Friday, May 22, 2020

Kontrol, Kekuasaan dan Kepastian

Siapa sih yang tidak suka bisa mengontrol semuanya? Bahkan aku bisa merasakan kenyamanan jika diriku bisa menguasai dan mengontrol hidupku. Aku suka dengan diriku yang bisa begini dan begitu dengan kemerdekaan dan keleluasaan karena aku bisa memastikan semua, mengontrol semua, dan akhirnya aku bisa menguasai semua. Tetapi apa daya "tidak semua hal bisa kita kontrol. Tidak semua bisa kuasai. Tidak semua hal itu juga tidak bisa kita pastikan." Begitu merananya jika ketidakpastian itu yang harus kuhadapi, kualami, dan yang harus kuterima. Apalagi kalau ketidakpastian itu durasinya lumayan lama. Durasi ketidakmampuan memastikan itu lama, dan itu menjadikan diriku tidak nyaman karena tidak bisa mengontrol semuanya.

Memang, berkuasa itu tidak harus jadi raja diraja seperti yang ada dalam kisah dongeng tentang kerajaan di buku-buku atau film. Berkuasa itu bisa mulai dari hal-hal kecil yang ada dalam diriku. Berkuasa itu bisa muncul dari pengalaman dikuasai, dikontrol dan dari dalam kodrat manusia, kita ini tercipta untuk berkuasa. Sayangnya, kita lupa dari mana datangnya kekuasaanku? Itu problemnya. Seorang ibu harus mendidik anaknya. Ketika anaknya mulai besar dan bisa "mbalelo", memberontak, maka di sana ada relasi yang mulai tidak harmonis. Ada keretakan relasi. Ibu maunya anaknya menurut, tapi anaknya mau main sendiri, tidak lagi ingin terkekang oleh "kekuasaan" ibunya. Benar bahwa anak tetap anak dan ibu tetap ibu. Anak tetap mempunyai hak dididik dan didampingi ibunya. Ibu tetap punya kewajiban mendidik, mendampingi anaknya. Yang kemudian menjadi tegangan adalah adanya obsesi bahwa anak harus menurut sesuai frame orangtua, itulah yang harus diperhatikan. Sebelumnya, aku juga pernah menulis bahwa "obsesi (orangtua) bisa menjadi bully bagi anaknya."

Dari contoh di atas aku hanya ingin melihat bahwa seorang ibu punya kekuasaan untuk mengontrol anaknya. Namun di sisi lain, ternyata anak tidak ingin "dikuasai" dalam kesehariannya. Si ibu akhirnya tidak bisa memastikan bagaimana nasib anaknya, atau tidak bisa membuat frame sesuai dengan design pada diri anaknya. Keterpecahan sering terjadi karena ada tiga hal itu: kontrol, kekuasaan, dan kepastian. Semua orang ingin memastikan hidupnya bahkan bagian kecil dari hidupnya sekalipun. Kontrol dan kekuasaan itu bagaikan dua sisi mata uang. Dan itulah yang perlu kita waspadai karena di sana terdapat godaan untuk dijerumuskan pada abuse of power itu sendiri. Pelecehan dimulai dari orang terdekat dalam keluarga. Abuse itu tidak jauh dari diriku, dan itu mulainya dari orang terdekat. Pelecehan itu tidak murni karena ada kelainan psikologis dan bukan dari orang lain di luar rumah, justru karena kita sering tidak sadar akan nafsu berkuasa dan kehendak dalam diriku untuk mengontrol inilah abuse itu terjadi.

Saat-saat ini orang juga diombang-ambingkan oleh pandemi yang tak kunjung henti. Orang makin merasa bahwa tidak ada kepastian lagi sepertinya. Orang ingin segera memastikan dengan bisa bekerja, jalan-jalan, sekolah, beribadah dan sebagainya. Namun demikian ada situasi di mana manusia tidak mampu mengontrol. Manusia tidak mampu menguasai keadaan di mana pandemi ini kapan akan berakhir. Ternyata ada kerapuhan yang harus kita terima. Ada kelemahan yang pada diri kita ini perlu kita akui. Berdamai dengan ketidakpastian ini perlu kita sadari dan kembangkan lebih dalam. Kebijakan ini dan itu sudah dicoba. Hasilnya ada korban. Ada yang meninggal. Ada yang terdampak. Ada yang menularkan. Sedangkan kalau tidak ada kerjaan, bagaimana dapat makan? Kalau tidak bekerja, bagaimana akan memastikan penghasilanku ada atau tidak? Kebutuhan pokok pun saat ini mengerucut pada makanan karena pakaian dan rumah setidaknya sudah ada. Jaminan sosial diusahakan oleh pemerintah. Bahkan itu pun kadang ada ketidakpastian dan tidak bisa kita kontrol adannya kesalahan data atau tidak tepatnya siapa penerima bantuan.

Dalam hal ini aku hanya mau bicara soal ketika tidak bisa memastikan, orang tidak nyaman. Ketidakpastian butuh ketahanan tertentu. Ketika daya kuasa kita tidak lagi sepenuhnya maka kita tidak mampu mengontrol hal-hal yang terkait dengan diriku dan pihak-pihak yang terkait di luar diriku. Obsesi seseorang adalah mampu mengontrol segala sesuatu, bisa menguasai segala sesuatu dan akhirnya memastikan segalanya. Itulah kenikmatan yang semua orang inginkan. Alangkah memberontaknya diriku ketika mendoakan dan mendengarkan ungkapan ini sebenarnya: "Ambilah, ya Tuhan, dan terimalah seluruh kemerdekaan, ingatan, pikiran, dan segenap kehendakku, segala kepunyaanku dan segala milikku. Engkaulah yang memberikan, padaMu aku kembalikan. Semua milikMu. Berilah aku cinta dan rahmatMu, cukup itu bagiku." Ungkapan doa itu hanya manis dan indah dinyanyikan, tetapi ketika mendalami dan memasukinya, aku jadi sadar bahwa kekuasaanku dihapus. Orang Jawa mengatakan aku "dilolosi". Aku perlu makin sadar bahwa hidup itu ada hal-hal yang tidak semua bisa kukontrol, tidak semua bisa kukuasai, dan tidak semuanya pasti. Seorang ibu pun tidak selamanya bisa mengontrol nasib anaknya kelak karena si anak punya jalan yang ia pilih. Pandemi ini tidak bisa kita kontrol sepenuhnya, hanya bisa kita terima dengan berdamai.

Memberi ruang pada ketidakpastian dan ketidaknyamanan akhirnya yang perlu kita sadari. Itu penting dalam hidupku supaya aku tidak terlalu capai dan terkuras energinya hanya ingin memastikan segala sesuatu, mengontrol semua, dan menguasai semua keadaan. Memberi ruang merdeka pada kehendak bebas seorang anak memilih dengan arahan secukupnya itu baik adanya. Memberi ruang pada diriku untuk mencoba mengalami ketidaknyamanan dan cukup memastikan yang bisa kupastikan juga langkah bijak untuk menghadapi pandemi.  Semoga kita tetap bijak dan waras dalam masa sekarang ini.


#morning time#