Tuesday, March 24, 2015

Membantu

Kerap ada dilema dengan kata "membantu". Setidak-tidaknya aku pernah mengalami makna kata ini dengan biasanya kasus-kasus yang menyangkut nyawa orang. Atau setidak-tidaknya kasus yang berkaitan dengan memutuskan nasib seseorang. Tidak mudah. Penuh pertimbangan. Ada ketidaknyamanan antara perasaan atau pertimbangan logika. Keduanya harus sepadan sehingga objektif. Itulah mengapa pertimbangan moral selalu kaitannya dengan conscience kita. Tidak bisa hanya berdasarkan like and dislike. Atau sebaliknya berdasarkan pertimbangan ranah nalar saja sehingga tidak dipikirkan.

Motivasinya baik, "membantu" tetapi kalau ada pamrih supaya ada pujian dari orang lain, maka tidaklah baik dari sisi motif. Orang perlu melihat sampai sedalam itu karena manusia ternyata tidak hanya hidup dengan perasaan saja atau dengan pikiran saja. Ada motivasi-motivasi sadar maupun tak sadar yang perlu diperhatikan. Di situlah conscience seseorang itu hidup atau tidak. Co yang atinya bersama, scire yang artinya mengetahui. Mengetahui bersama antara nurani dan nalarku, itulah moralitas manusia. Respon kita bukan respon secara perasaan saja atau nalar saja tetapi respon yang benama kemampuan manusia sebagai manusia adalah dalam hal moralitas ini. Respon ability-nya sungguh berarti dalam arti moralitas manusia. Tanggung jawab (responsible) artinya kemampuan menanggapi dengan baik itulah kemampuan manusia yang selayaknya diungkapkan dalam hidup sehari-hari.

Kasusnya demikian: dalam sebuah sekolah ada seorang anak yang sudah tidak krasan mengikuti kegiatan apapun. Pelajaran dari pagi sampai siang isinya hanya tidur bagi dia. Kadang kalau sudah tidak sanggup pelajaran, ia membolos. Hidupnya berbeban berat. Ia sudah tidak punya hati di sekolah itu. Namun demikian ada pihak staf di sekolah itu mau membantu dia. Staf itu tidak ingin dia dikeluarkan oleh pihak sekolah karena dia membutuhkan pendampingan khusus, yang kurang dapat disediakan oleh sekolah itu. Pihak guru-guru lain melihat dia sudah bosan mengingatkan agar tidak membolos atau tidur di kelas. Namun dari pihak anak tersebut sudah tidak punya kesanggupan untuk hadir dan beraktivitas sesuai aturan main di sekolah itu. Angin-anginan yang terjadi. Dia kadang nongol di sekolah. Dia kadang tidur. Konteksnya adalah sebuah asrama. Jika dalam sekolah non asrama pun sebenarnya juga bisa jadi acuan namun lebih khusus ini terjadi dalam kompleks sekolah asrama. Guru-guru lain sebenarnya sudah tidak tahan dengan dia yang angot-angotan itu.

Inilah tantangan itu. "Membantu" dalam arti memberi rekomandasi baik dari anak yang sudah tidak sanggup, tidak berdaya tidaklah mudah. Di sisi lain ada keinginan agar tidak dikeluarkan karena kondisi anaknya. Memang sudah dicoba untuk mengajak bicara anaknya dari para guru dan staf yang lain. Ada ketertutupan dalam diri anak yang sudah tidak krasan ini. Labelinglah yang kemudian terjadi. Setiap guru sudah tidak suka dengan sikap dan perilaku dia karena ndableg. Tidur atau membolos bagi dia akhirnya pola hidupnya. Bahkan ketika dilarang membolos, ia menjawab seorang guru:"Daripada saya membolos, Pak, saya moso tidak boleh tidur." Hidupnya terbebani oleh pergulatan sehingga tak bersemangat.

Membantu dalam konteks anak ini bukan kemudian mempertahankan dia di asrama karena hatinya dan juga ia akan menderita kalau mengalami seperti ini terus. Rekomendasi sebenarnya adalah membantu agar ia mampu memutuskan pilihannya di sini atau di luar.  Sayang, karena jika dipertahankan terlalu lama, maka ia akan semakin menderita dan guru-guru serta teman lain yang melihatnya malah menyayangkan dia. Reaksi rekan lain juga tidak senang karena ia sudah tidak bisa diberitahu. Nah, "membantu" akhirnya juga harus sampai pada membuat dia memutuskan dalam waktu singkat: terus atau keluar secepatnya. Membantu tidak selalu dalam konteks baik dan nyaman bagi si anak tetapi membantu yang lain yang masih ingin berdinamika dengan serius di sekolah yang sama.

Kadang ada motivasi dalam diri kita untuk seperti Robin Hood yang "membantu" orang-orang kecil dengan mencuri barang-barang orang kaya atau keluarga kerajaan Edward dalam legenda sejarah Inggris di Notingham. Memang dalam konteks itu ada situasi represif masyarakat yang membutuhkan figur Robin Hood. Ada juga motivasi dalam diri kita untuk menjadi "gembala baik" yang akan membantu 1 domba yang hilang dan meninggalkan 99 lain agar yang 1 itu tetap selamat. Konteks di sini adalah panggilan pertobatan. 99 domba ada dalam lahan yang aman dan nyaman di padang yang hijau dan ada yang menjaga. Nah, dalam konteks mendampingi pribadi yang perlu memutuskan, apakah harus ditunda-tunda sehingga si pribadi muda ini malah kehilangan momentum mengambil keputusan? Pendewasaan dan kedewasaan dari keduabelah pihak harus menjadi perhatian bersama. Sejauh mana motivasi diri kita membantu juga akhirnya objektif.

Membantu mengarahkan seseorang menemukan jalan hidupnya. Membantu juga mengandaikan ketegasan dan berani memutuskan, mengambil kebijakan bagi pribadi tertentu agar yang lain juga terbantu. Nah, mari kita lihat diri kita, sejauh mana aku sungguh menghayati kata "membantu" dalam hidup sehari-hari.




Before noon time@my office