Wednesday, August 19, 2026

Merebut Sistem Kontrol

Hidup bersama tentu ada cara bertindaknya. Ada prosedur. Ada jalur-jalurnya. Dan itu semua perlu ada yang bertugas. Kita selama ini mungkin terlalu mengandaikan bahwa asalkan semua ada dan dibuat atau ditunjuk atau ditugasi, maka semua akan berjalan begitu saja. Ternyata tidak. Ketika semua itu ada, itu hanya separuh berjalan saja. Atau bahkan ketika itu ada, tidak sepenuhnya itu berjalan dan bekerja sebagaimana itu dituntut dari daftar pekerjaan yang dibuat. Banyak faktor yang mempengaruhi kinerja berbangsa dan berkomunitas ini, namun demikian setidaknya aku menuangkan uneg-uneg ini setelah juga belajar dari obrolan dalam sebuah podcast bahwa sekarang kita tidak bisa mengandaikan lagi.

Sejak semula aku sadar bahwa harus ada QC (quality control) atau QA (quality assurance) dalam kehidupan bersama. Dan jika ada pun harus diaktivasi bahwa QC atau QA itu berjalan sesuai rencana dan rancangan dari hidup bersama itu sendiri. Jangan sampai terjadi bahwa QC hanya sebuah formalisme saja. QC justru akan menentukan perkembangan, kualitas, keadaaan, harapan dari kebersamaan yang sudah diciptakan sejak awal. Kita punya DPR yang merupakan lembaga representatif dari kebersamaan kita untuk melakukan cek dan evaluasi atas kerja pengurus negara ini. Ada tiga lembaga yang kita percayai akan melakukan pekerjaannya sebagai pengurus negara, yaitu presiden (eksekutif) bersama mentri-mentri-nya, DPR sebagai lembaga yang membuat dan mengecek aturan main bersama, dan lembaga pengadil (yang kita sebut yudikatif karena memang melihat kerja bersama ini secara lebih adil jalannya).

Persoalannya kemudian ada pada kinerja dan jalur-jalur koordinasi bersama yang sering masih tumpang tindih karena kita terlalu mengandaikan dan asal percaya bahwa mereka akan membuat jalur lalu lintas ini berjalan sebagaimana mestinya. Ternyata tidak. Sering ada kekuatan kepentingan yang saling bertumpang tindih yang menjadikan kehidupan bersama ini menjadi lebih ruwet. Ada kepentingan dari kelompok lain yang memberi modal duit untuk kelangsungan kehidupan yang merangsek ke tiga pengurus negara ini. Pemodal selalu mencari cara dan celah agar usahanya itu tetap berjalan. Mereka pada prinsipnya adalah "my country is where the money flows". Pemodal itu tidak punya kewarganegaraan sebenarnya karena nyawanya adalah duit. Dan duit itu selalu lintas batas, dan hanay dikendalikan oleh kepentingan. 

Bayangkan saja ketika akhirnya 3 pengurus negara itu dipengaruhi kepentingan dan kepentingan itu adalah modal, maka tidak berjalanlah marwah yang seharusnya diemban dalam mengurus kehidupan bersama. Bayangkan saja kalau modal akhirnya menjadi nyawa atas kehidupan bersama dan akhirnya jatuhlah kehidupan bersama itu karena  tumpang tindihnya kepentingan demi modal. Si kepala tidak memimpin dengan baik karena kepentingan cari modal. Tidak ada keterwakilan rakyat karena yang membuat dan mengatur regulasi akhirnya juga berkepentingan punya modal. Dan tidak ada pengadil yang cukup adil jika si pengadil sendiri juga makan duit dari kepentingan mereka di dalamnya. Lantas siapa yang dapat mengontrol kehidupan bersama jika semua berkepentingan cari modal?

Tak lain dan tak bukan adalah kita sebagai rakyat harus merebut sistem kontrol kepengurusan bersama ini dan membuat tatanan bersama ini lebih adil, lebih transparan, lebih mudah dipimpin demi kebaikan bersama. Kita sering kali terpukau dan tertipu oleh ilusi kita sendiri yang terlalu banyak mengandaikan bahwa ketika kampanye di awal calon-calon wakil itu selalu berjargon mewakili rakyat, namun demikian kenyataannya tidak. Kita lantas selalu merasa "koq yang kita pilih dan percayai sebagai wakil di dalam proses kerjanya jelek dan salah?" Sistem ada. Orangnya ada. Memang ada juga kecolongan bahwa yang kita percayai dan pilih itu tak berkompeten. Itu artinya personnya yang kita pilih juga tak berkualitas. Di situ, kadang kita disodori calon yang tak kita ketahui selengkap-lengkapnya. Kita tidak kenal karena kita terlalu puas dengan sistem representasi yang kita buat. Kita menyerahkan sepenuhnya pada perwakilan (alias partai) yang kemudian juga kinerjanya pantas disayangkan. Pertama, partai hanya mesin cari modal. Kedua, partai itu tak punya ideologi (visi dan misi) yang jelas. Semua partai itu identik, dengan semboyan yang berbeda-beda. Intinya sama. Partai hanya sekumpulan orang yang tak punya kompetensi selain kompeten dalam bidang cari modal. Selebihnya tidak ada niat (political will) untuk membangun dan mengelola hidup bersama.

