Saturday, May 30, 2015

Hasil

Orang lebih akan melihat hasil daripada proses. Hasil dapat dilihat dengan mata, dirasa dengan lidah, dijamah dengan tangan. Banyak kejadian yang menginspirasi hidupku melihat dan mengamati orang berkomentar, orang mengeluh, orang berbicara, orang menghujat, dsb. Bukankah masyarakat kita juga demikian? Hasil itu selalu menjadi rujukan atau patokan. Presiden atau pimpinan sebuah komunitas akan dilihat "hasil" memimpinnya selama 100 hari pertama. Apa yang dia buat? Bahkan belum ada setahun saja orang sudah jengah menuntut hasil yang baik, lebih baik, atau paling baik. Itu pun dengan embel-embel kepentingan mereka (walau tidak dikatakan). Perlombaan demi perlombaan dalam hidup selalu akan memberi semangat. Orang sekali lagi akan mengejar itu. Khristo Soijkov, pemain sepak bola terkenal dari Bulgaria, mengatakan, "Aku suka kemenangan karena dunia suka akan kemenangan." Aku selalu terngiang kata-kata itu.

Aku pun akan melihat hal yang sama jika kepentinganku tak terpenuhi atau setidaknya tidak sesuai harapan. Mengapa hasilnya tidak memuaskan? Apa ada sesuatu yang salah? Demikian juga dengan hasil Ujian Nasional tahun ini. Pertama, hampir merata bahwa para guru mengeluh akan menurunnya hasil UN 2015. Kedua, nilai ini adalah nilai asli, orisinal, tak "diolah" terlebih dahulu di pusat seperti tahun-tahun sebelumnya. Ada kebagahagiaan karena nilai itu nilai asli dan tidak dipermak. Ada kesedihan karena mutu pendidikan dilihat dari salah satu indikator asesment (penilaian) ternyata sangatlah tidak membanggakan.

Dari hasil ini aku punya ide ke depan. Ternyata PR besar ada di tangan kita, yaitu apakah kita mau serius untuk mengelola bidang scientia ini bagi kepentingan anak bangsa ini? Artinya, para guru tidak hanya mengajar di kelas dengan standard normal tetapi sungguh mendampingi, mengajak, memotivasi anak supaya lebih sadar akan hidupnya, sadar akan kemampuannya. Hasil walau itu hanya sebuah akibat dari apa yang dikerjakan namun penting bagi masa depan. Sekali lagi, aku tidak terlalu mementingkan hasil jika proses yang dilalui oleh guru dan murid itu sudah benar dan optimal. Jika salah satu masih timpang, aku berani menilai kita kurang optimal. Totalitas dalam kerja dan belajar sangatlah perlu. Seperti yang dikatakan oleh seseorang yang pernah memberi masukan kepada kami, "Jika kita melakukan segala sesuatunya berdasarkan atas kesenangan diri kita, itu artinya kita masih kanak-kanak." Dengan kata lain, kedewasaan seseorang akan terlihat dari apa yang dikerjakan itu bukan sekedar atas kesenangan belaka. Orang dewasa akan mengerjakan segala sesuatunya karena ikatan tugas atau atas dasar komitmen atau memang kita tak bisa menolak. Itu dijalaninya dengan sepenuh hati walau tentu ada pergulatan, kebosanan, kemalasan.

Tidak dapat sepenuhnya para orang dewasa menyalahkan anak-anak. Biasanya yang terjadi adalah orangtua menyalahkan anaknya karena tidak seperti dia dahulu. Bahkan oleh Maria Montessori dikatakan bahwa orang dewasa tidak diperkenankan untuk menyekokkan dunia orang dewasa kepada dunia anak-anak karena dunia anak-anak itu dunia yang masih bermain. Dalam hal ini kepada anak-anak remaja tentu perlu dilatih pelan-pelan dalam proses untuk memahami dunia yang perlu kedewasaan juga namun bukan lantas mencekokkan begitu saja. Orangtua atau guru sering menyalahkan murid karena tidak mampu mengerjakan ini dan itu. Intinya orangtua tidak puas dengan capaian anaknya. Sering tidak dilihat mengapa orang tidak mampu dan akhirnya tidak suka. Tegangan antara keinginan supaya mampu mengerjakan dan ketidaksukaan pada diri anak sering tidak tertangkap dengan jelas.

Bila dilihat dalam dunia pendidikan kita terlebih di negeri ini yang terjadi adalah tarik-menarik antara kepentingan kalangan yang mau jujur dan lugas menjalankan pendidikan bagi orang muda dengan kepentingan kalangan yang "memakai dalih" Hak Asasi Manusia atau kekerasan atau pelecehan atau bullying karena mereka tidak mau gagal. Anak tidak boleh gagal menurut kalangan kedua ini. Anak tidak boleh dikerasi. Anak tidak boleh dibentak. Anak tidak boleh mengalami trauma ini dan itu. Akibatnya anak menjadi lembek. Anak manja. Anak tidak peduli dengan orang lain. Generasi saat ini menjadi generasi manja yang ketika dituntut belajar, daya juangnya lemah. Generasi yang dihasilkan oleh kalangan kedua inilah yang terjadi saat ini. Selain oleh karena kemajuan zaman yang memfasilitasi manusia dengan berbagai alat hasil teknologi, orang juga dilarang untuk bergulat dengan lumpur hidup dengan segala kerja keras dan kepahitannya. Orang menjadi takut gagal. Tidak berhasil adalah tabu.

Bagiku saat ini, melihat kegagalan adalah bagian dari hidup. Kegagalan tidak tabu. Kegagalan itu sah-sah saja. Tentu ada tuntutan untuk berhasil tetapi tidak menutup ruang bahwa manusia itu lemah. Kegagalan itu selayaknya menjadi pelajaran hidup untuk meraih keberhasilan. Ketakutan untuk gagal itu perlu dihilangkan. Biarlah kegagalan itu menjadi guru hidup kita. Ada kalanya kita mengukur hidup lewat keberhasilan namun kita perlu sadar akan kegagalan karena kita lemah.


#morning, in my office#


In our life, we learn from our failures. There is always a "space for failure" in everything because we realize that as a human, we have weakneses.