Hari kemarin, isi hariku adalah "menunggu". Ke Dinas yang semula janjian jam 09.00 diundur jam 10.30. Setelah datang ke kantor Dinas, ternyata sampai sejam kami tidak ketemu pihak yang sudah janjian. Rasa dongkol dan kecewa tentu mewarnai atmosfer diriku. Aku paham bahwa menunggu adalah pekerjaan yang paling menyebalkan, membuat tidak nyaman, selalu tidak sabar. Itulah yang selalu aku alami. Menunggu, menunggu, dan menunggu. Kuakui aku paling tidak suka. Malam hari, ketika aku menunggu juga demikian. Itu hanya telepon. Tetapi karena "menunggu, menunggu, dan menunggu", aku pun jadi tidak nyaman. Pagi pun demikian. Sudah seperti "penjaga merindukan pagi", demikian juga aku menunggu. Itu hanya telepon. Namun telepon yang kutunggu tak kunjung datang. Lupa ternyata. Aku mencoba sabar, memahami. Itu saja. Walau sebenarnya ada kekecewaan karena menunggu, menunggu, dan menunggu.Aku belajar untuk sabar. Aku belajar untuk mencoba memahami situasi menunggu. Aku memahami situasi yang akhirnya aku sendiri tak kuasa mengontrolnya. Aku sendiri tidak seluruh perjalanan hidupku bisa aku kuasai. Ada saat di mana aku ditentukan oleh orang lain. Aku mencoba memahami bahwa kelupaan pun akan menentukan hidup orang lain. Ketika ibu lupa menanak nasi, maka anak-anak dan anggota keluarga kelaparan. Ketika direktur lupa menggaji pegawai, akan ada demo dan protes menuntut gaji. Ketika seorang guru lupa menilai pekerjaan muridnya, maka murid akan protes dan menuntut adanya nilai, demikian orangtua, dan komuitas sekolah menuntut dia mengerjakan penilaian dan sejarah nilai yang harus diberikan.
Menunggu adalah sebentuk pekerjaan. Menunggu artinya menuntut tanggung jawab orang lain yang kita tunggu. Menunggu artinya juga menuntut keikhlasan dari pihak diriku untuk menyediakan waktu dan kesabaran. Waktu dan kesabaran tentu ada batasnya. Batas itu bisa hitungan jam. Batas itu bisa kenyamanan dan adanya tanggung jawab lain yang harus dikerjakan. Artinya kita pun ditunggu oleh tanggung jawab lain di depan sana.
Lantas aku mencoba merenung. Kenapa aku menjadi tidak sabar ketika menunggu dan aku harus tepat waktu. Aku ingat masa kecilku. Aku ingat kebiasaan yang dibangun dalam tubuhku. Kebiasaan itu dibangun oleh orangtuaku. Aku diajak untuk tepat waktu dalam segala hal. Ada perasaan tidak nyaman, malu, dan kurang bertanggung jawab kalau aku tidak dapat tepat waktu. Ketika aku harus membayar uang sekolah, orangtua memberiku maksimal sehari sebelum batas akhir pembayaran. uang itu harus dibayarkan pada hari aku diberi. Ketika raport sekolah kuterima, orangtua harus tandatangan pada hari itu juga. Kebiasaan kecil yang membekas. Aku tidak boleh terlambat. Datang sebelum acara dimulai. Pulang setelah acara sungguh selesai. Itu saja. Dari kebiasaan yang terbangun itu ternyata aku menjadi pribadi yang saat ini kurasakan. Ketika acara selalu molor, aku akan tidak nyaman duduk menunggu. Ketika rapat Dinas undangannya jam 09.00 tetapi baru mulai pada jam 10.30, aku sangat kecewa. Kekecewaan menjadi warna hari itu. Aku masih ingat ketika kuliah, toleransi keterlambatan dosen dan mahasiswa hanya dihitung dalam waktu 15 menit. Selebihnya mahasiswa dapat keluar dari ruangan dan membubarkan diri. Artinya tidak ada perkuliahan. Demikian juga dosen dapat menolak mahasiswa yang datang lebih dari 15 menit dari mulainya perkuliahan.Ada baiknya dan ada tidaknya. Baiknya aku dilatih bertanggung jawab karena kedisiplian (waktu) adalah salah satu indikator tanggung jawab. Jeleknya adalah bahwa dari sisi psikis, aku tidak tahan menunggu. Aku menjadi kurang sabaran. Semua ada pro dan kontranya. Aku sadar bahwa kemungkinan besar adalah kelemahan dan kelebihan selalu akan ada dalam diriku. Dan itu akan berjalan beriringan. Aku pun berterima kasih kepada orangtuaku yang sudah menanamkan kebiasaan tepat waktu. Aku pun bersyukur atasnya. Namun juga yang namanya tanggung jawab tentu juga perlu dirawat. Ya, dari menunggu, aku melihat ke belakang ternyata ada pengalaman "pembentukan" diriku.
*This is me. When I have to wait, I can't take it. I realize that in the past I was habituated by my parent to be punctual. It formed me to be punctual too. I can't tolerate someone who can not be punctual when he/she make appointment with me.
#morning in my office#