Monday, December 3, 2018

Hope

Memulai masuk bulan Desember biasanya ada banyak hal. Bulan Desember ini ada yang menganggap sebagai bulan berakhmat. Ada juga bulan untuk mengakhiri tahun. Ada juga yang sudah siap dengan Natalan. Banyak ekspresi di awal Desember. Yang kemudian membawaku pada sebuah permenungan adalah bahwa Desember ini adalah bulan yang harus membangun dan dibangun oleh dan dari harapan.

Bulan penuh harapan artinya bulan yang membawa kita pada melihat apa yang sudah ada di belakang kita (kilas balik) dan sekaligus bulan antisipasi ke depan untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Harapan diperlukan orang untuk hidup. Harapan tidak mematikan jiwa. Harapan selalu harus dibawa kalau kita itu berjalan dalam ketidakpastian, karena yang pasti dalam hidup adalah ketidakpastian itu sendiri. Harapan membawa orang pada kesabaran. Harapan membawa orang pada optimisme, bukan patah arang atau putus asa. Harapan itu membawa jiwa besar dan hati rela berkurban. Itulah generosity, big heart, sense of gratitude.

Aku sedang belajar ke sana. Beberapa hari lalu aku dikirimi WA, yang intinya mengajak aku untuk mellihat pengalaman para guru yang bekerja di daerah "terganggu", serba terbatas dan itu mau dicontohkan ke guru-guru yang kerja di daerah mapan seperti sebagian besar sekolah dengan fasilitas yang ada dan cukup tenang dan nyaman. Lalu aku diminta buka link yang menuliskan kisah guru di pinggiran rel yang penuh kebisingan. Yang menjadi persoalan adalah bagaimana kualitas pendidikan di tengah berbagai situasi dan konteks yang ada. Di sana ada guru dengan persoalan (tantangan) mendidik di lahan pinggir rel. Di sana ada budaya dan mentalitas murid di lingkungan pinggir rel. Di sana ada komunitas keluarga dan manusia pinggir rel. Oleh karena itu, sebagai settingan sekolah (compositio loci) dari sebuah ruang pendidikan sudah tidak layak. Alasannya, ada kebisingan permanen dan rutin karena jalur kereta. Ada keluarga-keluarga yang menyekolahkan anak-anak mereka di mana ruang hidup mereka adalah lahan sempit dan berhimpitan. Ada di sana karakter guru di dalam membiasakan diri untuk mendidik masyarakat yang seperti itu.

Nah, bayangkan saja, jika seorang guru tidak tahan dengan situasi bising, bagaimana akan mendidik anak-anak "lahir dari" dan "didikan" pinggiran rel ini? Ada juga situasi bahwa keluarga-keluarga mereka adalah kaum pinggiran kota yang hidupnya juga tidak mapan, kalangan miskin kota, yang makan pun tidak rutin. Sarapan pagi tidak rutin. Kenyamanan suasana juga tidak permanen. Nah, ada persoalan yang mendasar dalam sebuah komunitas sekolah ini yakni kualitas ruang pendidikan tidak standar hanya karena letak di pinggir rel dan kebisingannya.

Teman saya ini sebenarnya mau menyindir dan membandingkan dengan komunitas tempat kami. Kami cukup nyaman dan mapan dari segi setting tempat. Semua mewah kalau soal suasana. Yang tidak mewah adalah kecakapan dan kehendak guru mendidik. Itu sebenarnya poin dasarnya. Lalu aku balas saja spontan: "Thanks. Justru dalam kondisi mapan dan terjamin, orang lupa bersyukur, sense of gratitude...need big heart." Waktu itu aku belum membaca artikel dalam link itu. Namun aku sudah bisa memaca sekilas ke mana arahnya.

Orang nyaman dan mapan lupa akan rasa syukur. Dan itu efeknya pada kemalasan berkembang dan belajar. Efeknya adalah seperti yang kudengung-dengungkan entah tertulis atau lisan bahwa kemapanan membawa kematian. Perjuangan dan kerja keras membawa pada kehidupan karena survival itu membawa hidup. Demikian hukum Darwin. Species yang bertahan dan mampu menyesuaikan diri dalam kejamnya kehidupan dan milieu-nya, dialah yang akan bertahan dan berkembang biak dengan perubahan-perubahan bentuk hidupnya. Species yang mapan dan tidak mampu beradaptasi dengan alam, tidak mau bekerja keras dalam perjalanan usianya, dialah yang akan mati. Kukira hukum alam seperti ini juga berlaku dalam dunia pendidikan dalam arti suasana, bukan yang seharusnya.

Orang-orang yang berjuang, lembaga-lembaga yang mau berjuang dari dalam, maka  bentuk luarnya adalah kebertahanan hidup. Orang yang berjuang itu tentu punya kekuatan dalam pengharapan. Harapan itu sungguh daya kuat dalam hidup untuk bertahan dan berkembang. Harapan itu harus ditumbuhkan tiap saat karena dengan demikian kita menciptakan hidup. Kalau hanya ketakutan, teror, pesimisme yang kita tebarkan, maka milieu kita pun juga akan menjadi yang sama. Komunitas, lembaga, keluarga yang hanya menebarkan teror dan ketakutan maka akan menghasilkan manusia-manusia yang kerdil dan serba takut. Biasanya masyarakatnya pun hanya masyarakat yang membeo, takut salah, tidak berinisiatif, asal bapak senang, dan sebagainya. Pendidikan dalam keluarga yang tidak memberi tempat pada harapan, maka akan menghasilkan pribadi-pribadi yang tak tegas mengambil keputusan. Yang anak dapatkan hanya tekanan dan instruksi atau bahkan paksaan dari yang lebih kuat atau berkuasa ke yang tidak punya power. Abuse of power mulai dari keluarga bisa jadi. Maka aku pernah menulis bahwa ambisi orangtua pun bisa menjadikan bullying dari orangtua ke anak.

Harapanku adalah bahwa dengan mengingat bulan Desember ini Adven pun terjadi. Datanglah atau Maranatha itu terjadi. Menantikan kedatangan adalah melatihkan harapan, menumbuhkan asa. Menantikan adalah melatih kesabaran dan itulah sense of gratitude, a big heart, membuat ruang bagi yang lain. Harapan itu membantu kita untuk sabar. Sabar itu melatih bertahan. Dan bertahan itu melatih untuk hidup. Aku, yang menuliskan inipun, juga selalu dan sedang terus belajar untuk sabar. Dan aku pun sering bergurau tentang kesabaran ini, bahwa aku ini orang yang sebenarnya tidak sabaran. Sejak dari gen ibuku, aku adalah orang tidak sabaran. Maka aku perlu belajar sabar. Kadang berhasil. Kadang juga jatuh.

"Jikalau kamu bertahan, maka kamu akan hidup"




#noon time#

Wednesday, November 14, 2018

Senja

Sore itu aku habis berbagi dengan rekan-rekan dalam sebuah pertemuan lalu kami berkumpul dalam ruang doa. Hari sudah senja. Kala senja yang cerah, aku bisa menikmati indahnya pemandangan dari balik jendela. Kami bersyukur atas pengalaman sehari dalam perjumpaan dan perbincangan bersama. Sore itu kami mengunjukkan intensi bagi jiwa-jiwa sahabat dan saudara yang sudah mendahului kami menjadi pendoa bagi kami yang masih berjuang dan berziarah di dunia ini. Peziarahan yang membawa kami ke sana dan kemari dalam satu perjalanan hidup. Hidup memang peziarahan dan hidup harus terus berlangsung. Itulah ungkapan hati orang yang masih berjuang dalam hidup ini. Ya, sore itu kami melihat senja. Matahari mau masuk di horizon sebelah barat. Cahaya itu mulai membuat lembayung senja. 

Entah mengapa sore dan senja menjadi satu. Dan apa yang kumaknai dari senja menjadi sebuah kenyataan akan datangnya malam. Senja di langit cerah memang indah namun seindah-indahnya senja, ia akan mendatangkan malam yang gelap. Itulah makna yang dalam bagiku akan senja. Senja itu adalah sebuah tanda.

Setalah aku berdoa bersama dan makan bersama sebagai ungkapan syukur, aku pun berpidah ke ruanganku pribadi. Dalam waktu itu juga ada sebuah pesan dari adikku, "Simbah sudah berat nafasnya". Kujawab, "Oo..mari kita berdoa bersama dan terus didampingi." Lalu aku pamit mandi sebentar. Saat setelah mandi, ada pesan lagi: "Simbah sudah dipundut Gusti.". Kumerasakan sedih, lega, pembebasan, terkabul permohonan, haru dan sebagainya. Ada banyak perasaan bercampur.

Memang 3-4 minggu sebelumnya aku hadir dan mencoba bersama simbah karena setelah jatuh di bulan Mei atau April itu ia makin drop kondisinya. Tak bisa lagi duduk sendiri dan tak lagi bisa berjalan. Maklum usia sudah renta. Itulah senja. Beberapa kali sebelumnya kami masih saling komunikasi, namun 2 minggu sebelumnya ia sudah tidak bisa nyambung lagi dengan kami. Pendengaran sedikit membantu namun kontak mata tidak lagi. Namun demikian fisik masih seperti orang tidur biasa. Tak ada kesulitan bernafas. Hanya berbaring saja. Maka 4 minggu sebelumnya aku mencoba hadir dan memberi doa orang sakit dan itulah yang menjadi alat bagiku untuk bersama simbah: berdoa, mencoba berserah. Dua minggu sebelumnya bapak memang meminta aku untuk datang dan menjenguk. Aku pun bersyukur karena sebelum aku pergi tugas aku sudah bilang ke simbah: "kalau aku tidak bisa pulang, tidak usah menuggu aku." Aku masih bisa merasakan anggukannya yang lemah. Kucium dahinya setiap kali aku kunjugi dia dan mau pamit pulang. Hanya itu yang menjadi sarana komunikasi kami.

Bapak pun kuberi pesan supaya sabar dan berserah selama menemani, mendampingi dan merawat semampunya. Aku bisa memahami betapa capai dan beratnya mendampingi orang tua yang sakit. Dan saat membalas pesanku, ada ungkapan yang menyentuh buatku dari bapak: "Setelah kurenungkan selama ini, aku mengusahakan untuk sabar mendampingi simbahg karena ketika kakakmu, kamu, dua adikmu masih kecil, simbahlah yang merawat kalian, karena bapak ibumu kerja. Maka sekarang aku yang mau membalas kebaikan simbah itu dengan merawat dan menemani sekuatnya.Doanya saja semoga bapak sehat." Demikian pesan itu jika kubahasakan kembali. Bapak adalah menantunya. Simbah adalah mertuanya. Selama ini di rumah kami itu ada menantu dan mertua. Adikku sekali seminggu gantian membantu menemani bapak dan simbah. Itulah situasi rumah kami dan kini simbah sudah berpulang.

