Tuesday, December 24, 2019

Penantian

Tulisan ini kubuat malam hari, di bulan akhir tahun ini. Kala yang lain (mungkin) ada di tengah kemeriahan di luar sana, aku mencoba sendiri dalam ruangan. Hanya ditemani segelas air jeruk dicampur madu dan suara radio siaran lagu-lagu. Hmm..ya, aku sengaja menyepi...menyendiri dan tak ikut dalam hiruk pikuk seperti waktu-waktu lalu di mana biasanya ke mana-mana untuk sekedar melayani banyak orang. Aku tahun ini menyepi, sendiri dalam kebersamaan. Natal berasa Advent. Itulah yang terus kurasakan tahun ini. Aku juga mencoba menerima semua kenyataan ini dalam ruang hidupku. Bahkan aku pun membatasi diri dari berbagai hal yang pernah kualami sebagai rutinitas keseharian di waktu-waktu dulu. Aku berniat menyendiri walau tak sendiri.

Kusyukuri perjalanan dan hidupku. Kusyukuri berbagai karunia yang sudah kualami dan kuterima. Di saat-saat berahmat itu pun aku merasakan bahwa kejatuhan di sana-sini tetaplah ada. Itulah diriku, manusia ini. Kusyukuri saat-saat di mana aku benar-benar seperti hanya dituntun oleh tangan kuat dari pihak lain yang aku sendiri kadang tak tahu siapa dan dari mana. Kusyukuri sejarah hidupku setahun ini yang bagiku mengalami peralihan dari fase satu ke fase yang lain. Kuingat berbagai nama dan wajah yang pernah singgah dalam hidup. Kurasakan kembali sentuhan pengalaman dalam diri mereka dan bersama mereka. Kurasakan juga saat-saat dimana banyak peran dari kebaikan orang lain yang tak bisa kubalas. Rasa syukur itu tak berhenti bersyukur ketika aku mengingat pergulatan hidup yang lain. Ketika kudaraskan doa untuk bulan ini yang salah satu ujubnya adalah bagi keluarga-keluarga muda, aku selalu merasakan bagaimana pergulatan itu selalu membuka luka di sana-sini, ketika kuingat beberapa wajah keluarga-keluarga itu.

Ada yang tengah mengalami keretakan dalam relasi suami istri. Ada yang tengah mengalami sulitnya mendampingi anak yang mulai memberontak. Ada yang masih menunggu momongan. Ada yang kesulitan dengan banyaknya momongan. Ada yang membuang bayinya di depan rumah orang. Ada yang merawat anak dengan berbagai perjuangan sampai berdarah-darah. Ada yang bentrok karena dalam rumahnya ada mertua. Ada yang cekcok karena mulai bosan dalam berelasi suami istri. Ada yang merasa dikhianati suami. Ada yang ingin membalas suaminya yang selingkuh dengan perbuatan yang sama. Ada yang membutuhkan kehangatan sebagai suami istri namun tak mampu mewujudkannya. Itu semua adalah banyaknya facet yang muncul saat mendaraskan ujub itu. Dan itulah kehidupan.

Kuingat Yusuf muda yang mempersunting Mariam dan ingin juga meninggalkannya karena merasa ada yang janggal dalam relasi awal sebagai calon pasangan baru. Jika Yusuf muda itu tak bertanggung jawab dan meninggalkan Mariam begitu saja, mungkin kisah itu akan berubah dan lain sama sekali. Mungkin suami sekarang sudah mencurigai istrinya dengan bertanya: "Itu anak siapa?" Tak ada keledai tunggangan yang mengangkut ibu dan bayi yang dikandung ke tempat cacah jiwa. Tak ada kisah kehabisan tempat penginapan. Tak ada kisah kelahiran yang menyelamatkan. Tak ada kisah pengungsian ke tanah asing. Tak ada keluarga kecil yang membagi rahmat di tengah-tengah dunia.

Demikian juga kudengar kisah kecil dari seorang ibu yang mendoakan anaknya setiap hari, namun kandas dan bergulat setiap hari dengan anaknya yang mulai memberontak. Ibu itu tidak tahan lagi dan seperti putus asa, tak ingin berelasi lagi dengan anaknya, bahkan rela kehilangan anaknya karena saking bencinya. Senada dengan kisah Monica dan Agustinus yang bejat hidupnya. Aku bisa membayangkan bagaimana ibu itu selalu ada dalam tekanan dan tegangan saben harinya. Aku tak bisa membayangkan apakah hanya doa dan doa, kukira juga tidak. Monica tentu akan ngomel dengan Agustinus dengan kelakuannya. Namun ngomelnya Monica tentu diimbangi dengan ruang batin yang masih punya keluasan kesabaran hati. Pertobatan Agustinus pun juga menjadi hadiah terindah Monica sebelum ajal menjemput, bahwa ia melihat anaknya berubah.

Penantian yang kumaksud dalam judul tulisan ini akhirnya bukan sekedar apa yang kurasakan di dalam batin ini namun juga menyangkut penantian rahmat dari berbagai kalangan keluarga dari zaman ke zaman. Orangtuaku pun mengalami penantian menunggu kemunculanku. Elizabeth dan Zakharias pun juga menunggu Yohanes di usai uzurnya. Penantian pun bisa mendatangkan berkat bisa menghadirkan murtad. Dan Zakharia sempat murtad karena tak percaya bahwa mukjizat itu nyata. Berbeda dengan Mariam yang menerima dengan "fiat voluntas tua", maka ia bersukaria walau dalam kegalauan tak tahu harus bagaimana. Zakharia menjadi bisu. Mariam berlari ke rumah saudarinya dan perjumpaan itu menjadi berkat sehingga melonjaklah bayi dalam rahim Elizabeth.

Kiranya penantian bukan sekedar pasif. Penantian tak hanya memaksa rahmat itu hadir dengan sendirinya. Penantian itu aktif. Penantian itu juga ada usaha sebisa mungkin mendekatkan diri dengan frekusnsi rahmat yang dimohon dalam tindakan yang dibarengi "tune in" kita. Penantian adalah saat kritis iman kita diuji. Penantian adalah masa kritis akan penerimaan rahmat dalam hidup. Penantian adalah batu uji tanggung jawab diri dalam menghadapi kasunyatan hidup. Malam sunyi membawaku pada permenungan akan penantian. Kelamnya malam tak membutakan rahmat yang bercahaya.


#silent night in my room#

Thursday, October 31, 2019

Fenomena "Nunut Mulya"

Setelah muncul pengumuman kabinet Jokowi beberapa waktu lalu, ada fenomena menarik menurutku yang membuat aku bertanya-tanya dalam hati: "ini fenomena apa ya?" Fenomena itu adalah beberapa dari sekolah-sekolah yayasan katolik memanfaatkan momentum itu untuk mengucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya beberapa nama menteri yang berasal dari alma mater tertentu dengan yayasan sekolah tertentu. Aku pikir itu semacam ada peresmian hal tertentu lalu banyak orang berbondong-bondong mengirim ucapan karangan bunga atau ucapan di media massa. Yang terpikir spontan memang "ah, itu paling hal biasa memberi ucapan karena ikut berbangga", namun di sisi lain aku pun berpikir kritis juga (atau ini mungkin terlalu curiga di balik ucapan-ucapan itu). Bagiku ini suatu hal yang sebenarnya fenomena "nunut mulya" dari pada alumni sekolah dari yayasan pendidikan tertentu yang merasa bahwa mereka sudah turut berperan atas keberhasilan seseorang sehingga menjadi menteri.

Apakah itu salah? Apakah itu ganjil? Ya bukan sih, namun aku hanya menyorot adanya fenomena orang yang suka mengiklankan diri. Ada sebuah cuplikan di acara televisi demikian: "Jika kalian mau dilihat sukses dan bisa berbuat sesuatu, "juallah" diri anda di media sosial. Apa yang bisa anda lakukan dan iklankanlah diri anda di situ!" Nah, bagiku ucapan-ucapan itu mau menarik orang supaya melihat: "Itu lho pak menteri A itu berasal dari sekolah itu dulunya." Inilah iklan terselubung yang ada dalam motivasi orang mengucapkan selamat dan sukses. Sepertinya mau mengucapkan kepada pihak lain, tetapi sebenarnya  motiasi terdalam dan terselubungnya adalah supaya sekolahku atau yayasanku dikenal banyak orang dengan cara "menjual diri" lewat media sosial. Polanya adalah memberi sesuatu supaya sesuatu juga datang kepada dirinya. Istilahnya (Latin) "do ut des" (aku memberi supaya kamu memberi juga).

Harapan dari sebuah iklan adalah supaya semakin banyak orang membeli produk dan jasa yang dibuat. Dengan mengucapkan "selamat dan sukses" diharapkan banyak orang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya atau keluarganya di sekolah yang adalah alma mater dari menteri A dan atau yang lain. Sepertinya jika menyekolahkan anaknya di sekolah itu bakalan sukses menjadi menteri atau orang-orang yang sukses. Itulah pola iklan produk dan jasa, dan sekolah-sekolah kita sudah menjual jasa dengan pola-pola itu. Memang ini zamannya orang sadar akan kesuksesan yang ditentukan oleh pabriknya, produsennya. Inilah zaman yang sadar akan pentinya asal muasal dari sebuah "produk" lulusan tertentu supaya mendongkrak reputasi dari lembaga yang ada. Itu semua motivasi di balik ucapan selamat dan sukses yaitu supaya sekolahnya diminati banyak orang. Harapan setelahnya adalah bahwa sekolah-sekolah dan yayasannya itu berbuat sesuatu yang memang menjadi harapan banyak orang dan memang memberi jalan bagaimana menjadi sukses sebagai pribadi manusia.

Semoga harapan ini bukan hanya isapan jempol dan hanya motivasi sesaat yang sempit cakupan idealismenya. Jika hanya mau membanggakan diri demi hal-hal yang sifatnya motivasi egois, maka semua itu hanya merupakan kebanggaan diri yang sempit. Sekolah atau yayasan pendidikan sah-sah saja mengiklankan diri demi meraup keuntungannya, namun jangan hanya dipersempit demi diri sendiri. Kebanggaan diri hanya mau "nunut mulya", nebeng ketenaran dari alumni yang pernah bersekolah di situ dan menjadi sukses secara duniawi dengan status jabatannya. Sedangkan alumni yang tidak sukses secara duniawi dan jabatan juga banyak. Sekolah atau para guru memang berharap semua muridnya di kemudian hari menjadi orang-orang yang sukses, berguna bagi banyak orang. Itu semua normal dan lumrah.

Oleh karena itu, pendidikan bukan sekedar mau menghasilkan atau mencetak mereka-mereka yang terlihat mentereng saja, namun lebih dari itu mendidik para pemimpin yang memang mampu melayani banyak orang, bahkan bagi mereka yang tidak dianggap oleh dunia sekalipun. Gelar atau status sosial atau jabatan itu memang penting, namun yang lebih penting adalah bagaimana semua itu dipakai untuk melayani semakin banyak orang. Mengiklankan sekolah atau lembaga di mana mereka yang sukses atau berhasil menduduki jabatan tertentu itu baik asal tidak hanya demi sebuah kebanggaan egoisme diri belaka. Ditambah lagi bahwa iklan itu bukanlah sebuah pemoles palsu dari sebuah lembaga pendidikan atau sekolah. Iklan yang baik adalah iklan yang memberikan atau menawarkan apa yang isi dan kemasan itu sama. Bukan hanya kemasannya baik namun isinya jelek. Masyarakatlah yang akan menilai sendiri pada akhirnya, apakah banyak follower atau subscriber-nya atau tidak. Memang kadang kita hanya "nunut mulya" pada alumni yang jadi orang sukses demi reputasi dan kebanggaan diri kita saja. Semoga itu semua disadari dan tidak menjadi jebakan dalam motivasi terdalam diri kita.


