Friday, April 18, 2014

Perih ing Ati

Dalam dua hari ini, aku ditantang kesabaran dan minatku untuk berdoa. Lantaran hari kemarin ada anak yang di depanku sedari awal misa sampai konsekrasi pun masih tengak-tengok ke belakang, usil, usreg, jawil sana jawil sini kepada temannya, iseng, sampai membuang tisyu di kantong temannya. Hatiku merasa perih melihat hal ini. Aku masih mendiamkan, sebagaimana aku ingin diam sebelum "waktuku tiba nantinya." Ya, aku adalah seorang yang baru datang. Aku belum perlu untuk ini dan itu dulu. Aku lihat pemandangan yang ada dahulu baik itu menurutku pantas, dan baik itu yang tak pantas. Hari ini tadi anaknya kulihat berperan sebagai prajurit Romawi dalam visualisasi penyaliban.

Sore hari ini tadi ketika ibadat penghormatan Salib, aku juga agak dimangkelkan dengan orang tua yang ikut misa di Kapel Petrus Canisius. Bukan kehadirannya yang bikin hatiku mangkel tetapi komentarnya yang bikin aku merasa tidak enak. Aku pun merasa heran ternyata ada juga orang luar ikut misa di dalam. Lantas aku pun membandingkan dengan zamanku dulu. Yah, mungkin aku cenderung fundamentalis dalam hal ini, cenderung puritan kemungkinannya. Ada yang solis bermazmur sedikit fals, ia komentar. Ada koor yang fals, dia komentar. Lalu dalam hatiku komentar-komentar itu seperti menggema dan seolah berbicara sendiri: "Jangan-jangan maju dua kali dari penciuman salib lalu maju lagi untuk komuni juga dikomentari: 'Ngapain gak dibuat efektif dan efisien sih? Kan bisa maju cium salib dan komuni'." Itu yang terucap dalam hatiku.

Setelah ibadat selesai, aku tanya kepada Bruder yang sudah lama di sini, "Der, tadi itu orangtua seminaris atau siapa?" Bruder menjawab, "Ya, mereka itu orangtua seminaris." Aku memang melihat 2 mobil parkir di depan kapel besar. Yang satu berplat polisi B, yang lainnya AA. Itulah seminaris dan orangtua zaman sekarang. Ketika anaknya belum libur dan tidak dapat libur, mereka yang datang mengunjungi. Kemungkinan ketika "day off" hari Minggu besoknya, mereka akan mengajak anak mereka keluar dari Seminari untuk berkumpul bersama. Lantas aku juga bertanya, "Der, berapa banyak orangtua seminaris yang mantan seminaris?" "Banyak", jawab Bruder. 

Aku membayang-bayangkan dari kisah-kisah para formator di sini dari suasana yang terbangun di sini saat ini memang sangat jauh berbeda. Kedewasaan, kekritisan, daya juang, karakter seminaris banyak sekali berubah. Banyak kesulitan atau lebih tepatnya tantangan para formator saat ini karena harus memahami situasi anak dan orangtua/keluarga yang melahirkan seminaris pada zaman sekarang. Proses formatio dengan instrumen di Seminari sudah dibuat sedemikian rupa, namun ketika pulang ke rumah saat liburan, apa yang dibentuk di Seminari dimentahkan formatio di rumah mereka. Fasilitas diberikan dengan begitu mudahnya saat mereka masih kecil sampai sebelum masuk Seminari. Fasilitas bukan hanya fisik, tetapi juga kemudahan psikis, kenyamanan, tidak pernah dimarahi, tak pernah dilatih bekerja keras, semua dicukupi. Anak menjadi tak lagi mempunyai mental untuk berlatih kerja keras. "Jangan sampai anakku sengsara." Itu mental yang terjadi selama ini. HP di Seminari tak diizinkan untuk dipakai. Namun ketika di rumah, mereka difasilitasi HP. Bahkan secara sembunyi-sembunyi anak membawa HP ke Seminari, dengan mengorbankan novel yang dilubangi dalamnya untuk menyimpan HP. 

Maksudnya adalah untuk lepas bebas dari sarana dan tidak lekat dengan fasilitas. Itu perlu dilatihkan. Dan itu baru salah satu hal saja sebagai latihan untuk menumbuhkan keutamaan. Sebagai calon imam tentunya tradisi dan inovasi dalam proses formatio itu juga diperhatikan. Seratus tahun lebih tradisi itu sudah dijalankan tetapi apakah akan rusak begitu saja oleh kemajuan teknologi informasi dari inovasi itu? Tentu tidak. Harus ada dialog mentalitas tradisional dan mentalitas modern. Mana itu sarana dan mana itu tujuan harus jelas. Jika sarana merusak tujuan, maka sarana dapat ditinggalkan. Pergulatan akan terjadi karena ada tegangan. Namun di sinilah proses formatio itu berlangsung. Tak semua itu mudah. Bukan semua yang mudah itu baik dan formatif. "Road to hell is paved by good intention". Niat baik belum tentu menjadikan semua itu baik jika melupakan tujuan formatio calon imam. 

