Thursday, October 25, 2018

Bohong

Kebohongan itu ada di mana-mana. Sekarang kebohongan begitu menguasai alam semesta ini. Bahkan Tuhan pun merasa bahwa seluruh alam ini koq dirusak oleh kebohongan. Bayangkan saja, jika semua bermula dari kebohongan, apa jadinya alam semesta ini? Satir yang menohok adalah begini: "Pada mulanya adalah bohong. Bohong itu dari kebohongan sebelumnya. Bohong itu ada di antara kita. Dan bohong itu bersama dengan kita." Alangkah mengerikannya jika semua adalah bohong. Semua adalah kebohongan. Sejak awal sampai akhir adalah bohong. Seandainya seorang anak manusia lahir dari rahim kebohongan, ia dirawat oleh orangtua dan keluarga penuh kebohongan, lalu dididik oleh dan dengan kebohongan, akan jadi apakah si anak itu? Kebohongan adalah roh dalam dirinya. Kebohongan menyaturaga dalam dirinya. Akhirnya lahirlah kebohongan-kebohongan lain dalam dirinya. Kata-katanya bohong. Pikirannya bohong. Perilakunya bohong. Apa yang tidak bohong dari dirinya?

Itulah yang tengah terjadi di dunia ini.Kebohongan demi kebohongan menjadi reproduksi dan produksi setiap saat dalam media apapun. Kebohongan seolah nyata dan itu dihidupi, dipilih oleh makin banyak orang. Hidup hanya sebuah kebohongan. Sejak lahir orangtuanya pandai berbohong untuk mendapatkan biaya murah. Saat masuk sekolah, ia diajari bohong untuk membolos. Ketika ulangan ia latihan berbuat bohong dengan memanipulasi kerjaan temannya. Ketika tahap akhir, ia berbohong karena memanipulasi hasil ujiannya. Lalu ketika mencari perguruan tinggi, ia berbohong dengan membuat duplikat ijasah yang belum diambil dari sekolah sebelumnya karena belum lunas bayarannya. Saat buat tugas paper, ia menjiplak karya orang lain. Itu kebohongan berkali-kali. Setelah lulus, ia harus kerja dan ia berbohong saat wawancara. Kapan ia akan jujur? Kebohongan demi kebohongan seperti meluncur begitu saja. Dan dunia memfasilitasi semua kebohongan itu. Saat berumah tangga pun ia berbohong dengan pasangannya karena ia punya afair dengan orang lain. Bahkan ia tidak ingin menjadi kelihatan lebih tua, maka ia pun memanipulasi raganya dengan obat atau operasi medis yang memudakan raganya. Orang menjadi hidup alam alam yang tidak real, tidak apa adanya, tidak jujur.

Bohong itu sebenarnya sebentuk ketidakmauan orang mensyukuri hidup. Bohong itu adalah sebuah ketidakmauan diri untuk hidup apa adanya. Bohong itu adalah cerminan diri yang tidak ingin gagal. Bohong itu keinginan diri yang tak mau kalah namun ngotot. Bohong itu adalah hidup yang tak realistis dan ditutupi dengan hal lain yang menampakkan dirinya baik, supaya tidak nampak keriput, tua, gagal, jelek, lemah, dan sebagainya. Bohong itu selalu ingin menampakkan diri sempurna dan baik walau sebenarnya busuk dan jelek. Bohong  itu hidup yang tak mau kehilangan. Bohong itu selalu ingin merugikan orang lain demi diri sendiri. Bohong itu selalu melawan kejujuran dan keterbukaan hidup. Bohong itu selalu menutupi dan ada dalam kegelapan. Tidak ada kebohongan untuk kebaikan. Kebohongan dalam dirinya adalah rusak dan busuk. Bohong pada dasarnya adalah cacat hidup yang harus disembuhkan. Banyak motivasi kebohongan. Entah itu motivasi dari yang sederhana sampai yang rumit. Bohong itu menjangkiti orang kaya dan orang miskin, tua dan muda, laki dan perempuan.