#night-in my room#smg#

Sunday, September 29, 2019

Ketika Aku Tak Mudah Mengapresiasi

Ini lahir dari sebuah permenungan dari waktu ke waktu. Aku sering merasakan dan mengalami sendiri bagaimana susahnya memberi apresiasi atau penghargaan bagi diriku dan orang lain. Sepertinya apa yang kulakukan kalau itu sudah sesuai dengan aturan main dan itu berjalan dengan baik ya sudah. Bahkan kalau sebuah pekerjaan itu dilakukan dengan semangat yang luar biasa dan hasilnya di atas target, bagiku ya itu memang harus demikian. Apresiasi atau penghargaan kiranya tidak ada dalam kamusku. Seolah kalau itu dikaitkan dengan situasi dan kecenderungan orang zaman sekarang, aku adalah sosok yang tidak tahu adat. Dari pihakku sendiri juga punya alasan: "lho, kan itu semua sudah memang seharusnya demikian. Orang bekerja ya sesuai dengan aturan main. Orang bertindak juga harus dengan kesadaran bahwa tindakannya harus bermutu. Kalau ada yang dibuat lebih dan membuat sebuah prestasi, ya itu lumrah." Aku sendiri terus merasakan itu, baik untuk diriku maupun apa yang dilakukan orang lain. Aku jarang memberi hadiah atau penghargaan atau apapun yang disebbut sebagai award. Aku sendiri kerap merasa tidak perlu diapresiasi atau diberi hadiah atau penghargaan atau apapun. Aku biarlah sebagai aku yang memang demikian ini.

Ternyata perilakuku yang seperti itu dilihat dan dinilai banyak pihak. Tidak hanya itu, ternyata sikapku pun terpengaruhi oleh mindset seperti itu. Itu sungguh  tidak mengenakkan bagi orang lain ternyata. Contohnya adalah ketidaksabaranku. Ketidaksabaran ini membuat orang lain merasa aneh kalau bekerja dengan aku. Kalau sedang bicara dan kurang bisa sabar, orang lain merasakan situasi ini. Aku sendiri merasakan bahwa aku tidak ingin sesuatunya berjalan tidak cepat. Aku ingin cepat-cepat mengerjakan yang lain. Aku kadang juga merasakan orang lain tidak segera bisa menangkap atau bekerja cekatan kalau itu dengan diriku.

Ketika bicara soal reward, aku selalu merasakan penolakan dalam diriku. Selalu ada konflik batin: "Mengapa orang selalu bicara soal reward, upah, sedangkan yang dikerjakan saja belum tentu berkulitas? Sedangkan kerja baik dan berkualitas itu adalah hal yang sewajarnya dan selayaknya. Jadi mengapa perlu reward?" Itu kerap kualami sebagai konflik batin. Aku sendiri selalu ada dalam tegangan itu. Tegangan itu saat ini kurasakan sebagai rahmat yang membawaku kepada kesadaran akan pengenalan diri dan pengolahan diri sebagai panggilan terus-menerus. Hal ini pun juga menjadi sikap kritis ketika zaman ini orang begitu mengagung-agungkan apresiasi karena di sisi lain ada ekstrem satu ke ekstrem yang lain. Mungkin aku ini kecenderungannya adalah ekstrem yang lain.

Beberapa waktu lalu dalam sebuah percakapan aku menyadari akan hal ini, yaitu ada pengaruh dari keluarga yang berakibat sulitnya memberi apresiasi. Saat aku usia SD, dari kelas 1 sampai kelas 6, aku diposisikan sebagai anak berprestasi. Aku memang punya talenta studi. Aku selalu ranking 1 kecuali saat kelas 5 di catur wulan pertama, aku dikalahkan oleh rekan sekelas, sehingga aku hanya ranking 2. Apa yang terjadi? Orangtuaku tak terima dengan "kekalahanku" ini? Bapak marah denganku saat aku mau tidur malam hari. Saat itulah aku takut. Aku jadi tidak bisa tidur karena kena marah bapak. Ibu juga sebenarnya kecewa dengan merosotnya rankingku. Ibu adalah guru SD di mana aku belajar. Dia jadi walikelas 4 waktu itu. Bisa jadi karena merosotnya prestasiku. Bapak marah karena takut kalau aku tidak serius belajar. Mungkin saat memarahiku juga bicara dulu dengan ibuku. Ibu mungkin juga malu karena sebagai anak guru koq tidak bisa maksimal prestasinya. Hal inilah yang terus kuingat bahwa ranking merosot itu hal yang tidak diinginkan, tidak boleh, jangan sampai. Itulah mengapa hal ini menjadikanku terbentuk untuk selalu berprestasi.

Waktu itu aku ingat betul kata-kata seorang pemain bola dari Bulgaria yaitu Hristo Stoichkov, "Aku suka kemenangan karena dunia suka dengan orang-orang menang." Pemain itu memang memberi inspirasi. Dunia sepak bola juga menjadi kesukaanku. Dunia bola adalah dunia yang tahu 3 hal: menang, seri, atau kalah. Itu pun kalau dalam kompetisi penuh. Kalau turnamen hanya ada 2 hal: menang atau kalah. Dunia kalah dan menang inilah yang juga menjadi duniaku. Kalau aku tidak berprestasi, duniaku kalah. Kalau aku berprestasi, maka aku menang. Apresiasi macam apa yang kudapat? Aku tidak meminta apa-apa. Yang kudapat hanya sebuah pengakuan diri, bahwa diriku tidak kalah. Tiada barang atau apapun yang selalu diberikan orangtuaku saat aku mencapai ranking. Prestasi belajar itu lumrah sebagai seorang student, tak perlu hadiah. Itulah kiranya pendidikan karakter yang kudapat dari orangtua. Ini juga sebenarnya yang bagiku mendidik karena orang tidak lembek dan tidak manja karena harus dipuji atau dimanja dengan hadiah. Hadiah itu sesuatu yang berharga karena ada tuntutan tertentu, bukan menjadi candu dari luar untuk diriku.

Aku menilai dunia zaman ini terlalu berlebihan memperlakukan mereka yang berprestasi. Ini akibat orang tidak bisa membedakan antara hal yang sungguh jadi excellency dan itu semacam kebutuhan psikologis akibat terlalu besarnya pengagung-agunan kemampuan diri manusia. Seorang anak lebih akan meminta atau lebih tepatnya menuntut tagihan dari luar daripada dilatih untuk menyemangati dirinya dengan hadiah daripada sebuah keutamaan untuk berbuat yang terbaik dahulu tanpa memikirkan apa nanti hadiahnya. Dunia zaman sekarang berkebalikan: kalau bisa menentukan hadiahnya mengapa tidak sekarang saja, baru kita buat yang terbaik. Itu sepertinya mengurangi makna keutamaan. Keutamaan yang ada berkata "buatlah dahulu segala sesuatunya dengan sebaik mungkin, balasannya akan kamu temukan nanti. Seek ye first the Kingdom of God and the righteousness, and all these things shall be added unto you."

Itulah refleksiku tentang diriku, bahwa ketika aku melihat rekan kerja yang selalu mindset-nya adalah hadiah, honor, dapat berapa, dapat sertifikasi atau tidak, dapat reward atau tidak, bagiku itu memuakkan. Pemerintah juga tidak membuat kebijakan yang tegas dan jernih bahwa sertifikasi yang seharusnya menjadi penghargaan untuk excellency itu disalahgunakan untuk menambah kesejahteraan saja. Pengembangan diri guru tidak terjadi karena perubahan intensi karena tidak terkontrol dengan jelas apa tuntutan dari sebuah penghargaan certified teacher itu. Sertifikasi akhirnya jadi mobil Avanza, Terios, Xenia, rumahnya direnovasi, dandanannya lebih cantik, dan sebagainya. Baru setelahnya kementrian keuangan menyoroti hal ini: "Guru lebih sejahtera namun tidak berkembang profesionalitasnya." Jelas, karena perubahan intensi dari mau menjadikan profesional seorang guru, berubah menjadi sejahteranya seorang guru karena tambahan uang sertifikasi. Bukan kemampuan akademik dan pedagogiknya berubah namun kesejahteraan diri dan keluarganya yang berubah. Aku bukannya membenci peningkatan kesejahteraan tetapi perlu lebih kritis dan berimbang: ya kesejahteraan bertambah, juga profesionalitasnya maju.

Itulah insight di bulan September ini, yaitu bahwa ketika aku tidak mudah mengapresiasi itu tidak tanpa sebab. Di sana ada sebab-sebab lebih dalam dari masa lalu dan masa sekarang. Impianku adalah bekerja bersama kolaborator yang murah hati, mendalam secara intelektual dan spiritual, mau bekerja keras dan tidak mata duitan atau suka menghitung-hitung reward. Dalam permenungan dan imaginasiku, aku tertunduk dan mendaraskan dalam batinku:


Eternal Word, teach me to be generous; 
teach me to serve you as you deserve,
to give and not to count the cost,
to fight and not to heed the wounds,
to toil and not to seek for rest,
to labor and not to seek reward,
except that of knowing that I do your will. 
Amen. 




#evening time#

Friday, August 30, 2019

Merdeka itu Olah Batin dan Budi

Bulan Agustus tahun ini sudah mulai akan berkahir. Namun yang namanya persoalan di negeri ini tidak kunjung selesai. Entah itu yang isunya internal, entah itu yang katanya dipengaruhi oleh kekuatan penumpang gelap. Namun tentu antara internal dan eksternal selalu saja ada kaitanya. Persoalan internal yang mau melepaskan diri dan merdeka itu akan selalu saja ada ketika kekuatan dari dalam itu belum solid. Ujian nyata dalam hidup keseharian adalah ujian bagi hidup interior kita sebenarnya, maka tidak mengherankan bahwa diri interior kita ini sering kali masih terrusak oleh kekuatan-kekuatan lain entah sadar atau tidak kita sadari. Aku sendiri melihat bahwa bangsa ini belum selesai dan belum kelar dengan berbagai pergulatannya. Sekian lama terkurung dalam imperialisme dan penindasan, lahir berjuang pun masuk kembali dalam kurungan tirani kediktatoran. Ketika sebuah bangsa belum sadar akan keberadaannya sudah keburu terdampak oleh penindasan, maka kemerdekaan pun masih dari harapan. Kemerdekaan masih ada dalam utopia, dunia harapan dan ideal. Kemerdekaan sejati masihlah merupakan cita-cita nun jauh di sana.

Beberapa saat lalu aku dan saudaraku berdiskusi bersama di WhatsApp. Setelah ngobrol ngalor ngidul, muncullah perbincangan mengenai perayaan 17an. Kami memang sama-sama tidak suka protokoler. Kami suka apa adanya, walau kadang ada perbedaan namun kecil. Lalu tiba-tiba dia mengatakan bahwa aku sebel dengan protokoler, perayaan yang menghabiskan waktu, dana, dan menguras emosi karena harus ini dan itu. Harus bersama pasangan karena di dalam sebuah institusi, ada perayaan ini dan itu yang "gak banget deh", harus pakai pakaian adat yang dipaksakan,tidak otentik, karena hanya tuntutan "bendoro dinas" alias tututan formal kantor yang adalah milik negara. Dan kebanyakan dari semua itu, perayaan hanya sebuah formalisme semu. Perayaan hanya protokoler. Itu diadakan karena sebuah instruksi terstruktur, yang harus diadakan. Semua harus seragam. Semua harus memiliki ini dan itu. Semua harus sama dari warna dan coraknya. Saudaraku memang tidak suka yang seperti itu. Dan lebih baik mengisi waktu dengan belajar dan membaca buku daripada berramai-ramai dalam seremoni "murahan" yang memakan biaya mahal. Aku pun muak. Bangsa ini adalah bangsa yang gaduh.

Ketika hari Minggu itu ke luar kota, perayaan kemerdekaan itu memacetkan jalan di mana arus lalu lintas berlangsung. Batinku, "perayaan yang namanya untuk kemerdekaan pun sudah membuat orang lain tersumbat jalannya sehingga tidak merdeka". Kalau ungkapan ini kusebarkan tentu akan ada yang berkomentar, "Ah, itu kan hanya sekali setahun. Moso untuk perayaan yang sekali setahun dan itu untuk kegembiraan karena kemerdekaan sebagai sebuah bangsa dikeluhkan." Bagiku bukan lagi hanya sebuah keluhan, ini adalah sebuah pertanda bahwa belum ada kesadaran hakiki tentang kemerdekaan itu sendiri. Ketika aku menyatakan sebuah kemerdekaan, aku pun selayaknya memberi kemerdekaan bagi sesama. Ketika aku merayakan kemerdekaan pun selayaknyalah aku menginformasikan itu kepada khalayak supaya pengguna fasilitas umum pun merdeka mempergunakan haknya berjalan atau bekerja sebagaimana mestinya. Seolah kalau itu "demi" negara semua boleh disumbat. Tidak! Negara ada karena kemerdekaan manusia, bukan kemerdekaan seluas lahan dan bumi yang ditempati. Bumi merdeka karena manusianya merdeka. Kemerdekaan bukan diartikan picik bahwa semua itu demi bumi, demi sistem kekuasaan tertentu, tetapi demi manusia yang merdeka.

