Wednesday, December 30, 2015

Berserah itu Tak Mudah

Bulan Desember ini rasanya diriku penuh dengan aktivitas. Awal Desember aku harus rapat ke Jakarta tetapi tepatnya di daerah Bogor. Kemudian, tiga hari selanjutnya perjalanan kami lanjutkan melintas katulistiwa, ke utara, yaitu Manila, Philipina. Di sana sekitar seminggu bersama rekan-rekan dari Asia-Pasifik untuk menjalani workshop. Ada orang Myanmar, Kamboja, Philipina, Indonesia, Hongkong, Vietnam, Haiti, Australia, perantau dari Argentina yang kerja di China, dan juga rekan dari Korea. Itulah kami yang berkumpul bersama menjalani perutusan bersama. Dua minggu sudah habis untuk kegiatan itu.

Seminggu di rumah, kerja sudah menunggu menandatangani raport anak-anak yang akan melaporkan ke orangtua mereka saat libur kali ini, libur Natal dan Tahun Baru. Saat kerja itu pun, aku merasakan pergulatan, mengapa rekan-rekan tidak dapat segera menyelesaikan dalam waktu yang tepat. Masih perlu ditunggu dan disapa. Aku sering merasa tidak nyaman di sini. Aku cenderung perfeksionis untuk hal ini dan harus tepat waktu. Yang, itulah bagian hidupku. Menunggu, dan menyapa.

Beberapa hari ini, dan itu yang kemudian kukerjakan, undur diri sejenak, melepas kesibukan. Aku semedi supaya masih ada "ruang" batin yang dapat diisi. Ruang batin yang sering terlupakan saat sibuk dan tersita perhatian dan energi di saat aktivitas. Itulah manusia. Aku di pulau dewata. Sekedar semedi sesaat karena memang aku perlu sejenak melihat hidupku, sejenak merasakan kembali jejak-jejak itu, ketika kaki menjejak bumi, nafas terus tertiup dan terserap. Semua sering mekanis tak tersadari.

Di penghujung tahun ini, kucoba memaknai hidup lebih berarti, walau hati kadang masih belum mau berhenti, menggulati duri dalam jati. Aku masih pribadi yang bergulat. Aku masih pribadi yang penuh kecewa. Aku pribadi yang masih penuh kekhawatiran, saat kepercayaan terluka karena diserang pencuri. Aku masih merasa semua harus terkendali. Tapi saat ini aku diajak untuk berjuang berserah walau itu tak mudah. Katanya harus berani berjiwa besar pun tak pelak harus melawan kekerasan hati yang terluka. Rasa percaya itu terluka. Rasa aman itu tergores. Itulah diriku saat ini.
Penuh ketidakpuasan dan kekhawatiran.

Kusadari akhirnya, berserah itu tak mudah. Itulah diriku saat ini. Kutuliskan ini di sebuah ruang, saat akhir setelah semedi, menyepi, yang berbeda waktu di mana aku tinggal. Kutuliskan ini sebagai pelengkap di akhir tahun. Kutuliskan ini sebagai lanjutan perjalanan kemudian.


* Di akhir sebenarnya juga ingin kuingat bersama hawa sejuk pegunungan sekitar gunung Agung dan gunung Batur. Bersama danau-danau di sana yang membawa berkat berlimpah bagi banyak orang. Hawa sejuk pegunungan Bedugul yang membantuku berdoa agar bisa belajar berserah. Bersama para petani sayuran dan peternak yang ada di sana, kulihat ketika aku berjalan turun naik sekitar 5 km pergi pulang agar tubuh tetap segar. Hawa dan udara yang memberiku berkah agar bisa berserah.




#sebuah ruang di pagi hari yang berbeda waktu sejam dari biasanya (Kuta)