Lengkap sudah penderitaan kita saat ini. Dan mungkin ini saatnya kita harus lebih sadar bahwa sekarang saatnya kita merebut cara mengendalikan kepengurusan hidup bersama. Ini bukan lantas merong-rong kehidupan bersama, bukan sebuah coup d'etat, bukan  berniat subversif namun mencerahkan diri, melibatkan diri untuk lebih mengelola hidup bersama. Jika ini menjadi sebuah ungkapan menohok, mengoreksi, mengingatkan, mengevaluasi, mengkritik (otokritik) ya bagiku itu justru mulainya sebuah pencerahan agar kita makin sadar diri. Aku sendiri juga belum mendapat ide mengenai cara dan mekanismenya. Setelah menulis ini tentu aku masih hsrus merenung lagi mengenai cara dan halnya. Semoga ini menjadi pelecutnya supaya makin adil (fair), transparan (terbuka), efektif (tidak berbelit-belit), meminimalisir tumpukan kepentingan. 



#noontime#

Friday, July 31, 2026

Bussy Time

Sibuk itu nyata. Mungkin orang kalau tidak bersibuk ria juga akan mengalami rasa "nglangut". Namun demikian, jika terlalu sibuk orang juga akan mengalami tekanan terus karena harus mengerjakan ini dan itu. Dalam kesibukan bulan ini dan puncaknya di hari terakhir yang muncul tadi sebenarnya adalah sedikit kecewa, marah dan kawatir.

Kecewa karena kadang yang kuharapkan tidak terjadi. Kadang aku mengharapkan adanya kejelasan sejak awal dengan kedetilan tapi orang-orang di sekitarku tidak memberi respon cukup. Tapi ya sudahlah. Memang benar bahwa semakin kita banyak berharap kita akan banyak kecewa. Intinya memang kadang aku harus bekerja sendiri dan membuat pilihan sendiri jika call friends pun tidak ada responnya.

Marah karena ada hal yang membuat "milik" kami ini menjadi rusak karena ada kesalahan teknis. Karena satu dan lain hal biasanya orang hanya memikirkan hasil dan bukan proses awal, tengah, dan akhir. Apalagi terkait dengan proses di tahap akhir, orang akan menghindari karena merasa sudah selesai, dan soal beres-beres, cuci piring, mengembalikan ke tempat semula itu hal yang tak mudah. Salah penanganan maka akan ada kerusakan, entah sedikit atau banyak.

Kawatir karena aku melihat dengan mataku sendiri orang tua yang terjatuh "krengkangan" (dalam bahasa Jawanya) karena salah langkah. Salah langkah karena seorang yang sudah cukup disebut senior, lansia atau tua itu terjatuh karena melompat di posisi langkah yang salah. Ada ketergesa-gesaan. Ada kekurang-waspadaan. Aku sendiri merasa bersalah karena sebagai tuan rumah tidak mengantisipasi adanya kesalahan langkah ini. Entah karena salah siapa tadi, di luar penilaian salah benar, aku tetap merasa kawatir karena pengalaman cedera ini akan dirasakan di waktu depan nanti.

Itulah sekelumit kisah kesibukan yang berpuncak di hari ini. Memang karena hari ini, aku sebenarnya mau menolak berbagai persiapan yang ada, namun karena itulah yang harus kupeluk maka akhirnya harus terjadi dan dikerjakan. Inilah bagian dari apa yang kuhayati, memeluk yang tidak mengenakkan, memanggul beban, menyangkal diri dari hal-hal yang membuat aku hanya merasa nyaman saja. Dan akhirnya berani mengikuti sebuah suara hati yang membawa pada situasi yang tak menarik sekalipun/ disingkiri/ perjuangan/ duka lara dan sebagainya.

Belum lagi, akhir-akhir ini makin menjadi kekecewaan dan perasaan tak jelas tentang tata hidup bersama di sebuah negara yang kutempati ini. Aku tak mau membebani pikiranku dengan hal itu tapi akan selalu muncul dan kumunculkan dalam pembicaraan-pembicaraan di meja makan juga, karena aku harus membagikan itu kepada pihak-pihak yang kurang info dan kurang sadar akan adanya bahaya yang berpotensi menghancurkan kehidupan bersama maupun pribadi. Yah, begitulah, mau bagaimana lagi?


#inmyroom#

Monday, June 29, 2026

Imperfection

Ada orang-orang yang berbicara tentang situasi dan kondisi masyarakat yang tak baik-baik saja. Ada pula yang berkisah tentang sesama yang menghadapi tantangan hidup secara keluarga, anaknnya tak jadi meneruskan ke jenjang pembinaan selanjutnya karena penilaian yang kurang dari pembimbing. Ada situasi di mana tidak semua hal itu mulus-mulus saja. Ada situasi bahwa dalam diri manusia itu dipengaruhi oleh cara orangtua berelasi dan mendampingi dirinya. Ada orang tua yang bahkan sampai anaknya dewasa tidak kenal anaknya, tidak kenal karakternya atau bahkan membutuhkan validasi dan konfirmasi dari orang lain karena kurang yakin dengan apa yang dialami dirinya dan menghadapi anaknya.