Senja itu adalah tanda. Senja itu indah. Namun indahnya membawa kepada malam. Hidup memang ada waktunya mengalami senja untuk pergi kepada malam. Usia senja akan menuju kapada sebuah perhentian hidup itu sendiri. Pengalaman kami itu membawa pada permenungan bahwa selama ini kami berusaha mendampingi simbah. Di usia tuanya memang kami dan dia tidak ingin dirawat di rumah sakit. Simbah hanya ingin di rumah bersama kami dan di tempat asalnya. Kami sadar juga bahwa sel orang tua pun tidak bisa lagi memperbaharui diri karena sudah usianya. Mukjizat memang kami inginkan namun doa kami tak mau memaksa Tuhan. Apa yang terbaik bagi simbah dan kami, itulah yang kudoakan. Jika pembebasannya adalah simbah dipundut Gusti, ya silakan Tuhan. Kami hanya bisa mengusahakan semampu kami. Keputusan dan kehendak-Mulah yang terjadi.

Tanggal 6 November 2018 senja itu, seminggu sebelum tanggal meninggalnya anak perempuan satu-satunya yaitu ibuku, simbah bersatu dengan anak perempuannya di hadirat Ilahi. Itulah peristiwa iman di mana jiwa berserah dan menjawab YA pada Sang Khalik. Kami pun turut menjawab itu. Walau aku tidak bisa hadir dalam peristiwa pemakaman namun aku hadir dalam doa dan ingatanku akan peristiwa demi peristiwa dalam hidup kami. Aku hanya menyanyikan "Remember me" dalam hati dan berdoa di malam itu bahwa kami semua berbahagia dalam mendampingi simbah, menjalani masa senja dan akhirnya masuk dalam malam yang gelap. Kegelapan bukanlah akhir namun sebuah fase untuk istirahat sebelum ada pagi yang cerah.

Terima kasih, simbah atas seluruh hidupmu bagi kami cucu-cucumu yang dimong selama ini.


#morning @office#

Thursday, October 25, 2018

Bohong

Kebohongan itu ada di mana-mana. Sekarang kebohongan begitu menguasai alam semesta ini. Bahkan Tuhan pun merasa bahwa seluruh alam ini koq dirusak oleh kebohongan. Bayangkan saja, jika semua bermula dari kebohongan, apa jadinya alam semesta ini? Satir yang menohok adalah begini: "Pada mulanya adalah bohong. Bohong itu dari kebohongan sebelumnya. Bohong itu ada di antara kita. Dan bohong itu bersama dengan kita." Alangkah mengerikannya jika semua adalah bohong. Semua adalah kebohongan. Sejak awal sampai akhir adalah bohong. Seandainya seorang anak manusia lahir dari rahim kebohongan, ia dirawat oleh orangtua dan keluarga penuh kebohongan, lalu dididik oleh dan dengan kebohongan, akan jadi apakah si anak itu? Kebohongan adalah roh dalam dirinya. Kebohongan menyaturaga dalam dirinya. Akhirnya lahirlah kebohongan-kebohongan lain dalam dirinya. Kata-katanya bohong. Pikirannya bohong. Perilakunya bohong. Apa yang tidak bohong dari dirinya?

Itulah yang tengah terjadi di dunia ini.Kebohongan demi kebohongan menjadi reproduksi dan produksi setiap saat dalam media apapun. Kebohongan seolah nyata dan itu dihidupi, dipilih oleh makin banyak orang. Hidup hanya sebuah kebohongan. Sejak lahir orangtuanya pandai berbohong untuk mendapatkan biaya murah. Saat masuk sekolah, ia diajari bohong untuk membolos. Ketika ulangan ia latihan berbuat bohong dengan memanipulasi kerjaan temannya. Ketika tahap akhir, ia berbohong karena memanipulasi hasil ujiannya. Lalu ketika mencari perguruan tinggi, ia berbohong dengan membuat duplikat ijasah yang belum diambil dari sekolah sebelumnya karena belum lunas bayarannya. Saat buat tugas paper, ia menjiplak karya orang lain. Itu kebohongan berkali-kali. Setelah lulus, ia harus kerja dan ia berbohong saat wawancara. Kapan ia akan jujur? Kebohongan demi kebohongan seperti meluncur begitu saja. Dan dunia memfasilitasi semua kebohongan itu. Saat berumah tangga pun ia berbohong dengan pasangannya karena ia punya afair dengan orang lain. Bahkan ia tidak ingin menjadi kelihatan lebih tua, maka ia pun memanipulasi raganya dengan obat atau operasi medis yang memudakan raganya. Orang menjadi hidup alam alam yang tidak real, tidak apa adanya, tidak jujur.

Bohong itu sebenarnya sebentuk ketidakmauan orang mensyukuri hidup. Bohong itu adalah sebuah ketidakmauan diri untuk hidup apa adanya. Bohong itu adalah cerminan diri yang tidak ingin gagal. Bohong itu keinginan diri yang tak mau kalah namun ngotot. Bohong itu adalah hidup yang tak realistis dan ditutupi dengan hal lain yang menampakkan dirinya baik, supaya tidak nampak keriput, tua, gagal, jelek, lemah, dan sebagainya. Bohong itu selalu ingin menampakkan diri sempurna dan baik walau sebenarnya busuk dan jelek. Bohong  itu hidup yang tak mau kehilangan. Bohong itu selalu ingin merugikan orang lain demi diri sendiri. Bohong itu selalu melawan kejujuran dan keterbukaan hidup. Bohong itu selalu menutupi dan ada dalam kegelapan. Tidak ada kebohongan untuk kebaikan. Kebohongan dalam dirinya adalah rusak dan busuk. Bohong pada dasarnya adalah cacat hidup yang harus disembuhkan. Banyak motivasi kebohongan. Entah itu motivasi dari yang sederhana sampai yang rumit. Bohong itu menjangkiti orang kaya dan orang miskin, tua dan muda, laki dan perempuan.

Bohong, dusta, manipulasi, penipuan itu semua sama. Dan itu semua lebih banyak populasinya daripada yang lahir dari kejujuran, keterbukaan, apa adanya. Hidup dalam kebohongan sepertinya lebih nikmat daripada hidup jujur, terbuka, transparan, apa adanya. Dan memang iya. Kebohongan hidup dalam kegelapan. Kejujuran hidup dalam terang dan cahaya. Banyak hal yang sebenarnya bisa diungkapkan dari kebohongan walau bohong itu ada batasnya. Orang bisa saja dipaksa jujur oleh waktu dan keadaan. Orang akan dipaksa jujur dengan dirinya jika sudah mentok dan tidak ada pintu lain untuk berkelit. Orang mengatakan ketika kita berhadapan dengan Sang Pencipta, maka kita tidak bisa berbohong lagi. Namun kapan itu? Menunggu saat meninggal? Aku pun tidak tahu.


#noontime#

Tuesday, October 23, 2018

Iri Hati

Beberapa hari lalu aku dikejutkan dan terperangah akan suatu ungkapan dari seseorang yang ternyata itu menjadi aura kuat zaman ini. Dia datang dan ngobrol seperti biasa namun di akhir-akhir aku merasa koq nadanya selalu negatif dan bagiku mungkin ini berbeda sense, koq gitu saja diirikan. Anggapanku yang mengatakan "Koq begitu saja dicemburui" bisa saja salah dan ini membutuhkan pemeriksaan lebih dalam. Aku baru sadar bahwa itu adalah arus zaman saat ini yang begitu kuat dan jika tidak sadar justru akan mempengaruhi alam hidup manusia di bumi ini. Dan aku teringat akan sebuah kisah ini: Habel juga mempersembahkan korban persembahan dari anak sulung kambing dombanya, yakni lemak-lemaknya;maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya. Lalu hati Kain menjadi sangat panas, dan mukanya muram. Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." Kata Kain kepada Habel, adiknya: "Marilah kita pergi ke padang." Ketika mereka ada di padang, tiba-tiba Kain memukul Habel, adiknya itu, lalu membunuh dia.Firman TUHAN kepada Kain: "Di mana Habel, adikmu itu?" Jawabnya: "Aku tidak tahu! Apakah aku penjaga adikku?"

Karena kecewa tidak diindahkan maka iri hati Kain terhadap Habel itu menjadi berujung kematian dan pembunuhan terhadap Habel. Iri hati ada sejak manusia ada. atau setidaknya sejak generasi kedua manusia. Artinya iri hati itu sudah ada sejak lama.Iri hati bisa membuat manusia saling serang dan berujung kematian. Saudara bahkan membunuh saudaranya sendiri. Kisah di atas baru menggambarkan konflik antar pribadi dan itu lahir dalam relasi antar pribadi yang nemanya saudara sekandung juga. Iri hati ini memang pembunuh yang mengerikan. Kecemburuan atau iri hati ini menjadi sarana ampuh untuk saling menghilangkan nyawa atau kehidupan.

Ada lagi kisah ini: 
Adapun Abram sangat kaya, banyak ternak, perak dan emasnya. Ia berjalan dari tempat persinggahan ke tempat persinggahan, dari Tanah Negeb sampai dekat Betel, di mana kemahnya mula-mula berdiri, antara Betel dan Ai, ke tempat mezbah yang dibuatnya dahulu di sana; di situlah Abram memanggil nama TUHAN.Juga Lot, yang ikut bersama-sama dengan Abram, mempunyai domba dan lembu dan kemah.Tetapi negeri itu tidak cukup luas bagi mereka untuk diam bersama-sama, sebab harta milik mereka amat banyak, sehingga mereka tidak dapat diam bersama-sama.Karena itu terjadilah perkelahian antara para gembala Abram dan para gembala Lot. Waktu itu orang Kanaan dan orang Feris diam di negeri itu.Maka berkatalah Abram kepada Lot: "Janganlah kiranya ada perkelahian antara aku dan engkau, dan antara para gembalaku dan para gembalamu, sebab kita ini kerabat.Bukankah seluruh negeri ini terbuka untuk engkau? Baiklah pisahkan dirimu dari padaku; jika engkau ke kiri, maka aku ke kanan, jika engkau ke kanan, maka aku ke kiri."Lalu Lot melayangkan pandangnya dan dilihatnyalah, bahwa seluruh Lembah Yordan banyak airnya, seperti taman TUHAN, seperti tanah Mesir, sampai ke Zoar. --Hal itu terjadi sebelum TUHAN memusnahkan Sodom dan Gomora.