Masih banyak pula manusia-manusia picik yang mengatasnamakan kepercayaannya atau legitimasi surga dan neraka memaksa dan menindas sesamanya. Masih banyak orang yang dengan pongahnya menyombongkan diri atas nama agama. Masih banyak juga penindas-penindas yang sebenarnya mereka sendiri tak merdeka dengan hidupnya. Mereka ibarat zombie yang digerakkan karena motivasi-motivasi fana yang memuaskan tubuh mereka. Energi kemarahan, nafsu kekuasaan, dan nafsu beringas seolah terus dikacau untuk menggerakkan mereka. Tiada hari tanpa kekerasan bagi mereka. Seolah kekerasan itu adalah senjata untuk berkuasa. Seolah dengan kekerasan itu mereka jumawa. Padahal tidak. Justru dengan kekerasan mereka itulah mereka sebenarnya lemah. Keras secara fisik adalah lemah secara batin. Kekejaman penindasan karena keinginan berkuasa biasanya tidak bertahan lama. Bangsa ini sekali lagi masih mudah dikuasai dan ditaklukan karena kurang kuat batin dan budinya. Artinya bahwa ada kelemahan dan kekurangan dalam hal olah budi dan olah batin.

Ketika olah budi dan batin lemah, di sanalah bangsa itu rapuh. Mudah sekali rongsongan terhadap bangsa ini menjadi nyata. Mudah sekali sekelompok orang mengacau dan menjadi teror. Mudah sekali bangsa ini diombang-ambingkan oleh rumor dan amuk massa. Dan itulah pertanda bahwa untuk menyelesaikan persoalan diri bangsa ini dibutuhkan olah budi dan olah batin. Olah raga akan menyusul. Olah rasa  menyatu raga dengan ketiganya yang lain. Kesadaran akan olah budi dan batin itu seolah dibungkam oleh serbuan kebutuhan raga yang selalu saja ada. Padahal kebutuhan raga ini tidak perlu banyak-banyak. Ketika harta benda hanya sebagai ilusi yang membangkitkan hawa nafsu ragawi, maka di sanalah orang belum merdeka dengan dirinya. Orang menjadi keropos luar dalam. Luarnya tak kelihatan karena ada penyandang yang dipakai. Namun seperti kuburan yang dilabur putih, maka di dalamnya sebenarnya kebusukan bangkai mayat. Bangsa ini belum merdeka kala semua hanya ilusi dan hidup dalam kedagingan ragawi tanpa sadar akan olah budi dan olah batin.

Pertanda kepicikan bangsa ini yang kurang pandai, kurang pinter dalam budinya adalah kecintaanya pada keseragaman dan penindasan. Tiadanya kemerdekaan ada di sana. Mengapa bani Israel tidak suka dibawa ke tanah terjanji, karena mereka tidak mau susah-susah menziarahi pergulatan hidup. Sukanya hidup dalam alam perbudakan. Mengapa orang tidak suka kemerdekaan, karena kemerdekaan itu perjuangan dan kerja keras, harus mencari sendiri jati dirinya, tidak mau hanya sekedar sama dengan yang lain. Ketika orang suka dengan keseragaman, di sana ada kebodohan hakiki.

Merdeka itu bukan seragam. Merdeka itu pinter. Merdeka itu berjuang. Merdeka itu tidak keropos batin dan budinya. Merdeka itu tidak gaduh. Merdeka itu bukan receh dan murahan.




#morning time#

Friday, July 26, 2019

Hening

Beberapa waktu lalu aku berjalan dan sedikit menapaki tempat yang di luar kemapananku. Aku memang diprovokasi oleh saudaraku untuk datang dan melihat tempat itu. Ya, persis seperti ajakan "datang dan lihatlah!". Mendatangi dan melihat sendiri akhirnya juga membawaku pada menghirup dan menikmati apa yang tersedia dan terpapar di sana. Mulailah sebuah petualangan singkat dalam hitungan hari. Petualangan itu bukan hanya petualangan fisik namun juga petualangan batinku. Pikiran dan hatiku awalnya kurang begitu menikmati. Namun aku mencoba untuk mengatakan pada diriku untuk tidak hanya berpola mapan dan mainstream saja. Kucoba dengan yang anti mainstream. Ya, petualangan itu membawaku pada penemuan demikian. Ketika aku mencoba hal yang baru, tentu aku selalu waspada dan kuatir. Bahk
an aku sampai kuatir dengan mara bahaya yang akan kuhadapi, entah itu binatang buas atau kemungkinan-kemungkinan yang lain. Namun setelah mengalaminya sendiri, mengalami tentunya juga melampaui, akhirnya yang terkatakan dalam diriku adalah rasa syukur.

Pertama-tama, aku mengalami bahwa selama ini banyak hal yang terlintas itu mapan, terpola, teratur. Semua sudah ada. Aku terbiasa dengan kemapanan hidup. Yang kemudian kurasakan adalah bagaimana aku berhadapan dengan ketidakpastian, ketidakrapian, situasi yang kusam dan kotor, bahkan situasi yang serba tidak menentu. Ketika menyusur sungai di tanah rantau itu, aku merasakan kehidupan yang lain. Memang di tanah rantau itu kebanyakan dari penghuni adalah perantau. Tidak ada orang asli yang menghuni tanah itu. Ketika itu adalah tanah semua orang rantau, maka tata hunian dan ruang pun tidak terpola dengan baik. Ada pola yang baik, namun kondisi orang-orangnya pun juga tidak mendukung sepenuhnya.

Hal kedua yang kutemui adalah bahwa pada mulanya dan pada dasarnya semua makhluk itu butuh keheningan. Ya, dari awal kususuri sungai dengan tanaman mangrove, kawanan bekantan pun tidak mau nampak kalau ada kebisingan yang mengganggu. Mereka akan berani keluar dari persembunyiannya kalau hanya mendengar perahu yang tidak keras suaranya. Mereka akan mencari makan daun-daun mangrove untuk hidup mereka. Ketika melihat beruang madu yang diselamatkan dari para pemburu yang mau menjual pun, karakter binatang ini juga suka pada keheningan. Ketika ada yang berisik, mereka pun tidak mau keluar. Kedua jenis binatang ini ternyata memberi sedikit pemahaman bagi diriku bahwa pada dasarnya makhluk-makhluk ini suka pada keheningan. Lalu ketika habitat mereka dirusak manusia, maka mereka pun harus menyingkir. Kadang terlihat, kadang bersembunyi. Aku bisa memahami akhirnya bahwa ketika harmoni alam itu tidak terusak dan tercampuri oleh peradaban manusia, memang ada kedamaian. Walau rantai kehidupan itu tetap jalan. Ketika kemajuan peradaban homo sapiens ini berkembang maka makhluk lain pun tergusur. Mesin-mesin berat dan bunyi bising yang merusak tanah, air dan udara akhirnya menyingkirkan makhluk lain.

Ketiga, keberagaman makhluk terlebih tanaman, kulihat memang menyenangkan. Awal yang menakutkan dan mengkhawatirkan sebelumnya sudah menjadi sesuatu yang menyenangkan dalam beberapa hari. Aku hanya bisa mensyukuri pengalaman ini. Memang rasanya belum puas menikmati segala keasingan yang tidak sama dengan tempat dimana aku hidup. Keadaan alam yang luas, tanaman dan binatang yang bervariasi merupakan hal yang menarik dan begitu damai bagiku. Aku pun membaca-baca betapa pentingnya hutan bagi dunia. Paru-paru dunia yang sudah memberi kesejukan dan jadwal hujan yang relatif teratur bagi bumi memang memberi keindahan di sana. Keindahan itu di dalamnya juga mengandung keganasan jika kita tidak tahu dan merusaknya. Ya, di saat itulah jiwaku hanya bisa berbisik, "Tuhan Allahku, betapa mulia namaMu di seluruh bumi. Hutan dan margasatwa yang Kau cipta, tanah dan air yang memberi hidup, udara dan segala keriapnya, Engkaulah yang mencipta. Tuhan Allahku, betapa mulia namaMu di seluruh bumi...apalah manusia ini sehingga Engkau memperhatikannya....apalah diriku ini sehingga Engkau mengindahkannya...."

Dalam keheningan itulah jiwa ini memuliakan dan mensyukuri Hyang Esa. Dalam keheningan itulah jiwa ini menyatu dengan alam yang awalnya mengerikan namun di sana ada yang menghidupkan. Setidaknya beberapa hari aku merasakan itu di samping juga kebisingan anak manusia dengan kemajuan peradaban yang mengeruk bumi dan isinya. Ada sisi-sisi hutan yang terbakar. Ada bagian-bagian bumi yang disedot sumber alamnya. Ada bagian-bagian bumi yang dikeruk dan diangkut tambangnya. Ya, itulah teganga dalam hidup. Itulah tegangan-tegangan antara hidup dan menghabiskan sumber hidup. Hanya dengan merawat dan mengembalikan kondisi rumah kita, manusia tetap dapat melangsungkan kehidupannya bersama semua makhluk. Hanya dengan menghormati dan menghargai semesta, kita semua berbagi hidup dan bukan merusaknya. Dalam hening, banyak hal kujumpai dengan segala yang merajutnya.


#evening in my room#

Saturday, June 29, 2019

Transisi

Dalam semua hal tentu ada transisi. Perpolitikan negeri ini ada transisi walau pemimpin tetap sama. Keinginan untuk berubah dan mengubah dari yang lama ke yang baru akan selalu ada. Setiap fase kehidupan ada transisinya. Ada peralihan dari yang sebelumnya ke yang akan datang. Setiap akhir tahun pelajaran tentu juga ada transisinya dari yang sebelumnya dijalani ke yang akan dibuat. Ya, semua akan mengalami itu dengan perasaan apapun yang akan muncul. Bahkan saat mengalami trauma-trauma masa lalu pun akan ada fase transisi ketika orang mau berubah dan menyembuhkan dirinya dengan berdamai dengan masa lalu traumatik itu. Transisi ini sangatlah penting dan mungkin dapat dikatakan saat kritis untuk menentukan situasi ke depannya. Hampir saja saat yang dijalani bangsa ini hancur jika tidak ada proses peralihan yang melulu ingin digantikan oleh kepentingan yang  merusak. Banyak negara gagal karena proses transisi yang tidak mudah, bahkan bangsa ini pun hampir menjadi bangsa yang gagal berjalan. Saat ini belumlah optimal jalannya.

Pengalaman bulan ini mengatakan padaku bahwa banyak hal telah dikerjakan namun kadang juga ada yang tidak menyenangkan. Aku harus berhadapan dengan situasi harus memilih dan memutuskan nasib orang. Selain itu berhadapan dengan gangguan-gangguan di antara para komentator dan yang berkepentingan. Ada aksi pasti ada reaksi. Ada tindakan, ada pula konsekuensi. Dan itulah yang sempat membuat diriku harus tabah menghadapinya. Ada pula hal-hal rutin yang biasa dilakukan namun sayangnya kurang optimal untuk dijadikan sebuah acuan kerja. Kadang yang rutin sudah menenggelamkan hidup. Belum lagi kita perlu membuat yang monumental dan sangat berpengaruh. Ternyata itu tidaklah mudah.

Ketika ada orang-orang yang baru pun itu adalah salah satu contoh transisi. Transisi itu bagi kedua belah pihak, yang menerima dan yang datang. Adaptasi menjadi salah satu situasi transisi. Memberi arahan dan pedoman bagi yang baru itu juga perlu, dan itulah situasi transisi. Banyak contoh bisa dipakai. Bahkan ada seorang teman yang tidak biasa kerja dengan orang-orang dan forum yang formal, harus mengalami itu. Itu adalah transisi yang harus ia jalani. Ada ketidaknyamanan, ada pergulatan, ada perjuangan, ada situasi kritis di sana. Namun semua harus menjalani dan dijalani. Ada hal yang tidak boleh dilupakan pada saat transisi: belajar. Mentalitas belajar atau pembelajar inilah yang dibutuhkan. Tiada yang lain. Orang yang bertahan dan kuat adalah orang yang bisa belajar dari situasi apapun. Bahkan transisi ditentukan oleh kemampuan ini, yaitu belajar.