Oleh karena itu sementara ini yang kutemukan adalah formatio bukan hanya ditujukan kepada seminarisnya tetapi juga orangtuanya, keluarganya. Semakin ke sini, keluarga-keluarga zaman sekarang harus dirangkul dan diperhatikan sebagai para formator yang juga harus menjalani proses formatio dalam mendampingi anak-anak mereka. Bukan lantas segala sesuatunya diserahkan kepada para formator Seminari. Pernah terjadi bahwa orangtua memberi HP dan anaknya diskorsing. Kadang juga ada orangtua yang tak terima anaknya mengalami proses formatio dengan kebijakan yang sudah dijalankan sekian lama. Memang kita menyadari akan perlunya dialog, saling beri informasi, saling memahami bahwa pendidikan calon imam itu mempunyai kekhususan dan sebagainya. Bahkan ada persetujuan ketika masuk, namun yang namanya kilaf, kelalaian, kekurangmauan memahami dan sebagainya tetap saja terjadi. Kami menyadari bahwa zaman berubah, tetapi apakah kita akan hidup terlarut dalam arusnya zaman. Justru pendidikan (calon imam) pada dasarnya mau mengalami perubahan zaman sebagai bagian, disikapi, dan dijadikan "sangu" melatih diri agar tak lekat oleh arus itu dan mampu melihat dunia dan mencintai sebagai sarana mencapai tujuan yaitu kemerdekaan diri dan mampu menjadi orang-orang yang berlatih menyelesaikan dirinya.

Anies Baswedan dalam Kompas menulis "INDONESIA harus diurus oleh orangbaik: bersih dan kompeten. Republik ini didirikan oleh para pemberani: kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya." Kata kaum terdidik yang sudah selesai dengan dirinya menggelitikku untuk menuliskan keprihatinan ini ("perih ing ati" yang menjadi akar kata "prihatin"). Kepemimpinan di manapun dan oleh siapapun juga harus demikian, orang terdidik yang sudah selesai dengan dirinya, selesai dengan pergulatan hidupnya, selesai dengan kelekatan-kelekatan yang menimbulkan self interest atau kepentingan-kepentingan yang menghalangi dirinya untuk memimpin secara jernih dan jujur. Nah, di sinilah proses dinamika formatio calon imam juga melatihkan agar sejak awal orang mampu ke sana, menyelesaikan segala pergulatan dirinya secara psikis, mental, dan kelekatannya itu. Di sanalah proses pendampingan itu diadakan. Jangan sedikit-sedikit merasa disusahkan, disengsarakan oleh para formator, atau bahasa sekarang di-bully. Kata terakhir ini sering menjadi senjata orangtua dan anak untuk menghindar dari latihan kerja keras. Bukan berarti aku menyepelekan bullying, tetapi jangan sampai itu menjadi excuse untuk tidak mau berlatih hidup berjuang.

"It is not easy to follow Jesus closely, because the path he chooses is the way of the Cross." Itu kata-kata Paus Fransiskus dalam twitter-nya. Tak mudah mengikuti jejak Yesus. Apalagi mau menjadi pemimpin yang mewartakan Dia sendiri. Generasi sekarang jelas berbeda dengan dahulu. Generasi sekarang adalah generasi yang sejak lahir disuasanai dengan hiruk-pikuk gadget, cellphone, ipod, ipad, laptop, tablet, dsb. Maka tak mengherankan jika mereka lekas bosan, tak jenak dengan duduk membaca, gelisah untuk ke dalam dirinya, karena hidup mereka serba harus cepat berganti dan lebih visual animated. Dunia virtual ada dalam darahnya. Games online merasuki jiwanya. Dan ketika mereka masuk dalam dunia yang harus hening, bergulatlah mereka dengan dirinya. Itulah gambaran dunia anak zaman ini. Inilah tantangan proses formatio di zaman ini pula. 

Sunday, April 13, 2014

Piye Kabare?

Daun Palem atau Palma atau Palm menandai perhelatan sebagian orang di penjuru dunia untuk merenungkan sebuah JALAN. Jalan yang satu ini sering terdengar dan didengungkan banyak kalangan tetapi tak jarang pula JALAN ini merupakan jalan yang disingkiri sekian juta orang. Ada yang menempuhnya tetapi tak sedikit yang menyingkirinya. Siapa yang akan menyukai sebuah JALAN kalau melewatinya pun harus kerja keras, "rekasa", "ngaya", "kakehan gaweyan"(orang Jawa bilang), jerih lelah, dan sebagainya. Jalan ini bukan saja berwujud fisik yang ditapaki kaki dari satu tempat ke tempat yang lain.

