Setelah muncul pengumuman kabinet Jokowi beberapa waktu lalu, ada fenomena menarik menurutku yang membuat aku bertanya-tanya dalam hati: "ini fenomena apa ya?" Fenomena itu adalah beberapa dari sekolah-sekolah yayasan katolik memanfaatkan momentum itu untuk mengucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya beberapa nama menteri yang berasal dari alma mater tertentu dengan yayasan sekolah tertentu. Aku pikir itu semacam ada peresmian hal tertentu lalu banyak orang berbondong-bondong mengirim ucapan karangan bunga atau ucapan di media massa. Yang terpikir spontan memang "ah, itu paling hal biasa memberi ucapan karena ikut berbangga", namun di sisi lain aku pun berpikir kritis juga (atau ini mungkin terlalu curiga di balik ucapan-ucapan itu). Bagiku ini suatu hal yang sebenarnya fenomena "nunut mulya" dari pada alumni sekolah dari yayasan pendidikan tertentu yang merasa bahwa mereka sudah turut berperan atas keberhasilan seseorang sehingga menjadi menteri.Apakah itu salah? Apakah itu ganjil? Ya bukan sih, namun aku hanya menyorot adanya fenomena orang yang suka mengiklankan diri. Ada sebuah cuplikan di acara televisi demikian: "Jika kalian mau dilihat sukses dan bisa berbuat sesuatu, "juallah" diri anda di media sosial. Apa yang bisa anda lakukan dan iklankanlah diri anda di situ!" Nah, bagiku ucapan-ucapan itu mau menarik orang supaya melihat: "Itu lho pak menteri A itu berasal dari sekolah itu dulunya." Inilah iklan terselubung yang ada dalam motivasi orang mengucapkan selamat dan sukses. Sepertinya mau mengucapkan kepada pihak lain, tetapi sebenarnya motiasi terdalam dan terselubungnya adalah supaya sekolahku atau yayasanku dikenal banyak orang dengan cara "menjual diri" lewat media sosial. Polanya adalah memberi sesuatu supaya sesuatu juga datang kepada dirinya. Istilahnya (Latin) "do ut des" (aku memberi supaya kamu memberi juga).
Harapan dari sebuah iklan adalah supaya semakin banyak orang membeli produk dan jasa yang dibuat. Dengan mengucapkan "selamat dan sukses" diharapkan banyak orang berbondong-bondong menyekolahkan anaknya atau keluarganya di sekolah yang adalah alma mater dari menteri A dan atau yang lain. Sepertinya jika menyekolahkan anaknya di sekolah itu bakalan sukses menjadi menteri atau orang-orang yang sukses. Itulah pola iklan produk dan jasa, dan sekolah-sekolah kita sudah menjual jasa dengan pola-pola itu. Memang ini zamannya orang sadar akan kesuksesan yang ditentukan oleh pabriknya, produsennya. Inilah zaman yang sadar akan pentinya asal muasal dari sebuah "produk" lulusan tertentu supaya mendongkrak reputasi dari lembaga yang ada. Itu semua motivasi di balik ucapan selamat dan sukses yaitu supaya sekolahnya diminati banyak orang. Harapan setelahnya adalah bahwa sekolah-sekolah dan yayasannya itu berbuat sesuatu yang memang menjadi harapan banyak orang dan memang memberi jalan bagaimana menjadi sukses sebagai pribadi manusia.
Semoga harapan ini bukan hanya isapan jempol dan hanya motivasi sesaat yang sempit cakupan idealismenya. Jika hanya mau membanggakan diri demi hal-hal yang sifatnya motivasi egois, maka semua itu hanya merupakan kebanggaan diri yang sempit. Sekolah atau yayasan pendidikan sah-sah saja mengiklankan diri demi meraup keuntungannya, namun jangan hanya dipersempit demi diri sendiri. Kebanggaan diri hanya mau "nunut mulya", nebeng ketenaran dari alumni yang pernah bersekolah di situ dan menjadi sukses secara duniawi dengan status jabatannya. Sedangkan alumni yang tidak sukses secara duniawi dan jabatan juga banyak. Sekolah atau para guru memang berharap semua muridnya di kemudian hari menjadi orang-orang yang sukses, berguna bagi banyak orang. Itu semua normal dan lumrah.
Oleh karena itu, pendidikan bukan sekedar mau menghasilkan atau mencetak mereka-mereka yang terlihat mentereng saja, namun lebih dari itu mendidik para pemimpin yang memang mampu melayani banyak orang, bahkan bagi mereka yang tidak dianggap oleh dunia sekalipun. Gelar atau status sosial atau jabatan itu memang penting, namun yang lebih penting adalah bagaimana semua itu dipakai untuk melayani semakin banyak orang. Mengiklankan sekolah atau lembaga di mana mereka yang sukses atau berhasil menduduki jabatan tertentu itu baik asal tidak hanya demi sebuah kebanggaan egoisme diri belaka. Ditambah lagi bahwa iklan itu bukanlah sebuah pemoles palsu dari sebuah lembaga pendidikan atau sekolah. Iklan yang baik adalah iklan yang memberikan atau menawarkan apa yang isi dan kemasan itu sama. Bukan hanya kemasannya baik namun isinya jelek. Masyarakatlah yang akan menilai sendiri pada akhirnya, apakah banyak follower atau subscriber-nya atau tidak. Memang kadang kita hanya "nunut mulya" pada alumni yang jadi orang sukses demi reputasi dan kebanggaan diri kita saja. Semoga itu semua disadari dan tidak menjadi jebakan dalam motivasi terdalam diri kita.
#night-in my room#smg#