Kecepatan dan kecekatan dalam bertindak juga menentukan proses transisi ini. Aku sadar bahwa kecepatan antara satu dengan yang lain berbeda. Oleh karenanya, transisi pun juga ada warnanya sendiri-sendiri. Ada yang cukup cepat. Ada yang sedang. Ada yang lambat. Transisi akan menentukan kehidupan selanjutnya. Itulah masa kritis yang harus dilewati oleh siapapun. Aku menulis ini karena banyak hal dan pengalaman bulan ini yang terkait dengan transisi. Aku pun ingat akan renungan 11 tahun lalu ketika Yakob menyeberang ke sungai Yabok. Di sana ada situasi transisi ketika ia harus bertarung dengan Malaikat (kepanangan tangan Allah) dan membawa keluarganya menyeberang sungai itu. Transisi yang berasal dari "trans" yang berarti menyeberang dan "ire" yang berarti pergi. Pergi menyeberang berarti pergi melampaui batas dari titik awal ke titik selanjutnya. Ada pertarungan di sana. Ada ketidaknyamanan yang memang dari zona nyaman ke titik kritis yang membuat ketidaknyamanan.


#evening time#

Tuesday, June 11, 2019

Tidak Kenal

Beberapa hari ini aku masih merasa kurang nyaman dengan situasi yang kuhadapi. Aku harus berurusan dengan sikap yang sebenarnya kurang pas dari orang lain yang harus kuterima. Ini soal orang hidup, bukan orang mati. Awalnya ada kontak dari teman yang punya teman. Temannya ini punya teman. Teman dari temanku ini pengin anaknya masuk dalam sebuah sekolah dengan sistem asrama dan perawatan (pendampingan khusus). Namun motivasi ini belum kuketahui di fase awal kontak ini. Aku ketika dihubungi teman ini pun tidak tahu sebenarnya mau apa dengan kontak ini. Tahu-tahu ada orang tua yang kotak bahwa anaknya mau masuk sekolah tempat aku bekerja yang memang asrama ini. Orangtua ini begitu ngotot. Aku menginformasikan bahwa pendaftaran di sini sudah tutup dan tidak bisa lagi ditawar. Namun orangtua ini ngotot banget.

Selang sehari kemudian, ada rombongan polisi dari polsek datang. Aku kaget. Aku menduga mau bertanya soal urusan sekolah dalam arti keamanan dan sebagainya tetapi bukan. Malah, polsek itu meminta-minta supaya anak dari ibu/orangtua yang kemarin kontak aku itu diterima. Aku sudah berargumen macam-macam tetapi tidak dipahami. Dan ternyata ada pressure kekuasaan bahwa kapolsek mendapat mandat dari kapolres dan kapolres dari wakapolda. Waduh, malah menjadi runyam. Aku makin merasa ini sebuah intimidasi kekuasaan bahwa aku harus menerima anak ini karena keluarganya adalah pejabat-pejabat penting keamanan negara. Ketika argumen ini dan itu kuberikan ada ketiakpahaman yang terjadi sehingga tidak nyambung. Negosiasi pun berjalan alot karena aku harus berhadapan dengan otoritas tinggi yang tidak nyambung dengan prinsip-prinsip yang diperjuangkan dalam pendidikan di tempat ini. Kekuasaan itu hanya tahu menang atau kalah. Kekuasaan itu hanya tahu teman atau lawan. Kekuasaan itu hanya tahu kepentinganku diakomodasi atau disingkirkan. Tentu kekuasaan itu dengan duit juga. Mau bayar berapapun asal kepentingannya jalan, duit akan diusahakan. Tidak melihat realitas pun akan dibayar berapapun. Keluarganya yang salah pun akan dibuat pembenaran sedemikian rupa asal kepentingan keluarga diakomodasi. Itulah kekuasaan, maka tidak mengherankan ada ungkapan dari Lord Acton, "Power tends to corrupt. Absolute power corrupts absolutely."

Dengan situasi terintimidasi ini aku hanya bisa cari cara ini dan itu agar lepas dari jerat perangkap. Aku berprinsip bahwa kalau pun nyawa dan institusi ini akan dihancurkan ya terserah. Toh semua ini hanya sarana. Aku sudah membayangkan hal-hal yang ekstrem jika berhadapan dengan kekuasaan yang absolut. Aku bahkan sudah membayangkan jika di jalan aku dibunuh oleh orang tak dikenal gara-gara menolak salah satu keluarga kerabat pejabat negara pun, aku siap. Itu sembahyangku.

Lantas aku mencoba bernegosiasi dengan keluarga ini agar datang ke sekolah ini di hari berikut. Mereka datang. Dan kedatangan mereka, ibu dan anak ini, masih membawa kawalan polisi bahkan kapolres dan kapolsek datang juga. Namun aku meminta para pejabat ini pergi supaya bisa berbicara dengan kedua orang ini. Ketika kutanya ini dan itu, ibu ini serta-merta menceritakan hal-hal yang serba suci. Semua dispiritualkan. Bahkan semacam merengek-rengek supaya anaknya diterima dengan cara halus namun memaksa. Ketika kuberi argumen ini dan itu, tidak memahami apa yang kujelaskan. Lebih tepatnya tidak mau mengerti. Lalu aku buat kesepakatan: anak boleh live in tetapi tidak sekolah di sini. Kalau mau sekolah ya harus lewat pedaftaran sesuai prosedur. Tidak lewat jalur titipan atau suap atau sogokan. Ketika kucek berkas-berkasnya, ternyata anak ini sekolahnya homeschooling. Aku makin bertanya-tanya. Apalagi ibunya yang ngotot pengin dia jadi romo. Anaknya ketika kutanya, tidak menjawab dan terkesan tidak bisa menjawab. Lalu kuadakan perbincangan terpisah antara ibu dan anak. Anaknya tidak bisa menjawab hal-hal yang kutanyakan secara sederhana. Ibunya masih ngotot. Dan keluarlah sebagian misteri sejarah anak ini (namun tidak perlu kutulis di sini). Lalu aku meminta bantuan beberapa suster yang punya sekolah asrama. Ada yang menjawab tidak bisa membantu. Ada yang meminta mereka ini datang supaya kenal sekolahnya dan sebagainya. Intinya berurusan dengan anak didikan homeschooling itu tidak mudah.

Di hari lain, ada informasi dari suster yang didatangi anak dan ibu ini, dan informasinya adalah bahwa anak ini mempunyai kebutuhan khusus (ABK). Nah, makin jelas bahwa ada hal-hal yang harus diperlakukan khusus dari anak ini. Ibu itu ingin supaya anaknya menjadi mandiri, padahal di rumah ada 5 pembantu. Segala sesuatunya dicukupi dengan terlalu mewah. Ibu itu ibarat mau mengubah ikan menjadi sapi. Yang semula hidup di air menjadi yang hidup di darat. Aneh dan tidak realistik. Anak bekebutuhan khusus dipaksa menjadi romo. Haduh......ini gojegan macam apa!!!??

Dari situ aku makin menyimpulkan bahwa pertama, orangtua ini mau memaksakan dirinya kepada anak dan pihak lain. Kedua, orangtua ini tidak kenal sebenarnya apa yang terjadi dalam diri anak ini. Ketiga, orangtua ini supersibuk sehingga mau gampangnya saja yaitu menyerahkan anak dalam pendampingan pihak lain. Mereka tinggal bayar. Kalau terjadi apa-apa, mereka bisa saja komplain dan menuntut. Keempat, orangtua ini mudah sekali menspiritualkan pengalamannya yang sebenarnya tidak menjawab dirinya. Ada ketidakkenalan dalam diri orang ini terhadap diri dan anaknya. Ketika orang tidak mengenal diri maka itu merepotkan orang lain. Orang lain yang harus menanggung kelemahan ini. Bahkan tambahan info dari suster yang dikunjungi, orangtua ini sudah disarankan menyekolahkan di sekolah yang menangani ABK namun masih ingin supaya disekolahkan di asrama yang dikelola suster atau romo. Waduh....masih rempong juga... Memang secara fisik tidak difabel namun kemungkinan besar adalah autis anak ini. Maka tidak mampu fokus dalam segala perilakunya atau hal-hal yang dibuatnya.

Untuk sementara aku hanya bisa cari cara agar terselesaikan urusan ini dan aku selalu kontak dengan nada mengeluh pada teman yang sudah "mengirim urusan" ini kepadaku. Aku agak komplain juga sebenarnya. Harapannya semoga orangtua ini bisa lebih kenal anaknya dan kenal kebutuhan psikologis dirinya yang tak dikenali. Orang "sholeh" yang tidak kenal diri sendiri itu sudah menistakan kesholehan itu sendiri. Dan itu banyak terjadi pada orang jaman sekarang.


#Morning time#

Tuesday, May 28, 2019

Kisruh

Orang di negeri ini senangnya bikin "kisruh". Orang Jawa menyebutnya sebagai kegaduhan, kekacauan, ketidaksinkronan, kekalutan dan sebagainya. Intinya senengnya yang bikin orang tidak nyaman dan tidak tenang. Entah mengapa bangsa ini menjadi suka kekisruhan dalam hidup. apakah karena mereka kurang "menep" dalam hidupnya? Artinya bangsa ini terlalu suka dengan hiruk pikuk material dalam setiap perkara. Menep artinya mengendap, mendalam, mampu membeningkan diri dari suasana yang serba gaduh, mubal (alias terus dikacau). Bagaikan endapan dalam sebuah air, endapan itu mudah sekali diaduk-aduk dan menjadikan air keruh. Rasa "wening" itu hilang. Praktik-praktik kerohanian dalam hidup pun kadang atau sering hanya sekedar formalisme belaka sehingga hanya tampak luaran saja yang hidup. Sedangkan kerohanian dari dalam itu tidak terolah. Berdoa saja tidak hening. Berdoa dan sujud harus diekspose, dicorongkan dengan publikasi suara dan visual. Ini adalah sebuah otokritik jelas bagi hidup bangsa ini. Kritik terhadap bangsa yang mengaku diri beragama, namun ternyata tidak beriman dalam kehidupan rohani yang dalam. Agama hanya simbol pakaian luar saja yang menutupi aurat fisiknya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Kegaduhan dan kekisruhan sering nampak dalam kehidupan di pasar dan di jalanan. Orang di pasar cenderung tidak mau diatur tempat transaksinya. Orang di jalan tidak mau antre dan mendahulukan yang lain. Menyerobot seolah sudah biasa di negeri ini. Yang kalah tidak mau mengakui. Yang menang semoga juga tidak memakai kemenangannya untuk kekuasaan sendiri. Sekali lagi kuistilahkan hidup bangsa ini serba "kisruh".

Kisruh itu mudah gaduh. Kisruh itu mudah ngeles. Kisruh itu mudah inkonsisten. Kisruh itu serba maunya sendiri. Dan itulah problem bangsa yang mungkin tidak terolah mentalnya setelah sekian lama ada dalam alam bawah sadar yang inferior, bangsa ini sebenarnya belum dewasa untuk menerima diri. Bangsa ini masih perlu belajar berpuluh-puluh tahun supaya menjadi bangsa yang dewasa dalam mensikapi hidup. Kekisruhan itu juga nampak dalam sistem yang dibuat, serba tumpang tindih. Semua ingin semua. Semua ingin semua dilakukan. Tidak ada fokus yang jelas. Tidak ada prioritas yang perlu dijalankan. Itulah tanda kekisruhan hidup dan cara bertindaknya. Banyak hal menjadi bukti akan kekisruhan yang selama ini terjadi. Orang yang minder dan merasa diri inferior pasti akan melihat dirinya perlu ini dan itu. Berhadapan dengan orang yang percaya diri pasti akan gelagapan dan perlu menyiapkan senjata. Bangsa ini sudah lama dihabisi kepercayaan dirinya bahwa dirinya mampu berdiri di kaki sendiri. Maka terjadilah juga dominasi antara yang satu dengan yang lain, antara yang bersenjata dan yang tidak bersenjata, antara yang pernah berkuasa dan yang baru berkuasa. Perebutan kekuasaan itu sangat jelas dan transparan.

Beberapa hari lalu aku mendengar perkataan orang kecil, dan itu adalah bapakku sendiri. Dia mengatakan begini, "Sebenarnya rakyat itu sudah legowo. Tapi karena elit-elit di pusat itu terus berkelahi maka rakyat juga terbawa untuk berkelahi." Itulah perkataan rakyat jelata, rakyat biasa yang sebenarnya tidak menginginkan apa-apa kecuali kedamaian dan ketenangan. Bukan kisruh. Bukan perang. Bukan permusuhan.