Memang JALAN ini sering disebut sebagai jalan SALIB. "Jalan koq bernama salib. Jalan koq ada salibnya?" Ya jelas saja siapa mau disalib. Disalib bisa diartikan: (1) didahului ketika kita sedang enak-enak berjalan atau (2) dipaku di kayu palang yang berbentuk salib itu. Dari artinya pun  kita sudah dapat merasakan bahwa itu tidak mengenakkan. Dan ekspresi orang ketika tidak suka bisa bermacam-macam. Ada yang mengatakan "saya sering buat tanda salib tetapi untuk menjalaninya, hmmmm…ya tunggu dulu…." Itu pun diungkapkan dalam hati. Mau terungkap di mulut, masih berat. Takut dinilai tidak beriman, katanya. Ada juga orangtua yang mengatakan, "Ojo nganti anak putuku mengko rekasa kaya jamanku! " (Jangan sampai anak cucu saya nanti sengsara seperti zaman saya dulu). Dan yang lebih mengesan dan dibuat kesan sampai saat ini adalah sebuah gambar yang sudah meluas beberapa waktu lalu. Gambar itu menunjukkan seorang bekas pemimpin negeri ini dengan sebuah kata-kata: "Piye kabare Bro, isih enak jamanku tho?" (Bagaimana kabarnya saudara, masih enak zamanku kan?).

Jelas-jelas, ekspresi manusia di manapun dan kapan pun itu, sering lebih mau mencari enaknya daripada tidak enaknya. Manusia lebih mau mengarahkan hidup ini pada sebuah kenyamanan (yang tentu berbeda dengan keselamatan). Lalu apa bedanya dengan keselamatan? Seorang dosen pernah membandingkan demikian: Pada suatu hari seorang mahasiswa lulus ujian lisan di kampusnya. Karena saking senengnya, ia bersorak-sorak dan naik motor di jalan. Namun karena kurang hati-hati, ia menabrak motor lain di jalan yang ramai itu. Lalu ia dibawa ke Rumah Sakit untuk dirawat karena kakinya patah.

Sementara ia lulus ujian dengan memuaskan tetapi ia tidak lolos dari kecelakaan karena kurang hati-hatinya. Contoh sederhana itu hanya mau menggambarkan bahwa keberhasilannya saat ujian itu adalah kebahagiaan. Tetapi di jalan ketika pulang dari kampus ia masih harus berhati-hati atau bertanggungjawab atas hidupnya. Ia masih harus mengusahakan sesuatu yang lebih dari sekedar lulus ujian itu yaitu pulang sampai rumah dalam keadaan sehat dan dapat merayakan kegembiraan itu dalam keadaan yang baik. Itulah keselamatan.

Itulah JALAN yang harus kita tempuh. Tidak cukup hanya sampai pada kegembiraan dapat lulus dari ujian ini dan itu dalam hidup tetapi sampai batas akhir JALAN hidup itu dialami yaitu sampai sebuah perjumpaan dengan yang ilahi. Entah jalan di dunia ini terjal, berliku, kerja keras, dan penuh tantangan. Dan SALIB adalah sebuah penegasan (setidaknya kata St Ignatius dari Loyola) bahwa JALAN KESELAMATAN adalah JALAN SALIB itu. Jalan yang ditempuh Sang Guru sendiri sampai setia di Golgota. Golgota bukan sebuah akhir, tanpa harapan, tetapi di sanalah konformasi itu akan terjadi. Tanpa salib, iman kita mengatakan, tak ada kebangkitan. Salib sudah dialami sejak awal hingga akhir hidup Sang Guru.

Kembali kepada palma yang melambai-lambai, kembali pula pada perhelatan hidup di mana ada sorak-sorai tetapi juga sorak sorai itu bisa jadi kegembiraan dan pujian; sementara itu nanti sebagai hujatan dan cemoohan untuk membunuh Sang Guru, Raja yang sedang memasuki kotaNya. "Hosana Putera Daud, terpujilah yang datang atas nama Tuhan!" Suatu saat nanti menjadi: "Salibkan Dia ! Bunuh saja Dia!"


Minggu Palem 2014
BM-Solo



The way of the cross, the way that we often avoid. we avoid the WAY because we choose another way. We prefer the easy way to do things. No need to struggle. And I remember the Song: "It's a long road to freedom. A winding steep and high, but when you walk in love with the wind on your wing and cover the earth with the songs you sing, the miles fly by." Let's follow our King to Jerusalem.