Itulah fenomena yang terjadi dalam hidup. Kadang hidup ini tidak terdiri dari success story saja namun ada juga kisah-kisah lain yang tertulis dengan kalimat yang dicoret-coret dan tintanya tidak semua lancar. Ada tinta yang terlalu tebal sehingga mengotori tulisan dan ada pula tinta seret dan cenderung mati ketika dipakai untuk menulis di atas kertas.

Kisah sebuah kehidupan tidaklah selalu sama. Dinamika kehidupan akan selalu naik turun atau cepat lambat atau sukses dan gagal dan segala dinamik duo yang lain. Kadang ada seseorang yang maunya cepat namun kenyataan yang dihadapi lambat. Ada juga yang inginnya yang baik-baik saja tetapi yang didapat adalah yang buruk. Maunya yang ideal tapi kita harus dengan rendah hati menerima kenyataan hidup real ini. Itulah kehidupan. Bahkan dalam berelasi pun kita tak bisa semua mengharapkan puja dan puji dari pihak lain. Pastilah ada sisi gelap, gagal, aib, jatuh yang akan dicaci, dicerca, dihakimi oleh pihak lain. Tak semua itu sempurna. Bahkan sekali lagi tidak ada yang sempurna, namun ketidaksempunaan itulah yang memampukan kita berharap dan memohon agar kita diberi kekuatan berjuang ke sana. Ketidaksempurnaan bukanlah penghalang untuk berbuat baik, berjuang, berjalan dalam jalan yang terjal, membuat ruang hidup ini sebagai ruang bernafas bagi sesama. Ketidaksempurnaan bukan sebuah hal yang harus dihakimi jelek. Justru dalam ketidaksempurnaan ini kita diajak untuk berani menatap sisi yang tak ingin dilihat oleh siapapun karena gelapnya, karena gagalnya, karena menakutkannya.

Jika memang kita itu tidak baik, maka kita sebenarnya sudah harus menyadari diri sejak awal memang kita ini rapuh dan tidak sempurna. Jika ada yang menghakimi dan menjelek-jelekkan kita, memang kita sudah jelek. Jika ada yang mengapresiasi kita, kita juga pantas bersyukur. Jadi dalam hidup ini, kita tidak perlu mencari validasi, konfirmasi bahwa kita baik. Memang jika kita sudah sampai pada kaca mata melihat bahwa segala sesuatu itu baik, itu adalah hal istimewa. Kalau ada orang yang mampu melihat sisi baik dari ketidaksempurnaan ini, itulah keilahian. Kemanusiawian kita selalu akan melihatnya jelek karena memang kita ini tidak sempurna.

Di zaman ini, di komunitas bangsa ini pun aku hanya bisa mengelus dada. Ada banyak ketidakberesan yang terjadi. Namun demikian, aku lantas bertanya, bisa apa aku dengan hal ini? Bisa menyuarakan apa aku dengan kondisi ini? Menyalakan cahaya di tengah kegelapan memang perlu dibuat daripada kita mengutuki kegelapan itu sendiri. Lantas bagiku ini yang tidak mudah, yaitu menerima kenyataan pahit akan adanya ketidakberesan dalam hidup itu sendiri. Inginnya adalah hal-hal yang baik, namun yang terjadi sebaliknya. Melihat terang dalam sisi gelap itu tidak mudah. Keberanian menembus pekatnya kegelapan itulah yang perlu kubuat. Melihat masyarakat yang dibuat pusing oleh kelakuan segelintir orang yang menghambur-hamburkan uang demi syahwat kepentingan politik kekuasaan memang tidak mudah menjalaninya. Dengan gamblang kita melihat dengan mata fisik dan batin adanya salah kelola dalam hidup bersama, namun kita belum bisa berbuat banyak. Bahkan seorang guru pernah mengeluh, kepada siapa lagi harus melapor karena pihak-pihak yang dijadikan tempat mengadu adalah mereka-mereka yang turut ambil bagian dalam kesalahan pengelolaan hidup bersama. Lalu kepada siapa harus mengadu?

Itulah yang terjadi akhir-akhir ini. Tidak internal dan eksternal, kita semua sedang mengalami masa di mana ketidakmampuan mengelola hidup bersama terjadi. Kadang hal itu membuat gemas, karena kita bisa melihat namun tidak bisa berbuat banyak. Banyak kritikan ke pihak-pihak yang terkait, tapi hanya dibiarkan dan cenderung bebal untuk mampu mendengarkan dan memerbaiki diri. Itulah kiranya dilema dan paradoks hidup. Apakah lantas aku hanya bisa menerima itu semua dalam kenyataan yang tidak baik-baik saja?


#eveningtime#

Thursday, May 28, 2026

Lihatlah Manusia

Ketika memilih judul itu, aku sebenarnya mau mengartikan demikian: (1) itu sebuah ajakan untuk melihat manusia dan kemanusiaan kita masing-masing dan (2) mengajak untuk peduli pada kemanusiaan sebagai sebuah proyeksi ke depan yang semacam objektivasi namun bukan mengobjekkan. Memang kelihatannya hampir senada, namun aku hanya memainkan peran. Yang satu mengajak manusia di sampingku untuk sama-sama melihat ke dalam diri dan yang kedua mengajak untuk melihat manusia di depanku. Aku hanya mau mengulas sedikit hal yang baru kubaca dan kukaitkan dengan situasi yang akhir-akhir ini memang menjadi wawasan dan perhatian banyak orang. "Masalah"  manusia tak akan selesai dengan satu hal karena dirinya sendiri adalah multi dimensi. Apa yang dipikirkan bisa jadi lebih besar daripada dirinya. Atau kadang malah kita sendiri tak tahu apa yang dipikirkan seseorang tentang dunia dan segala macam yang terjadi.

