Beberapa waktu ini aku dihadapkan dengan mentalitas atau tradisi atau kebiasaan manusia yang suka dengan hal-hal material dan konsumeris. Ada 12 uskup dan 4 imam (Katolik) yang menghadiri pernikahan anak orang kaya dan penyumbang besar yayasan apalah namanya. Ada orangtua yang memikirkan anaknya tidak gemuk lagi dan tidak rela jika anaknya kurus karena harus memikirkan diri dan masa depannya. Poin dan angka menjadi perhatian, Sejumlah harta besar selalu menjadi keinginan orang untuk memilikinya. Banyak hal yang diukur dengan angka dan materi. Akhirnya orang tidak rela jika sesuatu yang lain itu kemudian mempertanyakannya. Ada ketidakrelaan jika olah diri manusia yang sangat kompleks ini dibarengi dengan kemunduran angka berat badan seseorang. Orang takluk dengan angka dan hawa nafsu memiliki benda. Orang menjadi tidak bisa berbicara jernih ketika dibungkam oleh uang dan keinginan untuk memenuhi kebutuhan fisik dan materinya.Bulan ini adalah bulan yang mau memulai masa untuk matiraga. Pantang dan puasa bagi dunia yang saat ini sangat asing harus diingatkan kembali. Orang zaman sekarang sepertinya dihinggapi roh yang isinya hanya memakan, memakan, dan memakan. Konsumsi diagung-agungkan. Hal yang kaitannya dengan makanan, kuliner, dan hal-hal lain sangatlah marak. Orang cenderung memperkaya khasanah dengan berbagai jenis dan citarasa masakan. Entah itu makanan kecil maupun hidangan makanan berat. Orang seperti tak mau kalah dengan rasa bosan dan monoton. Memang kita dihinggapi rasa kuatir jika bosan maka roh yang berlaku adalah jangan sampai bosan maka ciptakanlah variasi makanan, program, kurikulum dan sebagainya. Orang akan ingin mencicipi dan menyantap hal-hal yang serba baru dan sebenarnya berasal dari keaslian yang sama. Bentuk berbeda. Rasa sama. Orang cenderung ingin selalu berpindah dari satu hal ke hal yang lain. Dalam satu rentang waktu orang ingin menikmati berbagai kesenangan yang ada tanpa mengimbangi dengan mencecap dan mengolah dalam-dalam untuk menghayatinya sebagai sebuah makna. Con dan sumare seolah memang menjadi pokok perilaku manusia yang sudah dihinggapi roh yang maunya merangkum bersama dalam satu wadah yaitu perutnya. Wadah yang ada dalam raga ini untuk segala pemuasan ini adalah perut. Perut tidak hanya sekedar berarti lambung. Perut adalah hal-hal yang sifatnya membutuhkan pemenuhan pemuasan rasa lapar badan dan jiwa manusia.
Orang saat ini seperti haus akan hidupnya sendiri yang sebenarnya sarat dengan kekayaan makna. Manusia hanya melanglang buana ke alam lain yang jauh dari dirinya. Artinya, dirinya malah menginginkan segala sesuatu yang di luar dirinya. Ada kecenderungan ingin memenuhi diri dengan asesoris luaran. Ada keinginan memasukkan dalam dirinya supaya dirinya puas dan terpenuhi. Jika ada yang salah dengan yang berkaitan dengan dirinya, ia akan marah dan sebisa mungkin orang lain atau pihak lain yang harus dituntut. Rasa ingin dan keinginan itu harus dipenuhi. Jika tidak dipenuhi maka ada yang salah. Inilah yang kemudian perlu dijernihkan.
Segala sesuatu tak semua harus terpenuhi. Dengan demikian diri kita tidak akan nyaman. Kenyamanan hanya akan melemahkan mentalitas diri manusia. Ketika mental manusia lemah, dia tak hidup dengan dirinya tapi hidup dengan asesoris tadi. Pemenuhan-pemenuhan harus terjadi. Jika tidak dipenuhi maka akan merengak dan marah. Semua harus memberi dia kenyamanan (satisfied). Egoisme akhirnya yang mengendalikan diri manusia. Konsumeristik, materialistik, dan egoistik sepertinya unsur-unsur yang saling terkait. Di sanalah orang cenderung hanya memikirkan diriya yang jika tidak hati-hati akan terbawa pada mentalitas tamak (greedy).
Orang tak kenal lagi matiraga tetapi diet. Matiraga itu membawa seseorang pada keluhuran diri sebagai ciptaan yang sadar akan keberadaan dirinya. Matiraga tidak sama dengan diet. Diet dibuat karena sebuah reaksi atas tubuh yang kurang bagus atau penyakit. Diet dimaknai sebagai pengurangan sesuatu demi kebaikan secara fisik dan penampilan. Matiraga lebih pada apa yang akan aku hidupi, hidup batinnya yang ditekankan. Materi atau fisik itu menyusul kemudian. Itulah perbedaan manusia zaman sekarang dan sebelumnya. Orang diet motivasinya supaya sembuh dari penyakit atau supaya penampilan fisiknya baik. Orang matiraga motivasinya memurnikan kehidupan batin, ada nilai yang diperjuangkan. Misalnya, supaya tidak tamak, supaya solider dengan orang miskin yang jarang makan enak, dan sebagainya.Oleh karena itu, jika badan sehat dan tidak gemuk dan harus mengolah diri ya harus diterima sebagai situasi yang berat tetapi membahagiakan. Ukuan kebahagiaan dan ukuran fisik tidak berbanding lurus. Ada orang yang kurus dan tetap bahagia walau menjalani hidupnya berat juga. Ada yang hidupnya suka-suka, badan gemuk tetapi jiwanya kosong.
Tulisan ini hanya sekedar mengingat kembali apa sejatinya tujuan hidup manusia. Apa yang sejatinya dicari manusia? Apa yang butuh dipenuhi? Mari kita melihat kembali hidup kita. Jangan sampai kita kalah oleh hal-hal yang sifatnya tidak prinsip dan justru merugikan orang lain entah langsung atau tidak langsung.
#Pagi hari di kantor#
*Life is not only about to consume. Life is to fight and to live the meaningful. Life also remember our neighbor. To consume means to eat something that also being eaten by others. That's why we always remember others.