Friday, January 18, 2019

Narasi

Masih ingat film "Rambo"?  Beberapa sekuel diputar di bioskop-bioskop pada waktu itu. Tentu bagi kalangan yang suka film action pasti akan mengenalnya. Apalagi bagi generasi yang sudah bisa menikmati film itu pada tahun 1980-an akhir atau 1990-an awal, pasti film itu sungguh membekas. Judulnya pun sangat menarik. Tokoh laga Silvester Stalone sangat apik memerankan jagoan Amerika yang dengan kedigdayaan tunggalnya mengalahkan pasukan-pasukan musuh yang jumlahnya ratusan. Bahkan dapat dikatakan bahwa satu tokoh mengalahkan strategi tentara Vietnam atau bahkan Soviet yang ada di Afganistan. Dengan kemampuan militernya yang cukup canggih, menggunakan senjata, biasa di hutan belantara, melakkukan aksi-aksi penyelamatan atau bertahan di saat darurat. Itu semua adalah aksi heroik dan fantastik dari seorang Johny Rambo.

Situasi perpolitikan memang dunia ada dalam masa perang dingin. Blok Komunis dengan komando Soviet dan Blok Liberal dengan komando Amerika Serikat memang menjadi aktornya. Indonesia pun ikut dalam arus itu. Walau oleh Sukarno kita berada di Non Blok tapi sebenarnya di masa Sukarno kita ada di Blok Sosialis yang agak dekat dengan Eropa Timur dan pengaruh Soviet. Sedangkan setelah prahara tahun 1965, maka Indonesia berada di Blok Amerika Serikat karena kekuasaan Suharto tidak lepas dari peran Amerika Serikat. Apakah kita non-Blok? Tidak sama sekali. Secara ide (Platonis) memang demikian, namun kondisi real perpolitikan, kita ada dalam salah satu blok. Dua presiden awal negara ini mengatakan non blok tetapi praktiknya kita berada dalam salah satu blok.

Lalu mengapa aku tertarik membicarakan ini? Bukan soal bloknya yang membuat aku tertarik namun ada sebuah narasi yang sebenarnya akan dibuat oleh siapa yang berkuasa. Beberapa waktu ini aku tengah membaca buku sejarah yaitu Sejarah Nusantara. Mengapa itu menarik? Yang bikin menarik adalah cara memaparkan yaitu sangat naratif, seperti novel. Yang kedua adalah ada cara pandang berbeda dari apa yang selama ini dicekokkan dalam pelajaran sejarah di sekolah. Memang yang menulis adalah seorang Belanda yang kemudian menulis buku ini di Amerika Serikat. Si penulis membuat sintesis yang cukup menarik dan dapat dipertanggungjawabkan dari sisi sumber-sumber sejarah. Bagaimana keislaman yang terjadi di Nusantara akhir-akhir ini dapat ditelusuri dari sini. Mengapa ada narasi babad tanah Jawi juga aku sadari lagi dari sini. Dan mengenai yang kedua ini, aku kaitkan dengan film "Rambo" di atas.

Mengapa dengan narasi "Rambo" dan mengapa dengan narasi "Babad Tanah Jawi"? Ada kemiripan di sana. Bagaimana miripnya? Amerika Serikat sebagai blok yang terus mempengaruhi dunia dengan liberalisme dan kapitalisme selalu ingin menguasai dunia, demikian juga lawannya yaitu Soviet yang punya paham komunisme. Ketika menyerang Vietnam dan Afganistan sekitar tahun 1960-1970-an dan awal 1980-an,  sebenarnya yang terjadi adalah kekalahan Amerika Serikat yang memakan korban banyak dari tentaranya. Namun apa yang terjadi? Supaya tidak menjadi minder dan down hidup rakyatnya, maka dibuatlah narasi dengan film propaganda kemenangan Amerika di Vietnam yaitu dengan film "Rambo". Itulah narasi kekuasaan Amerika Serikat.

