Wednesday, August 31, 2022

Antara Marah dan Ramah

Salah seorang ekspatriat yang tinggal di rumahku sedang belajar bahasa Indonesia. Banyak kata dipelajari. Banyak kalimat diucapkan untuk melatih berbahasa. Dari sana aku menyadari bahwa ada kata yang bunyinya mirip-mirip namun artinya berbeda. Bagi orang asing yang sedang belajar bahasa ini tentu menjadi tantangan tersendiri. Pernah ia mengatakan antara "marah" dan "ramah" itu terbalik. Ketika ia memuji keramahan seseorang, ia malah mengatakan "Dia sangat marah padaku". Sedangkan ketika ia melihat seseorang marah di jalan, ia berkata "Tadi ada orang ramah di dekat sana." Kami semua tertawa. Namun dari kesalahan-kesalahan ini kita belajar dan memberi tutorial kepada dia. Ada lagi juga yang ia katakan memang hampir mirip yaitu antara "pesawat" dan "perawat". Dia dengan santai mengatakan "tadi ada banyak perawat di airport ya". Kami tertawa juga. Lalu kami ada yang nyeletuk, "Kalau perawat banyak di Rumah Sakit". Dia ikut tertawa. 

Setidaknya, melihat dan memperhatikan orang belajar bahasa itu aku juga ikut belajar memahami orang lain dan juga bahasaku sendiri. Banyak di antara kata-kata itu hampir mirip bunyinya. Apalagi bagi orang asing yang harus memasukinya. Belajar bahasa bukan hanya belajar cara berpikir dan budaya sebuah bangsa. Belajar bahasa juga akhirnya belajar mengucap dengan benar, penuh kepekaan dan paham makna sejatinya. 

Ketika mengingat banyaknya bahasa di dunia ini, betapa keragaman itu sangat hakiki. Ketika yang bunyinya sama pun berbeda makna dan bahkan berseberangan/ bertolak belakang, ini menjadi sebuah hal yang kadang bisa dipakai sebagai pemaknaan tersendiri. Ada selalu bunyi kata yang bisa dimaknai dalam proses refleksi bahwa kita bisa membolak balik hurufnya agar mencapai makna yang berbeda. Bisa saja orang sedang "marah" namun di balik itu ada "ramah" yang tersembunyi. Mungkin juga "ramah" bisa berbalik jadi "marah" karena tersulut luka. 

Ramah yang disalahartikan pun bisa menjadi masalah, apalagi marah. Aku ingat akan kemarahan yang bahkan menjadi sebuah sumpah sampai kemarahan itu mendapatkan lawannya yaitu kematian yang menjemput si empunya kemarahan. Kemarahan datang dari sebuah pengkhianatan. Luka yang tak tersembuhkan itu menular ke generasi berikutnya dan menjadikan ia selalu ingin membunuh yang dijumpainya. Entah salah atau benar atau salahnya besar atau kecil, tak pandang bulu, semua harus mati di tangannya. Rupanya, kemarahan yang dilampiaskan itu tak menjadikan obat baginya dan bagi sumpahnya karena ia menantikan sampai ketemu yang bisa mengalahkan kemarahan yang disumpahkannya. 

Semua orang memang tak ada yang tak punya salah. Dan itu adalah keniscayaan. Bahkan sebuah institusi yang sudah ribuan tahun pun mengajarkan dalam doktrinnya bahwa ada kesalahan genetik yang dibawa dari leluhurnya. Itu menandakan bahwa semua orang itu punya, pernah, dan berpotensi bersalah. Ya, itu semua karena manusia itu tidak sempurna. Tidak selalu kita ini hidup dengan kesadaran. Bahkan hidup seseorang pun kadang menenggelamkan kesadaran. Atau dengan kata lain membuat rasionalisasi yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Itulah sekali lagi manusia dengan segala carut marutnya. 

Oleh karena itu, dalam ungkapan singkatku ini aku hanya mau mengatakan bahwa selalu ada kesalahan yang sudah aktif terjadi dan mungkin potensi terjadi. Orang bisa saja mengatakan "kilaf", "tak sadar", "lalai", "ceroboh", dan sebagainya. Idealnya memang hidup ini harus sadar sesadar-sadarnya. Namun demikian toh tak selamanya kita itu menjadi seperti itu. Bahkan ketidaksadaran pun juga perlu disyukuri agar kita bisa mengalami bahwa sadar itu adalah penting dan perlu. Bukan lantas melegitimasi bahwa aku permisif dengan kesalahan dan ketidaksadaran. Sekali lagi, di dunia ini masih saja banyak halangan dan rintangan dalam berziarah. Sejarah membuktikan bahwa dunia ini tidaklah hanya diukir dari mereka-mereka yang suci dan sempurna. Selalu saja ada mereka yang terjerumus, penjahat, pendosa, namun yang menjadi penting adalah kembalinya kesadaran untuk berjalan di jalan yang selayaknya dijalani. Di sanalah juga ajaran dari tradisi-tradisi kerohanian mengatakan bahwa "mengampuni", "mengasihi", "memaafkan," "wawuh", "rekonsiliasi" dan lain-lain itu mendapat tempatnya. Namun demikian, konsekuensi dari perbuatan salah juga tentu ada. Bukan lantas menghilangkan adanya konsekuensi itu. Tak dipungkiri bahwa tak mudah untuk melakukan semua yang disebut sebelumnya itu ("mengampuni", "mengasihi", "memaafkan," "wawuh", "rekonsiliasi"). 

Pantas aku mempertanyakan, merenungkan, meresapkan lagi atau apapun dengan rumusan doa ini: "Ampunilah kesalahan kami, seperti kami pun mengampuni yang bersalah kepada kami". Benarkah? Beranikah? Ndak iyo? Ah, tenane? Really?


#eveningtime#