Dalam dua hari ini, aku ditantang kesabaran dan minatku untuk berdoa. Lantaran hari kemarin ada anak yang di depanku sedari awal misa sampai konsekrasi pun masih tengak-tengok ke belakang, usil, usreg, jawil sana jawil sini kepada temannya, iseng, sampai membuang tisyu di kantong temannya. Hatiku merasa perih melihat hal ini. Aku masih mendiamkan, sebagaimana aku ingin diam sebelum "waktuku tiba nantinya." Ya, aku adalah seorang yang baru datang. Aku belum perlu untuk ini dan itu dulu. Aku lihat pemandangan yang ada dahulu baik itu menurutku pantas, dan baik itu yang tak pantas. Hari ini tadi anaknya kulihat berperan sebagai prajurit Romawi dalam visualisasi penyaliban.Sore hari ini tadi ketika ibadat penghormatan Salib, aku juga agak dimangkelkan dengan orang tua yang ikut misa di Kapel Petrus Canisius. Bukan kehadirannya yang bikin hatiku mangkel tetapi komentarnya yang bikin aku merasa tidak enak. Aku pun merasa heran ternyata ada juga orang luar ikut misa di dalam. Lantas aku pun membandingkan dengan zamanku dulu. Yah, mungkin aku cenderung fundamentalis dalam hal ini, cenderung puritan kemungkinannya. Ada yang solis bermazmur sedikit fals, ia komentar. Ada koor yang fals, dia komentar. Lalu dalam hatiku komentar-komentar itu seperti menggema dan seolah berbicara sendiri: "Jangan-jangan maju dua kali dari penciuman salib lalu maju lagi untuk komuni juga dikomentari: 'Ngapain gak dibuat efektif dan efisien sih? Kan bisa maju cium salib dan komuni'." Itu yang terucap dalam hatiku.
Setelah ibadat selesai, aku tanya kepada Bruder yang sudah lama di sini, "Der, tadi itu orangtua seminaris atau siapa?" Bruder menjawab, "Ya, mereka itu orangtua seminaris." Aku memang melihat 2 mobil parkir di depan kapel besar. Yang satu berplat polisi B, yang lainnya AA. Itulah seminaris dan orangtua zaman sekarang. Ketika anaknya belum libur dan tidak dapat libur, mereka yang datang mengunjungi. Kemungkinan ketika "day off" hari Minggu besoknya, mereka akan mengajak anak mereka keluar dari Seminari untuk berkumpul bersama. Lantas aku juga bertanya, "Der, berapa banyak orangtua seminaris yang mantan seminaris?" "Banyak", jawab Bruder.
Aku membayang-bayangkan dari kisah-kisah para formator di sini dari suasana yang terbangun di sini saat ini memang sangat jauh berbeda. Kedewasaan, kekritisan, daya juang, karakter seminaris banyak sekali berubah. Banyak kesulitan atau lebih tepatnya tantangan para formator saat ini karena harus memahami situasi anak dan orangtua/keluarga yang melahirkan seminaris pada zaman sekarang. Proses formatio dengan instrumen di Seminari sudah dibuat sedemikian rupa, namun ketika pulang ke rumah saat liburan, apa yang dibentuk di Seminari dimentahkan formatio di rumah mereka. Fasilitas diberikan dengan begitu mudahnya saat mereka masih kecil sampai sebelum masuk Seminari. Fasilitas bukan hanya fisik, tetapi juga kemudahan psikis, kenyamanan, tidak pernah dimarahi, tak pernah dilatih bekerja keras, semua dicukupi. Anak menjadi tak lagi mempunyai mental untuk berlatih kerja keras. "Jangan sampai anakku sengsara." Itu mental yang terjadi selama ini. HP di Seminari tak diizinkan untuk dipakai. Namun ketika di rumah, mereka difasilitasi HP. Bahkan secara sembunyi-sembunyi anak membawa HP ke Seminari, dengan mengorbankan novel yang dilubangi dalamnya untuk menyimpan HP.