Kemanusiaan dan manusia memang tak bisa dipisahkan walau bisa dibedakan. Beberapa hari ini aku merasa diajak untuk berefleksi mengenai itu. Manusia dan kemanusiaan yang tak lain kemudian mengarah pada kesejahteraan bersama. Sebuah dokumen dari Leo XIV yang cukup mengajakku untuk membacanya, dengan judul yang tak jauh dari kemausiaan, Magnifica Humanitas, membuatku kembali dan kembali bercermin. Salah satu uraian di sana mengatakan demikian: "membangun untuk kebaikan bersama berarti menerima keterbatasan dan kelemahan umat manusia tanpa menganggapnya sebagai kesalahan yang harus diperbaiki." Aku menerima itu sebagai sebuah adagium kebenaran yang juga kualami. Ketika aku sendiri membangun kebaikan dari keterpurukan, ada saja pihak yang tak dapat menerima diriku yang memang rapuh dan seolah mengatakan "tidak seharusnya terjadi demikian". Orang selalu akan mengadili dan menilai dengan idealisme yang tak melihat realisme. Ada juga orang yang bercerita padaku dan sulit menerima realitas dirinya yang rapuh dan merasa terhakimi jika membuat kesalahan. Oleh karenanya, ia merasa tak sanggup menanggung persoalan keluarganya yang jelek, gagal, secara moral buruk. Ia merasa bahwa sorot mata semua orang menghakimi dirinya. 

Bahkan lebih daripada itu, sering kali ketika ketika mau membangun pertobatan kepada kebaikan bersama, pihak lain melihatnya adalah karena harus mengoreksi seolah masa lalu itu harus baik dan dihapus yang buruk-buruk itu, akhirnya di mata manusia pertobatan itu tak relevan. Padahal di sana jelas bahwa membangun kebaikan bersama itu menerima keterbatasan dan kelemahan manusia, tanpa menganggapnya sebagai kesalahan yang harus diperbaiki. Memang kesalahan harus diperbaiki. Ketika memperbaiki pun kadang karena kemanusiaannya, ia ada salahnya dan kurang sempurnanya. Apakah kondisi demikian lantas menjadi penghakiman yang harus menyertainya terus-menerus? Aku hanya ingin mengatakan sekali lagi dan ini yang selalu kuulang yakni bahwa dalam kehidupan kita harus sadar dan menyediakan ruang untuk bersalah, agar kita pun belajar memperbaiki. 

Manusia dan kemanusiaan akhirnya tak bisa direduksi hanya dengan nama atau data statistik atau angka sekalipun. Aku tiba pada sebuah situasi di mana di masyarakat sekelilingku sering mereduksi manusia dalam simpifikasi data kuantitatif. Jatuhnya kemudian adalah pada perendahan martabat dan direduksi pada sebuah produk massal yang harus diberikan tanpa melihat secara mendalam kebutuhan-kebutuhan manusia itu sendiri. Ketika program memberi makan itu baik secara motivasi, perlu juga diwujudkan dengan cara yang bijaksana. Memberi makan itu hal baik, namun jika tidak tepat sasaran juga akhirnya tak menyentuh manusia yang pas dan kemanusiaan dengan kebutuhannya. Memberi makan ke warga di perkotaan jauh lebih mudah karena banyak fasilitas yang mendukung daripada memberi makan di pelosok terpencil. Karena orang cenderung mencari mudahnya, maka yang terjadi adalah pemberian makan lebih banyak dibuat di wilayah kota daripada pelosok jauh dari akses jalan dan sarana yang lain. Apakah ini sudah memperjuangkan kesejahteraan bersama? 

Kegeraman benyak dialami oleh orang-orang saat ini karena ketidakbecusan segelintir pengurus masyarakat dalam mewujudkan sebuah usaha membangun kesejahteraan bersama karena sarat kepentingan tadi. Belum lagi, ketika manipulasi data makin canggih dengan kemajuan teknologi informasi dan komunikasi, maka mesin artificial dipakai untuk kepentingan baik dan buruknya juga. Permusuhan antar manusia bisa dilipatgandakan kualitas dan kuantitasnya hanya dengan memanipulasi data dan informasi. Orang tidak bisa membedakan lagi antara yang senyatanya dan yang nyata dibuat oleh mesin artifisial. Kebenaran menjadi absurd dan susah untuk dihadirkan secara lebih otentik. Otentisitas kadang dimanipulasi oleh kemajuan mesin artifisial. 