Perkelahian juga bisa dipicu karena iri hati karena kepemilikan. Kepemilikan menjadi awal adanya kecemburuan sosial. Hal ini kemudian bisa memicu konflik komunal. Konflik karena harta milik atau kepemilikan pribadi kemudian menjadi sebuah penelor teori konflik sosial yang sangat terkenal oleh para ahli pemikir politik sosial di masa modern ini. Kapitalisme muncul karena ada kepemilikan pribadi ini. Namun tulisanku ini bukan mau ke sana. Aku hanya tertegun dengan adanya iri hati di antara kaum muda. Orang-orang muda yang hidup di zaman ini pun tidak lepas dari ancaman iri hati ketika dirinya tidak mendapat hal yang sama dengan rekannya. Irinya pun bertingkat-tingkat. Tidak sama agenda acaranya pun menimbulkan keirian. Dalam acara yang sama namun perlakuannya berbeda pun bisa iri hati. Maka keirian ini terus akan beranak-pinak. Hal itu bisa berujung pada kematian.

Bisa dipahami di dunia sekarang, orang muda hidup dalam keluarga kecil. Keluarga yang menghidupinya cukup sangat memfasilitasi dari makan, pakaian, peralatan lain. Jika merk HP ayahnya Samsung maka anaknya juga sama atau malah bahkan yang lebih canggih. Kalau merk sepatu lari ibunya Nike, maka anaknya juga sama. Sadar akan brand sungguh menjadi pola hidup saat ini. Perlakuan lebih egaliter dan kadang berlebihan itu juga berpengaruh pada perlakuan yang dianggap lain dari sebuah komunitas atau kelompok yang dihidupinya saat ini. Apalagi kalau komunitas ini sangat sederhana dalam memberi perlakuan dibandingkan fasilitas yang ia dapat sebelumnya. Bahkan akan sangat membuat kecewa dan iri jika tidak ada penjelasan dan penyadaran akan arti sebuah perlakuan dan pembedaan. Iri hati itu sangat kuat.

Iri hati juga berpasangan dengan rasa kecil atau minder atau rendah diri. Hal itu bisa saja karena seseorang tidak bisa berbuat banyak atau tidak mempunyai apa-apa maka ia merasa iri hati. Nah, dari sini aku merasakan adanya arus besar dunia ini yang membuat orang menjadi minder karena merasa tidak punya dan tidak bisa berbuat banyak. Atau ekstrem lain yaitu adanya perbedaan yang tidak siap diterima karena perlakuan berlebihan akan egalitarianisme dalam diri seseorang. Keterpecahan hidup dan dunia bisa muncul karena itu. Maka egalite tidak menjamin orang bisa sepadan hidupnya namun bisa saja orang tidak bisa menerima atau tidak siap menerima perbedaan atau yang lain sama sekali. Sama atau equal itu bukan  lantas sama dari segi apapun. Sama-sama manusia, namun beda karya, beda peran, beda kedudukan. Adanya pendidikan dan pencapaian bertahap pun juga perlu disadarkan. Sama-sama manusia dalam sebuah keluarga namun perannya beda-beda: ada ibu, anak, dan bapak. Dalam pabrik ada manager, karyawan, sub kadis, dan sebagainya. Yang sama adalah perlakuan sebagai manusia yang manusiawi. Kemanusiaan yang manusiawi bukan terletak pada seragam dan merk yang sama atau acara sama tetapi bagaimana menyapa dan memanusiakan. Mengindahkan manusia adalah memberi penghargaan sehingga tidak merasa terpinggir dan dikecewakan.

Memang, ternyata memberi apresiasi, mengindahkan manusia yang lain tidaklah mudah. Aku saja tidak mudah memberi apresiasi kepada orang lain apalagi dalam tugas. Ini yang menjadi proses pertobatan terus-menerus.

Ada standar ganda dalam perilaku iri hati. Orang akan menjadi komunis ketika ada yang berbeda dengan dirinya sehingga iri. Mintanya semua sama rasa sama rata. Orang menjadi kapitalis kalau soal kepemilikan pribadi. Mintanya semua harus milikku. Orang lain tidak usah diperhatikan. Jika milik pribadinya diusik atau ada yang mengganggu, maka orang akan marah. Milikku harus dijaga. Seolah-olah mau menangnya sendiri dan itulah mental kapitalis. 

Apakah di sini berlaku ungkapan "iri tanda tak mampu" ? Bisa jadi iya, karena tak mampu membuat orang merasa kehilangan sesuatu, ia kehilangan kemampuannya untuk setara dengan yang lain. Di sisi lain, ketidakmampuan itu menular pada merasa diri tak mampu secara material juga. Oleh karena itu, di sini perlu ada sebuah mental yang perlu dibangun. Mental bersyukur dan mensyukuri rahmat. Orang menjadi minder karena merasa kecil hati. Hati yang ciut karena orang tidak berlatih bersyukur dan membesarkan hati bahwa hidupku sudah dicukupi dengan banyak hal dari Tuhan. Orang yang tidak bersyukur biasanya menjadi sering marah dan kecewa. Itu dilontarkan kepada siapapun yang baginya membuat tak nyaman. Orang yang kecewa dengan dirinya biasanya karena punya idealisme dan harapan besar tentang hidupnya namun tidak tercapai karena tidak realistis dalam mengolah dan melatih diri. Ia tidak tekun dan telaten dalam hidup. Ia tidak mau hidup dalam kesunyian dan ketiadaan hiburan sekalipun. Yang diingini adalah yang besar-besar namun apa daya kemampuan tak sampai. Ia tidak setia pada hal yang kecil dan sederhana, maka ia tak dipercaya dan tak mampu bertahan pada hal-hal yang besar dan menuntut tanggung jawab besar. 

"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri, di situ ada kekacauan dan segala perbuatan jahat."




#noontime#



Tuesday, September 4, 2018

Rekonsiliasi

Setelah bulan Agustus adalah bulan Kemerdekaan, sebenarnya di bulan September aku punya usul sebagai bulan Rekonsiliasi. Bangsa ini bagaimanapun juga mempunyai luka lama yang belum bisa dihilangkan. Namanya luka pasti ada bekasnya. Namun di dalam diri bangsa ini, luka ini sepertinya belum sembuh setelah lebih dari setengah abad. Penyakit akbibat konflik politik ini berakibat pada konflik-konflik yang lain dalam budaya, ekonomi dan budaya. Luka itu seolah masih menganga walau secara lahiriah tidak kelihatan lagi. Bisa jadi luka itu lebih pada luka batin yang tak kunjung bisa disembuhkan karena belum ada kemauan menyembuhkan diri. Ketika akan ada inisiatif menyembuhkan, yang terjadi adalah saling tuduh dan serang. Akibatnya masih belum sembuh-sembuh. Luka lama itu hanya ingin dilupakan dan dihentikan pembahasannya. Jika membahas sedikit saja, sudah kesakitan reaksinya, itu artinya ada sesuatu yang salah dalam tubuh bangsa ini.

Konflik berdarah tahun 1965 dan pasca tahun itu memang cukup lama dan panjang. Bahkan jika ditunjukkan mungkin sampai awal tahun 1970-an masih terus ada konflik secara psikis maupun fisik. Adanya kuburan massal bagi pihak-pihak yang dituduh sebagai lawan politik kekuasaan pada waktu itu, menunjukkan bahwa konflik itu mulai tahun 1965 sampai awal 1970-an. Pembasmian sesama manusia yang dituduh sebagai musuh dan lawan politik dengan segala macam cara dibuat. Yang lebih mengerikan lagi adalah bahwa penyakit ideologi ini didisain sebagai penyakit genetis sampai anak-cucu mereka yang berideologi komunias atau dituduh komunis atau hanya karena tersangkut dalam sebuah organisasi di bawah PKI pun dianggap sebagai berpenyakit yang sama. Anak PKI itu sama buruknya dengan orangtuanya. Cucu PKI masih membawa gen PKI juga. Begitu ngawurnya sehingga stigmatisasi ini masih begitu sangat kuat di bangsa ini. Isu seperti PKI, Cina (karena negara komunis), buruh, buku-buku kiri, dan diskusi tentang tragedi kemanusiaan ini pun masih menjadi sesuatu yang agak tabu di negara ini. Tidak dengan mudah diterima untuk membicarakan hal yang terjadi di sekitar situasi tahun itu.

Ada dua kekuatan besar yang masih memaksa bangsa ini tidak dengan mudah berbicara dan menyentuh soal tahun 1965. Kekuatan itu adalah militer dan kaum agama mayoritas. Dua kekuatan besar itulah yang memang berperan besar untuk menentang disentuhnya persoalan tahun 1965. Ada suatu kepentingan dalam dua kekuatan itu yang bagi kita belum bisa kita pahami sehingga kedua kekuatan itu masih takut atau trauma atau apalah jika menyentuh peristiwa 1965. Aku tidak bisa menyalahkan dulu. Mungkin harus ada pendekatan yang lebih komprehensif dan mewadahi kekuatiran atau trauma dari dua kekuatan itu. Akibat perseteruan besar di dunia pada waktu itu memang tidak mudah menyadarkan bahwa kita itu termakan atau dipengaruhi oleh "jagad gede" pada waktu itu. Perang besar yang memakan nyawa anak negeri sendiri itu sudah membuat luka lama itu tetap tertutup dan belum tersembuhkan. Menyembuhkan itu proses yang menyakitkan. Entah sampai berapa lama bangsa ini mau sembuh. Kekuatan itu masih terlalu besar untuk memaksa kami tidak membuka dan mengutak-atik luka itu. Namun kekuatan itu juga tidak ingin luka itu disembuhkan. Aneh memang.