Bohong, dusta, manipulasi, penipuan itu semua sama. Dan itu semua lebih banyak populasinya daripada yang lahir dari kejujuran, keterbukaan, apa adanya. Hidup dalam kebohongan sepertinya lebih nikmat daripada hidup jujur, terbuka, transparan, apa adanya. Dan memang iya. Kebohongan hidup dalam kegelapan. Kejujuran hidup dalam terang dan cahaya. Banyak hal yang sebenarnya bisa diungkapkan dari kebohongan walau bohong itu ada batasnya. Orang bisa saja dipaksa jujur oleh waktu dan keadaan. Orang akan dipaksa jujur dengan dirinya jika sudah mentok dan tidak ada pintu lain untuk berkelit. Orang mengatakan ketika kita berhadapan dengan Sang Pencipta, maka kita tidak bisa berbohong lagi. Namun kapan itu? Menunggu saat meninggal? Aku pun tidak tahu.


#noontime#

Tuesday, October 23, 2018

Iri Hati

Beberapa hari lalu aku dikejutkan dan terperangah akan suatu ungkapan dari seseorang yang ternyata itu menjadi aura kuat zaman ini. Dia datang dan ngobrol seperti biasa namun di akhir-akhir aku merasa koq nadanya selalu negatif dan bagiku mungkin ini berbeda sense, koq gitu saja diirikan. Anggapanku yang mengatakan "Koq begitu saja dicemburui" bisa saja salah dan ini membutuhkan pemeriksaan lebih dalam. Aku baru sadar bahwa itu adalah arus zaman saat ini yang begitu kuat dan jika tidak sadar justru akan mempengaruhi alam hidup manusia di bumi ini. Dan aku teringat akan sebuah kisah ini: Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya;maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?"

Karena kecewa tidak diindahkan maka iri hati Kain terhadap Habel itu menjadi berujung kematian dan pembunuhan terhadap Habel. Iri hati ada sejak manusia ada. atau setidaknya sejak generasi kedua manusia. Artinya iri hati itu sudah ada sejak lama.Iri hati bisa membuat manusia saling serang dan berujung kematian. Saudara bahkan membunuh saudaranya sendiri. Kisah di atas baru menggambarkan konflik antar pribadi dan itu lahir dalam relasi antar pribadi yang nemanya saudara sekandung juga. Iri hati ini memang pembunuh yang mengerikan. Kecemburuan atau iri hati ini menjadi sarana ampuh untuk saling menghilangkan nyawa atau kehidupan.

Ada lagi kisah ini: 
Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora.


Perkelahian juga bisa dipicu karena iri hati karena kepemilikan. Kepemilikan menjadi awal adanya kecemburuan sosial. Hal ini kemudian bisa memicu konflik komunal. Konflik karena harta milik atau kepemilikan pribadi kemudian menjadi sebuah penelor teori konflik sosial yang sangat terkenal oleh para ahli pemikir politik sosial di masa modern ini. Kapitalisme muncul karena ada kepemilikan pribadi ini. Namun tulisanku ini bukan mau ke sana. Aku hanya tertegun dengan adanya iri hati di antara kaum muda. Orang-orang muda yang hidup di zaman ini pun tidak lepas dari ancaman iri hati ketika dirinya tidak mendapat hal yang sama dengan rekannya. Irinya pun bertingkat-tingkat. Tidak sama agenda acaranya pun menimbulkan keirian. Dalam acara yang sama namun perlakuannya berbeda pun bisa iri hati. Maka keirian ini terus akan beranak-pinak. Hal itu bisa berujung pada kematian.

Bisa dipahami di dunia sekarang, orang muda hidup dalam keluarga kecil. Keluarga yang menghidupinya cukup sangat memfasilitasi dari makan, pakaian, peralatan lain. Jika merk HP ayahnya Samsung maka anaknya juga sama atau malah bahkan yang lebih canggih. Kalau merk sepatu lari ibunya Nike, maka anaknya juga sama. Sadar akan brand sungguh menjadi pola hidup saat ini. Perlakuan lebih egaliter dan kadang berlebihan itu juga berpengaruh pada perlakuan yang dianggap lain dari sebuah komunitas atau kelompok yang dihidupinya saat ini. Apalagi kalau komunitas ini sangat sederhana dalam memberi perlakuan dibandingkan fasilitas yang ia dapat sebelumnya. Bahkan akan sangat membuat kecewa dan iri jika tidak ada penjelasan dan penyadaran akan arti sebuah perlakuan dan pembedaan. Iri hati itu sangat kuat.

