Friday, December 30, 2022
Perputaran
Monday, December 19, 2022
Pertolongan dari Atas
Mungkin ini adalah sebuah pembuktian sekaligus pemenuhan. Setelah 36 tahun lalu juara itu diraih, saat ini baru kembali. Aku telah menulis di coretanku sebelumnya, ketika itu aku masih 10 tahun, sebagai anak kecil. Entah mengapa legenda sang juara itu akhirnya membuatku harus jatih cinta pada sepakbola dan negaranya setiap kali ikut kejuaraan dunia. Aku sendiri tidak fanatik dengan negaraku tapi dengan negara sang legenda ini. Ketika juara aku ikut senang, ketika kalah aku ikut sedih. Apakah pengalaman membekas 36 tahun lalu itu yang membuatku demikian? Aku sendiri tidak tahu. Dan malam dini hari tadi, negara sang legenda telah menorehkan diri sebagai juara ketiga kalinya. Sang legenda melahirkan legenda baru, "sang Messiah". Aku pun menonton pertandingan dari awal sampai akhir, bahkan sampai penyerahan piala karena mengingat 36 tahun lalu aku melihat hal yang sama.
Ada sebuah foto menarik di sebuah majalah mainstream. Foto itu seolah mewakili kegembiraan hari ini karena pembuktian dan pemenuhan itu terjadi dini hari ini tadi. Setelah itu dirindukan selama 36 tahun dan akhirnya terwujud. Dalam foto itu, ada sang legenda baru dengan piala benuanya dan sang legenda lama dari atas dengan piala dunianya. Itu merupakan gaya dari gambar Michaelangelo tentang penciptaan Adam, sebuah fresco di dinding langit-langit kapel Sistina di Vatikan. Nah, kalau kita ingat akan gaya itu, maka lukisan itu dibuat sama gaya penampakkannya. Sang legenda lama menjadi "Allah" yang memang disebut-sebut sebagai "el Dios" dari negeri ini. Sedangkan legenda baru menjadi "Adam"-nya. Tulisan di bawahnya disebutkan "Mandas en mi corazon". Aku mencoba mencari tahu terjemahannya. Arti secara umumnya adalah "you rule my heart". Memang rakyat negeri itu memohon dengan sangat setelah sekian lama kehausan jadi juara. Ketika sebuah negeri yang sering dilanda pergolakan, di sanalah sosok legenda, pahlawan itu diimpikan.Menunggu sekian lama dan tentu itu tidak mudah. Lebih banyak menyakitkannya daripada menyenangkannya adalah hal yang terjadi saat orang menunggu. Menunggu pun penuh ketidakpastian. Seorang sastrawan pun menyebutnya sebagai "jangan sampai saat menunggu itu kita dihempaskan oleh harapan itu sendiri" (walau ia menyebutnya "terhempas oleh cinta"). Ya, kadang saat menunggu itu kita seolah diombang-ambingkan oleh harapan dan cinta. Bisa saja karena saking berharap itulah kita juga terhempas. Iya kalau harapan itu segera dipenuhi oleh waktu. Jika tidak, maka kita pun dituntut untuk bersabar dan menunggu lagi dan lagi. Entah sampai kapan. Dini hari tadi adalah pembuktian dari kegigihan dan ketekunan berusaha dalam penantian. Terlepas dari semua hal yang ada, apa yang didoakan, diharapkan, didaraskan setiap saat di hati ini tentu akan terdengar oleh semesta, entah kapan semesta akan memenuhinya. Aku tak pantas mengutuk pada semesta dan waktunya ketika harapan itu sering kandas. Waktu akan menjawab dengan pemenuhannya sendiri. Waktu yang kuharapkan sering tidak seperti yang sang waktu jawab.
Dalam sebuah pertandingan hanya ada kalah, menang, dan atau seri, tergantung sistem kompetisinya. Dengan "nasib" itu semua, kita hanya bisa menyiapkan diri untuk menerima manakah yang akan kita terima di akhir. Jika menang, kita akan bergembira. Jika kalah, kita tentu sedih. Jika seri, di sana masih ada harapan untuk menang. Aku sadar bahwa hidup ini harus menyiapkan semua itu. Hidup yang disiapkan akan jauh lebih antisipatif daripada tidak. Apapun yang akan terjadi dan dihadapi pastilah konsekuensi dari apa yang kulakukan, dengan segala hal yang menyertainya (keluarga, anak, suami, istri, rekan kerja, komunitas, situasi politik dan lain-lain). Hidup ibaratnya sebuah pertandingan itu sendiri. Aku harus siap kalah, menang, atau seri.
Dulu motto hidupku adalah "aku suka kemenangan karena dunia suka kemenangan". Itu adalah motto yang kuadopsi dari seorang pemain bola asal Bulgaria, Khristo Stoijkov. Dia haus goal. Dia penyerang yang juga pemain Barcelona. Pada eranya, Bulgaria menjadi negara yang disegani dan dia sangat ambisius dengan kemenangan. Saat ini, aku perlu mengoreksi diri bahwa hidup ini bukan hanya kemenengan demi kemenangan namun ada juga kekalahan demi kekalahan. Kegagalan dalam hidup bukanlah akhir dari segala. Walau aku harus terpuruk, aku mencoba bangkit lagi walau itu tidak mudah. Ketika mengalami tentu banyak hal yang kualami: malu, malas, sakit, kecewa, murung, tak semangat, dan segala macam suasana hati yang gelap. Bahkan bisa jadi orang mau mengakhiri hidupnya ketika gagal dalam hidup. Itulah sebab karena saking gelapnya dunia.
Hari ini aku merasa bahwa seluruh doa-doa rakyat Argentina didengarkan Diego Maradona dari atas. Messi telah terpenuhi keinginannya untuk mengangkat piala dunia itu. Itulah pertolongan "el Dios". Seterpuruk-terpuruknya dan "desperate"-nya hidup tentu ada pertolongan, entah itu akan terjadi kapan. Itu bisa saja dalam hitungan bulan, tahun, abad, dan sebagainya. Yang kukatakan ini adalah sebenarnya cerminan dari harapan itu sendiri. Tanpa harapan, aku tidak bisa menuliskan apa yang kuocehkan ini. Harapan itu melahirkan pertolongan dari atas. Itulah kado terindah di akhir tahun 2022 ini. Kemenangan ini akan diingat oleh banyak orang dan akan selalu abadi.
Muchas gracias, Messi. Muchas gracias, Don Diego...!! Bravo, Argentina !! Mandas en mi corazon...
#inmyroom#