Ketika berjumpa langsung antara si A dan si B, maka bisa dipahami bahwa perjumpaan langsung itu akan membawa kesan yang berbeda jika hanya berjumpa di layar HP atau hanya bertukar pikiran lewat kata dalam pesan singkat atau pesan panjang sekalipun. Karena di sana nuansa dan rasa itu tereduksi oleh mesin yang punya algoritma sendiri. Kita banyak dipengaruhi dan akhirnya menyerahkan diri pada tuntunan algoritma mesin artifisial. Kita hanya cari mudahnya. Kita menjadi terbentuk pola tidak mau repot, kurang paham, kurang mampu melihat secara keseluruhan hal-hal yang manusia alami dan kemanusiaaannya. 

Oleh karenanya, kembali kepada judul "lihatlah manusia" dan lihatlah dunianya. Kukira itulah yang relevan bagi manusia penghuni planet ini. Aku tidak mau muluk-muluk untuk membual dengan ide-ide yang tak terjangkau. Melihat manusia adalah menyerahkan diri pada tatapan yang menuntun dan menuntut diriku untuk peduli, menyapa, prihatin, gembira dan lain-lain dengan kemanusiaan itu sendiri. Baik itu yang terluka, yang gembira, yang membenci, yang berperang, yang membalas, yang memuji, yang bersolider dan sebagainya. Manusia itu beragam dan tingkah polahnya juga demikian. Ecce homo! 

#inmyroom#  

Tuesday, April 28, 2026

Akar dan Kekacauan

Ada anggapan bahwa bangsa yang tidak pernah kembali memahami akarnya adalah bangsa yang selalu akan hidup dalam lingkaran kekacauan. Dan itu benar adanya. Orang hanya tahunya dan pijakannya pada masa kekinian. Sedangkan masa lalu ibaratnya sudah berlalu. Itu ada benarnya, namun dari sisi kurang bijaksananya seorang makhluk manusia karena ia tidak memakai dan memaknai dimensi masa lalu sebagai proses peziarahan mencari yang mendasar atau fundamentumnya. Keberakaran itu sangat amat penting. Ketika akar itu tercerabut maka sehebat apapun tanamannya akan mati. Atau kalaupun dipindahkan ke tempat lain, di tanah yang baik sekalipun, pasti akan mengalami adaptasi yang tidak mudah. Hidup apapun ibaratnya adalah tumbuhan yang punya akar. Keberakaran manusia itu hanya dan jika memang diberi sebuah pentradisian yang baik dan baku. Kita jauh api dari panggang dalam hal itu.

Aku menulis ini karena sebuah hal yang tadi malam itu berita yang setengah kubaca dan setengah tidak kuanggap. Ada sebuah peristiwa kecelakaan kereta di Bekasi. Ah, berita serupa itu pernah terdengar saat aku masih kecil yaitu "tragedi Bintaro". Setelah pagi tadi ngobrol di meja makan pas sarapan, ternyata ada berbagai tambahan informasi. Ada yang mengatakan bahwa itu gara-gara KRL-nya menabrak sebuah taxi yang menerobos palang pintu perlintasan kereta. Ada yang mengatakan ada keterlambatan koordinasi untuk segera memperingatkan evakuasi atau KRL harusnya segera pergi dari lintasan rel yang sama yang akan dipakai oleh Argo Bromo yang menabrak KRL itu. Ada yang menyalahkan taxinya. Ada yang menyalahkan koordinasi. Ada yang melihat bahwa itu sesuatu yang tak habis pikir. Semua bisa ditunjuk; semua bisa disalahkan. Namun demikian sebenarnya dengan demikian kita sebagai makhluk manusia bisa berefleksi dari dan mengevaluasi sebuah kecelakaan. Semua akan mengacu pada manusianya itu sendiri. Bahwa orang pada akhirnya akan mengatakan itu semua adalah kecelakaan, namun pada dasarnya manusianya dulu yang harus dilihat dan dibuat perkaranya. 

Aku melihat akhir-akhir ini bangsa ini makin kacau. Kacaunya itu bahkan terang-terangan namun orang tak mau disebut itu kekacauan karena yang membuat kacau adalah penyelenggara negara atau aparat itu sendiri. Sebenarnya tulisan-tulisanku sebelumnya juga menunjuk hal ini. MBG yang sarat dengan proyek kacau dalam arti korupsi terang-terangan mabuk dengan korupsi. Proyek ini jelas tidak tepat sasaran, dipaksakan, aktornya juga kroni-kroni dari penyelenggara negara. Dari MBG ini menghasilkan banyak kekacauan lain: pengadaan SPPG yang memang kacau, proyek cari untung, masakan beracun, dan selalu akan berhadapan dengan keterlibatan sosok bersenjata dan berseragam. MBG juga membawaku pada proyek KOPDES Merah Putih. Namanya kelihatan sangat nasionalis fasis. Dan itulah yang memang sedang terjadi di negeri ini, sebagai mantan jajahan fasis dan totalitarian ala kolonialis. DNA negeri in adalah itu. KOPDES ini sudah mengusung proyek-proyek korup lain. Jika dilihat di lapangan, aku sebagai masyarakat biasa melihatnya hanya secara common sense saja. Ada tanah yang dijadikan tempat bangunan koperasi itu. Bangunannya mencolok dengan warna yang sesuai namanya "merah putih". Aku tidak paham betul nanti gedung itu akan dipakai untuk apa. Koperasi yang dipaksakan dari atas ke bawah (top down) pasti akan sama nasibnya dengan KUD pada zaman ORBA. Kopdes itu saat ini juga memperanakkan anak-anak korup lain seperti: pengadaan kendaraan mobil dari India dan Cina. Proyek pengadaannya pasti bermasalah, terlalu dipaksakan, tidak ada kontrol yang memadahi dari pihak penyelenggara negara. Dan tentunya masih banyak korupsi yang diperanakkan lainnya. 

