Tokoh kita tak lain adalah Si Bung Besar. Sosok ini telah membuat banyak orang di negeri ini terpana dan sampai saat ini telah dibuatnya jatuh hati. Dari rakyat jelata sampai tokoh publik pun tidak bisa mengelak bahwa Si Bung Besar itu telah berjasa walau tentu ada kekurangannya. Kalau kita hanya melihat sosok dari satu sisi, memang kita cenderung jadi fanatik atau sebaliknya: antipati. Kita perlu melihat secara berimbang segala sesuatunya. Seorang tak lepas dari kekuatan dan kelemahannya. "Never judge anyone shortly because every saint has a past, and every sinner has a future," kata Oscar Wilde.
Aku mencoba melihat dari akhir masa hidupnya. Dia masih sangat energik dan bersemangat untuk berjuang bagi negeri ini. Bahkan di masa akhir kepemimpinannya, ia masih berambisi untuk menyerang negeri seberang dengan kata-kata "ganyang!" Sebuah ungkapan kata yang agresif dan menakutkan. Agitasi yang dibuatnya memang membuat banyak pihak gentar dan marah. Kemarahan yang ditimbulkan dari ancaman si Bung Besar memang akhirnya memakan dirinya. Dirinya dimakan oleh kemarahan dan dendam orang-orang di sekitarnya. Dendam dan kemarahan orang-orang di sekitarnya telah membakar dan meluluhlantakkan segala yang dirancang si Bung Besar. Dan seolah-olah kata "ganyang" itu memakan dirinya sendiri yang "terganyang" oleh balas dendam dan kemarahan pihak lain.
Aku teringat bagaimana di masa mudanya, ia adalah sosok yang berjuang sampai diasingkan dan akhirnya di akhir masa kekuasaannya ia pun mengalami "pengasingan". Musuhnya tahu betul bahwa pengasingan yang sepi dan jauh dari siapapun membuatnya pelan-pelan mati karena semasa hidupnya ia pernah mengatakan, "Jika ingin membunuhku, jauhkanlah aku dari rakyatku". Dan seolah apa yang dikatakan itu jadi hal yang dipakai untuk membunuhnya sendiri. Ketika zaman kolonial Belanda, ia diasingkan ke berbagai tempat: Digul, Flores, Sumatra. Dan ketika di masa akhir kekalahannya, ia "diasingkan" sebagai tahanan rumah di Wisma Yasso. Itulah perjalanan hidupnya. Itulah perjalanan si Bung Besar yang ternyata ketika muda diasingkan dan di masa tua juga diasingkan.
Pengasingan bisa jadi penyemangat ketika masih bisa dekat dan berbuat sesuatu. Namun pengasingan bisa jadi senjata pembunuh ketika semua dibatasi dan diawasi, tidak bisa melakukan sesuatu yang berguna bagi hidupnya. Ketika di Flores, si Bung Besar masih bisa menjalankan aktivitasnya sebagai pembaca buku, menulis, dan bermain teater bersama masyarakat sekitar. Pengawasan dari Belanda ada namun tidak seketat ketika di Wisma Yasso. Hidupnya di Flores masih bisa berdiskusi dengan warga sekitar. Ia masih bisa berdiskusi dan membaca buku di perpustakaan biara salah satu tarekat katulik. Ia berdiskusi dengan pastur Johanes Bouma dan Gerardus Huijtink. Keduanya pastur Belanda. Ketika di Ende Flores itu, ia masih bisa bermain dengan para nelayan dan anak-anak pantai. Ketika itu, ada juga tentara yang mengawasi namun masih bisa dikelabuhi.
Berbeda dengan waktunya di Wisma Yasso, ia sama sekali dipenjara di dalam rumah. Bertemu keluarganya pun dilarang kalau tidak penting. Bahkan bertemu dengan sahabatnya pun dilarang. Ia hanya bisa bertemu keluarganya kala mendapat kiriman makanan. Pembicaraan pun dilarang berlama-lama. Si Bung Besar mengalami keterasingan yang mematikan. Ia hidup dalam kesepian diri. Ia akhirnya tak kuasa menahan sepinya hidup yang terasing dan terpenjara. Ia dilumpuhkan dan dilucuti dari segala sesuatunya. Jasa-jasanya di saat membangun dari nol negeri ini seolah ditampik. Jasa-jasanya ketika memperjuangkan tegaknya sebuah bangunan negara bangsa ini seolah ditiadakan dari ingatan dan sosok dirinya. Ia dianggap sebagai sebatang tubuh reyot yang tidak berharga gara-gara keberaniannya menyerang mereka yang berkuasa dan yang punya senjata. Di sisi lain, ia juga sangat terbuka dan blak-blakan dengan dirinya dan ideologinya sehingga musuhnya pun mudah mengincarnya. Sosok yang dahulu berkobar-kobar dan bersemangat orasi, pidato, pada akhirnya tumbang oleh pengasingan dan dijauhkan dari rakyatnya. Akhirnya ia pun dibunuh oleh musuh dari dalam dan dari luar yang memanfaatkan orang dalam.Keterasingan itulah yang akhirnya dialami oleh si Bung Besar. Keterasingan di masa muda ternyata berlainan ketika di masa tuanya. Kerapuhan dirinya tak bisa melindunginya. Ia pun diserang dengan berbagai propaganda hitam untuk mengakhiri kekuasaannya. Ia diserang dengan kemarahan dan protes besar yang melengserkan kekuasaanya. Dan yang sangat tragis adalah ia diporak-porandakan oleh keculasan pihak-pihak yang memakai suratnya untuk melumpuhkan dirinya. Senjata makan tuan. Ia "terganyang" oleh surat yang dibuatnya, walau sebenarnya itu tidak dimaksudkan untuk hal seperti itu. Surat itu akhirnya dipakai yang menerima mandat dengan motivasinya sendiri yang sangat berbeda dari yang dimaksud si Bung Besar.