Berbicara soal penyembuhan alias berdamai alias rekonsiliasi maka itu adalah proses tak mudah. Proses itu perlu membuka luka dan melihat kembali situasi real yang terjadi. Itu perlu penelusuran sejarah dan analisis dari berbagai sudut pandang. Jika itu terjadi maka banyak pihak harus dengan terbuka memberi diri dan mau mengakui walau itu berat. Membuka luka lama itu menyakitkan. Namun kalau mau sembuh, hanya itu yang bisa dibuat. Selalu yang menjadi kenangan adalah bahwa tahun itu ada kemiskinan, bahan pangan mahal dan langka, ada situasi ekonomi yang mencekik, ada perebutan kekuasaan antar partai, dan serba menyeramkan. Dengan film propaganda dari kekuasaan Orde Baru pun selama belasan tahun film berdurasi hampir 4 jam itu sudah cukup memberi cuci otak bagi generasi yang pada saat itu sudah disuruh menonton secara wajib setiap tahunnya. Yang ingin diarah adalah semua orang mempunyai pandangan bahwa PKI itu jahat dan tidak boleh hidup lagi. PKI adalah organisasi terlarang. PKI itu kejam. PKI itu pembunuh dan bisa menjadi hantu di setiap saatnya, maka harus hati-hati dengan bahaya latennya. Kaum agamis bisa dimaklumi bahwa mengapa mereka membenci komunis karena mereka mengidentikan komunis dan ateis. Padahal itu cara berpikir yang salah.

Komunisme bukan melulu ateisme. Ateisme menjadi ideologi kalau memang negara atau komunitas tertentu itu melarang kemerdekaan beragama bagi yang lain. Sedangkan komunis itu asalnya dari kata commune (Latin) yang bertarti sebuah entitas komunitas yang merdeka dan umum. Maka ada common, yang berarti umum. Komunal itu selalu berkait dengan kebersamaan, komunitas, dan sesuatu yang bersama. Apakah yang berkumpul dan berserikat itu selalu ateis? Tidak. Komunisme menjadi pejoratif maknanya karena terafiliasi dengan ateisme. Dan ini berangkat dari sejarah yang dibuat oleh Lenin dan Stalin. Marx melahirkan ideologi perlawanan kelas proletar kepada kaum borjuis, Lenin mengembangkan dalam kerangka yang lebih politis yaitu untuk merebut kekuasaan. Maka perlu membentuk perserikatan yang lebih kuat dalam partai buruh yang bisa menghancurkan kaum borjuis. Setelah Lenin mati, Stalin yang otoriter dan bergaya militer karena latar belakang aktivitas politik sejak mudanya di Partai Komunis. Mulai pemerintahannyalah Uni Soviet berdiri dengan teror dan kekejaman ideologi komunis. Itu singkatnya. Kaum agamis akan selalu mencampurkan komunisme dan ateisme. Sosialis pun kemudian dianggap komunis. Itu salahnya.

Adanya kekuatan yang masih dominan dan tidak mau kompromi, adanya pemahaman yang salah mengenai ideologi, adanya ketidakmauan berusaha, dan ada kecurigaan antar kelompok ini masih menjadi hambatan dalam rekonsiliasi. Tentu hal itu sarat dengan kepentingan. Ketika masih ada kepentingan dalam diri masing-masing maka rekonsiliasi tidak pernah akan terwujud. Kemauan membuka diri, membiarkan diriku dikritik, dilucuti ideologi dan kepentinganku, mengakui ada motivasi ini dan itu itulah yang dibutuhkan untuk sebuah proses berdamai dalam komunitas bangsa ini.

Aku tidak bisa berpanjang lebar berkisah tentang hal yang belum bisa terwujud. Impianku suatu saat pada generasi tertentu bangsa ini semoga mewujudkan impian ini. Suatu saat bangsa ini harus berdamai dengan dirinya. Dengan berdamai, bangsa ini akan mampu berlari lebih cepat lagi dan berkembang dengan lebih baik. Tidak akan 100% sembuh namun katakanlah 75%-90% sembuh dari penyakit traumatik sejarah masa lalu itu sudah menyelesaikan beban sejarah tersendiri. Korban bisa dari siapa saja. Dan pelaku bisa dari siapa saja. Kita sama-sama salah namun kita harus berani mengakui di mana kesalahan itu dan menerima diri akan segala hal itu.



#morningtime#

Wednesday, August 15, 2018

Kardus(ian)

Beberapa hari ini kita dikagetkan dan diceriakan dengan nama KARDUS. Entah mengapa kardus ini menjadi terkenal. Apakah gara-gara disandingkan dengan kata JENDRAL? Aku sendiri juga tidak tahu. Setahuku, kardus adalah box yang dibuat dari kertas yang agak tebal. Biasanya warnanya coklat muda. Bahkan dalam mesin pencarian di google pun istilah kardus banyak bertebaran seputar berita semenjak seminggu lalu. Seperti kebanyakan dari fenomena yang ada, istilah kardus akan menjadi viral dan tersebar di dunia maya karena dipakai dengan konteks tertentu. Kardus menjadi sangat penting karena berbagai macam hal sebenarnya. Kalau di khasanah perbendaharaan kata, kardus dan karton itu sejajar. Kardus itu identik dengan kertas yang lebih tebal. Karton itu bisa lebih tipis ukuran ketebalannya. Kardus mempunyai makna dan juga ukuran real yang lebih besar muatannya.

Beberapa waktu lalu aku belanja di Superindo. Waktu itu akan ada acara workshop, lalu aku diminta belanja snack. Karena banyak yang harus dibeli, maka kardus dipakai untuk mengepak seluruh perbelanjaan yang aku bawa. Kardus sangat berguna. Bahkan kalau mengingat pada waktu itu, kardus yang kupakai adalah kardus bekas. Artinya, bekas pun kardus itu bermanfaat. Kardus disimpan dengan dilipat sehingga tidak memakan tempat. Biasanya toko atau supermarket memakai ini supaya pelanggan yang belanja dengan jumlah banyak akan mudah mendapatkan wadah untuk belanjaannya.

Kardus itu akan selalu dicari. Orang miskin maupun kaya akan mencarinya. Apalagi kalangan menengah, mereka pasti akan memakai saat belanja. Orang miskin bisa memakainya untuk wadah bahkan rumah kardus pun akan menjadi tempat berteduh. Kumpulan kardus yang sudah tidak terpakai bisa digunakan untuk rumah yang sederhana melindungi mereka dari angin dan terik matahari. Sayangnya hujan dan air tidak mampu ditahan oleh kardus, karena kardus akan lembek dan berlubang oleh air. Orang miskin pun akan mengumpulkan kardus bekas untuk dijual sebagai penghasilan mereka yang adalah pemulung. Kardua karena terbuat dari kertas, memang bisa didaur ulang (recycle).Orang kaya pasti akan butuh kardus. Untuk apa ya? Yang pasti kardus mereka lebih bergengsi kegunaannya. Kardus untuk menyimpan barang-barang di gudang mereka. Kardus mereka lebih mentereng karena sesuai isi di dalamnya. Kardus bungkus bir, kardus bungkus roti, kardus bungkus perkakas dapus, kardus untuk barang-barang mereka yang lain. Eh, tapi tak kalah gokilnya kardus yang dipakai orang kaya biasanya. Mereka juga akan sama dengan kaum menengah ke bawah dalam hal merek di kardus yang tidak sesuai dengan isinya. Biasanya mereka akan tetap memakai fungsi kardus sebagai wadah namun wadahnya itu yang bikin orang ngiler. Kardus bisa dipakai untuk wadah duit bergepok-gepok. Lha duit itu untuk apa? Hehe....di sinilah kemudian menjadi biangnya masalah.

Aku ingat beberapa kejadian. Beberapa tahun lalu, si Cakil memberi sekardus uang bergepok-gepok untuk sebuah timnas yang berprestasi. Ia mengajak makan-makan di rumahnya dan bahkan memberi hadiah uang bergepok-gepok entah berapa jumlah uang itu. Kasus-kasus OTT KPK juga ditangkap karena ada uang dalam kardus yang niatnya diberikan kepada pihak tertentu oleh si penyuap. Dan inilah yang kemudian menjadi masalah. Ya, KPK atau badan penyelidik korupsi sekarang akan kerjasama dengan bank-bank untuk dengan mudah mengakses rekening seseorang yang mendapat transferan dari pihak manapun karena pasti ada aturan bahwa seseorang itu boleh diberi sumbangan dengan batasan tertentu. Jika tertangkap ada transfer di rekening melebihi dari batas aturan itu, maka pantaslah dicurigai. Demi menghindari masalah OTT, ternyata kardus pun menjadi alat untuk berkelit.

Kasus yang terakhir ini adalah entah benar atau salah, kita dihadapkan pada kardus lagi. Bukti otentik kardus pun belum atau tidak ada sampai detik ini. Namun bahwa nama kardus sempat muncul di media, artinya itu entah sebagai kiasan atau memang benar adanya, kardus tetap akhirnya menjadi sebuah istilah yang kaitannya dengan isi kardus itu sendiri. Kardus itu oleh para pejabat dan pemimpin korup identik dengan kasus jual-beli atau mahar atau suap. Dengan kardus, uang dapat diwadahi dengan semestinya. Uang suap atau jual beli bisa diringkas dalam wadah yang ringan dibawa. Dengan kardus pula tidak akan ada transfer bank yang terdeteksi oleh jejak digital. Kardus bisa segera dihancurkan setelah isinya dibongkar dan dimasukkan ke tempat yang aman.

Kardus menjadi penting untuk orang miskin, kalangan menengah maupun kaya dan berkuasa. Seandianya kardus bisa berkata, mungkin ada yang senang karena dipakai sebagai alat perantara kekuasaan. Ada pula yang protes karena jadi tempat korupsi terang-terangan. Ada pula yang mungkin abstain, karena kodrat dan fungsi mereka memang hanya untuk wadah. Apapun merek atau nama dalam kardus itu, ia pada dasarnya adalah wadah. Siapa dan untuk apa yang memakainya, ia sendiri tidak bisa protes. Kardus pun mudah dibakar dan dihancurkan. Kardus yang masih baru biasanya sesuai dengan peruntukannya. Namun jika sudah lawas atau bekas, maka terserah pemakainya mau dibuat wadah apapun.

Yah, itulah kardus. Kardus....oh kardus.....bahkan kardus pun menjadi viral dan berada dalam pusaran kegaduhan perpolitikan di mana-mana.



#murningtime#

Thursday, July 19, 2018

Rongsokan

Aku sangat terkesan dengan barang rongsokan yang ditinggal di inggir jalan saat mampir di warung kopi di Parapat. Setelah melihat pemandangan Danau Toba dan memotret dari berbagai view sebatas tempat kami mampir di warung kopi itu, aku tertegun dengan onggokan mobil kijang yang "ndongkrok" di pinggir jalan, sudah karatan, hanya untuk jemuran di atasnya. Kesan tentang barang rongsokan dan tua adalah demikian adanya. Lengkap dengan bentuk, warna dan kegunaannya atau ketidakgunaannya. Kijang tua rongsokan, tak terpakai itu menginspirasiku untuk menulis. Apalagi aku termotivasi karena beberapa waktu ini aku terlalu sibuk dengan berbagai urusan.