Dalam sebuah laporan oleh tirto.id dikatakan demikian: “Ia menyimpulkan bahwa Amerika Serikat tak punya harapan untuk menang. Setelah kembali ia menjadi semakin radikal dan tertekan mendapati pemerintah yang baru terpilih pun tak menggunakan kesempatan untuk melepaskan keterlibatan AS dari kebodohannya di Vietnam,” tulis Floyd Abrams dalam artikelnya di New York Times berjudul “The Pentagon Papers, A Decade Later”.

Demikian juga sebenarnya dengan narasi "Babad Tanah Jawi" dari kerajaan Mataram Islam yang dipuncaki dengan kekuasaan Sultan Agung. Agung bahkan disebut sebagai tokoh yang membuat tulisan ulang dari "Babad Tanah Jawi" karena kekalahan serangan atas Batavia (menyerang VOC). Penulisan ulang diperlukan karena kekalahan itu, dan hal itu dimaksudkan untuk menjelaskan peristiwa itu sedemikian rupa sehingga tidak merusak reputasi Susuhunan tetapi bahkan meningkatkannya. Pujangga itu mencoba menjelaskan bahwa kalau saja Agung benar-benar ingin menghancurkan Batavia, dia bisa melakukannya tanpa unjuk kekuatan militer. Kekuatan gaibnya sudah sangat cukup untuk mencapai tujuan itu.

Bahkan dalam narasi sejarah itu dituliskan demikian: "Babad Tanah Jawi" merangkum sejarah Jawa yang lebih kuno dengan cara demikian rupa sehingga mengarahkan perhatian pembaca kepada kedudukan Mataram yang unggul, yang dikatakan adalah negara penerus yang sah dari semua kerajaan  pendahulunya, khususnya Majapahit. Ia berusaha membuktikan, bukan hanya Mataram adalah penerus kerajaan Hindu-Jawa, tetapi juga bahwa keluarga penguasa adalah keturunan langsung dari penguasa Majapahit. Demikianlah, Agung dijadikan keturunan Hayam Wuruk dan kebijakannya melanjutkan  kebijakan patih Majapahit yang agung, gajah Mada. Perang-perangnya yang tak habis-habis mungkin saja diilhami oleh keyakinan bahwa dia ditakdirkan dan bahkan berkewajiban memulihkan imperium Majapahit yang dalam khayalan lebih jaya daripada kenyataan.

Kekuasaan ingin mempengaruhi suatu masa. Kekuasaan ingin mengembalikan kejayaan suatu imperium tertentu atau dapat dikatakan dinasti atau kediktatoran tertentu. Dan inilah yang sering terjadi. Siapa pahlawan dan siapa musuh atau pengkhianat itu tergantung dari sudut pandang mana atau siapa yang melihat dan menganggapnya. Sejarah telah membuka sebuah narasi dari berbagai sudut pandang. Belajar membaca kembali narasi adalah sebuah penyingkapan kebenaran dari waktu ke waktu. Setiap kekuasaan pastilah akan menuliskan narasinya sendiri. Setiap zaman pasti juga meninggalkan narasinya sendiri. Oleh karena itu, bagiku inilah yang kunikmati saat ini, membaca kembali dan kembali narasi itu. Dan saat aku menemukan kutipan di atas, kesadaranku dihenyakkan akan hal yang sama terjadi sekian abad kemudian. Zaman boleh beda, namun narasi itu kadang muncul kembali.


* Inspirasi sumber-sumber:
-  Vlekke, Bernard H. M., Nusantara : sejarah Indonesia, 1943.
-  https://tirto.id/pentagon-papers-menguak-kebohongan-amerika-serikat-di-vietnam-cG5l, 19 Januari 2019.



#morning time#

2 comments:

  1. Jejak narasi sejarah tdk boleh dilupakan...jaman milenialpun py narasi yg cukup ekstra hrs banyak ditulis...

    ReplyDelete
  2. min numpang share ya ^^
    Hayyy guys...
    sedang bosan di rumah tanpa ada yang bisa di kerjakan
    dari pada bosan hanya duduk sambil nonton tv sebaiknya segera bergabung dengan kami
    di DEWAPK agen terpercaya di add ya pin bb kami D87604A1 di tunggu lo ^_^

    ReplyDelete