Sebenarnya para pengikutnya masih ingin si Bung melawan. Bahkan ada yang berhasil menyusup ke Wisma Yasso yang dijaga ketat oleh aparat. Si Bung dengan sangat hati-hati dan akhirnya merelakan semua dilucuti dari dirinya dengan mengatakan bahwa sebagai saudara tidak boleh terjadi perang antar saudara. Bahkan si Bung mengatakan kepada pengkutnya supaya tidak terjadi pertumpahan darah antar mereka. Walau apa yang diharapkan si Bung tidak terjadi. Pertumpahan darah tetap terjadi. Balas dendam berdarah pun terjadi: kematian tujuh orang perwira tinggi dibalas dengan jutaan nyawa rakyat jelata yang dianggap membangkang oleh penguasa dan para musuh si Bung. Itu yang membuat negeri ini sampai saat ini tetap menyembunyikan kekejian yang pernah dibuatnya sendiri. Jadi pertumpahan darah itu tetap saja terjadi, bahkan lebih mengerikan daripada yang dikhawatirkan si Bung. Si Bung bisa saja dianggap bersalah. Namun demikian tetap saja ada yang lebih bersalah ketika ada yang mau jadi jagal bagi saudaranya sendiri. Dan karena hal ini, bangsa ini masih tetap saja merasa tak mau membongkar dan mengakui bahwa telah ada kesalahan karena kekejaman yang memakan nyawa saudara sendiri. Hanya pengasinganlah yang bisa membunuhnya. Sebenarnya saat demo besar-besaran dan propaganda hitam itu hampir saja membunuh karakternya. Entah dia disebut tukang kawin, anjing Peking, dan sebagainya, namun ternyata pembunuhan karakter tidak segampang itu untuk sekelas si Bung.
Yang pasti, di masa tuanya, dia dan keluarganya tidak memakan uang rakyat. Bahkan yang paling mengharukan adalah dia tidak punya uang sepeserpun untuk membeli buah. Ia meminjam atau meminta uang ajudannya untuk membeli sesuatu. Ia dimiskinkan atau tidak punya harta material sebagai orang yang disebut pendiri bangsa, mantan pemimpin negeri, pemimpin besar. Dan kiranya itulah yang tertanam kuat di seluruh negeri ini bahwa seburuk-buruknya karakter si Bung, ia pada akhir hidupnya tidak punya apa-apa selain kecintaannya pada rakyat dan negeri ini. Semua dilucuti.
Ah, masih banyak sebenarnya yang ingin kuungkapkan namun pasti tak cukup untuk cerita di lembar ini. Aku mengingat sebuah kuburan massal di daerah kelahiranku dan itu cukup untuk mengenang bagaimana banyak saudaraku yang terbunuh karena tragedi penjagalan nyawa manusia sebelum aku lahir. Mengenang si Bung, aku jadi mengenang Mbah Jenggot dan banyak saudara tak kukenal dalam lubang yang kuburan massal itu. Aku masih ingat ungkapan dari salah seorang yang aku lupa namanya, menulis demikian: "Indonesia ini lahir dari penculikan (peristiwa Rengas Dengklok), dibaptis dengan darah pembantaian (tragedi 1965)". Dan itu bisa diteruskan, "... dibesarkan dengan darah sekian nyawa selama 32 tahun". Negeri ini masih terasing dengan dirinya karena masih banyak nyawa diasingkan dalam lubang kuburan massal yang sudah banyak tak dikenali dan tidak mau mengakui bahwa adanya kesalahan karena pembantaian besar-besaran itu. Kesalahan itu ditutupi dan entah sampai kapan mau diakui.
#malamhari#