Iri hati juga berpasangan dengan rasa kecil atau minder atau rendah diri. Hal itu bisa saja karena seseorang tidak bisa berbuat banyak atau tidak mempunyai apa-apa maka ia merasa iri hati. Nah, dari sini aku merasakan adanya arus besar dunia ini yang membuat orang menjadi minder karena merasa tidak punya dan tidak bisa berbuat banyak. Atau ekstrem lain yaitu adanya perbedaan yang tidak siap diterima karena perlakuan berlebihan akan egalitarianisme dalam diri seseorang. Keterpecahan hidup dan dunia bisa muncul karena itu. Maka egalite tidak menjamin orang bisa sepadan hidupnya namun bisa saja orang tidak bisa menerima atau tidak siap menerima perbedaan atau yang lain sama sekali. Sama atau equal itu bukan  lantas sama dari segi apapun. Sama-sama manusia, namun beda karya, beda peran, beda kedudukan. Adanya pendidikan dan pencapaian bertahap pun juga perlu disadarkan. Sama-sama manusia dalam sebuah keluarga namun perannya beda-beda: ada ibu, anak, dan bapak. Dalam pabrik ada manager, karyawan, sub kadis, dan sebagainya. Yang sama adalah perlakuan sebagai manusia yang manusiawi. Kemanusiaan yang manusiawi bukan terletak pada seragam dan merk yang sama atau acara sama tetapi bagaimana menyapa dan memanusiakan. Mengindahkan manusia adalah memberi penghargaan sehingga tidak merasa terpinggir dan dikecewakan.

Memang, ternyata memberi apresiasi, mengindahkan manusia yang lain tidaklah mudah. Aku saja tidak mudah memberi apresiasi kepada orang lain apalagi dalam tugas. Ini yang menjadi proses pertobatan terus-menerus.

Ada standar ganda dalam perilaku iri hati. Orang akan menjadi komunis ketika ada yang berbeda dengan dirinya sehingga iri. Mintanya semua sama rasa sama rata. Orang menjadi kapitalis kalau soal kepemilikan pribadi. Mintanya semua harus milikku. Orang lain tidak usah diperhatikan. Jika milik pribadinya diusik atau ada yang mengganggu, maka orang akan marah. Milikku harus dijaga. Seolah-olah mau menangnya sendiri dan itulah mental kapitalis. 

Apakah di sini berlaku ungkapan "iri tanda tak mampu" ? Bisa jadi iya, karena tak mampu membuat orang merasa kehilangan sesuatu, ia kehilangan kemampuannya untuk setara dengan yang lain. Di sisi lain, ketidakmampuan itu menular pada merasa diri tak mampu secara material juga. Oleh karena itu, di sini perlu ada sebuah mental yang perlu dibangun. Mental bersyukur dan mensyukuri rahmat. Orang menjadi minder karena merasa kecil hati. Hati yang ciut karena orang tidak berlatih bersyukur dan membesarkan hati bahwa hidupku sudah dicukupi dengan banyak hal dari Tuhan. Orang yang tidak bersyukur biasanya menjadi sering marah dan kecewa. Itu dilontarkan kepada siapapun yang baginya membuat tak nyaman. Orang yang kecewa dengan dirinya biasanya karena punya idealisme dan harapan besar tentang hidupnya namun tidak tercapai karena tidak realistis dalam mengolah dan melatih diri. Ia tidak tekun dan telaten dalam hidup. Ia tidak mau hidup dalam kesunyian dan ketiadaan hiburan sekalipun. Yang diingini adalah yang besar-besar namun apa daya kemampuan tak sampai. Ia tidak setia pada hal yang kecil dan sederhana, maka ia tak dipercaya dan tak mampu bertahan pada hal-hal yang besar dan menuntut tanggung jawab besar. 

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala perbuatan jahat."




#noontime#