Ya, barang rosokan hanya akan ditinggal atau didongkrokan di tempat yang seadanya. Tidak dipakai ia. Tidak ada orang yang melirik, apalagi memakai. Usang sudah tubuhnya. Semua hanya berkarat dan menjijikkan. Aku ingat kepada istilah rongsokan atau orang Jawa mengatakan rosokan. Refleksi tentang hidup dan kerja setahun ini pun sebenarnya menyinggung soal rongsokan ini. Kalau tidak mau disebut dan menjadi rongsokan, maka hiduplah dengan energi yang terus terawat serta kemauan untuk memperbaharui diri. Orang belajar supaya tidak jadi rongsokan. Orang punya motivasi tinggi supaya hidup ini terus dinamis dan tidak mandeg. Kemandegan adalah kematian. Kematian adalah ketidakbergunaan dalam hidup yang bergerak dan dinamis.

Belum berbicara soal kemendalaman. Belum kita ke ranah yang menukik dan mau belajar secara lebih dalam, ini berbicara pada tataran kemauan terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang baru dan orang mengatakan, "opo meneh iki?" dan itu dibunyikan dengan nada dongkol dan meninggi, itu artinya bukan bertanya, ingin tahu tetapi nada yang berbicara soal tak mau menerima sesuatu yang baru. Nada itu menyiratkan bahwa itu hanya menambah kerjaan lagi. Orang tak mau repot dan menerima yang serba baru. Usang menyuarakan keengganan berubah. Keusangan jiwa mengungkap bahwa tak usah bergerak. Cukup aku begini dan aku tak mau repot lagi. Cukup aku dengan kepuasanku sekarang. Tak ada lagi orientasi diri. Apakah itu dikarenakan tak ada insentif? Apakah motivasi harus dengan insentif? Bisa jadi. Orientasi dipengaruhi insentif? Aku khawatir akan terjadi hal sedemikian itu. Motivasi diri hanya sebatas kebutuhan fisik duniawi, tidak memikirkan lagi namanya kemajuan jiwa dan pikiran, wawasan hanya demi insentif diri. Bisa jadi itulah dinamika rongsokan.

Kita berpikir demi kemajuan banyak orang. Kita berpikir soal orang muda yang harus maju melampui orangtua. Kita berpikir tentang segala sesuatu yang lebih mulia, namun kandas gegara hanya soal insentif rongsokan berjiwa kelam dan tanpa nyawa. itulah ironisnya. Namun bisa jadi atmosfer yang dihirup adalah atmosfer udara insentif yang sudah mendarah daging sejak bayi. Orang sekarang mikirnya adalah soal duit dan materi karena kuatir akan hidup di masa depan dan masa tua. Pensiunan hanya dapat sedikit bila tidak ubet sejak awal mula. Pensiunan hanya akan nelangsa dan tak terpakai karena tak lagi punya kuasa, tak punya kerja, tak punya apa-apa kalau hati tak lapang dan tak punya kemurahan hati sebelumnya.

"I am old but not obsolete", itulah kata-kata Pops, terminator tua yang ternyata masih bisa mengalahkan musuhnya. Dia mampu menembus batas keusangannya. Dia mampu mengalahkan keusangan diri. Dia mampu mengatasi kelemahan sebagai mesin tua yang ternyata masih berguna. Ketakutan orang tua dan mau pensiun adalah karena dia tidak mampu mengalahkan dirinya, ia tak mampu melampaui ketuaannya. Kalau ia mampu melampaui ketuaanya, maka yang ada hidup ini selalu muda, terus berjalan dan tidak ada bedanya. Walau memang secara ragawi, semua itu akan mengalami batasnya. Setidaknya orang tidak lagi hanya berpikir usangnya, mandegnya, cukupnya. Orang harus berpikir bahwa hidup itu bukan hanya dirinya, namun hidup ini bagi generasi selanjutnya. Itulah motivasi yang harus dibangun. Oleh karena itu, supaya tidak "obsolete" maka dibukalah wawasan dan motivasi diri. Orang perlu belajar dan belajar itu untuk hidup. Hidup itu harus terus berlangsung dan terus berjalan.



"Jangan kuatir akan hidupmu, akan apa yang kamu makan, akan apa yang kamu pakai, tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah, maka segalanya akan disediakan bagimu." (#hal kekuatiran#)



@noontime

Monday, July 2, 2018

Pengalaman

Akhir Bulan Mei lalu, aku mencoba berkegiatan bersama orang-orang muda. Intinya aku hanya memberi pengalaman. Dari pengalaman itulah berbagai hal bisa diolah. Yang bisa kuberikan adalah hanya sebuah kegiatan berjalan. Dan itulah hal yang sangat mengesan buat kami karena berjalan ternyata memuat banyak hal. Orang bisa saja mengatakan bahwa hidup adalah perjalanan. Perjalanan ibarat orang bergerak dari satu titik ke titik yang lain. Berjalan bukan sekedar berjalan namun ada waktu, tempat, pemandangan dan sebagainya. Di sana juga ada rasa peduli, ada kesan, ada perhatian, dan macam-macam.

Aku melakukan ini juga dengan persiapan pendek. Jalan dan berjalan itu muncul karena pengalaman diri juga. Pengalaman berjalan adalah pengalaman yang tak terlupakan ketika semua itu memunculkan banyak hal. Ada rasa, ada cara pandang, ada ungkapan lain yang bisa diolah dalam berbaga hal yang membantu mengenali sosok diri ini. Memang ini kubuat supaya orang mengenal diri. Ketika seseorang diajak untuk berjalan dengan berjerih payah, ia akan mengeluarkan keaslian diri saat berjalan dan saat di jalan. Ketika hanya diungkapkan secara tertulis dan konseptual mungkin hanya orang paha secara kognitif. Namun ketika orang mengalami sendiri, barulah ia sadar akan dirinya yang punya keaslian, keterbatasan, kelemahan dan kelebihan. Ada emosi di sana yang perlu disadari. Ya, pengalaman berjalan ini kubuat supaya orang makin kenal diri dan kenal sekitarnya.

Kesan dari mereka saat setelah berjalan memang beragam. Ada yang mengatakan capai karena jauh. Ada yang mengatakan tak terduga karena belum pernah mengalaminya sebelum ini karena ternyata jauh dan selama ini kita banyak "mager" alias malas gerak. Ada juga yang mengatakan sebaliknya ngapain harus ada kegiatan seperti ini. Ada juga yang mengungkap kesan saat di jalan bahwa ada orang-orang yang selama ini tak pernah terperhatikan mereka. Bahkan ada yang mengatakan 11 km pun kami tidak takut dan sanggup menjalaninya. Itulah mereka dan kami semua. Ya, berjalan ternyata banyak sekali mengandung makna. Memang aku berusaha untuk berhati-hati dan berserah juga menjalankan kegiatan ini. Yang tampkanya sepele namun jika  tidak ada perencanaan bisa saja banyak kendala terjadi. Kurencanakan bersama pembimbing lain bahwa mereka perlu didampingi dalam kelompok jalan itu. Pendampingan pun juga perlu untuk keamanan dan mengajak memaknai kegiatan ini.

Saat berproses pun mereka ada yang marah karena melihat pendamping lain tidak jalan. Mereka ada yang tak sopan dan ditegur orang di jalan karena saat mereka bertanya tidak punya etiket. Mereka ada yang sakit karena ada yang memgalami pergulatan fisik dan mental. Itulah yang menjadi reaksi tubuh dan diri mereka. Justru itulah yang perlu disadari dan dimunculkan. Tujuannya supaya hal-hal itu diolah demi perkembangan diri dan kenal diri. Kegiatan ini memang untuk latihan alias gladi diri. Prinsipnya sederhana: sarananya berjalan, tujuannya supaya melihat diri dan sekitar, kemudian dilihat dan diolah apa yang muncul dan bisa kubuat demi diriku dan orang lain/sekitarku.

Dari prinsip sederhana itu butuh cara dan tahapan-tahapan pengolahan. Itulah yang kemudian bisa kuambil hikmah. Dengan demikian sebenarnya aku mencoba melatih diri juga untuk berbuat sesuatu bagi sesama. Dan dari pengalaman sederhana ini yang ingin kuajakkan ke mereka adalah rasakan, alami, dan olahlah dengan cara berbagi. Berbagi itu bisa saja menulis pengalaman mereka secara pribadi. Ada juga yang makin mantap dalam hidup. Ada yang makin mempunyai makna dalam menjalani setiap tahapan peziarahan dan sebagainya. Jika diperdalam ini bisa mengarah pada pengolahan diri yang lebih dalam.

Salah satu persiapan batin adalah dengan membaca Ragawidya dari Mangunwijaya tentang "Berjalan". Ada yang menangkap ini: "Orang baru sadar sedalam-dalamnya betapa besar anugerah kemampuan berjalan, bila ia mengalami malapetaka terkena sakit lumpuh...Barulah kita sadar, betapa bahagia manusia yang masih bisa bergerak dan berjalan, dari tempat yang satu ke tempat yang lain."



#awal Juli 2018#

Tuesday, May 22, 2018

Bom: Darurat Institusi Keluarga

Tanggal 10 Mei lalu aku berkumpul bersama dan berdoa bersama umat di sekitar lereng Merbabu. Hal yang aku herankan adalah banyak polisi berjaga pada saat itu. Memang tanggal itu adalah tanggal merah libur nasional karena perayaan agama nasrani. Mengherankan karena biasanya tanggal merah itu tidak ada hal yang perlu dijaga. Bahkan gereja kecil pun dijaga. Padahal umatnya hanya segelintir orang. Tak lebih dari 20 orang. Justru kemudian tanggal 13 Mei-nya terjadilah pengeboman di beberapa gereja di Surabaya. Aku hanya bisa mengatakan: biadab!!! Bom di tengah kerumunan orang hidup pasti akan merenggut nyawa orang hidup juga. Kecuali mereka mengebom di tengah padang gurun atau di tengah hamparan benda mati, tidak akan terjadi korban manusia hidup. Belasa orang meninggal, ada 14 jiwa melayang, tua atau muda bahkan masih kanak-kanak jadi korban.