Maksudnya adalah untuk lepas bebas dari sarana dan tidak lekat dengan fasilitas. Itu perlu dilatihkan. Dan itu baru salah satu hal saja sebagai latihan untuk menumbuhkan keutamaan. Sebagai calon imam tentunya tradisi dan inovasi dalam proses formatio itu juga diperhatikan. Seratus tahun lebih tradisi itu sudah dijalankan tetapi apakah akan rusak begitu saja oleh kemajuan teknologi informasi dari inovasi itu? Tentu tidak. Harus ada dialog mentalitas tradisional dan mentalitas modern. Mana itu sarana dan mana itu tujuan harus jelas. Jika sarana merusak tujuan, maka sarana dapat ditinggalkan. Pergulatan akan terjadi karena ada tegangan. Namun di sinilah proses formatio itu berlangsung. Tak semua itu mudah. Bukan semua yang mudah itu baik dan formatif. "Road to hell is paved by good intention". Niat baik belum tentu menjadikan semua itu baik jika melupakan tujuan formatio calon imam.
Oleh karena itu sementara ini yang kutemukan adalah formatio bukan hanya ditujukan kepada seminarisnya tetapi juga orangtuanya, keluarganya. Semakin ke sini, keluarga-keluarga zaman sekarang harus dirangkul dan diperhatikan sebagai para formator yang juga harus menjalani proses formatio dalam mendampingi anak-anak mereka. Bukan lantas segala sesuatunya diserahkan kepada para formator Seminari. Pernah terjadi bahwa orangtua memberi HP dan anaknya diskorsing. Kadang juga ada orangtua yang tak terima anaknya mengalami proses formatio dengan kebijakan yang sudah dijalankan sekian lama. Memang kita menyadari akan perlunya dialog, saling beri informasi, saling memahami bahwa pendidikan calon imam itu mempunyai kekhususan dan sebagainya. Bahkan ada persetujuan ketika masuk, namun yang namanya kilaf, kelalaian, kekurangmauan memahami dan sebagainya tetap saja terjadi. Kami menyadari bahwa zaman berubah, tetapi apakah kita akan hidup terlarut dalam arusnya zaman. Justru pendidikan (calon imam) pada dasarnya mau mengalami perubahan zaman sebagai bagian, disikapi, dan dijadikan "sangu" melatih diri agar tak lekat oleh arus itu dan mampu melihat dunia dan mencintai sebagai sarana mencapai tujuan yaitu kemerdekaan diri dan mampu menjadi orang-orang yang berlatih menyelesaikan dirinya.
Anies Baswedan dalam Kompas menulis "INDONESIA harus diurus oleh orangbaik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani: kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya." Kata kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya menggelitikku untuk menuliskan keprihatinan ini ("perih ing ati" yang menjadi akar kata "prihatin"). Kepemimpinan di manapun dan oleh siapapun juga harus demikian, orang terdidik yang sudah selesai dengan dirinya, selesai dengan pergulatan hidupnya, selesai dengan kelekatan-kelekatan yang menimbulkan self interest atau kepentingan-kepentingan yang menghalangi dirinya untuk memimpin secara jernih dan jujur. Nah, di sinilah proses dinamika formatio calon imam juga melatihkan agar sejak awal orang mampu ke sana, menyelesaikan segala pergulatan dirinya secara psikis, mental, dan kelekatannya itu. Di sanalah proses pendampingan itu diadakan. Jangan sedikit-sedikit merasa disusahkan, disengsarakan oleh para formator, atau bahasa sekarang di-bully. Kata terakhir ini sering menjadi senjata orangtua dan anak untuk menghindar dari latihan kerja keras. Bukan berarti aku menyepelekan bullying, tetapi jangan sampai itu menjadi excuse untuk tidak mau berlatih hidup berjuang."It is not easy to follow Jesus closely, because the path he chooses is the way of the Cross." Itu kata-kata Paus Fransiskus dalam twitter-nya. Tak mudah mengikuti jejak Yesus. Apalagi mau menjadi pemimpin yang mewartakan Dia sendiri. Generasi sekarang jelas berbeda dengan dahulu. Generasi sekarang adalah generasi yang sejak lahir disuasanai dengan hiruk-pikuk gadget, cellphone, ipod, ipad, laptop, tablet, dsb. Maka tak mengherankan jika mereka lekas bosan, tak jenak dengan duduk membaca, gelisah untuk ke dalam dirinya, karena hidup mereka serba harus cepat berganti dan lebih visual animated. Dunia virtual ada dalam darahnya. Games online merasuki jiwanya. Dan ketika mereka masuk dalam dunia yang harus hening, bergulatlah mereka dengan dirinya. Itulah gambaran dunia anak zaman ini. Inilah tantangan proses formatio di zaman ini pula.