Di saat tadi malah ada peristiwa resuffle kabinet yang sama dengan nama Kopdes itu, terjadilah kecelakaan kereta di Bekasi itu. Aku hanya bisa mengatakan pada diriku, alam akan terus berbicara mengiringi energi bangsa ini. Kekacauan dan bencana akan selalu berkelindan dengan apa yang diperbuat oleh makhluk manusianya. Manusia membuat kekacauan pasti ada energi kacau lain. Dan kalau tidak sadar untuk berhenti, pastilah alam ini akan mencari cara menghentikan itu semua. Aku bayangkan bahwa kekacauan akan sampai pada puncaknya dan terakumulasi pada sebuah gelombang energi manapun yang akan menghentikan ini. Apapun itu namanya, kekacauan ada batasnya. Kekacauan selalu akan terkait dengan kekurangberakaran kita pada sejarah, jati diri, DNA yang kita punyai. Ada sebab dan ada akibat. Aku hanya mau melihat bahwa hidup itu bisa diatur sedemikian rupa sehingga keamanan dan kenyamanan itu terwujud. Sejak lama aku selalu menyoroti bahwa bangsa ini tak mau repot tapi selalu menyerempet-nyerempet bahaya. Mengapa tidak ada tempat penyeberangan yang dipakai? Mengapa kita jarang buat U-turn yang membuat yang lain selamat dengan cara membuat flyover atau underpass? Jawabannya (1) orangnya tak mau repot dengan membangun karena (2) duitnya lebih baik dikorupsi. 

Bisa saja pengurus negara ini berbicara baik-baik di depan publik tapi jika di dalamnya, di dalam lingkaran energi hidupnya tidak baik, maka akan terbaca dan terungkap oleh apapun nanti. Apapun proyek yang dirasa baik oleh pengurus negara ini namun kalau tidak kembali pada kesejahteraan bersama (bonum commune), maka akan terjadi kesenjangan, penindasan yang pada akhirnya akan bermuara pada gelombang amuk massa. Mau disebut ada konspirasi asing atau aseng, energi itu akan tetap berbicara dengan caranya sendiri untuk mencari keseimbangan lagi karena ini adalah hal yang sudah menimbulkan ketidakseimbangan dalam hidup. 

Ya, intinya aku hanya mencatat dan mengingat bahwa semua itu tak jauh  dari gerak energi alam yang saling bertaut. Akar dan kekacauan adalah hal yang saling terkait. Pohon tak berakar kuat akan tercerabut oleh kekuatan angin badai atau banjir bandang. Demikian juga hidup manusia itu sendiri. 


#feelingsad#

Sunday, March 29, 2026

Vonis dan Ikhlas

Kerap kali ketika mendengar kata vonis, aku hanya bisa merasakan bahwa tidak ada jalan keluar lagi. Vonis itu tak harus selalu yang terkait dengan urusan hukum pidana namun kata itu kerap kita pakai atau praktikkan dalam hidup sehari-hari dalam urusan remeh. Kita sering memakai itu bercampur dengan hukuman atau putusan akhir atau pengadilan terhadap sesuatu atau seseorang. "Dia memvonis kakaknya sebagai pembohong karena selalu tidak pernah bisa dipegang kata-katanya." Itu adalah salah satu contoh. Atau "dokter memvonis dia terkena penyakit kanker pankreas karena menemukan pertumbuhan sel ganas di organ pankreasnya". Masih banyak lagi yang dapat dipakai untuk istilah itu. 

Dalam hidup sehari-hari banyak hal akan menemui bahwa bagaimanapun itu akan selalu ada penilaian. Dan penilaian itu akan berujung pada sebuah rekomendasi tertentu terhadap nasib seseorang atau barang. Sering yang tidak kita sadari dan tidak kita maui adalah hal itu. Penilaian mungkin masih bisa kita terima walau menyakitkan. Sedangkan vonis membuat kita memang tidak bisa mengelak lagi dan hanya bisa pasrah menerima. Namun demikian, ketika ada orang yang berjuang untuk berkelit dari vonis itu, kiranya perjuangan dan usahanya bisa juga dipuji karena untuk keluar dari sebuah vonis dibutuhkan keberanian menerima atau sebaliknya menghindari. Walau vonis sering kali sudah merupakan putusan akhir (final) yang akan membawa pada konsekuensi pada hukuman dengan kualifikasinya masing-masing. 