Yang menjadi memprihatinkan juga adalah bahwa pelibatan keluarga sebagai pengebom adalah hal yang memang mengerikan. Pelaku kejahatan bukan lagi orang per orang atau kelompok yang memang kelihatan bengis, namun saat ini modusnya adalah dengan komunitas keluarga. Ada anak, ibu, bapak. Semua terlibat. Ini fenomena apa? Serangan terhadap orang lain datang dari keluarga. Keluarga yang seharusnya menjadi lembaga awali untuk mengajarkan hal-hal yang luhur dan normal (sesuai ukuran manusia biasa dan beradab). Mengapa aku menambahkan keterangan dalam kurung? Karena bisa jadi aku sendiri yang tidak normal lagi (hahaha...). Keluarga memang sedang terancam. Ketika institusi keluarga terancam dan sudah kebobolan dengan hal semacam ini, maka kiranya kita berada dalam situasi darurat terhadap institusi keluarga itu sendiri. Keluarga bukan lagi kita bayangkan sebagai institusi yang kuat untuk menanamkan hal baik dan luhur, dan diadalkan mampu mencetak manusia adab di masyarakat. Keluarga dalam hal ini sudah menjadi ancanam bagi sesama lain yang justru mematikan. Keluarga justru menjadi monster yang menakutkan orang lain, memangsa nyawa orang lain, walau itu hanya kasuistik dari 3 keluarga yang meledakkan bom di gereja saat orang sedang beribadah atau meledak di rumahnya sendiri entah karena apa. Satu lagi adalah ketika anak diajak meledakkan bom di kantor poltabes untuk menyerang polisi.

Aku mencoba membayangkan saat orangtua mengajak anaknya untuk berbuat jahat, berbuat keji, berbuat menghancurkan orang lain. Bagaimana orang tua dan mempunyai pegangan nilai itu malah justru mengajak menghancurkan hidup orang lain. Saya membayangkan bagaimana anak dibujuk untuk mati dengan iming-iming surga. Saya tak habis pikir bagaimana mereka sampai bisa menanamkan ideologi untuk membenci sesama yang berbeda pikir, pilihan hidup, agama dan ideologi dengan mereka. Saya hanya membayangkan bagaimana mereka sejak semula sudah menjadi pemangsa orang lain lewat anak yang dibujuk itu. Anak masih kecil sudah ingin dijadikan monster. Anak masih belum tahu hal-hal jahat sudah terpaksa menjadi jahat karena ulah orangtuanya. saya masih kesulitan mengimaginasikan itu semua. Bisakah demikian: "Nak, besok pagi kita akan masuk surga. Kita bersama bergerak untuk ke sana ya." Anak menjawab, "Bu, bagaimana kita bisa ke surga?" Ibu manjawab, "Tenang, besok ikut ibu saja." Entah apa yang terjadi kemudian. Apa perasaan mereka? Si bapak pun mengatakan yang sama nadanya kepada anak yang lain. Pagi hari mereka pun bergegas dengan perasaan entah apa, mereka naik motor dengan badan yang sudah dililit bom yang akan menghantar nyawa mereka ke "surga". Kubayangkan juga ledakan yang terjadi di rusun dan belum sempat diledakkan di tempat lain. Pastilah keluarga itu berdegup saat mau menghancurkan diri dan orang lain. Bagaimana pergulatan di antara mereka sehingga belum sempat mengebom tempat lain?

Ah, kalau aku menyatakan hal yang berkaitan dengan agama lain pastilah ini sebuah ujaran kebencian. Memang akhirnya yang ada adalah sisa-sisa kebencian karena ada saudara yang mati karena kebiadaban dari mereka. Ada polisi, anak, orangtua, saudara, kenalan, rekan dan sebagainya. Jumlah tidaklah penting. Jika yang korban pun itu hanya seorang, bagi saya itu sudah merupakan sebuah kebiadaban. Apapun yang sudah merusak hidup adalah kebiadaban. Sepertinya mereka berkuasa atas hidup mati orang lain. Mereka seolah menghalalkan hidup orang lain untuk dihentikan. Tidak. Yang berhak hanyalah yang memberi hidup. Keluarga sebagai sumber hidup awali menjadi sumber kematian awali pula. Bagaimana ini tidak merusak citra keluarga saat ini? Ini adalah tindakan biadab. Sekali lagi keluarga sebagai institusi tercoreng dengan hal ini. Awal kehidupan ada dalam keluarga. Akhir kehidupan juga akhirnya keluarga karena keluarga adalah pembunuh berdarah dingin dari kasus ini. Ironis sekali!

Akhirnya aku hanya bisa diam. Bagaimana aku akan komentar lagi ketika wadah awali kehidupan sudah tercemar dan hancur. Memaafkan? Tidak semudah itu. Bagiku ini sebuah hal yang sulit untuk dimaafkan. Memang idealnya adalah memaafkan namun tanpa sebuah proses yang sampai akar dan akhir, maka maaf itu hanya kepalsuan hidup saja. Ada kesalahan, ya. Namun serta merta hanya kita terus mau lari dari kenyataan dan sejatinya hidup ini. Jika masih ingin memangsa kita yang dianggap halal darahnya, silakan saja dihabisi sampai habis. Namun sebenarnya mau apa kalau sudah habis yang dianggap halal dibunuh? Apa yang sejatinya akhir dari sebuah tujuan itu semua? Itulah yang masih menjadi pertanyaan dari diriku dan mungkin dari yang lain yang terancam dihabisi juga.


#morning#

Friday, April 13, 2018

Perhitungan dan Mudah Menuntut

Jika semua dalam kehidupan ini semua serba diperhitungkan dan harus sesuai dengan keinginan semua, saya kira Gusti Allah pun tidak sanggup untuk memenuhi. Menurut pemikiran atau iman kita mengatakan bahwa Gusti Allah Maha Besar dan Maha Kuasa tetapi nyatanya manusianya saja tidak mau dikuasai olah Gusti Allah yang dijuluki Maha Kuasa. Dari sini saja, saya kemudian mengamini apa yang dikatakan Sigmud Freud (terinspirasi dari Feurbach) bahwa julukan kepada Gusti Allah hanya sebatas proyeksi manusia, supaya keinginannya dituruti. Atau dikatakan bahwa semua sifat Gusti Allah itu hanya sebuah proyeksi dari hasrat manusianya. Jika tidak terpenuhi hasratnya, maka sifat-sifat tadi tidak berlaku lagi. Si manusia ini akan ngambek (mutung) dan protes. Sebenarnya manusia sudah mengadakan perhitungan dengan Gusti Allah.

Dalam sebuah artikel yang bernuansa anak muda dalam sebuah sekolah, nada serupa pun terjadi. Ketika sebuah anggaran dipangkas dalam sebuah perhelatan, maka terjadi protes yang senada karena hasrat keinginan supaya dipenuhi. Ketika proposal tidak dipenuhi, maka yang terjadi adalah protes. Merasa bahwa apa yang selama ini direncanakan tidak dihargai. Ada kesewenang-wenangan dari pihak lembaga. Lembaga dianggap sebagai yang berkuasa dan sewenang-wenang. Ibaratnya Gusti Allah yang Maha Besar berubah menjadi penguasa yang menindas, yang berubah kepada kekuasaan lembaga yang memangkas anggarannya. 

Kisah yang lain, ketika sebuah pekerjaan tertentu selesai, ada waktu penerimaan honor untuk kepanitiaan. Honor didapat karena konsekuensi dari pekerjaan yang dibuat. Namun yang kadang atau sering terjadi adalah bahwa seluruh pernik-pernik pekerjaan disuruh memperhitungkan dalam hitungan nominal duit yang harus dibayarkan kepada pekerja itu. Persiapan yang terdiri dari beberapa kali harus dihitung. Pelaksanaan yang terdiri dari beberapa kali dan macam pekerjaan harus dihitung. Penyelesaian dari pelaksanaan tugas yang terdiri dari beberapa kali dan macamnya diminta menghitung. Semua serba dihitung dengan nominal duit. 

Mengapa ada sikap perhitungan dan mudah menuntut atau protes dalam diri manusia? Itu yang menjadi pertanyaan dalam diri saya. Seolah-olah hidupku hanya sebatas hitungan duit. Hitungan itu adalah kehormatanku. Dan sepertinya tidak ada kehormatan yang lain selain pemenuhan atas perhitungan-perhitungan yang lain. Tidak ada kemurahan hati dan tidak ada pengertian bahwa semua itu tentu ada batasan dan alasannya. Ketika disebutkan bahwa Gusti Allah Maha Besar dan Kuasa dan Sempurna mengapa ada juga ciptaan yang tidak sempurna? Apa memang disengaja bahwa ada makhluk yang cacat? Apa memang sengaja bahwa ada bencana? Apa memang disengaja bahwa ada peperangan? Mengapa ada kejahatan (evil) di dunia ini kalau Gusti Allah katanya Maha segalanya? 

Jawabannya bisa seperti ini kalau dilihat dari fenomena yang ada. Pertama, si manusia cenderung akan banyak menuntut karena paham di atas tadi dan menjadikan Gusti Allah adalah pihak yang harus memenuhi keinginan manusia. Kedua, si manusia kemudian hanya mau cuci tangan jika ada ketidaksempurnaan dalam kehidupan ini: sakit, kemiskinan, kejahatan, bencana, dan sebagainya, lantas menyalahkan pihak Gusti Allah. Padahal dalam sebuah tulisan refleksi Yohanes menanggapi persoalan orang buta sejak lahir itu demikian: "Orang buta sejak lahirnya itu bukan masalah dosa bapak-ibunya atau kutukan dari Allah namun supaya kasih Allah itu nampak dalam hal yang seperti itu." Benarkah? Lantas bagaimana itu nampak? 

Gusti Allah yang direfleksikan Yohanes bukanlah Penguasa yang lantas menyelesaikan sendirian namun justru melibatkan manusia. Kasih Allah yang nampak itu justru harus mulai dari kesadaran manusia yang kemudian tergerak untuk membantu sesamanya. Kasih Allah yang nampak itu ada pada diri sesama yang membantu orang buta sejak lahir itu kepada Yesus. Yesus, Anak Manusia, tergerak untuk membantu dan menyembuhkan. Ibaratnya cara Gusti Allah itu adalah cara berbagi kehidupan dengan tindakan yang nyata. Tidak ada perhitungan untung rugi, aku dapat berapa dari manusia ketika aku membantu. Kemurahan hati itulah yang sebenarnya ada dalam kehidupan ini. Kasih Allah yang nampak itu ada dalam kemurahan hati

Krisis dalam kehidupan ini sebenarnya adalah krisis kemurahan hati. Di sisi lain orang kemudian mengartikan bahwa kemurahan hati hanya demi kepentingan dirinya. Kemurahan hati harus dari pihak lain daripada diriku. Ini yang kemudian tidak fair.  Kalau kemurahan hati hanya dari sisi di luar diriku, lantas bagaimana akan ada saling berbagi kehidupan? Yang terjadi adalah perhitungan-perhitungan. Perhitungan-perhitungan akhirnya juga akan membunuh salah satu dari pihak-pihak yang mengadakan pekerjaan bersama. Kemurahan hati pun kadang juga harus mengingat kekuatan dan kemampuan diri dari yang bisa memberi. 