Salah satu yang perlu dilakukan bagi bangsa ini adalah menyelesaikan persoalannya sendiri. Belum ada proses berdamai menerima keadaannya yang real. Bangsa yang inferior adalah bangsa yang perlu melatih diri menerima kekurangan dan kelebihannya, serta melihat sejauh mana ancaman dan peluang yang bisa dibuat. Intinya adalah memetakan diri dan hidupnya. Kepercayaan diri adalah kunci. Sementereng apapun dirinya jika tidak percaya diri maka tidak bergunalah sosok pribadi itu. Mau diberi perhiasan apapun, ia tidak percaya diri. Berbeda dengan pribadi yang percaya diri, ia tidak memakai apapun dalam pakaiannya, tetap saja ia mantap berjalan dan bertindak. Berdamai dengan diri sendiri, mengakui diri apa adanya, mau terbuka dan belajar dari pengalaman itulah yang dibutuhkan bangsa ini. Itulah pembelajaran dari kekisruhan selama ini. "Being a mess is exhausting; but if it is not a mess, it is not a progress".



#morning time#

Saturday, April 20, 2019

Jalan

Seminggu ini perjalanan seolah menjadi tema utama hidupku. Berjalan bukan hanya sendiri namun berjalan bersama dengan sesama dan banyak pihak. Perjalanan bukan sekedar berjalan tanpa arah namun perjalanan yang punya arah. Arahnya bukan hanya satu namun bisa beberapa arah yang dituju. Antara pejiarahan (siji sing diarah, Jawa) dan beberapa yang diarah memang jadi bersambung di sana. Di sana ada ketidakpastian walau kita sudah mencanangkan yang dituju. Di sana juga ada kelelahan karena berjalan dan atau naik kendaraan. Di sana ada fokus yang dituju karena tanpa fokus biasanya kita menjadi buyar dalam membuat konsentrasi diri. Namun di sana juga ada pertolongan di tengah-tengah saat kita berada dalam kesulitan mencari. Ya, perjalanan adalah juga sebuah pencarian. Dan itulah yang selalu kuperhatikan saat berjalan.

Ketika ada yang mengajak mencari sebuah makam dari keluarganya, aku pun menyanggupi untuk menemani. Pada dasarnya aku suka berjalan. Aku suka petualangan. Aku suka mencari hal-hal yang belum pernah kuhadapi, walau itu resikonya capai, tetapi tidak menjadi masalah. Memang ada saat-saat di mana badan ini kecapaian, ada saat-saat di mana mood tidak bisa disembunyikan.Namun syukur bahwa masih ada orang baik di tengah perjalanan yang kemudian membantu. Bukankan itu sama dengan menemukan Simon dari Kirene saat Joshua bin Josep kelelahan memanggul beban papan palang di jalan? Simon menjadi orang baik yang "dipaksa" untuk membantu mengangkat beban papan palang itu. Saat mencari hal yang belum kita ketahui secara pasti dan terarah dengan jelas, yang terjadi adalah mencari dan terus mencari. Saking luasnya area pencarian biasanya bisa-bisa kita patah semangat untuk segera mencari dan menemukan dengan kemudahan yang kita bayangkan. Bahkan orang di tengah jalan pun menawarkan kepada kita kemudahan itu. Memang membantu namun bantuan bukan hanya dengan kemudahan sarana, namun kemudahan mencari arah itulah yang kita butuhkan saat berjalan.

Kami sampai di area luas itu sore hari, walau agak siang. Namun suasana takut kemalaman memang menjadi pengaruh yang agak negatif membawa dalam diri kami untuk segera menemukan yang kita cari. Kami datang hanya berdasarkan cerit
a dari keluarga bahwa letaknya di sana, ada temboknya dan jalannya ke san lalu ke sini belok ka sana lagi. Namun tidak semuanya jelas. Kami sempat komunikasi dengan HP namun itu pun hanya awangan. Sedangkan kami berada di tempatnya secara langsung. Kadang ada yang tidak nyambung ke mana arah yang harus dituju. Kami terus mencari dan mencari. Perjalanan adalah mencari, bukan sekedar berjalan. Kepastian dalam perjalanan adalah ketidakpastian itu sendiri. Saat lelah mulai menyesah, ada beberapa penjaga dan orang yang membersihkan makam. Lalu kami bertanya, "Pak, makam dari keluarga kami berada di mana ya?" Kami menyebut keluarga dan menjelaskan makamnya. Lalu bapak itu masih mengkonformasi, dan kemudian menyebutkan arahnya. Kami dituntun dengan penjelasannya bahkan kami sempat ditawari untuk diboncengkan dengan motor karena jarak agak jauh. Hampir saja aku mengiyakan namun kemudian sahabatku menolak dan mengajak berjalan saja. Akhirnya bapak-bapak itu hanya memandu dengan berjalan dan ada yang naik motor. Akhirnya kami menemukan tempat itu. Syukur akhirnya tecurah dalam doa kami di makam keluarga.

Selang dua hari aku dan beberapa teman berjalan lagi. Berjalan dalam arti yang lebih bernuansa rohani. Jalan salib di tempat umum yang tidak biasa orang pakai. Perasaan yang muncul hanyalah bagaimana nanti membuat jalan salib itu? Bagaimana orang akan melihat kami yang akan melakukan jalan dan berdoa itu? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul dalam diriku. Aku kadang memang serba kuatir ini dan itu. Dan itu secara naluriah spontan yang muncul. Namun akhirnya kami berjalan dengan rencana yang ada. Perhentian demi perhentian kami jalani dengan berhenti di sebuah tempat yang ada tempat duduknya kecuali di area yang hanya ada jalan tanah dan pepohonan di bukit itu. Dari apa yang kemudian kualami itu tidak ada hal yang mengkhawatirkan. Hanya tidak enak saja yang muncul dalam perasaan karena asing. Biasa kita jalani di tempat ekskluif, perasaan terancam tidak ada, lantas kali ini dibuat di tempat yang inklusif, bahkan tempat umum.

Punctum yang pertama adalah bahwa perjalanan itu mengandung resikonya. Entah resiko dalam diri maupun resiko yang bisa datang dari luar diri. Resiko harus dihadapi, bukan dihindari. Kita harus terus berjalan dan tidak menyerah, walau lelah. Punctum lain yang bisa kuambil adalah bahwa saat berjalan tentu ada orang-orang baik di sekitar kita yang akan membantu dan menemukan yang kita cari. Dan selanjutnya adalah bahwa ketika saat berjalan kita tidak sendirian. Ada teman dalam perjalanan. Ada sahabat dalam perjalanan, yang kadang menjadi yang mendukung dan kadang juga mengingatkan kita. Orang lain pun menjalani hal yang sama. Kita masih berjiarah di dunia ini. Dan pejiarahan kita belum selesai. Sambil bermenung di hari ini, aku bersyukur atas pengalaman perjalanan, pejiarahan hidup. Terima kasih sahabat dan semua yang sempat menjadi bagian hidupku dalam pejiarahan ini. Thanks, fren, sis, bro, bu, pak, mbah, bulik, pakde dsb. Kalian semua menjadi bagian dari perjalanan ini. Sambil bermenung kuingat lagi pengalaman berbagai perjalanan di sana sini yang pesannya sangat kaya. Ada selalu hal yang baru atau memperdalam pengalaman sebelumnya.


#silent-time in my room#

Monday, April 15, 2019

Konsisten

Mengamati bulan April ini, rasanya udara makin panas. Suhu politik semakin tinggi. Banyak hal terjadi dengan cepat. Banyak orang berkometar dengan berbagai ide dan kemampuannya. Sering orang merasa tidak siap menerima kejadian yang ia lihat atau baca, walau itu kejadian yang dirancang dan dikomersialkan. Ada orang yang terguncang. Ada yang terkejut. Ada pula yang biasa saja. Tergantung dari apa yang diolah dalam hidup yang kemudian dimiliki sebagai alat menilai keadaan. Yang sering terdengar dan muncul adalah orang mudah terombang-ambing keadaan. Dan ketika terombang-ambing itulah orang mudah percaya ini dan itu yang belum jelas dan belum diamini dirinya. Penilaian menjadi hal yang tidak mantap. Dan itu seperti syndrom jaman ini ketika segala sesuatu serba cepat dan manusia tidak mempunyai pendirian yang teguh dengan akal budi dan prinsip hidup. Segala sesuatu yang tidak mempengaruhi dirinya pun dijadikan alasan mengada-ada yang menimbulkan situasi tidak nyaman.

Aku belajar dari situasi yang serba cepat dan harus mempunyai kemampuan cepat juga untuk menentukan dan memilih. Belajar  bukan berarti lantas mengiyakan semua yang ditawarkan jaman ini namun bagaimana mensikapi itu. Dan aku bersyukur bahwa masih ada hal-hal yang perlu dipertimbangkan dengan hati dan akal budi bahwa tidak semua harus diselesaikan dengan kecepatan. Kecepatan bisa membuat orang terperosok dalam keadaan tanpa pengendapan yang cukup dan semua ada dalam permukaan (supervisial). Aku belajar juga untuk mengendalikan waktu dan bukan waktu yang mengendalikan aku. Walau memang hukum waktu tidak bisa kita tolak kalau sudah harus bergulir. Kronos memang kejam. Dia rela memakan anak-anaknya kalau tidak seturut dengan aturannya. Oleh karena itu, hanya dengan senjata kemampuan mengatur diri dan sadar akan hal-hal yang harus dikerjakan maka sang Kronos tidak akan memakan diriku. Kronos, sang dewa waktu, memang membuktikan bagaimana seseorang itu mempunyai pengalaman atau sekedar berjalan dengan ide-ide spontan yang kurang tertata dan tak ada prioritas. Kronos juga memberi kita tuntutan untuk membatasi diri dalam ruangnya. Tidak ada yang menguasai ruangnya kecuali dewa para dewa yang di luar ruang dan waktu itu sendiri. Kronos telah membatasi kita.

Aku belajar juga untuk melihat bagaimana di bulan ini banyak pribadi berproses membuat pilihan dan komitmen namun di sisi lain ada keraguan yang absurd. Absurditas itu terjadi karena tidak ada alasan apapun di waktu sebelumnya kemudian menjadi berubah ketika ada konfirmasi pada ujung waktu. Aneh. Orang muda berubah. Orang tidak bisa atau kurang bisa berkomitmen gara-gara faktor-faktor yang dalam dirinya belum diamini namun dipaksa diamini atau karena ada faktor yang sebenarnya dirumuskan dirinya pada waktu sebelumnya namun tidak dirumuskan menjadi inti pergumulannya. Orang terombang-ambing karena temannya. Orang terombang-ambing karena ada yang motivasi tersembunyi yang di-design bersama dengan berbagai pihak sehingga di akhir waktu diadakannyalah alasan yang tidak ada dalam lini masa sebelumnya. Pertanyaannya: apa yang selama ini dibuat jika dalam lini masa tertentu hal itu tidak muncul namun kemudian menjadi faktor penentu dari sebuah keputusan? Pastilah ada sesuatu yang disembunyikan. Aku harus belajar banyak dari cara menyembunyikan dan pola hidup seperti itu yang kemudian menjadikannya tidak confirm dengan dirinya. Apakah karena masih belia? Apakah karena masih remaja? Apakah remaja tidak boleh dan tidak bisa memilih dan menentukan dan diajak berkomitmen untuk waktu jangka panjang? Apa yang bisa meminimalisir pola-pola mudah berubah, hidup dalam mood tertentu dan mood itu yang kemudian mempengaruhi seluruh keputusan yang sebelumnya dibuat?

Aku lantas berpikir apakah harus ada rambu-rambu yang jelas dan ketat, dan harus "merugikan" pihak lain yang membuat keputusan? Kalau sebagai contoh kasus adalah KPK dengan para koruptor yang tertangkap. Mereka dimiskinkan jika hukuman itu dipandang lebih merugikan, daripada sekedar ditahan dan tidak ada konsekuensi yang lebih merugikan secara fisik. Apakah dengan demikian hukuman itu efektif? Tahanan karena kasus korupsi hanya akan memberi label bahwa ia pernah dipenjara karena kasus korupsi dan paling hanya malu secara moral. Namun malu secara moral pun tidak mempengaruhi apakah dia masih bisa menjadi pejabat publik atau tidak. Itu yang terjadi di Indonesia. Budaya malu lemah dan tidak ada efeknya.  Lantas aku berpikir, apakah bagi mereka yang tidak tahu bahwa keputusan ini akan membawa konsekuensi institusional (bisa jadi tidak dipercaya lagi) juga perlu diberi sanksi sedemikian rupa sehingga merasakan "kerugian" entah materi, entah moral? Jika dalam sebuah lamaran orang berniat masuk dalam sebuah komunitas tertentu dan diterima namun pada akhirnya ia mundur dan tidak jadi masuk, maka hal ini dapat disebut sebagai inkonsisten. Inkonsistensi ini menandakan lemahnya integritas diri. Integritas diri yang lemah itu menjadi cacat moral yang perlu menjadi catatan serius bagiku. Sama dengan lembaga yang mengatakan "katakan tidak pada(hal) korupsi," menunjukkan bahwa di sana ada inkonsistesi akut. Ya, selama ini paling hanya cemoohan publik saja yang mengadili. Pelaku-pelakunya yang dihukum. Kurang ada sanksi yang jelas dan "mematikan".