Aku bisa merasakan bahwa ketika vonis datang rasanya seperti menghindari dan tidak mau menerima itu. Kalau diriku dinyatakan bersalah karena telah mencuri ayam tetangga, maka berdasarkan peraturan hukum pidana vonisnya adalah dihukum sekian lama. Tentu itu tidak mudah untuk segera diterima. Walau kita punya argumen atau alasan mengapa sampai kita mencuri, dari teks hukum kita sudah ketahuan, ada bukti, dilaporkan, diadili dengan beberapa tahapan pengadilan, dan akhirnya divonis menjalani hukuman sekian waktu, maka itulah yang harus dijalani. Aku ingat akan kecerdikan seorang bendahara yang tertangkap korupsi dengan memakai otoritasnya mengelola keuangan. Ia yang sudah tahu jika akan dihukum oleh tuannya, akhirnya memakai cara licik yaitu memanfaatkan mereka-mereka yang pernah jadi partnernya untuk membuat manipulasi keuangan agar ia pun masih mempunyai keuntungan walau sudah divonis akan dihukum oleh tuannya. Kecerdikan untuk keluar dari jerat hukuman itu, walau nyata-nyata salah dan akan dihukum, merupakan sebuah cara minus malum bahwa dalam keterpojokannya pun si bendahara itu masih bisa mengambil keuntungan. 

Sekali lagi vonis mau tidak mau harus kita hadapi. Namun dalam menghadapi itu semua kita masih bisa bermain secara cerdik agar setidaknya serugi-ruginya nama baik kita, kita masih bisa mengambil keuntungan. Kecerdikan manusia yang divonis jelek itu pertanda bahwa kita tidak mati dengan vonis itu. Vonis memang harus kita jalani namun demikian kita tidak menjadi habis karena vonis itu. Aku bisa membayangkan bahwa mereka yang sudah terkena hukuman akibat perbuatannya harus sampai pada sebuah tahapan bahwa diri mereka sudah dibatasi namun hidup tidak sekedar mati karena dibatasi oleh vonis. Kemampuan untuk melampaui vonis atau hukuman itu adalah kemampuan transenden dari manusia. 

Aku sangat terkesan dengan hidup seorang bapak yang membesarkan anak perempuan yang mau dijual ibunya ketika dilahirkan gara-gara tidak ingin memeliharanya. Ibunya pisah dari bapaknya karena alasan keluarga yang tidak menyetujui pernikahan orangtua anak ini. Hidup bapak dari anak perempuan ini seolah sudah divonis oleh pihak keluarga istrinya bahwa ia tidak layak untuk jadi suami anaknya. Vonis moral dari pihak keluarga istrinya ini membuatnya harus bergulat dengan kehidupan yang harus dilanjutkan. Bahkan ia pun sempat hampir putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya karena hidup yang dirasakan berat. Vonis dari keluarga istrinya yang menyakitkan. Sikap istrinya terhadap anaknya yang mau dijual kepada orang lain. Kondiri real kehidupan yang harus dijalani untuk menyambung hidup dirinya dan anaknya, menjadi hal yang menyesakkan. Ia pun pernah mengalami tertipu oleh orang lain karena urusan bisnisnya tidak berjalan dengan baik. Hidup ini seperti menjalani vonis satu ke vonis yang lain. Ia menyebutnya ujian satu ke ujian yang lain. 

Seorang yang sudah mengantungi vonis kiranya juga perlu bersikap menerima, ikhlas dengan vonis itu. Mengapa? Apapun vonis itu tetaplah vonis. Ada faktor-faktor yang sudah nyata-nyata terlihat dan memang ada benarnya. Maka kata vonis itu sama dengan "verdict" (dari kata "verus" ; benar dan "dicere" : berkata). Ada benarnya. Ada buktinya. Ada faktor yang menyebabkan penilaian itu terputuskan secara final. Bahwa ada usaha untuk berkelit, menghindar, mengambil keuntungan dari situasi tervonis itu bagiku sah-sah saja. Namun perjuangan yang masih menjadi perlu dan harus adalah untuk mencapai sebuah titik atau level yang namanya berserah, ikhlas.  

Orang untuk sampai pada keihklasan itu tidak mudah. Orang akan tetap merasa bahwa aku sesalah apapun itu harus "ngeles" dulu, harus berkelit dulu, sampai pada sebuah titik di mana aku tidak bisa menghindar lagi. Di situlah kita dilatih untuk menjadi berbesar hati (jiwa besar) untuk menerima (self acceptance) bahwa aku ini memang rapuh, aku ini tidak layak, aku ini tidak masuk kriteria. Biarlah  sang waktu yang membuktikan atau menyembuhkan pemberontakan diriku yang merasa harus menghindar dari segala macam hal yang telah divoniskan kepadaku. 


#inmyroom# 

Friday, February 27, 2026

Mutu

Orang selalu cari kualitas. Orang cari yang bermutu. Ada yang mutunya rendah, sedang, dan tinggi. Itu semua tergantung kepentingan dan "selera" masing-masing. Dalam pencarian mutu, orang juga menciptakan standar ukuran, namun juga bahkan menciptakan kualifikasi dari mutu itu sendiri. Dunia saat ini sarat dengan penilaian-penilaian tertentu yang kemudian akan menentukan ini nilainya A, B, C dan seterusnya. Penilaian ini terkadang memang hanya sebuah formalisme belaka. Ketika sebuah kualitas itu diformulasikan dalam sebuah huruf atau angka kualifikasi, maka sebenarnya di sana membawa konsekuensi entah internal atau eksternal untuk setidaknya mengawal demi sebuah pemantapan atau peningkatan. Sayangnya, manusia ini seringnya jatuh dalam inkonsistensi. Demikian tidak mudahnya hidup itu dinilai baik itu secara kualitatif maupun kuantitatif.