Aku mencurigai bahwa krisis ini bermula dari pola asuh dan pola relasi dalam keluarga. Krisis ini mulai karena sejak semula manusia terfasilitasi dan serba diumbar keinginannya. Semua serba dituruti. Kalau tidak dituruti, maka akan merengek dan ngambek. Seorang ayah yang tidak tega dengan anaknya yang merengek meminta mainan, maka ayah itu akan membelikan walau uangnya harus dari hutang. Sepertinya tidak ada cara lain yang bisa dibuat. Bolehlah kalau hanya sekali dua kali, dan suatu saat pola ini harus dikatakan kepada anaknya supaya anaknya pun tahu bahwa orangtua kerja keras dan berkurban demi cintanya. Walau tidak semuanya harus dikatakan. Tidak memenuhi rengekan anak sekali-kali pun juga perlu dibuat demi tujuan yang lebih luhur yaitu supaya anak tidak menjadi lembek dan manja. Tidak semua tumbuhan dapat air jika kemarau. 

Oleh karena itu, dari keprihatinan ini, aku pun perlu berlatih murah hati namun berani untuk tidak selalu terpenuhi hidupnya. Kemurahan hati adalah salah satu bentuk berbagi sama seperti Bapamu adalah murah hati. Kemurahan hati adalah bentuk dari kasih Allah yang kelihatan pada sisi-sisi ketidaksempurnaan hidup di dunia ini, bukan soal perhitungan. Dalam sebuah film dokumenter tentang rekayasa genetika, sebenarnya peta genetika itu hampir semua tergambarkan. Namun dalam akhir refleksi film itu dikatakan: "Jika semua harus sempurna, dengan menggabungkan gen dan DNA yang serba sempurna, maka tidak ada lagi resiko dalam kehidupan ini. Kehidupan mengalami kekayaannya karena ada sisi resiko itu. Yang lemah mendapat bantuan dari yang kuat. Yang cacat mendapat bantuan dari yang sehat. Itulah kehidupan." Jika semua manusia itu sempurna: otaknya seperti Enstein, wajahnya rupawan seperti Marlyn Monroe, kekuatannya hebat seperti 100 ekor kuda, maka semua didesain dan diperhitungkan sedemikian rupa sampai-sampai ambisi semua sempurna itu menguasai kehidupan. 

Kelemahan terjadi supaya energi kasih Allah itu nampak dalam kehidupan di alam semesta ini. Itulah sekilas aku merenung dan mencoba mencari jawab atas kecenderungan orang gampang menuntut dan selalu perhitungan dengan nominal (uang/waktu/urusan). Jadilah murah hati sama seperti Bapamu adalah murah hati. 

#morning time#

Monday, March 12, 2018

Gaduh

Berisik sering menjadi perilaku kita sehari-hari. Lebih banyak bicara daripada bertindak. Itulah yang sering terjadi. Orang yang sering berkata dan tidak bisa tenang rasanya seperti air yang terus beriak dan ada sesuatu yang terus mengguncangnya. Riakan itu adalah akibat guncangan dari wadahnya atau energi yang mempengaruhi dari luar air itu. Termasuk mendidihnya air sehingga suhu dan gerakan molekulnya menjadi lain. Jika air itu dingin dan tidak ada pergerakan energi, air itu tetap tenang. Namun jika ada pemanasan dari luar dirinya dan atau wadahnya, maka air itu bergejolak. Orang Jawa menyebutnya "mumpal-mumpal". Peribahasa lain mengatakan "air beriak tanda tak dalam." Nah, kalau air itu dipanasi terus sampai mendidih, maka ada bentuk lain yang kelihatan yaitu uap. Uap adalah bentuk lain dari air yang dipanaskan dan membentuk gas, massanya lebih ringan (bahasa dalam Fisika atau Kimia).

Entah mengapa orang suka gaduh. Orang suka langsung meluapkan apa yang dirasa, dipikirnya. Orang lebih suka mengobral rasa dan pikir daripada diendapkan dulu dan diungkapkan dengan lebih cerdas dan bijaksana. Di sinilah kualitas bangsa atau pribadi seseorang itu kelihatan.  Entah mengapa orang mudah sekali mengumpat, menjelek-jelekkan orang lain, saudaranya, orang yang tidak disukai, orang yang tidak seide dengan dirinya, orang yang tidak seiman dikatakan kafir dengan nada kasar dan diobral di ruang-ruang publik. Ada energi negatif yang selalu memanaskan sentimen orang sehingga meluapkan kemarahan, kebencian, ketidaksukaan, dan sebagainya.

Di sisi lain pengungkapan kegaduhan itu demi ego dirinya. Semua ingin dikuasai sebagaimana suara keras adalah lambang penguasaan massa. Siapa yang lebih gaduh dengan suara keras dan lantang, sepertinya mereka atau ia yang berkuasa. Memang bahwa kegaduhan adalah bagian dari ingin nafsu berkuasa. Yang lain ditindas dengan membungkam suara dengan kekerasan suaranya. Dan memang ketika mendengar kegaduhan itu, telinga menjadi bising dan teriakan-teriakan itu menekan pihak lain yang sebenarnya ingin hidup bersama dan berdampingan. Pertanyaannya adalah apakah tidak ada cara lain untuk hidup berdampingan itu? Apakah hidup hanya demi kekuasaan belaka? Apakah jika tidak gaduh itu tidak hidup?

Orang yang bekerja mengandaikan sebuah fokus tertentu. Fokus tidak bisa hanya dilakukan kalau dirinya gaduh secara fisik maupun batin atau rohani. Hidup bukan hanya untuk gaduh. Hidup ini juga untuk hening dan kerja. Kerja itu harus fokus juga. Selain tidak mengganggu konsentrasi diri, juga dengan hening menjaga konsentrasi orang lain. Hidup saling menolong dan membantu adalah sebenarnya yang perlu kita ciptakan. Hidup yang saling mengganggu adalah hidup dalam kekacauan. Apakah hidup ini maunya kacau terus? Tentu kan tidak bagi yang normal alamiah. Aku tidak tahu kalau ada yang tidak normal di dunia ini. Kusadari bahwa di dunia ini juga banyak yang tidak normal dan aku pantas menghargai ketidaknormalan itu dalam batasan yang umum.

Air pun ada yang beriak namun tidak di semua aliran sungai. Air pun ada yang menjadi uap namun tidak semua menguap. Ada manusia yang "menep", ada yang masih "mubal". Ada yang hidupnya dalam dan bijaksana. Ada yang hidupnya masih supervisial dan gaduh. Kegaduhan yang memakai embel-embel Tuhan sekalipun adalah supervisialitas hidup itu sendiri. Dalam dirinya, ia tetap saja kedangkalan itu. Ia tidak fokus. Ia ingin berkuasa. Ia ingin menjajah yang lain. Ia ingin dianggap dirinya lebih dari yang lain. Dan tentunya ia mengganggu yang lain. Sedangkan hidup ini selayaknya menjadi dalam, tidak dangkal. Hidup yang dalam itu mampu mengendalikan luapan air sebesar apapun. Kedalaman itu tempat tumpahan air dari atas. Ia akan meresapkan ke bawah atau meluberkan dengan cara yang lebih tenang. Beda dengan penampang yang dangkal, maka ia akan memuntahkan segalanya dan memercikkan ke sekitarnya.



#morning in office#

Thursday, February 15, 2018

Agama Baru: Korupsi

Berkali-kali yang terdengar di pemberitaan media sosial adalah OTT alias Operasi Tangkap Tangan. Mereka-mereka yang terlibat dalam suap-suapan, bukan menyuapi makanan tetapi menyuap dengan duit yang tidak sedikit itu akhirnya tertangkap. Biasanya kalau sudah tertangkap lalu diproses dibongkar dan dirunut sebab musababnya. Hemmmm....saat ini yang ditakuti banyak orang karena saking asiknya main suap lalu tercyduk. Kalau sudah ditangkap KPK alias Komisi Pemberantasan Korupsi lantas diberitakan dan itu tandanya sudah kasus besar. Yah, saking asik dan terbiasanya maka itu menjadi budaya dan karakter masyarakat (Indonesia?). Aku belum berani membuka tanda kurung itu karena bisa jadi terjadi di mana pun yang namanya itu korupsi. Tetapi memang di dalam pemberitaan internal negeri ini sduah sekian banyak kasus tangkap tangan ini. Ada apa sebenarnya dengan bangsa ini?

Aku tidak bisa menjawab langsung. Jawaban itu hanya sebuah rerasanan dalam diri yang kutuangkan dalam artikel sederhana ini. Mengapa orang begitu mudah main suap? Pengalaman selama ini demikian: saat mau urus KTP dari Jateng ke Jakarta tahun 1998, aku harus membayar per orangnya Rp. 5000,00. Artinya, yang sebenarnya tidak perlu bayar karena itu harus dikerjakan layaknya sebuah pelayanan dan memang tugasnya sebuah instansi pembuat KTP dalam pemerintahan lokal ya masyarakat tidak perlu membayar. Atau kalaupun itu ada dalam UU Pembuatan KTP, ya seharusnya masyarakat sudah tahu tarifnya. Nah, dari pengalaman 20 tahun lalu ini lantas aku berpikir, tidak ada UU Pembuatan KTP dengan tarif yang ada di dalamnya, ya kita harus membayar. Uangnya pun seharusnya standar dan tidak sesuai wilayah, kecuali ada ketentuan dalam peraturan atau UU tersebut. Kembali ke pengalaman 20 tahun lalu itu, aku sebenarnya diminta lebih tetapi sambil mengetes petugas di Tanah Abang waktu itu, aku beralasan bahwa aku hanya naik sepeda ontel saat mengurus perpindahan KTP ini. Waktu itu pun aku diancam karena mungkin melihat kami berempat orang udik dari desa Bregas Jateng lalu pindah ke Metropolitan Jakarta dengan alasan demikian: tanggal perpindahan sudah telat. Padahal tanggal itu berlaku nasional dan kami yakin tidak telat. Lalu jawaban kami: "Kami memilih dipenjara daripada harus bayar uang sejumlah Rp. 500 juta rupiah." Para petugas menyuruh kami menunggu. Lalu kami mendapat jawaban: "Ya sudah, silakan memberi uang administrasi Rp. 20.000, 00". Lha, koq begitu mudah berubah. Seharusnya kalau aturannya memang kuat dan tegas kami salah ya antara denda dan hukuman penjara karena salah dalam urusan KTP. Ternyata itu hanya motivasi di balik seluruh konspirasi mafia birokrasi urusan KTP.

