keluasan kesabaran hati. Pertobatan Agustinus pun juga menjadi hadiah terindah Monica sebelum ajal menjemput, bahwa ia melihat anaknya berubah.
Penantian yang kumaksud dalam judul tulisan ini akhirnya bukan sekedar apa yang kurasakan di dalam batin ini namun juga menyangkut penantian rahmat dari berbagai kalangan keluarga dari zaman ke zaman. Orangtuaku pun mengalami penantian menunggu kemunculanku. Elizabeth dan Zakharias pun juga menunggu Yohanes di usai uzurnya. Penantian pun bisa mendatangkan berkat bisa menghadirkan murtad. Dan Zakharia sempat murtad karena tak percaya bahwa mukjizat itu nyata. Berbeda dengan Mariam yang menerima dengan "fiat voluntas tua", maka ia bersukaria walau dalam kegalauan tak tahu harus bagaimana. Zakharia menjadi bisu. Mariam berlari ke rumah saudarinya dan perjumpaan itu menjadi berkat sehingga melonjaklah bayi dalam rahim Elizabeth.
Kiranya penantian bukan sekedar pasif. Penantian tak hanya memaksa rahmat itu hadir dengan sendirinya. Penantian itu aktif. Penantian itu juga ada usaha sebisa mungkin mendekatkan diri dengan frekusnsi rahmat yang dimohon dalam tindakan yang dibarengi "tune in" kita. Penantian adalah saat kritis iman kita diuji. Penantian adalah masa kritis akan penerimaan rahmat dalam hidup. Penantian adalah batu uji tanggung jawab diri dalam menghadapi kasunyatan hidup. Malam sunyi membawaku pada permenungan akan penantian. Kelamnya malam tak membutakan rahmat yang bercahaya.
#silent night in my room#