Itulah bagiku yang juga melihat sisi kurangnya konsistensi dalam diri seseorang, namun juga sisi komunitas sebagai kumpulan orang-orang yang tentu akan sangat berpengaruh dalam hidup secara komunal. Jika secara pribadi lemah dan tidak confirm dalam dirinya, maka komunitas yang dilahirkan pun akan tidak kuat. Inkonsistensi akan merajalela. Inkonsistensi ini akan merayap dan mempengaruhi berbagai hal dalam kehidupan. Tidak konsisten dalam kerja di manapun akan muncul karena yang dilatihkan adalah inkonsistensi itu sendiri. Budaya lupa, inkonsisten, tidak kuat dalam menghayati nilai, terombang-ambing itu semua mulai dari latihan kecil-kecil. Akibatnya ya semua dalam arus tidak pernah akan pasti. Orang tidak siap dengan kepastian bahkan kecepatan-kecepatan yang kusebut di atas tadi. Hukuman dianggap sebagai yang menghabisi hidupnya. Padahal hukuman adalah konsekuensi dari tindakan yang tidak konsisten dengan apa yang menjadi aturan yang disepakati. Dan satu hal lagi yang kurang dalam berbagai sisi kehidupan ini, yaitu kurangnya kontrol yang menjaga konsistensi ini. Kontrol perlu orang dan perlu aturan jelas. Itu sering diabaikan. Banyak hal kita buat di awal namun rusak di tengah dan akhirnya tidak punya apa-apa sedikitpun karena tidak ada quality control atau assurance. Hidup kita hanya mengalir saja. Namun orang lebih suka demikian, entahlah.

Dari sini, aku hanya ingin mengajak untuk mencari manakah yang bisa kita buat untuk menanamkan konsistensi dalam hidup dan memperbaiki diri dengan segala yang ada. Inkonsistensi menunjukkan pribadi atau institusi yang kurang confirm dalam berjalan.


#morning time in room#

Monday, March 25, 2019

Belajar Memilih

Setelah bangsa ini ditekan selama hampir satu generasi. Hitung saja satu generasi katakanlah usianya 40 tahun. Bangsa ini harus tertatih-tatih untuk berjalan memilih pemimpin yang selama ini ada. Di awal bangsa ini berdiri, situasi keterpaksaanlah yang melahirkan pemimpin. Karena masih begitu muda, kepemimpinan pun mengikuti situasi dan kondisinya. Namun bangsa ini tidak berdiri sendiri. Ada bangsa-bangsa lain yang juga hidup bersama dengan segala kepentingannya. Lalu kepemimpinan awal itu dilengserkan dengan berbagai macam faktor dari internal maupun eksternal. Ada ketakutan bahwa pemimpin awal ini berkuasa seumur hidup. Oleh karenanya, ada gerakan menggulingkannya. Ada ketakutan lain dari pihak luar bahwa pemimpin awal ini akan membuat blok merah yang sangat ditentang sebagian dari bangsa-bangsa lain karena ideologinya. Lalu dibuatlah skenario menjatuhkan pemimpin awal. Pemimpin kedua muncul dari situasi serba tidak jelas (walau sebenarnya bisa dijelaskan), dan itu membutuhkan korban sekian banyak nyawa.

Pemimpin kedua berkuasa dengan gaya tentara yang totaliter, protokoler, dan serba teknis. Ideologi dibuat sesederhana mungkin dengan berlandas pada dasar negara. Tanpa embel-embel dasar ini maka akan ada pemberangusan dan dimatikan. Kesederhanaan ideologi pemimpin ini menunjukkan bahwa ada keinginan untuk membawa bangsa ini pada kesatuan yang semu. Semua harus lewat protokoler, birokrasi, dan memanipulasi diri. Oleh karena itu, selama satu generasi kita diformat dengan manipulasi diri. Keunggulan dari rejim pemimpin kedua adalah manipulasi. Budaya disebut sebagai budaya harus dengan manipulasi. Semua adalah kepalsuan. Kepalsuan ini yang membawa pada intrik-intrik sana sini. Belum lagi pemimpin kedua ini tidak tahan jujur dengan keluarga dan kroni-kroninya. Maka kekayaan dan kekuasaan dipegang sepenuhnya oleh jaringan keluarga. Ketakutan akan pemimpin pertama membawa pola yang justru ditakutkan itu. Kekuasaan seumur hidup hampir nyata. Dan kekuasaan sentralistik juga dirasakan kuat, bak seorang raja mengendalikan kerajaannya.

Hasilnya, rakyat marah dan terjadi revolusi menurunkan pemimpin kedua. Korban nyawa juga tak terhindarkan. Sayangnya, tidak ada status apa yang disematkan pada pelanggaran-pelanggaran dari kroni dan keluarga pemimpin kedua. Secara moral salah, itu YA, namun secara kebijakan politik dan hukum tidak ada konsekuensi atau sanksi apapun: apakah bersalah atau tidak. Berbeda dari perlakuan pemimpin kedua terhadap pemimpin pertama dan pengikutnya, yaitu siapapun pengikut pemimpin pertama maka akan diperlakukan tidak adil. Bahkan mayatnya pun tidak boleh dikuburkan di pusat pemerintahan.

Pemimpin kedua lengser. Keluarganya masih melenggang dengan kekayaan berjibun di sana-sini. Layaknya mereka masih berkuasa selama dua dekade lebih. Kekuasaan itu masih tetap terasa dengan kekayaan yang dimiliki sampai sekarang. Tidak adanya perlakuan hukum yang jelas pun akhirnya membuat kejahatan pemimpin pertama dan kroni-kroninya seolah tidak kelihatan dan dibuat tidak ada. Pemimpin-pemimpin setelahnya, dari ketiga sampai keenam itu hanya pemimpin-pemimpin yang seperti mampir saja dalam perjalanan. Yang terasa sebenarnya adalah kekuasaan pemimpin kedua dan yang akan melawannya. Namun sepertinya kekuasaan pemimpin kedua dan roh yang mempengaruhinya jauh lebih kuat. Kekuatan sekaligus kelemahan pemimpin kedua yang membuat nasib bangsa seperti sekarang ini adalah bangsa ini sudah terlalu lama dibuat tidak bisa memilih. "Tidak ada pilihan dalam hidupmu". Itulah ideologinya. Akibatnya, semua itu ditentukan penguasa. Yang lain dari pilihan penguasa adalah subversif, makar. Tidak sama warnanya adalah pemberontakan.

Ketika ada seorang pemimpin yang baru dan akan melawan ideologi yang sudah berakar dalam diri bangsa ini pun masih saja ada yang melawan dengan ideologi yang sama: "lebih baik kembali ke pemimpin kedua. Hidup tidak perlu memilih." Yang tidak sama dengan waktu pemimpin kedua maka itu dicap dengan berbagai istilah-istilah tuduhan seperti waktu pemipin kedua. Kebangkitan roh pemimpin pertama seperti dibangkitkan dan dipopulerkan. Roh itu adalah roh yang tidak ingin bangsa ini pandai, tidak ingin bangsa ini mampu memilih dan mandiri dengan kemerdekaan berpikir dan berkehendak. Kemerdekaan memilih dan menentukan dirinya ditakutkan akan membuat jadi kacau. Itulah ketakutan rezim totaliter.

Bisa dipahami bahwa mengapa kita tidak merdeka karena kita tidak merdeka dengan kehendak bebas kita. Apa-apa dalam hidup ini terbelenggu oleh aturan yang dibuat oleh kekuasaan pemimpin. Kita tidak kenal siapa diri kita karena kita dibentuk untuk tidak menjadi diri kita. Kita tidak merdeka karena kita dibuat terjajah terus. Kita tidak pandai karena kita dibodohi terus. Panggilan kita adalah melepaskan seluruh penjajahan atas hidup dan diri kita. Kalau terjadi kekacauan, ya kita terima saja dengan kesadaran untuk menjadi dewasa dan teratur. Pemimpin dan kepemimpinan itu selayaknya memberi ruang merdeka untuk belajar memilih dan memutuskan. Setelahnya harus berani dan konsekuen menghidupi dan mengawal komitmen dari proses kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang ideal. Semua pemimpin itu real dan tentu punya kelebihan dan kekurangannya.



#morningtime#

Tuesday, February 19, 2019

Gunung

Pasca debat kedua capres hari Minggu lalu - walau aku sendiri tidak menonton - suasana panasnya masih tetap terasa. Sampai dengan hari ini, ulasan demi ulasan yang menarik maupun tidak menarik, yang hanya asal njeplak maupun yang ada analisisnya semua masih bertebaran di media online maupun cetak. Aku sebenarnya capai dengan segala macam uraian dan cuitan berbagai komentar yang kadang banyak tidak mutunya di atmosfer media ini. Apa-apa serba mudah sekali menyebar dengan tanpa ada filter. Bahkan apa-apa mudah sekali direaksi. Dan sikap reaktif ini menandakan orang gaduh dan suka keramaian. Salah sedikit tidak sesuai keinginan pun kemudian dilaporkan ke polisi. Seolah polisi hanya menerima aduan saja pekerjaaanya. Hari ini juga aku mecari-cari artikel atau opini untuk dibaca bersama. Salah satu yang kutemukan adalah tulisan Sindhunata tentang Jokowi dengan judul "Jokowi dan Gunung Jamurdipa". Tulisan 4 tahun lalu yang mengingatkanku pada sosok pemimpin saat ini yang bernama Jokowi ditulis oleh seorang budayawan dan sastrawan. Tentu dengan makna dan bukti-bukti berdasarkan narasi mitologi tanah Jawa ini.

Adalah gunung yang dipakai Sindhu untuk menyimbolkan perjalanan demi perjalanan manusia. Aku tertegun dan makin tidak menyukai sosok penguasa yang tarogan yang salah satunya adalah lawan Jokowi.  Mengapa aku menyebut penguasa? Karena sosok yang satu ini tidak mau mengalah, ia terus menguasai atmosfer nusantara dengan keangkuhan dan sebenarnya sangat jelas motif-nya yaitu nafsu berkuasa. Apalagi setelah debat kedua dengan telak memunculkan apa yang dinamakan pengakuan dari dirinya yang memang menguasai lahan sekian ratus ribu hektar di pulau Kalimantan dan Sumatra. Artinya adalah bahwa penguasa itu bukan saja menguasai manusia namun juga tanah tempat hidup makhluk-makhluk yang ada. Jelas, yang kita hadapi dan Jokowi hadapi adalah penguasa yang tamak dan sudah kelihatan dari gerak-gerik dan motivasinya. Penguasa jahanam ini diikuti oleh sekian pengikut yang terus-menerus memuja junjungannya agar terus berkuasa dengan berbagai macam cara. Bahkan kekuasaannya seperti tanpa batas, dan Jokowi sedang menghadapi musuh yang kekuatannya luar biasa hebatnya.


