Kebohongan itu ada di mana-mana. Sekarang kebohongan begitu menguasai alam semesta ini. Bahkan Tuhan pun merasa bahwa seluruh alam ini koq dirusak oleh kebohongan. Bayangkan saja, jika semua bermula dari kebohongan, apa jadinya alam semesta ini? Satir yang menohok adalah begini: "Pada mulanya adalah bohong. Bohong itu dari kebohongan sebelumnya. Bohong itu ada di antara kita. Dan bohong itu bersama dengan kita." Alangkah mengerikannya jika semua adalah bohong. Semua adalah kebohongan. Sejak awal sampai akhir adalah bohong. Seandainya seorang anak manusia lahir dari rahim kebohongan, ia dirawat oleh orangtua dan keluarga penuh kebohongan, lalu dididik oleh dan dengan kebohongan, akan jadi apakah si anak itu? Kebohongan adalah roh dalam dirinya. Kebohongan menyaturaga dalam dirinya. Akhirnya lahirlah kebohongan-kebohongan lain dalam dirinya. Kata-katanya bohong. Pikirannya bohong. Perilakunya bohong. Apa yang tidak bohong dari dirinya?Itulah yang tengah terjadi di dunia ini.Kebohongan demi kebohongan menjadi reproduksi dan produksi setiap saat dalam media apapun. Kebohongan seolah nyata dan itu dihidupi, dipilih oleh makin banyak orang. Hidup hanya sebuah kebohongan. Sejak lahir orangtuanya pandai berbohong untuk mendapatkan biaya murah. Saat masuk sekolah, ia diajari bohong untuk membolos. Ketika ulangan ia latihan berbuat bohong dengan memanipulasi kerjaan temannya. Ketika tahap akhir, ia berbohong karena memanipulasi hasil ujiannya. Lalu ketika mencari perguruan tinggi, ia berbohong dengan membuat duplikat ijasah yang belum diambil dari sekolah sebelumnya karena belum lunas bayarannya. Saat buat tugas paper, ia menjiplak karya orang lain. Itu kebohongan berkali-kali. Setelah lulus, ia harus kerja dan ia berbohong saat wawancara. Kapan ia akan jujur? Kebohongan demi kebohongan seperti meluncur begitu saja. Dan dunia memfasilitasi semua kebohongan itu. Saat berumah tangga pun ia berbohong dengan pasangannya karena ia punya afair dengan orang lain. Bahkan ia tidak ingin menjadi kelihatan lebih tua, maka ia pun memanipulasi raganya dengan obat atau operasi medis yang memudakan raganya. Orang menjadi hidup alam alam yang tidak real, tidak apa adanya, tidak jujur.
Bohong itu sebenarnya sebentuk ketidakmauan orang mensyukuri hidup. Bohong itu adalah sebuah ketidakmauan diri untuk hidup apa adanya. Bohong itu adalah cerminan diri yang tidak ingin gagal. Bohong itu keinginan diri yang tak mau kalah namun ngotot. Bohong itu adalah hidup yang tak realistis dan ditutupi dengan hal lain yang menampakkan dirinya baik, supaya tidak nampak keriput, tua, gagal, jelek, lemah, dan sebagainya. Bohong itu selalu ingin menampakkan diri sempurna dan baik walau sebenarnya busuk dan jelek. Bohong itu hidup yang tak mau kehilangan. Bohong itu selalu ingin merugikan orang lain demi diri sendiri. Bohong itu selalu melawan kejujuran dan keterbukaan hidup. Bohong itu selalu menutupi dan ada dalam kegelapan. Tidak ada kebohongan untuk kebaikan. Kebohongan dalam dirinya adalah rusak dan busuk. Bohong pada dasarnya adalah cacat hidup yang harus disembuhkan. Banyak motivasi kebohongan. Entah itu motivasi dari yang sederhana sampai yang rumit. Bohong itu menjangkiti orang kaya dan orang miskin, tua dan muda, laki dan perempuan.
Bohong, dusta, manipulasi, penipuan itu semua sama. Dan itu semua lebih banyak populasinya daripada yang lahir dari kejujuran, keterbukaan, apa adanya. Hidup dalam kebohongan sepertinya lebih nikmat daripada hidup jujur, terbuka, transparan, apa adanya. Dan memang iya. Kebohongan hidup dalam kegelapan. Kejujuran hidup dalam terang dan cahaya. Banyak hal yang sebenarnya bisa diungkapkan dari kebohongan walau bohong itu ada batasnya. Orang bisa saja dipaksa jujur oleh waktu dan keadaan. Orang akan dipaksa jujur dengan dirinya jika sudah mentok dan tidak ada pintu lain untuk berkelit. Orang mengatakan ketika kita berhadapan dengan Sang Pencipta, maka kita tidak bisa berbohong lagi. Namun kapan itu? Menunggu saat meninggal? Aku pun tidak tahu.
#noontime#