Persoalan yang klasik dan selalu terjadi adalah bahwa banyak pihak tidak mau atau kurang mampu menjadi pengawal yang berkualitas atau bermutu juga. Akibatnya banyak hal di dalam kehidupan ini selalu terjatuh dari kejatuhan satu ke kejatuhan yang lain. Lembaga yang bahkan disebut pengadil pun kurang bermutu jika sudah menyangkut menilai konsistensi standard mutu dari salah satu tindakan manusia. Segala hal yang tanpa pengendali mutu akan selalu bermasalah. Namun bermasalah lagi ketika pengendalian mutu itu hanya berhenti pada tindakan formalisme semata. Ditambah lagi, orang merasa cepat puas dengan mutu yang pernah diraih atau prestasi yang pernah diraih, tanpa ada sebuah semangat yang melandasi bahwa konsistensi mutu itu demi sesuatu yang lebih besar. Misalnya adalah demi kemanusiaan yang lebih bermartabat dalam hal antre atau kebersihan lingkungan, dan sebagainya. 

Orang menjadi malas atau kurang mau menjadi pengendali mutu karena ia harus berhadapan dengan kerasnya resistensi. Orang merasa cepat puas diri karena tidak mau berkembang, orang cenderung status quo, mapan.  Orang mapan biasanya mencari segala macam cara supaya kemapanannya tidak diusik oleh si tukang kritik atau QC atau auditor atau asesor, dan lain-lain. Ketika si tukang kritik itu mati atau dimatikan atau dikebiri, biasanya salah satu bidang kehidupan itu akan mengalami kendala. Entah itu tidak lagi sesuai marwah atau beralihnya fungsi atau perubahan yang tak pernah dikomunikasikan. Dari sanalah kemudian merembet ke berbagai hal yang lain, seperti lambatnya kerja, ketidakdisiplinan, ketidakpedulian, semua serba formal dan mungkin ada ekses yang lain. 

Seperti contoh konkret ketika petugas negara ini mencanangkan sebuah proyek memberi makan pada sekian juta mulut anak dan masyarakat yang berkecimpung di bidang pendidikan. Tujuannya apa? Sarananya apa? Demi apakah proyek itu dibuat? Mengapa harus ada proyek itu? Siapa yang disasar dengan jelas? Siapa yang menjadi pelaku pembuat makanan, distributor, bagaimana kemasannya? Itu semua pertanyaan-pertanyaan dasar yang sudah diajukan tentunya, dan tidak semua manusia yang disebut masyarakat itu terlibat dan paham. Nah, ketika itu semua tidak dipahami maka proyek itu bisa dinilai (1) sepihak lahirnya. Benar bahwa petugas negara boleh saja menjadi "santa klaus" bagi rakyatnya dan itu hanya jika memang hal yang istimewa. Sayangnya, (2) petugas negara itu kurang memahami kebutuhan rakyatnya dan sepertinya proyek itu motif-nya tidak transparan diketahui oleh khalayak sehingga kita semua bisa menuduh bau amisnya proyek ini. (3) Dari pembuatan sampai ke pembagian (distribusi) terjadi masalah. Dari hal-hal kecil yang baru kusebut tiga itu pun sudah sarat dengan ketidakjelasan dari petugas negara. Motivasi yang baik harus dibarengi dengan cara dan sarana yang baik juga. (4) Dan yang keempat, tiadanya pengendali mutu mengenai keseluruhan proyek itu, yang akhirnya si tukang kritik datang dari rakyat itu sendiri.

Rakyat akhirnyalah yang menjadi pengendali mutu petugas negara ini dalam bekerja dan memberikan segala sesuatu demi rakyat itu. Jika memang kita itu demokratis, maka dari rakyat, untuk rakyat dan oleh rakyat itu bukan sekedar slogan semata. Hal-hal sederhana dan sepele ini pulalah yang harus kita jamin mutunya. Kita sebagai rakyat bukan koq selelu anti terhadap petugas negara namun yang terjadi di sini adalah bahwa gerak dan kerja petugas negara selalu buruk, sudah tidak jelas, tidak trasnparan sejak dari ide/ pikirannya dulu. Apa yang dibuat oleh petugas negara sering hanya menghambur-hamburkan duit. Sedangkan masih banyak hal yang membutuhkan duit untuk membangun baik itu perangkat lunak maupun perangkat keras dalam kita bernegara maupun bermasyarakat ini. 

Pertanyaanku sekarang adalah apakah kualitas bernegara kita hanya sebatas segini saja? Apakah kita hanya berhenti pada tarik-menarik kepentingan ini dan itu yang membuat dinamika bernegara ini makin tidak jelas, tidak terbuka dan saling membuat amburadul kehidupan ini? Sekali lagi pentingnya penjamin mutu (QC) itu sebuah keharusan dalam urusan hidup bersama. Dan susahnya adalah penjamin ini harus manusia yang mau tak mau berhadapan dengan manusia lain yang berani melawan dan memusuhi, sehingga akibatnya bisa saja hilangnya nyawa bagi penjamin mutu itu sendiri. Itulah yang tidak disukai orang yang dijadikan penjamin mutu. 

#inmyroom#