Friday, October 30, 2020

Banyak Hal

Melihat situasi saat ini memang serba melambat. Namun demikian kadang orang butuh cepat. Ketika percepatan tidak lagi menjadi hal yang bisa dengan leluasa berjalan, maka banyak hal terjadi. Ada yang komplain. Ada yang bosan. Ada yang mengeluh. Ada yang frustrasi bahkan. Semua itu gegara tidak adanya hal yang dengan leluasa dijalankan "seperti dulu lagi". Orang ingin semua kembali ke "dulu lagi". Namun ada pula yang tidak ingin ke "dulu lagi". Mereka menyebutnya dengan "new normal" atau "normal baru" atau sebutan lain lah yang terkesan keren atau memang menandakan sebuah perubahan. Perubahan ini ada dalam ruang dan waktu. Aku ini ada di dalam ruang dan waktu. Banyak hal ada dalam ruang dan waktu, walau tak semuanya. 

Di saat yang tidak menentu ini, aku pun hanya berharap bahwa semua dalam keadaan selamat dan sehat. Banyak ucapan yang kadang kuterima tiap pagi atau tiap hari membosankan. "Selamat pagi" setiap hari, renungan tiap hari, ucapan itu entah ada di grup medsos atau japri. Aku pun mematikan secara temporary salah satu media sosialku karena tidak ingin terjerembab atau terjebak dalam penikmatan hal-hal yang mengacau atau mendistraksi fokusku. Selain itu aku mengantisipasi hal-hal lain yang bagiku mengganggu secara mental maupun hal-hal yang sifatnya personal. Orang saat ini bisa saja "bludusan" ke "rumah" milik kita hanya dengan "click" yang menandakan dengan jari itu "kepo" dengan berbagai hal yang kita punyai, entah di masa lalu, masa sekarang dan bahkan masa depan dalam impian-impian kita. Tak ada lagi yang tersembunyi saat ini. 

Di samping itu, kondisi yang diakibatkan virus ini (kadang aku masih percaya atau tidak) membuat orang makin takut, kuatir, curiga, dan serba menjaga diri. Aku pun pernah ditanyai orang serumah "Apa kamu kena virus itu, koq lama mengisolasi diri?" Jawabku: "Aku hanya ingin mengisolasi diri dan memastikan kesehatanku saja karena habis bepergian. Aku tidak tahu kemarin aku ketemu siapa dan bisa jadi aku pembawa (carrier) dari virus itu." Bagiku banyak hal mulai terpikirkan bahwa aku harus memastikan diri, aku harus memastikan diriku aman, aku harus memastikan diriku aman bagi orang lain juga. 

Di sisi lain, ada hal-hal yang kukerjakan juga mengurus orang-orang di sekitarku. Justru karena mengurus orang inilah aku harus lebih berhati-hati. Mengurus orang bukan seperti mengurus barang yang kalau tidak beres bisa ditendang. Orang tidak bisa dengan seenaknya kita tendang. Justru itulah kehati-hatian yang lain perlu dipahami. Sekali lagi, orang butuh kecepatan dan orang butuh kepastian bahkan sampai detil juga kadangitu dituntut. Aku menyadari bahwa tidak semua harus detil. Kadang common sense pun harus bicara dan berjalan. Tak semua harus dinyatakan dengan detil dan apa-apa harus ada informasi jelas. Hidup ini tidak semuanya dan tidak selamanya jelas. Kejelasan ada yang hadir di awal. Ada yang di tengah. Ada yang di akhir fase. Semua itu tergantung bagaimana aku melihat bahwa kejelasan itu bagian dari proses menghidupi banyak hal itu. 

Hanya waktu yang akan menjawab semua itu, baik itu kepastian dan kecepatan. Waktu punya ritmenya sendiri. Waktu punya jawabannya sendiri. Waktu adalah kunci. Tanpa kita sadari waktu pun kita benci karena kadang tak memberi kecepatan dan tak memberi kepastian. Apalagi dia tak memberi kita detil teknisnya. Namun demikian, Sang Chronos tetap akan memberikan tak kurang dan tak lebih. Dia akan memberikan tepat di saatnya dan seberapa jumlahnya. Banyak hal akhirnya kita berserah pada waktu.


#Pagi di ruangku#