Friday, July 26, 2024

Sentimen & Rasisme

Sepertinya dalam kehidupan ini orang selalu memakai ukuran atau standar, entah itu subjektif maupun objektif. Seobjektif-objektifnya ukuran pasti akan ada saja yang menentangnya atau ada yang tidak setuju. Beberapa waktu lalu ada sebuah pesta di dua benua yang sarat dengan olahraga terpopuler di dunia, yaitu sepak bola. Kejuaran di benua biru alias Eropa dengan Euro 2024 di Jerman dan Copa America 2024 di USA. Keduanya sudah melahirkan juara di benuanya masing-masing. Copa America dengan juaranya Argentina. Euro 2024 dengan juaranya Spanyol. Keduanya akan bertanding menentukan siapa yang paling pantas juara di kedua benua itu yaitu dalam ajang Finalissima. 

Ada kejadian yang aneh dan lucu dan juga mengenaskan kalau boleh dibilang begitu. Setelah Argentina juara, mereka merayakan kemenangan dengan selebrasi. Selebrasi mereka pun tersiar ke mana-mana. Tentu seluruh mata dunia melalui media sosial menjadi tahu keberadaan mereka dan sedang apa mereka. Itu menyangkut public space. Nah , yang menjadi kontroversi adalah selebrasi tim Argentina di bus mereka dengan menyanyi-nyanyi yang mengejek timnas Perancis (musuh mereka di final Piala Dunia 2022 di Qatar) dengan nada atau bunyi demikian: "Timnas Perancis isinya pemain-pemain dari negara-negara Afrika (bekas jajahan Perancis di masa lalu)." Karena ada satu pemain yang menyiarkan ini secara live di IG-nya maka seluruh dunia menyaksikannya. Respon publik adalah kemarahan, menilai Argentina rasis, mengkritik bahwa itu tidak sepantasnya dilakukan oleh tim yang baru saja menang dan malah mengejek negara lain dengan hal-hal yang berbau rasial. Ulah salah satu pemain ini menjadi awal permusuhan sampai detik kutulis ini. Kebodohan yang terjadi adalah bahwa mereka tidak sadar bahwa apa yang dia buat dan posting di media sosial ini menjadi senjata makan tuan. Pemain sekelas dunia pun masih tidak sadar akan bahaya media sosial terkait dengan tindakan yang memang menyinggung sesuatu yang sensitif. 

Respon yang lebih lanjut lagi adalah karena Argentina bermain di ajang Olimpiade yang diadakan di Perancis, maka kejadian berlanjut. Lanjutannya adalah timnas Argentina menjadi musuh publik di pertandingan perdana melawan Maroko. Hasilnya semula imbang 2-2, namun karena ada sentimen rasialis maka ada dugaan wasit menganulir gol kedua Argentina sehingga Argentina kalah 1-2 dari Maroko. Tambahan lagi perseteruan itu berlanjut pada tindakan yang tidak sepantasnya terjadi, yaitu pelemparan botol dan barang-barang dari para supporter Maroko ke para pemain dan official timnas Argentina. Ada pula supporter Maroko yang masuk ke lapangan untuk menyerang. 

Memang rasisme tidak dibenarkan. Dunia masih belajar akan hal ini. Walau banyak negara maju yang sudah mencanangkan dan menindak pelanggaran HAM karena rasialisme ini, masih banyak juga kecolongannya dalam praksis. Perancis yang  sedari Revolusi-nya mengalahkan kekuasaan monarki, dan mencanangkan semboyang "Liberte, Egalite, Fraternite" pun masih juga kecolongan dengan ketidakmampuan menangani situasi yang terjadi di ajang Olimpiade. Bahwa ada protes akan aksi rasisme dari para pemain Argentina, itu hak mereka. Namun dengan pembalasan di ajang resmi Olimpiade dan terjadi kekerasan fisik atau penyerangan, itu justru yang melahirkan masalah baru. 

Ada standar ganda yang disinyalir oleh publik setelah kejadian itu. Penyerangan secara apapun itu juga tidak dibenarkan. Penyerangan tidak menyelesaikan masalah namun ini menimbulkan kasak kusuk, kusutnya masalah dan justru penilaian akan terjadi dari pelbagai pihak, entah pro dan kontra. 

Kecenderungan primordial rasisme ada di dalam diri setiap makhluk. Manusia yang adalah hasil evolusi makhluk yang akhirnya menjadi homo sapiens pun juga masih harus belajar banyak. Proses evolusi tidak menjamin berhentinya rasisme. Standar ganda adalah dalih dari manusia untuk menilai dan memperlakukan sesamanya. Setelah dihina maka harus ada penghinaan balasan. Setelah ada pembunuhan maka harus ada pembunuhan balasan. Setelah ada bully maka harus ada bully balasan, dan sebagainya. Balas dendam adalah ekspresi barbar dari manusia. Mata ganti mata, gigi ganti gigi. Dan hal ini masih ada juga dalam tata norma tradisi tertentu. Bahkan balas dendam ini bisa merembet ke semua orang yang terkena sentimen yang sama. Oleh karena itu, standar yang harus ditegakkan pun jadi runtuh karena adanya unsur balas dendam itu. 

Kebencian itu tak mengenal apapun. Yang pasti jika ada kebencian, di situ akan muncul berbagai aksi dan reaksi. Ada juga orang yang karena kebenciannya yang sangat akut maka semua hal yang terkait yang dibenci maka semua digeneralisir sama. Dengan demikian standarnya jadi ganda. Logikanya tidak jalan karena standar jadi ganda dan kebencian yang mendalam yang melandasinya. Orang boleh benci namun tidak layaklah orang menggeneralisir. Hal itu akan membuat orang lain yang tidak ada kaitannya langsung pun jadi sasaran. Namun sekali lagi, aku menulis ini dengan kesadaran setidaknya intelektual, namun jika sudah menyentuh sentimen, kelihatannya akal atau logika atau kesadaran pun akan sirna dibuatnya. 

Manusia hidup kadang memakai sentimennya. Dan sentimen ini yang melemahkan logika. Sentimen pasar pun mengalahkan kalkulasi rasional para pengamat ekonomi. Sentimen  pun yang melahirkan kekompakan dan kerusuhan di antara kelompok-kelompok yang berseteru. Standar ganda menyatakan bahwa orang lain tidak boleh rasis tetapi kalau kelompokku yang rasis tidak masalah. Di sinilah letak persoalannya. Dan masalah itu tidak berhenti karena selalu saja manusia itu dihinggapi dan dikuasai oleh sentimen kelompoknya. Tidak mudah mendidik ego yang ada sentimennya. Dan ini menjadi kunci dalam merawat kesadara persaudaraan antar sesama homo sapiens yang selayaknya sadar sesadar-sadarnya bahwa kita adalah saudara walau berbeda warna kulit, budaya, bangsa, bahasa, dan sebagainya. Mari kita tak jemu-jemunya mendidik kesadaran ini.



#eveningtimeinmyroom#