Bulan penuh harapan artinya bulan yang membawa kita pada melihat apa yang sudah ada di belakang kita (kilas balik) dan sekaligus bulan antisipasi ke depan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Harapan diperlukan orang untuk hidup. Harapan tidak mematikan jiwa. Harapan selalu harus dibawa kalau kita itu berjalan dalam ketidakpastian, karena yang pasti dalam hidup adalah ketidakpastian itu sendiri. Harapan membawa orang pada kesabaran. Harapan membawa orang pada optimisme, bukan patah arang atau putus asa. Harapan itu membawa jiwa besar dan hati rela berkurban. Itulah generosity, big heart, sense of gratitude.
Aku sedang belajar ke sana. Beberapa hari lalu aku dikirimi WA, yang intinya mengajak aku untuk mellihat pengalaman para guru yang bekerja di daerah "terganggu", serba terbatas dan itu mau dicontohkan ke guru-guru yang kerja di daerah mapan seperti sebagian besar sekolah dengan fasilitas yang ada dan cukup tenang dan nyaman. Lalu aku diminta buka link yang menuliskan kisah guru di pinggiran rel yang penuh kebisingan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kualitas pendidikan di tengah berbagai situasi dan konteks yang ada. Di sana ada guru dengan persoalan (tantangan) mendidik di lahan pinggir rel. Di sana ada budaya dan mentalitas murid di lingkungan pinggir rel. Di sana ada komunitas keluarga dan manusia pinggir rel. Oleh karena itu, sebagai settingan sekolah (compositio loci) dari sebuah ruang pendidikan sudah tidak layak. Alasannya, ada kebisingan permanen dan rutin karena jalur kereta. Ada keluarga-keluarga yang menyekolahkan anak-anak mereka di mana ruang hidup mereka adalah lahan sempit dan berhimpitan. Ada di sana karakter guru di dalam membiasakan diri untuk mendidik masyarakat yang seperti itu.
Nah, bayangkan saja, jika seorang guru tidak tahan dengan situasi bising, bagaimana akan mendidik anak-anak "lahir dari" dan "didikan" pinggiran rel ini? Ada juga situasi bahwa keluarga-keluarga mereka adalah kaum pinggiran kota yang hidupnya juga tidak mapan, kalangan miskin kota, yang makan pun tidak rutin. Sarapan pagi tidak rutin. Kenyamanan suasana juga tidak permanen. Nah, ada persoalan yang mendasar dalam sebuah komunitas sekolah ini yakni kualitas ruang pendidikan tidak standar hanya karena letak di pinggir rel dan kebisingannya.
Teman saya ini sebenarnya mau menyindir dan membandingkan dengan komunitas tempat kami. Kami cukup nyaman dan mapan dari segi setting tempat. Semua mewah kalau soal suasana. Yang tidak mewah adalah kecakapan dan kehendak guru mendidik. Itu sebenarnya poin dasarnya. Lalu aku balas saja spontan: "Thanks. Justru dalam kondisi mapan dan terjamin, orang lupa bersyukur, sense of gratitude...need big heart." Waktu itu aku belum membaca artikel dalam link itu. Namun aku sudah bisa memaca sekilas ke mana arahnya.
Orang nyaman dan mapan lupa akan rasa syukur. Dan itu efeknya pada kemalasan berkembang dan belajar. Efeknya adalah seperti yang kudengung-dengungkan entah tertulis atau lisan bahwa kemapanan membawa kematian. Perjuangan dan kerja keras membawa pada kehidupan karena survival itu membawa hidup. Demikian hukum Darwin. Species yang bertahan dan mampu menyesuaikan diri dalam kejamnya kehidupan dan milieu-nya, dialah yang akan bertahan dan berkembang biak dengan perubahan-perubahan bentuk hidupnya. Species yang mapan dan tidak mampu beradaptasi dengan alam, tidak mau bekerja keras dalam perjalanan usianya, dialah yang akan mati. Kukira hukum alam seperti ini juga berlaku dalam dunia pendidikan dalam arti suasana, bukan yang seharusnya.
Orang-orang yang berjuang, lembaga-lembaga yang mau berjuang dari dalam, maka bentuk luarnya adalah kebertahanan hidup. Orang yang berjuang itu tentu punya kekuatan dalam pengharapan. Harapan itu sungguh daya kuat dalam hidup untuk bertahan dan berkembang. Harapan itu harus ditumbuhkan tiap saat karena dengan demikian kita menciptakan hidup. Kalau hanya ketakutan, teror, pesimisme yang kita tebarkan, maka milieu kita pun juga akan menjadi yang sama. Komunitas, lembaga, keluarga yang hanya menebarkan teror dan ketakutan maka akan menghasilkan manusia-manusia yang kerdil dan serba takut. Biasanya masyarakatnya pun hanya masyarakat yang membeo, takut salah, tidak berinisiatif, asal bapak senang, dan sebagainya. Pendidikan dalam keluarga yang tidak memberi tempat pada harapan, maka akan menghasilkan pribadi-pribadi yang tak tegas mengambil keputusan. Yang anak dapatkan hanya tekanan dan instruksi atau bahkan paksaan dari yang lebih kuat atau berkuasa ke yang tidak punya power. Abuse of power mulai dari keluarga bisa jadi. Maka aku pernah menulis bahwa ambisi orangtua pun bisa menjadikan bullying dari orangtua ke anak.Harapanku adalah bahwa dengan mengingat bulan Desember ini Adven pun terjadi. Datanglah atau Maranatha itu terjadi. Menantikan kedatangan adalah melatihkan harapan, menumbuhkan asa. Menantikan adalah melatih kesabaran dan itulah sense of gratitude, a big heart, membuat ruang bagi yang lain. Harapan itu membantu kita untuk sabar. Sabar itu melatih bertahan. Dan bertahan itu melatih untuk hidup. Aku, yang menuliskan inipun, juga selalu dan sedang terus belajar untuk sabar. Dan aku pun sering bergurau tentang kesabaran ini, bahwa aku ini orang yang sebenarnya tidak sabaran. Sejak dari gen ibuku, aku adalah orang tidak sabaran. Maka aku perlu belajar sabar. Kadang berhasil. Kadang juga jatuh.
"Jikalau kamu bertahan, maka kamu akan hidup"
#noon time#











