Setelah bangsa ini ditekan selama hampir satu generasi. Hitung saja satu generasi katakanlah usianya 40 tahun. Bangsa ini harus tertatih-tatih untuk berjalan memilih pemimpin yang selama ini ada. Di awal bangsa ini berdiri, situasi keterpaksaanlah yang melahirkan pemimpin. Karena masih begitu muda, kepemimpinan pun mengikuti situasi dan kondisinya. Namun bangsa ini tidak berdiri sendiri. Ada bangsa-bangsa lain yang juga hidup bersama dengan segala kepentingannya. Lalu kepemimpinan awal itu dilengserkan dengan berbagai macam faktor dari internal maupun eksternal. Ada ketakutan bahwa pemimpin awal ini berkuasa seumur hidup. Oleh karenanya, ada gerakan menggulingkannya. Ada ketakutan lain dari pihak luar bahwa pemimpin awal ini akan membuat blok merah yang sangat ditentang sebagian dari bangsa-bangsa lain karena ideologinya. Lalu dibuatlah skenario menjatuhkan pemimpin awal. Pemimpin kedua muncul dari situasi serba tidak jelas (walau sebenarnya bisa dijelaskan), dan itu membutuhkan korban sekian banyak nyawa.Pemimpin kedua berkuasa dengan gaya tentara yang totaliter, protokoler, dan serba teknis. Ideologi dibuat sesederhana mungkin dengan berlandas pada dasar negara. Tanpa embel-embel dasar ini maka akan ada pemberangusan dan dimatikan. Kesederhanaan ideologi pemimpin ini menunjukkan bahwa ada keinginan untuk membawa bangsa ini pada kesatuan yang semu. Semua harus lewat protokoler, birokrasi, dan memanipulasi diri. Oleh karena itu, selama satu generasi kita diformat dengan manipulasi diri. Keunggulan dari rejim pemimpin kedua adalah manipulasi. Budaya disebut sebagai budaya harus dengan manipulasi. Semua adalah kepalsuan. Kepalsuan ini yang membawa pada intrik-intrik sana sini. Belum lagi pemimpin kedua ini tidak tahan jujur dengan keluarga dan kroni-kroninya. Maka kekayaan dan kekuasaan dipegang sepenuhnya oleh jaringan keluarga. Ketakutan akan pemimpin pertama membawa pola yang justru ditakutkan itu. Kekuasaan seumur hidup hampir nyata. Dan kekuasaan sentralistik juga dirasakan kuat, bak seorang raja mengendalikan kerajaannya.
Hasilnya, rakyat marah dan terjadi revolusi menurunkan pemimpin kedua. Korban nyawa juga tak terhindarkan. Sayangnya, tidak ada status apa yang disematkan pada pelanggaran-pelanggaran dari kroni dan keluarga pemimpin kedua. Secara moral salah, itu YA, namun secara kebijakan politik dan hukum tidak ada konsekuensi atau sanksi apapun: apakah bersalah atau tidak. Berbeda dari perlakuan pemimpin kedua terhadap pemimpin pertama dan pengikutnya, yaitu siapapun pengikut pemimpin pertama maka akan diperlakukan tidak adil. Bahkan mayatnya pun tidak boleh dikuburkan di pusat pemerintahan.
Pemimpin kedua lengser. Keluarganya masih melenggang dengan kekayaan berjibun di sana-sini. Layaknya mereka masih berkuasa selama dua dekade lebih. Kekuasaan itu masih tetap terasa dengan kekayaan yang dimiliki sampai sekarang. Tidak adanya perlakuan hukum yang jelas pun akhirnya membuat kejahatan pemimpin pertama dan kroni-kroninya seolah tidak kelihatan dan dibuat tidak ada. Pemimpin-pemimpin setelahnya, dari ketiga sampai keenam itu hanya pemimpin-pemimpin yang seperti mampir saja dalam perjalanan. Yang terasa sebenarnya adalah kekuasaan pemimpin kedua dan yang akan melawannya. Namun sepertinya kekuasaan pemimpin kedua dan roh yang mempengaruhinya jauh lebih kuat. Kekuatan sekaligus kelemahan pemimpin kedua yang membuat nasib bangsa seperti sekarang ini adalah bangsa ini sudah terlalu lama dibuat tidak bisa memilih. "Tidak ada pilihan dalam hidupmu". Itulah ideologinya. Akibatnya, semua itu ditentukan penguasa. Yang lain dari pilihan penguasa adalah subversif, makar. Tidak sama warnanya adalah pemberontakan.
Ketika ada seorang pemimpin yang baru dan akan melawan ideologi yang sudah berakar dalam diri bangsa ini pun masih saja ada yang melawan dengan ideologi yang sama: "lebih baik kembali ke pemimpin kedua. Hidup tidak perlu memilih." Yang tidak sama dengan waktu pemimpin kedua maka itu dicap dengan berbagai istilah-istilah tuduhan seperti waktu pemipin kedua. Kebangkitan roh pemimpin pertama seperti dibangkitkan dan dipopulerkan. Roh itu adalah roh yang tidak ingin bangsa ini pandai, tidak ingin bangsa ini mampu memilih dan mandiri dengan kemerdekaan berpikir dan berkehendak. Kemerdekaan memilih dan menentukan dirinya ditakutkan akan membuat jadi kacau. Itulah ketakutan rezim totaliter.
Bisa dipahami bahwa mengapa kita tidak merdeka karena kita tidak merdeka dengan kehendak bebas kita. Apa-apa dalam hidup ini terbelenggu oleh aturan yang dibuat oleh kekuasaan pemimpin. Kita tidak kenal siapa diri kita karena kita dibentuk untuk tidak menjadi diri kita. Kita tidak merdeka karena kita dibuat terjajah terus. Kita tidak pandai karena kita dibodohi terus. Panggilan kita adalah melepaskan seluruh penjajahan atas hidup dan diri kita. Kalau terjadi kekacauan, ya kita terima saja dengan kesadaran untuk menjadi dewasa dan teratur. Pemimpin dan kepemimpinan itu selayaknya memberi ruang merdeka untuk belajar memilih dan memutuskan. Setelahnya harus berani dan konsekuen menghidupi dan mengawal komitmen dari proses kepemimpinan. Tidak ada pemimpin yang ideal. Semua pemimpin itu real dan tentu punya kelebihan dan kekurangannya.
#morningtime#