Jokowi dalam tulisan Sindhu ibaratnya mengamban misi mengembalikan rasa percaya diri rakyat jelata yang sudah dirampas oleh penguasa tadi karena penguasa tadi sudah menduduki kursi rakyat yang mengaku diri wakil rakyat namun tidak bekerja mewakili rakyat. Wakil rakyat bahkan sudah menjadi musuh rakyat sendiri. Ini hal yang ironis. Jokowi yang bukan siapa-siapa telah menjadi pemimpin saat ini bagi sekian ratus juta rakyat. Ditulisakan di sana demikian: "Bagi sejarah bangsa Indonesia, fenomena dukungan fantastis itu merupakan sebuah kairos. Dalam filsafat sejarah, kairos dibedakan dari chronos. Chronos adalah waktu biasa, semacam urut-urutan waktu belaka, sementara kairos adalah waktu yang luar biasa, waktu yang dinanti-nantikan, waktu yang punya daya dobrak, semacam waktu sejarah yang bisa mengubah bahkan menjungkirkan keadaan yang usang dan rusak menjadi keadaan yang total baru. Baik filsuf eksitensialis religius, misalnya Paul Tillich, maupun filsuf kiri ateis, seperti Walter Benyamin, sama-sama yakin, dalam kairos tersembunyi harapan, dan begitu kairos datang, harapan itu menguak jadi kekuatan yang bisa mengubah masyarakat secara drastis dan revolusioner..... Fenomena Jokowi adalah fenomena kairos itu. Kalau harapan rakyat tertumpah padanya, itu tak berarti dia memang luar biasa, tetapi bahwa daya kairos sedang turun atasnya sehingga ia dianggap mampu memperbarui sejarah. Dalam arti itu, kairos adalah berkah dan anugerah yang tak boleh disia-siakannya. Tetapi ini juga tak berarti kairos itu seluruhnya mistis. Kairos ada di dalam kehidupan individual dan membuat orang menanti-nantikan perubahan. Begitu melihat Jokowi sebagai fenomen kairos, kairos yang individual itu berkumpul jadi satu, menjadi sebuah kairos kolektif yang bersama-sama ingin menjungkirkan keadaan dan mengubahnya menjadi keadaan yang penuh harapan."


Jelas, bahwa sekali lagi musuh utama Jokowi adalah penguasa yang menyebut diri wakil rakyat namun tidak merakyat dan hanya memushi rakyat. Dituliskan Sindhu demikian: " Sekarang rakyat sedang tak percaya kepada DPR sebab lembaga perwakilan rakyat itu lumpuh dalam menjalankan fungsi representasi kepentingan rakyat karena hanya memperjuangkan kepentingan pribadi dan kelompok. Kata ahli hukum dan politik Ernst Fraenkel: di mana ada rakyat tak percaya terhadap kemampuan parlemen dalam menjalankan fungsi representasinya, di sana rakyat sesungguhnya sedang menderita minderheid-kompleks.

Adalah tragis, rakyat yang mayoritas itu menjadi minoritas yang minder. Sebagai presiden, Jokowi bertanggung jawab mengembalikan rakyat sebagai mayoritas dan menghilangkan minderheid-kompleksnya. Untuk itu, Jokowi perlu meraih kembali momen kairos dan percaya bahwa dalam kairos terhimpun kekuatan politik rakyat yang punya satu-satunya kehendak, yakni perubahan. Jika mau melakukan ini, Jokowi berpeluang besar merebut kembali kepercayaan rakyat, yang kini sedang mengalami krisis kepercayaan terhadap para wakilnya di DPR."

Sindhu memberi akhiran dalam tulisannya menyarankan supaya Jokowi berziarah gunung, karena gunugn adalah tempat wng cilik tinggal. Wong gunung adalah simbol rakyat kecil. Maka ia mengusulkan supaya Jokowi berziarah dari barat pulau Jawa ke timur sehingga melewati gunung-gunung yang membawa makna dalam bagi rakyat kecil: mulai dari Gunung Prau di barat ke Gunung Kendil lalu ke Gunung Slamet. Itulah panyuwun awal dari rakyat kecil, yaitu hidup bekerja naik perahu kehidupan, supaya kendil-nya (periuk), simbol rumah tangga dan kehidupannya itu tetap menyala dan mengepul. Dan satu-satunya permohonan manusia adalah keselamatan (slamet). Ia juga harus sampai berjalan ke Gunung Petarangan sebagai simbol tempat ayam mengerami, memelihara sampai kehidupan itu menetas. Jokowi adalah rakyat biasa. I bukan keturunan bangsawan. Maka ia harus menjalani laku sebagai wong cilik seperti biasa, tidak menakut-nakuti rakyat. Bahkan lebih lanjut Sindhu menyebut bahwa Jokowi dari Solo di mana Solo itu dekat Gunung Lawu. Solo adalah tempatnya thukul, tumbuh, seperti Wiji Thukul. Hanya satu kata, "Lawan!" yang harus diungkapkan. Yang dilawan adalah kekuatan-kekuatan jahat dalam berbagai macam bidang dan bentuknya.

Itulah sebentuk temuan hari ini yang membawaku merangkai tulisan ini. Hati sudah terasa tak sabar untuk melawan kebatilan oleh penguasa jahanam yang terus bergentayangan seperti ruh gendruwo ke sana kemari. Nafsu berkuasa mereka itu tak kepalang tanggungnya. Setelah mengadakan ontran-ontran ini dan itu mereka tidak berhenti. Namun makin hari makin menjadi. Dan kita yang melawannya memang tak boleh lelah dan tak boleh menyerah.  

#Menjelang Siang#

Friday, February 15, 2019

Kontes

Memilih dan menentukan adalah sebuah praktik hidup manusia setiap saat. Namun di saat tertentu, pilihan itu harus dibuat semacam pesta rakyat besar-besaran. Itulah waktu-waktu ini yang sarat dengan keramaian untuk sebuah pilihan presiden. Orang dibawa pada kegaduhan sana sini. Bahkan saking ramainya, orang dibawa pada sentimen sana dan sini. Permusuhan demi permusuhan dilontarkan dengan kata-kata yang berserakan di sana sini. Jika dihitung dengan mesin, mungkin sudah trilyunan kata dan ungkapan permusuhan dan sentimen perseteruan itu. Yang selalu membuat aku menjadi tidak habis pikir adalah ungkapan salah data dan penuh dengan yang tak logis meluncur begitu saja. Dan orang juga mau menelan mentah-mentah karena sudah terkontrol oleh sentimennya.

Inilah yang kemudian menjadi penting karena sebagai keturunan Sapiens, aku menjadi terusik. Homo Sapiens yang memenangkan proses evolusi selama jutaan tahun hanya kemudian mau menjadi mundur peradabannya karena perseteruan tertentu. Ini kutulis karena tertarik dengan tulisan Yuval Noah Harari, seorang ahli sejarah dunia dari Oxford. Ada 3 tahap penting dalam proses revolusi manusia: revolusi kognitif mengawali sejarah sekitar 70.000 tahun silam, revolusi pertanian mempercepat sejarah sekitar 12.000 tahun silam, dan revolusi sains yang baru mulai berlangsung 500tahun silam yang boleh jadi akan mengakhiri sejarah dan mengawali sesuatu yang berbeda.

Fokus pada revolusi kognitif, sekitar 2,5 juta tahun silam otak manusia paling awal memiliki kira-kira 500-600 cc. Homo saipiens modern otaknya memiliki rata-rata 1200-1400 cc. Ini membawa banyak efek pada hidup Homo Sapiens. Ia tidak lagi mempunyai otot yang kuat seperti sebelumnya. Ia juga harus lama untuk mengusahakan makan dan meramunya bagi kehidupannya. Bayi sapiens pun seperti lahir "prematur". Artinya, ketika masih bayi, ia tidak bisa langsung bisa mandiri dan mencari makan sendiri. Ia harus dibantu oleh induknya sampai usia cukup mandiri untuk hidup. Namun kemampuan untuk berkomunikasi dan berpikirnya makin luas dan luar biasa. Dikatakan bahwa mutasi-mutasi genetik tanpa sengaja mengubah sambungan di dalam otak Homo Sapiens, memungkinkan mereka berpikir dengan cara-cara berpikir yang tak pernah ada sebelumnya dan berkomunikasi menggunakan jenis bahasa yang sepenuhnya baru.

Dari apa yang kupikirkan di awal, aku kemudian mau melihat kembali dengan pertanyaan-pertanyaan ini: apakah manusia (lanjutan dari Sapiens) kemudian mau menyusutkan kapasitas otaknya sehingga tidak berpikir panjang lagi untuk hidup bersama? Artinya apakah demi kemenangan kelompoknya lantas tidak berkembang pikirannya dan hanya berpikir untuk kalangan kelompok saja? Jika melihat gerakan-gerakan radikal sepertinya peradaban terancam oleh kepicikan cara berpikir kelompok tertetu. Apakah cc-nya mau disusutkan menjadi 500-600 cc lagi? Artinya ini menjadi lucu karena pada dasarnya makhluk itu selalu bereveolusi dan berkembang. Jika nalar tidak mau diajak berkembang, bagaiman peradaban akan berkembang? Keramaian kampanye pilpres ini membuktikan kemamuan kognitif sapiens yang menjadi aktor dan pendukung siapa dan mana yang cukup bernalar dan logis. Dan inilah yang kemudian menjadi memalukan jika manusia alias sapiens koq memilih yang tidak logis dan bahkan rekam jejak hidupnya jelas tidak menunjukkan ke-sapiens-an, yaitu mantan pembunuh, penculik, psikopat. Sapiens berarti cerdas dan bijaksana. Oleh karena itu, kecerdasan dan kebijaksanaan menjadi pertaruhan dalam pertarungan ini.

Relakah kita menjadi mundur dan tidak berarti lagi dalam hidup ini sebagai makhluk yang berpikir dan mempunyai kebijaksanaan? Kiranya kita perlu berpikir lebih dalam dan jernih bahwa kita adalah sapiens yang punya kemampuan berpikir dan bijak dalam bertindak, termasuk dalam memilih. Namun kadang ada fenomena yang ironis dalam hidup. Sama seperti kasus Jerman di era Perang Dunia II. Bagaimana bangsa Jerman yang terkenal dingin dan rasional, banyak ilmuwan datang dari sana, bisa memilih dan percaya pada Der Fuhrer si Hitler yang kejam dan irasional (dalam arti tertentu)? Di era itu kekejaman demi kekejaman bisa terjadi dan menghabiskan nyawa jutaan orang Yahudi karena dibantai. Alasannya, sentimen ras dan mungkin karena kepentingan politik-ekonomi. Itulah salah satu tragedi dalam sejarah Sapiens. Belum lagi kalau itu kita tarik di Indonesia pasca 1965, tentu juga ini bisa diperbandingkan dengan tragedi Nazi Jerman.

Dalam sebuah kontes, yang terpenting adalah bagaimana nalar dan kebijaksanaan itu menjadi penentu dalam pilihan kita. Pertimbangan nurani juga perlu melihat rekam jejak sejarah. Dan sekarang orang dengan mudah akan menilai sebenarnya. Jika hanya menutup mata (nurani) maka sejarah sapiens akan menjadi sejarah kemunduran peradaban.


#morning#

Friday, January 18, 2019

Narasi

Masih ingat film "Rambo"?  Beberapa sekuel diputar di bioskop-bioskop pada waktu itu. Tentu bagi kalangan yang suka film action pasti akan mengenalnya. Apalagi bagi generasi yang sudah bisa menikmati film itu pada tahun 1980-an akhir atau 1990-an awal, pasti film itu sungguh membekas. Judulnya pun sangat menarik. Tokoh laga Silvester Stalone sangat apik memerankan jagoan Amerika yang dengan kedigdayaan tunggalnya mengalahkan pasukan-pasukan musuh yang jumlahnya ratusan. Bahkan dapat dikatakan bahwa satu tokoh mengalahkan strategi tentara Vietnam atau bahkan Soviet yang ada di Afganistan. Dengan kemampuan militernya yang cukup canggih, menggunakan senjata, biasa di hutan belantara, melakkukan aksi-aksi penyelamatan atau bertahan di saat darurat. Itu semua adalah aksi heroik dan fantastik dari seorang Johny Rambo.

Situasi perpolitikan memang dunia ada dalam masa perang dingin. Blok Komunis dengan komando Soviet dan Blok Liberal dengan komando Amerika Serikat memang menjadi aktornya. Indonesia pun ikut dalam arus itu. Walau oleh Sukarno kita berada di Non Blok tapi sebenarnya di masa Sukarno kita ada di Blok Sosialis yang agak dekat dengan Eropa Timur dan pengaruh Soviet. Sedangkan setelah prahara tahun 1965, maka Indonesia berada di Blok Amerika Serikat karena kekuasaan Suharto tidak lepas dari peran Amerika Serikat. Apakah kita non-Blok? Tidak sama sekali. Secara ide (Platonis) memang demikian, namun kondisi real perpolitikan, kita ada dalam salah satu blok. Dua presiden awal negara ini mengatakan non blok tetapi praktiknya kita berada dalam salah satu blok.