Begitu mudahnya orang mencari keuntungan dengan embel-embel "uang pelicin" sehingga Fadli Zon dan Fahri Hamzah mengatakan bahwa korupsi adalah oli pembangunan. Mungkin yang dimaksud adalah uang pelicin ini. Begitu mudahnya orang cari cara untuk menambah keuntungan materi dengan merugikan dan tidak konsisten dengan UU atau PP atau peraturan lainnya. Atau aku selalu berpikir, apakah pengaruh dari mentalitas Orde Baru zaman Soeharto yang begitu melihat banyaknya praktik-praktik kongkalikong dalam keluarga penguasa sehingga orang mau membayar harga supaya kerja dan urusannya lancar. Kalau kita mau lancar ya silakan menyuap. Siapa yang tidak ingin pekerjaan dan urusannya lancar? Kalau mau lancar ya dekatlah dengan penguasa. Kalau mau dekat dengan penguasa ya harus berani membayar jalur kepada kedekatan itu. Zaman itu memang paradigmanya adalah kalau mau meloloskan dengan lancar usahanya entah mau jadi pegawai negeri, mau jadi pejabat, mau lulus perguruan tinggi, atau yang lain maka pakai uang pelicin. Itu sudah seperti normal. Mau buat KTP/SIM/pindah tugas/mencaftar jadi polisi/mahasiswa dsb, segala urusan harus dengan uang pelicin karena orang ingin mudah lolos. Tes penerimaan atau ujian apapun hanya sebagai formalitas. Yang penting adalah uang pelicin dan siapa yang "membawa." Semakin tinggi pangkat dan kekuasaannya, semakin cepat urusan yang kita bawa. Plus berapa duit yang harus dibuat pelicin.

Ternyata pola bertindak yang menjadi kebiasaan dan menjadi "lumrah" di kalangan masyarakat kita ini sudah menjadi mendarah daging dan dimasuki, diyakini, diamini. Maka aku pun dengan sebenarnya tidak begitu rela mengatakan jenis agama baru itu adalah pola perilaku korupsi ini. Sebenarnya korupsi sendiri berasal dari bahasa Latin, "corrumpere" yang berarti membusuk(kan). Ketidakrelaanku adalah moso agama baru ini adalah kebusukan? Namun demikian jika memang praktik-praktik keyakinan supaya menjadi terkabul semua itu dengan pelicin alias main suap tadi, maka masyarakat akan "menganut" cara bertindak yang salah alias busuk ini.Pernyataan kritis lagi adalah bahwa sebenarnya agama atau institusi keyakinan iman ini tidak sekedar mengajak penganutnya untuk cari mudah dalam perjuangan hidup maka inilah yang menjadi kontraproduktif dari istilah "agama baru" yang bernama korupsi ini. Namun untuk membuat satir ya boleh saja. Orang bisa menjadi baik karena agama, sebaliknya orang menjadi busuk juga karena praktik agama yang salah seperti situasi akhir-akhir ini. Korupsi dan radikal-fundamentalisme merusak mentalitas kebanyakan orang.

Pertanyaan dalam diriku: apakah orang hanya cari mudahnya dalam hidup? Cari kebahagiaan itu ya. Namun kebahagiaan bukan lantas cari jalan pintas. Apakah orang tidak ingin repot? Kebanyakan iya. Ada kesalingan dalam kebutuhan, di sisi lain ada orang yang ingin difasilitasi dan di sisi lain ada orang yang menyediakan kesempatan dan fasilitas itu. Budaya feodal juga berpengaruh karena penguasa harus diberi persembahan atau upeti. Jika tidak ada upeti maka wilayahnya akan dihancurkan oleh penguasa. Ini adalah soal penguasaan. Perang kekuasaan juga terlibat dalam skandal korupsi. Jadi, selain motivasi kemudahan juga ada sisi lain yaitu praktik penyalahgunaan kekuasaan. Oleh karena itu klop sudah lahirnya "agama baru" itu.


#noon time
in my office#

Friday, January 26, 2018

Attentive

Persoalannya ada pada hati dan telinga. Namun demikian, dalam pengalamanku itu membuat seluruh hidup kadang tidak berjalan pada rel-nya. Aku mengangkat soal atensi, attentiveness, atau bisa saja dikatakan soal perhatian. Mengapa ini penting? Mengapa ini kutulis di awal tahun ini? Problem ini kuangkat karena memang zaman ini tidak mudah bagi siapapun untuk attentive mendengar, memerhatikan, mengamati, peduli, dan sebagainya. Attentiveness sebagai alat bantu menerima diri dan sesama pun sangatlah mahal. Aku merasakan beberapa fenomena yang serupa; bagaimana orang tidak mudah untuk mengikuti arahan atau petunjuk; di jalan orang tidak perhatian membaca atau perhatian pada TANDA; dalam sebuah mall tidak dengan mudah orang menemukan PETUNJUK peta dari mall ini, dan sebagainya. Bahkan seorang superior sekalipun tidak mudah untuk attentive dengan pekerjaan dari atasan ataupun anak buahnya. Seringkali yang ada dalam diri kita hanyalah apa yang kumau, kupikir, kuperhatikan, dan yang kuinginkan saja. Perkara lain di luar diriku kuanggap tidak penting. Itulah kekurangan sisi attentivitas.

Kurang peduli ini yang menjadikan orang tidak taat. Tidak taat bukan sekedar dengan orang atau pemimpin di atasnya namun juga tidak taat dengan sistem yang dihidupinya. Aku makin menjadi yakin bahwa problem utama orang tidak taat bukan karena tidak cocok pada sosok yang di atasnya namun sebenarnya soal tidak punya attentiveness ini. Pertanyaannya mengapa tidak ada attentiveness? Penyakit manusia sejak awal adalah karena ia hanya ingin hidup dengan aturan yang ia punya. Atau dengan lain kata, ia tidak mau diatur oleh apapun dan siapapun. Bahkan kalau jujur sekalipun orang perlu Pencipta sekalipun. Pencipta dan yang menentukan hidupnya hanyalah pihak yang terlalu membatasi dirinya. Pencipta dan pengatur hendaknya "dibunuh" agar ia mampu berkuasa. Setelah aku hidup, hanya akulah yang berkuasa atas hidupku dan kalau bisa hidup orang lain.

Orang tidak taat karena ia ingin berkuasa. Ketika tidak punya rasa peduli pada orang lain maka di sanalah rongrongan keinginan untuk berkuasa itu besar. Orang mudah cuek dan mudah sekali tidak perhatian pada sesama. Atau ekstrem lain yang ada adalah bahwa karena ia punya kemampuan yang lebih maka ia tidak segan-segan memanfaatkan pihak lain demi kepentingan dirinya. Problem yang dialami seorang pemimpin ketika menghadapi berbagai anggota adalah harus berani berhadapan dengan kelompok-kelompok keras dengan kemampuan intelektual tinggi, berhadapan dengan mereka yang kemampuannya rata-rata, dan mereka yang kemampuannya di bawah rata-rata. Itu pun masih dengan berbagai kehendak masing-masing yang serba tak beraturan. Dengan berbagai dalih yang ada, di sanalah seorang pemimpin itu diuji kemampuannya.

Ketika mengajak untuk berbuat sesuatu pun tidak mudah mengarahkan pada kehendak yang ada pada diri pemimpin itu sendiri. Pemimpin pun harus pandai-pandai melihat situasi yang ada pada kelompok tertentu yang tengah dihadapinya. Bisa jadi kelompok yang satu bisa diarahkan ke sana namun belum tentu dengan jalan yang sama di kelompok yang lain. Kejelian melihat karakter kerumunan ini penting. Mengarahkan pada tujuan yang sama dengan cara yang berbeda pantas dibuat juga.

Saat aku harus terbaring sebentar karena kecapaian, aku merenungkan hal ini. Betapa tidak mudah untuk attentive pada sebuah hal besar yang diajakkan oleh seorang pemimpin sekalipun itu pemimpin yang kalibernya Jendral (pemimpin umum). Ketika usaha untuk mengajak membaca keprihatinan seorang pemimpin diadakan, tidak semua menanggapi dengan antusias. Tidak semua punya sikap attentive. Semua hanya peduli dengan pekerjaanku. Semua hanya terpusat pada ideku. Semua hanya maunya sendiri. Dan kurasakan betapa krisis ketaatan ini sungguh kuat. Dari hal ini, aku lantas bertanya pada diriku: haruslah bagaimana membaca ketaatan orang pada zaman ini? Semakin orang maju dengan pemikiran dan sarananya, semakin orang tidak mudah diajak untuk merdeka dan mau attentively listening, caring, and thinking. Benarlah perkataan ini: " Kalian mendengar namun tidak mengerti, kalian melihat namun tidak percaya." Itulah persoalan ketiadaan attentiveness pada diri seseorang.

Ini soal serius yang bukan hanya kupikir dan kurasakan sat bed rest. Ini adalah tantangan sekian manusia yang masih menghuni planet biru yang bernama bumi ini. Orang makin rakus dengan keinginannya. Orang makin membangun sekat dalam dirinya dan tak peduli dengan yang lain.  Orang makin mengumbar nafsu perang dengan yang lain. Di sisi lain makin banyak orang tidak peduli lagi karena ada trauma masa lalu yang menyangkut hal personal dan itu sangat menyakitkan. Adanya keterpecahan dalam dunia ini makin membawa orang tidak lagi peduli satu sama lain. Sakitnya dunia ini bukanlah soal penyakit fisik namun lebih pada penyakit kronis mentalitas batiniah. Ada krisis spiritual di sana yang tidak boleh diabaikan. Maka dibutuhkanlah rekonsiliasi, pertobatan mulai dari diri, komunitas dan akhirnya lembaga. Inilah yang perlu diusahakan.


#noon time#