Lalu mengapa aku tertarik membicarakan ini? Bukan soal bloknya yang membuat aku tertarik namun ada sebuah narasi yang sebenarnya akan dibuat oleh siapa yang berkuasa. Beberapa waktu ini aku tengah membaca buku sejarah yaitu Sejarah Nusantara. Mengapa itu menarik? Yang bikin menarik adalah cara memaparkan yaitu sangat naratif, seperti novel. Yang kedua adalah ada cara pandang berbeda dari apa yang selama ini dicekokkan dalam pelajaran sejarah di sekolah. Memang yang menulis adalah seorang Belanda yang kemudian menulis buku ini di Amerika Serikat. Si penulis membuat sintesis yang cukup menarik dan dapat dipertanggungjawabkan dari sisi sumber-sumber sejarah. Bagaimana keislaman yang terjadi di Nusantara akhir-akhir ini dapat ditelusuri dari sini. Mengapa ada narasi babad tanah Jawi juga aku sadari lagi dari sini. Dan mengenai yang kedua ini, aku kaitkan dengan film "Rambo" di atas.

Mengapa dengan narasi "Rambo" dan mengapa dengan narasi "Babad Tanah Jawi"? Ada kemiripan di sana. Bagaimana miripnya? Amerika Serikat sebagai blok yang terus mempengaruhi dunia dengan liberalisme dan kapitalisme selalu ingin menguasai dunia, demikian juga lawannya yaitu Soviet yang punya paham komunisme. Ketika menyerang Vietnam dan Afganistan sekitar tahun 1960-1970-an dan awal 1980-an,  sebenarnya yang terjadi adalah kekalahan Amerika Serikat yang memakan korban banyak dari tentaranya. Namun apa yang terjadi? Supaya tidak menjadi minder dan down hidup rakyatnya, maka dibuatlah narasi dengan film propaganda kemenangan Amerika di Vietnam yaitu dengan film "Rambo". Itulah narasi kekuasaan Amerika Serikat.

Dalam sebuah laporan oleh tirto.id dikatakan demikian: “Ia menyimpulkan bahwa Amerika Serikat tak punya harapan untuk menang. Setelah kembali ia menjadi semakin radikal dan tertekan mendapati pemerintah yang baru terpilih pun tak menggunakan kesempatan untuk melepaskan keterlibatan AS dari kebodohannya di Vietnam,” tulis Floyd Abrams dalam artikelnya di New York Times berjudul “The Pentagon Papers, A Decade Later”.

Demikian juga sebenarnya dengan narasi "Babad Tanah Jawi" dari kerajaan Mataram Islam yang dipuncaki dengan kekuasaan Sultan Agung. Agung bahkan disebut sebagai tokoh yang membuat tulisan ulang dari "Babad Tanah Jawi" karena kekalahan serangan atas Batavia (menyerang VOC). Penulisan ulang diperlukan karena kekalahan itu, dan hal itu dimaksudkan untuk menjelaskan peristiwa itu sedemikian rupa sehingga tidak merusak reputasi Susuhunan tetapi bahkan meningkatkannya. Pujangga itu mencoba menjelaskan bahwa kalau saja Agung benar-benar ingin menghancurkan Batavia, dia bisa melakukannya tanpa unjuk kekuatan militer. Kekuatan gaibnya sudah sangat cukup untuk mencapai tujuan itu.

Bahkan dalam narasi sejarah itu dituliskan demikian: "Babad Tanah Jawi" merangkum sejarah Jawa yang lebih kuno dengan cara demikian rupa sehingga mengarahkan perhatian pembaca kepada kedudukan Mataram yang unggul, yang dikatakan adalah negara penerus yang sah dari semua kerajaan  pendahulunya, khususnya Majapahit. Ia berusaha membuktikan, bukan hanya Mataram adalah penerus kerajaan Hindu-Jawa, tetapi juga bahwa keluarga penguasa adalah keturunan langsung dari penguasa Majapahit. Demikianlah, Agung dijadikan keturunan Hayam Wuruk dan kebijakannya melanjutkan  kebijakan patih Majapahit yang agung, gajah Mada. Perang-perangnya yang tak habis-habis mungkin saja diilhami oleh keyakinan bahwa dia ditakdirkan dan bahkan berkewajiban memulihkan imperium Majapahit yang dalam khayalan lebih jaya daripada kenyataan.

Kekuasaan ingin mempengaruhi suatu masa. Kekuasaan ingin mengembalikan kejayaan suatu imperium tertentu atau dapat dikatakan dinasti atau kediktatoran tertentu. Dan inilah yang sering terjadi. Siapa pahlawan dan siapa musuh atau pengkhianat itu tergantung dari sudut pandang mana atau siapa yang melihat dan menganggapnya. Sejarah telah membuka sebuah narasi dari berbagai sudut pandang. Belajar membaca kembali narasi adalah sebuah penyingkapan kebenaran dari waktu ke waktu. Setiap kekuasaan pastilah akan menuliskan narasinya sendiri. Setiap zaman pasti juga meninggalkan narasinya sendiri. Oleh karena itu, bagiku inilah yang kunikmati saat ini, membaca kembali dan kembali narasi itu. Dan saat aku menemukan kutipan di atas, kesadaranku dihenyakkan akan hal yang sama terjadi sekian abad kemudian. Zaman boleh beda, namun narasi itu kadang muncul kembali.


* Inspirasi sumber-sumber:
-  Vlekke, Bernard H. M., Nusantara : sejarah Indonesia, 1943.
-  https://tirto.id/pentagon-papers-menguak-kebohongan-amerika-serikat-di-vietnam-cG5l, 19 Januari 2019.



#morning time#

Thursday, January 10, 2019

Salah Kaprah

Sejenak aku merenung tentang bangsa ini. Merenung tentang bangsa ini juga sebenarnya merenung tentang diriku dan sesamaku. Banyak hal terjadi akhir-akhir ini yang tentunya terkait dengan sejarah perjalanan bangsa ini dari waktu ke waktu. Ada kalanya aku membandingkan dengan pertumbuhan diri makhluk manusia itu sendiri. Saat masih bayi mungkin hanya bisa mendengar dan dari mendengar itu bayi memasukkan pemahaman dan membuat rumusan kata yang terucap. Mungkin dari mendengar itu si bayi membunyikan suara awal. Itulah bayi yang belajar berbicara dalam bahasa ibunya. Dan bahasa ibu itu yang tidak bisa hilang sampai kapanun karena didengar dari awal ia menjadi makhluk sampai ia bisa menyuarakan bahasa tutur. Dari bayi menjadi seorang anak kecil yang bisa berdiri dan berjalan berlari, ia membahasakan dari apa yang diperolehnya dari keluarga asalinya. Pemahaman-pemahaman yang ia punyai pun dari orang-orang dekat di sekitar rumah atau keluarganya. Ia membahasakan istilah-istilah yang ia dapat, yang ia pahami dari sekitarnya. Ia menyuarakan apa yang ia punyai dan pahami.

Demikian juga bangsa ini. Bangsa ini pun menyuarakan dari yang ia punyai sejak adanya kata atau pemahaman itu. Ada banyak hal yang masih perlu kulihat dari bangsa ini. Pertama, aku merasa adanya ketidakpasan dalam mengungkapkan bahwa agama itu selalu nomer satu. Padahal ada yang sudah mengatakan kalau kebanyakan dan "mendem" atau mabok agama itu bisa berbahaya. Orang kebanyakan bisa menjadi kecanduan. Dari sini aku merindukan supaya ada gerakan mensekularkan pemahaman bangsa ini supaya lebih realistis hidupnya. Tanpa memahami yang fana dan sekular, mana mungkin orang mau masuk dalam kedalaman iman sebuah agama. Bangsa ini terlalu terburu dan seperti terpaksa mabok agama sehingga apa-apa dikaitkan dengan agama. Apa-apa sudah bawa-bawa Tuhan yang sebenarnya tidak mau cawe-cawe karena itu urusan manusianya. Namun kalau aku mengatakan ini terang-terangan maka dituduh ateis. Padahal belum tentu dan tidak pas.

Kedua, masih sehubungan dengan itu, orang akan sangat mudah menuduh saudaranya menjadi komunis dan di-PKI-kan jika sudah mengkritik agama dan praktik agama yang tidak pas. Dan ini yang kemudian kuanggap sebagai kebengisan yang tidak paham sesuatu yang benar. Orang akan mudah dicekal dan dipenjara atau bahkan dirajam kalau sudah mengkaitkan dengan komunis dan simbol-simbolnya. Gambar palu arit di negara ini sudah sangat menakutkan sehingga orang tidak bisa lagi membedakan itu sebagai apa dan kaitannya dengan apa. Semua digeneralisasi bahwa komunis itu ateis dan itu jahat, itu adalah setan laknat dan itu pembunuh dan lebih mengerikan dari pembunuhan sekalipun.

Logikanya tidak jalan. Apakah komunis itu identik dengan ateis? Tentu tidak. Orang akan bisa menjadi ateis tanpa harus menjadi komunis. Orang komunis pun belum tentu ateis. Nah, terus bagaimana ini? Kukira ini semua karena ada kesalahan atau kesesatan berpikir karena sebuah ideologi yang ditanamkan dalam diri bangsa ini sejak lahir atau ketika baru menjadi bangsa muda dan mengalami tragedi yang merenggut jutaan keluarganya dan itu kemudian diberi penanda bahwa yang menjadikan bencana ini adalah komunis, spesifik lagi PKI. Dengan rumusan yang memutarbalikkan fakta dan sejarah sebenarnya bisa jadi kemudian itu dicekokkan terus-menerus dalam pikiran bangsa ini dan menjadi pemahaman bangsa ini sampai saat ini. Orang takut dan menjadi terteror hanya karena istilah komunis dan PKI. Sebagai ateis individual kukira orang tidak akan dipenjara, namun sebagai PKI atau komunis akan dipenjarakan bahkan dibunuh di negara ini. Bahkan dengan logika yang tidak jalan, ideologi diidentikkan dengan DNA. Orang yang memilih ideologi komunis itu kemudian melahirkan anak yang komunis. Ini logika macam apa? Ini pemahaman (leluhur) dari mana?

Ketiga, aku prihatin bahwa partai-partai politik tidak punya gigi lagi. Mereka semua hanya lahir karena kepentingan pragmatis cari kekuasaan yang menguntungkan dan bisa duduk di kursi DPR atau kekuasaan eksekutif sebagai partai berkuasa. Tiada ideologi jelas dan tajam bagi sebuah bangunan sebuah bangsa ini. Tanpa ideologi jelas maka tidak ada pendidikan politik bagi masyarakat bangsa ini. Apalah artinya sebuah partai jika hanya berkepentingan untuk pilihan presiden dan pilihan legislatif jika tidak ada pendidikan politik yang ditawarkan atau diberikan kepada masyarakat manusianya dan berguna untuk sebuah bangunan bangsa?

Aku memahami apakah karena trauma jaman lama yang kemudian melahirkan "jaman baru" yang justru membawa dampak tidak ada ideologi jelas di bangsa ini sehingga partai-partai itu takut membuat dan merumuskan ideologinya? Aku hanya mengira-ira saja. Kalau dulu tanpa ada kata Pancasila di dalam rumusn "ideologi" sebuah partai maka partai itu tidak boleh hidup. Pancasila tetap harus hidup dalam diri setiap manusia negeri ini dan tidak hanya rumusan formalitas. Lima dasar hidup itu harus tetap dan mau tidak mau harus hidup. Tidak ada lagi debat tentang falsafah hidup.

Itulah yang kiranya kusebut sebagai salah kaprah dari bangsa ini. Banyak hal lahir dari kesesatan pemahaman sejak bangsa ini lahir dan bertumbuh sebagai pribadi yang hidup. Oleh karena itu, jika kesalahan-kesalahan pemahaman muncul, maka tidak lepas dari pemahaman awali yang sudah lebih dulu salah dalam dirinya. Pertanyaannya: kapan kita mau mengoreksi ini? Kapan kita mau berubah? Kapan kita mau melawan diri dengan kritis sehingga hoax, kesesatan logika, kesesatan pemahaman itu hilang dan mulai kita kritis dengan diri kita? Tanpa kritis dengan diri kita, maka kita hanya manusia-manusia dungu yang memperbodoh diri saja walau predikat atau gelarnya Doktor/Ph.D atau bahkan professor dan sebagainya. Bangsa ini akan punah karena kita memperbodoh diri sendiri, bukan karena diserang oleh bangsa lain.


#murning time#